Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman

pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan

subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina)

sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di

Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa

wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam

(Siswono, W.H. 2006).

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur),

Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen

padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi

nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional

dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat

seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti

(Sakhidin,dkk. 1998).

Banyaknya kultivar padi menyebabkan kesulitan untuk membedakannya,

sehingga diperlukan suatu pengelompokan kultivar tersebut. Ciri morfologi yang

sering digunakan sebagai pembeda kultivar padi adalah tinggi tanaman, jumlah

anakan produktif, warna batang, warna daun, permukaan daun, jumlah gabah per

malai, bentuk gabah, warna gabah, dan permukaan gabah. Setiap kultivar padi lokal

memiliki persamaan ataupun perbedaan ciri/ karakter. Adanya persamaan ataupun


perbedaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui jauh dekatnya hubungan

kekerabatan antara kultivar-kultivar padi (hakim,dkk. 2006).

Pada akhir tahun 1960-an, usaha pertanian padi di beberapa negara kawasan

Asia Tenggara, khususnya Indonesia banyak mengalami perubahan akibat introduksi

varietas padi unggul (High Yielding Rice Varieties = HYVs), yang merupakan salah

satu program dari revolusi hijau. Pada masa revolusi hijau banyak diintroduksi

varietas unggul yang memiliki daya hasil tinggi. Selain memberikan dampak positif,

revolusi hijau juga memberikan dampak negatif, antara lain punahnya varietas padi

lokal secara masal, pencemaran air dan tanah, serta kerusakan kesuburan tanah.

Seperti dikatakan Iskandar (2001) di Indonesia tercatat lebih dari 8.000 kultivar padi

lokal atau tradisional yang biasa ditanam petani. Adanya program revolusi hijau yang

mengintroduksikan varietas padi unggul, keanekaragaman padi lokal menurun secara

drastis. Para petani mulai menanam varietas unggul dan varietas lokal banyak yang

sudah tidak ditanam lagi (Siswono. 2006).

Penggunaan varietas baru pada pertanian komersial menggantikan kultivar

tradisional mengakibatkan berkurangnya keragaman genetik kultivar lokal, sehingga

informasi penting seperti produksi hasil berbagai kultivar juga menghilang.

Peningkatan keragaman genetik merupakan hal yang penting karena dapat

meningkatkan kesempatan untuk pengembangan spesies lebih lanjut, karena itu untuk

mengatasi hilangnya keragaman genetik perlu adanya suatu metode yang tepat agar

tidak terjadi kehilangan maupun penurunan keragaman genetik pada tanaman

(Brady, and Buckman. 2003).

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini adalah untuk mengetahui pengaruh

pemberian pupuk organik cair mikrobat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman

padi (Oryza sativa L.)

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan dari paper ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk dapat mengikuti Praktikum Di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman

Pangan, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera

Utara. Dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan ke dalam Kingdom:

Plantae, Divisi: Angiospermae, Kelas: Monocotyledonae, Ordo: Poales, Famili:

Gramineae, Genus: Oryza, Spesies: Oryza sativa L. (Setyamidjaja. 2006).

Akar tanaman padi tergolong akar serabut. Akar yang tumbuh dari kecambah

disebut akar utama (radikula), sedangkan akar yang tumbuh dari dekat buku-buku

disebut akar seminal. Akar padi tidak memiliki pertumbuhan sekunder sehingga tidak

banyak mengalami perubahan. Akar tanaman padi berfungsi untuk menopang batang,

menyerap nutrisi, air, dan untuk pernapasan (Simanungkalit. 2001).

Tanaman padi tergolong dalam Graminae yang ditandai dengan batang yang

tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua

ujung bubung ditutup oleh buku. Panjang ruas tidak sama ukurannya, semakin ke atas

ukuran ruas semakin panjang. Beberapa jenis padi mempunyai ruas yang bergaris-

garis merah dan membentang dari buku ke buku dan letaknya sejajar

(Bashan, Y. and G. Holguin. 1997).

Daun padi tumbuh di buku-buku tersusun berselingan, pada setiap buku

tumbuh satu daun terdiri dari pelepah daun, helai daun, telinga daun, dan lidah daun.

Daun bendera adalah daun yang paling atas dan memiliki ukuran daun terpendek.

Daun keempat dari daun bendera merupakan daun terpanjang (De Datta, S.K., 2001).

Malai terdiri dari 8–10 buku yang menghasilkan cabang primer, dari cabang

primer akan muncul cabang-cabang sekunder. Ibu tangkai bunga bercabang-cabang

dan masing-masing cabang mendukung susunan bunga seperti bulir


(Thamrin. 2000).

Bunga padi terdiri dari tangkai bunga, kelopak bunga lemma (gabah padi yang

besar), palae (gabah padi yang kecil), putik, kepala putik, tangkai sari, kepala sari,

dan bulu (awu) pada ujung lemma (De Datta, S.K., 2001).

Buah padi terdiri dari bagian luar yang disebut sekam dan bagian dalam yang

disebut kariopsis. Biji yang sering disebut beras adalah kariopsis yang terdiri dari

lembaga (embrio) dan endosperm. Endosperm diselimuti oleh lapisan aleuron,

tegmen, dan perikap (Bashan, Y. and G. Holguin. 1997).

Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan

sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai

tergantung varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam. Jumlah cabang pada

setiap malai berkisar antara 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang, dan yang

terbanyak mencapai 30 buah cabang (Thamrin. 2000).

Syarat Tumbuh

Iklim

Padi dapat tumbuh di daerah yang mempunyai temperatur sedang sampai

tinggi dengan intensitas cahaya matahari yang panjang. Suhu rata-rata yang sesuai

untuk tanaman padi berkisar antara 68oC - 100oC. Suhu merupakan syarat utama

yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman padi karena suhu rendah pada

pertumbuhan tanaman padi akan memperlambat perkecambahan benih dan menunda

proses transplanting atau pemindahan ke lapangan (Handayani, I. P. 2001).

Tanaman padi membutuhkan curah hujan yang baik, yaitu rata-rata 200

mm/bulan. Curah hujan yang baik akan memberikan dampak yang baik bagi
pengairan, sehingga genangan air yang diperlukan tanaman padi sawah dapat

tercukupi dan tanaman dapat tumbuh baik pada fase vegetatif dan generatif. Suhu

yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi yaitu 33oC ke atas, sedangkan di

Indonesia pengaruh suhu tidak terlalu terasa karena suhunya hampir konstan/stabil

sepanjang tahun. Adapun salah satu pengaruh suhu terhadap tanaman padi yaitu

kehampaan pada biji (Hanafiah, dkk. 2009).

Menurut Luh (1991), temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi.

Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada suhu 230C. Temperatur yang rendah

dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses

pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat tidak

membukanya bakal biji. Temperatur yang rendah pada waktu pengisian biji juga

dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari

(Handayani, I. P. 2001).

Tanah

Menurut Rahayu (2009), padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus,

struktur remah dan cukup mengandung air dan udara, tanah yang cocok bervariasi

mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air

yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus

< 50% (Hanafiah, dkk. 2009).

Padi dapat tumbuh baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara18 -

22cm dengan pH tanah berkisar antara 4–7. Pada lapisan tanah atas untuk pertanian

pada umumnya mempunyai ketebalan antara 10-30 cm dengan warna tanah coklat
sampai kehitam-hitaman dan tanah tersebut merupakan tanah yang gembur.

Sedangkan kandungan air dan udara di dalam pori-pori tanah masing-masing 25%

(Simalongo, E. 2008).

Selain agroekosistem, cara pengelolaan tanaman juga mempengaruhi

keberlanjutan agribisnis padi. Dengan menerapkan pengelolaan tanaman terpadu

(PTT) keberlanjutan agribisnis padi dapat diwujudkan. Saat ini hampir seluruh

teknologi budidaya tanaman menggunakan konsep PTT, termasuk budidaya padi

sawah dan padi gogo (Hanafiah, dkk. 2009)..


PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR MIKROBAT TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)

Pemupukan

Pemberian pupuk merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan

unsur hara. Oleh karena itu dosis pupuk dan jenis pupuk sangat mempengaruhi

pertumbuhan dan hasil dari tanaman padi, sehingga dari kedua faktor tersebut

menjadi permasalahan yang sering dialami oleh petani karena dalam proses budidaya

padi jarang menggunakan jarak tanam dan dosis pupuk yang baik. Hal ini

menyebabkan banyak benih yang terbuang dan penggunaan pupuk yang tidak sesuai

dengan kebutuhan yang diperlukan oleh tanaman tanaman, akibatnya biaya yang

diperlukan untuk budidaya tersebut tidak seimbang dengan hasil produksi yang

dihasilkan (Simalongo, E. 2008).

Dosis pemupukan yang sering digunakan petani yaitu 100 kg/ha urea, 47

kg/ha KCl dan 50 kg/ha SP 36, menurut dosis pemupukan yang direkomendasikan

oleh Menteri pertanian yaitu sebesar 250kg/ha urea, 75 kg/ha KCl dan 50 kg/ha SP 36

(Setyamidjaja, D. 2006).

Tanaman padi pada pertumbuhannya memerlukan 16 unsur hara esensial yang

berdasarkan kebutuhanya dikelompokan menjadi unsur hara makro dan unsur hara

mikro. Unsur hara makro terdiri atas karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen

(N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), sulfur (S) dan magnesium (Mg). Unsur hara

mikro yang relatif sedikit dibutuhkan oleh tanaman terdiri dari besi (Fe), mangan

(Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), molybdenum (Mo), boron(B) dan klor (Cl). Semua

unsur hara esensial harus ada dalam keadaan optimum dan dalam bentuk tersedia bagi
tanaman (Siswono, W.H. 2006).

Pupuk fosfor (P) tidak sama dengan pupuk nitrogen, umumnya pupuk fosfor

lambat tersedia bagi tanaman. Pergerakan pupuk yang relatif lambat menyebabkan

pergerakannya tidak begitu jauh dari pupuk yang ditempatkannya. Pupuk fosfor

dalam tanah mudah berubah ke dalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman. Oleh

karenanya upaya mengurangi bidang kontak pupuk fosfor dengan tanah merupakan

suatu usaha untuk dapat meningkatkan ketersediaan fosfor. Metode penyebaran

dalam barisan tanaman merupakan metode yang efektif dalam penggunan pupuk

fosfor. Pupuk fosfor juga dapat diaplikasikan melalui air irigasi (Goenarto, L. 2000.).

Manfaat pemberian pupuk organic cair mikrobat

Pupuk Hayati adalah pupuk yang hidup, sesuai dengan namanya pupuk ini

adalah pupuk yang kandungan utamanya adalah mikroorganisme. Pupuk ini diyakini

sebagi pupuk yang istimewa karena memiliki banyak fungsi, selain sebagai suplai

hara tanaman, pupuk ini juga dapat berfungsi sebagai proteksi tanaman, mengurai

residu kimia dan berbagai manfaat positif lainnya (Sakhidin, dkk.1998).

Pupuk hayati terdiri dari inokulan berbahan aktif organisme hidup yang

berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam

tanah bagi tanaman. Inilah yang bagi sebagian orang, pupuk ini sebenarnya kurang

tepat disebut dengan istilah pupuk, Karena pada prosesnya, pupuk ini hanya

menambah hara, sedangkan pupuk ini sendiri tidak memiliki hara

(Goenarto, L. 2000).

Tidak seperti Rhizobium, inokulasi tanaman dengan Azospirillum tidak

menimbulkan nodulasi pada akar tanaman. Oleh karena itu, bagaimana mekanisme
bakteri ini membantu pertumbuhan tanaman tidak sama dengan Rhizobium yang kita

kenal. Di antara modus yang diusulkan antara lain: sekresi fitohormon, fiksasi

nitrogen, produksi molekul isyarat, produksi nitrit, dan peningkatan penyerapan

mineral oleh tanaman. Karena tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung gagasan

dari salah satu mekanisme tersebut, maka satu hipotesis aditif telah diusulkan oleh

Basan dan Levanony tahun 1990. Gagasan aditif ini mengusulkan bahwa efek

menguntungkan dari inokulasi Azospirillum terhadap pertumbuhan tanaman adalah

hasil dari semua mekanisme yang disebutkan di atas secara bersamaan atau berurutan

(Dermiyati. 1997)

Kandungan hara pupuk organic cair

Pupuk organik (contohnya kompos) dan pupuk hayati (mikroba) sebenarnya

adalah dua jenis pupuk yang berbeda. Pupuk organik mengandung unsur hara lengkap

untuk tanaman, meskipun konsentrasinya rendah. Tetapi pupuk organik memiliki

kandungan lain yang tidak ada di dalam pupuk kimia atau pupuk mikroba, yaitu

senyawa-senyawa organik yang sangat berguna bagi tanaman maupun biota tanah.

Contohnya adalah asam humik dan asal fulvat. Kedua asam ini diketahui berperan

seperti hormon yang dapat merangsang perakaran dan pertumbuhan tanaman

(Dermiyati. 1997).

Pupuk hayati (mikroba) tidak menyediakan hara bagi tanaman. Jadi tidak

memiliki kandungan N, P, atau K. Di alam mikroba-mikroba ini memiliki peranan

yang sangat penting bagi tanaman. Hampir seluruh proses penyerapan hara oleh

tanaman dibantu oleh mikroba. Ibaratnya mikroba ‘menyuapi’ tanaman. Ada mikroba

yang berperan dalam menambat N dari udara, contohnya Azosprillium sp,


Azotobacter sp, Rhizobium sp (pada kacang-kacangan), dll. Udara mengandung

kurang lebih 74% N, tetapi tanaman tidak bisa menyerap (“memakan”) hara N ini. N

udara harus ditambat oleh mikroba, baru bisa ‘dimakan’ oleh tanaman. Ada juga

mikroba yang berperan dalam pelarutan hara P, contohnya Aspergillus sp dan

Penicillium sp. P di dalam tanah berada dalam ikatan dengan mineral dan liat tanah. P

ini sulit untuk diserap oleh akar tanaman. Agar mudah diserap oleh tanaman P ini

harus dilarutkan oleh mikroba menjadi ion fosfat. Kalau dilihat di bawah mikroskop

akar tanaman akan dipenuhi oleh mikroba. Masih ada mikroba-mikroba lain yang

memberi perlindungan untuk tanaman, ada juga yang memberi ‘vitamin’ untuk

tanaman (Simalongo, E. 2008).

Jikalau makanan tanaman adalah unsur hara, maka makanan untuk mikroba

adalah bahan organik. Sebagian bahan organik ini diberikan oleh tanaman, tetapi

sebagian besar adalah bahan organik yang di dalam tanah. Kalau di dalam tanah

bahan organiknya rendah, kehidupan mikroba tanah juga akan ‘merana’. Di tanah-

tanah yang kandungan bahan organiknya tinggi, maka aktivitas mikroba tanahnya

juga tinggi. Demikian pula di tanah-tanah yang kandungan bahan organiknya rendah,

aktivitasnya juga akan sangat rendah. Hanya mikroba-mikroba yang ‘ulet’ saja yang

masih bisa hidup (Dermiyati. 1997).

Memperkaya pupuk organik (kompos) dengan mikroba sebenarnya adalah

menggabungkan antara pupuk organik dengan pupuk hayati. Pupuk organik diberikan

untuk tanaman, menyediakan hara dan ‘vitamin’ bagi tanaman, sekaligus

menyediakan ‘makanan’ untuk mikroba. Mikroba-mikroba yang ada di dalam pupuk

hayati akan lebih hidup ‘sejahtera’ karena banyak makanan untuknya. Mikroba akan
bekerja lebih giat dan berkembang biak lebih cepat. Pupuk organik dan pupuk hayati

dapat bekerja sinergis untuk menyuburkan tanaman (Simalongo, E. 2008.).

Cara pengaplikasian pupuk hayati Mikroba

Penambahan bahan organik ke dalam tanah sawah akan memperbaiki sifat-

sifat fisika, kimia dan biologi tanah melalui perannya sebagai sumber makanan

mikroba di dalam tanah dan meningkatkan jenis dan populasi mikroba sehingga

aktivitas mikroba dalam tanah terus meningkat (Dermiyati. 1997)

Implementasi dari penggunaan pupuk hayati yang mengandung

mikroorganisme hidup yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk inokulan atau

bentuk lain untuk menfasilitasi atau menyediakan hara tertentu bagi tanaman

(Simanungkalit 2000).

Cara aplikasi pupuk hayati mikoba sebagai berikut: (i) 25 kg benih padi + 5

sachet (masing-masing 100 mL/botol) Bioplus, (ii) 4 kg Biovam powder + 4 L air

diaduk merata hingga menyerupai bubur dan selanjutnya benih padi yang dicampur

dengan Bioplus dimasukkan ke dalam bubur Biovam. (iii) Diaduk merata hingga

semua bahan tercampur dan melekat menutupi permukaan benih padi, (iv)

Dipersiapkan lahan persemaian, kemudian ditaburi tipis dengan Biovam, kemudian

benih, (v) Padi yang telah terenkapsulisasi pupuk hayati langsung disemaikan pada

lahan persemaian (Gardner, dkk. 1991).

Bibit padi yang sudah tumbuh dan berumur 20 hari dicabut dari lahan

persemaian, kemudian bagian akarnya dicelupkan kembali beberapa saat ke dalam

bubur pupuk hayati mikroba selama kurang lebih 15 menit agar pupuk menempel
pada akar tanaman. Selanjutnya benih padi yang telah terenkapsulisasi pupuk hayati

siap ditanam dan dimasukkan kedalam lubang pada lahan sawah

(Simanungkalit 2000).

Pemberian pupuk cair mikroba terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman


padi (Oryza sativa L.)

Kebutuhan pupuk untuk padi sawah dari tahun ke tahun mengalami

peningkatan, namun tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas, bahkan

produktivitas tanah sawah cenderung mengalami penurunan. Penggunaan pupuk

anorganik yang semakin meningkat dan berlebihan berarti pengeluaran biaya

produksi semakin meningkat pula sehingga mengurangi pendapatan petani serta

berdampak buruk pada lingkungan tanah sawah. Pada lahan sawah yang diusahakan

secara intensif mengakibatkan kadar bahan organik tanah berkurang, kesuburan

biologi dan fisik tanah menurun drastis. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut,

pemberian bahan organik berupa pupuk organic maupun pupuk hayati sangat

diperlukan (Gardner, dkk. 1991)..

Pupuk hayati (biofertilizer) merupakan suatu inokulum mikroba

berkemampuan meningkatkan kelarutan hara tanah yang dapat bersifat:wide spectrum

dan dikemas dalam suatu formula khusus yang bentuknya dapat berupa suspense,

bubuk atau butiran (Simanungkalit 2000).

Menurut Saraswati (2000) penggunaan pupuk hayati pada tanaman padi

sawah dapat (i) menyediakan sumber hara bagi tanaman, (ii) melindungi akar dari

gangguan hama dan penyakit, (iii) (iv) meningkatkan jumlah akar, (v) meningkatkan

jumlah anakan produktif (50%), (v) memperpanjang malai (8%), peningkatan jumlah
gabah/malai 10-20% dan jumlah gabah isi/malai meningkat 14%, dan (vi)

meningkatkan hasil gabah sebesar 20-30%.

Penggunaan pupuk dengan perilaku berlebihan atau melebihi dosis yang

dianjurkan akan mengakibatkan pada pemborosan energi dan menimbulkan berbagai

dampak negatif terhadap lingkungan (Goenadi dan Herman, 1999). Pemupukan yang

tidak sesuai dengan kebutuhan dan tingkat haranya hanya akan mengakibatkan

gangguan pada tanaman budidaya

Sistem pemupukan merupakan salah satu proses pengendalian hama secara

kultur teknis dan termasuk kepada pengendalian hama terpadu. Seperti yang diketahui

selama ini bahwa penggunaan pupuk yang tidak benar (waktu aplikasi, jenis, dan

dosis) akan menyebabkan berbagai masalah terhadap tanaman, sebaliknya

penggunaan pupuk yang berimbang dan dengan dosis serta waktu pemberian yang

tepat dapat mengurangi perkembangan beberapa organisme pengganggu tanaman

(OPT). Oleh sebab itu, pemakaian dosis pupuk harus benar-benar diperhatikan

(Simanungkalit 2000).

Berdasarkan hasil penelitian Simalongo (2008) bahwa penggunaan pupuk

hayati pada pertanaman padi sebanyak 6 Lha-1 yang diaplikasikan sebanyak 3 kali

yaitu 3 hari sebelum tanam, 30 hari setelah tanaman, serta pada booting stage,

sedangkan dosis anjuran penggunaan pupuk fosfor untuk tanaman padi gogo menurut

Deptan (2006) adalah sebanyak 100 kg (SP-36) ha-1 yang diberikan 1 hari sebelum

tanam .

Program peningkatan produksi padi yang dapat dilakukan secara cepat adalah

intensifikasi dengan pemupukan, baik pupuk anorganik maupun pupuk organik.


Penggunaan pupuk organik saat ini diperuntukkan untuk mengurangi degradasi lahan

di samping memperbaiki kondisi lahan sawah dengan jalan penyediaan unsur hara

bagi tanaman padi. Dengan adanya terobosan tersebut, secara nasional diasumsikan

bahwa pro duksi padi di Indonesia hingga tahun 2020; diproyeksikan 61,30 juta ton

(tahun 2010), 63,82 juta ton (tahun 2015), dan 66,45 juta ton gabah (tahun 2020)

(Fauziati, dkk. 1995).

Selain itu, dalam upaya efisiensi penggunaan pupuk khususnya nitrogen pada

pertanaman padi adalah pemanfaatan isolat bakteri Azotobacter sebagai pupuk hayati

guna mengurangi penurunan kesehatan tanah akibat adanya input bahan kimia

sintetik. Azotabacter dikenal sebagai agen pemfiksasi dinitrogen (N2), yang dapat

mengkonversi dinitrogen menjadi ammonium melalui reduksi elektron dan protonasi

gas nitrogen. Azotobacter merupakan bakteri penambat N non simbiotik, hidup bebas

di daerah perakaran tanaman, tidak bersimbiosis dengan tanaman tertentu seperti

halnya pada Rhizobium dengan tanaman legume (holguin, dkk.1999).

Pemanfaatan Azotobacter sebagai salah satu species rizobakteri tidak hanya

sebagai sumber hara nitrogen, tetapi juga menghasilkan fitohormon (auksin, sitokinin

dan giberelin) yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Beberapa keuntungan dengan

memanfaatkan Azotobacter ini adalah; a) tidak berbahaya bagi lingkungan, b)

penggunaannya tidak menimbulkan pencemaran, c) harga relative murah, dan d)

teknologinya sederhana (Khairul, 2001).


KESIMPULAN

1. Pemberian pupuk merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan unsur

hara.

2. Pupuk hayati terdiri dari inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi

untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah

bagi tanaman.

3. Implementasi dari penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme

hidup yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk inokulan atau bentuk lain

untuk menfasilitasi atau menyediakan hara tertentu bagi tanaman

4. Pupuk organik mengandung unsur hara lengkap untuk tanaman, meskipun

konsentrasinya rendah. Tetapi pupuk organik memiliki kandungan lain yang tidak

ada di dalam pupuk kimia atau pupuk mikroba, yaitu senyawa-senyawa organik

yang sangat berguna bagi tanaman maupun biota tanah.

5. Selain itu, dalam upaya efisiensi penggunaan pupuk khususnya nitrogen pada

pertanaman padi adalah pemanfaatan isolat bakteri Azotobacter sebagai pupuk

hayati guna mengurangi penurunan kesehatan tanah akibat adanya input bahan

kimia sintetik.
DAFTAR PUSTAKA

Bashan, Y. and G. Holguin. 1997. Azospirillum-plant relationships: environmental


and physiological advances (1990-1996). Can. J. Microbiol. Vol. 43, 1997 :
103 – 121. NRC Canada

Brady, N.C., and H. O. Buckman. 2003. The nature and properties of soils. Mac-
millan Publishing Co., Inc, New Delhi.

De Datta, S.K., 2001. Principles and practices of rice production. John Wiley and
Sons, Inc. New York.

Dermiyati. 1997. Pengaruh mulsa terhadap aktivitas micro-organisme tanah dan


produksi jagung hibrida C-1. J. Tanah tropika 5: 63-68.

Fauziati, N., R. Simatupang dan Hariunsyah. 1995. Peningkatan produktivitas jagung


di lahan kering melalui penggunaan bahan organik. Sem. Hasil Penelitian
Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Pangan. Malang. Hlm: 155-121.

Gardner, F.P., R.B. Pierce, and R.L. Mitchel. 1991. Physiology of crop plants
(Fisiologi tanaman budidaya, alih bahasa oleh Susilo). UI Press. Jakarta.

Goenarto, L. 2000. Microba rhizosfer : Potensi dan mafaatnya.Penelitian dan


Pengembangan Pertanian. 19 (2): 39-48.

Hakim N., M. Yusuf Nyakpa, A.M. Lubis, N. Sutopo, M. Rusdi, M. Diha, Go Ban
Hong, H.H. Bailey, 20066. Dasar-dasar ilmu tanah. Universitas Lampung.
Lampung.

Hanafiah, A. S., T. Sabrina, dan H. Guchi. 2009. Biologi dan Ekologi Tanah.
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Uviversitas Sumatera
Utara. 409 hlm.

Handayani, I. P. 2001. Kurangi ”Ketergantungan”Pupuk Kimia Dengan Pupuk


Hayati. Warta UNIB. XVII. Bengkulu.

Holguin, G., C. L. Patten, and B. R. Glick. 1999. Genetics and molecular biology of
Azospirillum. Biol Fertil Soils 29: 10–23 Q Springer-Verlag.

Sakhidin, S. R. Suparto, dan Y.A. Nurwanto. 1998. Penggunaan urea tablet untuk
meningkatkan hasil padi tanam benih langsung dan pengaruhnya terhadap
hasil padi ratun (Efek Residu). Majalah Ilmiah Universitas Jenderal
Soedirman. 24 (2): 1-10.
Setyamidjaja, D. 2006. Pupuk dan pemupukan. CV. Simplex. Jakarta.

Simalongo, E. 2008. Pupuk Hayati Ramah Lingkungan, Menghemat Pupuk Kimia


Hingga 50%.

Simanungkalit, R.D.M. 2001. Aplikasi Pupuk Hayati dan Pupuk Kimia : Suatu
Pendekatan Terpadu.

Siswono, W.H. 2006. Swasembada pangan dan pertanian berkelanjutan tantangan


abad dua satu: Pendekatan ilmu tanah tanaman dan pemanfaatan iptek nuklir.
Badan Tenaga Nuklir Nasional. Jakarta.

Thamrin. 2000. Perbaikan beberapa sifat fisik dan typic kanha-pludults dengan
pemberian bahan organic pada tanaman padi sawah. Skripsi. Faperta,
Universitas Padjajaran. Bandung.