Anda di halaman 1dari 11

Analisis Masalah

1. Puskesmas Mercubuana merupakan Puskesmas Kecamatan Harumba yang memiliki 3


desa dengan jumlah penduduk 37.200 jiwa (7000 KK). Tiap desa memiliki 1 Poskesdes
dengan Bidan Desa di tiap Poskesdes Kecamatan Harumba dibagi oleh sungai Barabara
yang merupakan sumber kehidupan bagi penduduk Mayoritas penduduk bekerja sebagai
petani sawit dan mempunyai penghasilan yang sangat rendah. Penduduk rata-rata
berpendidikan rendah. Di Kecamatan Harumba hanya terdapat 3 SD dan 1 SMP.
a. Berapa jumlah pusat pelayanan kesehatan yang ideal untuk 1 kecamatan dengan
jumlah populasi sesuai pada kasus?1,2,3
b. Apa saja faktor resiko dari sungai Bara-bara yang dapat mengganggu kesehatan
masyarakat di kecamatan Harumba?4,5,6
c. Apa saja faktor resiko dari pekerjaan sebagai petani sawit yang dapat
mengganggu kesehatan masyarakat di kecamatan Harumba?7,8,9
Faktor risiko kesehatan yang dapat dialami oleh petani sawit:
a. Pembukaan lahan
Proses pembukaan lahan dilakukan dengan penebangan-penebangan pohon
baik secara manual atau menggunakan mesin (chin saw). Pembukaan lahan
juga merupakan kegiatan pembersihan lahan dengan menggunakan alat-alat
berat seperti excavator dan motor grader.
Bahaya potensi untuk kesehatan kerja yang mungkin terjadi adalah
pneumokonioses (penimbunan debu dalam paru), gangguan gastrointestinal
pada pengemudi alat berat, berkurangnya kekuatan genggaman (carpal tunnel
syndrome) pada pekerja yang menggunakana alat-alat pemotong, terserang
binatang-binatang berbisa, terinfeksi cacing dan terserang mikro organisme
seperti jamur dan bakteri pada saat melakukan pembersihan lahan. Sedangkan
bahaya potensi untuk kecelakaaan kerja terdapat pada penggunaan mesin-
mesin pemotong dan penggunaan alat-alat berat.
Peraturan Pengendalian bahaya kesehatan kerja dapat dilakukan dengan
penggunaan alat pelindung diri, seperti safety helmet (Hard hat) kelas C, ,
penggunaan alat pelindung kaki jenis vinyl, pakain kerja (overal), dan
penggunaan sarung tangan kulit karena. Penggunaan sarung tangan kulit cocok
digunakan ketika pekerja bersentuhan dengan benda atau alat yang
permukaannya kasar.
Pengendalian bahaya kecelakaan kerja pada penggunaan mesin-mesin
pemotong dapat dikendalikan dengan mematuhi standart operstional
procedure (SOP) penggunaan alat dan dapat dikendalikan dengan penggunaan
alat pelindung diri seperti googles untuk mencegah serpihan debu terbang, alat
pelindung tangan berjenis metal messh, pakaian kerja (apron), safety shoes
berjenis vinyl. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dari penggunaan
alat-alat berat dapat dilihat pada Permenakertrans No.Per 09/Men VII/2010
tentang operator dan petugas pesawat angkat dan angkut. Salah satu bagian
penting dari peraturan tersebut adalah adanya lisensi K3 untuk operator alat
berat seperti excavator.

b. Pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman


Proses pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman dilakukan pada
area terbuka dan dalam keadaan aman dan bersih. Aman berarti bebas dari
gangguan binatang berbahaya sedangkan yang dimaksud dengan bersih adalah
bebas dari gulma dan semak belukar. Potensi bahaya kesehatan pada proses ini
adalah pneumokonioses (penimbunan debu dalam paru), dermatoses (kelainan
kulit karena pekerjaan) dan penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida
merupakan potensial bahaya terbesar pada proses ini. Pengggunaan pestisida
yang tidak aman dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti penyakit aku
maupun kronis, keracunan dan kematian. Monitoring biologi paparan pestisida
dapat dilihat dari kadar cholinesterase dalam darah. Bahaya penggunaan
pestisida terdapat pada pekerja penyemprot dan pekerja yang bertugas pada
gudang penyimpanan pestisida. Pemerintah telah mengatur tentang
pengawasan, penyimpanan dan penggunaan pestisida dalam peraturan
pemerintah No.07 tahun 1973.
Pencegahan bahaya kesehatan bagi pekerja penyemprot pestisida dapat
dilakukan secara administratf dan penggunaan alat pelindung diri (APD).
Pengendalian secara administrative adalah proses pengendalian dengan cara
administrative mengurangi bahaya dan resiko dari bahaya kimia. Misalnya
safe operating limit, work permit, standart operational procedure (SOP),
pelatihan, modifikasi perilaku, jadwal istirahat dan lain sebagainya (Indonesia
HSE, 2012)
Pencegahan bahaya pestisida dapat dikendalikan dengan menggunakan
APD yang sesuai dengan proses dan sifat pestisida yang digunakan. alat
pelindung diri yang digunakan dalam penggunaan pestisida dapt berupa
pakaian pelindung, kaca mata, dan sarug tangan yang terbuat dari neoprene jika
bahan tersebut digunakan untuk bercampur dengan minyak atau pelarut
organis. Alat-alat pelindung diri harus terbuat dari karet, apabila yang
dikerjakan chlor hydrocarbon (Suma’mur, 1996).
Pekerja yang bertugas pada tempat penyimpanan (gudang) pestisida juga
dapat mengalami gangguan kesehatan. Tempat penyimpanan pestisida harus
bebas dari potensi bahaya kesehatan, kecelakaan kerja, dan kebakaran.
Pengendalian gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja pada pekerja gudang
pestisida dapat dilakukan secara administrative, secara teknik, sistem
peringatan dan penggunaan APD. Pengendalian secara adminstratif dapat
dilakukan dengan safe operating limit, work permit, standart operational
procedure (SOP), pelatihan, modifikasi perilaku dan jadwal istirahat.
Pengendalian secara teknik untuk mencegah bahaya kesehatan dan
keselamatan kerja pada tempat penyimpanan pestisida dapat dilakukan dengan
mengatur sistem ventilasi local exhaust ventilation, pencahayaan pada ruangan,
tempat peletakan pestisida yang terlindung, teratur, kuat dan tidak bocor.
Pengendalian dengan sistem peringatan dapat dilakukan dengan memberi
peringatan, instruksi, tanda , label, yang akan membuat orang akan waspada
jika berada dalam tempat penyimpanan pestisida. Sistem peringatan juga dapat
berupa pemahaman tentang lembar data keselamatan bahan (MSDS),
tersedianya sistem alarm dan jalur evakuasi. Pengendalian bahaya potensi pada
tempat penyimpanan pestisida juga dapat diakukan dengan penggunaan APD.
Yang sesuai dengan bahan kimia yang terkandung dalam pestisida.
c. Pemanenan
Pemanen merupakan proses terakhir dari perkebunan kelapa sawit. Proses
pemanenan meliputi memotong pelepah, dan TBS, memasukkan TBS kedalam
angkong, mendorong angkong yang berisi TBS ketempat penampugan hasil,
danpemuatan TBS kedalam truk pengangkut. Pemanenan dapat dilakukan
dengan alat pemanen manual atau alat panen bermesin. Penggunaan alat panen
bermesin dapat membantu mengurangi beban kerja tenaga pemanen. Potensi
bahaya kesehatan pada proses pemanenan adalah gangguan pada fisiologis
tubuh karena faktor ergonomic, gangguan kesehatan yang mungkin terjadi
adalah gangguan otot rangka (muscoleskeletal disordes), Repetitive Strain
Injury cedera dari sistem muskuloskeletal dan saraf), Carpal Tunnel Syndrome
(timbul seperti sakit di pergelangan tangan). Pencegahan yang mungkin
dilakukan untuk potensi bahaya kesehatan dapat dilakukan secara subtitusi,
yaitu dengan menggunakan alat pemanen bermesin sehingga mengurangi
beban kerja pemanen, manual handling yang baik dengan konsep yang
ergonomis yang menyesuaikan pada posisi, proses, dan kemampuan
mengangkat beban dalam bekerja yang sesuai dengan kemampuan tubuh.
Potensi kecelakaan yang mungkin terjadi pada proses pemanen adalah
tertimpa TBS, tertimpa pelepah, terluka akibat duri sawit pada tangan dan kaki,
terluka karena alat panen. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara kerja
yang baik, yaitu dengan penerapan job safety analysis (JSA) pada proses kerja.

Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit


diantaranyai:
1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads
konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan
kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan
penyakit.
2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land
clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
3. Kerusakan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana
dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil
peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/
Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang
oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia
lainnya.
4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru
ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna
lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman
akibat monokulturasi.
5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan
dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara
perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang
lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga
(ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran
hutan dan penanganan Limbah.
6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan
kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima
masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat
dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan
kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti
banjir dan tanah longsor
d. Bagaimana hubungan sosioekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah terhadap
kondisi kesehatan masyarakat di kecamatan Harumba?10,1,2
e. Apa peran dari poskesdes dan bidan desa dalam memberikan pelayanan kesehatan
masyarakat di kecamatan Harumba?3,4,5
f. Apa peran dari posyandu dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di
kecamatan Harumba?6,7,8
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari
dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan
kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan
anak balita.
A. Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan
pengembangan/pilihan. Kegiatan utama, mencakup;
- kesehatan ibu dan anak;
- keluarga berencana;
- imunisasi;
- gizi;
- pencegahan dan penanggulangan diare.
B. Kegiatan pengembangan/pilihan,
Masyarakat dapat menambah kegiatan baru disamping lima kegiatan utama
yang telah ditetapkan, dinamakan Posyandu Terintegrasi. Kegiatan baru
tersebut misalnya;
- Bina Keluarga Balita (BKB);
- Tanaman Obat Keluarga (TOGA);
- Bina Keluarga Lansia (BKL);
- Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);
- berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.
2. Pasien pertama bernama Neni, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang dibawa
keluarganya dengan surat dari RSUD Kabupaten. Pada surat tersebut tertulis diagnosis
pasien berupa pasca terapi Tipus Perut selama 7 hari. Pasien dibekali obat yang cukup
untuk 5 hari.
a. Apa saja faktor resiko kejadian typhoid?9,10,1
b. Bagaimana pola penularan dalam kasus typhoid?2,3,4
c. Bagaimana kriteria rujuk balik pada pasien typhoid?5,6,7
Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan
kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan
pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di Faskes
Tingkat Pertama atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis
yang merawat.
Jenis Penyakit yang termasuk Program Rujuk Balik adalah:
a. Diabetus Mellitus
b. Hipertensi
c. Jantung
d. Asma
e. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
f. Epilepsy
g. Schizophrenia
h. Stroke
i. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
d. Apa saja komplikasi pada kasus typhoid?8,9,10
e. Bagaimana tatalaksana pada pasien rujuk balik pasca terapi Tipus Perut di
puskesmas?1,3,5
3. Pasien kedua bernama Tn. Mursidi, seorang laki-laki berusia 42 tahun yang diantar oleh
bidan desa dengan keluhan panas tinggi yang disertai muntah dan diare. Sudah diterapi
dengan baik, akan tetapi, Tn. Mursidi akhirnya dirujuk ke RSUD Kabupaten dengan
Kendaraan Pusling Puskesmas.
a. Apa kemungkinan diagnosis kerja pada kasus Tn. Mursidi?7,9,2
Kemungkinan diagnosis Tn. Mursidi adalah demam tifoid.
b. Apa saja diagnosis banding dari kasus Tn. Mursidi?4,6,8
c. Bagaimana manifestasi klinis pada kasus typhoid?10,1,3
d. Bagaimana kriteria Demam Typhoid dapat dirujuk ke RSUD Kabupaten?5,7,9
e. Bagaimana tatalaksana dokter umum dalam menangani typhoid?2,4,6
4. Saat mini lokakarya Puskesmas, dr. lndah dan UKM Puskesmas membahas rencana dan
strategi penanggulangan penyakit dari kedua kasus tersebut karena dianggap dapat
menular melalui lingkungan dan mengobati penduduk dan keluarga yang tertular
penyakit tersebut.
a. Apa saja yang harus dilakukan oleh dr. Indah dan UKM puskesmas sebelum
melakukan intervensi terhadap kasus?8,10,1
b. Bagaimana program promosi kesehatan yang dapat dilakukan?3,5,7
Strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan,
yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh
semangat (4) kemitraan. Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan
pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna
membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani
tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS. Bina suasana adalah
pembentukan suasana lingkungan sosial yang kondusif dan mendorong
dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi
PHBS dan melestarikannya. Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi
terhadap pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan
pembinaan PHBS baik dari segi materi maupun non materi.
Promosi kesehatan berupa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan
membentuk Pos Obat Desa (POD) untuk menangani penyakit yang sering terjaddi
di masyarakat, menggalakkan dana desa, membentuk Pokmair (sekelompok
masyarakat yang peduli terhadap kesehatan lingkungan terutama dalam
penggunaan air bersih serta pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga
melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan seluruh warga),
Polindes, dan Posyandu.
Promosi kesehatan melalui strategi bina suasana dapat dilakukan dengan
pendekatan individu, kelompok, dan masyarakat umum. Promosi yang dilakukan
dengan melakukan edukasi kesehatan dan penyampaian informasi mengenai
demam tifoid (gejala, penyebab langsung, faktor resiko, bahaya, serta cara
mencegah penyakitnya dengan mempraktekan PHBS). Pendekatan individu
adalah penyuluhan dan edukasi secara perorangan dan mengajak warga agar dapat
menjadi kader kesehatan yang berperan menyebarkan informasi kepada
masyarakat lainnya. Pendekatan kelompok adalah dengan mengajak para tokoh
desa/agama setempat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat
menjadi teladan bagi warga lainnnya. Pendekatan masyarakat umum adalah
dengan melakukan penyuluhan kesehatan kepada para kepala keluarga/penduduk
mengenai PHBS.
c. Apa saja media promosi yang dapat digunakan pada kasus?9,2,4
d. Apa saja intervensi yang dapat dilakukan pada kasus? (Lingkungan dan Non
Lingkungan)1,2,3,4,5
e. Bagaimana 5 level prevention yang dapat dilakukan pada kasus?6,7,8,9,10
A. Primordial Prevention
Pencegahan tingkat dasar merupakan upaya pencegahan dini terhadap
penyakit secara umum oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan usaha
memelihara atau mempertahankan gaya hidup sehat masyarakat. Selain itu,
pencegahan dapat dilakukan agar kebiasaan buruk atau tidak sehat
masyarakat kemudian tidak diikuti oleh generasi selanjutnya.
Oleh karena pencegahan ini masih bersifat umum (tidak untuk penyakit
tertentu) sehingga bisa digunakan tidak hanya untuk penyakit demam tifoid
saja tetapi juga untuk penyakit lainnya. Contoh primordial prevention, yaitu
menjaga pola makan sehat, sanitasi personal maupun lingkungan, dan
sebagainya.
B. Primary Prevention
Pencegahan ini merupakan pencegahan terhadap suatu penyakit tertentu
dengan mengontrol atau mengawasi faktor resiko, faktor penyebab yang
dilakukan sebelum penyakit masuk kedalam tubuh (periode prepatogenesis).
Pencegahan primer ini terbagi dua yaitu:
1. Health Promotion (Promosi Kesehatan)
 Penyuluhan dan edukasi terkait penyakit demam tifoid (gejala,
penyebab langsung, faktor resiko, bahaya dan sebagainya)
 Sosialisai melalui media massa (poster, iklan, brosur, pamflet, dsb.)
2. General and Specific Protection (Perlindungan Umum dan Khusus)
 Mengajak masyarakat untuk gotong-royong melakukan sanitasi
lingkungan (bersih-bersih pekarangan rumah, fasilitas umum seperti
bak sampah, dsb.)
 Memperhatikan sarana dan sumber air bersih
 Mengajak masyarakat untuk melakukan personal hygiene (mencuci
tangan setelah buang air besar, dan sesudah maupun sebelum makan)
 Mengadakan pelatihan cara mengolah dan menyajikan makanan yang
baik, sehat, dan bersih kepada para Ibu rumah tangga
 Mengajak masyarakat untuk selalu memanfaatkan toilet ketika (maaf)
buang air besar maupun buang air kecil.
 Pasteurisasi susu yang tepat
 Imunisasi/vaksinasi, terutama kepada para tenaga medis, anggota
keluarga penderita, dan turis asing yang mendatangi daerah endemis.
C. Secondary Prevention
Pencegahan ini disasarkan kepada orang-orang yang setelah diagnosis,
mereka dianggap menderita maupun yang terancam menderita. Sehingga,
pencegahan ini berguna untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut,
mencegah perluasan penyakit, serta dapat dilakukan pengobatan yang cepat
dan tepat.
1. Early Diagnosis and Promt Treatment (Diagnosis Dini dan Pengobatan
Segera)
 Screening
 Pengobatan yang cepat dan tepat, seperti pemberian antibiotika yang
tepat
 Pencarian dan pelaporan kasus demam tifoid yang rutin dan sigap
D. Tertiary Prevention
Pencegahan ini dilakukan terhadap pasien atau penderita penyakit
tertentu sehingga diharapkan dapat mencegah bertambah parahnya penyakit
yang diderita dan mencegah terjadinya kecacatan mapun kematian.
1. Disability Limitation (Pembatasan Kecacatan)
 Ahli medis melakukan pengobatan secara intensif
 Perencanaan pengobatan yang spesifik, sperti pada orang dewasa
menggunakan ciprofloxacin dan untuk anak-anak ada TMP-SMX
yang masih efektif untuk penderita akut
2. Rehabilitation (Rehabilitasi)
 Penderita disarankan untuk menjaga personal hygiene, sanitasi
lingkungan dan makanan, sarana air bersih, dan sebagainya.
 Manajemen stress, karena kemungkinan penyakit yang diderita
membuat penderita merasa tidak produktif dan merasa bosan,
sehingga pasien bisa produktif kembali
Program-program pelayanan kesehatan terkait sanitasi dan personal
hygiene sangat membantu dalam penanggulangan penyakit ini. Pemeriksaan
seperti uji widal, IDL TUBEX, Typidot, dan Typidot M akan membantu
menegakkan diagnosis demam tifoid. Namun untuk memastikan adanya
demam tifoid, perlu dilakukan pemeriksaan biakan darah, feses, dan urin.
Selain itu ada juga pemberian dua jenis vaksin yaitu, vaksin hidup yang
dilemahkan (Ty21A) dan vaksin polisakarida Vi.

f. Bagaimana evaluasi yang dilakukan oleh dr. Indah dan UKM puskesmas terhadap
intervensi yang akan dilakukan? 6,8,10