Anda di halaman 1dari 9

PROPOSAL

KEGIATAN PRAKTIKUM AKLIMATISASI BIBIT ANGGREK


(Dendrobium Sp) HASIL KULTUR JARINGAN

oleh

Kelompok 2 Golongan C

Anggota :

1. Indri Lestari A41151771

2. Tri Susinggit A41151764

3. Affi Arum Sari P.H A41151936

4. Danang Setyawan A41152024

5. David Affri D. A41151466

6. Moh.Fajar Ramadhana A41151639

7. Alfian Fachrizal A41151888

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH

JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2018
BAB 1. PENDAHULUAN

Bibit anggrek yang dikembangkan menggunakan metode kultur jaringan


telah banyak diproduksi dan dipasarkan dalam kemasan botol. Pemeliharaan bibit
ini menjadi tanaman dewasa masih menemukan banyak permasalahan terutama
pada fase aklimatisasi, yaitu pemindahan bibit dari lingkungan aseptik dalam
botol ke lingkungan non aseptik. Disamping kemungkinan tanaman sangat sensitif
terhadap serangan hama dan penyakit, tanaman ini masih memiliki aktifitas
autotrofik yang masih rendah, sulit mensintesa senyawa organik dari unsur hara
anorganik. Tulisan ini menguraikan beberapa masalah fisiologis yang perlu
mendapat perhatian dalam usaha meningkatkan baik aktivitas autotrofik maupun
viabilitas bibit anggrek botol.

Penyesuaian terhadap iklim pada lingkungan baru yang dikenal dengan


aklimatisasi merupakan masalah penting apabila membudidayakan tanaman
menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Masalah ini
dapat terjadi karena beberapa factor :

1) Pada habitatnya yang alami, anggrek epifit biasanya tumbuh pada pohon
atau ranting. Oleh karena itu, pemindahan tanaman dari botol ke media
dalam pot sebenarnya telah menempatkan tanaman pada lingkungan yang
tidak sesuai dengan habitatnya.
2) Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan
memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang
digunakan tanaman sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh
karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk
dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous.

Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang
digunakan untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut
dengan metode kering. (Yang kelompok kami gunakan sesuai dengan referensi)
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistematika dan morfologi Anggrek Dendrobium

Anggrek Dendrobium termasuk tanaman dan keluarga Orchidaceae.


Tanaman berbunga indah, ini tersebar luas di pelosok dunia, termasuk di
Indonesia. Kontribusi anggrek Indonesia dalam khasanah anggrek dunia cukup
besar. Dan 20.000 spesies anggrek yang terbesar di seluruh dunia, 6.000
diantaranya berada di hutan- hutan Indonesia. Menurut Dressier dan Dodson
(2000) dalam Widiastoety, dkk. (2010), kiasiflkasi anggrek Dendrobium adalah
sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Orchidales

Faniiii : Orchidaceae

Subfamiii : Epidendroideae

Suku : Epidendreae

Subsuku : Dendrobiinae

Genus : Dendrobium

Spesies : D. macrophyllum, D. canaliculatum, D. lineale, D. bifalce,

D. Secundum.

Stuktur tanaman anggrek terdiri dari akar, batang, daun dan bunga. Sifat-
sifat khas tanaman dari family Orchidaceae terlihat pada karakter akar , batang,
daun, bunga, buah dan bijinya.
a. Bunga

Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki keragaman


warna dan bentuk bunga . meski demikian anggrek memiliki struktur bunga yang
sama dan khas. Bunga anggrek terdiri dari :

1. Kelopak (sepal), Sepal yang dimiliki anggrek terdiri atas tiga helai dan si
sela-sela sepal terdapat dua helai petal. Sedangkan labelum atau lidah
bunga merupakan modifikasi dari petal
2. Mahkota (petal)
3. Lidah (Labelum)
4. Bakal buah, dibentuk oleh penyatuan putik dan benangsari.
b. Buah

Bentuk buah anggrek berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Buah anggrek


merupakan lentera atau capsular yang memiliki 6 rusuk. Tiga di antaranya
merupakan rusuk sejati dan yang tiga lainnya adalah tempat melekatnya dua tepi
daun buah yang berlainan. Di tempat bersatunya tepi daun buah tadi dalam satu
buah anggrek sebesar kelingking terdapat ratusan ribu bahkan jutaan biji anggrek
yang sangat lembut dalam ukuran yang sangat kecil. Biji-biji anggrek tidak
memiliki endosperm sebagai cadangan makanan, sehingga untuk
perkecambahannya dibutuhkan nutrisi yang berfungsi untuk membantu
pertumbuhan biji.

c. Daun
Helaian daun anggrek berdaging berwarna hijau tua. Permukaan daun
dilapisi kutikula (lapisan lilin) yang dapat melindungi dari serangan hama dan
penyakit. Kedudukan daun tersusun secara berjajar berselingan.
Daun anggrek memiliki ciri khas bertulang daun sejajar, sedangkan
bentuknya berbeda-beda, ada yang memanjang dan ada yang membulat
tergantung pada spesies. Tipe daun menunjukkan keadaan habitat anggrek.
Menurut pertumbuhan daunnya anggrek digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Kelompok evergreen (tipe daun tetap segar / hijau), yaitu anggrek yang
helaian-helaian daun nya tidak gugur serentak.
2. Kelompok decidous (tipe gugur) , yaitu semua helaian-helaian daun gugur
dan tanaman mengalami masa istirahat, kemudian diganti tempatnya
dengan munculnya bunga.

Batang dan daun anggrek mengandung klorofil, hal ini sangat


membantunya memaksimalkan penyerapan sinar matahari untuk fotosintesis
dalam habitatnya di hutan yang minim cahaya. Klorofil pada batang anggrek tidak
mudah hilang atau terdegradasi walaupun daun-daunnya telah gugur, oleh sebab
itu anggrek juga memiliki julukan evergreen.

d. Batang

Batang anggrek yang menebal merupakan batang semu yang dikenal


dengan istilah pseudobulb (pseudo=semu, bulb=batang yang menggembung),
berfungsi sebagai penyimpan air dan makanan untuk bertahan saat keadaan kering
(Bose dan Battcharjee, 1980). Batang Anggrek ada dua tipe yang dipengaruhi oleh
titik tumbuhnya, yaitu :

1. Monopodial
Anggrek tipe monopodial hanya memiliki satu batang dan satu titik
tumbuh. Batang utama terus tumbuh dan tidak terbatas panjangnya, bentuk
batangnya ramping dan tidak berumbi. Tangkai bunga akan keluar di
antara dua ketiak daun. Anggrek jenis ini dapat diperbanyak dengan cara
stek batang dan biji.
2. Simpodial
Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang memiliki batang utama yang
tersusun oleh ruas-ruas tahunan. Angrek tipe simpodial mempunyai batang
yang berumbi semu (pseudobulb) yang juga berfusngsi sebagai cadangan
makanan. Masing-masing ruas dimulai dengan daun sisik dan berakhir
dengan setangkai perbungaan. Pertumbuhan ujung-ujung batangnya
terbatas, pertumbuhan batang akan terhenti bila pertumbuhan ke atas telah
maksimal. Batang utama baru muncul dari dasar batang utama. Pada
anggrek simpodial terdapat suatu penghubung dari tunas satu ke tunas
lainnya yang disebut rhizome. Anggrek jenis ini dapat diperbanyak dengan
cara split, pemisahan keiki, stek batang dan biji.
e. Akar

Akar anggrek berbentuk silindris dan berdaging, lunak, mudah patah


dengan ujung akar yang meruncing licin dan sedikit lengket. Dalam keadaan
kering akar akan tampak berwarna putih keperak-perakan pada bagian luarnya dan
hanya pada bagian ujung akar saja yang berwarna hijau atau tampak agak
keunguan. Akar yang telah tua menjadi coklat dan kering, kemudian akan
digantikan oleh akar yang baru.
BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan aklimatisasi Anggrek Dendrobium akan dilaksanakan pada hari


Jumat, 6 April 2018 di Green House Aklimatisasi Pukul 09.00 WIB-11.00 WIB di
Politeknik Neegeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan

1. Cocopeat 6. Kertas Koran

2. Pinset 7. Fungisida

3. Pisau 8. Planlet Anggrek

4. Handsprayer 9. Pakis

5. Penggaris 10. Mini Pot

3.3 Prosedur Kegiatan

Salah satu metode yang digunakan pada proses aklimatisasi tanaman botol
ke tanaman pot menurut lc nursery adalah sbb:

1) Bibit yang masih ada di dalam botol dikeluarkan dengan hati-hati


menggunakan kawat/pinset atau dengan memecahkan botol setelah
dibungkus dengan kertas.
2) Bibit kemudian dibilas diatas tray plastik berlubang sebelum disemprot
dengan air mengalir untuk membersihkan sisa media agar.
3) Tiriskan bibit yang sudah bersih diatas kertas koran.
4) Tanam bibit secara individual pot menggunakan media pakis., kemudian
tempatkan ditempat teduh yang memiliki sirkulasi udara yang baik.
5) Tanaman disemprot setiap hari menggunakan hand sprayer.
LAMPIRAN

Kegiatan Keterangan

Pengamatan Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali


selama 3 bulan setelah proses aklimatisasi.
LAY OUT

Perlakuan :

Kombinasi Media (M) : M1 = Cocopeat (½) : Pakis (½)

M2 = Cocopeat (¼) : Pakis (¾)

M3 = Cocopeat (¾) : Pakis (¼)

Dosis Pupuk (P) : P1 = 2 x penyemprotan

5ml/tanaman P2 = 3 x penyemprotan

P3 = 4 x penyemprotan

P4 = 5 x penyemprotan