Anda di halaman 1dari 1

Agama sangan penting untuk keghidupan berbangsa

Toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai
keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain. Dalam
masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila pertama, bertaqwa kepada tuhan menurut agama dan
kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua agama menghargai manusia maka dari itu semua umat
beragama juga wajib saling menghargai. Dengan demikian antar umat beragama yang berlainan akan
terbina kerukunan hidup.

4. Hambatan-hambatan dalam Menciptakan Kerukunan Umat Beragama


Menurut Saputera (2008: 13) menyebutkan hambatan-hambatan yang terjadi dalam
menciptakan kerukunan antar umat beragama antara lain:
a. Semakin meningkat kecenderungan umat beragama untuk mengejar jumlah (kuantitas)
pemeluk agama dalam menyebarkan agama dari pada mengejar kualitas umat beragama.
b. Kondisi sosial budaya masyarakat yang membawa umat mudah melakukan otak-atik terhadap
apa yang ia terima, sehingga kerukunan dapat tercipta tetapi agama itu kehilangan arti, fungsi
maupun maknanya.
c. Keinginan mendirikan rumah ibadah tanpa memperhatikan jumlah pemeluk agama setempat
sehingga menyinggung perasaan umat beragama yang memang mayoritas di tempat itu.
d. Menggunakan mayoritas sebagai sarana penyelesaian sehingga akan menimbulkan masalah.
e. Makin bergesarnya pola hidup berdasarkan kekeluargaan atau gotong royong ke arah
kehidupan individualistis.

Berikut ini adalah solusi agar sikap toleransi senantiasa dapat terbentuk, yaitu:
1. Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap nilai-nilai dan norma social yang
berbeda dari anggota-anggota masyarakat yang kita temui, tidak mementingkan kelompok,
ras, etnik, atau kelompok agamanya sendiri dalam menjalankan tugas-tugasnya.
2. Meninggalkan sikap primodialisme, terutama sikap yang menjurus pada sikap
etnosentrisme dan sikap yang berlebih-lebihan.
3. Menegakkan peraturan perundang-undangan kepada semua warga Negara tanpa
memandang kedudukan social, ras, etnik, dan agama yang mereka anut.
4. Mengembangkan rasa nasionalisme teruttamaa melalui penghayatan wawasan berbangsa
dan bernegara..
5. Menyelesaikan semua konflik dengan cara akomodatif melalui mediasi, kompromi dan
adjudikasi.
6. Mengembangkan kesadaran social dan menyadari peranan bagi setiap individu terutamma
para pemegang kekuasaan dan penyelenggaraan Negara secara secara formal.