Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuntutan dan masalah hidup yang semakin meningkat serta perkembangan

teknologi yang pesat menjadi stressor pada kehidupan manusia. Jika individu tidak

mampu melakukan koping dengan adaptif, maka individu beresiko mengalami

gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran, perasaan atau tingkah

laku seseorang sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-

hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi sel-sel syaraf di otak,

dapat berupa kekurangan maupun kelebihan neutrotransmiter atau substansi tertentu

(Febrida, 2007).

Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan

jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal

yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan

bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain

sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang

lain. (Menkes, 2005).

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan yang

terjadi setiap daerah, banyak menyebabkan perubahan dalam segi kehidupan

manusia baik fisik, mental dan sosial yang dapat membuat kemampuan manusia

mengalami keterbatasan diri dalam mencapai kepuasan dan kesejahteraan hidup,

sehingga sering menimbulkan tekanan atau kesulitan dalam menghadapi masalah

kehidupan. Hal ini sering menimbulkan tekanan dan akan mengarah pada dampak

negatif seperti timbulnya stress atau kecemasan, bila kecemasan tidak segera diatasi

1
atau ditangani akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk

berkonsentrasi dan berorientasi pada realita.

Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang di seluruh dunia terkena dampak

permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat. Pada

studi terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara

berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa tergolong parah dan tidak dapat

pengobatan apapun. Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan

data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan

mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak

tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi

dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan

Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari

juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.

Gangguan kejiwaan merupakan masalah klinis dan sosial yang harus diatasi

karena sangat meresahkan masyarakat baik dalam bentuk dampak penyimpangan

perilaku maupun semakin tingginya jumlah penderita gangguan jiwa. Penyakit

mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya.

Semakin tingginya persaingan dan tuntutan dalam memenuhi kebutuhan dapat

menyebabkan seseorang mengalami stress atau merasa tertekan. Jika seseorang

mengalami stress maka ia akan cenderung mengalami atau menunjukkan gejala

gangguan kejiwaan sehingga ia menjadi maladaptif terhadap lingkungan.

Gangguan atau masalah kesehatan jiwa yang berupa proses pikir maupun

gangguan sensori persepsi yang sering adalah halusinasi. Halusinasi merupakan

persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seseorang yang terjadi

pada keadaan sadar. Halusinasi merupakan satu gejala skizofrenia. Skizofrenia

2
merupakan kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada

kenyataan (psikosis).

Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan

rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi

persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang

nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang

berbicara (Kusumawati, 2010).

WHO, (2009) memperkirakan terdapat 450 juta jiwa diseluruh dunia yang

mengalami gangguan mental, sebagian besar dialami oleh orang dewasa muda

antara usia 18-21 tahun, hal ini dikarenakan pada usia tersebut tingkat emosional

masih belum terkontrol. Di indonesia sendiri prevalensi penduduk yang mengalami

gangguan jiwa cukup tinggi, data WHO, (2006) mengungkapkan bahwa 26 juta

penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 % mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan

data Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia

mencapai 2,5 juta jiwa.

Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di indonesia terdapat di daerah khusus ibu

kota jakarta yaitu sebanyak 24,3% (Depkes RI, 2008). Berdasarkan data Riset

Kesehatan Dasar, (2007) menunjukan bahwa prevalensi gangguan jiwa secara

nasional mencapai 5,6% dari jumlah penduduk, dengan kata lain menunjukan

bahwa pada setiap 1000 orang penduduk terdapat 4 sampai 5 orang yang

mengalami gangguan jiwa. Prevalensi gangguan jiwa di indonesia diperkirakan

akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup yang dihadapi oleh

masyarakat indonesia. Skizofrenia merupakan penyakit neurologis yang

mempengaruhi persepsi klien, cara pikir, bahasa, emosi dan perilaku sosialnya.

Perubahan atau pergantian semua sensasi akan secara khusus mencolok pada tahap

3
awal skizofrenia. Orang diliputi oleh membanjirnya sensasi-sensasi yang mereka

rasakan, sebagaimana hal jika penyaringan alamiah di otak tidak lagi bekerja. Bagi

banyak orang perubahan persepsi ini berkembang menjadi full-blown hallucination

(ledakan halusinasi) (Wiramihardja,2007). Menurut Yosep (2011) diperkirakan

lebih dari 90% klien dengan skizofrenia mengalami halusinasi.

Berdasarkan data dan keterangan yang didapat di Rumah Sakit Jiwa

Dr.Soeharto Heerdjan Jakarta khususnya di Ruang Perkutut pada periode Desember

2017, kasus yang terjadi setahun terakhir adalah paling banyak gangguan sensori

persepsi : halusinasi.

Peran Perawat sebagai tenaga kesehatan yang paling sering bersinggungan

secara langsung dengan pasien/klien adalah profesi yang memiliki multi fungsi,

multi peran dan tugas. Perawat bisa berfungsi sebagai tenaga promotif, preventif,

kuratif maupun rehabilitatif. Fokus pelayanan pada tahap awal adalah anggota

masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Promotif adalah peran yang

ditunjukkan dengan membentuk potensi, mengontrol hidup sendiri, menyusun

strategi koping, mengubah lingkungan dan masyarakat untuk penanganan halusinasi

masyarakat. Preventif adalah peran yang dilakukan dengan mengindentifikasi

perilaku khusus, menghindari kegagalan peran sehingga tidak muncul ansietes yang

dapat menyebabkan individu menggunakan halusinasi. Kuratif yaitu peran yang

dilakukan dengan menyediakan lingkungan teraupetik, memecahkan masalah,

merawat kesehatan fisik, mencegah usaha bunuh diri, psiloterapi dan terapi medik.

Rehabilitatif peran yang ditunjukkan dengan mengikut sertakan klien dalam

kelompok, mendorong tanggung jawab klien terhadap lingkungan, melatih

keterampilan klien khusus dalam pengendalian halusinasi.

4
Berdasarkan data diatas, penulis tertarik untuk membahas kasus Asuhan

Keperawatan pada klien dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi

Pendengaran di Ruang Perkutut Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penulisan makalah ini agar mahasiswa memperoleh pengalaman

nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Tn. A dengan

gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran dan memperoleh informasi

atau gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan

sensori persepsi: halusinasi pendengaran di ruang Perkutut Rumah Sakit Dr.

Soeharto Heerdjan Jakarta.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien Tn.A dengan

gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

b. Mahasiswa mampu menentukan masalah keperawatan pada pasien Tn.A

dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

c. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien Tn.A

dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

d. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Ny. N

dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien Tn.A

dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

f. Mahasiswa mampu mengidentifikasi kesenjangan antara teori dan praktik

yang terdapat pada pasien Tn.A dengan gangguan sensori persepsi:

halusinasi pendengaran.

5
g. Mahasiswa mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat dan

mencari alternatif pemecahan masalah pada pasien Tn.A dengan gangguan

sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

h. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien

Tn.A dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.

C. Proses Pembuatan Makalah

Ruang lingkup ini dilakukan di Rumah Sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan

tahun 2018. Dimana pembuatan makalah ini yang akan dilihat sejauh mana

halusinasi akan mempengaruhi sifat yang mal adaktif dan cara penanggulangan atau

tindakan yang akan dilakukan untuk klien. Alasan pembuatan makalah ini karena

halusinasi merupakan penyebab terbanyak pada gangguan jiwa di Rumah Sakit

Jiwa Dr.Soeharto Heerdjan. Dipilihnya halusinasi ini karena di RSJ Dr.Soeharto

Heerdjan salah satu tempat rujukan di daerah Jakarta ini. Makalah ini dibuat

berdasarkan hasil observasi terbanyak di RSJ Dr.Soeharto Heerdjan Jakarta.

Dalam penyusunan makalah ini, kelompok menggunakan metode deskriptif, dimana

kelompok hanya memaparkan data yang sesungguhnya pada kasus. Untuk menggali

data, teknik yang digunakan berbagai macam di antara nya adalah :

1. Wawancara : penulis mengadakan wawancara pada klien di ruang perkutut

2. Observasi : kelompok melakukan pengumpulan data yang dilakukan dengan

pengamatan secara langsung pada prilaku klien

3. Studi kepustakaan : kelompok mempelajari sumber-sumber pemeriksaan fisik

yang dilakukan secara bertahap

Data sekunder : kelompok mengambil data dari status klien, catatan

keperawatan untuk dianalisa sebagai data yang medukung masalah klien.

6
BAB II

GAMBARAN KASUS

A. PENGKAJIAN

1. IDENTITAS

Inisial : Tn. A [L]

Tanggal Pengkajian : 13-03-2018

Umur : 31 Tahun

RM No. : 038739

Informan : Klien

2. KELUHAN UTAMA

Klien di antarkan oleh keluarganya ke dinas sosial karna sering tertawa dan

bicara sendiri dan suka ngamuk-ngamuk tanpa sebab , pada tgl 01-03-2018 klien

di Rawat di RSJ dengan mengeluh sering mendengar suara-suara yang

menyurhnya unutuk pergi dan menyuruhnya untuk melakukan hal-hal yang akan

membahayakan dirinya sendiri.

3. HASIL WAWANCARA

Pada hasil wawancara klien mendengar suara-suara yang menyuruhnya

untuk pergi dan mendengar suara orang bercakap-cakap, suara tersebut datang

terus menerus , suara itu sering muncul ketika sedang sendiri pada waktu pagi,

siang, sore dan malam, dan respon klien ketika mendengar suara tersebut berusaha

untuk melawannya dengan menutup telinga. Pasien mengatakan dulu

7
dilingkungan masyarakatnya tidak pernah ikut kegiatan karna malas, pada saat di

RSJ pasien mengatakan malas berinteraksi dengan yang lain, pasien merasa tidak

aman berada di dekat orang disekitarnya, dan lebih senang duduk sendiri daripada

ngobrol dengan yang lainnya, klien mengatakan tidak memiliki temn dekat. Pasien

mengatakan dibawa ke RSJ oleh keluarganya karna sering marah-marah tanpa

sebab, pasien mengatakan pernah memukul orang yang lewat karna merasa

dirinya dibicarakan orang-orang disekitarnya, pasien mengatakan kesal sama

keluarganya terutama ayahnya yang tidak pernah menjenguknya selama di rawat

di RSJ, pasien mengatakan suka membentak dan menyerang orang yang

mengusiknya jika sedang kesal dan marah,

Klien mengatakan merasa malu/ minder karna orang lain menjauhinya

dikira suka sesama jenis dan oran-orang takut untuk mendekatinya, klien meras

tidak berarti tidak berguna sebagai seorang laki-laki karna tidak bisa bekerja untuk

menghasilkan uang, klien merasa minder dengan kondisinya saat ini, klien

mengatakan merasa bersalah kepada ibunya karna tidak sempat untuk

membahagiakannya selama hidupnya. Klien mengatakan dirinya sebagaia anak

pungut, klien mengatakan dirinya sebagai direktur di sustu perusahaan ternama di

indonesia, klien mengatakan bahwa dirinya adalah saudara dekat suharto, Klien

mengatakan apabila punya masalah pasien sering memendamnya (tidak mau

menceritakan pada orang lain) ,klien mengatakan klien mengatakan setelah

ditinggal oleh keluarganya suka melamun,tidak mau bergaul dengan teman-teman

yang lainnya jarang berkomunikasi dengan orang lain. Pasien tidak mau minum

obat kalau tidak di paksakan oleh perawat, pasien mengatakan pernah di rawat

pada tahun 2015 di bina laras cengkareng, klien mengatakan pengobatan

ssebelumnya kurang berhasil karna tidak teratur minum obat.

8
4. HASIL OBSERVASI

Klien terlihat menunjuk- nunjuk ke arah tertentu, pasien terlihat

menyedengkan telinga ke arah tertentu , pasien terlihat menutup telinga,

ketakutan, terlihat ketawa sendiri, terlihat berbicara sendiri. Klien tampak

menyendiri , terlihat jarang bercakap-cakap dengan orang disekitarnya, terlihat

duduk menyendiri, mengurung diri, tidak ada kontak mata pada saat berbicara,

tampak sedih,tidak memilki teman dekat, tidur meringkuk dengan bicara sendiri,

tidak mau di ajak ngobrol dengan teman-teman disekitarnya. Wajah terlihat

merah, mata merah, nada suara tinggi, bicara keras, bicara menguasai, ekspresi

marah saat membicarakan ayahnya, pandangan tajam.Pasien terlihat menyendiri,

terlihat malu dan rasa bersalah dengan kondisinya , kontak mata kurang, terlihat

merendahkan diri sendiri, mudah tersinggung, mudah marah, pengurungan

diri/mengejek diri sendiri. Klien terlihat cemas, curiga, terlihat berbicara

mengacau,pasien mengingkari penyakit yang di alaminya. Klien terlihat tidak

bersemangat,tampak menyendiri,menunduk kebawah serta kontak mata tidak

terlalu fokus saat berbicara, Klien tampak murung , tampak sedih.

9
B. MASALAH KEPERAWATAN

Data Masalah

Subyektif

- klien mengatakan mendengar suara- GSP HALUSINASI PENDENGARAN


suara yang menyuruhnya untuk
pergi dan mendengar suara orang
bercakap-cakap, suara tersebut
datang terus menerus , suara itu
sering muncul ketika sedang sendiri
pada waktu pagi, siang, sore dan
malam, dan respon klien ketika
mendengar suara tersebut berusaha
untuk melawannya dengan menutup
telinga.

Obyektif

- Klien terlihat menunjuk- nunjuk ke


arah tertentu
- terlihat menyedengkan telinga ke
arah tertentu
- terlihat menutup telinga
- ketakutan
- terlihat ketawa sendiri,
- berbicara sendiri.

Subyektif

- Klien mengatakan dulu ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)


dilingkungan masyarakatnya tidak
pernah ikut kegiatan karna malas.
- Klien mengatakan malas
berinteraksi dengan yang lain,

10
- klien merasa tidak aman berada di
dekat orang disekitarnya
- klien mengatakan lebih senang
duduk sendiri daripada ngobrol
dengan yang lainnya
- klien mengatakan tidak memiliki
teman dekat.

Obyektif

- Klien tampak menyendiri


- Tampak jarang bercakap-cakap
dengan orang disekitarnya
- duduk menyendiri,
- mengurung diri
- tidak ada kontak mata pada saat
berbicara
- tampak sedih
- tampak tidak memilki teman dekat
- tidur meringkuk dengan bicara
sendiri
- tidak mau di ajak ngobrol dengan
teman-teman disekitarnya.

Subyektif
RESIKO PRILAKU KEKERASAN
- Klien mengatakan dibawa ke RSJ
oleh keluarganya karna sering
marah-marah tanpa sebab
- Klien mengatakan pernah memukul
orang yang lewat karna merasa
dirinya dibicarakan orang-orang
disekitarnya.
- pasien mengatakan kesal sama
keluarganya terutama ayahnya yang

11
tidak pernah menjenguknya selama
di rawat di RSJ
- pasien mengatakan suka
membentak dan menyerang orang
yang mengusiknya jika sedang
kesal dan marah.

Obyektif

- Wajah terlihat merah, mata merah


- nada suara tinggi
- bicara keras
- bicara menguasai
- ekspresi marah saat membicarakan
ayahnya
- pandangan tajam

Subyektif

- Klien mengatakan merasa malu/


HARGA DIRI RENDAH
minder karna orang lain
menjauhinya dikira suka sesama
jenis dan oran-orang takut untuk
mendekatinya,
- klien meras tidak berarti tidak
berguna sebagai seorang laki-laki
karna tidak bisa bekerja untuk
menghasilkan uang,
- klien merasa minder dengan
kondisinya saat ini
- klien mengatakan merasa bersalah
kepada ibunya karna tidak sempat
untuk membahagiakan selama
hidupnya.

12
Obyektif

- Klien terlihat menyendiri


- terlihat malu dengan kondisinya
- kontak mata kurang,
- terlihat merendahkan diri sendiri
- mudah tersinggung,
- mudah marah
- pengurungan diri/mengejek diri
sendiri.

Subyektif

- Klien mengatakan dirinya sebagaia PERUBAHAN PROSES FIKIR (


anak pungut WAHAM)

- klien mengatakan dirinya sebagai


direktur di sustu perusahaan
ternama di indonesia
- klien mengatakan bahwa dirinya
adalah saudara dekat suharto

Obyektif

- Klien terlihat cemas


- Curiga
- terlihat berbicara mengacau
- pasien mengingkari penyakit yang
di alaminya

Subyektif

- Klien mengatakan apabila punya


KOPING KELUARGA INEFEKTIF
masalah sering memendamnya
(tidak mau menceritakan pada
orang lain)
- klien mengatakan klien mengatakan
setelah ditinggal oleh keluarganya

13
suka melamun
- tidak mau bergaul dengan teman-
teman yang lainnya
- jarang berkomunikasi dengan orang
lain.

Obyektif

- Klien terlihat tidak bersemangat


- tampak menyendiri
- menunduk kebawah serta kontak
mata tidak terlalu fokus saat
berbicara

Subyektif

- Pasien tidak mau minum obat kalau REGIMEN THERPEUTIK INEFEKTIF


tidak di paksakan oleh perawat
- pasien mengatakan pernah di rawat
pada tahun 2015 di bina laras
cengkareng
- pasien mengatakan pengobatan
ssebelumnya kurang berhasil karna
tidak teratur minum obat.

Obyektif

- Klien tampak murung


- tampak sedih.

14
C. POHON MASALAH

Resiko Prilaku Kekerasan

GSP Halusinasi

Isolasi Sosial
Regimen Therapeutik
Inefekif

Koping keluarga Harga Diri Rendah Waham


Inefektif

D. MASALAH KEPERAWATAN

1. Gangguan persepsi sensori halusinasi

2. Isolasi sosial

3. Harga diri rendah

4. Waham

5. Koping keluarga in efektif

6. Regimen therapeutik inefektif

7. Resiko prilaku kekerasan

15
BAB III

LANDASAN TEORI

A. Proses Terjadinya Masalah

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya

rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi

pada saat kesadaran individu itu penuh / baik. Individu yang mengalami halusinasi

seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi itu berasal dari

lingkungannya, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan

perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan

rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang diicintai, tidak

dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri.

Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri (self

esteem) dan keutuhan keluarga dapat merupakan penyebab terjadinya halusinasi.

Ancaman terhadap harga diri dan keutuhan keluarga meningkatkan kecemasan.

Gejala dengan meningkatnya kecemasan, kemampuan untuk memisahkan dan

mengatur persepsi, mengenal perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan perasaan

sendiri menurun, sehingga segala sesuatu diartikan berbeda dan proses rasionalisasi

tidak efektif tagi. Hal ini mengakibatkan lebih sukar lagi membedakan mana

rangsangan yang berasal dari pikirannya sendiri dan mana yang dari lingkungannya.

Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk

terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara

sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan

seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang

halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan).

16
B. POHON MASALAH

1.

Resiko mencederai diri sendiri

Perubahan persepsi sensori: halusinasi

Isolasi sosial: menarik diri

2. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji

Perubahan sensori perseptual: halusinasi

a. Data Subyektif :

 mendengar suara bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata

 melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata

 mencium bau tanpa stimulus

 merasa makan sesuatu

 merasa ada sesuatu pada kulitnya

 takut pada suara / bunyi / gambaran yang didengar

 ingin memukut / melempar barang – barang

b. Data Obyektif :

 berbicara dan tertawa sendirl

 bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu

 berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu

17
 disorientasi

Isolasi Sosial

 Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain

 Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain

 Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain

 Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu

 Klien tidak dapat berkonsentrasi dan membuat keputusan

 Klien merasa tidak berguna

 Klien mengatakan tidak yakin dapat melangsungkan hidup

Data obyektif :

 Tidak memiliki teman dekat

 Menarik diri

 Tidak komunikatif

 Tindakan berulang dan tidak bermakna

 Asik dengan pikirannya sendiri

 Tidak ada kontak mata

Resiko perilaku kekerasan

Data subyektif

 Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh,

ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.

 Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

 Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika

sedang kesal atau marah.

Data obyektif

18
 Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan

tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.

 Mata merah, wajah agak merah.

 Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.

 Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

 Merusak dan melempar barang barang.

C. Diagnosa Keperawatan

1.Perubahan sensori perseptual: halusinasi.

2.Isolasi sosial

2.Resiko perilaku kekerasan

D. FAKTOR PREDISPOSISI

Menurut Yosep, 2011

1) Faktor perkembangan

Perkembangan klien terganggu misalnya kurangnya mengontrol emosi dan

keharmonisan pasien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi

hilangnya percaya diri.

2) Faktor sosial kultural

Seseorang yang merasa tidak terima dilingkungannya sejak bayi akan

membekas diingatannya sampai dewasa dan ia akan merasa disingkirkan,

kesepian dan tidak percaya pada lingkungannya.

3) Faktor biokimia

19
Adanya stres yang berlebihan yang dialami seseorang maka dalam tubuhnya

akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia

sehingga menjadi tidak seimbang asetil kolin dan dopamine.

4) Faktor psikologis

Tipe kepribadian yang lemah tidak bertanggung jawab akan mudah terjerumus

pada penyalah gunaan zat adaptif. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan

lari dari alam nyata menuju alam nyata.

5) Pola genetik dan pola asuh

Hasil studi menunjukan bahwa faktor keluarga menunjukan hubungan yang

sangat berpengaruh pada penyakit ini.

B. FAKTOR PRESIPITASI

Penyebab halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi menurut (Yosep, 2011)

1) Dimensi fisik

Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan

yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium,

intoksikasi alkohol dan kesulitan waktu tidur kesulitan tidur dalam waktu

yang lama

2) Dimensi emosional

Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi

merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa

perintah memaksa dan menakutan. Klien tidak sanggup lagi menentang

perintah tersebut sehingga klien dapat berbuat sesuatu terhadap ketakutan.

3) Dimensi intelektual

Dalam dimensi intelektual ini merangsang bahwa individu dengan halusinasi

akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya

20
halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan implus yang

menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan

yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan

mengontrol semua prilaku klien.

4) Dimensi sosial

Klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata itu sangatlah

membahayakan, klien asik dengan halusinasinya. Seolah-olah dia

merupakan tempat akan memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol

diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi

dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika sistim

halusinasi berupa ancaman, dirinya maupun orang lain. Oleh karena itu,

aspek penting dalam melakukan intervensi keperawatan klien dengan

mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman

interpersonal yang memuaskan, serta menguasakan klien tidak dapat

menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungan dan

halusinasi tidak langsung.

5) Dimensi spritual

Klien mulai dengan kemampuan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya

aktifitas ibadah dan jarang berupaya secara spritual untuk menyucikan diri.

Ia sering memakai takdir tetapi lemah dalam upaya memanjat rejeki,

menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan takdirnya

buruk.

21
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI

Nama Klien : Tn. A Dx Medis : Skizofrenia

No RM : 038739

Dx Perencanaan
Tg
No Dx Keperaw
l Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
atan

Gangguan TUM :

persepsi 1. Ekspresi wajah bersahabat


Klien tidak mencederai 1. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan

22
sensori : orang lain menunjukan rasa senang ada kontak prinsip komunikasi terapentik.

halusinasi mata. Mau berjabat tangan, mau  Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non
Tuk 1 :
pendengar menyebutkan nama, mau menjawab verbal
Klien dapat membina
an salam, klien mau duduk  Perkenalkan diri dengan sopan
hubungan saling
berdampingan dengan perawat, mau  Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan
percaya
mengungkapkan masalah yang yang disukai klien

dihadapi.  Jelaskan tujuan pertemuan

 Jujur dan menepati janji

 Tunjukan sikp simpati dan menerima apa adanya

 Beri perhatian pada kebutuhan dasar klien

TUK 2 : 2. Klien dapat menyebutkan waktu, 2.1. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

Klien dapat mengenal isi, frekunsi dan situasi yang 2.2. Observasi tingkah laku klien terkait dengan

halusinasinya menimbulkan halusinasi halusinsinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus

memandang kekiri/ke kanan/ ke depan seolah-olah ada

teman bicara

2.3. Bantu klien mengenal halusinasinya :

23
a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi,

 Tanyakan apakah ada suara yang didengar

 Jika klien menjawab ada, lanjutkan : apa apa yang

dikatakan

 Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar

suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya

(dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau

menghakimi)

 Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien

 Katakan bahwa perawat akan membantu klien.

b.Jika Klien tidak sedang berhalusinasi klari fikasi

tentang adanya pengalaman halusinasi.

2.4. Diskusikan dengan klien :

 Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan

halusinasi ( jika sendiri, jengkel / sedih)

 Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,

24
siang sore, dan malam atau sering dan kadang-

kadang)

2. Klien dapat mengungkapkan 2.5. Diskusikan dengan klien bagaimana perasaannya jika

perasaan terhadap halusinasi nya terjadi halusinasi (marah/takut, sedih, senang) dan beri

kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.

TUK 3 : 3. Klien dapat menyebutkan tindakan 3.1. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang

Klien dapat mengontrol yang biasanya dilakukan untuk dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah,

halusinasinya mengendali-kan halusinasinya menyibukan diri dll)

3. Klien dapat menyebutkan cara baru

3.2. Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika

bermanfaat beri pujian

3.3. Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol

timbulnya halusinasi :

 Katakan : “saya tidak mau dengar/lihat kamu” (pada

25
saat halusinasi terjadi)

 Menemui orang lain (perawat/teman/anggota

keluarga) untuk bercakap cakap atau mengatakan

halusinasi yang didengar / dilihat

3. Klien dapat memilih cara  Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi

mengatasi halusinasi seperti yang tidak sempat muncul

telah didiskusikan dengan klien  Meminta keluarga/teman/ perawat menyapa jika

3. Klien dapat melaksanakan cara tampak bicara sendiri

yang telah dipilih untuk 3.4 Bantu Klien memilih dan melatih cara memutus

mengendalikan halusinasinya halusinasi secara bertahap

3. Klien dapat mengikuti terapi 3.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dilatih.

aktivitas kelompok Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil

3.6 Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok,

orientasi realita, stimulasi persepsi

TUK 4 : 4. Keluarga dapat membina 4.1 Anjurkan Klien untuk memberitahu keluarga jika

Kilen dapat dukungan hubungan saling percaya dengan mengalami halusinasi

26
dari keluarga dalam perawat 4.2 Diskusikan dengan keluarga )pada saat keluarga

mengontrol 4. Keluarga dapat menyebutkan berkunjung/pada saat kunjungan rumah)

halusinasinya pengertian, tanda dan tindakan  Gejala halusinasi yang di alami klien

untuk mengendali kan halusinasi  Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk

memutus halusinasi

 Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di

rumah : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan

bersama, berpergian bersama

 Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu

mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol, dan

resiko mencederai orang lain

TUK 5 : 5. Klien dan keluarga dapat 5.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang

Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan dosis,efek samping dan manfaat obat

memanfaatkan obat efek samping obat

dengan baik 5. Klien dapat mendemontrasi kan 5.2 Anjurkan Klien minta sendiri obat pada perawat dan

penggunaan obat dgn benar merasakan manfaatnya

27
5. Klien dapat informasi tentang

manfaat dan efek samping obat 5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat

5. Klien memahami akibat berhenti dan efek samping obat yang dirasakan

minum obat tanpa konsultasi

5. Klien dapat menyebutkan prinsip 5.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa

5 benar penggunaan obat konsultasi

5.5 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima)

benar

28
BAB IV

PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Diagnosa keperawatan : Gangguan Peresepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

Tujuan umum : Klien tidak mencederai orang lain

Hari senin, 12-03-2018 Tindakan yang telah dilakukan yaitu :

a. Membina hubungan saling percaya

b. Mengidentifikasi isi, waktu, frekuensi halusinasi

c. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi

d. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi

e. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam kegiatan

harian

Rencana tindak lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian, lanjut SP 2 ajarkan cara

mencegah halusinasi dengan cara bercakap-cakap

Evaluasi

S : - Klien mengatakan namanya Tn.A, klien mengatakan melihat bayangan-bayangan

hantu ketika menjelang tidur, klien mengatakan mendengar suara yang menyuruhnya

pergi pada saat sedang diam, klien mengatakan tau cara menghardik halusinasi,

O : klien mau berjabat tangan, klien mampu menyebutkanisi halusinasi, tampak

memperagakan responnya, klien mampu memperagakan cara menghardik,

A : Halusinasi (+)

P : anjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi ke dalam kegiatan

29
Harian

Hari selasa, 13-03-2018 tindakan yang telah dilakukan yaitu :

a. Mengevaluasi kegiatan harian

b. Mengajarkan cara mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap

c. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap-cakap ke dalam jadwal

kegiatan harian

Rencana tidak lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian, ajarkan cara mencegah halusinasi

dengan bercakap-cakap dan anjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap-cakap ke

dalam jadwal kegiatan harian.

Evaluasi

S : klien mengatakan sudah berlatih cara menghardik halusinasi, klien mengatakan

bisa berlatih cara bercakap-cakap dengan orang lain

O : klien mampu memperagakan kembali cara menghardik halusinasi, klien mampu

memperagakan cara bercakap-cakap dengan orang lain

A : halusinasi (+)

P : anjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap-cakap dengan orang lain ke

dalam jadwal kegiatan harian

Rabu, 14-03-2018 tindakan yang telah dilakukan :

a. Mengevaluasi kegiatan harian

b. Mengajarkan cara menghardik halusinasi dengan melakukan kegiatan

c. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan ke dalam jadwal kegiatan harian

30
Rencana tindak lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian, ajarkan cara menghardik

halusinasi dengan patuh obat dan anjurkan memasukkan kegiatan patuh obat ke dalam

jadwal kegiatan harian

S : klien mengatakan masih bisa cara bercakap-cakap dengan orang lain, klien

mengatakan ingin menyapu lantai saja,

O : klien mampu memperagakan kembali cara bercakap-cakap dengan orang lain,

klien mampu melakukan kegiatan menyapu lantai dengan baik

A : halusinasi (+)

P : anjurkan pasien memasukkan kegiatan menyapu lantai ke dalam jadwal kegiatan

harian

Kamis, 15-03-2018 tindakan yang telah dilakukan :

a. Mengevaluasi kegiatan harian

b. Mengajarkan pasien cara menghardik dengan cara patuh obat

c. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan patuh obat ke dalam jadwal kegiatan

harian

Rencana tindak lanjut yaitu evaluasi jadwal kegiatan harian, identifikasi penyebab

isolasi sosial, diskusikan keuntungan berinteraksi dengan orang lain, diskusikan

kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, ajarkan cara berkenalan dengan orang

lain dan anjurkan memasukkan kegiatan berkenalan ke dalam jadwal kegiatan harian.

Evaluasi :

S : klien mengatakan tadi pagi telah menyapu lantai dengan temannya, klien

mengatakan tahu keuntungan minum obat, klien mengatakan tahu kerugian tidak

minum obat dan tahu 5 benar obat.

31
O : klien mampu menyebutkan kegiatan yang telah dilakukan, klien mampu

menyebutkan 5 benar obat

A : halusinasi (+)

P : anjurkan pasien memasukkan kegiatan patuh obat ke dalam jadwal kegiatan

harian.

2. Diagnosa keperawatan : Isolasi Sosial

Tujuan umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain

Hari selasa, 20-03-2018 tindakan yang telah dilakukan yaitu :

a. Membina hubungan saling percaya

b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial

c. Mendiskusikan dengan klien ke untungan berinteraksi dengan orang lain

d. Mendiskusikan dengan klien kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain

e. Mengajarkan klien berkenalan dengan 1 orang

f. Menganjurkan pasien memasukkan ke dalam kegiatan harian

Rencana tidak lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian, lanjut SP2 : mempraktekan cara

berkenalan dengan 1 orang

Evaluasi

S : klien memperkenalkan dirinya/ pasien mengatan nama Tn.A, klien mengatakan tau

penyebab menarik diri, klien mengatakan tau keuntungan dan kerugian tidak

berinteraksi dengan orang lain, klien mengatakan sudah tau cara berkenalan dengan 1

orang.

32
O : klien terlihat senang, klien terlihat menyubtkan penyebab menarik diri, klien

terlihat, menceritakan keuntungan dan kerugian berinteraksi ayau tidak berinteraksi

dengan orang lain.

A : masalah SP2 Isolasi Sosial (+)

P : intervensi dilanjutkan ajarkan pasien untuk mengenal keuntungan dan kerugian

berinteraksi dengan orang lain.

Hari Rabu, 21-03-2018 tindakan yang telah dilakukan yaitu :

a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian

b. Memberikan kesempatan pada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan 1

orang.

c. Membantu pasien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain.

Rencana tindakan lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian, evaluasi pasien cara

berkenalan dengan 1 orang, Lanjut SP3 mempraktekan cara berkenalan dengan 2

orang.

Evaluasi

S: klien mengatakan rutin melakukan kegiatan harian, klien mengatakan mau

berkenalan dengan 1 orang, klien mengatakan mau berbincang – berbincang

O: Klien terlihat ikut kegiatan, klien terlihat berkenalan dengan 1 orang, klien terlihat

berbincang – bincang.

A: Masalah keperawatan Isolasi sosial (+)

P: Intervensi dilanjutkan anjurkan pasien berkenalan dengan 2 orang atau lebih,

masukan kedalam jadawal kegiatan harian.

33
Hari Kamis, 12-03-2018 Tindakan yang telah dilakukan yaitu :

a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

b. Memberikan kesempatan pada klien cara berkenalan

c. Menganjurkan pasien memasukan kedalam jadwal harian

Rencana tindak lanjut yaitu evaluasi kegiatan harian. Evaluasi SP 3 dan anjurkan

pasien memasukkan kegiatan berkenalan lebih dari 2 orang atau lebih ke dalam jadwal

kegiatan harian.

Evaluasi

S : - Klien mengatakan rutin mengikuti kegiatan, klien mengatakan sudah tau cara

berkenalan, klien mengatakan akan memasukan cara berkenalan kedalam jadwal

kegiatan harian.

O : Klien terlihat senang, klien terlihat kooperatif, klien terlihat senyum

A : isolasi social (+)

P : intervensi dilanjutkan ajarkan pasien cara berkenalan dan memasukan ke dalam

jadwal kegiatan harian.

34
BAB V

PEMBAHASAN

1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

Masalah keperawatan ini diangkat sesuai data subyektif dan obyektif yang

ditemukan pada pengkajian yaitu klien mendengar suara-suara yang menyuruhnya

untuk pergi dan mendengar suara orang bercakap-cakap, suara tersebut datang terus

menerus , suara itu sering muncul ketika sedang sendiri pada waktu pagi, siang, sore

dan malam, dan respon klien ketika mendengar suara tersebut berusaha untuk

melawannya dengan menutup telinga. Data obyektif yang ditemukan yaitu klien

terlihat menunjuk- nunjuk ke arah tertent terlihat mengarahkan telinga ke arah

tertentu, terlihat menutup telinga ketakutan, terlihat ketawa sendiri, dan berbicara

sendiri. Hal ini seuai dengan teori tanda dan gejala yang ada pada masalah halusinasi

pendengaran yaitu biasanya klien mendengar suara bunyi yang tidak berhubungan

dengan stimulus nyata, takut pada suara / bunyi / gambaran yang didengar, berbicara

dan tertawa sendirl, bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu, dan berhenti bicara

ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu. Tindakan yang telah dilakukan yaitu

pada pertemuan pertama membina hubungan saling percaya, meingidentifikasi isi

halusinasi, mengajarkan cara menghardik, dan menganjurkan pasien memasukkan

kegiatan menghardik ke dalam jadwal kegiatan harian. Pertemuan kedua yaitu

mengevaluasi kegiatan harian, mengajarkan cara mencegah halusinasi dengan

bercakap-cakap. Pertemuan ketiga yaitu mengevaluasi kegiatan harian, mengajarkan

cara mencegah halusinasi dengan kegiatan dan menganjurkan pasien memasukkan

kegiatan ke dalam jadwal harian. Pertemuan ke empat mengevaluasi kegiatan harian

35
dan mengajarkan pasien patuh obat. Dalam melakukan tindakan keperawatan pengkaji

kesulitan dalam meyakinkan klien untuk mau menghilangkan suara-suara halusinasi

tersebut. Selain itu, pada saat pengkajian klien sering tidak berada di ruangan karena

diberikan terapi ECT. Cara penanggulangannya adalah komunikasi dengan klien

sesering mungkin dan minta bantuan perawat lain untuk dilakukannya strategi

pelaksanaan.

2. Isolasi sosial

Masalah keperawatan yang kedua ini juga sesuai dengan data subyektif dan

obyektif yang ditemukan pada masalah keperawatan isolasi sosial yaitu klien

mengatakan dulu dilingkungan masyarakatnya tidak pernah ikut kegiatan karna malas,

Klien mengatakan malas berinteraksi dengan yang lain, klien merasa tidak aman

berada di dekat orang disekitarnya, klien mengatakan lebih senang duduk sendiri

daripada ngobrol dengan yang lainnya, klien mengatakan tidak memiliki teman dekat.

Sedangkan data obyektifnya yaitu, Klien tampak menyendiri, Tampak jarang

bercakap-cakap dengan orang disekitarnya, duduk menyendiri, mengurung diri, tidak

ada kontak mata pada saat berbicara, tampak sedih, tampak tidak memilki teman

dekat, tidur meringkuk dengan bicara sendiri dan tidak mau di ajak ngobrol dengan

teman-teman disekitarnya. Data subyektif dan obyektif yang telah ditemukan pada

masalah keperawatan isolasi sosial sesuai degan teori yang ada yaitu Klien

menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain, Klien merasa tidak aman

berada dengan orang lain, Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan

orang lain. Untuk data obyektif yaitu klien Tidak memiliki teman dekat, Menarik diri,

Tidak komunikatif, Asik dengan pikirannya sendiri dan Tidak ada kontak mata.

Tindakan yang telah dilakukan adalah mengidentifikasi penyebab klien menarik diri,

mendiskusikan keuntungan berinteraksi dengan orang lain, mendiskusikan kerugian

36
tidak berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan cara berkenalan dengan orang lain

dan menganjurkan pasien memasukkan kegiatan berkenalan dengan orang lain ke

dalam jadwal kegiatan harian. Pertemuan selanjutnya mengevaluasi kegiatan harian,

memberi kesempatan pada klien untuk berkenalan dengan satu orang dan

menganjurkan pasien memasukkan ke dalam kegiatan harian. Pertemuan selanjutnya

yaitu mengevaluasi kegiatan harian, memberi kesempatan berkenalan dengan dua

orang lain atau lebih. Hambatan dalam merawat pasien pada masalah keperawatan ini

adalah klien belum mampu melaksanakan interaksi sosial secara mandiri. Cara

penanggulangannya adalah sering mengingatkan klien untuk selalu berinteraksi

dengan orang lain serta mendampingi klien dalam berinteraksi dengan orang lain.

37
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi,

ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu dilakukannya pendekatan

secara terus menerus, membina hubungan saling percaya yang dapat menciptakan

susunan suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan.

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien khususnya dengan halusinasi,

pasien sangat membutuhkan kehadiran keluarga sebagai sistem pendukung, mengerti

keadaan dan permasalahan dirinya. Disamping itu perawat atau petugas kesehatan

juga membutuhkan kehadiran keluarga dalam memberikan data yang diperlukan dan

membina kerjasama dalam memeberikan perawatan .

B. Saran

Dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya perawat mengikuti

langkah proses keperawatan dan melaksanakannya secara sistematis dan tertulis agar

tindakan berhasil secara optimal. Dalam mengenai kasus halusinasi, hendaknya

perawatan melakukan pendekatan secara bertahap dan membina hubungan saling

percaya antara perawat dan klien.

38
DAFTAR PUSTAKA

Febida, Melly. 2007. Gangguan Jiwa atau Sakit Jiwa. Jakarta. EGC

Yosep, I. 2011. Keperawatan Jiwa, Edisi 4. Jakarta : Refika Aditama

Kusumawati, F. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika

A.Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : PT. Refika Aditama

Depkes RI. 2008. Keperawatan Jiwa : Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa : Depkes RI

Hendriyana, Artanti. 2013. Setiap Tahun Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Terus
Meningkat. http ://www.unpad.ac.id/profil/dr-suryani-skp-mhsc-setiap-setiap-tahun-
penderita-gangguan-jiwa-di-indonesia-terus-meningkat/(diakses tanggal 28 maret 2018)

39