Anda di halaman 1dari 18

makalah Pencairan Gas Alam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 ​Latar Belakang


LNG merupakan singkatan dari ​Liquefied Natural Gas​ atau bisa diartikan sebagai gas
alam yang dicairkan. Prinsip utama pencairan ini adalah menurunkan suhu gas dari 22 °C
menjadi -160 °C dengan proses pendinginan dan expansi pada temperatur rendah sekali yang
disebut ​cryogenic temperatur ​yaitu 160 °C pada tekanan di bawah 1 atm.
Tujuan dari pencairan adalah untuk mempertinggi efesiensi pengangkutan dan
penyimpanan (​Loading & Storage​), karena volume gas sebelum dan sesudah dicairkan adalah
620:1 artinya kita akan mendapatkan 1 cuft LNG jika kita mencairkan gas alam sebanyak 620
cuft. Pada masa-masa lalu pemakaian gas alam sebagai sumber energi masih belum mendapat
perhatian karena kesulitan dalam pengangkutan dan penyimpanan.
LNG merupakan alternatif energi yang mempunyai prospek cukup baik dewasa ini,
karena hasil pembakarannya memiliki tingkat polusi yang rendah, efisiensi pembakarannya
cukup tinggi sehingga mudah dikontrol.
Bagi masyarakat Indonesia, LNG merupakan sumber daya alam yang potensial.
Semula sumber daya alam ini berbentuk endapan gas bumi sangat luas yang terpendam
didalam perut bumi. Kemudian gas bumi tersebut diproses menjadi bahan bakar cair. Tanpa
LNG, gas bumi yang berjumlah ratusan triliyun kaki kubik akan tetap terperangkap di dalam
perut bumi.
Gas alam selain mengandung gas-gas hidrokarbon juga mengandung senyawa yang
dapat mengkontaminasi seperti gas CO​2 dan H​2​S, N​2 serta uap air dengan kadar CO​2 sebesar
19,2 % volume dan uap air yang relatif besar dibandingkan H​2​S sebesar 10 ppm dan N​2 yang
bernilai ​trace.
Pada umumnya gas yang diperoleh dari lapangan atau dari perut bumi, masih
mengandung gas-gas atau materi lain yang tidak diinginkan tersebut, ini disebut impurities
atau zat pengotor. Gas CO​2​ dan H​2​S tergolong impurities yang sangat merugikan.
Seiring dengan menipisnya cadangan gas alam dari sumber ladang gas, maka kadar
CO​2 dan H​2​S akan semakin tinggi. Oleh karena itu harus dilakukan upaya untuk
meminimalisasikan kandungan gas-gas tersebut dengan meningkatkan efisiensi proses
penyerapan gas tersebut dengan menggunakan larutan benfield.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gas Alam


Gas Alam atau yang sering disebut dengan gas bumi adalah bahan atau materi yang
terdiri dari fosil-fosil dan terbentuk dalam wujud gas. Gas alam dapat ditemukan di ladang
minyak, ladang gas bumi dan juga tambang batu bara yang diambil dengan cara pengeboran
(drilling)​. ​Komponen (utama ) dalam gas alam yaitu metana 80-95%, etana 5-15%, propana
dan butana <5%.
Gas alam juga merupakan campuran hidrokarbon ringan yang terbentuk secara alami
yang bercampur dengan beberapa senyawa non-hidrokarbon. Gas alam tak terasosiasi
dihasilkan dari cadangan yang tidak mengandung minyak (sumur kering). Di sisi lain, gas
alam terasosiasi bersinggungan dengan dan/atau terlarut dalam minyak bumi serta merupakan
produk yang dihasilkan bersama minyak. Komponen prinsip dari kebanyakan gas alam
adalah metana. Hidrokarbon parafinik berberat molekul lebih tinggi (C2-C7) biasanya ada
dalam jumlah kecil dalam campuran gas alam, dan kadarnya sangat bervariasi tergantung
pada lapangan gas asalnya. Gas alam tak-terasosiasi normalnya mengandung kadar metana
lebih tinggi daripada gas alam terasosiasi. Gas alam terasosiasi mengandung hidrokarbon
lebih berat dengan kadar lebih tinggi.
Zat non-hidrokarbon dalam gas alam bervariasi dari satu lapangan gas ke
lapangan lainnya. Beberapa senyawa ini merupakan asam lemah, seperti hidrogen
sulfida dan karbon dioksida. Yang lain merupakan bahan inert, seperti nitrogen,
helium dan argon. Beberapa cadangan gas alam berisi cukup banyak helium untuk
diproduksi komersial.
Hidrokarbon berberat molekul lebih tinggi dalam gas alam merupakan bahan bakar
dan juga bahan baku kimia yang penting dan biasanya dihasilkan dalam bentuk cairan gas
alam. Sebagai contoh, etana mungkin dipisahkan untuk dipakai sebagai bahan baku
perengkahan kukus untuk memroduksi etilena. Propana dan butana diambil dari gas alam dan
dijual sebagai gas petroleum dicairkan (LPG). Sebelum gas alam digunakan ia harus diproses
atau diolah untuk
Memisahkan zat pengotor dan mengambil hidrokarbon lebih berat (lebih berat dari
metana).

2.2 Proses Pengolahan Gas Alam


Gas alam mentah mengandung sejumlah karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan uap
air yang bervariasi. Adanya hidrogen sulfida dalam gas alam untuk konsumsi rumah tangga
tidak bisa ditoleransi karena sifat racunnya. Zat ini juga menyebabkan karat pada peralatan
logam. Karbon dioksida tidak diinginkan,
karena zat ini akan mengurangi nilai panas gas dan akan memadat pada tekanan tinggi dan
temperatur rendah yang dipakai pada pengangkutan gas alam. Untuk mendapatkan gas manis
atau gas alam kering, maka gas-gas asam harus diambil dan uap air dikurangi. Sebagai
tambahan, gas alam dengan sejumlah berarti hidrokarbon berat harus diolah untuk
mendapatkan cairan-cairan gas alamnya.
2.2.1​ ​Proses Pengolahan Gas Alam Cair
Pencairan gas alam menjadi LNG/LPG bertujuan untuk memudahkan dalam
penyimpanan dan transportasi. Gas alam yang diolah di kilang LNG/LPG.
Proses awal yaitu Process Train adalah unit pengolahan gas alam hingga menjadi
LNG serta produk-produk lainnya (pencairan fraksi berat dari gas alam). Dalam pengolahan
gas alam di process train dilakukan proses pemurnian, pemisahan H2O dan Hg, serta
pendinginan dan penurunan tekanan secara bertahap hingga hasil akhir proses berupa LNG.
Terdiri beberapa tahapan yaitu:
Plant 1 - Gas Purification ( proses treating (pembersihan) )
Proses di Plant 1 adalah pemurnian gas dengan pemisahan kandungan CO​2​ (Karbon
Dioksida) dari gas alam. Kandungan CO​2​ tersebut harus dipisahkan agar tidak mengganggu
proses selanjutnya. Pemisahan CO​2​ dilakukan dengan proses absorbsi larutan Mono Ethanol
Amine (MEA), yang sekarang diganti dengan Methyl De Ethanol Amine (MDEA) produksi
Ucarsol. Proses ini dapat mengurangi CO​2​ sampai di bawah 50 ppm dari aliran gas alam.
Batas maksimum kandungan CO​2​ pada proses selanjutnya adalah 50 ppm.
Plant 2 - Gas Dehydration And Mercury Removal (penghilangan air)
Selain CO​2​, gas alam juga mengandung uap air (H​2​O) dan Mercury (Hg) yang akan
menghambat proses pencairan pada suhu rendah. Pada Plant 2, kandungan H​2​O dan Hg
dipisahkan dari gas alam. Kandungan H​2​O pada gas alam tersebut akan menjadi padat dan
akan menghambat pada proses pendinginan gas alam selanjutnya karena dapat menyumbat
pipa dan alat lainnya saat mengalami pembekuan, serta untuk mengurangi masalah karat dan
mencegah terbentuknya hidrat. Hidrat adalah senyawa padat berwarna putih yang terbentuk
dari reaksi kimia-fisik antara hidrokarbon dan air pada tekanan tinggi dan temperatur rendah
yang digunakan untuk mengangkut gas alam melalui jalur pipa. Hidrat mengurangi efisiensi
jalur pipa. Untuk mencegah pembentukan hidrat, gas alam bisa diolah dengan glikol, yang
melarutkan air secara efisien. Etilena glikol (EG), dietilena glikol (DEG), dan trietilena glikol
(TEG) merupakan contoh pelarut untuk pengambilan air. Trietilena glikol (TEG) lebih baik
jika dipakai pada proses fasa-uap karena tekanan uapnya yang rendah, yang mengakibatkan
sedikit saja kehilangan glikol. Absorber TEG normalnya berisi 6 hingga 12 nampan (​tray​)
bubble-cap untuk melakukan proses absorpsi air.
Cara lain untuk menghilangkan hidrat gas alam adalah dengan menyuntikkan metanol
ke dalam jalur gas untuk menurunkan temperatur pembentukan hidrat hingga di bawah
temperatur atmosfer. Air juga bisa dikurangi atau diambil dari gas alam dengan memakai
adsorben padat seperti saringan molekular atau gel silika.
Pemisahan kandungan H​2​O (Gas Dehydration) dilakukan dengan cara absorbsi
menggunakan molecullar sieve hingga kandungan H​2​O maksimum 0,5 ppm. Kandungan
mercury (Hg) pada gas alam tersebut jika terkena peralatan yang terbuat dari aluminium akan
terbentuk amalgam. Sedangkan tube pada Main Heat Exchanger 5E-1 yang merupakan alat
pendingin dan pencairan utama untuk memproduksi LNG adalah terbuat dari aluminium.
Pemisahan kandungan Hg (Mercury Removal) dilakukan dengan cara absorbsi menggunakan
adsorben. Bed Mercury Removal yang berisi Sulfur Impregnated Activated Charcoal dimana
merkuri akan bereaksi membentuk senyawa HgS, hingga kandungan Hg maksimum 0,1 ppm.
Plant 3 - Fractination
Sebelum gas alam didinginkan dan dicairkan pada Main Heat Exchanger 5E-1 pada
suhu yang sangat rendah hingga menjadi LNG, proses pemisahan (fractination) gas alam dari
fraksi-fraksi berat (C2, C3, ..., dst) perlu dilakukan. Proses fraksinasi tersebut dilakukan di
Plant 3. Pemisahan gas alam dari fraksi beratnya dilakukan pada Scrub Column 3C-1. Setelah
dipisahkan dari fraksi beratnya, gas alam didinginkan terlebih dahulu hingga temperatur
sekitar -50°C dan selanjutnya diproses di Plant 5 untuk didinginkan lebih lanjut dan
dicairkan. Sedangkan fraksi beratnya dipisahkan lagi sesuai dengan titik didihnya dengan
beberapa alat (Deethanizer, Deprophanizer dan Debuthanizer) untuk mendapatkan prophane,
buthane dan condensate.
Plant 4 - Refrigeration (proses pencairan)
Selain penurunan tekanan, proses pencairan gas alam dilakukan dengan menggunakan
sistem pendingin bertingkat. Bahan pendingin yang digunakan: Propane dan Multi
Component Refrigerant (MCR). MCR adalah campuran Nitrogen, Methane, Ethane,
Prophane dan Buthane yang digunakan untuk pendinginan akhir dalam proses pembuatan
LNG. Plant 4 menyediakan pendingin Prophane dan MCR. Baik prophane maupun MCR
sebagai pendingin diperoleh dari hasil sampingan pengolahan LNG.
Siklus Pendingin Prophane
Cairan prophane akan berubah fase menjadi gas prophane setelah temperaturnya naik
karena dipakai mendinginkan gas alam maupun MCR. Sesuai dengan kebutuhan pendinginan
bertingkat pada proses pengolahan LNG, kondisi cairan prophane yang dipakai pendinginan
ada 3 tingkat untuk MCR dan 3 tingkat untuk gas alam. Gas prophane setelah dipakai untuk
pendinginan dikompresikan oleh Prophane Recycle Compresor 4K-1 untuk menaikkan
tekanannya, kemudian didinginkan oleh air laut, dan selanjutnya dicairkan dengan cara
penurunan tekanan. Demikian siklus pendingin propane diperoleh.
Siklus Pendingin MCR
Cairan MCR berubah fase menjadi gas MCR dengan kenaikan temperatur karena dipakai
pendinginan gas alam pada Main Heat Exchanger 5E-1. Gas MCR tersebut dikompresikan
secara seri oleh MCR First Stage Compresor 4K-2 dan MCR Second Stage Compressor 4K-3
untuk menaikkan tekanannya. Pendinginan dengan air laut dilakukan pada interstage 4K-2
dan 4K-3 serta pada discharge 4K-3.
Plant 5 - Liquefaction
Pada Plant 5 dilakukan pendinginan dan pencairan gas alam setelah gas alam mengalami
pemurnian dari CO2, pengeringan dari kandungan H2O, pemisahan Hg serta pemisahan dari
fraksi beratnya dan pendinginan bertahap oleh prophane. Gas alam menjadi cair setelah
keluar dari Main Heat Exchanger 5E-1 dan peralatan lainnya selanjutnya ditransfer ke storage
tank.
Diagram Alur dari Sebuah Proses Pengolahan Gas Alam
Aliran blok diagram di atas adalah konfigurasi umum untuk pengolahan gas alam
mentah dari ​non-associated gas well​ dan bagaimana gas alam mentah diolah menjadi gas jual
kepada ​end user​ atau pasar. Hasil pengolahan gas alam mentah dapat berupa :
1. Gas alam kondensat
2. Sulfur
3. Etana
4. Gas alam cair (NGL): propana, butana dan C5 + (istilah yang umum digunakan untuk
pentana ditambah dengan molekul hidrokarbon yang lebih tinggi)
Proses yang dijelaskan pada diagram di atas:
1. Gas alam mentah berasal dari beberapa sumur yang berdekatan, dikumpulkan dan
proses pengolahan pertama yang terjadi adalah proses menghilangkan kandungan air dan gas
alam kondensat. Hasil kondensasi biasanya dialirkan kilang minyak dan air dibuang sebagai
waste water.
2.​ Gas alam mentah kemudian dialirkan ke pabrik pengolahan di mana pemurnian
awal biasanya menghilangkan kandungan asam (H2S dan CO2). Proses yang dipakai pada
umumnya adalah ​Amine Treating​ yang biasa disebut ​Amine Plant.
3. Proses berikutnya adalah untuk menghilangkan uap air dengan menggunakan
proses penyerapan dalam trietilen glikol cair (TEG).
4. Proses berikutnya adalah untuk mengubah menjadi fase gas alam cair (NGL) yang
merupakan proses paling kompleks dan menggunakan pabrik pengolahan gas modern.
2.2.2 Pengolahan Gas Asam
Gas-gas asam dapat dikurangi atau diambil dengan satu atau beberapa cara
berikut:
1. Absorpsi fisik dengan memakai pelarut absorpsi sel ektif.
Proses komersial penting yang digunakan adalah proses Selexol, Sulfinol, dan
Rectisol. Pada proses-proses ini, tidak ada reaksi kimia yang terjadi antara gas
asam dan pelarutnya. Pelarutnya, atau absorben, adalah cairan yang selektif menyerap
gas-gas asam tetapi membiarkan hidrokarbonnya. Sebagai contoh, pada
proses Selexol, pelarutnya adalah dimetil eter dari polietilena glikol. Gas alam mentah
dilewatkan berlawanan arah melalui pelarut yang mengalir ke bawah. Ketika pelarut menjadi
jenuh dengan gas-gas asam, tekanannya diturunkan, sehingga hidrogen sulfida dan karbon
dioksida dilepaskan kembali. Pelarutnya kemudian didaur ulang ke menara absorpsi.

Gambar memperlihatkan proses Selexol


Proses Selexol untuk pengambilan gas asam: (1) absorber, (2) drum
flash, (3) kompresor, (4) drum tekanan-rendah, (5) stripper, (6) pendingin.

2. Adsorpsi fisik dengan memakai adsorben padat.


Pada proses ini, suatu padatan digunakan dengan luas permukaan besar.
Saringan molekular (zeolita) banyak dipakai karena bisa menyerap sejumlah besar
gas. Biasanya, lebih dari satu unggun adsorpsi dipakai untuk operasi sinambung. Satu unggun
digunakan sedangkan yang lainnya diregenerasi. Regenerasi dilakukan dengan melewatkan
bahan bakar panas melewati unggun.
Saringan molekular hanya bisa bersaing jika jumlah hidrogen sulfida dan karbon
disulfidanya rendah. Saringan molekular juga bisa menyerap air, bukan hanya gas asam.
3. Absorpsi kimia ​(Chemisorption)​ ​dengan memakai pelarut (suatu bahan kimia) yang bisa
bereaksi reversibel dengan gas-gas asam.
Proses ini dikenal akan kemampuannya yang tinggi dalam menyerap sejumlah besar
gas-gas asam. Proses ini memakai larutan basa yang relatif lemah, seperti monoetanolamina.
Gas asam akan membentuk ikatan lemah dengan basa ini yang kemudian bisa mudah
diregenerasi. Mono- dan dietanolamina sering digunakan pada proses ini. Konsentrasi amina
biasanya pada rentang 15 dan 30%. Gas alam dilewatkan melalui larutan amina sehingga
membentuk sulfida, karbonat, dan bikarbonat. Dietanolamina adalah pelarut yang lebih
disukai karena laju karatnya rendah, kemungkinan hilangnya amina lebih kecil, memerlukan
utilitas lebih sedikit, dan memerlukan dietanolamina tambahan yang minimal.4
Dietanolamina juga bereaksi reversibel dengan 75% karbonil sulfida (COS), sedangkan
mono- bereaksi irreversibel dengan 95% COS serta membentuk produk penguraian yang
mesti dibuang. Diglikolamina (DGA), adalah pelarut amina lain yang digunakan dalam
proses Econamina (Gbr. 1-2).4 Absorpsi gas-gas asam terjadi dalam absorber yang berisi
larutan DGA ​aqueous​, dan larutan panas yang kaya (jenuh dengan gas asam) dipompakan ke
regenerator. Larutan diglikolamina memiliki titik beku yang rendah, sehingga cocok untuk
digunakan di daerah beriklim dingin. Larutan basa kuat merupakan pelarut gas-gas asam
yang efektif. Namun, larutan ini biasanya tidak dipakai untuk pengolahan gas alam volume
besar karena gas-gas asam ini membentuk garam stabil, yang tidak gampang diregenerasi.
Sebagai contoh, karbon dioksida dan hidrogen sulfida bereaksi dengan larutan natrium
hidroksida aqueous menghasilkan natrium karbonat dan natrium sulfida.
Namun, larutan basa kuat bisa digunakan untuk mengambil merkaptan dari
aliran gas dan cairan. Sebagai contoh, pada Proses Merox, pelarut kaustik yang mengandung
katalis seperti kobalt, yang dapat merubah merkaptan menjadi disulfida yang tak terlarut
dalam kaustik, dipakai untuk aliran yang kaya merkaptan setelah pengambilan H2S. Udara
dipakai untuk mengoksidasi merkaptan menjadi disulfida. Larutan kaustik kemudian
didaur-ulang untuk regenerasi.

2.3 Produk Gas Alam


1. LNG (​Liquefied Natural Gas​)
LNG atau gas alam adalah gas hasil ekstraksi yang telah dipisahkan dari kandungan
metananya, komponen utamanya yaitu metana (CH​4​).

2. LPG (​Liquefied Petrolium Gas​)


LPG (​Liquefied Petrolium Gas​) atau gas minyak bumi yang dicairkan adalah
campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam, komponen utamanya
yaitu propana (C​3​H​8​) dan butana (C​4​H​10​).

3. Dan lain sebagainya seperti: CNG, HSD, MFO, IFO


CNG (​Compressed Natural Gas​) atau gas alam terkompresi adalah alternatif bahan
bakar selain bensin atau solar, komponen utamanya yaitu metana (CH​4​).

2.4 Peyimpanan dan Transportasi Gas Alam


Pada dasarnya sistem transportasi gas alam meliputi:
1. Transportasi melalui pipa salur.
2. Transportasi dalam bentuk LNG (​Liquefied Natural Gas​) dengan kapal tanker LNG untuk
pengangkutan jarak jauh.
3. Transportasi dalam bentuk CNG (​Compressed Natural Gas​), di daratan dengan road tanker
sedangkan di laut dengan kapal tanker CNG, untuk pengangkutan jarak dekat dan menengah
(antar pulau).

2.5 Pemanfaatan Gas Alam


2.5.1 Sebagai bahan bakar, antara lain:
1. Bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Gas atauUap (PLTU).
2. Bahan bakar industri ringan, menengah dan berat.
3. Bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV).
4. Sebagai kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran dan sebagainya.
2.5.2 Sebagai bahan baku, antara lain;
1. bahan baku pabrik pupuk petrokimia dan metanol.
2. bahan baku plastik (LDPE, LLDPE, HDPE, PE, PVC)
3. industri besi tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan
2.5.3 Sebagai komoditas energi untuk ekspor, yakni ​Liquefied Natural Gas​ (LNG).

2.6 Jenis Sumur Gas Alam


Gas alam mentah terutama berasal dari salah satu dari tiga jenis sumur:
1. Sumur minyak mentah;
2. Sumur gas;
3. Sumur kondensat.
Gas alam yang keluar dari sumur minyak mentah biasanya disebut associated gas. Gas
ini ada sebagai gas di atas minyak mentah yang terbentuk didalam tanah, atau bisa saja larut
dalam minyak mentah. Gas alam yang keluar dari sumur gas dan sumur kondensat, di mana
ada sedikit atau bahkan tidak ada kandungan minyak mentah disebut ​non-associated gas​.
Sumur gas biasanya hanya memproduksi gas alam mentah, sedangkan sumur kondensat
menghasilkan gas alam mentah bersama dengan hidrokarbon berat molekul rendah. Gas ini
pada fase cair pada kondisi ambien contoh pentana disebut sebagai gas alam kondensat
(kadang-kadang juga disebut bensin alami atau hanya kondensat). Gas alam bisa disebut
sweet gas​ ketika relatif bebas dari hidrogen sulfida, namun gas yang mengandung hidrogen
sulfida disebut ​sour gas​.
Gas alam mentah juga dapat berasal dari cadangan metana dalam pori-pori lapisan
batubara, dan terutama teradsorpsi ke permukaan batubara itu sendiri. Gas tersebut disebut
sebagai ​coalbed gas​ atau ​coalbed methane​. ​Coalbed gas​ telah menjadi sumber energi
penting di akhir akhir ini.

2.7 Kontaminan dalam Gas Alam Mentah


Gas alam mentah utamanya terdiri dari metana (CH​4​), molekul hidrokarbon terpendek
dan paling ringan juga sejumlah:
1. Gas hidrokarbon yang lebih berat: etana (C​2​H​6​), propana (C​3​H​8​), butana normal
(n-C​4​H​10​), isobutana (i-C​4​H​10​), pentana dan bahkan hidrokarbon dengan berat molekul yang
lebih tinggi. Ketika diproses dan dimurnikan menjadi produk jadi, semua ini secara kolektif
disebut sebagai NGL (Cairan Gas Alam).
2. Gas asam: karbon dioksida (CO​2​), hidrogen sulfida (H​2​S), methanethiol (CH​3​SH)
dan ethanethiol (C​2​H​5​SH).
3. Gas lain: nitrogen (N​2​) dan helium (He).
4. Uap air. Juga sebagai larutan garam dan gas terlarut (asam). Gas alam mentah
harus dimurnikan untuk memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh perusahaan pipa
transmisi utama dan distribusi . Standar kualitas bervariasi dari pipa ke pipa dan biasanya
tergantung dari desain sistem pipa dan pangsa pasar yang dilayaninya.

2.8 Sifat-Sifat Gas Alam


Gas alam yang diolah terutama mengandung metana; sifat keduanya (gas alam dan
metana) hampir serupa. Namun, gas alam bukanlah metana murni, dan sifatnya terpengaruh
oleh adanya zat pengotor, seperti N​2 ​dan CO​2​ dan sejumlah kecil hidrokarbon lebih berat yang
tak terpisahkan. Salah satu sifat penting gas alam adalah nilai panasnya. Jumlah nitrogen atau
karbon dioksida yang relatif lebih tinggi akan menurunkan nilai panas gas tersebut. Metana
murni memiliki nilai panas 1.671 kJ/m​3​. Nilai ini turun menjadi hampir 1.490 kJ/m​3 ​jika gas
mengandung sekitar 10% N​2​ dan CO​2​. (Nilai panas nitrogen atau karbon dioksida adalah nol.)
Pada sisi lain, nilai panas gas alam bisa melebihi metana karena adanya hidrokarbon berberat
molekul lebih tinggi, yang memiliki nilai panas lebih tinggi. Sebagai contoh, nilai panas etana
adalah 2.981 kJ/m​3​, bandingkan dengan 1.671 kJ/m​3​ untuk metana. Nilai panas hidrokarbon
yang biasanya terkandung dalam gas alam ditunjukkan pada Tabel 1-4.
Gas alam biasa dijual sesuai dengan nilai panasnya. Nilai panas satu produk gas
merupakan fungsi dari zat yang ada dalam campuran tersebut. Pada perdagangan gas alam,
nilai panas satu juta BTU (1,055 juta kJ) hampir sama dengan 1.000 ft​3​ (28,3 m​3​) gas alam.

Teknologi dan Peralatan Gas Alam Cair (LNG)


Teknologi dan peralatan proses pencairan Air Products sudah terbukti dan digunakan oleh
sebagian besar kapasitas LNG baseload di dunia. Tidak ada perusahaan lain yang lebih
berpengalaman. Kami turut merintis industri LNG dan telah mendesain sistem pencairan dan
memasok penukar panas cryogenic utama untuk pabrik di seluruh dunia selama 40 tahun
lebih.

Informasi Kontak

● PT. Air Products Indonesia

Nama Produk Deskripsi/Manfaat Unduhan

● Data Sheet
● en-lng-air-pro
ducts-experie
Penawaran pencairan yang kompetitif dalam nce-leadershi
LNG Ukuran Sedang rentang 0,25 - 2,0 juta ton per tahun di pabrik p-in-midsize-
berukuran sedang. plants
● Article
● Ad
● Video
Penawaran pencairan yang kompetitif dalam rentang 0,25 - 2,0 juta ton per tahun di pabrik
berukuran sedang.

Penukar Panas Cryogenic Penukar panas MCR adalah inti dari pabrik ● Data Sheet
MCR gas alam cair (LNG). Penukar panas
● Article
cryogenic utama MCR® kami dan proses
pencairan gas alam telah menjadi standar
dunia karena keandalan, efisiensi yang tinggi,
dan fleksibilitas operasionalnya.
Penukar panas MCR adalah inti dari pabrik gas alam cair (LNG). Penukar panas cryogenic
utama MCR® kami dan proses pencairan gas alam telah menjadi standar dunia karena
keandalan, efisiensi yang tinggi, dan fleksibilitas operasionalnya.

Teknologi LNG kini disesuaikan untuk ● Data Sheet


Proses dan Teknologi ● Article
digunakan pada aplikasi LNG Terapung lepas
FLNG ● Article
pantai.
● White Paper
Teknologi LNG kini disesuaikan untuk digunakan pada aplikasi LNG Terapung lepas pantai.
Teknologi pencairan gas alam yang ● Data Sheet
Proses dan Teknologi
terkemuka di dunia untuk pabrik LNG skala ● Article
Pencairan
kecil, sedang, dan besar. ● Video
Teknologi pencairan gas alam yang terkemuka di dunia untuk pabrik LNG skala kecil,
sedang, dan besar.

Dari perencanaan pabrik pencairan tahap awal


hingga desain yang mendetail, jasa konsultasi ● White Paper
untuk konstruksi di lapangan, penerapan kerja ● en-lng-air-pro
Jasa Keteknikan/Layanan ducts-lng-spe
di pabrik, start-up, pelatihan operator,
Lapangan cialists-servic
mengatasi bottleneck, pemecahan masalah,
dan pemeliharaan penukar panas cryogenic es-and-suppor
utama. t

Dari perencanaan pabrik pencairan tahap awal hingga desain yang mendetail, jasa konsultasi
untuk konstruksi di lapangan, penerapan kerja di pabrik, start-up, pelatihan operator,
mengatasi bottleneck, pemecahan masalah, dan pemeliharaan penukar panas cryogenic
utama.
Layanan Gas Industri APEX (Air Products
Express)​ menyediakan pasokan gas nitrogen
yang cepat dan fleksibel untuk mendinginkan
Layanan Nitrogen untuk
terminal LNG sebelum pengiriman LNG dan
Pendinginan Terminal
untuk modifikasi BTU, sehingga gas alam ● Case Study
LNG dan Modifikasi
dapat memenuhi spesifikasi penyaluran.
BTU
Hubungi 1-800-APEXGAS (AS), + 52 5
3293300 (Meksiko), +44 (0) 1256 706240
(Eropa) atau +65 6332 2440 (Singapura).

Tujuan Dari Pencairan Gas


Gas alam (LNG) yang sudah dicairkan pada suhu -160°C akan mengalami penyusutan
volume sebesar kurang lebih 1/600 kali dari volume gas mula-mula serta untuk LPG akan
mengalami penyusutan antara 230-260 kali dari volume semula. Proses pencairan ini
merupakan ketentuan khusus agar mempermudah proses handling, terutama saat gas alam
tersebut akan disimpan maupun di distribusikan agar tidak memakan tempat, misalnya saja
saat akan diexport dengan tanker dan disimpan dalam tangki. Setelah gas tersebut akan
digunakan oleh konsumen, maka bentuknya akan diubah kembali di ruang bakar mesin atau
dapur industri.

Proses Pencairan Gas Alam

​ NG ​(Liquid Natural Gas) merupakan gas alam (90% lebih terdiri dari metana) yang
L
dicairkan dengan cara menurunkan temperatur pada suhu yang sangat rendah, yaitu sekitar
-156​0​C. LNG sangat penting dalam dunia industri, salah satunya sebagai bahan baku ​industri
amonia​, selain itu LNG merupakan bahan bakar tak terbarukan yang paling ramah
lingkungan. Salah satu perusahaan LNG di Indonesia adalah PT. Badak NGL Bontang.
Namun dalam pembuatan LNG, gas alam harus dulu di ​pre-treatment.​ Tujuan dari
pre-treatment​ ini adalah untuk meningkatkan kualitas gas dan juga mencegah gangguan pada
proses dan kerusakan alat. Secara Umum proses proses pembuatan LNG dari gas alam terdiri
dari 4 tahap, yaitu :
1. Acid gas removal
2. Dehydration & Hg Removal
3. Fractionation
4. Liquefaction

Acid Gas Removal


Penghilangan gas yang bersifat asam bertujuan untuk meningkatkan mutu produk dan
mencegah korosi. Selain itu CO​2 dapat memadat pada suhu -78​0​C ketika dicairkan sehingga
dapat menumbat pipa. Umumnya CO​2 dihilangkan hingga kadarnya dibawah 50 ppm dan
untuk H​2​S dibawah 4 ppm. Pada Proses penghilangan ini dilaksanakan dalam unit absorber
dengan pelarut MDEA. Pada kolom absorber gas alam dari bawah mengalir ke atas kolom
dan dari atas dipercikan larutan MDEA. Gas asam akan larut pada MDEA sedangkan gas
alam bebas gas asam akan keluar melewati kolom absorber. MDEA yang telah melarutkan
gas alam tadi regenerasi di kolom stripper dengan mengurangi tekanan dan menaikan
temperatur sehingga gas terpisah dari MDEA. MDEA yang telah diregenerasi di sirkulasi
kembali menuju kolom absorber.

Dehydration & Hg Removal


Proses selanjutnya adalah penghilangan air dan senyawa Hg. Tujuan penghilangan air dalam
gas adalah untuk mencegah terjadinya senyawa hidrat, pembentukan es pada proses
pencairan, dan korosi pada peralatan proses. Proses dehidrasi gas alam dilakukan dengan
absorpsi (menggunakan desikan cair) atau adsorpsi (menggunakan desikan padat). Larutan
yang biasa digunakan dengan menggunakan proses absorpsi adalah tri-etilen glikol (TEG),
di-etilen glikol (DEG), dan etilen glikol (EG). Pada umumnya TEG lebih banyak digunakan
daripada DEG dan EG. Karena kehilangan glikol pada pemakaian TEG akan lebih kecil.
Sedangkan pada desikan padat yang umumnya digunakan adalah alumina, silika gel dan
silika alumina, dan ​molecular sieve​. Pada penggunaan desikan padat diperlukan regenerasi
dikarenakan dapat jenuh sehingga umumnya digunakan dua desikan dimana satu desikan
digunakan untuk proses dehidrasi, sedangkan yang satu lagi regenerasi.

Setelah di dehidrasi gas dihilangkan kandungan merkurinya. Penghilangan merkuri ini


bertujuan untuk mencegah korosi pada alumunium, karena merkuri dapat bereaksi dengan
alumunium membentuk amalgam. Saat ini penghilangan merkuri yang banyak digunakan
adalah dengan menggunakan bahan penyerap ​sulfur impregnated activated carbon​ .

Fractionation
Fraksinasi bertujuan untuk memisahkan komponen gas selain metana agar kualitas produk
sesuai dengan yang diinginkan. Fraksinasi terdiri dari beberapa unit operasi utama yaitu scrub
column, kolom de-etanasi, kolom de-propanasi, dan de-butanasi. Pada ​scrub column
dipisahkan komponen metana dengan etana dan komponen yang lebih berat lainnya. Setelah
itu pada kolom de-etanasi komponen etana dipisahkan dari propana dan komponen yang lebih
berat lainnya. Lalu pada kolom de-propanasi komponen propana dipisahkan dari propana dan
komponen yang lebih berat lainnya. Juga pada kolom de-butanasi komponen butana
dipisahkan dari komponen yang lebih berat (C5 dan seterusnya).

Liquefaction
Terakhir adalah terakhir adalah proses utama, yaitu pencairan gas alam dengan menggunakan
unit refrigerasi. Terdapat beberapa sistem refrigerasi yaitu sistem kompresi gas, Sistem
kompresi uap mekanik, Sistem absorpsi-desorpsi, Sistem ​steam-jet​. Sistem yang umum
digunakan dan praktis adalah sistem kompresi uap mekanik. Sistem ini dapat menurunkan
temperatur fluida proses hingga dibawah -130​0​C. Setelah gas alam tersebut sudah dalam
bentuk cair, maka LNG siap untuk dimasukkan ke ​storage tank​ dan dijual.
Proses Pencairan Gas Alam menjadi LNG (Gas Alam Cair)
Flysh Geost ​Saturday, January 23, 2016

Urat varises hilang dalam seminggu jika di


rumah kamu kompres dengan..

Pengertian LNG
Singkatan LNG berasal dari istilah bahasa inggris ​"Liquefied Natural Gas"​, dalam bahasa
indonesia berarti Gas Alam Cair. ​LNG adalah gas alam yang telah diubah menjadi
cairan​. Hal ini dilakukan untuk menghemat ruang, karena 610 kaki kubik gas alam dapat
diubah menjadi 1 kaki kubik LNG. Mengkonversi gas alam menjadi LNG membuat kita lebih
mudah untuk menyimpan dan lebih mudah untuk mengangkut disaat jaringan pipa tidak
tersedia.

Proses pendinginan (refrigeration process) digunakan untuk mengkondensasi gas alam


menjadi LNG dengan pendinginan sampai minus 260 derajat Fahrenheit. Proses pendinginan
ini biasanya disertai dengan proses menghilangkan air, karbondioksida, hidrogen sulfida dan
bahan/unsur pengotor lainnya.
Tangki Penyimpanan Gas Alam Cair (LNG)
Untuk mempertahankan suhu rendah selama penyimpanan dan transportasi, LNG harus
ditempatkan ke dalam tangki kriogenik (cryogenic tanks). Tangki Kriogenik ini merupakan
tangki penyimpanan gas yang besar yang terisolasi dan dilengkapi dengan unit pendingin.

Ketika pengiriman LNG mencapai tujuan atau bila LNG sedang dikeluarkan dari
penyimpanan, maka LNG wajib di regasifikasi. Tujuan proses regasifikasi adalah untuk
memanaskan LNG, sehingga memungkinkan LNG akan menguap kembali menjadi gas alam.
Regasifikasi biasanya dilakukan di fasilitas di mana gas dapat ditempatkan ke dalam
penyimpanan atau langsung ke pipa untuk transportasi.

Proses Pencairan Gas Alam


Ada dua jenis ​terminal LNG​, yaitu terminal yang mengubah gas alam menjadi LNG dan
terminal LNG yang mengkonversi kembali menjadi gas alam. Masimg-masing disebut
sebagai terminal pencairan dan terminal regasifikasi. Terminal pencairan berada pada sisi
transaksi ekspor dan terminal regasifikasi berada pada sisi transaksi impor.

Terminal pencairan umumnya menerima gas alam melalui jaringan pipa dari lapangan.
Sebelum itu cair gas harus dibersihkan dari air, karbondioksida, hidrogen sulfida dan kotoran
lainnya yang mungkin membeku dan menjadi korosif atau mengganggu proses pencairan.
Setelah itu baru cairan LNG dikirim melalui pipa ke kapal pembawa LNG atau ke
penyimpanan untuk menunggu transportasi.

Terminal regasifikasi menerima gas alam biasanya dengan kapal dari lokasi lain. Di terminal
regasifikasi, LNG mungkin disimpan sementara atau dikirim langsung ke pabrik regasifikasi.
Setelah regasifikasi, LNG dikirim oleh pipa untuk didistribusi atau ditempatkan di
penyimpanan sementara sampai dibutuhkan.
Gambar skema terminal pencairan dan regasifikasi
LNG.

Sumber Gas Alam dan Konsumen LNG


Pengiriman besar gas alam cair pertama di dunia terjadi pada tahun 1964 ketika sebuah kapal
penuh dengan LNG di Aljazair dan berlayar ke Le Havre, Prancis. Sebelum tahun 1964, gas
alam di Aljazair adalah produk limbah dari produksi minyak. disebut "produk limbah" karena
tidak ada pasar lokal untuk gas alam dan tidak ada pipa untuk mengangkut gas ke lokasi yang
jauh. Gas alam hanya dibuang ke atmosfer atau terbakar di lokasi itu juga.

Saat ini LNG diekspor dari lokasi seperti: Aljazair, Mesir, Nigeria, Angola, Oman, Qatar,
Yaman, Rusia, Trinidad dan Tobago, Australia, Malaysia, dan Indonesia dimana produksi gas
alam jauh melebihi kemampuan konsumsi pasar lokal mereka. Di lokasi tersebut harga gas
alam rendah karena jumlahnya yang berlimpah tetapi sedikit permintaan lokal. Harga yang
rendah mengimbangi biaya membangun pabrik pencairan LNG, mengkonversi gas alam
menjadi LNG dan membawanya ke pasar yang jauh.

Jepang, Korea Selatan dan Taiwan adalah pembeli utama pertama LNG. Daerah ini memiliki
populasi yang sangat tinggi dan sangat sedikit akses ke sumber daya domestik bahan bakar
fosil. LNG memberi mereka akses ke bahan bakar yang bersih, karena bahan bakar ini mudah
untuk didistribusikan sekalipun pipa berada di tempat lain. Banyak negara-negara lain
sekarang memiliki terminal regasifikasi, termasuk Belgia, Brasil, Kanada, Chili, Cina,
Perancis, India, Italia, Yunani, Meksiko, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat.

Sistem Penyimpanan LNG


LNG disimpan dalam tangki penyimpanan yang sangat terisolasi dan khusus dirancang untuk
menahan cairan-suhu dingin. Kebanyakan memakai dinding tangki ganda dengan dinding
luar dari beton yang tebal dan dinding bagian dalam dari baja berkualitas tinggi. Antara
dinding ada lapisan isolasi yang tebal. Banyak yang memiliki fasilitas tangki penyimpanan
bawah tanah untuk lebih meningkatkan daya isolasi terhadap LNG.

Akan tetapi, seberapapun baiknya sebuah tangki terisolasi, beberapa LNG akan mudah
mendidih dan menguap seperti gas alam. Gas yang munguap ini umumnya dikeluarkan dari
tangki. Hal ini baik untuk digunakan secara lokal sebagai bahan bakar atau bisa di
regasifikasi kembali sehingga menjadi cair dan dialirkan kembali ke tangki.
Sistem Transportasi dan Dampak Lingkungan Proyek LNG
Kebanyakan LNG diangkut dalam kapal yang dirancang khusus yang dikenal sebagai
"operator LNG". Kapal ini memiliki lambung ganda untuk melindungi kargo dari kerusakan
dan sebagai perlindungan terhadap kebocoran. Jumlah yang lebih kecil dari LNG diangkut
dalam truk dan gerbong yang dirancang khusus.

Gas alam memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih rendah ketika dibakar daripada bahan
bakar fosil lainnya. LNG sedikit karbon dioksida kurang, sedikit partikel dan sedikit
menghasilkan abu. Meskipun LNG dibakar dalam bentuk gas alam, tetap saja LNG memiliki
dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan gas alam yang belum cair. Hal ini
dikarenakan LNG membutuhkan pengeluaran energi untuk mencairkan, mentransportasi dan
meregasifikasi. jadi kesimpulannya, LNG memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dari
gas alam tetapi umumnya memiliki dampak lebihnya rendah dari bahan bakar batubara atau
minyak.

Dukungan Publik Terhadap Proyek LNG


Dukungan publik untuk proyek-proyek LNG umumnya beranekaragam, terutama pada sisi
impor di mana sejumlah besar orang mungkin terletak dekat fasilitas regasifikasi. Meskipun
beberapa orang berharap bahwa LNG akan membawa mereka kepada gas alam ekonomis,
tetapi ada juga yang memiliki kekhawatiran bahwa proses regasifikasi atau kendaraan angkut
LNG mungkin akan mudah meledak atau terbakar. Beberapa orang juga khawatir bahwa
fasilitas LNG adalah target teroris, meskipun LNG memiliki sejarah keselamatan yang sangat
baik.

Penemuan gas alam baru, jaringan pipa baru, dan terminal LNG baru akan dapat
meningkatkan pasokan lokal. Peningkatan pasokan lokal dapat menurunkan harga yang dapat
merangsang permintaan. Meningkatnya permintaan bisa menaikkan harga, merangsang
aktivitas pengeboran, meluncurkan proyek pipa dan membawa investasi di fasilitas LNG.

http://www.geologinesia.com/2016/01/proses-pencairan-gas-alam-menjadi-lng.html