Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan global akan kesehatan holistik yang tidak hanya menjamin

keadaan sehat fisik, namun juga sehat mental amatlah kuat dengungnya akhir-

akhir ini. Pembentukan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berupa

asuransi kesehatan seperti BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan),

KIS (Kartu Indonesia Sehat), Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah),

Jamkessos (Jaminan Kesehatan Sosial), dan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan

Masyarakat) menjadi salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam memenuhi

kebutuhan akan kesehatan masyarakat Indonesia seperti termaktub dalan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 (UUD RI 1945) pasal ayat

yang menerangkan bahwa:

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________.

Hal ini juga merupakan perwujudan atas amanat kesehatan berdasarkan definisi

sehat menurut World Health Organization (WHO) selaku organisasi kesehatan

dunia, dengan bunyi:

_______________________________________________________________

______________________________________________________________.

Dewasa ini konsep pengobatan kedokteran modern berkembang dan telah

dianggap mampu untuk turut serta mempertimbangkan aspek

biopsikososiospiritual. Sejak tahun 1984 dalam sidang umum organisasi


kesehatan dunia (world health organization (WHO)) menerima usulan bahwa

dimensi spiritual keagamaan sama pentingnya dengan dimensi-dimensi lain,

yaitu dimensi biologis, psikologis dan psikososial. Dengan demikian,

pendekatan psikoterapi telah bergeser dari tiga dimensi yaitu biopsikososial

menuju empat dimensi, yaitu biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual.

Empat dimensi pendekatan tersebut disebut sebagai pendekatan holistik dalam

psikoterapi (Hawari, 1997) dimana pengobatan pada masa ini tidak hanya

ditujukan untuk mengembalikan fungsi fisik, tetapi juga fungsi psikis, sosial

dan spiritual pasien (Djauzi dalam Green & Setyowati, 2005). Beragam bentuk

pengobatan dalam jutaan metode terus berkembang.

Para praktisi kesehatan seperti dokter, psikolog, tabib, terapis, ahli

pengobatan tradisional, dan lainnya menjadi langganan dan rujukan pasien

dalam penyembuhan fisik maupun mental. Salah satu tema terapi yang

kemudian menjadi sorotan masyarakat Islam adalah Qur’anic Healing atau

metode penyembuhan berbasis Al-Qur’an (Ariyanto, 2006). Salah satu metode

Qur’anic Healing yang cukup terkenal adalah ruqyah.

Ruqyah merupakan salah satu dari sekian banyak pilihan masyarakat

Muslim untuk mendukung penyembuhan serta pemulihan kesehatan melalui

terapi dan pengobatan medis yang dapat dikategorikan sebagai terapi

komplementer dalam kategori psikoterapi berbasis Islam (Deuraseh & Tohar,

2008; Rasyadan, 2014). Sebagai sebuah psikoterapi berbasis Islam, tentu

ruqyah memiliki ciri layaknya psikoterapi pada umumnya, dimana ciri

psikoterapi tersebut mencakup hadir bersamanya terapi, terapis, dan

kondisi/setting yang bersinergi dalam mendukung upaya kesehatan tersebut.


Dalam lingkup profesi, terapi ruqyah juga banyak diminati oleh lingkup

profesi lain seperti dokter, psikolog, bahkan oleh profesi yang berada jauh dari

dunia kesehatan seperti teknik dan manajemen. DF menyatakan bahwa:

“Nggak semua terapis harus dari dokter atau psikiater atau psikolog
kok. Asal kita mau belajar, mau berkembang, hatinya bersih, tenang,
insya Allah ruqyah itu bisa dipelajari dari siapa aja dari mana aja.
Eeee Misalnya di Malaysia itu ya, itu banyak lho yang justru bukan
ulama, dokter, psikolog atau psikiater gitu. Dari teknik, manajemen
juga kan, ya, banyak yang belajar. Tau si Ustadz PA kan ya? Nah dia
itu kan backgroundnya apa, kerjaannya apa, kan jadinya terapis
ruqyah. Belum lagi ada ustadz besar yang dikasih gelar sama orang-
orang karena bisa ruqyah padahal aslinya dia insinyur teknik. Ada
yang dari manajemen, ada yang dari luar kawasan agama Islam
malah. Enaknya itu eee sekarang sih semua bisa belajar kok, bisa
dipelajari. Nggak perlu titel buat jadi terapis ruqyah.” (W1/S1)
tentu saja hal ini menunjukkan bahwa ruqyah sangat menarik, terutama

keberagaman latar belakang profesinya. Hal ini sepatutnya membuat praktisi

ruqyah menjadi kaya akan sumber ilmu pengetahuan karena didasarkan pada

beragam bidang profesi.

Selain itu dari hasil amatan peneliti, terlihat pada sebuah pelatihan

ruqyah syar’iyyah yang diselenggarakan di sebuah perguruan tinggi pada bulan

Januari 2017 diantara peserta kebanyakan mengajukan pertanyaan-pertanyaan

kasus dan pengalaman baik berupa identifikasi masalah psikologis, fisik,

maupun keagamaan yang tentu menuntut terapis untuk menguasai ilmu-ilmu

dan kasus-kasus dalam bidang tersebut (O1/L1). Selaku peruqyah tentu dituntut

pula untuk menguasai beragam kompetensi psikologis, pengetahuan,

keterampilan, dan beragam pengalaman dari berbagai sudut keilmuan meski

terapis tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Padahal menurut Majid

(2005) kompetensi yang dimiliki oleh setiap terapis akan menunjukkan kualitas

terapis dalam terapi. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk


penguasaan, pengetahuan, dan profesionalitas dalam menjalankan fungsinya

sebagai terapis, salah satunya dalam tindakan konseling sebagai konselor

dalam keilmuan Islam.

Fakta lapangan lain pun menunjukkan dalam pelaksanaan ruqyah kerap

ditemukan peruqyah (mu’allij) yang memberi penjelasan dan terapi tentang

ruqyah, namun informasi dan edukasinya terbatas pada fungsi mengusir jin saja

(Ariyanto, 2006; Junaedi, 2017). Biasanya peruqyah (mu’allij) baik dalam

setting terapi maupun setting ilmiah dan akademik hanya menjelaskan masalah

Tazkiyatun Nafs, Ruqyah syar’iyyah dan Ruqyah Syirkiyyah. Jarang sekali

dibahas penggunaan ruqyah untuk penyembuhan dan pencegahan secara luas

dan ilmiah. Pembahasannya lebih bersifat fiqhiyyah daripada ilmiah (Ariyanto,

2006). Padahal apabila terapis mampu mengedukasi masyarakat melalui

beragam sumber ilmu lain, tentu ruqyah sebagai psikoterapi Islam akan

menjadi lebih diterima dan tidak akan timbul ketakutan maupun persepsi yang

salah terhadap ruqyah.

Selain itu dalam prakteknya, apabila mu’allij mengikuti prosedur ruqyah

yang baku, dapat dikatakan bahwa terapis ruqyah tidak hanya berfungsi

sebagai seorang terapis yang memberi terapi pada pasien, namun ia juga

merupakan seorang konselor bagi pasien tersebut. Melihat hal ini, tentu akan

membutuhkan kompetensi psikologikal khusus yang harus dimiliki peruqyah

(mu’allij) dalam menjembatani kondisi dan simtom psikologis pasien.

Ada penggabungan perspektif keilmuan dan perspektif ajaran Islam,

dimana sekurang-kurangnya perlu diketahui lebih dahulu empat hal dasar,

yaitu: (1) Kodrat kejiwaan manusia membutuhkan bantuan psikologis, (2)


Gangguan kejiwaan yang berbeda-beda membutuhkan terapi yang tepat, (3)

Meskipun manusia memiliki fitrah kejiwaan yang cenderung kepada keadilan

dan kebenaran, tetapi daya tarik kepada keburukan lebih banyak dan lebih kuat

tarikannya sehingga motif kepada keburukan lebih cepat merespon stimulus

keburukan, mendahului respon motif kepada kebaikan atas stimulus kebaikan,

dan (4) Keyakinan agama (keimanan) merupakan bagian dari struktur

kepribadian, sehingga getar batin dapat dijadikan penggerak tingkah laku

(motif) kepada kebaikan (Mubarok, 2000). Empat hal tersebut menjadi pijakan

bahwa konseling agama sangat dibutuhkan oleh manusia. Karena dasar dari

pemikiran konseling agama ialah satu asumsi bahwa agama itu merupakan

kebutuhan fitri dari semua manusia.

Kondisi masyarakat dengan kompetensi material yang semakin jelas

akibat dari budaya kapitalisme, pertukaran budaya “hilangnya identitas diri”

karena perubahan persepsi yang tidak disertai dengan pemahaman yang tepat,

ketakutan, dan kecemasan yang tidak jelas terhadap ketidakpastian masa

depan, munculnya budaya praktis, euforia budaya popular, dan lain sebagainya.

Menjadi mengkhawatirkan ketika tidak diiringi dengan keseimbangan

kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, maupun kecerdasan spiritual. Karena

akan menjadikan manusia yang canggih namun mengalami “kehampaan”

karena tujuan hidup yang tidak jelas. Bahkan menurut Salmadanis (dalam

Fauzi, 2007) bahwa terjadinya gempa, ledakan gunung, isu tsunami dan

terjadinya banjir telah menimbulkan kepanikan serta ketakutan masyarakat

modern. Namun, ketika lenyapnya spiritual, dimensi moral dan tatanan

rohaniah nyaris tidak mengusik kesadaran nurani manusia.


Berdasarkan beragam perbedaan latar belakang, proses, dan tujuan

terapis, serta bersumber dari pencarian dan amatan peneliti, belum ditemukan

penelitian yang secara spesifik membahas dan meneliti tentang peruqyah

sebagai konselor pada psikoterapi ruqyah yang dibahas dalam keilmuan

psikologi sebagai hubungan membantu. Bila ditelaah melalui beragam sudut

pandang, tentu hal ini menjadi sangat menarik, terutama bagi pengembangan

keilmuan psikologi berbasis Islam, sehingga peneliti memutuskan untuk

memperhatikan dan melihat lebih dalam pada pengkajian tema tersebut sebagai

upaya menelisik keadaan terapis ruqyah agar lebih bermanfaat, serta memicu

dan memacu pengembangan kompetensi terapis dalam beragam sumber

keilmuan. Oleh karena itulah penelitian yang peneliti susun kali ini berjudul

“Praktek Konseling Mu’allij dalam Psikoterapi Ruqyah: Analisis Konselor

Islam dalam Perspektif Hubungan Membantu”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini akan menganalisa peneliti terhadap peruqyah sebagai konselor

Islam dalam psikoterapi ruqyah dalam perspektif hubungan membantu.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peran peruqyah (mu’allij) sebagai konselor Islam.

2. Untuk mengidentifikasi dan menganalisa aspek peruqyah sebagai konselor

Islam dalam perspektif hubungan membantu.


3. Untuk mengidentifikasi dan memahami pengalaman, proses dan dinamika

psikologis peruqyah yang menjadi konselor Islam pada psikoterapi ruqyah.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah ilmu

pengetahuan dan pengembangan informasi terapi psikologis berbasis Islam

(psikoterapi Islam) dengan spesifikasi khusus pada terapi ruqyah untuk

dikaji lebih lanjut dalam kajian-kajian bidang psikologi, khususnya pada

minat studi Psikoterapi, Psikoterapi Islam, Psikologi Islam, Psikologi

Agama, Psikologi Klinis, Psikologi Sosial, Psikologi Lintas Budaya dan

Agama, serta menjadi tambahan informasi dan insight baru bagi penikmat

kajian Parapsikologi dan religiotherapy.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat membantu praktisi maupun terapis

untuk lebih memahami peran terapis sebagai konselor Islam dalam terapi

ruqyah, serta dinamika dan pengalaman peruqyah melalui pengkajian

proses psikologis yang terjadi sehingga ruqyah sebagai sebuah bentuk

psikoterapi menjadi bernilai lebih dalam efektivitas dan efisiensinya. Selain

itu melalui penelitian ini, diharapkan terapis dapat meningkatkan

penguasaan atas perkembangan keilmuan psikoterapi Islam, khususnya

ruqyah, sehingga dapat dipahami, diimplementasi dan diedukasikan kepada

masyarakat baik pasien, pencari ilmu atau pendakwah sebagai bentuk


aplikasi dan ikhtiar dalam menempuh upaya penjagaan dan penyembuhan

kesehatan yang bersifat holistik.

3. Keaslian Penelitian
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritik

1. Ruqyah

Salah satu ritual pengobatan yang amat populer dikenal sebagai

bentuk terapi Islam melalui konsep Qur’anic Healing adalah ruqyah yang

tidak hanya terbukti berhasil dilakukan pada umat Muslim saja, namun juga

dapat membantu kesembuhan pada umat non-Muslim (York, 2011). Selain

itu telah banyak penelitian dan studi eksperimental berdasarkan teori Islam

maupun Barat yang menunjukkan bahwa ruqyah tidak hanya sebagai alat

terapi fisik namun juga psikologis.

Secara bahasa, ruqyah dianggap sebagai tradisi lokal (local wisdom)

seperti doa atau disebut juga dengan mantra (Aqila, 2005). Dalam

prakteknya, ruqyah merupakan sistem pengobatan yang menggunakan

bacaan-bacaan tertentu yang diarahkan kepada orang yang sedang diobati

(Ziyad, 2005). Sementara Taufiq (2006) menjelaskan bahwa ruqyah adalah

pembacaan beberapa kalimat untuk seseorang dengan harapan atas

kesembuhan akan kesengsaraannya. Ruqyah bisa berupa kumpulan ayat-

ayat Al-Qur’an, dzikir, atau doa para nabi yang dibacakan oleh seseorang

untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Pada sisi lain, terapi ruqyah

merupakan terapi yang diambil dari kitab-kitab umat Islam, yaitu

penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa ma’tsur yang diambil dari

Hadis Rasulullah yang dibacakan ke pasien.


Ada persepsi di kalangan masyarakat awam bahwa terapi ruqyah

adalah terapi untuk gangguan atau kesurupan jin atau hal-hal yang bersifat

gaib. Kesalahan persepsi tersebut boleh jadi karena sering diadakan ruqyah

massal untuk mengusir jin yang ada di dalam diri manusia. Padahal,

menurut Imam Ibnu Al-Qayyim dalam Kitab Zadul Ma’ad: 4/167-169 yang

dikutip oleh Rasyadan (2014) menyebutkan bahwa sesungguhnya ruqyah itu

bertujuan untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.

Biasanya sebelum diadakan ruqyah massal, peruqyah (terapis)

memberi penjelasan-penjelasan tentang ruqyah yang hanya terbatas untuk

mengusir jin. Jarang sekali ditemukan peruqyah (terapis) menjelaskan lebih

luas penggunaan metode ruqyah tersebut untuk penyembuhan fisik dan

psikis. Biasanya peruqyah (terapis) hanya menjelaskan masalah Ruqyah

syar’iyyah dan Ruqyah Syirkiyyah dan kurang memberikan pembahasan

secara ilmiah (Ariyanto, 2006). Demikian juga beberapa kajian atau

pertemuan ilmiah yang membahas ruqyah masih terbatas membahas metode

ruqyah untuk mengusir jin. Jarang sekali dibahas penggunaan ruqyah untuk

penyembuhan yang lebih luas dan ilmiah. Pembahasannya biasanya lebih

bersifat fiqhiyyah dari pada ilmiah. Pembahasan yang bersifat fiqhiyyah

tersebut tidaklah buruk, namun jika tidak disertai penjelasan yang bersifat

ilmiah maka metode ruqyah kurang dapat dikomunikasikan dengan metode

kesehatan lain yang bersifat ilmiah. Padahal, terapi ruqyah merupakan

bagian integral dari kedokteran holistik yang sekarang sedang

dikembangkan di dunia kedokteran Islam.


a. Dasar-dasar Terapi Ruqyah

Dasar-dasar terapi ruqyah antara lain termaktub di dalam surat Al

Israa’ ayat 82 dimana Allah berfirman:

    


    
    
“...dan Kami turunkan Al-Qur’an menjadi obat penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zhalim selain kerugian.”
(Q.S. Al Israa’: 82)

Di dalam beberapa Hadis disebutkan bahwa:

ِ ‫سلَّ َم " َخي ُْر الد ََّو‬


ُ‫اء القُ ْرآن‬ َ ‫صلَّى هللا ُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ قَا َل َر‬:َ‫ب قَال‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ ‫ع ِلي ِ ب ِْن ا َ ِبى‬
ٍ ‫طا ِل‬ َ ‫َع ْن‬
.)‫(رواه ابن ماجه‬
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.”
(H. R. Ibnu Majah).
‫ ه َْل‬.‫س ْو َل هللاِ ا َ َراَيْتَ ُرقًّى نَ ْست َْرقِ ْي َها َودَ َوا ًء َنتَدَاواى بِ ِه َوتُقَاة ً نَتَّ ِق ْي َها‬ َ َ‫ قُ ْلتُ ي‬:َ‫َع ْن اَبِى ُحزَ ا َم ٍة َقال‬
ُ ‫ار‬
.)‫ِى ِم ْن قَدَ ِر هللاِ (رواه احمد والترمذى‬ َ ‫شيْئا ً فَقَا َل ه‬
َ ِ‫ت َُردُّ ِم ْن قَد ِْرهللا‬
Dari Abi Khuzamah, ia berkata: Aku berkata: Ya Rasulullah! Bagaimana
pendapatmu tentang melafazkan kata-kata doa untuk memohon kesembuhan
(Ruqyah), kami bacakan ruqyyah itu dan tentang obat yang kami
pergunakan untuk mengobati penyakit serta tentang kata-kata doa untuk
mohon perlindungan/pemeliharaan (taqiyyah), lalu kami bacakan taqiyyah
itu? Tidaklah hal itu berarti menolak taqdir (ketentuan) Allah? Maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Hal itu juga termasuk taqdir Allah
(H. R. Ahmad dan Turmudzi).
َ ‫ َم ِن ا ْشتَكَى ِم ْن ُك ْم‬:ُ‫سلَّ َم يَقُ ْول‬
‫شيْئا ً ا َ ِو‬ َ ‫صلَّى هللا ُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬ َ ‫اء قَا َل‬ ِ َ‫َع ْن اَبِى الد َّْرد‬
َ‫ارحْ َمتُك‬ ‫م‬ َ
‫ك‬ ‫ض‬ ‫ر‬ َ ‫ال‬ْ ‫ا‬ ‫و‬
َ َ ِ ْ َ ِ َ َّ ِ ُ ْ َ ُ ‫آء‬ ‫م‬‫س‬‫ىال‬‫ف‬ َ‫ك‬ ‫ر‬ ‫م‬ َ ‫ا‬ ‫و‬ َ‫ك‬ ‫م‬ ‫س‬
ْ ‫ا‬ ‫َّس‬
َ ‫د‬ َ ‫ق‬ َ ‫ت‬ ‫آء‬ ‫م‬ ‫س‬
ِ َ َّ ‫ال‬ ‫ى‬ ‫ف‬
ِ ْ ‫ِى‬ ‫ذ‬ َّ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫هللا‬
َ ‫َا‬ ‫ن‬‫ب‬
َّ ‫ر‬
َ : ْ
‫ل‬ ُ ‫ق‬ ‫ا ْشتَكَاهُ ا َ ٌخ لَهُ فَ ْل َي‬
ً َّ َ ُ
‫ض َوا ْغ ِف ْرلنَاذنُ ْوبَن ََاو َخطايَانَا ا َ ْنتَ َربُّ الطيِبِيْنَ اَ ْن ِز ْل َرحْ َمة ِم ْن‬َ ْ
ِ ‫آء فَاجْ عَ ْل َرحْ َمتَكَ فِىاالَ ْر‬ ِ ‫س َم‬َّ ‫فِى ال‬
. ِ‫ِع ْندِكَ َو ِشفَا ًء ِم ْن ِشفَاعِكَ َعلَى هذَ ْال َوجْ عِ فَ َيب َْرأ َ ِب ِاذْ ِن هللا‬
Dari Abi Dardaa’, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. bersabda: Barangsiapa di antara kamu mengadukan
(kepada Allah) tentang sesuatu atau saudaranya yang mengadukan
(kepada Allah) tentang sesuatu (penyakit), maka hendaklah dia
mengucapkan (doa): Ya Tuhan kami, Allah yang berada di langit. Maha
Suci nama-Mu. Perintah-Mu lah yang (berlaku) di langit dan bumi.
Sebagaimana rahmat-Mu di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi.
Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami. Engkaulah Tuhan
seluruh orang-orang yang baik (sehat). Turunkanlah rahmat dan
kesembuhan dari sisi-Mu terhadap penyakit ini. Maka penyakit akan
sembuh dengan izin Allah. (H.R. Abu Dawud).
‫سلَّ َم فَقَا َل‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ‫ى‬ َّ ‫ال ُم اَت َى النَّ ِب‬
ِ ‫س‬َّ ‫س ِع ْي ِد ْال ُخذْ ِري ِ قَا َل ا َ َّن ِجب ِْر ْي َل َعلَ ْي ِه ال‬
َ ‫َع ْن ا َ ِبى‬
َ‫سالَ ُم بِاس ِْم هللاِ ا َ ْرقِيْكَ ِم ْن ُك ِل دَاءٍ يُؤْ ِذيْك‬ َّ ‫ فَقَا َل ِجب ِْر ْي ُل َعلَ ْي ِه ال‬.‫ نَعَ ْم‬:َ‫يَا ُم َح َّمدٌ ا َ ْشتَ َكيْتَ ؟ قَال‬
.)‫َو ِم ْن ش َِر ُك ِل نَ ْف ٍس ا َ ْو َعي ٍْن َحا ِس ٍد اَهللُ َي ْش ِفيْكَ ِباس ِْم هللاِ ا َ ْر ِقيْكَ (رواه مسلم‬
Dari Abi Sa’id Al Khudri, ia berkata: Bahwasanya Jibril ‘Alaihis Salam
datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: ‘Ya
Muhammad! Sakitkah engkau?’ Nabi berkata: ‘Ya.’. Maka Jibril AS.
berkata: ‘Dengan nama Allah, aku mohonkan Ruqyah untukmu dari setiap
penyakit yang menimpamu dan juga dari setiap jiwa maupun mata orang
yang dengki. Allah akan menyembuhkan engkau. Dengan nama Allah, aku
akan melakukan Ruqyah untukmu.’
(H. R. Muslim).

b. Aspek Psikoterapi Ruqyah

Aspek psikoterapi ruqyah yang pertama, adalah dzikir. Secara harfiah

dzikir berarti ingat. Dzikir yang dilandasi dengan kesadaran pikiran penuh

serta kesucian hati mengandung daya atau tegangan yang sangat tinggi,

sehingga mampu “menyetrum” orang yang melakukannya dari lubuk hati

yang paling dalam yang membuat perbuatan-perbuatan lahiriyahnya

bagaikan pemikiran-pemikiran yang orisinal dan brilian (Suyadi, 2008). Ada

banyak bentuk amalan dzikir, salah satunya adalah membaca ayat-ayat suci

Al-Qur’an. Dengan berdzikir hati menjadi tenang sehingga terhindar dari

kecemasan. Al-Qur’an sendiri menerangkan hal ini dalam ayat berikut:

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi
tentram.” (Q.S.Ar Ra’d: 28)
Kedua, Do’a. Dalam Al-Qur’an juga terdapat bacaan yang

mengandung ayat-ayat berupa do’a yang disebut dengan do’a Qur’ani. Do’a

dalam kehidupan seorang muslim menempati posisi psikologis yang

strategis sehingga bisa memberi kekuatan jiwa bagi yang membacanya.


Do’a mengandung kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan rasa

percaya diri dan optimisme yang keduanya merupakan hal yang mendasar

bagi penyembuhan suatu penyakit. Dengan berdo’a, ibadah mempunyai roh

dan kerja atau amal memiliki nilai modal spiritual.

Melakukan psikoterapi ruqyah secara teratur adalah salah satu

manifestasi dari menjalani kehidupan secara religius dan banyak

mengandung aspek psikologis didalamnya. Bahkan bagi seorang muslim, ini

tidak hanya sebagai amal dan ibadah, namun juga menjadi obat dan

penawar bagi seseorang yang gelisah jiwanya dan tidak sehat secara mental.

Dalam Al-Qur’an banyak diutarakan ayat-ayat mengenai obat (syifa’un)

bagi manusia yang disebut dalam Al-Qur’an, diturunkan untuk mengobati

jiwa yang sakit, seperti pada ayat-ayat Al-Qur’an berikut:

“Hai manusia! Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai


obat bagi hati yang sakit, petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.”
(Q. S.Yunus (10): 57)

“….Katakanlah Muhammad,”Bagi segenap orang-orang yang beriman


Al-Qur’an menjadi petunjuk dan juga obat.”
(Q.S. Fushshilat (41): 44).
c. Pelaksanaan Terapi Ruqyah

Dalam pelaksanaannya, ruqyah menempuh prosedur tertentu. Proses

terapi ruqyah, menurut Waliyun Arifuddin (dalam asy-Syahawi, 2001)

ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:

1) Pengenalan Ruqyah syar’iyyah yang meliputi sumber syariatnya, syarat,

dan penanaman nilai-nilai,

2) Kontrak pertemuan terapi, sehingga dapat diatur kapan pelaksaan terapi

secara teratur dapat dilakukan,

3) Pengkondisian tempat dan pasien,

4) Dialog tentang materi keIslaman,

5) Pembacaan ayat-ayat ruqyah.

Jika pasien perlu dibacakan ayat-ayat ruqyah, maka langkah-langkah

yang harus dilakukan adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Majdi

Muhammad asy-Syahawi (2001), yaitu:

1) Tahap persiapan dengan dua langkah,

2) Tahap penyembuhan dengan tujuh langkah,

3) Tahap pasca penyembuhan dengan lima langkah.

Menurut Ali bin Muhammad bin Mahdi al Qarni dan Syekh Abdul

Aziz bin Abdullah bin Baaz (dalam asy-Syahawi, 2001) secara garis besar

menjelaskan proses terapi ruqyah terhadap gangguan jin sebagai berikut:

1) Pada Tahap Persiapan

a) Bagi terapis:

(1) Mempunyai akidah yang bersih dan murni dan direalisasikannya

dalam ucapan dan perbuatan.


(2) Terapis yakin bahwa firman Allah mempunyai pengaruh yang

dahsyat untuk mengusir jin dan setan atas izin Allah SWT.

(3) Mengetahui seluk beluk tentang jin.

(4) Mengetahui pintu-pintu atau peluang masuknya jin.

(5) Mengetahui perbuatan-perbuatan haram yang menyebabkan

masuknya setan.

(6) Biasa berdzikir kepada Allah SWT.

(7) Berniat ikhlas ketika mengobati.

(8) Sebelum mengobati hendaknya terapis dan pasien berwudhu

dahulu.

(9) Memohon bantuan pada Allah SWT dalam mengusir jin.

(10) Menjauhkan tempat pengobatan dari lagu-lagu, musik, gambar-

gambar yang menjurus pada maksiat, situasi yang menjurus

maksiat, anjing di rumah, dan sebagainya.

b) Bagi Pasien.

(1) Pasien dan keluarga diberi pengetahuan dan nasihat-nasihat

tentang aqidah Islam yang benar dan murni sehingga hatinya

terlepas dari ketergantungan selain Allah SWT.

(2) Dijelaskan pada pasien perbedaan pengobatan Ruqyah dengan

pengobatan ahli sihir dan dukun, serta dijelaskan pada pasien

bahwa Al Quran mengandung obat dan rahmat bagi orang yang

beriman.

(3) Jika pasien memakai jimat hendaknya dibuang dan dibakar.


(4) Jika pasien tersebut seorang wanita, hendaknya tertutup auratnya,

disertai seorang mahram, dan orang lain selain mahramnya dilarang

masuk ke tempat pengobatan.

2) Pada tahap pengobatan

Pada tahap ini terapis membaca surat atau ayat-ayat yang dapat mengusir

jin, misalnya Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, ayat Kursi, tiga

ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, dan sebagainya.

3) Pasca Pengobatan.

a) Pasien hendaknya menjaga shalat berjamaah.

b) Pasien senantiasa berdzikir kepada Allah SWT.

c) Pasien beberapa hari atau minggu setelah pengobatan kembali pada

terapis untuk dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an.

d) Pasien selalu membaca basmalah setiap saat dan kesempatan.

e) Pasien aktif mendengarkan bacaan Al-Qur’an atau membacanya

sendiri (Alie, 1999).

Pengaruh terapi ruqyah terhadap perubahan perilaku penderita dapat

digolongkan sebagai psikoterapi Islam. Dalam prakteknya, ruqyah

menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari sini ada asumsi bahwa ayat-ayat

Al-Qur’an memiliki energi yang dapat memberikan efek psikoterapi

terhadap penderita yang mengalami gangguan jiwa maupun kesurupan.

Psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan

penyakit mental atau pada kesulitan penyesuaian diri setiap hari. Dalam

pengertian paling tepat, istilah tersebut hanya mencakup teknik-teknik


tertentu (psikoanalitik, bimbingan direktif, atau non-direktif, psikodrama,

dan lain-lain) yang digunakan oleh para spesialis (Ancok & Suroso, 2008).

Pelaksanaan terapi dan psikoterapi ruqyah pada diri pasien dilakukan

secara pribadi. Setelah para pasien diruqyah maka selanjutnya mu’allij

(sebutan untuk orang yang memberikan terapi ruqyah) memberikan terapi

dan ruqyah secara orang-perorang sesuai dengan keluhan atau penyakit yang

ada pada fisik atau batin pada dirinya.

1) Pemberian Terapi

Terapis (ustadz yang menerapi) memberikan bimbingan, pelajaran dan

pedoman pada individu yang meminta bimbingan (pasien) dalam hal

bagaimana seharusnya seorang pasien dapat mengembangkan potensi

akalnya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan serta dapat

menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan

benar secara mandiri yang berparadigma kepada Al-Qur’an dan As-

Sunnah Rasulullah.

2) Pelaksanaan Konseling dan Psikoterapi Ruqyah pada Diri Pasien Secara

Pribadi

Setelah para pasien diruqyah secara massal maka selanjutnya mu‟alij

(sebutan untuk orang yang memberikan terapi ruqyah) memberikan

konseling dan ruqyah secara orang-perorang sesuai dengan keluhan atau

penyakit yang ada pada fisik atau bathin pada dirinya.

Pemberian Konseling dilakukan oleh konselor (ustadz yang menerapi)

dengan memberikan bimbingan, pelajaran dan pedoman pada individu

yang meminta bimbingan (klien) dalam hal bagaimana seharusnya


seorang klien dapat mengembangkan potensi akalnya, kejiwaannya,

keimanan dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup

dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang

berparadigma kepada Al-Qur‟an dan As-Sunnah Rasulullah

shallallahu’alaihi wa sallam.

3) Psikoterapi Ruqyah Khusus.

Terapis membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an juga berfungsi sebagai

permohonan (doa) agar senantiasa dapat terhindar dan terlindungi dari

suatu akibat hadirnya musibah, bencana atau ujian yang berat, yang mana

hal itu dapat mengganggu keutuhan dan eksistensi kejiwaan (mental).

Karena dalam kehidupan nyata sehari-hari tidak sedikit orang menjadi

stres, depresi dan frustasi bahkan menjadi hilang ingatan dan

kesadarannya karena keimanan dalam dada tidak kokoh, mental sangat

rapuh dan lingkungan jauh dari perlindungan Allah, dan dari orang-orang

yang Shalih.

Setelah terapis membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an juga berfungsi

sebagai permohonan (doa) agar senantiasa dapat terhindar dan terlindungi

dari suatu akibat hadirnya musibah, bencana atau ujian yang berat, maka

terapis juga membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a Rasulullah secara

khusus sesuai dengan penyakit yang diderita pasien untuk memberikan

penyembuhan atau pengobatan terhadap penyakit kejiwaan (mental), bahkan

dapat juga mengobati penyakit fisik, gangguan jin dan serangan sihir sesuai

dengan apa yang diderita dan dirasakan pasien.


2. Konseling Islam

Istilah konseling yang digunakan dalam tulisan ini merupakan alih

bahasa dari istilah dalam bahasa Inggris counseling (ejaan Amerika) atau

counselling (ejaan British), berasal dari bahasa Latin consilium, yang

berarti: nasihat, informasi, dialog, opini atau pertimbangan yang diberikan

oleh seseorang kepada orang lain sehubungan dengan pembuatan keputusan

atau tindakan akan datang. Konseling disebut juga penyuluhan, Tohari

Musnamar (1992) menyebutnya wawanwuruk dan M. D. Dahlan (1987)

menyebutnya wawanmuka.

Kata konseling biasanya terangkai dengan kata bimbingan, yakni

guidance and counseling yang dalam istilah Indonesia menjadi bimbingan

dan penyuluhan, bimbingan dan konseling, bimbingan dan wawanwuruk,

atau bimbingan dan wawan-muka. Dalam konseling terjadi suatu proses

antar pribadi, salah seorang di antaranya dibantu oleh yang lain untuk

meningkatkan pemahaman dan kecakapan dalam upaya menemukan

masalah kehidupannya, dan selanjutnya membantunya untuk membuat

pilihan dan menetapkan keputusan secara tepat untuk menyelesaikan

masalah tersebut.

Pada perkembangan terakhir, dalam konseling terjalin hubungan yang

dilandaskan pada sikap profesional konselor yang dirancang untuk

membantu klien/konseli agar dapat menetapkan pilihan sebagai alternatif

pemecahan masalah yang dihadapinya.Kita harus mampu memahami

psikologi konseling agar kita bisa mengerti dan menjadi acuan dalam

melakukan konseling. Konseling (counseling) biasanya kita kenal dengan


istilah penyuluhan, yang secara awam dimaknakan sebagai pemberian

penerangan, informasi, atau nasihat kepada pihak lain. Konseling sebagai

cabang dari psikologi merupakan praktik pemberian bantuan kepada

individu.

Secara Etimologi Konseling berasal dari bahasa Latin consilium

artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau

“memahami”. Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling

berasal dari sellan yang berarti ”menyerahkan” atau “menyampaikan”.

Menurut Palmer dan McMahon (2000) yang dikutip oleh McLeod (2004),

konseling bukan hanya proses pembelajaran individu akan tetapi juga

merupakan aktivitas sosial yang memiliki makna sosial.

Menurut Adz-Dzaky (2001), konseling Islami adalah aktivitas

konselor memberikan bimbingan, pelajaran, dan pedoman kepada individu

yang meminta bimbingan (klien/konseli) dalam hal bagaimana seharusnya

ia dapat mengembangkan potensi akal pikirannya, kejiwaannya, dan

keimanannya, serta dapat menanggulangi problematika kehidupannya

dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada al-Qur‘an

dan al-Sunnah Rasulullah SAW. Adz-Dzaky lebih menekankan pada upaya

membantu klien/konseli untuk mengembangkan potensinya (akal–jiwa–

iman) agar dapat menyelesaikan masalahnya atas dasar petunjuk al-Qur‘an

dan Hadis. Merujuk pada batasan-batasan tersebut di atas, dapat

dikemukakan bahwa konseling Islami tidak hanya terbatas pada

penyelesaian problem manusia, tetapi juga mengarahkannya untuk mampu

memahami diri sebagai makhluk yang harus dapat menjalin hubungan


secara vertikal, horizontal, dan diagonal. Konseling Islami merupakan

proses yang berorientasi pada ketenteraman hidup dunia-akhirat melalui

pendekatan diri kepada Allah.

Orang sering kali menggunakan jasa konseling ketika berada di titik

transisi, seperti dari anak menjadi orang dewasa, menikah ke perceraian,

keinginan untuk berobat dan lain-lain. Konseling juga merupakan

persetujuan kultural dalam artian cara untuk menumbuhkan kemampuan

beradaptasi dengan institusi sosial. Terapi membutuhkan nilai-nilai dasar

untuk memandu intervensi dokter; nilai menentukan tujuan mereka

mempromosikan dan sarana yang mereka dan klien mereka bekerja menuju

tujuan-tujuan (Bergin, 1980). Agama/spiritualitas merupakan salah satu

kemungkinan sumber nilai. Bahkan, hampir tiga perempat dari sampel

psikolog klinis dan konseling di American Psychological Association

menyatakan bahwa agama/spiritualitas mereka setidaknya cukup

mempengaruhi (Bilgrave & Deluty, 1998).

Dalam literatur bahasa Arab kata konseling dapat diartikan al-Irsyad

atau al-Istisyarah, dan kata bimbingan di sebut at-Taujih (Al-Khuli, 1981).

Dengan demikian counseling di alihbahasakan menjadi at-taujih wal al-

Irsyad atau at-Taujih wa al-Istisyarah Anwar Sutoyo (2009) merumuskan

pengertian Konseling Islami sebagai suatu proses dalam konseling yang

dilakukan mendasarkan pada ajaran Islam, untuk membantu individu yang

mempunyai masalah guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dari

sumber tersebut menekankan bahwa aktivitas konseling Islami itu berkaitan


dengan aktivitas konseling pada umumnya namun dilakukan dengan

mendasarkan pada ajaran Islam.

Anwar Sutoyo (2009) juga menyebutkan bahwa konseling Islami

didefinisikan sebagai proses bantuan yang berbentuk kontak pribadi antara

individu atau sekelompok individu yang mendapat kesulitan dalam suatu

masalah dengan seorang petugas profesional dalam hal pemecahan masalah,

pengenalan diri, penyesuaian diri dan pengarahan diri, untuk mencapai

realisasi diri secara optimal sesuai ajaran Islam. Berdasarkan definisi yang

dikutip dari buku Anwar Sutoyo ini dapat di simpulkan bahwa konseling

berkaitan dengan proses bantuan dari tenaga profesional (konselor) kepada

individu atau sekelompok individu dengan tujuan untuk pemecahan

masalah, pengenalan diri, penyesuaian diri dan pengarahan diri, untuk

mencapai realisasi diri secara optimal sesuai ajaran Islam.

Dari segi proses, konseling merupakan proses berlangsungnya

pertemuan tatap muka (face to face relationship) atau kontak pribadi

(personal contact) antara dua orang atau lebih. Pihak pertama adalah

konselor yang sengaja memberikan bantuan, layanan kepada klien/konseli

secara profesional. Pihak kedua adalah klien/konseli yang menerima

bantuan dan diharapkan dapat menyelesaikan problem pribadinya. Dapat

disimpulkan bahwa konseling adalah upaya bantuan, layanan yang diberikan

konselor secara profesional kepada klien/konseli dalam suatu hubungan

tatap muka atau kontak pribadi, agar klien/konseli dapat membangun

konsep diri (self-concept) dan rasa percaya diri (self-esteem) untuk

dimanfaatkan dalam memperbaiki tingkah laku pada masa mendatang.


Rumusan konseling di atas dijadikan sebagai landasan dalam

menetapkan rumusan konseling Islami, dengan tetap mengutamakan

menangkap maksud Ilahi sebagaimana tertera dalam al-Qur‘an dan Hadis

yang mengandung isyarat ilmiah tentang konseling Islami. Dalam al-Qur‘an

ditemukan kata al-Irsyâd (lihat Q.S. al-‘Ashr/72:2) menjadi satu dengan al-

Hudâ (lihat Q.S. al-Hujurat/18:17). Dalam Ihyâ‘ ‘Ulûm al-Dîn, al-Gazâlî

menyebut pendidik dengan sebutan al-faqîh dan al-mursyîd. Dalam buku

Ta’lîm al-Muta’allim, al-Zarnujî menggunakan kata al-irsyâd dengan

maksud memberi petunjuk pada konteks metode belajar (menghafal) yang

dipaparkannya. Dalam melukiskan betapa kedekatan Rasulullah dengan

para sahabat, ‘Abd al-Ganî ‘Abud (1977) dalam bukunya Fî al-Tarbiyah al-

Islâmiyyah menggunakan pula kata al-istisyarah. Sedangkan Hasan

Muhammad al-Syarqawî (1979) dalam Nahwa ‘Ilm Nafs Islâm,

mempergunakan kata altarbiyah al-salîmah, al-istisyârah al-mustanir, al-

irsyâd al-mustanir, dalam konteks upaya pembinaan kesehatan jiwa.

Berbagai pendapat dikemukakan para ahli dalam merumuskan

pengertian konseling Islami. Pada seminar Bimbingan dan Konseling Islami

yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta

pada tahun 1985 dirumuskan bahwa konseling Islami adalah proses

pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya

sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan

petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat

(Musnamar, 1992). Dalam hal ini, ditekankan bahwa pemberian bantuan

dalam konseling Islami bermaksud agar klien/konseli dapat hidup sesuai


dengan petunjuk Allah demi tercapainya kebahagiaan hidup dunia dan

akhirat. Lebih lanjut, M. D. Dahlan (1987) mengemukakan bahwa konseling

Islami adalah bimbingan kehidupan yang pada intinya tertuju kepada

realisasi do‘a rabbanâ âtinâ fî al-dunyâ hasanah wa fî al-âkhirat hasanah

wa qinâ ‘azâb al-nâr, berisikan rintisan jalan ke arah penyadaran

kepribadian manusia sebagai makhluk Allah, serta dapat menumbuhkan rasa

tenteram dalam hidup karena selalu merasa dekat dengan Allah dan ada

dalam lindungan-Nya.

Dalam pandangan M. D. Dahlan (1987), konseling Islami merupakan

bantuan kepada klien/konseli untuk menyadarkannya sebagai makhluk

Allah yang memerlukan ketenteraman hidup dalam lindungan Allah.

Sedangkan Tohari Musnamar merumuskan dengan wawanwuruk Islami,

yakni suatu layanan yang tidak hanya mengupayakan mental sehat dan

hidup sejahtera, melainkan juga dapat menuntun ke arah hidup sakînah,

batin merasa tenang dan tenteram karena selalu dekat dengan Tuhan. Secara

spesifik Tohari Musnamar (1992) mengistilahkan konseling Islami sebagai

terapi sakinah yang tidak hanya membina kesehatan mental klien/konseli,

tetapi juga membina ketenangan batinnya.

Merujuk pada batasan-batasan tersebut di atas, dapat dikemukakan

bahwa konseling Islami tidak hanya terbatas pada penyelesaian problem

manusia, tetapi juga mengarahkannya untuk mampu memahami diri sebagai

makhluk yang harus dapat menjalin hubungan secara vertikal, horizontal,

dan diagonal. Efek lain adalah lahirnya klien/konseli yang dapat tampil

sebagai individu yang hidup secara sakinah. Konseling Islami merupakan


proses yang berorientasi pada ketenteraman hidup dunia-akhirat melalui

pendekatan diri kepada Allah.

Adz-Dzaky (2001) menjelaskan secara lebih rinci tentang konseling

dalam Islam, yakni suatu aktivitas memberikan bimbingan, pelajaran dan

pedoman kepada individu yang meminta bimbingan (klien) dalam hal

bagaimana seharusnya seorang klien dapat mengembangkan potensi akal

pikirannya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan, serta dapat

menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan

benar secara mandiri yang berparadigma kepada al-Qur’an dan as-Sunnah

Rasulullah SAW. Hal yang membedakan pengertian konseling dengan

konseling Islami sebagaimana pendapat Adz Dzaky di atas bahwa dalam

konseling Islami ada penekanan bahwa seorang klien perlu mengembangkan

keimanan dan keyakinan yang berparadigma kepada al-Qur’an dan as-

Sunnah.

Lebih lanjut Adz-Dzaky (2001), menyatakan bahwa yang dimaksud

teori konseling dalam Islam adalah landasan berpijak yang benar tentang

bagaimana proses konseling itu dapat berlangsung baik dan menghasilkan

perubahan-perubahan positif pada klien mengenai cara dan para digma

berfikir, cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan, cara

meyakinkan dan cara bertingkah laku berdasarkan wahyu (al-Qur’an) dan

paradigma kenabian (as-Sunnah). Inti dari pendapat Adz-Dzaky ini adalah

konseling Islami itu seperti proses konseling pada umumnya namun tetap

berpijak pada ajaran-ajaran Islam.


Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat di uraikan beberapa

penjelasan mengenai konseling Islami sebagai berikut :

a. Konseling Islami adalah sebuah proses, artinya hubungan konseling ini

bukan dalam waktu yang sebentar tetapi memerlukan tahapan-tahapan

yang panjang dan pertemuan yang intensif.

b. Konseling Islami merupakan bantuan, artinya apapun yang dilakukan

oleh konselor harus dalam ranah membantu konseli untuk meringankan

bebannya atau menyelesaikan masalahnya.

c. Konseling Islami dilakukan dengan kontak pribadi, artinya proses

konseling ini harus ada pertemuan face to face antara konselor dengan

konseli.

d. Konseling Islami dapat dilakukan pada Individu atau sekelompok

individu, artinya konseling ini dapat dilakukan secara perorangan

(konseling perorangan) atau secara kelompok (konseling kelompok).

e. Orang yang melakukan konseling Islami adalah petugas profesional

artinya, tidak sembarang orang dapat melakukan konseling, tetapi

konseling hanya dilakukan oleh petugas yang terdidik, terlatih

mempunyai kompetensi yang memadahi dan diakui keprofesionalannya.

f. Tujuan akhir konseling Islami adalah pemecahan masalah, pengenalan

diri, penyesuaian diri dan pengarahan diri, untuk mencapai realisasi diri

secara optimal, artinya setelah proses konseling maka individu atau

sekelompok individu yang dibantu tersebut dapat terpecahkan

masalahnya, lebih mengenali kelebihan dan kekurangannya, mampu

menyesuaikan diri dimanapun berada dan dapat mengarahkan diri pada


pilihan-pilihan yang tepat, yang pada akhirnya dapat mengembangkan

diri secara optimal.

g. Konseling Islami harus dilakukan sesuai ajaran Islam, artinya dalam

melakukan proses konseling maka harus memperhatikan adab-adab yang

berlaku dalam Islam.

Kegiatan konseling Islami atau bimbingan konseling Islami dilakukan

dengan tujuan mengembangkan pribadi yang kaffah, sebagaimana pendapat

Anwar Sutoyo (2009) yang menyatakan bahwa: “Tujuan yang ingin dicapai

melalui konseling Islami adalah agar fitrah yang dikaruniakan Allah kepada

indiidu bisa berkembang dan berfungsi dengan baik, seingga menjadi

pribadi kaffah dan secara bertahap mampu mengaktualisasikan apa yang

diimaninya itu dalam kehidupan sehari-hari, yang tampil dalam bentuk

kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah dalam melaksanakan tugas

kekhalifahan di bumi dan ketaatan dalam beribadah dengan mematuhi

segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.” Dengan kata lain

tujuan konseling model ini adalah meningkatkan iman, Islam dan ihsan

individu yang dibimbing hingga menjadi pribadi yang utuh.

Tujuan konseling Islami yang dikemukakan di atas jelas sekali bahwa

tujuan konseling Islami adalah membentuk pribadi yang kafffah. Ciri dari

pribadi yang kaffah menurut adalah :

a. Imannya benar dan mantap

b. Imannya menyatu dengan tindakannya.

c. Dalam melaksanakan syariat agama tidak memilih-milih yang ringan dan

menguntungkan diri sendiri.


d. Memiliki hubungan yang dekat dengan pencipta-Nya, diri-sendiri,

keluarga, dan lingkungan sekitarnya. (Anwar Sutoyo, 2009)

Lahirnya konseling Islami ini untuk menjawab tantangan-tantangan

yang muncul dari ilmu konseling yang di adaptasi dari dunia bagian barat

seperti Amerika, karena tidak semua teori tentang konseling dari barat

sesuai dengan kultur di Indonesia atau sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Bagaimapun juga pendekatan agama dalam proses konseling perlu

dilakukan karena agama memiliki banyak fungsi sosial dan eksistensial,

sbagaimana pendapat Van Tongeren (2008) yang menyatakan bahwa:

“Religion serves many social and existential functions”. Dari pendapat ini

dapat dijelaskan bahwa agama membantu seseorang dalam bersosialisasi.

Agama juga seringkali berisi seperangkat keyakinan yang dirancang untuk

mengatasi masalah eksistensial seperti masalah keidupan dan kematian.

Sehingga sangat tepat kirannya menggunakan pendekatan agama Islam

dalam konseling Islami.

Anwar Sutoyo (2009) mengemukakan bahwa esensi konseling dengan

pendekatan Islami adalah upaya membantu individu belajar

mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada fitrah. Maka dalam

membantu individu pun dilakukan sesuai dengan cara-cara yang diajarkan

Allah dalam Al Quran surat An- Nahl ayat 125 berikut ini:

   



  
  
    
   
   
 
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk”
(QS: An-Nahl 125)

Bersumber pada ayat di atas maka dalam membantu individu

dilakukan dengan cara-cara :

1. Mengingatkan selalu pada jalan Allah SWT

2. Dilakukan dengan hikmah dan pelajaran yang baik

3. Jika harus membantah klien (konfrontasi) juga dilakukan dengan cara

yang baik.

Fungsi Konseling Agama adalah untuk mendekatkan manusia pada

fitrahnya yang positif dan membantu mereka agar tidak over dosis atau

salah jalan dalam memenuhi dorongan syahwatnya sehingga dorongan itu

tersalur secara benar dan bahkan mendorong manusia mencapai kemajuan

yang positif (Mubarok, 2000). Sedangkan secara teknis, praktek konseling

Agama dapat menggunakan instrumen yang dibuat oleh Bimbingan dan

Konseling Modern, tetapi secara filosofis, konseling agama harus berdiri di

atas prinsip-prinsip ajaran Islam, antara lain:

a. Bahwa nasihat itu merupakan salah satu pilar agama, seperti yang

tersebut dalam hadis; bahwa agama adalah nasehat. Menurut al-

Nawawi, nasehat adalah perkataan yang mengandung makna

komprehensif, yang mendorong kebaikan kepada yang dinasehati.

b. Bahwa konseling kejiwaan adalah merupakan pekerjaan yang mulia,

karena bernilai membantu orang lain mengatasi kesulitan, seperti yang

dimaksud oleh hadis Nabi, yang artinya: “Sebaik-baik pekerjaan di sisi


Allah adalah membuat gembira hati seorang muslim,atau

menghilangkan kesusahan darinya atau membayarkan hutangnya atau

menghilangkan rasa laparnya “(HR Tabrani)

c. Konseling agama harus dilakukan sebagai pekerjaan ibadah yang

dikerjakan semata-mata mengharap ridha Allah.

d. Ulil Amri atau Pemerintah berkewajiban mendukung program-program

konseling misalnya memberi fasilitas atau membuka program

pendidikan konseling agama.

e. Setiap muslim yang memiliki kemampuan bidang konseling memiliki

tanggung jawab moral dalam pengembangan konseling agama.

f. Tujuan praktis konseling agama ialah mendorong klien agar selalu ridha

terhadap hal-hal yang bermanfaat dan alergi terhadap hal-hal yang

mudharat.

g. Konseling agama juga menganut prinsip bagaimana klien dapat

menarik keuntungan dan menolak kerusakan.

h. Meminta bantuan konselor agama hukumnya wajib bagi setiap orang

yang membutuhkan.

i. Memberikan bantuan psikologis/konseling agama hukumnya wajib bagi

konselor yang sudah mencapai derajat spesialis.

j. Proses pemberian konseling harus sejalan dengan tuntunan syariat

Islam.

k. Pada dasarnya manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri

perbuatan baik yang akan dipilih, dan bahkan juga memiliki kebebasan

untuk melakukan perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi.


l. Tidak ada orang yang diberi kebebasan untuk melakukan perbuatan

maksiat atau perbuatan destruktif secara terang-terangan, yang

mengganggu pikiran dan perasaan orang lain, langsung atau tidak

langsung, atau perbuatan yang menjurus pada kekejian yang merusak

masyarakat.

m. Pelaksanaan teknis konseling agama sesuai dengan pemahaman fungsi

konseling agama (baik preventif, kuratif, rehabilitatif, developmental)

akan memperoleh kondisi yang sehat (Mubarok, 2000).

3. Konselor

Konselor adalah orang yang melayani konseling, atau disebut sebagai

penasihat, atau penyuluh. Dalam masyarakat Islam, fungsi sebagai

psikoterapis dan konselor banyak diperankan oleh tokoh agama, ulama atau

kyai. Khusus untuk menangani masalah–masalah psikologis pada umumnya

masyarakat mempercayakan pada ulama atau ustadz, guru tasawuf, kyai

atau imam sebagai pimpinan umat di sebuah daerah (Ali, dkk., 2005).

Masyarakat kerap mengistilahkan konselor sebagai penolong, fasilitator,

pembimbing, guru, dan lain-lain.

Saah satu tugas konselor adalah mengembangkan pendekatan

personalnya sendiri. Smail dan Lomas (1981) berkata bahwa konselor harus

mampu mengasimilasi teori dan teknik dalam praktik konselingnya. Selain

itu kebutuhan konselor terhadap struktur teori saat berhadapan dengan klien

saat situasi yang tidak diharapkan dalam proses konseling muncul akan

sangat membantu konselor dalam penanganan klien secara terpadu dan


terpandu. Klien juga harus dipastikan untuk dapat mengulas teori yang telah

diberikan konselor dan mampu menerangkan penggunaannya pada

kehidupan sehari-hari kepada konselor. Konselor juga baru dapat dikatakan

profesional apabila ada penguasaan atas pengetahuan dan pemahaman yang

disajikan dalam bentuk teori yang baik. Hal ini dapat membantu membentuk

masyarakat menjadi kalangan terpelajar dimana konselor, tutor, akademisi

dan beragam pihak yang mendalami konseling melakukan penulisan buku,

jurnal, karya ilmiah, dan lain-lain melalui jaringan komunikasi dan konsep

dalam praktek kolektifnya (McLeod, 2015).

Berdasarkan tulisan Latipun (2011), dapat kita ketahui bahwa ada 2

aspek konselor, yaitu:

a. Aspek Keahlian dan Keterampilan

b. Aspek Personal Konselor


4. Hubungan Membantu

Konsep konseling yang berakar pada vocational guidance dan

dipelopori oleh Frank Parson di Boston tahun 1908 telah berkembang

sebagai layanan utama bimbingan dalam pendidikan (Blum dan Balinsky,

1985). Berbagai pendekatan, antara lain psychoanalysis, client-centred

counseling, eclectic counseling-approach, dan behavior modification,

merupakan langkah-langkah pengembangan dalam membangun konsep

konseling (Bernard dan Fullmer, 1987). Hansen (1977) mengemukakan:

The vocational guidance movement, whose founding is generally


attributed to Frank Parson, was progenitor of counseling.
Parson‘s primary concern was the development of a means by
which individuals could be matched with appropriate
occupation.

Dalam makna helping relationship, konseling dipandang sebagai suatu

relasi yang terjadi di antara dua pihak, dimana salah satu mempunyai

kehendak untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, kedewasaan,

memperbaiki fungsi dan kemampuan pihak lain untuk menghadapi dan

menangani kehidupannya sendiri.

B. Kerangka Teoretik
C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan penjabaran dan penggambaran teoritis peneliti terkait

penelitian ini, maka ditemukan bahwa pertanyaan peneliti dalam studi ini

adalah:

“Bagaimana Analisa Peruqyah Sebagai Konselor Islam Dalam Psikoterapi

Ruqyah Melalui Perspektif Hubungan Membantu?”


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Metode sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(2013) adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud.

Sementara itu metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (qualitative

research). Permasalahan yang akan dikaji oleh peneliti merupakan masalah

yang bersifat sosial dan dinamis. Oleh karena itu, peneliti memilih

menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menentukan cara mencari,

mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian tersebut

sehingga akan ditemukan pola-pola yang jelas.

Bagman dan Taylor (dalam Soeratno, 1995) mendefinisikan metodologi

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Sedangkan Kirk dan Miller (dalam Soeratno, 1995) mendefinisikan bahwa

penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang

secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam

kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam

bahasannya dan peristilahannya.

Metode penelitian kualitatif sebagaimana yang diungkapkan Bogdan

dan Taylor (dalam Moleong, 2013) sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

orang atau perilaku yang dapat diamati. Selain itu metode penelitian kualitatif
menurut Syaodih Nana (2007) adalah cara untuk mendeskripsikan dan

menganalisa fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi

dan pemikiran orang secara individual ataupun kelompok. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran

seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti.

Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau

kepercayaan orang yang diteliti dan semuanya tidak dapat diukur dengan

angka.

Penelitian ini diajukan untuk menganalisis peruqyah sebagai konselor

Islam dalam psikoterapi ruqyah dilihat dari perspektif hubungan membantu.

Dalam mengumpulkan maupun mengungkap data, maka penelitian ini

dilakukan dengan pendekatan studi fenomenologi. Menurut Moleong (2013)

pendekatan fenomenologi merupakan suatu strategi penelitian yang kritis dan

menggali fenomena yang ada secara sistematis. Pendekatan ini bertujuan

mengembangkan makna pengalaman hidup dari suatu fenomena dalam

mencari kesatuan makna dengan mengidentifikasi inti fenomena dan

menggambarkan secara akurat dan sistematis dalam pengalaman hidup

sehari-hari.

Metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi yang dipakai

dalam penelitian ini, sebagaimana yang diungkapkan Sugiyono (2012) adalah

metode kualitatif untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang

mengandung makna. Metode kualitatif secara signifikan dapat mempengaruhi

substansi penelitian. Artinya bahwa metode kualitatif menyajikan secara

langsung hakikat hubungan antar peneliti dan informan, objek dan subjek
penelitian. Peneliti kualitatif memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang

hendaknya menjadi pedoman oleh peneliti, sebagaimana yang dijabarkan oleh

Bogdan dan Biklen (1982) bahwa karakteristik penelitian kualitatif adalah:

1. Peneliti sendiri sebagai instrumen data mendatangi secara langsung

sumber data.

2. Mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian dengan

cenderung kepada kata-kata daripada angka.

3. Menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan pada proses.

4. Melalui analisis induktif, peneliti mengungkap makna yang terjadi.

5. Mengungkap makna sebagai hal esensial dari pendekatan kualitatif.

Berangkat dari karakteristik tersebut, penelitian kualitatif memposisikan

peneliti sebagai key instrument yang dalam proses penelitian akan bergabung

secara langsung dan aktif mewawancarai, mengumpulkan berbagai materi

atau bahan yang berkaitan dengan aspek terapis dalam psikoterapi ruqyah

untuk dijadikan sebagai sumber belajar.

Guna menemukan hasil penelitian ini, peneliti menempuh beberapa

langkah, yaitu pengumpulan data, pengolahan data atau analisis data,

penyusunan laporan serta penarikan kesimpulan. Proses ini dilakukan guna

mendapatkan hasil penelitian secara objektif. Proses pengumpulan data dalam

penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi

dokumentasi. Observasi dilakukan pada sebelum hingga sesudah pelaksanaan

terapi ruqyah serta dalam keseharian terapis. Wawancara dilakukan kepada

klien, terapis dan dokter untuk kemudian bersama dokumentasi dianalisis

secara mendalam dan objektif.


B. Fokus Penelitian

Penelitian ini diajukan untuk mengkaji dan menganalisis peruqyah

sebagai konselor Islam dalam psikoterapi ruqyah ditinjau dari perspektif

hubungan membantu bersudut pandang keilmuan psikologi konseling

berdasarkan rujukan kajian dalam buku “Psikologi Konseling” yang ditulis

oleh Latipun.

C. Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Data Primer, adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang

diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh

subjek yang dapat dipercaya, yakni subjek penelitan atau informan yang

berkenaan dengan variabel yang diteliti atau data yang diperoleh dari

responden secara langsung (Arikunto, 2010).

Sumber data primer dalam penelitian ini merupakan data yang

diperoleh dari informan yaitu orang yang berpengaruh dalam proses

perolehan data atau bisa disebut key member yang memegang kunci

sumber data penelitian ini, karena informan benar-benar tahu dan terlibat

dalam kegiatan yang ada di lokasi penelitian. Adapun yang menjadi

informan dalam penelitian ini terapis ruqyah (praktisi). Penetapan

informan ini dilakukan dengan mengambil orang yang telah terpilih betul

oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh sampel atau

memilih sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hal tersebut


dinamakan teknik purposive sampling yaitu sampel yang dipilih dengan

cermat hingga relevan dengan desain penelitian. Purposive sampling

adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,

2009). Selanjutnya menurut Arikunto (2010) pemilihan sampel secara

purposive pada penelitian ini akan berpedoman pada syarat-syarat yang

harus dipenuhi sebagai berikut:

a. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau

karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.

b. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek

yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi

(key subjectic).

c. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam

studi pendahuluan (Nasution, 1996).

2. Sumber Data Sekunder

Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari teknik pengumpulan

data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini diperoleh dari hasil

observasi yang dilakukan oleh peneliti serta dari studi pustaka. Dapat

dikatakan data sekunder ini bisa berasal dari dokumen-dokumen grafis

seperti tabel, catatan, SMS, foto dan lain-lain (Arikunto, 2010).


D. Subjek dan Setting Penelitian

1. Subjek Penelitian

Ciri-ciri umum manusia sebagai instrumen mencakup gambaran

berikut, antara lain (Moleong, 2013):

a. Responsif

b. Dapat menyesuaikan diri

c. Menekankan keutuhan

d. Mendasarkan diri atas perluasan pengetahuan

e. Memproses data secepatnya

f. Memanfaatkan kesempatan untuk mengklarifikasikan dan

mengikhtisarkan

g. Memanfaatkan kesempatan untuk mencari respon yang tidak lazim

dan idiosinkretik

Subjek pada penelitian ini adalah praktisi Ruqyah syar’iyyah.

2. Setting Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah praktisi ruqyah yang berada

dalam setting wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta dan

terkategori representatif, melakukan dan meyakini serta dianggap

mengetahui dan memahami penggunaan terapi ruqyah sebagai terapi

psikologi berbasis Al-Qur’an (Qur’anic Healing Psychotherapy).


E. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Burhan Bungin (2003), menjelaskan metode pengumpulan data

adalah dengan cara apa dan bagaimana data yang diperlukan dapat

dikumpulkan sehingga hasil akhir penelitian mampu menyajikan informasi

yang valid dan reliable. Sementara Suharsimi Arikunto (2002) berpendapat

bahwa metode penelitian adalah berbagai cara yang digunakan peneliti dalam

mengumpulkan data penelitiannya. Metode pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Metode Observasi

Observasi langsung adalah cara pengumpulan data dengan cara

melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik. Observasi harus

dilakukan secara teliti dan sistematis untuk mendapatkan hasil yang bisa

diandalkan, dan peneliti harus mempunyai latar belakang atau

pengetahuan yang lebih luas tentang objek penelitian mempunyai dasar

teori dan sikap objektif (Soeratno, 1995).

Observasi langsung dan alami yang dilakukan oleh peneliti bisa

direalisasikan dengan cara mencatat berupa informasi yang berhubungan

dengan subjek penelitian. Juga mengamati bagaimana proses ruqyah

yang dilaksanakan oleh terapis. Melalui observasi secara langsung,

peneliti dapat memahami konteks data dalam berbagai situasi,

maksudnya dapat memperoleh pandangan secara menyeluruh. Untuk itu

peneliti dapat melakukan pengamatan secara langsung dalam

mendapatkan bukti yang terkait dengan objek penelitian.


2. Metode Wawancara

Anas Sudijono (1996) menyebutkan kelebihan pengumpulan data

melalui wawancara, yaitu pewawancara melakukan kontak langsung

dengan peserta yang akan dinilai, data diperoleh secara mendalam, yang

diinterview bisa mengungkapkan isi hatinya secara lebih luas, pertanyaan

yang tidak jelas bisa diulang dan diarahkan menjadi lebih bermakna.

Sebagai teknik wawancara dalam penelitian ini dipilih teknik in-

depth interview dan bertujuan untuk mengumpulkan informasi kompleks,

yang sebagian besar berisi pendapat, sikap, dan pengalaman pribadi

(Sulistyo & Basuki, 2006). Jadi, wawancara adalah cara menghimpun

bahan keterangan yang dilakukan dengan tanya jawab secara lisan secara

sepihak berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah

ditetapkan.

3. Metode Dokumentasi

Suharsimi Arikunto (2002) menyatakan bahwa dokumentasi adalah

mencari data berupa catatan, transkrip, buku, koran, majalah, prasasti,

notulen rapat, agenda dan sebagainya. Sedangkan Hadari Nawawi (2005)

menyatakan bahwa studi dokumentasi ialah cara pengumpulan data lewat

peninggalan tertulis seperti arsip, termasuk buku mengenai pendapat, dalil

yang berhubungan dengan masalah. Dalam penelitian ini, dokumentasi

diperoleh dari buku panduan ruqyah yang digunakan terapis, sertifikasi

terapis, dokumentasi kegiatan dan terapi serta beragam jenis dokumen

lainnya.
F. Teknik Analisis dan Interpretasi Data

Tahap menganalisa data adalah tahap yang paling penting dan

menentukan dalam suatu penelitian. Data yang diperoleh selanjutnya

dianalisa dengan tujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk yang

lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Selain itu data diterjunkan dan

dimanfaatkan agar dapat dipakai untuk menjawab masalah yang diajukan

dalam penelitian.

Analisis data kualitatif menurut Bognan & Biklen (1982)

sebagaimana dikutip Moleong (2013), adalah upaya yang dilakukan

dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-

milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari

dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang

dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa langkah awal dari

analisis data adalah mengumpulkan data yang ada, menyusun secara

sistematis, kemudian mempresentasikan hasil penelitiannya ke orang lain.

McDrury (1999 ) membagi tahapan analisis data kualitatif menjadi:

2. Membaca atau mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan

gagasan yang ada dalam data,

3. Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang

berasal dari data.

4. Menuliskan ‘model’ yang ditemukan.

5. Pengkodean yang telah dilakukan.


Penelitian ini adalah penelitian fenomenologi yang lebih banyak

bersifat uraian dari hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

Data yang telah diperoleh akan dianalisis secara kualitatif serta diuraikan

dalam bentuk naratif. Menurut Patton (dalam Moleong, 2013), analisis

data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam

suatu pola, kategori dan uraian dasar.

Teknik analisis data yang dikemukakan oleh Burhan Bungin

(2003), yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data (Data Collection)

Pengumpulan data merupakan bagian integral dari kegiatan analisis

data. Kegiatan pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan wawancara dan studi dokumentasi.

2. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian

pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari

catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak

pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode,

menelusur tema, membuat gugus-gugus, menulis memo dan sebagainya

dengan maksud menyisihkan data/informasi yang tidak relevan.

3. Tampilan Data (Data Display)

Display data adalah pendeskripsian kumpulan informasi tersusun yang

memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif.

Penyajiannya juga dapat berbentuk matrik, diagram, tabel dan bagan.


4. Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan

Merupakan kegiatan akhir dari analisis data. Penarikan kesimpulan

berupa kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah

disajikan. Antara display data dan penarikan kesimpulan terdapat

aktivitas analisis data yang ada. Dalam pengertian ini analisis data

kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang dan terus-menerus.

Masalah reduksi data, penyajian data dan penarikan

kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan

sebagai rangkaian kegiatan analisis yang terkait. Selanjutnya data yang

telah dianalisis, dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kata-kata untuk

mendiskripsikan fakta yang ada di lapangan, pemaknaan atau untuk

menjawab pertanyaan penelitian yang kemudian diambil intisarinya

saja.

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap tahap dalam proses

tersebut dilakukan untuk mendapatkan keabsahan data dengan menelaah

seluruh data yang ada dari berbagai sumber yang telah didapat dari lapangan

dan dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya melalui

metode wawancara yang didukung dengan studi dokumentasi.


G. Keabsahan Data Penelitian

Penilaian kualitas suatu hasil penelitian, baik kuantitatif maupun

kualitatif memerlukan pembahasan tentang validitas atau keabsahan data dan

reliabilitas. Validitas atau keabsahan data adalah ukuran yang menunjukkan

kevalidan atau kesahihan suatu instrumen penelitian. Penilaian validitas dan

reliabilitas dalam penelitian kuantitatif telah memiliki standar baku yang

mengacu pada pengujian isi dan kegunaan alat ukur yang dipakai untuk

memperoleh data temuannya, sedangkan penelitian kualitatif belum memiliki

standar baku untuk menilai kedua aspek tersebut, sehingga pada prakteknya

keilmiahan temuan-temuan dalam penelitian kualitatif sering kali diragukan

oleh pembacanya. Namun, menurut Moleong (2013) ada empat kriteria yang

dapat digunakan untuk menilai keabsahan data pada suatu penelitian

kualitatif, yaitu:

1. Credibility

Credibility atau derajat kepercayaan merupakan kriteria untuk

memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan.

Setiap penelitian harus memiliki kredibilitas sehingga dapat

dipertanggungjawabkan. Kredibilitas penelitian kualitatif adalah

keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah yang majemuk

atau keterpercayaan terhadap hasil data penelitian. Artinya, hasil

penelitian harus dapat dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan

dari responden sebagai pemberi informasi. Suatu hasil penelitian

kualitatif dikatakan memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi apabila

temuan tersebut mampu mencapai tujuannya mengeksplorasi masalah


atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi

yang majemuk/kompleks. Guba dan Lincoln (1989) menambahkan

bahwa tingkat kredibilitas yang tinggi juga dapat dicapai jika para

partisipan yang terlibat dalam penelitian tersebut mengenali benar

tentang berbagai hal yang telah diceritakannya. Hal ini merupakan

kriteria utama untuk menilai tingkat kredibilitas data yang dihasilkan dari

suatu penelitian kualitatif.

Upaya untuk menjaga kredibiltas dalam penelitian adalah melalui

langkah-langkah sebagai berikut (Sugiyono, 2009; Moleong, 2013):

a. Perpanjangan pengamatan

Peneliti kembali lagi ke lapangan untuk melakukan pengamatan

demi mengetahui kebenaran data yang telah diperoleh atau untuk

menemukan data-data baru.

b. Meningkatkan ketekunan

Ketekunan pengamatan, yakni serangkaian kegiatan yang dibuat

secara terstruktur dan dilakukan secara serius dan berkesinambungan

terhadap segala realistis yang ada di lokasi penelitian dan untuk

menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur di dalam situasi yang sangat

relevan dengan persoalan atau peristiwa yang sedang dicari

kemudian difokuskan secara terperinci dengan melakukan ketekunan

pengamatan mendalam. Maka dalam hal ini peneliti diharapkan

mampu menguraikan secara rinci berkesinambungan terhadap proses

bagaimana penemuan secara rinci tersebut dapat dilakukan.


c. Triangulasi

Pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan

waktu yang berupa teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data yang terkumpul untuk

keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data-data

tersebut. Hal ini dapat berupa penggunaan sumber, metode penyidik

dan teori. Dari berbagai teknik tersebut cenderung menggunakan

sumber, sebagaimana disarankan oleh Patton (dalam Moleong, 2013)

yang berarti membandingkan dan mengecek kembali derajat

kepercayaan suatu data yang diperoleh melalui waktu dan alat yang

berbeda dalam metode kualitatif. Untuk itu keabsahan data dengan

cara sebagai berikut :

1) Membandingkan hasil wawancara dan pengamatan dengan data

hasil Wawancara.

2) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

3) Membandingkan apa yang dikatakan orang secara umum dengan

apa yang dikatakan secara pribadi.

Yang ingin diketahui dari perbandingan ini adalah mengetahui

alasan-alasan yang melatarbelakangi adanya perbedaan tersebut

bukan titik temu atau kesamaannya sehingga dapat sehingga dapat

dimengerti dan dapat mendukung validitas data.


d. Analisis kasus negatif

Peneliti mencari data yang berbeda atau yang bertentangan dengan

temuan data sebelumnya. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau

bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah

dapat dipercaya.

e. Menggunakan bahan referensi

Bahan referensi yang dimaksud adalah adanya pendukung untuk

membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.

f. Mengadakan member check

Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada pemberi data. Apabila data yang ditemukan

disepakati oleh para pemberi data berarti data tersebut sudah valid,

sehingga semakin kredibel atau dipercaya, tetapi apabila data yang

ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati

oleh pemberi data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan

pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus

merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang

diberikan oleh pemberi data.

g. Diskusi teman sejawat

Diskusi teman sejawat yakni diskusi yang dilakukan dengan rekan

yang mampu memberikan masukan ataupun sanggahan sehingga

memberikan kemantapan terhadap hasil penelitian. Teknik ini

digunakan agar peneliti dapat mempertahankan sikap terbuka dan

kejujuran serta memberikan kesempatan awal yang baik untuk


memulai menjejaki dan mendiskusikan hasil penelitian dengan

teman sejawat. Oleh karena pemeriksaan sejawat melalui diskusi ini

bersifat informal dilakukan dengan cara memperhatikan wawancara

melalui rekan sejawat, dengan maksud agar dapat memperoleh

kritikan yang tajam untuk membangun dan penyempurnaan pada

kajian penelitian yang sedang dilaksanakan.

Selain itu penelitian kualitatif harus mengungkap kebenaran yang

objektif. Karena itu keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif

sangat penting. Melalui keabsahan data kredibilitas (kepercayaan)

penelitian kualitatif dapat tercapai. Dalam penelitian ini untuk

mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Adapun

triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan

pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2013).

2. Transferability

Transferability atau keteralihan merupakan kriteria yang

menunjukkan derajat ketepatan dari suatu hasil penelitian, maksudnya

kriteria ini digunakan untuk menilai sejauh mana temuan suatu penelitian

yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada

kelompok lain pada situasi yang sama. Kriteria ini penting untuk

menjamin keabsahan riset kualitatif.

Pada penelitian ini untuk mencapai kriteria keteralihan, peneliti

mendeskripsikan seluruh rangkaian penelitian secara lengkap, terperinci,

dan sistematis, sehingga konteks penelitian dapat tergambar jelas dan


sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peneliti. Uraian yang rinci

mengenai temuan-temuan yang diperoleh akan sangat membantu peneliti

lain ketika ingin mempergunakan data hasil penelitian ini sebagai dasar

untuk melakukan penelitian lanjutan terkait dengan data atau hasil

penelitian yang telah dilakukan.

3. Dependability

Dependability atau kebergantungan adalah suatu kriteria untuk

menilai sejauh mana temuan penelitian kualitatif memperlihatkan

konsistensi hasil temuan ketika dilakukan oleh peneliti yang berbeda

dengan waktu yang berbeda, tetapi dilakukan dengan metodologi dan

interview script yang sama. Dependability bermakna sebagai reliabilitas

dengan melakukan replikasi studi, melakukan auditing (pemeriksaan)

dengan melibatkan penelaahan data dan literatur yang mendukung secara

menyeluruh dan detail oleh seorang penelaah eksternal. Brink (1991)

menyatakan ada tiga jenis uji/tes yang dapat dilakukan untuk menilai

reliabilitas/dependabilitas data penelitian kualitatif yaitu stabilitas,

konsistensi, dan ekuivalensi. Stabilitas dapat dinilai/diuji ketika

menanyakan berbagai pertanyaan yang identik dari seorang partisipan

pada waktu yang berbeda menghasilkan jawaban yang konsisten/sama.

Selanjutnya, konsistensi dapat dinilai jika interview script atau daftar

kuesioner yang digunakan peneliti untuk mewawancarai partisipannya

dapat menghasilkan suatu jawaban partisipan yang terintegrasi dan sesuai

dengan pertanyaan/topik yang diberikan. Terakhir, ekuivalensi dapat

diuji dengan penggunaan bentuk-bentuk pertanyaan alternatif yang


memiliki kesamaan arti dalam satu wawancara tunggal dapat

menghasilkan data yang sama atau dengan menilai kesepakatan hasil

observasi dari dua orang peneliti.

Pada penelitian ini pemenuhan kriteria dependabilitas dilakukan

dengan cara mengumpulkan data yang lengkap dan mengorganisasi data

dengan sebaik mungkin. Selain itu dilakukan penelaahan data secara

menyeluruh bersama-sama dengan dosen pembimbing skripsi. Dalam hal

ini seluruh transkrip hasil wawancara dan kisi-kisi tema yang telah

disusun peneliti diserahkan kepada dosen pembimbing skripsi untuk

mendapatkan masukan dan perbaikan.

4. Confirmability

Confirmability atau kepastian dalam penelitian kualitatif lebih

diartikan sebagai konsep intersubjektivitas atau konsep transparansi,

yaitu kesediaan peneliti mengungkapkan secara terbuka tentang proses

dan elemen-elemen penelitiannya sehingga memungkinkan pihak

lain/peneliti lain melakukan penilaian tentang hasil-hasil temuannya.

Streubert dan Carpenter (2003) menjelaskan bahwa konfirmabilitas

merupakan suatu proses kriteria pemeriksaan, yaitu cara/langkah peneliti

melakukan konfirmasi hasil-hasil temuannya. Pada umumnya, cara yang

banyak dilakukan peneliti kualitatif untuk melakukan konfirmasi hasil

temuan penelitiannya adalah dengan merefleksikan hasil-hasil temuannya

pada jurnal terkait, peer review, konsultasi dengan peneliti ahli, atau

melakukan konfirmasi data/informasi dengan cara mempresentasikan


hasil penelitiannya pada suatu konferensi untuk memperoleh berbagai

masukan untuk kesempurnaan hasil temuannya.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa jurnal terkait

untuk mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan. Selain itu,

peneliti juga melibatkan pembimbing skripsi sebagai pakar yang ahli

dibidangnya dan telah memberikan pandangan, pendapat dari hasil

penelitian. Hal terakhir yang peneliti lakukan adalah melakukan seminar

hasil dimana peneliti menyampaikan hasil penelitian kepada penguji dan

pembimbing.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kancah dan Persiapan Penelitian

1. Analisis Kancah

Lokasi penelitian terletak pada dua provinsi, yaitu Daerah Istimewa

Yogyakarta dan DKI Jakarta. Adapun lokasi penelitian di Yogyakarta terdiri

atas dua lokasi, yaitu Bekam-Ruqyah Center “dr. Muslimah” Jalan Godean,

dan Asrama Kalimantan Barat, Kota Yogyakarta. Sedangkan lokasi

penelitian di Jakarta meliputi Rumah Ruqyah Indonesia (RRI) dan Asosiasi

Ruqyah Syar’iyyah Indonesia (ARSYI). Hampir keseluruhan lokasi

penelitian adalah klinik bekam-ruqyah di lingkungan pinggir kota.

Dari lokasi di kedua provinsi tersebut, terdapat kriteria pemilihan

subjek penelitian. Subjek yang masuk kategori di dalam penelitian ini

adalah pria atau wanita, usia tidak terbatas, merupakan seorang terapis

ruqyah aktif dan memiliki klien, minimal praktek tiga tahun, bukan

penyandang disabilitas, memiliki kompetensi dan kapabilitas sebagai terapis

ruqyah dan tahu serta paham mengenai terapi ruqyah.

a. Yogyakarta

1) Bekam-Ruqyah Center “dr. Muslimah”

“Tempat bagi muslimah merawat diri dengan cara dan bahan yang halal dan aman.”
(Tagline)

Bekam-Ruqyah Center “dr. Muslimah” yang berdiri pada bulan

Februari 2013 ini adalah milik DF. Selain sebagai pusat pengobatan

Thibbun Nabawi, lokasi ini juga merupakan klinik praktek dokter


sekaligus Dokter Muslimah Beauty Center. Beralamatkan di

Sumberan No. 297 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY klinik sekaligus

Bekam-Ruqyah Center 2 lantai ini berada di sebuah kampung dengan

bangunan dan tanah bertipe 130/180. Didominasi dengan warna hijau

dan putih, terdiri atas 5 ruangan yang masing-masing masih disekat

maupun berbatas dengan ruang lain, klinik ini tetap terlihat teratur

karena pengaturan posisi ruangan yang memiliki jendela besar, atap

tinggi dan berpendingin ruangan yang membuat nyaman. Terdapat

beragam sertifikat dan piagam penghargaan tergantung di dinding

UGD yang juga sekaligus menjadi ruang farmasi baik obat kimia

maupun herbal serta tempat alat dan ruang bekam berada. Pelayanan

dilaksanakan selama 24 jam dengan pembagian kategori layanan

sebagai berikut:

1. Praktek Umum
2. Bekam, Ruqyah dan Thibbun Nabawi Center
3. Konsultasi Herbal
4. Akupuntur
5. Kecantikan (Skin Care)
6. Body Slimming
7. Operasi kecil (khitan, dll.)
8. Konsultasi KB.

b. DKI Jakarta

1) Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia (ARSYI)

Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia atau dikenal dengan

ARSYI, adalah sebuah asosiasi atau perkumpulan para peruqyah

syar’iyyah. Syar’iyyah artinya sudah dibedakan antara yang

syirkiyyah, dan Indonesia ini menunjukkan wilayah Indonesia.

Asosiasi ini berdiri pada tahun 2013 dan sudah membuka cabang,
wilayah-wilayah di antaranya di DKI, kemudian Sulawesi Selatan,

Kalimantan Timur, Jambi, Riau. Anggota ARSYI sendiri yang sudah

terdaftar berjumlah sekitar 250 orang peruqyah. Saat ini lokasi kantor

ARSYI berada di Jalan Raya Bogor (Jalan Kelurahan Lama) Km. 6,5,

Cililitan, Jakarta Timur, DKI Jakarta berintegrasi dengan Rumah

Ruqyah Indonesia. Berikut adalah visi, misi, dan struktur

kepengurusan ARSYI pusat:

A. Visi:
Dakwah Tauhid untuk Menyelamatkan Umat dari Praktik
Kesyirikan melalui Ruqyah Syar’iyyah.

B. Misi:
1. Menghimpun para praktisi ruqyah syar’iyyah dalam satu
wadah bernama Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia
2. Memperbaiki dan meningkatkan kompetensi anggota Asosiasi
Ruqyah Syar’iyyah Indonesia melalui symposium, seminar,
pelatihan, workshop dan penelitian
3. Mengenalkan ruqyah syar’iyyah sebagai solusi terhadap
gangguan makhluk ghaib lewat penerbitan media cetak atau
online
4. Memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan
terapi gangguan makhluk ghaib sesuai syariat secara mudah,
murah dan efektif
5. Bekerjasama dengan pihak lain untuk mempersiapkan
pembentukan Lembaga Pendidikan Thibun Nabawi dan Herbal
Islami
Struktur Pengurus Pusat Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia Periode
2013 – 2017

DEWAN PENASEHAT DEWAN PENGAWAS


KH. Muhammad Arifin Ilham Farid Okbah, MA
Dr. Hidayat Nur Wahid, MA Ahmad Mudhaffar, MA
Dr. Muinu Dinillah, MA Akhmad Sadzali, Lc

PENGURUS HARIAN
Ketua Umum : Fadhlan Hasyim, Lc
Wakil Ketua : Achmad Junaedi, Lc. M.Hi
Sekretaris Umum : Hasan Bishri, Lc
Sekretaris : Imam Royani
Bendahara Umum : H. Aris Fathoni, S.Pd.I

BADAN OTONOM
Lembaga Sertifikasi dan Profesi
Ketua : Akhmad Sadzali, Lc
Anggota : Suparman, Lc
: Beni Amri, Lc
: Ir. Sunawan

BIDANG - BIDANG
Publikasi dan Hubungan Masyarakat
Ketua : Ardi Erlangga
Anggota : Yusuf Adda’i
: Muhammad Suswan Hadi
Advokasi dan Bantuan Hukum
Ketua : Rahmat Kartolo
Anggota : Tulus Abadi
: Cyntia
Organisasi dan Pengembangan Wilayah
Ketua : Bambang Sutrisno
Anggota : Asep Wahyudin
: Munib Danuri
2) Rumah Ruqyah Indonesia

Rumah Ruqyah Indonesia merupakan lembaga dakwah

Islamiyah yang bergerak dan mengkhususkan diri pada pemurnian

tauhid melalui pelayanan Ruqyah syar’iyyah dan kajian keIslaman.

Rumah Ruqyah Indonesia terletak di Jalan Kelurahan Lama (Jalan

Raya Bogor) Km. 5,6, Cililitan, Jakarta Timur.

Pada mulanya Rumah Ruqyah Indonesia hadir dengan

menggunakan nama Ghoib Ruqyah. Dengan diterbitkannya Majalah

Ghoib, pada saat itu banyak mencerahkan masyarakat akan

pengetahuan terkait dunia ghaib secara syariat Islam. Kini dengan

nama baru dan pengukuhan di yayasan, kian mengukuhkan Rumah

Ruqyah Indonesia untuk berdakwah tauhid di Indonesia.

Visi dan Misi


1. Memberikan pemahaman yang benar mengenai fenomena
keghoiban sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
2. Memberikan pemahaman yang benar tentang ruqyah syar’iyyah.
3. Memberikan penyadaran tentang bahaya kolaborasi manusia
dengan jin dan syetan.
4. Memberikan pemahaman tentang kehidupan yang lebih baik
dengan syariat Islam
5. Mengenalkan pengobatan Islami dan alami seperti ruqyah
syar’iyyah, bekam atau al hijamah dan herbal.
Rumah Ruqyah Indonesia berdiri sejak tahun 2003 dengan lokasi

menetap yang merupakan klinik bekam-ruqyah milik UJ. Rumah

Ruqyah Indonesia terdiri atas 2 lantai, dimana lantai pertama memiliki

2 ruang ruqyah VIP dan 1 ruang ruqyah VVIP, 1 ruang bekam, 1

toilet, 1 mushola, resepsionis sekaligus kasir, 1 apotek herbal, 1 ruang

tunggu sekaligus perpustakaan, dan 1 ruang transit. Pada lantai 2 dapat

kita temukan 1 ruangan cukup luas yang menjadi mushola sekaligus


ruang terapi ruqyah reguler atau massal, selain itu ada 1 ruang wudhu,

serta 1 kamar mandi. Mushola dibatasi oleh hijab berupa kain putih

tebal sepanjang setengah luas ruangan dengan tujuan sebagai pemisah

ruang pria dan wanita. Dapat ditemukan alat sholat berupa sarung dan

seperangkat mukena serta 4 buah Al-Qur’an. Selain itu ada kantung

plastik (kresek) kecil berwarna hitam dan 2 kotak tisu. Lantai mushola

berupa keramik warna cream dan dilapisi oleh karpet sajadah

berukuran cukup besar dan tebal berwarna merah.

2. Persiapan Penelitian

Penelitian ini bermula dari minat peneliti dalam bidang kajian

psikologi klinis Islam. Melalui sebuah pelatihan Ruqyah Syar’iyyah dan

Ruqyah Massal di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta peneliti merasa

terfasilitasi dengan hausnya ilmu tentang dunia medis klinis berbasis Islam.

Banyaknya tayangan-tayangan dan banyak buku Islam serta penelitian

kontemporer yang mulai memperhatikan sistem pengobatan Islam sebagai

salah satu aspek komplementer penyembuhan dan pencegah penyakit klinis

maupun non-klinis membuat Ruqyah memiliki pesan dan makna khusus

bagi peneliti untuk digali.

Pada awalnya peneliti ingin melakukan penelitian mengenai

Saintifikasi Ruqyah melalui Ilmu Psikologi Kontemporer, namun berkat

dukungan banyak pihak dan pertimbangan atas sumber daya waktu yang

cukup singkat dan relatif sempit bagi peneliti untuk menyelesaikan riset dan

studi, maka ranah penelitian kemudian dipersempit menjadi Aspek Terapis


dalam Psikoterapi Ruqyah. Beragam sumber pustaka hingga pelatihan

mengenai Ruqyah syar’iyyah peneliti ikuti, bahkan hingga ke luar provinsi

(D. I. Yogyakarta dan DKI Jakarta).

Saat memutuskan meneliti Aspek Terapis dalam Psikoterapi Ruqyah,

peneliti belum memiliki gambaran lokasi, subjek hingga cara mengontak

subjek sama sekali. Berbekal kegiatan organisasi dan sumber daya internet,

maka ditemukanlah banyak praktisi ruqyah dan dokter yang menjalankan

praktek ruqyah baik dalam bentuk resmi atau formal serta dapat ditemui

secara langsung. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, peneliti

mencoba menghubungi dan menyambangi praktisi-praktisi ruqyah terpilih

yang peneliti tetapkan kriterianya untuk membuat janji bertemu dan

menyatakan kesediaan praktisi tersebut untuk diwawancarai.

Peneliti menyusun guide wawancara, guide observasi, kamera nikon

coolpix untuk pendokumentasian, serta video recorder untuk merekam

pembicaraan subjek dan peneliti. Selain itu, untuk berkomunikasi dengan

subjek terkait appointment, peneliti menggunakan aplikasi WhatsApp,

Facebook, dan teknologi SMS serta telepon. Alat komunikasi dan

penyimpanan data peneliti adalah sebuah handphone android merek SONY

Xperia tipe PM-0510-BV dengan kapasitas memori internal 512 MB dan

memori eksternal 2 GB serta dilengkapi 2 buah flashdisk merek Toshiba dan

Kingston dengan kapasitas masing-masing sebesar 8 GB serta laptop Acer

Aspire seri 4732Z.

Untuk menuju ke lokasi-lokasi penelitian, peneliti menggunakan moda

transportasi darat berupa kereta api kelas ekonomi, ojek berbasis online
melalui aplikasi GO-JEK android dan kendaraan bermotor berupa sepeda

motor merek Honda Revo 110 cc, serta diarahkan dengan teknologi Global

Positioning System (GPS) berbasis satelit dari GOOGLE Corp. melalui

http://www.googlemaps.com/ sebagai peta virtual menuju lokasi penelitian.

Selain itu untuk melakukan penelitian tentu ada persyaratan

administratif yang harus peneliti lakukan dan jalani, yaitu proses dimana

peneliti mengurus surat permohonan izin preeliminary research dan

kelengkapan Surat Izin Penelitian untuk instansi dan Kesbangpol DIY di

kantor tata usaha Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga

yang ditujukan pada 4 orang subjek dan 2 buah instansi yang terletak di

Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta. Selain itu setelah mencapai

lokasi, tentu peneliti harus menunjukkan surat-surat tersebut lengkap dengan

proposal sebagai bentuk permohonan penelitian.

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian

Peneliti meneliti pertama kali di kota Yogyakarta dalam rangka

melakukan preeliminary research sebagai pendukung data pada latar

belakang penelitian sekaligus penentuan subjek penelitian dalam

penyusunan proposal skripsi. Dalam prosesnya, subjek awal yang dipilih

peneliti adalah dokter dan terapis ruqyah, namun berdasarkan hasil

konsultasi pertama dan wawancara pertama peneliti dengan subjek DF pada

tanggal 7 Februari 2017 dengan supervisor penelitian, maka ditambahkan

psikolog sebagai subjek.


Setelah revisi pertama dan pengambilan data preeliminary research

kedua, ditemukan bahwa tema penelitian peneliti terlalu luas dan

membutuhkan sumberdaya waktu, biaya dan tenaga yang cukup banyak.

Oleh karena itu, maka penelitian peneliti dipersempit cakupannya sehingga

ditemukanlah tema dengan judul “Aspek Terapis dalam Psikoterapi

Ruqyah” yang pada akhirnya ditentukan pula subjeknya cukup terapis-

terapis ruqyah murni dan bergerak dalam kategori Ruqyah syar’iyyah saja.

Berdasarkan data inilah kemudian peneliti melakukan wawancara kedua

dengan subjek B pada tanggal 9 Maret 2017 di Daerah Istimewa

Yogyakarta.

Setelah proposal diseminarkan pada tanggal 15 Maret 2017 dengan

beberapa perbaikan dan penyesuaian kembali, maka peneliti melanjutkan

pengambilan data penelitian berupa wawancara, observasi dan dokumentasi

di DKI Jakarta pada tanggal 20 Maret 2017 kepada subjek alloanamnesa, Y.

Wawancara kemudian dilanjutkan kembali di lokasi yang sama pada subjek

UA dan UJ pada tanggal 22 Maret 2017. Selepas itu peneliti kembali ke

Daerah Istimewa Yogyakarta dan melakukan wawancara pada UF pada

tanggal 18 Mei 2017. Tepat pada tanggal 31 Mei 2017 peneliti kembali ke

DKI Jakarta untuk meminta tandatangan dan cap instansi pada informed

consent yang terlupa kepada subjek UA, UJ, dan Y. Pada sesi ini peneliti

mendapatkan informasi tambahan dari subjek alloanamnesa D dan UAn.

Setelah kembali menjalani serangkaian proses bimbingan skripsi, pada

tanggal 15 Juni 2017 terjadi perubahan judul kembali menjadi “Profil


Terapis Dalam Psikoterapi Ruqyah ” dengan pengubahan seperlunya pada

beberapa bagian penelitian.

Proses selanjutnya adalah pengurusan Surat Izin Penelitian Individual

di Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Daerah Istimewa

Yogyakarta yang terletak di Jalan Jendral Sudirman, timur Tugu Jogja.

Syarat administratif yang peneliti bawa adalah fotokopi Kartu Tanda

Mahasiswa (KTM), fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), 2 eksemplar

proposal penelitian yang telah dilegalisir dan harus dijilid, surat keterangan

keaslian penelitian dilengkapi materai Rp. 6.000,-, dilengkapi dengan

formulir aplikasi izin penelitian yang telah diisi. Proses pembuatan surat izin

penelitian individual tersebut bersifat gratis atau tidak berbayar dan hanya

memakan waktu 15 menit dalam pembuatannya, lalu file difotokopi 5

rangkap dan dikembalikan ke bagian pelayanan untuk diberi cap/stampel

instansi.
4.1. Tabel Pengumpulan Data Penelitian

Tanggal &
No. Metode Pengumpulan Data Sasaran/Subjek
Waktu
- Observasi naturalistik;
Selasa, non-partisipatif
1. 07 Februari 2017 - Wawancara Semi - DF
11.24–13.32 WIB Terstruktur
- Dokumentasi
- Observasi naturalistik; non
Kamis, partisipatif
2. 09 Maret 2017 - Wawancara Tidak -B
10.45-12.36 WIB Terstruktur
- Dokumentasi
- Observasi naturalistik; non
Senin, partisipatif
3. 20 Maret 2017 - Wawancara Tidak -Y
13.28-13.44 WIB Terstruktur
- Dokumentasi
- Observasi naturalistik;
Rabu, partisipatif
4. 22 Maret 2017 - Wawancara Semi - UA
10.49-10.50 WIB Terstruktur
- Dokumentasi
- Observasi naturalistik;
Rabu, partisipatif
5. 22 Maret 2017 - Wawancara Semi - UJ
10.52-12.05 WIB Terstruktur
- Dokumentasi
- Observasi Naturalistik, - UA -
Nonpartisipatif - UJ -
Rabu,
- Informed Consent -Y - -
6. 31 Mei 2017
1,25 WIB -D
- UAn
C. Hasil Penelitian
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran

C. Penutup
DAFTAR PUSTAKA