Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu
penyedian bahan obat, dari sumber alam atau sistemik yang sesuai, untuk
disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit.
Farmasi mencangkup pengetahuan mengenai identifikasi, pemilihan, aksi
farmakologis dan pengawetan terhadap obat-obatan. Seorang ahli farmasi
sangat penting memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan
menganalisis senyawa obat.
Analisis farmasi merupakan proses mengenal sifat-sifat kimia fisika
bahan obat disebut atau dengan identifikasi atau sering juga disebut analisa.
Analisis farmasi disebut sebagai teknik analisis obat adalah suatu kegiatan
yang diperlukan untuk melakukan pengujian kualitas bahan obat maupun
obat jadi. Analisis yang dimaksud adalah analisis yang mencangkup dua
konsep yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Analisis kualitatif merupakan identifikasi bahan baku obat dan analisis
kuantitatif merupakan penetapak kadar bahan baku obat maupun sediaan
obat dengan kandungan zat aktif tunggal. Metode analisis obat yang
diuraikan merupakan metode konvensional yang dapat dilakukan di
laboratorium sederhana dengan alat-alat yang sederhana pula. Analisis
kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies,
dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Analisis kualitatif
berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang
dituju dalam suatu sampel. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk
menentukan jumlah kadar dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam
sampel. Bidang farmasi terutama pada industri farmasi, analisis kimia
digunakan secara rutin untuk menentukan suatu bahan baku yang akan
digunakan, produk setengah jadi dan produk jadi. Hasilnya dibandingkan
dengan spesifikasi yang ditetapkan (Cartika, Harpolia, 2016).
Identifikasi suatu obat dan Penetapan kadar suatu obat dapat
menggunakan Sulfonamida. Sulfonamida merupakan golongan antibiotik
yang digunakan sebagai pengobatan infeksi saluran kemih. Golongan dari
masing-masing obat sulfonamid pun berbeda-beda baik dari gugus
fungsinya maupun kadar dari senyawa golongan sulfonamid itu sendiri.
Salah satu golongan obat sulfonamida yang dapat dilakukan sebagai sampel
untuk analisis kualitatif dan kuantitatif adalah sampel cotrimoxazole.
Berdasarkan hal tersebut maka dalam percobaan ini kita melakukan
percobaan uji kualitatif dan kuantitatif golongan sulfonamida pada sampel
cotrimoxazole yang dilakukan di Laboratorium Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Bina Mandiri Gorontalo.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud percobaan
Maksud percobaan dalam melakukan praktikum ini yaitu; Analisa
secara kualitatif dan kuantitatif sulfonamida dalam sediaan tablet.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan dalam melakukan praktikum ini yaitu; Menganalisa
secara kualitatif dan kuantitatif sulfonamida dalam sediaan tablet.
1.3 Prinsip percobaan
1.3.1 Analisis kualitatif
1. Uji reaski korek api
Analisis Pemeriksaan senyawa sulfonamida dilakukan dengan
menguji larutan zat dalam asam klorida dengan batang korek api.
Keberadaan senyawa sulfonamida dalam asam klorida akan mengubah
batang korek api menjadi berwarna jingga (Cartika, Harpolia, 2016).
2. Uji reaksi vanilin
Uji reaksi vanillin dilakukan dengan memasukkan H2SO4 ke
dalam tabung reaksi dan ditambahkan serbuk cotrimoxazole dan serbuk
vanillin H2SO4 tersebut yang selanjutnya dipanaskan di atas pembakar
bunsen. Uji reaksi vanillin dikatakan positif memiliki sulfonamida jika
terbentuk perubahan warna menjadi merah bata (Tim Asisten, 2014).
3. Uji reaksi kristal hijau schweitzer
Analisis sulfonamida menggunakan reaksi kristal hijau
Schweitzer yaitu serbuk sulfonamida reaksikan dengan CuSO4 dan
NH4OH ke dalam 1 tabung reaksi yang ditandai dengan adanya bentuk
kristal berwarna hijau (Tim Asisten, 2014).
1.3.2 Analisis kuantitatif
1. Uji reaksi Diazotasi
Analisis senyawa sulfametoksazol dari tablet cotrimetoksazol
menggunakan metode diazotasi dengan menimbang tablet
cotrimetoksazol yang setara dengan bobot sulfametoksazol dan
dilarutkan dalam senyawa asam, kemudian ditambahkan indikator
dalam dan dititrasi dengan NaNO2, sehingga terbentuk garam
diazonium berwarna hijau toska (Tim Asisten, 2014).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sulfonamida
Obat sulfonamid merupakan suatu golongan senyawa antibakteri, yang
mengandung gugus sulfonamida –SO2NH. Walaupun dimasa lalu senyawa
ini banyak digunakan, pada beberapa tahun terakhir ini, penggunaannya
telah menurun dengan adanya antibiotik-antibiotik baru, seperti penisilin
dan sefalosporin (Cairns, 2008).
Sulfonamid merupakan asam lemah (pKa sekitar 5-8) akibat efek
penarikan elektron yang kuat oleh substituen –SO2- dan stabilisasi anion
yang dihasilkan melalui resonansi. Sulfonamida biasanya diberikan dalam
bentuk garam natrium untuk meningkatkan kelarutannya dalam air (Cairns,
2008). Sulfonamida dan senyawa kuinolin merupakan kelompok obat
penting pada penanganan infeksi saluran kemih ( ISK ) (Tjay, 2007).
2.2 Uji kandungan sulfonamid
2.2.1 Uji kualitatif
Analisis kualitatif merupakan identifikasi bahan baku obat. Analisis
kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu
analit yang dituju dalam suatu sampel. Analisis kualitatif pada golongan
sulfonamid erupa uji korek api, uji reaksi vanillin dan uji kristal hijau
Schweitzer. Uji reaksi korek api didasarkan dengan adanya larutan asam
klorida dengan batang korek api. Analisis Pemeriksaan senyawa
sulfonamida dilakukan dengan menguji larutan zat dalam asam klorida
dengan batang korek api. Keberadaan senyawa sulfonamida dalam asam
klorida akan mengubah batang korek api menjadi berwarna jingga (Cartika,
Harpolia, 2016). Uji reaksi vanillin merupakan aktivitas yang berkaitan
dengan adanya asam sulfat pekat dengan senyawa yang akan diuji. Prinsip
atau cara dalam perlakuan dalam uji reaksi vanillin yaitu dilakukan dengan
memasukkan H2SO4 ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan serbuk
cotrimoxazole dan serbuk vanillin H2SO4 tersebut yang selanjutnya
dipanaskan di atas pembakar bunsen. Uji reaksi vanillin dikatakan positif
memiliki sulfonamida jika terbentuk perubahan warna menjadi merah bata
(Tim Asisten, 2014). Uji reaksi kristal hijau Scheitzer yaitu suatu metode
analisa kualitatif dengan memastikan warna hijau pada analit yang akan
diuji. Analisis sulfonamida menggunakan reaksi kristal hijau Schweitzer
yaitu serbuk sulfonamida reaksikan dengan CuSO4 dan NH4OH ke dalam
1 tabung reaksi yang ditandai dengan adanya bentuk kristal berwarna hijau
(Tim Asisten, 2014).
2.2.2 Uji kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah kadar dari
suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel. Titrasi diazotasi ini
sangat sederhana dan sangat berguna untuk menetapkan kadar-kadar
senyawa antibiotik sulfonamid dan juga senyawa-senyawa anastetika lokal
golongan asam amina benzoate. Metode titrasi diazotasi disebut juga
nitrimetri, yaitu metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku NaNO2. Metode ini didasarkan pada reaksi
diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit
dalam suasana asam membentuk garam. Titik akhir titrasi diazotasi tercapai
apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada pasta kanji iodide atau
kertas kanji iodide akan terbentuk warna hijau tosca atau biru (Wunas,
1968).
Hampir semua amin aromatis dapat didiazotasi tetapi beberapa
diantaranya bereaksi lambat. Dalam hal ini diazotasi dapat dipercepat
dengan menambahkan natrium atau kalium bromide sebagai katalisator.
Dalam hal yang lain dapat ditambah natrium nitrit berlebihan dan setelah
semua terdiazotasi berlebihan natrium terdiazotasi berlebihan natrium nitrit
direaksikan dengan asam sulfanilat berlebihan dan kelebihan asam
sulfanilat. Di titrasi dengan baku natrium nitrit. Amin hidrokloridnya tidak
larut, sampel dilarutkan dengan natrium hidroksida dulu dan tambahkan
natrium nitrit sejumlah 80-90% dari yang diperlukan, lalu larutan
diasamkan. Dalam keadaan demikian biasanya diazotasi terjadi cukup cepat
dan tidak ada kesukaran yang disebabkan oleh endapan garam amina yang
tidak terdiazotasi (Sudjadi, 2004).
Salah satu metode yang termasuk dalam titrasi redoks adalah diazotasi
(nitrotometri). Titrasi diazotasi berdasarkan pada pembentukan garam
diazonium dari gugus amin aromatis bebas yang direaksikan dengan asam
nitrit, dimana asam nitrit ini di perolah dengan cara mereaksikan natrium
nitrit dengan suatu asam (Ibnu, Dkk. 2007).
Titrasi diazotasi digunakan dua macam indikator, yaitu : indikator
dalam dan indikator luar. Sebagai indikator dalam digunakan campuran
indikator tropeolin OO dan metilen biru yang mengalami perubahan warna
dari ungu menjadi biru kehijauan. Sedangkan untuk indikator luarnya
digunakan kertas kanji iodide (Said, 2003).
Indikator yang digunakan pada titrasi diazotasi meliputi : (Rohman,
Abdul, 2008)
1. Indikator Dalam
Indikator dalam terdiri atas campuran tropeolin OO dan metilen
biru. Tropeolin OO merupakan indikator asam-basa yang berwarna
merah dalam suasana asam dan warna kuning bila dioksidasi oleh
adanya kelebihan asam nitrit, sedangkan metilen biru sebagai
pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi
perubahan warna dari ungu menjadi biru sampai hijau tergantung
senyawa yang dititrasi.
2. Indikator Luar
Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau
dapat pula menggunakan kertas kanji iodide. Ketika larutan digoreskan
pada pasta atau kertas, adanya kelebihan asam nitrit akan mengoksidasi
iodide menjadi iodium dan dengan adanya kanji atau amilum akan
manghasilkan warna biru segera. Indikator kanji-iodida ini peka
terhadap kelebihan 0,05-0,10 mL natrium nitrit dalam 200 mL larutan.
2.3 Uraian sampel
A. Cotrimoxazole (Kasim, Dkk. 2016.)
Jenis Sediaan : Tablet mengandung sulfametoxazole 100 mg dan
trimetoprin 20 mg
Indikasi : Infeksi traktus urinarius, infeksi traktur
gastrointestinal, infeksi traktus respiratios dan
infeksi THT
kontra indikasi : Penderita yang diketahui sensitif terhadap
golongan sulfonamida atau trimetropin. Bayi
berumur kurang dari 2 bulan. Penderita anemia
megabloloblastik yang terjadi karena kekurangan
folat. Wanita hamil dan menyusui.
Efek samping : Mual, ruam kulit, muntah,. Leukomia,
trombositopenia, agranulositosis, anemia aplastik,
diskrasia darah. Megablonlastik anemia pada
penggunaan jangka panjang. Reaksi
hipersensitivitas fatal jarang terjadi.
Kegunaan : Sebagai sampel
Cotrimoksazol merupakan aktivitas antibakteri kombinasi antara
sulfametoksazol dan trimetoprim Cotrimoksazol berdasarkan kerjanya
pada dua tahap yang berurutan pada reaksi enzimatik untuk
pembentukaan asam tetrahidrofolat. Sulfonamida menghambat
masuknya para-aminobenzoic acid (PABA) ke dalam molekul asam
folat dan trimetoprim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari
dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat (Siswandono, 1995).
Karena kerja dari dua antimikroba Trimetropin dan Sulfametoksazol
dalam menghambat reaksi enzimatik obligat berurutan sehingga
kombinasi antimikroba ini memberikan efek sinergis. Kombinasi ini
lebih dikenal dengan nama Kotrimoksazol. Aktivitas kombinasi
antimikroba Kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap
yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam
tetrahidrofolat. Sulfametoksazol menghambat masuknya molekul
PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetropin menghambat
terjadinya reaksi reduksi dari asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat.
Trimetropin menghambat enzim Dihidrofolat (Febriani, Try Ardita,
2013).
2.4 Uraian bahan
A. Asam klorida (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama Lain : Asam klorida
Rumus Molekul : HCl
Berat Molekul : 36,46
Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang;
jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau
akan hilang.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Untuk mengikat nitrit
B. Asam sulfat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Acidum Sulfuricum
Nama Lain : Asam sulfat
Rumus Molekul : H2SO4
Berat Molekul : 98,07
Pemerian : Cairan jernih, seperti minyak, tidak berwarna, bau
sangat tajam dan korosi
Kelarutan : Bercampur dengan air dan dengan etanol, dengan
menimbulkan panas
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
C. Natrium Nitrit (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Natrii Nitrit
Nama Lain : Natrium nitrit
Rumus Molekul : NaNO2
Berat Molekul : 69,00
Pemerian : Hablur atau granul, tidak berwarna atau putih
kekuningan, rapuh.
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam
etanol 95% P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Penitran
D. Metilen Biru (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Methylthronini Chloridum
Nama Lain : Metil biru
Rumus Molekul : C16H18ClN3S.2H2O
Berat Molekul : 372,96
Pemerian : Serbuk hablur mengkilat seperti logam atau suram
kehijauan tua atau serbuk berwarna coklat, hampir
tidak berbau.
Kelarutan : Larut dalam 40 bagian air, dalam 110 bagian
etanol 95% P dan dalam 450 bagian kloroform P.
Kegunaan : Indikator
E. Amonia Hidroksida (Dirjen POM. 1979)
Nama Resmi : Ammonia Hidroksi
Nama Lain : Amonia Hidroksida
Rumus Molekul : NH4OH
Berat Molekul : 36,05
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, menusuk
kuat
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat tambahan
F. Tembaga (II) sulfat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Cupri Sulfat
Nama Lain : Tembaga (II) sulfat
Rumus Kimia : CuSO4
Berat Molekul : 159,60
Pemerian : Serbuk keabuan
Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat adatif
G. Vanillin (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Vanillinum
Nama Lain : Vanillin; 4-Hidroksi-3 metoksibenzaldehida (121-
33-5)
Rumus Molekul : C8H8O3
Berat Molekul : 152,5
Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum, putih hingga agak
kuning, rasa dan bau khas, dipengaruhi cahaya,
larutan bereaksi asam terhadap lakmus
Kelarutan : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol,
kloroform, Dalam eter dan dalam larutan alkali
hidroksida tertentu, larut dalam gliserin dan
dalam air panas
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain; buret, bunsen,
corong, erlenmeyer, gegep kayu, gelas kimia, kaca arloji, lumpang alu, pipet
tetes, plat tetes, rak tabung reaksi, sendok tanduk, spatula, statif dan klem
serta tabung reaksi.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain:
aluminium foil, CuSO4, HCl, korek api kayu, Serbuk Cotrimoxazole
(golongan sulfonamida), metilen blue, NaNO3, NH4OH, vanili dan tisu
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Analisis kualitatif
1. Uji reaksi korek api
- Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
- Diambil batang korek api
- Dicelupkan ke dalam HCl pekat
- Dicelupkan kembali korek api ke dalam plat tetes yang berisi
serbuk cotrimoxazole
- Dilihat perubahan yang terjadi (diamati jika terbentuk warna merah
/ jingga maka positif mengandung sulfonamid)
2. Reaksi vanilin
- Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
- Dimasukkan asam sulfat kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan Cotrimoxazole dan serbuk vanilin kedalam asam
sulfat pekat
- Dipanaskan perlahan-lahan menggunakan api bunsen
- Diamati perubahan warna yang terjadi (dilihat jika terbentuk warna
merah bata, maka positif sulfonamida)
3. Reaksi kristal dengan schweitzer
- Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
- Dimasukkan serbuk sulfonamida ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan campuran CuSO4 dan NH4OH dalam tabung reaksi
yang berisi serbuk sulfonamida
- Diamati perubahan yang terjadi (dilihat jika terbentuk kristal hijau
toska maka positif sulfonamida)
3.3.2 Analisis kuantitatif
- Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
- Dirangkai alat titrasi
- Dimasukkan sampel Cotrimoxazole ke dalam erlenmeyer
- Ditambahkan HCl pekat secukupnya
- Ditambahkan metilen blue untuk melihat titik akhir titrasi
- Dititrasi dengan natrium nitrit hingga mencapai titik akhir titrasi
- Diamati perubahan yang terjadi
- Dilihat jika terbentuk warna ungu sampai biru kehijauan maka positif
sulfonamida.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
METODE
UJI PEREAKSI HASIL KET GAMBAR

Batang korek Batang


Korek Api api + HCl + korek Positif
Serbuk berwarna sulfonamida
Cotrimoxazole merah

Serbuk Larutan Positif


Schweitzer Cotrimoxazole berwarna sulfonamida
+ CuSO4 + hijau
NH4OH toska

Serbuk
Vanillin Cotrimoxazole Larutan Positif
+ serbuk berwarna sulfonamida
vanillin merah
bata
Serbuk
Cotrimoxazole
Larutan
+ HCl => Positif
berwarna
Diazotasi Dititrasi Sulfonamida
Hijau
dengan
Natrium Nitrit
+ Indikator
Kanji

4.2 Pembahasan
Analisis farmasi mencakup analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Analisis secara kualitatif sendiri yaitu suatu analisis yang menunjukkan
keberadaan suatu zat atau unsur tertentu dalam suatu sampel, sedangkan
analisis secara kuantitatif yaitu suatu analisis yang menyatakan jumlah suatu
zat atau unsur dalam sampel. Pada praktikum analisis kualitatif dan
kuantitatif kami menggunakan sampel cotrimoxazole untuk melihat
keberadaan zat atau unsur dalam golongan sulfonamid.
Pada analisis kualitatif kami menggunakan 3 uji yang dilakukan yaitu
uji reaksi batang korek api, uji reaksi vanili, uji reaksi kristal dengan
Schweitzer.
Uji reaksi batang korek api yaitu dengan menyiapkan alat dan bahan
yang selanjutnya mengambil batang korek api yang dicelupkan ke dalam
HCl pekat pada gelas kimia 50 ml, kemudian diangkat dan dicelupkan
kembali pada plat tetes yang berisi serbuk cotrimoxazole. Dalam perubahan
yang terjadi terbentuk warna jingga.
Pemeriksaan senyawa sulfonamida dilakukan dengan menguji larutan
zat dalam asam klorida dengan batang korek api. Keberadaan senyawa
sulfonamida dalam asam klorida akan mengubah batang korek api menjadi
berwarna jingga. Ini uji pendahuluan pendukung dalam pemeriksaan
golongan sulfonamida adalah hasil uji unsur positif mengandung unsur N
sebagai amin aromatis primer dan S, serta rasa agak pahit. Senyawa yang
termasuk dalam golongan sulfonamida adalah sulfametoksazol,
sulfanilamid, sulfaguanidin, dan lain-lain (Cartika, Harpolia. 2016).
Berikut reaksi kimia yang terjadi:

Uji reaksi vanili dengan memasukkan H2SO4 ke dalam tabung reaksi


dan menambahkan serbuk vanili 1 sendok tanduk kemudian dikocok dan
setelah dikocok ditambahkan serbuk cotrimoxazole 1 sendok tanduk,
selanjutnya dijepit dengan gegep kayu tabung yang berisi H2SO4, vanili &
Cotrimoxazole dan dipanaskan di atas pembakar bunsen yang kemudian
terjadi perubahan warna menjadi merah bata.
Penggunaan uji reaksi vanillin pada golongan sulfonamida terdapat
dalam teori Sity Muzdalifah Dali (2014) bahwa mengidentifikasi golongan
obat sulfonamid menggunakan pereaksi yang sesuai (parry, vanillin, dan
CuSO4).
Berikut reaksi kimia yang terjadi:

Uji reaksi kristal hijau dengan Schweitzer yaitu dengan memasukkan


serbuk cotrimoxazole pada tabung reaksi kemudian menambahkan larutan
CuSO4 dan NH4OH pada tabung tersebut dan dihomogenkan setelah
dihomogenkan terjadi perubahan warna menjadi berwarna hijau toska.
Uji reaksi kristal hijau Scheitzer yaitu suatu metode analisa kualitatif
dengan memastikan warna hijau pada analit yang akan diuji. Analisis
sulfonamida menggunakan reaksi kristal hijau Schweitzer yaitu serbuk
sulfonamida reaksikan dengan CuSO4 dan NH4OH ke dalam 1 tabung
reaksi yang ditandai dengan adanya bentuk kristal berwarna hijau (Tim
Asisten, 2014).
Berikut reaksi kimia yang terjadi:

Uji kuantitatif golongan sulfonamida kami menggunakan uji reaksi


Diazotasi. Metode diazotasi disebut juga nitrimetri, yaitu metode penetapan
kadar secara kuantitatif dengan menggunakan larutan NaNO2 (Wunas,
1968).
Uji diazotasi dilakukan dengan merangkai alat titrasi terlebih dahulu
kemudian dimasukkan natrium nitrit ke dalam buret yakni sebagai titran,
selanjutnya dimasukkan serbuk cotrimoxazole secukupnya pada erlenmeyer
dan ditambahkan larutan HCl pekat, dihomogenkan lalu ditambahkan
metilen blue sebagai indikator untuk melihat titik akir titrasi yang pada
perubahannya menjadi warna biru. Setelah itu melakukan titrasi dengan
natrium nitrit yang menghasilkan perubahan warna dari biru menjadi warna
hijau.
Berikut reaksi kimia yang terjadi:

Penambahan indikator metilen blue pada sampel yaitu sebagai


pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan
warna dari ungu menjadi biru sampai hijau tergantung senyawa yang
dititrasi (Rohman, Abdul. 2008). Dalam dalam titrasi diazotasi digunakan
dua macam indikator, yaitu : indikator dalam dan indikator luar. Sebagai
indikator dalam digunakan campuran indikator tropeolin OO dan metilen
biru yang mengalami perubahan warna dari ungu menjadi biru kehijauan
(Rohman, Abdul, 2008).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil percobaan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa metode yang
dilakukan dalam analisa kualitatif positif golongan sulfonamid yaitu dengan
menggunakan uji reaksi korek api, uji reaksi vanili dan uji reaksi kristal
hijau Schweitzer. Analisa kuantitatif dengan positif golongan sulfonamid
yaitu menggunakan Uji titrasi diazotasi.
5.2 Saran
A. Untuk laboratorium
Sebaiknya rekan-rekan penanggung jawab alat dan bahan
laboratorium agar selalu memfokuskan diri terhadap tanggung
jawabnya sebagai penanggung jawab Laboratorium.
B. Untuk Asisten
Dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan terhadap
praktikan saat melakukan praktikum diperlukan penjelasan-penjelasan
yang bijak jika terjadi kesalahan dalam melakukan perlakuan untuk
masing-masing uji. Sehingga kami sebagai praktikan mampu
meminimalisir kesalahan yang terjadi pada praktikum selanjutnya.
C. Untuk Praktikan
Dalam melakukan uji kualitatif dan kuantitatif sebaiknya
diperhatikan alat-alat yang digunakan, terutama pada penggunaan alat
titrasi. Dikarenakan dapat mempengaruhi hasil akhir titrasi yang tidak
diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Cairns, Donald. 2008. “Intisari Kimia Farmasi”. EGC. Jakarta

Cartika, Dra. Harpolia, M.Farm., Apt. dkk., 2016.,. “Modul Bahan Ajar Cetak
Farmasi Kimia Farmasi". Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber
Daya Manusia Kesehatan. Jakarta Selatan.

Dali, Sity Muzdalifah,. 2014. “Uji Kualitatif Sulfonamid”. Prodi D3 Farmasi


FIKES dan Keolahragaan. UNG. Gorontalo

Dirjen POM. 1979. “Farmakope Indonesia Edisi III”. Depkes RI. Jakarta

Febriani, Try Ardita. 2013. “Uji Sensitivitas Antibiotika Terhadap Bakteri


Penyebab Diare Di Puskesmas Mangasa Kota Makassar”. UINA. Makassar.

Ibnu, Dkk. 2007. “Analisis Kimia Kuantitatif Edisi VI”. (Hal : 56). Erlangga.
Jakarta.

Kasim, Dkk. 2016. “Informasi Spesialist Obat Vol. 50”. PT. ISFI Penerbitan.
Jakarta Barat

Rohman, Abdul. 2008. “Kimia Farmasi Analisis”. (Hal 164-165). Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Said. 2003. ”Makalah Lokakarya Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit”. Jakarta.

Siswandono. 1995. “Kimia Medisinal”. Airlangga University Press. Surabaya.

Sudjadi. 2004. “Analisis Obat dan Makanan”. (Hal : 23-25). Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Tim Asisten. 2014. “Penuntun Praktikum Kimia Analisis”. (Hal : 30-31). STIFA.
Makassar

Tjay. 2007. “Obat - Obat Penting”. Gramedia. Jakarta.

Wunas. 1968. “Kimia Farmasi”. (Hal : 143). EGC. Jakarta.


LAMPIRAN
A. Diagram alir
1. Uji reaksi korek api

Batang korek api

Dicelupkan

HCl pekat

Diangkat dan dicelupkan ke dalam plat


tetes

Serbuk Cotrimoxazole

Diamati perubahan warna yang terjadi

Hasil

2. Reaksi vanilin

H2SO4
Serbuk
Dimasukkan Kedalam kotrimoxazole
tabung reaksi
Ditambahkan

Dipanaskan api bunsen

Diamati positif warna merah ke jingga

Hasil
3. Reaksi kristal dengan schweitzer

Serbuk cotrimoxazole
CuSO4

Dimasukkan ke dalam Ditambahkan


tabung reaksi

NH4OH

Dihomogenkan
Diamati perubahan warna
yang terjadi

Hasil

4. Analisis kuantitatif (Uji Diazotasi)

Serbuk
kotrimoxazole

Dimasukkan Kedalam
erlemeyer
HCl pekat

Ditambahkan

Metilen blue

Ditambahkan

Dititrasi dengan NaNO2

Hasil
B. Alat dan Bahan
1. Alat

Buret dan statif Bunsen Corong kaca

Gegep kayu Gelas kimia Kaca arloji

Lumpang alu Pipet tetes Rak tabung reaksi

Sendok tanduk Spatula Tabung reaksi


2. Bahan

Alkohol 96% Aluminium foil CuSO4

HCl pekat KBrO4 (serbuk) Korek api kayu

Cotrimoxazole Methylen blue NaNO3

NH4OH Serbuk Vanili Tisu


3. Dokumentasi

Hasil reaksi Titrasi Diazotasi Hasil Batang Korek


Schweitzer Api

Hasil Reaksi uji


vanilli