Anda di halaman 1dari 13

Formulasi Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati Muda (Tectona

grandis L.f) Sebagai Pewarna

Oktasia Suryaningtyas

Pendidikan Biologi Fakultas FMIPA

Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRAK:

Latar Belakang: Daun Jati muda (Tectona grandis L.f) termasuk famili Verbenaceae yang
mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat. Warna dari daun jati muda ini disebabkan oleh
flavonoid yaitu antosianidin. Antosianidin merupakan pigmen yang dapat digunakan sebagai
pewarna alami dan dapat menggantikan pewarna sintetis.

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik menggunakan zat warna
yang terkandung dalam daun jati muda.

Metode Penelitian: Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan


menggunakan etanol 96% sebagai pelarut yang mengandung asam sitrat 2%, kemudian
pelarut diuapkan dengan bantuan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak daun jati
muda. Komponen sediaan lipstik terdiri dari cera alba, vaselin alba, setil alkohol, carnauba
wax, oleum ricini, lanolin, propilen glikol, butil hidroksitoluen, metil paraben (nipagin), dan
oleum rosae, serta penambahan pewarna ekstrak daun jati muda dengan konsentrasi yang
berbeda-beda. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu yaitu uji
tempel (Patch Test) , uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau, pemeriksaan
titik lebur, kepatahan lipstik, pemeriksaan pH, dan uji kesukaan.

Hasil: (belum dilakukan eksperimen) Namun diharapkan sediaan lipstik yang dihasilkan
mudah dioleskan, stabil, berwarna merah muda hingga merah tua, tidak menyebabkan iritasi.

Kesimpulan: diharapkan ekstrak daun jati muda dapat digunakan sebagai pewarna dalam
formulasi sediaan lipstik yang dibuat.
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kosmetik menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor


445/MenKes/Permenkes/1998 adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk
digunakan pada bagian luar badan yaitu epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ
genital bagian luar, gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya
tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik,
memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan suatu penyakit.

Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai


bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias
wajah. Pewarna bibir terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan
krim. Pewarna bibir dalam bentuk cairan dan krim umumnya memberikan selaput
yang tidak tahan lama dan mudah terhapus dari bibir sehingga tidak begitu digemari
orang, terutama jika dibandingkan dengan pewarna bibir dalam bentuk krayon.
Pewarna bibir bentuk krayon lebih dikenal dengan nama lipstik (Wasitaatmadja,
1997).

Seiring dengan perkembangan gaya hidup back to nature, maka zat warna
alami semakin dibutuhkan keberadaannya karena dianggap lebih aman dibandingkan
dengan pewarna sintetik yang mengandung zat karsinogenik dan dapat menyebabkan
kerusakan pada hati (BPOM RI, 2007).

Zat alami yang bersifat lebih aman dapat digunakan dan dikembangkan antara
lain dari pigmen karotenoid, kurkumin, antosianin, dan pigmen lainnya yang
terkandung dalam jaringan buah, bunga, daun, batang maupun akar tanaman (Nollet,
1996).
Daun jati (Tectona grandis L.f) yang masih muda merupakan salah satu sumber
daya lokal yang mengandung pigmen alami yaitu pigmen antosianin. Pigmen
antosianin sendiri selain bisa sebagai bahan pewarna, juga merupakAn antioksidan
yang baik. Daun jati muda (Tectona grandis L.f) memiliki kandungan pigmen alami
yang terdiri dari pheophiptin, β-karoten, pelargonidin 3-glukosida, pelargonidin 3,7-
diglukosida, klorofil dan dua pigmen lain yang belum diidentifikasi (Ati, dkk., 2006)

Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah menbuat sediaan lipstik
menggunakan zat warna dari ekstrak daun jati muda (Tectona grandis L.f) dan untuk
mengetahui apakah sediaan lipstik yang dibuat stabil dan memenuhi syarat mutu.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah ekstrak daun jati muda dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi
sediaan lipstik yang dibuat ?
2. Bagaimana pengaruh penggunaan konsentrasi ekstrak etanol daun jati muda pada
sediaan lipstik terhadap sifat mutu fisik, efektivitas, efikasi dan aseptabilitas
sediaan?

C. LUARAN YANG DIHARAPKAN


Diharapkan ekstrak daun jati muda (Tectona grandis L.f) dapat digunakan
sebagai pewarna dalam formulasi sediaan lipstik yang mudah dioleskan, stabil,
berwarna merah muda hingga merah tua, tidak menyebabkan iritasi.
D. KEGUNAAN PENELITIAN

Adanya penelitian ini bermanfaat untuk :

1. Meningkatkan pemanfaatan tanaman jati (Tectona grandis L.f) dimana selain


kayunya yang digunakan, daun muda jati juga bisa dimanfaatkan lebih maksimal yaitu
salah satunya menjadi pewarna merah alami pada lipstik yang menyehatkan untuk
bibir.

2. Memberikan sumbangan informasi bahwa daun jati muda (Tectona grandis L.f) yang
jumlahnya melimpah ruah di Indonesia ini dapat dikembangkan menjadi suatu zat
pewarna merah alami.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TANAMAN JATI
1. Sistematika tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Class : Dicotylodonae

Ordo : Solanales

Famili : Verbenaceae

Genus : Tectona

Spesies : Tectona grandis L.f.

2. Daun jati

Tanaman jati yang tumbuh di Indonesia berasal dari India. Tanaman yang
mempunyai nama ilmiah Tectona grandis linn. F. secara historis, nama tectona
berasal dari bahasa portugis (tekton) yang berarti tumbuhan yang memiliki
kualitas tinggi. Di Negara asalnya, tanaman jati ini dikenal dengan banyak nama
daerah, seperti ching-jagu (di wilayah Asam), saigun (Bengali), tekku (Bombay),
dan kyun (Burma). Tanaman ini dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama teck
atau teakbun, sedangkan di Inggris dikenal dengan nama teak (Sumarna, 2004).

3. Morfologi tanaman
Merupakan pohon yang tingginya mencapai 40 m. Batang jauh diatas tanah
baru bercabang. Bagian yang muda dan bagian sisi bawah daun berbulu vilt rapat,
berbentuk bintang. Daun bertangkai pendek, kadang-kadang duduk, ellips, atau
sedikit banyak bulat telur, dengan ujung yang berbentuk baji dan bagian pangkal
yang menyempit, pada cabang yang berbunga, 23-40 kali 11-21cm. Daun yang
muda sering berwarna coklat kemerah-merahan (Steenis, 1992).
Tanaman jati tergolong tanaman yang menggugurkan daun pada saat
musim kemarau, antara bulan November hingga Januari. Setelah gugur, daun
akan tumbuh lagi pada bulan januari atau maret. Tumbuhnya daun ini juga secara
umum ditentukan oleh kondisi musim (Sumarna, 2004).
4. Kandungan Zat Warna Daun Jati Muda
Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alami yang terdiri dari
pheophiptin, β-karoten, pelargonidin 3-glukosida, pelargonidin 3,7-diglukosida,
klorofil dan dua pigmen lain yang belum diidentifikasi (Ati, dkk., 2006)
Pigmen antosianin terdapat pada cairan sel tumbuhan termasuk pada daun
jati muda (Tectona grandis L.f) senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi
penyebab warna merah, biru dan violet. Jika bagian gula dihidrolisis maka akan
tersisa aglukon yang disebut antosianidin. Struktur dasar antosianin terdiri atas
flavilium dengan sejumlah penyulih hidroksi dan metoksi. Terdapat sekitar 16
antosianidin yang telah diidentifikasi dalam bahan alam tetapi hanya enam berikut
ini saja yang sering tedapat dalam berbagai produk: pelargonidin, sianidin,
delfinidin, peonidin, malvidin, dan petuinidin. Pigmen antosianin mudah rusak
jika buah dan sayur diproses. Suhu tinggi, kandungan gula yang meningkat, pH,
dan asam askorbat dapat mempengaruhi laju kerusakan (Daravingas dan Cain,
1966).
Antosianin menampakkan warna merah bila berada pada medium dengan
pH 3 – 4, tapi akan berubah menjadi violet jika pH-nya meningkat diatas 7, dan
bergeser ke arah biru jika pH-nya diatas 9 (DeMan, 1989).
Salah satu fungsi antosianin adalah sebagai antioksidan di dalam tubuh
sehingga dapat mencegah terjadinya aterosklerosis, penyakit penyumbatan
pembuluh darah. Selain itu, beberapa studi juga menyebutkan bahwa senyawa
tersebut mampu mencegah obesitas dan diabetes, meningkatkan kemampuan
memori otak dan mencegah penyakit neurologis, serta menangkal radikal bebas
dalam tubuh.
B. KOMPONEN LIPSTIK YANG DIGUNAKAN DALAM FORMULASI
a. Cera alba (Malam putih)

Cera alba adalah hasil pemuenian dan pengentalan malam kuning yang
diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera Linne (familia apidae).
Pemeriannya berupa padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam
keadaan lapisan tipis, nau khas lemah dan bebas bau tengik. Kelarutannya
tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dingin. Larut sempurna
dalam kloroform, eter, minyak lemak, dan minyak atsiri. Suhu leburnya antara
62oC hingga 65oC (Ditjen POM, 1995).

b. Vaselin alba

Vaselin alba adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah


diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa massa
lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan.
Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), tetapi
larut dalam kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38oC hingga 56oC.
Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).

c. Lanolin

Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25% dan digunakan
sebagai pelumas dan penutup kulit yang mudah dipakai (Anief, 1994). Lanolin
secara luas digunakan dalam formulasi kosmetik dan berbagai sediaan topikal
lanolin dapat mengalami auto-oksidasi selama proses penyimpanan. Untuk
menghambat proses ini, dibutuhkan penambahan butil hidroksitoluen sebagai
antioksidan (Rowe, et al, 2009).

d. Setil alkohol

Pemeriannya yaitu berupa serpihan putih licin, granul, atau kubus,


putih,bau khas lemah, dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam
air, larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutannya bertambah dengan
naiknya suhu. Suhu leburnya yaitu antara 45oC hingga 50oC (Ditjen POM,
1995).

e. Oleum ricini (Minyak jarak)


Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan
dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya berupa cairan
kental, jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, rasa
manis dan agak pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam 2,5 bagian etanol (90%),
mudah larut dalam etanol mutlak, dan dalam asam asetat glasial (Ditjen POM,
1979).
f. Propilen glikol

Propilen glikol adalah cairan jernih, tidak berwarna, kental, tidak


berbau, dan berasa manis. Propilen glikol diketahui sebagai material non-
toksik telah digunakan secara luas dalam formulasi farmasetik dan kosmetik
sebagai humektan, penawet, dan pelarut (Rowe, et al, 2009).

g. Titanium dioksida

Berupa serbuk putih nonhigroskopis, amorf, tidak berbau, dan tidak


berasa. Walaupun ukuran partikel rata-rata dari serbuk titanium dioksida
kurang dari 1 milimikron, titanium dioksida komersial umumnya terdapat
sebagai partikel agregat yang mencapai diameter 100 milimikron. Titanium
dioksida telah digunakan secara luas dalam kosmetik, makanan, dan dalam
formulasi sedian oral dan topikal sebagai pigmen putih. Titanium dioksida
praktis tidak larut dalam pelarut organik, asam nitrat, asam klorida, dan air
(Rowe, et al, 2009).

h. Butil Hidroksitoluen

Pemeriannya hablar padat, putih, bau khas, lemah. Tidak larut dalam
air dan propilen glikol, nudah larut dalam etanol, dalam kloroform, dan dalam
eter (Ditjen POM, 1995). Butil hidroksitoluen digunakan sebagai antioksidan
dalam obat, kosmetik, dan makanan. Biasanya digunakan untuk menunda atau
mencegah oksidasi lemak dan minyak menjadi tengik, dan juga untuk
mencegah hilangnya aktivitas vitamin-vitamin yang larut dalam minyak.
Konsentrasi butil hidroksitoluen yang digunakan untuk formulasi sediaan
topikal adalah 0,0075-0,1 (Rowe, et al,2009).

i. Oleum rosae (Minyak mawar)

Minyak mawar adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan


penyulingan uap bunga segar Rosa gallica L., Rosa damascena Miller, Rosa alba
L., dan varietas Rosa lainnya. Pemeriannya yaitu berupa cairan tidak berwarna
atau kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25oC kental,
dan jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening
yang jika dipanaskan mudah melebur. Kelarutannya yaitu larut dalam
kloroform dan berat jenisnya yaitu antara 0,848 sampai 0,863 (Ditjen POM,
1979).

j. Metilparaben

Pemeriannya yaitu berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk


hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa
terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut
dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam
gliserol. Suhu leburnya antara 125oC hingga 128oC. Khasiatnya adalah sebagai
zat tambahan (zat pengawet) (Ditjen POM, 1995).
BAB III

METODE PENELITIAN

1. RANCANGAN PENULISAN
Bahan penelitian yang digunakan adalah literatur online, tepatnya hasil
penelitian-penelitian tentang manfaat daun jati muda (Tectona grandis L.f).

2. OBYEK PENELITIAN
Penelitian ini lebih berfokus pada pemanfaatan daun jati muda (Tectona
grandis L.f) dalam bidang kosmetik.

3. PENGUMPULAN DATA
Data diperoleh dari internet dan buku-buku mengenai pemanfaatan daun jati
muda (Tectona grandis L.f). sedangkan prosedur kerjanya adalah studi literatur
dengan mencari informasi dari internet berupa penelitian-penelitian dan dari
berbagai buku yanag bersangkutan.
BAB IV

PEMBAHASAN

1. Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, lumpang,


alu, neraca analitis (Mettler Toledo), rotary evaporator (Buchi), freeze dryer, oven,
penangas air, pH meter, cawan penguap, pencetak lipstik dan wadah lipstik (roll up).

Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun jati
(Tectona grandis L.f ) yang masih muda. Bahan kimia yang digunakan antara lain:
akuades, etanol 96%, cera alba, vaselin alba, setil alkohol, carnauba wax, oleum ricini,
lanolin, propilen glikol, butil hidroksitoluen, metil paraben (nipagin), dan oleum rosae,
serta penambahan pewarna ekstrak daun jati muda dengan konsentrasi yang
berbeda-beda.

2. Ekstraksi Daun Jati

Ekstraksi antosianin dari tumbuhan segar adalah dengan menghancurkan


bagian tumbuhan tersebut dalam tabung menggunakan sesedikit mungkin metanol
yang mengandung HCl pekat 1%. Cara lain, jaringan tumbuhan yang jumlahnya lebih
banyak dapat dimaserasi dalam pelarut yang mengandung asam, lalu maserat
disaring. Ekstrak kemudian dipekatkan pada tekanan rendah dan suhu 35 0C – 400C
sampai volumenya menjadi kira-kira seperlima volume ekstrak asal (Harborne, 1987).

3. Uji Fitokimia
- Uji Flavonoid
Sebanyak 2 mL ekstrak cair daun jati muda (Tectona grandis L.f) ditambahkan
dengan 5 ml etanol dan dipanaskan selama 5 menit didalam tabung reaksi.
Selanjutnya ditambah beberapa tetes asam klorida pekat, kemudian ditambahkan
bubuk magnesium. Hasil positif ditunjukkan dengan timbulnya warna merah tua
(magenta) dalam waktu 3 menit (Sangi, dkk., 2008).
- Uji Saponin
Sebanyak 2 mL ekstrak cair daun jati muda (Tectona grandis L.f) ditambahkan asam
asetat anhidrat sampai sampel terendam, dibiarkan selama kira - kira 15 menit, 6
tetes larutan dipindahkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes asam
sulfat pekat. Adanya triterpenoid ditunjukkan dengan terjadinya warna merah
jingga atau ungu, sedangkan adanya steroid ditunjukkan dengan adanya warna
biru (Sangi, dkk., 2008).
- Uji Tanin
Sebanyak 2 mL ekstrak cair daun jati muda (Tectona grandis L.f) ditambah etanol
sampai ekstrak daun jati muda (Tectona grandis L.f) terendam
semuanya.Kemudian sebanyak 1 ml larutan dimasukkan kedalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan 2 - 3 tetes larutan FeCl3 1%. Hasil positif ditunjukkan
dengan timbulnya warna hijau kebiruan (Sangi, dkk., 2008).
4. Pemeriksaan Mutu Sediaan Pemeriksaan Titik Lebur
Metode pengamatan titik lebur lipstik yang digunakan dalam penelitian adalah
dengan cara memasukkan lipstik dalam oven dengan suhu awal 50°C selama 15 menit,
diamati apakah melebur atau tidak, setelah itu suhu dinaikkan 1°C setiap 15 menit dan
diamati pada suhu berapa lipstik mulai melebur.
5. Pemeriksaan Breaking Point

Sediaan lipstik diletakkan pada posisi horizontal dengan jarak kira-kira ½ inci
dari tepi sediaan lipstik, kemudian diberikan beban yang berfungsi sebagai pemberat.
Berat beban ditambahkan secara berangsurangsur dengan nilai yang spesifik 10 g
setiap interval waktu 30 detik. Berat dimana lipstik patah merupakan nilai breaking
point (Lauffer, 1985).

6. Pemeriksaan Stabilitas
Diamati masing-masing sediaan yaitu ada tidaknya perubahan bentuk, warna
dan bau dari sediaan lipstik selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5,
10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma, et al., 2011).
7. Uji Tempel (Patch Test)

Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara
mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksud untuk
mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak.
Iritasi umumnya akan segera menimbulkan reaksi kulit sesaat setelah pelekatan pada
kulit, iritasi demikian disebut iritasi primer. Tetapi jika iritasi tersebut timbul beberapa
jam setelah pelekatannya pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder. Tanda-tanda
yang ditimbulkan reaksi kulit tersebut umumnya sama, yaitu akan tampak sebagai
kulit kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak. Lokasi uji lekatan adalah bagian kulit
panel yang dijadikan daerah lokasi untuk uji tempel. Biasanya yang paling tepat
dijadikan daerah lokasi uji tempel adalah bagian punggung, lengan tangan, dan bagian
kulit di belakang telinga (Ditjen POM, 1985).

8. Penentuan pH sediaan
Alat pH meter.terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar
standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat
menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu
dikeringkan dengan tissue. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g
sediaan dan dilebur dalam beker glass dengan 100 ml air suling di atas penangas air.
Setelah dingin kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat
menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan
pH sediaan. Penentuan pH dilakukan tiga kali pada tiga lipstik terhadap masingmasing
konsentrasi (Rawlins, 2003).

9. Uji kesukaan
Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang
sifatnya suka atau tidak suka terhadap suatu produk. Pelaksanaan uji ini memerlukan
dua pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Panel adalah seseorang atau
sekelompok orang yang melakukan uji melalui proses penginderaan. Orangnya
disebut panelis. Panel terbagi dua, yaitu panel terlatih dan tidak terlatih. Jumlah panel
uji kesukaan makin besar semakin baik, sebaiknya jumlah itu melebihi 20 orang.
Jumlah lebih besar tentu akan menghasilkan kesimpulan yang dapat diandalkan
(Soekarto, 1981).
BAB V

A. KESIMPULAN

1. Diharapkan ekstrak daun jati muda (Tectona grandis L.f) dapat digunakan
sebagai pewarna dalam formulasi sediaan lipstik yang dibuat.

2. Diharapkan pengaruh penggunaan konsentrasi ekstrak etanol daun jati


muda pada sediaan lipstik terhadap sifat mutu fisik, efektivitas, efikasi
dan aseptabilitas sediaan sangat baik.

B. DAFTAR PUSTAKA

Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UIPress.


Halaman 28.

Steenis, C.G.G.J. 1992. FLORA. Diterjemahkan oleh Maeso Surjawinoto. Jakarta:


Pradnya Paramita.

DeMan, John M. 1997. Kimia Makanan. Diterjemahkan oleh Kosasih. Bandung:


Penerbit ITB.

Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI.

Rowe, C.R., Paul, J., dan Marian, E.Q. (2009). Handbook of Pharmaceutical
Excipients. Edisi keenam. Washington: Pharmeceutical Press. Halaman: 772.

Risnawati, Nazliniwaty. 2012. Formulasi Lipstik Menggunakan Ekstrak Biji Coklat


(Theobroma cacao L.) Sebagai Pewarna. Journal of Pharmaceutics and
Pharmacology Vol. 1 (1), 78 – 86. - diunduh tanggal 09 Desember 2016.

Sangi, M., Max R. J. R., Herny E. I., Veronica M. A. M. 2008.Analisis


Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara. Minahasa:
Che m.Prog.