Anda di halaman 1dari 8

3

glukosa melalui barier. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan


erosi rekuren. Epitel memiliki daya regenerasi. 1

2.1.1.1 Membran Bowman

Membran Bowman adalah membrane yang jernih dan aseluler


yang terletak dibawah membran basal dari epitel. Merupakan lapisan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari epitel
bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi. 1

2.1.1.2 Stroma

Lapisan ini mencakup sekitar 90% dari ketebalan kornea.


Merupakan lapisan tengah kornea. Bagian ini terdiri atas lamel fibril-fibril
kolagen dengan lebar sekitar 1 µm yang saling menjalin yang hamper
mencakup seluruh diameter kornea. Pada permukaan terlihat anyaman
yang teratur sedangkan dibagian perifer serta kolagen terlihat
bercabang.Terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama, dan
kadang-kadang sampai 15 bulan. 1

2.1.1.3 Membran Descement

Merupakan membrane aseluler dan merupakan batas belakang


stroma kornea yang dihasilkan oleh endotel.Bersifat sangat elastic dan
jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskop electron,
membrane ini berkembang terus menerus seumur hidup dan mempunyai
tebal sekitar 40 µm. 1

2.1.1.4 Endotel

Berasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk


heksagonal, tebal antara 20-40 µm melekat erat pada membran
Descement. Endotel dari kornea dibasahi oleh aqueous humor. Lapisan
endotel berbeda dengan lapisan epitel karena tidak mempunyai daya
regenerasi, sebaliknya endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan
4

mengurangi kepadatan seluruh endotel dan memberikan dampak pada


regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga keseimbangan cairan
yang tepat akibat gangguan sistem pompa endotel, stroma bengkak karena
kelebihan cairan (edema kornea) dan kemudian hilangnya transparansi
(kekeruhan) akan terjadi. Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh epitel
dan endotel yang merupakan membrane semipermiabel, kedua lapisan ini
mempertahankan kejernihan daripada kornea, jika terdapat kerusakan pada
lapisan ini maka akan terjadi edema kornea dan kekeruhan pada kornea. 1

2.1.2 Perdarahan dan Persarafan Kornea

Kornea dipersarafi oleh saraf sensoris yang terutama berasal dari n.


siliaris longus, cabang dari n. nasosiliaris. Kornea tidak mengandung
pembuluh darah oleh karena sebagai media refrakta, akan tetapi di limbus
kornea terdapat arteri ciliaris anterior yang membawa nutrisi untuk kornea.
Nutrisi yang lain didapat dari humor aqueous di camera oculi anterior dengan
cara difusi dari endotel.3

2.1.3 Fisiologi Kornea

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang


dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh
strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau
keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa”
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel.
Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah
daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, kerusakan pada
epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
menghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan
air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata
5

tersebut. Hal ini mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari
stromakornea superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi.
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik.Substansi larut-lemak
dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang
utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air
sekaligus.
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan
membran Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme,
seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur.3

2.2 Keratitis

2.2.1 Definisi

Keratitis adalah kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada


kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Keratitis dapat terjadi
pada anak-anak maupun dewasa.Bakteri umumnya tidak dapat menyerang
kornea yang sehat, namun ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan
kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme
pertahanan kornea.

2.2.2 Etiologi

Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:


2.2.2.1 Virus (Herpes simpleks, Herpes zoster, Adenovirus)

2.2.2.2 Bakteri (Diplococcus pneumonia, Streptococcus hemoliticus,


Pseudomonas aerogenosa, Moraxella liquefaciens, Klebsiela
pneumonia)

2.2.2.3 Jamur (Candida, Aspergilus)

2.2.2.4 Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari


6

2.2.2.5 Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak

2.2.2.6 Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau
tidak cukupnya pembentukan air mata

2.2.2.7 Adanya benda asing di mata

2.2.2.8 Defisiensi vitamin A

2.2.2.9 Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau


partikel udara seperti debu, serbuk sari.6

2.2.3 Klasifikasi

Menurut lapisan kornea yang terkena, keratitis dapat dibagi menjadi


keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel atau membrane Bowman
dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis
parenkimatosa) apabila mengenai lapisan stroma.2

2.3 Keratitis Pungtata Superfisial

2.3.1 Definisi

Keratitis pungtata superficial adalah inflamasi pada kornea yang


terkumpul didaerah membrane bowman dengan infiltrate berbentuk
bercak-bercak halus. Keratitis pungtata disebabkan oleh hal yang tidak
spesifik dan dapat terjadi pada moluskum kontagiosum, acne rosasea,
herpes simpleks, herpes zoster, blefaritis, keratitis neuroparalitik, infeksi
virus, vaksinia, trakoma dan trauma radiasi, dry eyes, trauma, lagoftalmus,
keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan bahan pengawet lain.

Pada keratitis pungtata superficial memberikan gambaran seperti


infiltrate halus berbintik-bintik pada permukaan kornea terutama daerah
pupil. Pasien akan mengeluhkan terasa nyeri, berair, merah, rasa kelilipan,
peka terhadap cahaya (fotofobia) dan penglihatan menjadi sedikit kabur.2
7

2.3.2 Gejala Klinik

Pasien dengan keratitis pungtata superficial biasanya datang


dengan keluhan iritasi ringan, adanya sensasi benda asing, mata berair,
penglihatan yang sedikit kabur, dan silau (fotofobia). Lesi pungtata pada
kornea dapat dimana saja tapi biasanya pada daerah sentral. Daerah lesi
biasanya meninggi dan berisi titik-titik abu-abu yang kecil. 4

Penderita akan mengeluhkan sakit pada mata karena kornea


memiliki banyak serabut saraf nyeri, sehingga amat sensitive. Kebanyakan
lesi kornea superfisialis maupun profunda menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia. Rasa sakit diperberat oleh kuman kornea bergesekan dengan
palpebra. 5

Karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan


merupakan media pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi
pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila
lesi terletak sentral pada kornea.5

2.3.3 Diagnosis

2.3.3.1 Subjektif

Dari anamnesis biasanya didapatkan gejala seperti:

2.3.3.1.1 Mata merah yang sakit

2.3.3.1.2 Fotofobia

2.3.3.1.3 Blefarospasme

2.3.3.1.4 Penglihatan menurun

2.3.3.1.5 Mengganjal / terasa ada benda asing

2.3.3.1.6 Reflek air mata meningkat akibat rangsangan nyeri


8

2.3.3.2 Pemeriksaan Oftalmologi

2.3.3.2.1 Pemeriksaan Visus

2.3.3.2.2 Pemeriksaan dengan Slit Lamp

2.3.3.2.3 Tes Placido

Perhatikan gambaran sirkuler yang direfleksikan pada


permukaan kornea penderita. Bila bayangan dikornea gambaran
sirkulernya teratur, disebut Placido (-), pertanda permukaan kornea
baik. Kalau gambaran sirkulernya tidak teratur, placid (+) berarti
permukaan kornea tidak baik, mungkin ada infiltrat.5

2.3.3.2.4 Tes Fluresence

Untuk melihat lebar dan dalamnya ulkus pada kornea, yaitu


dengan memasukkan kertas yang mengandung fluoresin steril
kedalam sakus konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu diberi
anestesi local, kemudian penderita disuruh mengedip beberapa
waktu dan kertas fluresinnya dicabut. Pemeriksaan ini dapat juga
menggunakan fluoresin tetes. Pada infiltrate akan tampak berwarna
hijau.5

2.3.3.2.5 Pemeriksaan Laboraturium

Harus dilakukan pemeriksaan hapusan langsung,


pembiakan, dan tes resistensi. Dari pemeriksaan hapusan langsung
dapat diketahui jenis kuman penyebabnya. Bila monosit meningkat
diduga akibat virus, bila leukosit meningkat diduga akibat bakteri,
bila eosinofil meningkat menunjukkan radang akibat alergi, dan
bila limfosit meningkat terdapat radang yang kronis.5
9

2.3.4 Diagnosis Banding

Uveitis
Uveitis adalah peradangan yang terjadi pada iris, corpus ciliare,
atau koroid. Uveitis dapat juga terjadi sekunder akibat keratitis atau
skleritis. Uveitis biasanya terjadi pada usia 20-50 tahun. Uveitis dapat
di bagi menjadi 3 bentuk yaitu uveitis anterior, intermediet dan
posterior. Gejala pada uveitis anterior adalah nyeri, fotofobia dan
penglihatan kabur. Uveitis anterior biasanya terjadi unilateral dan
onsetnya akut. Tanda dari uveitis intermediet adalah peradangan
vitreus. Uveitis intermediet memiliki gejala khas yaitu floaters dan
penglihatan kabur. Nyeri, fotofobia dan mata merah biasanya tidak
ada. Sedangkan gejala pada uveitis posterior adalah floaters,
kehilangan lapangan pandang atau penurunan tajam penglihatan yang
mungkin parah.1

Endoftalmitis
Merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat
infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis.
Endoftalmitis terbagi dua yaitu endoftalmitis eksogen akibat trauma
atau infeksi sekunder setelah proses pembedahan dan endoftalmitis
endogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur, ataupun parasit dari
fokus infeksi di dalam tubuh. Peradangan akibat bakteri akan
memberikan gambaran klinik rasa sakit yang sangat, kelopak merah
dan bengkak, kelopak sukar di buka, konjungtiva keruh dan merah,
kornea keruh, BMD keruh yang kadang-kadang di sertai hipopion.4

2.3.5 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada keratitis pungtata superfisial pada prinsipnya


adalah diberikan sesuai dengan etiologi. Untuk virus dapat diberikan
idoxuridin, trifluridin atau asiklovir. Untuk bakteri gram positif pilihan
10

pertama adalah cafazolin, penisilin G atau vancomisin dan bakteri gram


negatif dapat diberikan tobramisin, gentamisin atau polimixin B.
Pemberian antibiotik juga diindikasikan jika terdapat sekret mukopurulen
yang menunjukkan adanya infeksi campuran dengan bakteri. Untuk jamur
pilihan terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau fluconazol.
Selain terapi berdasarkan etiologi, pada keratitis pungtata
superfisial ini sebaiknya juga diberikan terapi simptomatisnya agar dapat
memberikan rasa nyaman seperti air mata buatan, sikloplegik dan
kortikosteroid.4

2.3.6 Komplikasi

Komplikasi dari keratitis dapat terjadi ulkus kornea kemudian


terbentuk jaringan parut sehingga dapat mengganggu ketajaman
penglihatan.7

2.3.7 Prognosis

Prognosis bergantung pada virulensi organisme, lokasi dan


perluasan perforasi kornea, vaskularisasi dan deposit kolagen, diagnosis
awal dan terapi tepat dapat membantu mengurangi komplikasi.
Penyembuhan keratitis pungtata superficial biasanya berlangsung baik
meskipun tanpa pengobatan. Imunitas tubuh merupakan hal yang penting
dalam kasus ini karena reaksi imunologis tubuh pasien yang memberikan
respon terhadap virus ataupun bakteri.5