Anda di halaman 1dari 9

Perusak Materi : mahluk hidup (rayap)

Rayap merupakan makhluk kecil menyerupai semut yang hidup dalam kelompok
(koloni) yang ramai, berwarna putih dan tidak bersayap

Rayap merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangunan dengan
material kayu. Rayap merupakan hewan yang memakan zat selulosa pada kayu.
Hal tersebut membuat kayu menjadi lapuk dan berlubang.

Mekansime Perusakan Materi : Pengeroposan

Pengeroposan adalah suatu periwtiwa rapuh atau lapuk nya suatu benda.

Pada dasarnya pelapukan kayu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pelapukan biologi
(dekomposisi), pelapukan fisika (mekanik), dan pelapukan kimia (korosi).

Pelapukan Kayu secara Biologi


Pelapukan biologi (dekomposisi) adalah pelapukan yang disebabkan oleh makhluk
hidup. Proses pelapukan biologi pada dasarnya dilakukan oleh dekomposer dan
detrivor.

 Dekomposer adalah organisme yang mengubah bahan organik menjadi anorganik.


Contohnya adalah bakteri dan jamur mikroskopis.
 Detrivor adalah organisme yang mencacah substrat besar material organik yang sudah mati
menjadi lebih kecil. Contohnya rayap, semut, dan jamur makroskopis.

Pada umumnya kusen pintu dan jendela rumah banyak yang masih menggunakan
bahan kayu, baik itu kayu jati, kayu meranti, kayu kamper ataupun bahan
kayu lainnya. Maka dari itu bisa dipastikan lambat laun akan mengalami
keropos karena di makan rayap.

Contoh lain adalah kayu. saat udara lembap, jumlah uap air di dalam udara
banyak. kemudian uap air meresap lama kelamaan membuat kayu yang keras
menjadi lunak. jika kejadian ini berlangsung lama maka kayu tersebut akan
lapuk. kayu juga bisa lapuk karena diserang hama penggerat, misalnya rayap.
rayap akan membuat kayu jadi berlubang. lubang tersebut memdahkan uap air
untuk masuk kedalam kayu.

Rayap memakan zat selulosa (cellulose) yang terdapat di dalam kayu atau semua
benda yang terbuat dari kayu atau benda mengandung selulosa seperti kayu bangunan,
kertas dan kain katun. Serangga ini menguraikan selulosa menjadi senyawa-senyawa
sederhana dengan bantuan enzim selulose. Senyawa-senyawa itulah yang dibutuhkan
oleh rayap sebagai sumber energi bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Ada beberapa jenis kayu tertentu yang tahan terhadap rayap, tetapi itu pun jenis kayu
yang tergolong kayu langka dan mahal harganya, seperti kayu jati, kayu ulin, dan
kayu merbau. Itu dikarenakan kayu-kayu tersebut mengandung zat ekstraktif yang
bersifat racun bagi jamur dan rayap

Bahan pengawet kimia : senyawa basa

Hunt dan Garrat (1986), menyatakan bahwa bahan pengawet kayu


adalah

bahan-bahan kimia yang apabila digunakan secara baik terhadap kayu


akan

membuat kayu tahan terhadap serangan jamur, serangga dan binatang


laut.

Beberapa persyaratan untuk bahan pengawet yang baik agar usaha


pengawetan

memberikan hasil yang baik (supriana dan Martawijaya, 1973), adalah


sebagai

berikut :

a. Beracun terahadap makhluk perusak kayu

b. Mudah masuk kedalam kayu

c. Bersifat permanen, tidak mudah luntur atau menguap

d. Tidak berbahaya bagi manusia atau hewan

e. Bersifat netral terhadap bahan lain misalnya logam, perekat, cat dan
sebagainya

f. Tidak merusak kayu baik secara fisik, mekanik maupun kimia dari
kayu

g. Tidak mempertinggi bahaya kebakaran

h. Mudah dikerjakan, diangkut, diperoleh dan bila mungkin harganya


murah

Keefektifan suatu bahan pengawet sebagian besar tergantung pada


daya

racunnya atau kemampuan menjadikan kayu itu beracun terhadap


organisme-

organisme perusak kayu (Hunt dan Garrat, 1986). Keefektifan suatu


bahan

pengawet juga dipengaruhi oleh kesempurnaan penetrasi dan


banyaknya retensi

pada kayu perlakuan (Haygreen dan Bowyer, 1989).

Boraks :

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh awal campuran boraks


dengan asam borat dilihat dari sisi visual, mengetahui lama perendaman
dan konsentrasi campuran boraks dengan asam borat yang memiliki pengaruh
awal paling efektif untuk mengawetkan kayu. Pengujian ini menggunakan
metode experimen dengan proses rendaman dingin terhadap kayu sengon
berukuran 5⁄7 dengan panjang 15 cm. Campuran boraks dan asam borat yang
digunakan perbandingannya 1,54 : 1,00. Benda uji A dengan konsentrasi 5%
sebanyak 15 buah, benda uji B dengan konsentrasi 7,5% sebanyak 15 buah,
benda uji C dengan konsentrasi 10% sebanyak 15 buah masing-masing
dilakukan perendaman selama 1 jam, 2 jam, dan 3 jam. Sedangkan untuk benda
uji D sebagai kontrol tanpa dilakukan perendaman sebanyak 5 buah. Benda
uji diujikan pada sarang rayap tanah selama 48 hari. Hasil pengujian
menunjukkan kehilangan berat pada benda uji A dengan lama perendaman 1
jam; 2 jam; 3 jam berturut-turut sebesar 12,34 gr; 9,80 gr; 16,51 gr. Benda
uji B dengan lama perendaman 1 jam; 2 jam; 3 jam berturut-turut mengalami
kehilangan berat sebesar 14,64 gr; 6,82 gr; 7,03 gr. Benda uji C dengan
lama perendaman 1 jam; 2 jam; 3 jam berturut-turut mengalami kehilangan
berat sebesar 3,95 gr; 3,34 gr; 1,97 gr. Sedangakan untuk benda uji D
sebagai kontrol mengalami kehilangan berat sebesar 23,45 gr. Berdasarkan
visualisasi terhadap seluruh benda uji, ternyata kondisi yang paling
ekstrim dan terparah terlihat pada benda uji D, dan dari hasil analisis
didapatkan campuran boraks dan asam borat yang paling efektif untuk
pengawetan kayu adalah dengan konsentrasi larutan 10% dan lama perendaman
3 jam. Benda uji C paling tahan terhadap serangan rayap dan mengalami
kehilangan berat paling sedikit dibandingkan benda uji lainnya.

Parachem

Parachem adalah bahan kimia dengan kandungan utama boron yang


diformulasikan secara khusus untuk bisa dan mudah diaplikasikan dalam
proses pengawetan kayu dengan proses vakum. Parachem memberikan
perlindungan yang maksimal dan efektif pada kayu terhadap serangan
serangga pemakan kayu berupa rayap (termite), bubuk kayu (wood
beetle).

Parachem merupakan bahan kimia yang diperlukan dalam pengawetan


pada jenis-jenis kayu yang memiliki resiko tinggi terkena serangan jamur
dan serangga perusak kayu seperti kayu karet dan kayu mangga.
Dibandingkan dengan bahan sejenis parachem mempunyai kelebihan karena
dibuat dalam konsentrasi tinggi sehingga relatif murah dan mudah
digunakan dalam proses vakum.

Parachem berupa bubuk putih yang sangat mudah larut dalam air. Larutan
yang dihasilkan bersifat basa dan tidak korosif terhadap alat dan fasilitas
untuk proses vakum.
Kelebihan parachem

 Mempunyai daya proteksi yang tinggi terhadap serangga pemakan


kayu baik rayap maupun bubuk kayu.
 Dapat segera di test dengan alat pengetesan terhadap kandungan
borac-boric.
 Tidak mengandung garam NaPCP, PCP
 Tidak mengubah warna dasar kayu dan tidak mengganggu aplikasi
bahan finishing diatasnya.
 Sifat racun yang relatif rendah terhadap mamalia
 Pengawetan yang dihasilkan bersifat jangka panjang. Dengan proses
vakum maka parachem dapat masuk dan mengisi sel kayu bagian
dalam sehingga kayu akan menjadi beracun dan tidak disukai oleh
serangga pemakan kayu dan jamur perusak kayu.

Cara Penggunaan parachem.

Parachem dilarutkan ke dalam air dengan perbandingan 100 –150 kg


parachem untuk tiap 10.000 air (konsentrasi 1,0-1,5 %). Campuran ini
digunakan sebagai cairan yang digunakan untuk mengisi sel-sel kayu pada
akhir proses vakum.

Catatan.

Kayu yang sudah terisi dengan parachem sebaiknya dihindarkan dari air,
karena apabila terkena air, maka kandungan borac-boric dapat terlarut dan
ketahanannya terhadap serangan serangga dapat berkurang.

Harga :

Parachem dijual dengan harga Rp US $ 3 per kg.

Kemasan:

Parachem dijual dalam kemasan 1 zak ( 25 kilogram). US $ 75. per zak.

Mekanisme pengawetan kimia

Proteksi kimia :Metode pemolesan dan penyemprotan


Dalam cara ini, bahan pengawet dioleskan/disemprotkan ke permukaan

kayu yang telah dikeringkan lebih dahulu dan dibiarkan dalam beberapa

waktu.

Modifikasi : pengasapan

EPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengawetkan kayu bisa dilakukan dengan cara


lebih ramah lingkungan. Para peneliti Institut Pertanian Bogor mengungkapkan
sejumlah teknik memperpanjang masa pakai kayu tanpa mengandalkan pengawet
mengandung bahan kimia berbahaya.

“Kami di Fakultas Kehutanan IPB melakukan teknik pengawetan kayu yang lebih
ramah lingkungan yaitu melalui modifikasi kimia kayu,” ujar Guru Besar Fakultas
Kehutanan (Fahutan) IPB Prof Yusuf Sudo Hadi dalam konferensi pers di Executive
Lounge Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (27/8), pekan lalu.

"Ada beberapa metoda yang kami lakukan seperti metoda pengasapan, asetilasi,
furfurilasi, kayu plastik, maupun komposit kayu plastik (wood plastic composite,
WPC)."

Menurut Profesor Yusuf, asap belum dimanfaatkan dengan baik. Padahal ia


mengandung bahan kimia fenol, aldehid, keton, asam organik, alkohol, ester,
hidrokarbon, dan berbagai bahan heterosiklis. Phenol dan turunannya mempunyai
sifat racun terhadap bakteri, rayap maupun jamur sehingga asap bisa digunakan untuk
pengawetan kayu.

Kayu sengon, sugi dan pulai setelah diasapi dengan asap kayu mangium selama tiga
hari menjadi sangat tahan terhadap rayap tanah (dari kayu kelas V menjadi kayu kelas
I). Contoh lain adalah kayu WPC. WPC merupakan produk generasi terakhir dari
kelompok biokomposit.

Pada pembuatannya kayu dibuat serbuk halus, kemudian dicampur dengan plastik
pada suhu lelehnya, lalu diekstrusi menjadi produk WPC berupa lempengan seperti
papan maupun bentuk lainnya sesuai kebutuhan.

“Warna WPC dapat disesuaikan dengan permintaan pasar karena dalam


pembuatannya bisa ditambahkan pigmen atau warna," kata Yusuf kembali seperti
dikutip dari keterangan pers diterima ROL, Senin (1/9). Kelebihan lainnya, lanjut
Yusuf, WPC cukup kuat, tahan air, dan tahan terhadap bio-deteriorasi.

"Di Indonesia sudah ada pabriknya dan produknya sudah ada di pasaran, serta WPC
ini telah digunakan di beberapa tempat misalnya untuk menutup saluran air di sekitar
kolam renang. Kalau di Amerika biasanya digunakan untuk bagian rumah yang
terkena pengaruh cuaca,” terangnya.
Yusuf mengatakan produk kayu yang diawetkan dengan teknik pengawetan ramah
lingkungan ini sangat menjanjikan pada masa yang akan datang. Walau produk ini
belum populer di negeri kita pada saat ini, namun di negara maju sudah banyak
diproduksi dan dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi.

Kebutuhan kayu bulat untuk industri perkayuan Indonesia pada tahun 2013 mencapai
sekitar 40 juta meter kubik yang dipenuhi sekitar 60 persen dari hutan tanaman. Kayu
dari hutan tanaman umumnya lebih rentan diserang rayap tanah.

Menurut pakar rayap Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Dodi Nandika, kerugian
ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan rumah dan non rumah di Indonesia
pada tahun 2015 bisa mencapai 10 triliun rupiah. Oleh karena itu, perlu usaha
meningkatkan ketahanan kayu terhadap serangan bio-deteriorasi, khususnya rayap.

Perubahan kimia :

Perendaman
Proses pengawetan secara tradisional dilakukan dengan cara merendam kayu

yang masih segar kedalam lumpur, air tergenang, atau air mengalir. Dalam

mengawetkan kayu dengan cara ini, kita hanya memikirkan berapa lama (durasi) kayu

harus direndam. Dalam kaitan dengan penentuan jangka waktu perendaman ini, kita

perlu memperhatikan dua hal penting tentang sifat kayu yang di awetkan, yaitu

keawetan kayu dan kekuatan kayu setelah direndam. Kedua sifat kayu ini berada pada

posisi yang berlawanan bila dihadapkan pada jangka waktu perendaman.

Semakin lama jangka waktu yang diperlukan untuk merendam kayu, akan

membuat proses pengawetan semakin efektif. Artinya, kayu akan semakin terhindar

dari serangan serangga perusak kayu, khususnya kumbang bubuk kayu (antara lain

Dinoderus minutus). Sebaliknya, semaki semakin lama jangka waktu yang diperlukan

untuk merendam kayu akan membuat kayu itu semakin rendah kekuatannya bila

dibandingkan dengan kekuatan kayu sebelum direndam. Hal ini karena sel-sel

penyusun kayu akan semakin renggang dan akhirnya terurai bila kayu direndam

dalam jangka waktu yang semakin lama.


Oleh karena itu, jangka waktu perendaman perlu ditentukan sedemikian rupa

sehingga proses pengawetan dapat meningkatkan katehanan kayu terhadap

serangga-serangga perusak kayu tersebut tanpa harus disertai penurunan kekuatan

kayu. Tapi sayang , sampai saat ini belum ada suatu penelitian yang mapu menjawab

berapa lama waktu perendaman optiman yang diperlukan untuk mengawetkan

masing-masing jenis kayu secara tradisional.

Tentu saja kayu memerlukan waktu perendaman yang lebih lama, karena

mengingat kayu mempunyai ukuran yang tebal. Pedoman yang perlu dipegang dalam

mengawetkan kayu secara tradisional ini adalah merendam kayu sampai kondisi

lingkungannya yang menimbulkan bau yang sangat merangsang. Bau demikian dalam

bahasa jawa sering disebut sebagai bauh “ kecing” . mekanisme yang mengakibatkan

kayu menjadi lebih awet setelah direndam selama jangka waktu tertentu.

Selama direndam, kayu itu akan menyerap air dan ukuran dimensinya

mengembang, baik dalam arah panjang, lebar maupun tebal. Proses pengembangan ini

diikuti dengan proses melarutnya zat ekstraktif dari golongan yang larut air, misalnya

gula, glukosida, tanin, beberapa senyawa nitrogen, dan zat pewarna kayu. Sementara

itu, zat ekstraktif dari golongan yang tidak larut dalam air, misalnya pati, akan tetap

berada pada jaringan kayu.

Kehadiran zat ekstraktif yang larut dalam air mengakibatkan air rendaman

secara berangsur-rangsur mengalami perubahan susunan kimia. Hal itu terlihat dari

warna air yang mengeruh dan konsentrasinya mnejadi pekat. Air yang kondisinya

demikian sangat baik bagi pertumbuhan mikrobia (jasad renik). Mikrobia ini

didiminasi oleh bakteri, terutama Bacillus subtilis, B. mansentiricus, Lactobacillus sp,


dan Staphylococcus sp. Kehadiran berbagai jenis bakteri ini akan mengeluarkan

berbagai jenis enzin yang dapat menguraikan pati yang ada didalam kayu itu menjadi

unsur-unsur lebih sederhana yang larut dalam air. Penguraian ini berlangsung melalui

fermentasi berantai.

Dengan fermentasi berantai itu, pati akan diubah menjadi disakarida oleh

enzim amilase. Disakarida akan di ubah menjadi glukosa oleh enzim maltase. Glukosa

akan difermentasi menjadi asam pirufat oleh enzim glukonase. Asam pirufat, akan

direduksi menjadi asam laktat, kemudian didekarbosilasi menjadi esetaldehida.

Esetadehida akan reduksi menjadi etanol. Etanol merupakan salah satu jenis alkohol,

sehingga etanol akan larut dalam air.

Secara keseluruhan, pada akhir proses fementasi itu akan terbentuk asam-asam

organik (misalnya asam cuka dan asam butirat) dan gas-gas (seperti karbondioksida,

asam arang, metan, dan hidrogen sulfida) serta alkohol (seperti etanol, butanol, dan

aseton). Senyawa-senyawa produk fermentasi berantai inilah yang menimbulkan bau

kencing tersebut tersebut.

Semua senyawa yang di hasilkan dalam proses fermentasi itu akan larut dalam

air. Dengan demikian, pati yang semula tidak larut dalam air akan berubah oleh

proses fermentasi menjadi unsur yang dapat larut di dalam air. Lama kelamaan, proses

fermentasi akan mengakibatkan penurunan kadar pati di dalam kayu.

Mengingat pati merupakan zat makanan bagi serangga perusak kayu,

khususnya kumbang bubuk tadi, maka tidak adanya pati dalam kayu itu akan menurun

minat serangga tersebut untuk mengerat (menggerek) kayu. Oleh karena itu, kayu itu

akan terbebas dari serangga-serangga perusak sehingga kayu menjadi lebih awet.