Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Berdarah Dengue

2.1.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang

disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri

otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam,

trombositopenia, diathesis hemoragik dan perembesan plasma.Yang

membedakan demam berdarah dengue dengan demam dengue adalah

ada tidaknya perembesan plasma yang ditandai dengan

hemokonsentrasi atau penumpukan cairan di rongga tubuh.

Demam dengue dan demam berdarah dengue sama-sama

disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus,

famili Flaviviridae dengan diameter sekitar 30 nanometer yang terdiri

dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 10-6.

Terdapat 4 serotipe virus, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4

(Darmowandowo, 2008).

2.1.2 Patogenesis

Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat

dua perubahan patofisiologis yang signifikan, yaitu:


5

 Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan

bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD

terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke

dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma

terjadi singkat (24-48 jam).

 Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati,

trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya

manifestasi perdarahan.

Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien

DBD.Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a

meningkat.Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum

diketahui.Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun

demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi

komplemen pada DBD belum terbukti.

Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD

dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanya pemacuan dari

multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai

akibat infeksi dengue sebelumnya.Namun demikian, terdapat bukti

bahwa faktor virus serta respons imun cell-mediated terlibat juga dalam

patogenesis DBD.
6

2.1.3 Gejala Klinis

Menurut Darmowandono (2008), gejala klinis demam dengue,

yakni:

 Demam timbul mendadak yang berlangsung 2-7 hari. Terkadang

kurva suhu berbentuk pelana (sadle-back fever).

 Nyeri yang sering dikeluhkan, berupa nyeri kepala, nyeri otot

(myalgia), nyeri sendi (athralgia), nyeri belakang mata (retro-

orbital).

 Ruam berupa kemerahan (flushing) pada kulit penderita. Pada

periode penyembuhan dapat muncul confalescence rash, berupa

morbilli like rash yang lokasinya di tangan (handglove like

appearance) dan kaki (shoe like appearence).

 Manifestasi perdarahan dapat berupa tourniquet test yang positif,

petekiae, epistaksis, perdarahan gusi. Dan dapat terjadi perdarahan

masif berupa hematemesis/melena yang sampai membutuhkan

transfusi darah. Namun, manifestasi perdarahan ini tidak selalu ada.

 Dapat dijumpai gejala gastro intestinal, berupa diare dan gejala

saluran napas atas berupa batuk serta pilek yang ringan.

Gejala klinis pada demam berdarah dengue menurut

Darmowandoso (2008), ketika penderita infeksi virus dengue gejala

panas pada awal sakit tidak dapat dibedakan apakah akan menjadi

varian klinis Demam Dengue atau Demam Berdarah Dengue. Pada saat

panas turun, penderita Demam Berdarah Dengue ditandai dengan


7

penampilan klinis yang memburuk. Penderita tampak sakit berat serta

terjadi gangguan hemostatik yang berupa gejala perdarahan menjadi

lebih menonjol dan kebocoran plasma yang ditandai dengan adanya

kekurangan cairan yang ringan berupa peningkatan PCV ≥ 20% sampai

gangguan sirkulasi berupa syok.

Menurut WHO (1986) dalam Ariyati (2015) membagi menjadi

empat kategori penderita menurut derajat berat penderita sebagai

berikut:

 Derajat I : adanya demam tanpa perdarahan spontan, manifestasi

perdarahan hanya berupa tourniquet test yang positif.

 Derajat II : gejala demam diikuti dengan perdarahan spontan,

biasanya berupa perdarahan di bawah kulit dan atau berupa

perdarahan lainnya.

 Derajat III : adanya kegagalan sirkulasi berua nadi yang cepat dan

lemah, penyempitan tekanan nadi (<20 mmHg), atau hipotensi,

dengan disertai akral dingin dan gelisah.

 Derajat IV : adanya syok yang berat dengan nadi tidak teraba dan

tekanan darah yang tidak terukur.

2.1.4 Penatalaksanaan

Menurut Soegeng Soegijanto (2002) dalam Ariyati (2015), tata

laksana DBD sebaiknya berdasarkan pada berat ringannya penyakit

yang ditemukan antara lain:


8

 Kasus DBD yang Diperkenankan Berobat Jalan

Penderita diperkenankan berobat jalan jika hanya mengeluh

panas, tetapi keinginan makan dan minum masih baik. Untuk

mengatasi panas tinggi yang mendadak diperkenankan memberikan

obat panas paracetamol 10-15 mg/kgBB setiap 3-4 jam diulang

jika symptom panas masih nyata di atas 38,5°C. Sebagian besar

kasus DBD yang berobat jalan ini adalah kasus DBD yang

menunjukkan manifestasi panas hari pertama dan hari kedua tanpa

menunjukkan penyulit lainnya.

 Kasus DBD Derajat I dan II

Pada hari ke-3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap, karena

penderita ini mempunyai risiko apabila terjadi syok. Untuk

mengantisipasi kejadian syok tersebut, penderita disarankan diinfus

cairan kristaloid dengan tetesan berdasarkan tatanan 7. 5, 3. Pada

saat fase panas, penderita dianjurkan banyak minum air buah atau

oralit yang biasa dipakai untuk mengatasi diare. Hematokrit yang

meningkat lebih dari 20% dari harga normal merupakan indikator

adanya kebocoran plasma dan sebaiknya penderita dirawat di ruang

observasi di pusat rehidrasi selama kurun waktu 12-24 jam.

 Kasus DBD Derajat III dan IV

Dengue Shock Syndrome termasuk kasus kegawatan yang

membutuhkan penanganan secara cepat dan perlu memperoleh

cairan pengganti secara cepat. Penggantian secara cepat plasma


9

yang hilang digunakan larutan garam isotonik (ringer laktat, 5%

dektrose dalam larutan ringer laktat atau 5% dektrose dalam larutan

ringer asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20

ml/kg/1 jam. Pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat

diberikan bolus 10 ml/kg (1 atau 2x). Jika syok berlangsung terus

dengan hematokrit yang tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan

berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal atau

plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam.

2.2 Nyamuk Aedes sp.

2.2.1 Vektor Nyamuk

Berdasarkan Jumali dkk (1979) dalam Ariyati (2015) di

Indonesia, vektor Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) belum diselidiki

secara luas, tetapi Aedes aegypti sebagai nyamuk stegomyia (Aedes)

utama di daerah perkotaan diperkirakan sebagai vektor terpenting. Di

Bantul, suatu daerah pedesaan berpenduduk padat di Jawa Tengah,

Aedes albopictus diduga merupakan vektor utama wabah DHF pada

bulan-bulan akhir tahun 1976 dan permulaan tahun 1977.

Kedua jenis nyamuk ini mempunyai daerah distribusi geografis

sendiri sendiri yang terbatas. Meskipun merupakan vektor yang sangat

baik untuk virus dengue, biasanya Aedes albopictus merupakan vektor

epidemi yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti (Akhsin Zulkoni,

2010 dalam Ariyati, 2015).


10

2.2.2 Morfologi

Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan

dengan ukuran nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus), mempunyai

warna dasar hitam dengan bercak putih keperakan atau putih

kekuningan. Di bagian dorsal toraks terdapat bercak putih yang khas

bentuknya, berupa 2 garis sejajar di bagian tengah toraks dan 2 garis

lengkung di tepi toraks. Morfologinya khas yaitu mempunyai gambaran

lira (lyre-form) yang putih pada punggungnya (mesonotum). Telur

Aedes aegypti mempunyai dinding yang bergaris-garis dan menyerupai

gambaran kain kasa. Larva Aedes aegypti mempunyai pelana yang

terbuka dan gigi sisir yang berduri lateral. Sayap berukuran 2,5 - 3,0

mm bersisik hitam. Pada Aedes albopictus dewasa mudah dibedakan

dari Aedes aegypti karena garis toraks hanya berupa 2 garis lurus di

tengah toraks (Soedarto, 2008).

Menurut Cecep Deni S (2011) secara taksonomi, maka Aedes

dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Filum : Arthropoda (berkaki buku)

Kelas : Hexapoda (berkaki enam)

Ordo : Diptera (bersayap dua)

Subordo : Nematocera (antena filiform, segmen banyak)

Famili : Culicidae (keluarga nyamuk)

Subfamili : Culicinae (termasuk tribus Anophelini dan Toxorynchitini)

Tribus : Culicini (termasuk generaculex dan Mansonia)


11

Genus : Aedes (Stegomya)

Spesies : Ae. aegypti dan Ae. albopictus.

2.2.3 Siklus Hidup Nyamuk Aedes sp

Nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah

dengue adalah yang berjenis kelamin betina. Nyamuk betina

membutuhkan “protein” yang terdapat dalam darah manusia untuk

mematangkan telurnya atau untuk dibuahi oleh sperma nyamuk

jantannya (Frida N, 2008 dalam Ariyati, 2015).

Sementara itu, nyamuk jantan akan segera mati setelah

melakukan perkawinan. Rata-rata usia nyamuk jantan 6-7 hari,

sedangkan usia nyamuk betina rata-rata 10 hari, bahkan dapat mencapai

3 bulan, bergantung pada suhu dan kelembaban udara di habitatnya

(Frida N, 2008 dalam Ariyati, 2015).

Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti terdiri atas telur, larva,

pupa, dan nyamuk dewasa. Telur nyamuk Aedes aegypti biasa dijumpai

di air jernih dan terlindung dari cahaya. Telur itu berbentuk oval

berwarna abu-abu atau hitam dengan ukuran ± 0,80 mm yang

diletakkan satu per satu seperti sarang lebah. Telur itu biasanya berada

di bawah permukaan air dalam jarak 2,5 cm dari dinding tempat

perindukan. Tempat air yang tertutup lebih disukai oleh nyamuk betina

untuk bertelur daripada tempat air yang terbuka (Frida N, 2008 dalam

Ariyati, 2015).
12

Telur nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan berbulan-bulan

pada suhu -2°C sampai 42°C. Jika kelembaban lingkungan terlampau

rendah, telur dapat menetas dalam waktu 2 – 4 hari menjadi jentik-

jentik. Jika berada di tempat yang kering, telur dapat terus bertahan

hingga 6 bulan. Embrio dalam telur tersebut berada dalam keadaan tidur

dan tidak akan menetas menjadi jentik-jentik. Jika telur tersebut

terendam air, akan menetas menjadi jentik (larva) (Frida N, 2008 dalam

Ariyati, 2015).

Larva yang berada di dalam air dapat berusia antara 4 – 10 hari

bergantung pada temperatur dan persediaan jasad renik sebagai

makanannya. Perkembangan larva terdiri atas empat tahapan yang

disebut instar. Perkembangan instar ke-1 hingga instar ke-4

membutuhkan waktu sekitar 6 hari. Larva mempertahankan hidupnya

dan berkembang hingga menjadi pupa (Frida N, 2008 dalam Ariyati

2015).

Pada tahap pupa ini tidak dibutuhkan makanan jasad renik atau

mikroorganisma lagi. Kulit pupa akan menghitam sejalan dengan

perkembangan nyamuk baru di dalamnya. Setelah 10 – 14 hari, kulit

pupa akan membelah dan perlahan-lahan akan muncul nyamuk generasi

baru (Frida N, 2008 dalam Ariyati 2015).


13

2.2.4 Ciri-ciri Nyamuk Aedes aegypti

 Telur

Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan

telur sebanyak 100 butir. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna

hitam dengan ukuran sangat kecil kira-kira 0,8 mm. Telur ini

menempel di tempat yang kering (tanpa air) dan dapat bertahan

sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu

kurang lebih 2 hari setelah terendam air.

 Jentik

Jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi

besar yang panjangnya 0,5 – 1 cm. Jentik selalu bergerak aktif

dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas

permukaan air untuk bernafas (mengambil udara), kemudian turun

kembali ke bawah dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya

hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di

sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik

tersebut akan berkembang menjadi kepompong.

 Kepompong

Berbentuk seperti koma, gerakannya lamban, serta sering

berada di permukaan air. Setelah 1-2 hari berkembang menjadi

nyamuk.
14

 Nyamuk dewasa

Nyamuk dewasa berwarna hitam dengan belang-belang

(loreng) putih pada seluruh tubuhnya. Hidup di dalam dan di

sekitar rumah, dan di tempat-tempat umum (TTU) seperti sekolah,

perkantoran, tempat ibadah, pasar dll. Mampu terbang sampai

kurang lebih 100 meter. Hanya nyamuk betina yang aktif menggigit

(menghisap) darah manusia. Waktu menghisap darah pada pagi

hari dan sore hari. Protein darah yang dihisap tersebut diperlukan

untuk pematangan telur yang dikandungnya. Setelah menghisap

darah nyamuk ini akan mencari tempat untuk hinggap (istirahat).

Nyamuk jantan hanya menghisap sari bunga/tumbuhan yang

mengandung gula. Umur nyamuk Aedes aegypti rata-rata 2 minggu,

tetapi ada yang dapat bertahan hingga 2-3 bulan.

Nyamuk Aedes aegypti menyenangi hinggap pada benda-benda

yang tergantung seperti: pakaian, kelambu, atau tumbuh-tumbuhan di

dekat tempat berkembangbiaknya, dan dalam ruangan yang agak gelap

serta lembab. Setelah masa istirahat selesai, nyamuk itu akan

meletakkan telurnya pada dinding bak mandi/WC, tempayan, drum,

kaleng bekas, ban bekas, dan lain-lain. Telur biasanya diletakkan sedikit

di atas permukaan air, dan selanjutnya nyamuk akan mencari

mangsanya (menghisap darah) lagi dan seterusnya (Kementerian

Kesehatan RI, 2012).


15

2.2.5 Perilaku Nyamuk Aedes aegypti

1. Perilaku menghisap darah

Nyamuk Aedes betina mengisap darah manusia pada waktu

siang hari, dengan puncak kepadatan nyamuk pada jam 08.00-

10.00 dan jam 15.00-17.00. Nyamuk betina menghisap darah yang

dipergunakan untuk pematangan telur. Untuk mengenyangkan

perutnya, nyamuk Aedes dapat menghisap darah beberapa kali dari

1 orang atau lebih, sehingga potensi untuk menularkan penyakit

demam berdarah semakin banyak. Nyamuk Aedes aegypti lebih

banyak menghisap darah manusia di dalam rumah (Kementerian

Kesehatan RI, 2014).

2. Perilaku istirahat

Nyamuk Aedes setelah mengisap darah akan beristirahat

untuk proses pematangan telur, setelah bertelur nyamuk beristirahat

untuk kemudian menghisap darah kembali. Nyamuk Aedes aegypti

lebih menyukai beristirahat di tempat yang gelap, lembab, tempat

tersembunyi di dalam rumah atau bangunan, termasuk kolong

tempat tidur, kloset, kamar mandi, dan dapur. Selain itu juga

bersembunyi pada benda-benda yang digantungkan seperti baju,

tirai, dan dinding. Walaupun jarang, bisa ditemukan di luar rumah,

di tanaman atau tempat terlindung lainnya (Kementerian Kesehatan

RI, 2014).
16

2.2.6 Tempat Berkembang biak Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat

penampungan air untuk keperluan sehari-hari atau barang-barang lain

yang memungkinkan air tergenang dan tidak beralaskan tanah, misalnya

bak mandi/WC, tempayan, drum, tempat minum burung, vas bunga,

kaleng bekas, ban bekas, botol, tempurung kelapa, sampah plastik, dan

lain-lain yang dibuang sembarang tempat (Kementerian Kesehatan RI,

2012). Serta ember, dispenser, kulkas, ketiak daun, tempurung kelapa,

lubang bambu, ataupun pelepah daun (Kementerian Kesehatan RI,

2014).

2.2.7 Cara Penularan

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes

aegypti/Aedes albopictus dewasa betina yang sebelumnya telah

membawa virus dalam tumbuhnya dari penderita demam berdarah lain.

Nyamuk Aedes aegypti sering menggigit manusia pada waktu pagi

(setelah matahari terbit) dan siang hari (sampai sebelum matahari

terbenam). Orang yang berisiko terkena demam berdarah adalah anak-

anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di

lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh (Akhsin Zulkoni,

2010 dalam Ariyati, 2015). Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian

penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain faktor host, lingkungan

(environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan

(susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan (environment) yaitu


17

kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin,

kelembaban, musim); kondisi demografi (kepadatan, mobilitas,

perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai

vektor penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat

virus dengue, yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotipe

yaitu dengue 1, 2, 3 dan 4 (Akhsin Zulkoni, 2010 dalam Ariyati, 2015).

2.3 Pemberantasan Sarang Nyamuk

2.3.1 Pengertian

Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN

DBD) adalah kegiatan memberantas telur, jentik, dan kepompong

nyamuk penular DBD di tempat-tempat perkembangbiakannya

(Depkes, 2015).

2.3.2 Tujuan PSN DBD

Mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga

penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

2.3.3 Sasaran PSN DBD

Sasaran pemberantasan sarang nyamuk DBD yaitu semua

tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD antara lain :

a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari.

b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (non-

TPA).
18

c. Tempat penampungan air alamiah.

2.3.4 Ukuran Keberhasilan PSN DBD

Keberhasilan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur

dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan

95 % diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

2.3.5 Cara PSN DBD

PSN DBD dapat dilakukan dengan cara fisik, kimia, biologi

dan fogging. Secara fisik dapat dilakukan dengan cara 3M Plus.

Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M, yakni :

a. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti

bak mandi, drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1).

b. Menutup rapat–rapat tempat penampungan air, seperti gentong

air/tempayan, dan lain-lain (M2).

c. Mengubur dan menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat

menampung air hujan (M3).

Kemudian ditambah dengan cara lainnya (Plus) yaitu:

a. Mengganti air vas bunga, minuman burung, dan tempat lainnya

seminggu sekali.

b. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak.

c. Menutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon, dan lain-lain

dengan tanah.

d. Membersihkan/mengeringkan tempat-tempat yang dapat menam-

pung air seperti pelepah pisang atau tanaman lainnya.


19

e. Mengeringkan tempat-tempat lain yang dapat menampung air hujan

di pekarangan, kebun, pemakaman, rumah-rumah kosong, dan lain

sebagainya.

f. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. Beberapa ikan pemakan

jentik yaitu ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang, ikan mujair,

dan ikan nila.

g. Memasang kawat kasa. Menurut Frida (2008) dalam Ariyati (2015),

memasang kawat nyamuk (kasa) pada pintu, lubang jendela, dan

ventilasi di rumah serta menggunakan kelambu juga merupakan

upaya pencegahan gigitan nyamuk demam berdarah.

h. Tidak menggantung pakaian di dalam rumah. Menurut Frida (2008)

dalam Ariyati (2015), nyamuk Aedes aegypti menggigit pada siang

hari di tempat yang agak gelap. Pada malam hari, nyamuk ini

bersembunyi di sela-sela pakaian yang tergantung di dalam kamar

yang gelap dan lembab.

i. Tidur menggunakan kelambu.

j. Mengatur pencahayaan dan ventilasi yang memadai.

k. Menggunakan obat anti nyamuk untuk mencegah gigitan nyamuk.

Obat nyamuk semprot, bakar, elektrik, serta obat oles anti nyamuk

(repellent) masuk dalam kategori perlindungan diri. Produk

insektisida rumah tangga seperti obat nyamuk semprot/aerosol,

bakar dan elektrik, saat ini banyak digunakan sebagai alat pelindung

diri terhadap gigitan nyamuk.


20

Cara biologi yaitu dengan memelihara ikan pemakan jentik

(ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang. Sedangkan dengan cara

kimiawi yaitu dengan menggunakan larvasida yang dikenal dengan

formulasi temephos, dosis yang digunakan adalah 1ppm atau 10 gram

(± 1 sendok makan peres) untuk tiap 100 liter air yang mempunyai efek

3 bulan. Selama 3 bulan bila tempat penampungan tersebut akan

dibersihkan atau diganti airnya maka jangan menyikat bagian dalam

dinding penampungan air. Air dengan abate tidak membahayakan dan

aman bila diminum.

Fogging merupakan salah satu pemberantasan dengan

pengasapan menggunakan insektisida antara lain organophospat

(malathion), pyretroid sintetic (lamda sihalotri, cypermetrin dan alfa

methin). Alat yang digunakan adalah mesin fog atau mesin ULV. Untuk

membasmi penularan virus dengue penyemprotan dilakukan dengan

dua siklus dengan interval 1 minggu. Penyemprotan siklus pertama

semua nyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infektif) dan

nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Tapi akan muncul nyamuk baru

yang diantaranya akan menghisap penderita yang viremia yang masih

ada yang dapat menimbulkan terjadinya penularan kembali.

Keseluruhan cara tersebut di atas dikenal dengan istilah “3M Plus”

(Depkes RI, 2015).

Fogging dapat berbahaya jika dilakukan tidak sesuai prosedur.

Selain bisa menyebabkan keracunan akibat menghirup gas semprotan,


21

fogging juga berdampak buruk bagi keseimbangan ekosistem. Selain itu

asap fogging secara tidak langsung juga bisa menempel pada makanan,

bantal, dan barang pribadi lain yang pada akhirnya juga mengakibatkan

keracunan. Keseimbangan ekosistem dapat terganggu dengan

terbasminya serangga-serangga non-target yang bukan merupakan

vektor DBD (Depkes, 2015).

Fogging sangat mencemari lingkungan dan akhirnya

mencemari manusia, disamping itu tindakan fogging harganya mahal

dan hasilnya tidak begitu signifikan, karena setiap fogging hanya fokus

dengan radius 100 meter dan membutuhkan 3 liter pestisida dan 60 liter

solar dan akhirnya dengan fogging masyarakat menjadi terlena dan

terjadilah resistensi.

Terdapat beberapa penelitian mengenai hubungan antara

paparan malathion dengan kejadian kelainan gastrointestinal dan

ternyata ditemukan bahwa wanita hamil yang terpapar malathion

mempunyai risiko 2,5 kali lebih besar anaknya menderita kelainan

gastrointestinal.

Malathion yang merupakan pestisida golongan organofosfat ini

juga akan menghambat enzim cholenesterase sehingga dapat merusak

sistem saraf, gastrointestinal, keseimbangan hormon dan gangguan

sistem imun. Masalah lain yang juga pernah diteliti adalah paparan

terhadap malathion ini mengakibatkan leukemia pada anak-anak,

anemia aplastik, gagal ginjal, Defek pada bayi baru lahir, kerusakan gen
22

dan kromosom, kerusakan paru dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

Malathion juga diduga mempunyai peran terhadap 28 gangguan, mulai

dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak.

Bahaya dari pestisida dapat menimbulkan dampak kronis, yaitu pada :

a. Sistem syaraf, Neurotoksin: masalah ingatan yang gawat, sulit

berkonsentrasi, perubahan kepribadian, kelumpuhan, kehilangan

kesadaran dan koma

b. Sistem gastrointestina; Muntah-muntah, sakit perut dan diare

adalah gejala umum dari keracunan

c. Sistem kekebalan dan Keseimbangan hormon.

Adapun gejala yang sering timbul dimulai dengan sakit kepala,

pusing, mual, sakit dada, muntah-muntah, kudis, sakit otot, keringat

berlebihan, kram, diare, sulit bernafas, pandangan kabur dan akhirnya

dapat menyebabkan kematian.

Dampak jangka panjang yang ditimbulkan pestisida yaitu:

karsinogenic, mutagenic, teratogenic dan residu sisa berbahaya bagi

konsumen. Bahan tambahan lainnya pada fogging yaitu solar. Solar

merupakan salah satu bahan bakar yang berasal dari fosil. Hasil

pembakaran berupa Emisi CO, NO2, SO2. CO-Hb (dalam darah) =>

HbCO, seharusnya HbO2, CO 210x lebih kuat mengikat Hb dibanding

O2. Dampaknya kekurangan O2. NO2 bersifat racun, mengakibatkan

pneumonia (sembuh 6-8 minggu), penyumbatan bronchioli (dapat

meninggal 3-5 minggu). SO2 bersifat iritan, mudah diserap selaput


23

lendir saluran nafas, produksi lendir berlebihan, iritasi. Pemaparan

berulang-ulang berisiko kanker saluran nafas.

Oleh karena itu penting sekali mengetahui prosedur fogging

antara lain :

a. Terdapat laporan kasus DBD dari Kelurahan atau Rumah Sakit .

b. Ada pemberitahuan dari Kelurahan ke Puskesmas setempat

c. Puskesmas menindak lanjuti laporan dari desa dengan

melaksanakan Penyeledikan Epidemiologi yang tujuannya adalah

mengetahui ada tidaknya penderita DB yang lain atau

menemukan tersangka DBD dan melaksanakan pemeriksaan

jentik pada radius 100 m dari penderita.

d. Apabila hasil Penyelidikan Epidemiologi menyebutkan ada

penderita DB yang lain dan atau ditemukan ≥ 3 tersangka serta

ditemukan ≥ 5 % rumah terdapat Jentik nyamuk, maka puskesmas

akan meneruskan permohonan fogging ke Dinas Kesehatan.

e. Tetapi apabila hasil PE tidak sesuai dengan kriteria diatas, maka

puskesmas akan menindak lanjuti dengan PSN, pemberian abate

dan Penyuluhan tanpa dilanjutkan fogging.

Sehingga fogging merupakan pilihan terakhir dalam

pengendalian vektor, namun masyarakat masih sering menggunakan

metode ini terutama di musim hujan saat vektor DBD sedang

mengalami puncak kepadatannya (Depkes, 2015).