Anda di halaman 1dari 5

Pendahuluan

Di masa kini budaya free sex semakin marak, banyak orang yang sering berganti-ganti
pasangan. Free sex tidak hanya dilakukan orang dewasa, anak-anak dibawah umur pun sudah
mulai banyak yang melakukannya. Kegiatan seksual ini kian waktu makin beragam
macamnya, tidak hanya pasangan berbeda jenis, tapi pasangan sesama jenis pun melakukan
kegiatan ini. Bersamaan dengan peningkatan tersebut, terjadi juga peningkatan pada penyakit
HIV/AIDS. Tiga negara tertinggi yang terjangkit HIV/AIDS paling banyak adalah Afrika
Selatan, Nigeria, dan India, dengan angka tertinggi 5,7 juta. Di Indonesia terdapat kira-kira
270.000 orang yang mengidap HIV.1 Salah satu penyebaran HIV/AIDS tertinggi terjadi pada
kaum gay dan waria.

Pembahasan

Homoseksual

Homoseksual adalah ketertarikan melakukan hubungan seks dengan sesama jenis (pria
dengan pria atau wanita dengan wanita).2 Homoseksual yang melibatkan pasangan perempuan
dinamakan lesbian, sedangkan yang melibatkan pasangan laki-laki dinamakan gay.

Kecenderungan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain biologis, psikologis
dan lingkungan. Dalam bidang psikologi, kasus homo atau lesbi tidaklah dikatakan sebagai
penyakit. Mereka tidak menganggap kaum homoseksual berbeda dengan yang lain. Kaum
homoseksual bisa terjadi karena lingkungan sosial yang menyebabkan mereka memilih untuk
melakukan perilaku tersebut. dapat disebabkan karena pengalaman, seperti pernah mengalami
sodomi atau diperlakukan tidak sesuai jenis kelaminnya. Selain itu dapat juga disebabkan
karena sesat pikir yang terjadi, yaitu two wrong make a right. Sesat pikir two wrong make a
right adalah sesat pikir yang terjadi ketika seseorang mencoba membenarkan tindakan atau
argumennya dengan menyalahkan orang lain yang juga melakukan hal tersebut. Ia
beranggapan karena ada orang lain yang juga melakukan kesalahan seperti dirinya, hal yang
ia lakukan adalah hal yang benar.3 Bisa juga terjadi karena orang tersebut ingin melakukan
kegiatan seksual tanpa ada kemungkinan kehamilan, karenannya ia memilih untuk
berhubungan seks dengan laki-laki.
Pada faktor lingkungan sosial budaya, dapat disebabkan karena lingkungan tempat ia
dibesarkan, jika dalam lingkungan itu terdapat perilaku homoseksual, ada kemungkinan orang
tersebut bisa terpengaruh dan mengikuti perilaku tersebut.

Dalam bidang kedokteran berpendapat bahwa homoseksualitas dapat disebabkan oleh


faktor biologis, yang terletak pada masalah gen atau ketidakseimbangan hormon. 4

Pada kasus penyakit menular seksual (PMS), kaum yang lebih sering terjangkit adalah
kaum gay. Para kaum gay memperoleh kepuasan seksual dengan cara oral erotisme, anal
erotisme, atau interfemoral hubungan seksual (melalui sela-sela paha).4 Oral erotisme adalah
kegiatan seksual yang menggunakan mulut, area mulut sangat mudah untuk terjadi luka,
karenannya penularan PMS akan lebih mudah terjadi. Sama halnya dengan anal yang
dilakukan melalui lubang anus. Lubang anus tidaklah elastis, karenannya terjadi luka akibat
penetrasi mudah terjadi.

HIV/AIDS

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit


akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV (human
immunodeficiency virus).5 HIV adalah retrovirus yang berarti bahwa virus ini mengandung
RNA yang membentuk salinan DNA virus RNA tersebut, salinan DNA tersebut mampu
menyatu dengan sel pejamu, tempat salinan DNA tersebut mengubah kromosom danterjadi
replikasi RNA virus lebih lanjut.6 AIDS adalah penyakit yang merusak system kekebalan
tubuh, virus ini akam masuk ke tubuh dan menyerang sel yang merupakan bagian dari system
kekebalan tubuh dan mengubah sel yang terinfeksi menjadi pabtik virus, menggandakan diri
dalam jumlah yang amat banyak, menyerang dan menaklukan sel-sel lain yang merupakan
bagian penting bagi kekebalan tubuh kita.7

Karena HIV kekebalan tubuh kita yang rusak tidak bisa menangkal penyakit, bahkan
penyakit yang ringan seperti flu atau demam dapat menyebabkan kematian.

Gejala yang kita rasakan bila terkena AIDS antara lain, keringat di malam hari,
demam, batuk, sesak napas, diare, hilangnya nafsu makan, lelah, kehabisan tenaga, ruam yang
tidak bisa sembuh, bercak-bercak putih atau sariawan di mulut, dan ada kemungkinan terjadi
pembengkakan kelenjar getah bening dalam waktu lama di leher, ketiak, atau pangkal paha.7
Penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui 3 cara, yaitu penularan melalui ibu kepada
anak, melalui darah, dan melalui hubungan seks. Penularan dari ibu kepada anaknya dapat
terjadi ketika anak dalam kandungan, saat persalinan, dan tertular melalui pemberian ASI.
Penularan melalui darah dapat terjadi melalui tranfusi darah dan penggunaan alat yang tidak
steril (jarum suntik, tindik, dan lain-lain).8

Untuk mencegah terjangkit virus HIV/AIDS yang paling mudah adalah dengan tidak
melakukan hubungan seks dengan orang yang terjangkit HIV, jangan menggunakan jarum
suntik secara bergantian. Untuk kaum homoseksual, dalam kegiatan seks nya pastikan untuk
menggunakan kondom yang diperuntukan bagi kaum homoseksual. Dan bagi kaum
heteroseksual, pastikan untuk tidak berganti-ganti pasangan, dan melakukan hubungan seks
hanya dengan pasangannya saja.

Untuk penanggulangan kasus HIV/AIDS pada kaum homoseksual, khususnya kaum


gay dan waria, dapat dilakukan melalui 3 aspek, yaitu aspek sosial, aspek agama, dan aspek
medis.

Masyarakat Indonesia masih belum dapat menerima kaum gay dan waria dengan besar
hati. Mereka masih merasa masalah ini adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan. Kaum
gay dan waria menjadi takut akan dikucilkan atau dianggap rendah jika ketahuan, karenannya
mereka kebanyakan menyembunyikan diri mereka. Tidak hanya di Indonesia, di Amerika
yang merupakan negara bebas saja, banyak kaum gay yang merasa malu untuk mengakui diri
mereka, karena adanya kaum homophobia. Kaum homophobia ini mempunyai phobia
terhadap kaum gay. Para kaum gay yang malu untuk menyatakan dirinya gay, sering berusaha
menutupi dengan berhubungan dengan kaum perempuan. Selain itu juga mereka malu untuk
pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan karena takut dipandang sinis karena
orientasi seksual mereka. Karena hal tersebut, banyak PMS, terutama HIV pada kaum gay
tidak diketahui. Ketika mereka melakukan hubungan seks dengan pasangan laki-laki atau
perempuannya, dapat terjadi pertularan virus tersebut. Tindakan yang seharusnya di ambil
masyarakat adalah tetap memandang kaum gay sederajat. Kita tidak boleh merendahkan
mereka, karena pada dasarnya mereka tetap mahluk ciptaan Tuhan. Kita harus bisa menerima
mereka dengan besar hati dan mencoba untuk membantu mereka mencari solusi yang terbaik.
Dapat juga kita membuat organisasi yang kusus untuk menangani mereka, sehingga mereka
tidak perlu malu lagi dengan jati diri mereka.
Dalam aspek agama dikatakan bahwa homoseksual itu dilarang. Tapi Tuhan akan
selalu menerima mereka yang meminta pengampunan padanya. Dalam aspek ini kita dapat
mengajak mereka untuk meminta pengampunan dosa di gereja atau mengajak mereka untuk
berdoa dan bertobat kepada Tuhan.

Dalam aspek medis dapat dilakukan tindakan sesuai tahapan-tahapannya yang adalah,
infeksi dini, stadium lanjut dan fase terminal. Pada infeksi dini dapat diberikan obat
Zidovudin (ZDV), Dindanosin (DDI), Dideoxycytidine (DDC), HEPT dan TIBO serta terapi
kombinasi seperti Triple (Saquinavir, ZDV dan DDC), Double (DDC+ZDV atau
DDC+Saquinavir). Pada stadium lanjut dapat diberikan obat Zidovudin dan pengobatan
infeksi oportunistik. Infeksi pada mereka yang terjangkit HIV sangat rawan, walau infeksi
yang sangat kecil, karenannya harus segera di tangani agar tidak semakin parah. Pada fase
terminal tidak banyak yang bisa dilakukan, tindakan yang bisa diberi adalah tindakan-
tindakan yang berguna untuk membuat mereka lebih nyaman, seperti memberi obat penahan
rasa sakit, bebas rasa mual, sesak, mengatasi infeksi yang ada dan mengurangi rasa cemas. 9
Daftar pustaka

1. Wikipedia. List of countries by hiv/aids adult prevalence rate. Diperbaharui tanggal 19


October 2011. Diunduh dari http://en.wikipedia.org, 3 November 2011.
2. Sunaryo. Psikologi untuk keperawatan. Cetakan ke-1. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2004: 243.
3. Bowell T, Kemp G. Critical thinking: A concise guide. 3rd ed. New York: Routledge,
2010: 211.
4. Hasan S, Nasma A. Let’s talk about love. Cetakan ke-1. Solo: Penerbit Tiga
Serangkai, April 2008: 57-8
5. Efendi F, Makhfudli. Keperawatan kesehatan komunitas: teori dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika, 2009: 227.
6. Brooker C. Ensiklopedia keperawatan. Cetakan ke-1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2009: 198-9.
7. Anonim. It happened to Nancy: a true story from her diary. Cetakan ke-2. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, Mei 2005: 275-6.
8. Nurusalam, Kurniawati ND. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi hiv/aids.
Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Salemba Medika, 2007: 67.
9. Tjhay F. Homoseksual dan penyakit menular seksual. Maj Kedokt Damianus 2009
Jan; 8(1): 47-57.