Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

DI OK SENTRAL/IBS RSUD ULIN

Oleh :
MUHAMMAD RIZAL FIRDAUS
1614901110138

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2017
LEMBAR PENGESAHAN
NAMA MAHASISWA : MUHAMMAD RIZAL FIRDAUS
NPM : 16141901110138
JUDUL LP : ORIF(Open Reduction Internal Fixation)

Banjarmasin Maret 2017

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

( ) (
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Orif (Open Reduction Internal Fixation) adalah suatu bentuk pembedahan dengan
pemasangan internal fiksasasi pada tulang yang mengalami fraktur. Orif juga untuk
mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami
pergeseran. Orif (Open Reduction Internal Fixation ),open merupakan suatu tindakan
pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah/fraktur sedapat
mungkin kembali seperti letaknya asalnya. Internal fiksasi biasanya melibatkan
penggunaan plat, sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk
mempertahankankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang
yang solid teriadi.
Orif (Open Reduction Internal Fixation). Merupakan tindakan pembedahan dengan
melakukan insisi pada daerah fraktur. Kemudian melakukan implant pins screw,
wires, rods, plates dan protesa pada tulang yang patah.( Saifuddin 2005)
B. Tujuan.
a. Untuk menghilangkan rasa nyeri
Nyeri yang timbul pada fraktur buka karena fraktunrya sendiri, namun karena
terluka jaringan disekitr tulang yang patah tersebut.
b. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dri fraktur
c. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan
akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang
terdapat gangguan dalam penyantuan tulang. Sehingga dibutuhkan graft
tulang
d. Untuk mengemblikan fungsi seperti semula
Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya
sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.
C. Indikasi
- Fraktur yang tak bisa sembuh
- Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
- Fraktur yang dapat direposisi tapi sulit dipertahankan
- Fraktur yang memberikan hasil baik dengan operasi
-
D. Kontra indikasi
- Infeks
- Kehilangan dan kekakuuan jangkauan gerak
- Kerusakan otot
- Kerusakan saraf dan kelumpuhan
- Deformitas
- sindrom kompartemen
-
E. Penatalaksanaan
1. Cara operatif/ pembedahan
Pada saat ini metode penatalksaan yang paling banyak keunggulannya
mungkin adalah pembedahan.
Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada
umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan di
teruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur.
Hematoma fraktur dan fragemen-fragmen tulang yang telah mati dirigasi dari
luka. Fraktur kemudia direpsisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang
normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan
dengan alat-alat artopedik berupa pen, sekrup, pelat, dan paku.(Smeltzer 2004)
Keuntungan perawatan fraktur dengan pmebedahan anatara lain :
- Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
- Tidak perlu memasang gips dan alat alat yang lain
- Perawatan di Rs dapat ditekan seminimal mungkin,
terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan
dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan
fungsi otot hampir normal selama penetalksaaan dijalankan.
F. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Rongent
Menentukan luas atau lokasi minimal 2 kali proyeksi, anterior,
posterior lateral.
b. CT scan tulang, fomogram MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Untuk melihat jelas daerah yang mengalami kerusakan.
c. Arteriogram
Dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap
Hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan
peningkatan leokosit sebagai respon terhadap peradangan.
G. Pathway

ORIP

Pre pembedahan Intra


Post pembedahan
Pembedahan

Gelisah, Gugup, Gemetar Terputusnya


Risiko intoleran
jaringan aktivitas

Peningkatan RR, Nadi dan Risiko perdarahan


TD
Perdarahan
>500

Ansietas
Risiko Kekurangan
Penurunan TD
volume cairan

NYERI (FRAKTUR)

penurunan

Risiko Syok curah jantung

hipovolemik

NANDA 2015
H. Gambar

I. DIAGNOSAKEPERAWATAN,INTERVENSIDANRASIONAL
(PRE,INTRA,POST)
1. Pre Operasi
a. Nyeri b/d trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat
fraktur.
Ditandai dengan mengeluh sakit,sulit bergerak, tampak meringis dan
memegangi tubuh yang cidera

Intervensi Rasional
a. Kaji tingkat nyeri dan a. Mengetahui tingkat nyeri
intensitas b. Mengurangi nyeri tanpa tindakan
b. Ajarkan teknik distraksi invatif
selama nyeri c. Tingkatnyeri dpat diketahui dari
c. Observasi Vital Sign vital sign
d. Kolabortif pemberian obat d. Mengetahui nyeri pasien dan
analgesik dan kaji menyusun rencana selanjutnya bila
efektivitasnya. nyeri tidak bisa diatasi dengan
analgesik

b. Kecemasan b/d ancaman integritas biologis sekunder akibat operasi


Intervensi Rasional
a. Kaji tingkat ansietas a. Sebagai acuan membuat strategi
b. Beri kenyamanan dan tindakan
perlihatkan rasa empati b. Agar pasien lebih tenang
c. Bila ansietas berkurang beri menghadapi operasi
penjelasan tentang operasi, c. Bila keadaan klien akan lebih
pemasangan eksternal dfiksasi, mudah menerima penjelasan
serta persiapan yang harus yang diberikan.
dilakukan.

2. Intra Operasi
a. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan akibat
pembedahan.
Intervensi rasional
a. Agar tidak terjadi
a. Monitor perdarahan pada
perdarahan yang hebat
daerah pembedahan setelah
b. Mengantisipasi terjadinya
dilakukan insisi.
perdarahan.
b. Ingatkan operator dan bila
terjadi perdarahan hebat. c. Untuk mengganti cairan
c. Berikan cairan Ringer darah yang banyak keluar
laktat (RL) Untuk resusitasi danmengantisipasi
cairan monitor tanda-tanda terjadinya dehidrasi.
syok hipopelemik.

3. Post operasi
a. Resiko infeksi b/d tempat masuknya organisme sekuder akibat adanya jalur
invasif
intervensi Rasional
a. Jaga kebersihan daerah a. Mencegah kolonisasi
pemasangan eksternal fiksasi kuman
b. Lakukan perawatan luka b. Mencegah infeksi kuman
secara aseptik di daerah pin. melalui pin
c. Observasi vital sign dan tanda c. Menemukan tanda-tanda
infeksi sistemik maupun lokal infeksi secara dini
(demam,nyeri,kemerahan, d. Untuk mencegah atau
keluar cairan, pelonggaran mengobat infeksi.
pin)
d. Kolaboratif pemberian
antibiotik

b. Hambatan mobilitas fisik b/d alat eksternal fiksasi


Intervensi Rasional
a. Latih bagian tubuh yang a. Mencegah terjadinya atrofi
sehat dengan latihan rom disue
b. Bila bengkak pada daerah b. Membantu meningkatkan
pemasangan eksternal kekuatan
fiksasi sudah berkurang c. Mempercepat kemampuan
latih pasien untuk latihan klien untuk mandiri serta
isometik di daearah meningkatkan rasa percaya diri
tersebut. klien.
c. Latih pasien menggunakan
alat bantu jalan.
J. DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T. Heather. 2015. Diagnosa Keperawatan : Difinisi dan Klasifikasi


2015-2017 edisi 10, Jakarta : EGC 2015
Bulechek M. Gloria. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) edisi 6.
Indonesia:Elsilver Inc.
Morhead.Sue. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) edisi 5.
Indonesia:Elsilver Inc.
https://www.google.com/search?q=kONDAS+TINDAKAN+ORIF+pdf&ie=ut
f-8&oe=utf-8&client=firefox-b#q=lp+laparatomi+pdf&*