Anda di halaman 1dari 11

Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh)

Fasilitas PPh dapat dibagi atas :

1. Fasilitas PPh untuk WP badan yang berlaku umum

Berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tari pasal 17 UU PPh.

Pasal 31 Eayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Pengasilan
sebagaimana terakhir diubah dengan undang-undang Nomor 16 Tahun 2008 (selanjutnta disebut
Undang-undang PPh) memberika fasilitas sebagai berikut :

Wajib Pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000(
lima miliar rupiah ) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 505 dari tarif
sebagaimana dimaksud dala Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas
Pengasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00.

Fasilitas pengurangan tarif 50% dari tarif Pasal 17 Undang-undang PPh ini berlaku umum
untuk :Semua WP Badan dalam negeri yang memiliki peredaran bruto kurang dari atau sampai
dengan Rp50.000.000.000,00 ( lima puluh miliar rupiah ) setahun , dengan syarat :

a. Atas peredaran brutonya tidak dikenakan PPh final.

b. Pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif tarif Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang-undang
PPh dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan
rp4.800.000.000.

2. Fasilitas PPh untuk WP Badan yang berlaku khusus untuk kondisi wilayah, dan/atau industri
tertentu.

a. Fasilitas pengurangan tarif 5 % lebih rendah dari tarif umum Pasal 17 ayat (1)b UU PPh
untuk WP Badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit
40% dari julah keseluruhan saham yang disetor ,diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya.

Fasilitas ini didasarkan pada Pasal 17 ayat (2b) Undang-undang PPh yang menyatakan :
Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40%
dari jumlah saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi
persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5% lebih rendah dari tarif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang diatur atau berdasarkan
Peraturan pemerintah

Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan pasal 17 ayat (2b) UU PPh adalah PP No. 77
Tahun 2013 pasal 2 ayat (1) dan (2 ) PP No. 77 Tahun 2013 menyatakan :

1) Wajib pakaj dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka dapat memperoleh
penurunan tarif pajak penghasilan sebesar 5% lebih rendah tarif pajak penghasilan wajib
pajak badan dalam negeri.

2) Penurunan tarif pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada
Wajob Pajak Badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka setelah memenuhi
persyaratan :

a. Paling sedikit 40% dari jumlah keselutuhan saham yabg disetor dicatat untuk
dierdagangkan dao hursa efek di Indonesia dan masuk dalam penitipan kolektif di
lembaga penyimpanan dan penyelesian;

b. Saham sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus dimiliki paling sedikit oleh 300
pihak;

c. Masing masing pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf b hanya boleh memiliki
saham kurng dari 5% dari keseluruhan saham yang ditempatkan dan disetor
penuh;dan

d. ketentuan sebagaimana dimaksud dalan huruf a,huruf b,huruf c harus dipenuhi dalam
waktu paling singkat 183 hari kalender dalam jangka waktu satu Tahun Pajak.

b. Fasilitas pasal 31 A undang-undang PPh diberikan kepada :

Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidng usaha tertentu dan/atau di
daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional daat diberikan
fasilitas perpajakan.
Bentuk fasilitas :

1) Pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30% dari jumlah penanaman yabg dilakukan;

2) penyusutan dan amortisasi yabg dipercepat;

3) Kompensasi kerugian yabg lebih lama,tetapi tidak lebih dari 10 tahun ;dan

4) Pengenaan pajak penghasilan atas deviden sebagaimana dimasud dalam pasal 26 sebesar
10%,kecuali apabila tarif menurut perjajian oerpajakan yang berlaku menetapkan lebih
rendah.

Peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan Pasal 31 a UU PPh adala :

Peraturan pemerintah No. 1 tahun 2007 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan
Pemerintah No. 52 tahun 2011.

Dalam Peraturan Pemetintah ini diatur hal hal sebagai berikut :

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemetintah ini yang dimaksud dengan :

1. Penanaman modal adalah investasi berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang
digunakan untuk kegiatan utama usaha, baik untuk penanaman modal baru maupun perluasan
dari usasha yang telah ada.

2. Aktiva tetap berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun yang diperoleh
dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam
operasiperusahaan, tidak dimaksudkan untuk diperjual belikan atau dipindah tangankan.

3. Perluasan dari usaha yang telah ada adalah suatu kegiatan dalam rangka peningkatan
kuantitas/kualitas produk, diversifikasi produk, atau perluasan wilayah operasi dalam rangka
pengembangan kegiatan dan produksi perusahaan.

4. Bidang-bidang usaha tertentu adalah bidang usaha di sektor kegiatan ekonomi yang
mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional.
5. Daerah-daerah tertentu adalah daerah yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak
dikembangkan.

Pasal 2 ayat (1)

Kepada Wajib Pajak Badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi yang
melakukan penanaman modal pada :

a. Bidang-bidang usaha tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan


pemerintah ini ; atau

b. Bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu sebagaimana ditetapkan dalam


Lampiran II Peraturan Pemerintah ini, dapat diberikan fasilitas Pajak Penghasilan.

c. Pasal 2 ayat (2)

d. Fasilitas Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

e. Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah peneneman modal, dibebankan
selama 6 tahun masing-masing sebesar 5% per tahun;

f. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat ;

g. Pengenaan Pajak Penghasilan atas deviden yang dibayarkan kepada subjek pajak luar negeri
sebesar 10%, atau tarif yang lebih rendah menurut persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
yang berlaku; dan

h. Kompensasikan kerugian yang lebih lama dari 5 tahun tetapi tidak lebih dari 10 tahun tahun
dengan ketetuan:

1) Tambahan 1 tahun: apabila penanaman modal baru pada bidang usaga yang diatur pada
ayat (1) huruf a dilakukan di kawasan industri dan kawasan berikat;

2) Tambahan 1 tahun: apabila mempekerjakan sekurang-kurangnya 500 orang tenaga kerja


Indonesia selama 5 tahun berturut-turut:
3) Tambahan 1 tahun: apabila penanaman baru memerlukan investasi/pengeluaran untuk
infrastruktur ekonomi dan sosial di lokasi usaha paling sedikit sebesar
Rp10.000.000.000,00(sepuluh miliar rupiah);

4) Tambahan 1 tahun: apabila mengeluarkan biaya penelitian dan pengembangan di dalam


negeri dalam rangka pengembangan produk atau efisiendi produk paling sedikit 5% dari
investasi dalam jangka waktu 5 tahun; dan/atau

5) Tambahan 1 tahun: apabila menggunakan bahan baku dan/atau komponen hasil produksi
dalam negeri paling sedikit 70% sejak tahun ke 4.

Pasal 2 ayat (2a) & 3

Fasilitas Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan setelah
wajib pajak merealisasikan rencana penanaman modal paling sedikit 80%. Menteri Keuanga
menerbitkan keputusan pemberian fasilitas Pajak Penghasilan setelah mempertimbangka usulan
dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Pasal 3

Wajib Pajak yang mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), sebelum
lewat jangka waktu 6 tahun sejak tanggal pemberian fasilitas tidak boleh :

a. Menggunakan aktifa tetap yang mendapatkan fasilitas untuk tujuan selain yang diberikan
fasilitas ;atau

b. Mengalihkan sebagian atau seluruh aktiva tetap yang mendaatkan fasilitas kecuali aktiva
tetap yang dialihan tersebut diganti dengan aktiva tetap baru.

Bidang-bidang usaha tertentu dan daerah tertentu yang mendapatkan fasilitas sebagaimana
dimaksud pada pasal 2 ayat (2) lihat lampiran i dan ii PP nomor 1 tahun 2007 sebagaimana
diubah terakhir pada PP nomor 52 tahun 2011

Tata cara untuk mendapatkan fasilitas Pasal 31A UU PPh sebagaimana diatur pada Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 sebagaimana terakhir diubah denga PP Nomor 52 Tahun 2011
adalah sebagai berikut:
1. Wajib pajak mengajukan permohonan kepada Kepala BKPM untuk kemudian diusulkan
kepada Menteri Keuangan kepada Direktur Jendral Pajak paling lama 1 tahun sejak izin
penanaman modal atau izin perluasan penanaman modal atau instansi lain yang berwenang.

2. Selanjutnya kepala BKPM menyampaikan usulan kepada Menteri Keuangan melalui


Direktur Jenderal Pajak dengan dilampiri dokumen berupa:

a. Fotokopi kartu NPWP;

b. Fotokopi surat permohonan Wajib Pajak kepada Kepala BKPM;

c. Izin penanaman modal atau izin perluasan penanaman modal yang diterbitkan oleh
Kepada BKPM atau instansi lain yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku; dan

d. Rincian jenis dan nilai Peneneman Modal.

3. Direktur Jendral Pajak atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan persetujuan atau
penolakan pemberian fasilitas Pajak Penghasilan dalam jangka waktu paling lama 10 hari
kerja terhitung sejak usulan kepada Kepala BKPM diterima secara lengkap .

4. Jika wajib pajak mendapat persetujuan, maka untuk mendapat manfaat fasilitas Pajak
penghasilan tersebut, wajib pajak melakukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak
untuk memperoleh keputusan mengenai realisasi penanaman modal sebesar 80% dari rencana
penanaman Modal. (Peraturan Menteri Keuangan No. 144/PMK.03/2012)

Fasilitas Pembebasan atau engurangan PPh Badan dalam Rangka Penanaman Modal berdasarkan
Pasal 29 PP 94 Tahun 2010 untuk WP Badna yang melakukan penanaman modal baru yang
merupakan industri pionir, yang tidak mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam pasal
31 A Undang-Undang Pajak Peghasilan pasal 29 ayat (1) dan (2) PP 94 tahun 2010 menyatakan:
Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal baru yang merupakan industry pionir
yang tidak mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31A Undang-Undang
Pajak Penghasilan dapat diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan
Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang penanaman modal.
Industri pionir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah industri yang memiliki keterkaitan
yang luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi
baru,serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.

Fasilitas ini diberikan kepada :

WP Badan yang bergerak di Industri Pionir mencakup :

a. Industri logam dasar;

b. Industri pengilangan minyak bumidan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak
bumi dan gas alam;

c. Industri permesinan;

d. Industri di bidang sumberdaya terbarukan; dan/atau

e. Industri peralatan komunikasi.

Dengan kriteria :

1. Mempunyai rencana penanaman modal baru yang telah mendapatkan pengesahan dari
instansi yang berwenang paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah);

2. Menempatkandana di perbankan Indonesia paling sedikit 10% dari total rencana penanaman
mdal tersebut diatas, dan tidak boleh ditarik sebelum saat dimulainya pelaksanaan realisasi
penanaman modal; dan

3. Harus berstatus sebagai badan hukum Indonesia.


Kasus CV TERNAK SAPI

CV TERNAK SAPI (CV TS) adalah perusahaan peternakan sapi yang kegiatan usahanya terbagi
atas dua divisi sebagai berikut:

Divisi pembibitan dan penggemukan sapi potong.

Yang menghasilkan sapi potong untuk dijual kepada pihak lain.

Divisi sapi perah.

Yang menghasilkan susu sapi murni yang kemudian diproses secara pasteurisasi sehingga
menjadi susu sapi murni yang siap dikonsumsi.

CV TS sendiri didirikan sejak tahun 2001 dan saat ini terdaftar di KPP Pratama Ciawi.
Sepanjang tahun 2012 CV TS memperoleh pendapatan yang berasal dari :

Penjualan susu murni senilai Rp 50.000.000.000,00 (kapasitas 10.000.000liter)

Penjualan sapi potong Rp 50.000.000.000,00 (kapasitas 4.800 ekor sapi)

Sejak tahun 2013 CV TS berencana melakukan perluasan usaha untuk peningkatan kapasitas
produksinya dimana kapasitas produksi susu ditargetkkan tiga kali lipat dari saat ini dan
kapasitas produksi sapi potong menjadi 4 kali lipat dari kondisi saat ini .

Untuk keperluan perluasan usaha tersebut CV TS akan mengeluarkan belanja modal sebesar Rp
75 miliar untuk perluasan divisi sapi perah Rp 150miliar dan untuk perluasan usaha divisi sapi
potong.

Pertanyaan :

1. Bagaimana pertimbangan saudara adar CV TS dapat mengefisienkan beban pajak atas


rencana perluasan usahanya !

2. Berikan juga tata cara perhitungan penghematan pajaknya jika CV TS dapat memanfaatkan
fasilitas pajak yang ada!
3. Langkah-langkah apa sja yang harus ditempuh CV TS untuk dapat memanfaatkan fasilitas
perpajakan tersebut ?

Jawaban :

1. Agar CV TS dapat mengefisienkan beban pajaknya CV TS dapat memanfaatkan fasilitas


sebagaimana diatur pada Pasal 17 ayat (2b) UU PPh dan menggabungkannya dengan fasilitas
Pasal 31A UU PPh.

Untuk dapat memanfaatkan fasilitas pasal 17 ayat (2b) UU PPh maka status CV TS diubah
menjadi PT lalu untuk dana perluasan usahanya PT TS bisa mendapatkan dari emisi saham baru
publik dengan jumlah saham yang diterbitkan mencapai 40% dari seluruh saham yang beredar.

Dengan fasilitas in PT TS Tbk akan mendapatkan pengurangan tarif PPh dari 25% menjadi 5 %.

Selain itu untuk divisi penggemukan sapi potong PT TS Tbk dapat mempereleh tax allowance
berdasarkan pasal 31 A berupa:

a. Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah peneneman modal, dibebankan
selama 6 tahun masing-masing sebesar 5% per tahun;

b. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat

c. Kompensasikan kerugian yang lebih lama dari 5 tahun tetapi tidak lebih dari 10 tahun tahun.

Jadi dengan memanfaatkan fasilitas pasal 17 ayat (2b) UU PPh dan Pasal 31A UU PPh maka
PT TS Tbk selain mendapatkan tax allowance (khusus divisi sapi potong) sekaligus mendapatkan
pengurangan tarif menjadi 20% (untuk keselurujan usaha).

2. Jika CV TS menerapkan langkah-langkah sebagaimana jawaban diatas maka harus dilakukan


pembandingan hitungan sebagai berikut :

i. Jika Cv Ts tidak mengubah statsnya enjadi PT TS Tbk maka CV Tstidak mendapatka


satu fasiitas apapun juga, namun atas pembagian laba kepada pemilik tidak dikenakan
PPh (bukan merupakan objek PPh)
ii. Jika CV TS mengubah statusnya menjadi PT TS saja PT TS hanya akan
mendapatkan fasilitas PPh Pasal 31A berupa tax allowance yang dapat diitung
sebagai berikut:

Estimasi Laba kena pajak (setelah perluasan ) xxxx

-/- 30% X jumlah penanaman modal (xxxx)

-/- Selisih jumlah penyusutan atas aset perluasan yang dipercepat*) (xxxx)

Penghasilan kena pajak (xxxx)

*) untuk aset tetap (kecuali tahan ) atas perluasan sapi potong saja.

Lalu untuk mengetahui penghematan pajaknya ;selisih hasil perhitungan PPh dengan adanya
tax allowance dengan tidak adanya tax allowance, hasil selisih tersebut dibandingkan dengan
PPh yang harus dibayar (tarif 10% jika laba ats perluasan tersebut dibagika ke pemilik;jika
selisihnya lebih besar selisih berdasarkan penghitungan terhadap tax allowance maka
sebaiknya CV TS memanfaatkan fasilitas pasal 31A jika tidak maka status CV dapat
dipertahankan.

iii. Jika CV TS ingin memaksimalkan menghematan pajaknya maja CV TS memadukan


fasilitas padal 17 ayat (2b) UU PPh dengan fasilitas padal 31A UU PPh yang
perthitungannya sebagai berikut;

Estimasi Laba kena pajak (setelah perluasan ) xxxx

-/- 30% X jumlah penanaman modal (xxxx)

-/- Selisih jumlah penyusutan atas aset perluasan yang dipercepat*) (xxxx)

Penghasilan kena pajak (xxxx)

*) untuk aset tetap (kecuali tahan ) atas perluasan sapi potong saja.

Penghasilan kena pajak tersebut dikalikan tarif 25% dikurangi 5% yaitu 20%.
3. Langkah-langkah yang harus ditempuh CV TS untuk memanfaatkan fasilitas pasal 17 ayat
(2b) adalah berubah bentuk menjadi PT TS lalu melakukan emisi saham ke publik (IPO).
Kemudian untuk mendapatkan Fsilitas Pasal 31A berupa tax allowance maka CV TS harus
melakuka langkah-langkah sebagai berikut:

i. Mengubah bentuk usaha menjadi PT

ii. Melaporkan dan mengurus persetujuan untuk mendapatkan fasilitas tax allowance
melalui BKPM

iii. Syarat untuk mendapatkan fasilitas pasal 31A untuk sapi potong maka harus diperhatikan
agar :

a. Jika dilakukan pembibitan maka pembibitan tersebut minimal 5000ekor /tahun

b. Jika dilakukan penggemukan sapi maka yang diakukan penggemukan adalah sapi
lokal jumlahnya harus minimal 5000 ekor/siklus.