Anda di halaman 1dari 5

Jumlah Kata : 1.

525
PEMBENAHAN TRANSPORTASI DALAM PEMBANGUNAN KOTA YANG
BERKELANJUTAN
Oleh : Mohammad Rafli
NIM. 21040117410037
Magister Pembangunan Wilayah dan Kota 2017, UNDIP

PENDAHULUAN

Perkembangan kota di Indonesia saat ini berada pada kondisi mengalami pertumbuhan urbanisasi yang
tinggi. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan meningkat seiring dengan tingginya tingkat
urbanisasi. Fenomena urbanisasi yang tinggi di daerah perkotaan secara linier berpengaruh terhadap
masalah kemacetan lalu lintas. Hal ini menjadi hambatan yang serius dan dapat mengancam
perkembangan wilayah perkotaan. Sistem transportasi yang ada tidak dibarengi dengan perencanaan yang
matang dan hanya mengatasi masalah sesaat saja. Permasalahan transportasi perkotaan tidak hanya
sebatas pada solusi mengatasi kemacetan dan kepadatan lalu lintas namun lebih jauh lagi harus mencari
solusi untuk menekan arus pergerakan manusia dan barang secara terintegrasi dan pada akhirnya
menjadikan pembangunan wilayah perkotaan secara berkelanjutan.

Negara berkembang seperti Indonesia, fenomena masalah transportasi selalu dikaitkan dengan
pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat yang tidak dibarengi dengan kondisi jaringan jalan dan
moda transportasi yang memadai. Pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan sebagai akibat dari tingginya
tingkat urbanisasi yang berimplikasi kepada semakin padatnya penduduk perkotaan sehingga akan
mengurangi daya saing terhadap sistem transportasi wilayah perkotaan (Susantoro dan Parikesit dalam
Fahmi, 2009).

Wilayah perkotaan yang menjadi sasaran kegiatan perekonomian masyarakat semakin lama akan
mengalami tekanan sebagai implikasi besarnya pemenuhan ruang aktifitas. Oleh karena itu, kebijakan
stakeholder dalam merencanakan dan mengintegrasikan ruang perkotaan harus mempertimbangkan
segala potensi dan kendala wilayah perkotaan (Suweda, 2011). Ruang perkotaan haruslah memiliki
hubungan yang seimbang antara kepadatan bangunan dan ruang terbuka hijau sehingga tekanan terhadap
ruang perkotaan dapat dibatasi (Trancik dalam Suweda, 2011). Tekanan terhadap wilayah perkotaan akan
mengakibatkan ancaman terhadap keberlanjutan wilayah sehingga hal ini perlu diantisipasi lebih dini
dengan kebijakan menyeimbangkan ruang dan aktifitas perkotaan. Pemerintah sebagai pengambil
kebijakan harus dapat merencanakan perkotaan dengan baik dan seimbang. Disatu sisi, mampu
Jumlah Kata : 1.525
memberikan rasa keadilan terhadap ruang dengan segala potensi dan kendala yang dimilikinya dan disisi
lain dapat memenuhi aktifitas perekonomian masyarakat perkotaan.

Aktifitas perekonomian akan menimbulkan peningkatan pergerakan manusia dalam perkotaan. Manusia
akan bergerak dari tempat permukiman menuju tempat perkantoran dan perdagangan. Sehingga hal ini
akan mempengaruhi sistem transportasi perkotaan dengan keterbatasan ruang yang ada. Faktor
keseimbangan tata guna lahan, pembatasan jumlah kendaraan pribadi, dan pengembangan transportasi
umum merupakan faktor yang mempengaruhi keseimbangan sistem transportasi di wilayah perkotaan
(Haryadi dan Riyanto, 2007).

Pengembangan kota yang berkelanjutan secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem transportasi yang
meliputi transportasi umum dan kendaraan pribadi (Suweda, 2011). Beberapa faktor penyebab tekanan
pada wilayah perkotaan yaitu jumlah kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat semakin
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk perkotaan. Sedangkan angkutan umum yang
tersedia sangat terbatas dan tidak didukung dengan moda transportasi yang baik, aman, dan nyaman.
Kondisi ini juga tidak dibarengi dengan infrastruktur perkotaan yang memadai seperti jaringan jalan dan
sistem pergerakan lalu lintas yang tidak terintegrasi. Faktor lainnya adalah kinerja penyelenggaraan
transportasi perkotaan oleh pemerintah yang rendah dan tidak diiringi dengan perencanaan transportasi
secara komprehensif, terstruktur, dan terintegrasi (Sukarto, 2006). Permasalahan transportasi yang terjadi
pada wilayah perkotaan juga disebabkan adanya tarikan pergerakan aktifitas. Pergerakan aktifitas tersebut
menimbulkan beberapa titik pertemuan kendaraan terutama pada kawasan inti kota seperti kawasan pusat
perbelanjaan, perkantoran, pendidikan, dan permukiman. Titik pertemuan tersebut biasa terlihat pada
jam-jam puncak aktifitas seperti pada pagi hari dan sore hari disaat pergi dan pulang kerja.

Masalah transportasi perkotaan akan berimbas pada timbulnya kerugian yang sangat besar bagi pengguna
jalan terutama pemborosan dari segi waktu dan kenyamanan lingkungan (Tamin, 1999). Pengguna jalan
akan merasakan kerugian waktu beraktifitas dan lamanya perjalanan menimbulkan banyaknya pengeluaran
bahan bakar kendaraan. Jika kemacetan lalu lintas terus terjadi, maka fungsi perkotaan sebagai ruang
aktifitas masyarakat akan mengalami kemunduran dan rentan ketahanan. Oleh karena itu, perlu upaya
solusi pemecahan masalah transportasi dengan mempertimbangkan segala aspek terutama keberlanjutan
kota di masa yang akan datang.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH TRANSPORTASI

Untuk memperoleh alternatif pemecahan transportasi, maka terlebih dahulu harus dipahami peran
masing-masing stakeholders transportasi perkotaan secara komprehensif dan terintegrasi. Seperti telah
dibahas sebelumnya, pihak yang berperan dalam transportasi perkotaan adalah pemerintah dan
Jumlah Kata : 1.525
masyarakat. Pemerintah dalam hal mengatur dan memanajemen kebijakan transportasi sedangkan
masyarakat adalah pengguna transportasi yang melakukan pergerakan aktifitas perekonomian. Pemerintah
sudah berupaya untuk mengatasi masalah transportasi kota dengan membenahi sistem angkutan massal
seperti peremajaan sistem angkutan umum massal (SAUM) dan perbaikan dan pengadaan infrastruktur
kota seperti jaringan jalan, terminal, dan rambu lalu lintas. Sedangkan dari sisi masyarakat, mulai
meningkatnya kepedulian masyarakat akan disiplin berlalu lintas dan pemanfaatan angkutan umum
sebagai moda transportasi mulai tinggi.

Upaya pemerintah dalam pembenahan transportasi perkotaan perlu dilakukan peningkatan


keefektifannya. Sistem angkutan umum massal (SAUM) yang dilakukan masih belum terintegrasi, rasa
aman, nyaman, dan ketepatan waktu yang diinginkan penumpang masih belum dipenuhi oleh angkutan
umum massal (Sukarto, 2006). Sehingga pergerakan manusia terganggu dan keinginan untuk beralih
menggunakan kendaraan pribadi masih tinggi. Untuk mengimbangi dan menekan laju peningkatan
penggunaan angkutan pribadi, harus dilakukan perbaikan pada sistem angkutan umum berdasarkan
kemampuan angkut yang besar, kecepatan tinggi dan kenyamanan perjalanan yang memadai, dan dengan
biaya perjalanan yang terjangkau (Tamin, 2000).

Sukarto, (2006) berpendapat beberapa upaya yang perlu dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah
transportasi perkotaan yaitu :

a. Peningkatan jaringan jalan dengan membuka rute alternatif baru;


Hal ini perlu dilakukan guna memecah arus pergerakan manusia dan mengurangi kepadatan lalu lintas
terutama pada titik pertemuan pergerakan.
b. Penyediaan lajur khusus untuk bus kota (busway);
Penyediaan lajur khusus untuk bus kota dapat menarik pengguna jalan sebagai alternatif mengurangi
jarak tempuh. Hal ini memungkinkan pengguna jalan beralih menggunakan angkutan umum massal.
c. Kebijakan pembatasan penumpang;
Pengaturan lalu lintas yang dilakukan adalah membatasi kendaraan pribadi yang berpenumpang lebih
khususnya pada waktu jam-jam sibuk.
d. Kebijakan pembatasan mobil pribadi;
Pengaturan lalu lintas ini dilakukan dengan membatasi mobil pribadi berdasarkan usia kendaraan.
e. Pembangunan jalan layang (flyover) atau underpass;
Kebijakan ini dilakukan dengan menambah jaringan jalan dan pembuatan jalan flyover atau underpass.
Namun perlu biaya yang lebih dalam membangun jalan ini.
f. Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) terintegrasi;
Jumlah Kata : 1.525
Saat ini masih terlihat sistem angkutan umum massal belum terintegrasi dengan baik. Masih banyak
rute-rute jalan yang tidak dijangkau oleh angkutan umum. Sehingga penumpang merasa susah dan
terbatas pergerakannya. Oleh karena itu, perlu upaya untuk membuat regulasi dalam
mengintegrasikan angkutan umum massal sampai keseluruh rute kota.
g. Pembenahan angkutan umum dan trayek;
Angkutan umum yang perlu dibenahi adalah angkutan kota (angkot), bis kota, busway, dan moda
angkutan umum lainnya yang dirasa tidak memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat
pengguna angkutan umum. Selain itu, trayek angkutan perlu dibenahi khususnya penegakan disiplin
trayek bagi angkutan umum yang menyalahi trayek.
Beberapa upaya diatas merupakan penerapan rekayasa dan pengelolaan lalu lintas dalam mengatasi
permasalahan transportasi perkotaan. Aspek lain dalam upaya pembenahan transportasi kota yang
berkelanjutan adalah tinjauan dari aspek tata guna lahan perkotaan. Konsep pendekatan ini dilakukan
dengan upaya pengaturan pola tata guna lahan. Semakin jauh lokasi satu dengan lokasi lainnya akan
memperpanjang transportasi, begitu sebaliknya semakin pendek lokasi kegiatan maka semakin pendek
pula transportasi yang harus dilakukan (Wibawa, 1998). Dengan demikian, transportasi masyarakat kota
dapat diatur dengan pola penataan tata guna lahan perkotaan. Misalnya, masyarakat tidak harus
melakukan pergerakan transportasi yang jauh jika ingin belanja, rekreasi, dan sebagainya. Pengaturan tata
guna lahan dapat dilakukan dengan membangun unit permukiman yang dilengkapi dengan fasilitas sosial
seperti perkantoran perbelanjaan, rekreasi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Sehingga masyarakat
beraktifitas dengan baik tanpa melakukan pergerakan transportasi yang akan mengurangi beban dan
tekanan wilayah perkotaan.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pembenahan transportasi merupakan bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan. Pembenahan ini
tidak hanya mengatur sistem penerapan rekayasa dan pengelolaan lalu lintas dalam mengatasi
permasalahan transportasi perkotaan. Lebih jauh dari itu, pembenahan ini harus diikuti dengan pengaturan
tata guna lahan perkotaan khususnya pola permukiman yang harus dilengkapi dengan fasilitas sosial
seperti perkantoran perbelanjaan, rekreasi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian
pembenahan transportasi di perkotaan harus dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif.

Sistem transportasi perkotaan yang baik harus mampu mengatasi masalah kemacetan lalu lintas dengan
beberapa upaya penerapan rekayasa dan pengelolaan lalu lintas diantaranya adalah peningkatan jaringan
jalan dengan membuka rute alternatif baru, penyediaan lajur khusus untuk bus kota, kebijakan
pembatasan penumpang, kebijakan pembatasan mobil pribadi, pembangunan jalan layang (flyover) atau
underpass, Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) terintegrasi, dan pembenahan angkutan umum dan
Jumlah Kata : 1.525
trayek. Sebagai alternatif solusi pemecahan masalah transportasi kota, perlu pengembangan sistem
transportasi yang menghubungkan keseluruhan bagian kota baik antara pusat kota maupun sub-pusat
kota.

Berdasarkan uraian diatas, perlu upaya Pemerintah untuk mengatur dan memanajemen kebijakan
pembenahan transportasi dengan mempertimbangkan aspek pola tata guna lahan perkotaan. Kebijakan
pembenahan ini dalam rangka upaya mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, Khairul (2009). “Pengembangan Kawasan Sudirman”, Jakarta.

Haryadi, Bambang, dan Riyanto, Bambang. (2007). “Kepadatan Kota Dalam Perspektif Pembangunan
(Transportasi) Berkelanjutan”, Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan, Vol. 9 no. 2, Juli 2007, hal. 87-96,
Semarang.

Sukarto, Haryono (2006). “Pemilihan Model Transportasi di DKI Jakarta dengan Analisis Kebijakan “Proses
Hirarki Analitik”, Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3 no. 1, Januari 2006, Banten.

Suweda, I Wayan (2011). “Penataan Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Berdaya Saing da Berotonomi”,
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, Vol. 15 no. 2, Juli 2011, Denpasar.

Tamin, O.Z. (2000). “Perencanaan dan Permodelan Transportasi”, Bandung : Penerbit ITB.

Tamin, O.Z. (1999). “Konsep Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) sebagai Alternatif Pemecahan
Masalah Transportasi Perkotaan di DKI Jakarta”, Jurnal PWK, Vol. 10 no. 1, Maret 1999, Bandung.

Wibawa, Bayu Arie (1998). “Tata Guna Lahan dan Transportasi dalam Pembangunan Berkelanjutan”,
Semarang.