Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

“ Tidur dalam Pandangan Islam “

DISUSUN OLEH :

RIKA SURYANA
20160320115

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Tidur dalam Pandangan Islam “ ini dengan tepat waktu.

Penulis mengharapkan dengan adanya makalah “Tidur dalam Pandangan


Islam“ ini dapat membatu dan memudahkan pembaca dalam memahami tentang
keistimewaan sholat tahajud dalam spiritual dan kesehatan serta dapat
mengaplikasikannya secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekukarangan dari makalah “Tidur


dalam Pandangan Islam” ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya,
mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk memperbaiki
segala kekurangan di makalah selanjutnya.

Yogyakarta, 22 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1

1.2 Tujuan ............................................................................................... 1

1.3 Manfaat ............................................................................................. 2

1.4 Metode penulisan .............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tidur .............................................................................. 3

2.2 Adab-adab Sebelum Tidur ................................................................5

2.3 Sunnah-sunnah Setelah Bangun Tidur .......................................... 11

2.4 Penerapan pada Pasien dengan Gangguan Tidur ......................... 11

BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tidur merupakan sebuah aktivitas yang bersifat fitrah dan alami yang dialami
oleh setiap insan, sehinga kadang ia nampak sebagai sebuah aktivitas yang remeh
dalam pandangan kita. Ada banyak mitos, baik dalam kesehatan maupun tinjuan
agama, misalnya, tidur harus 8 jam sehari, tidak boleh kurang maupun lebih. Atau
yang kerap kita dengar, tidur erat kaitannya dengan kematian, karena roh bepergian
ketika kita tertidur. Lalu, bagaimana sebenarnya makna tidur ini?
Islam mempunyai ketertarikan dalam membahas tentang teori tidur. Dalam
Islam kita mengenal dua sumber yang dijadikan pedoman hidup yaitu Al-qur’an
dan Sunnah. Dalam Al-qur’an, bahasan tentang tidur sempat disebutkan beberapa
kali. Begitupun dalam as-sunnah, terdapat pula beberapa hadist yang menjelaskan
tentang tidur.
Islam telah mengaturnya sedemikian rupa dan detailnya sehingga kaum
muslimin tetap berkesempatan untuk tetap mendapatkan pahala di dalam tidurnya.
Pahala tersebut dapat diraih apabila ia dikerjakan sesuai dengan petunjuk dan adab-
adab yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, hendaklah kita
senantiasa berlomba-lomba untuk ber-mutaba’ah kepada Beliau dalam hal sekecil
apapun tak terkecuali dalam masalah tidur ini agar setiap detik dari hidup kita
bernilai ibadah.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Dasar
b. Mengetahui Tidur dalam pandangan Islam
c. Mengetahui Adab – adab tidur dalam Islam
d. Mengetahui Sunnah Rasulullah setelah bangun tidur
e. Mengetahui penerapan adab tidur dalam islam pada pasien dengan
gangguan tidur

1
1.3 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
a. Memberikan edukasi tentang makna Tidur dari sudut pandang Agama
Islam
b. Memberikan edukasi cara mempraktekkan Tidur dengan baik dan benar
sesuai ajaran Islam
c. Memberikan edukasi penerapan adab tidur dalam islam pada pasien
gangguan tidur

1.4 Metode penulisan


Metode penulisan dari berbagai sumber Al-Qur’an, Hadis, Buku dan Jurnal

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tidur


Tidur adalah rihlah (rekreasi)nya ruh dengan naiknya ia ke atas langit,
dimana ketika itulah Allah mengenggam ruh tersebut. Allah memberikan kita
permisalan tentang kematian dan kebangkitan seperti permisalan tidur dan bangun,
sehingga dekatlah maknanya dan menjadikan akal kita mudah memahaminya.
Allah SWT berfirman :

Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar [39]:42)

Sebagian ulama salaf berkata, “Allah menggenggam jiwa orang yang telah
mati ketika dia mati dan memegang jiwa orang yang hidup ketika tiurnya. Maka,
jika yang Allah kehendaki untuk saling mengenal akan saling mengenal. Kemudian,
Dia menahan jiwa orang yang telah mati dan melepaskan jiwa yang lainnya sampai
waktu yang ditentukan, yaitu sampai sisa ajalnya. Sebagaimana firman Allah SWT
:

3
Artinya : “Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui
apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu
pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian
kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang
dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas
semua hamba-Nya, diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga
apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, dia diwafatkan oleh
malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan
kewajibannya. (Al-An’am [6]:60-61)

Ibnu katsir berkata dalam tafsifnya, “Allah SWT mengatakan bahwa Dia
mematikan hamba-Nya ketika tidur di malam hari. Dengan begitu, maka tidur
merupakan kematian kecil. Pada ayat ini, Allah menyebutkan perihal dua kematian;
besar dan kecil. Maka, pada tempat ini Dia menyebutkan hukum dua kematian;
yang kecil kemudian yang besar.”

Syaikh Utsaimin berkata dalam kitabnya Syarh Riyadh Ash-Shalihin (Juz


2, hal 654), “Tidur adalah salah satu ayat (tanda kuasa) Allah SWT. Sebagai contoh,
suatu kaum yang tidur di kamar, teras atau di atas tanah; maka mereka tidur
layaknya mayat yang tidak dapat merasakan sesuatu. Lalu, mereka semua akan
dibangkitkan Allah SWT. Kemudian, manusia diberi gambaran tentang tidur
dengan gambaran yang lain yaitu, dihidupkannya kembali orang-orang yan sudah
mati setelah kematiannya. Maka Dzat yang mampu untuk mengembalikan ruh

4
ketika manusia tersadar dan bangkit dari tidurnya lalu melkukan segala aktiviasnya
di dunia, juga mamu untuk membangkitkan orang-orang yang mati dari kuburan
mereka dan berkuasa atas segala sesuatu.”

2.2 Adab-adab Sebelum Tidur


Rasulullah SAW telah menganjurkan untuk mengamalkan berbagai adab
sebelum tidur. Diantaranya sebagai berikut :

1. Tidak tidur sebelum shalat Isya’ kecuali dalam keadaan darurat seperti
untuk mengulang (muraja’ah) ilmu atau adanya tamu atau menemani
keluarga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Barzah Radhiyallahu
anhu:

َ ‫َاء َو ْال َح ِدي‬


‫ْث َب ْعدَهَا‬ ِ ‫صالَةِ) ْال ِعش‬
َ ( ‫سلَّ َم يَ ْك َرهُ النَّ ْو َم َق ْب َل‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫أ َ َّن النَّ ِب‬
َ ‫ي‬
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur
malam sebelum (shalat Isya’) dan berbincang-bincang (yang tidak
bermanfaat) setelahnya.” (Shahih Bukhari, 567)

2. Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu’ terlebih dahulu walaupun


dalam keadaan junub sebagaimana hadits:

ِ‫صالَة‬ ُ ‫ض َج َع َك فَتَ َوضَّأ ْ ُو‬


َّ ‫ض ْو َء َك ِلل‬ َ ‫إ ِِذَا أَتَي‬.
ْ ‫ْت َم‬
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka
hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk
melakukan shalat.” [HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710]

Dan dari Ibnu Umar, bahwasanya Umar bin Khathab bertanya kepada
Rasulullah SAW, “Apakah salah seorang diantara kami boleh tidur
sedangkan dia dalam keadaan junub? Nabi bersabda, “Ya, jika salah
seorang di antara kalian berwudhu, maka tidurlah; walaupun dalam
keadaan junub.” (Muttafaq ‘Alaih, Al-Lu’lu’ Wal Marjan, 177)

3. Hendaknya mendahulukan posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk


kanan sebagai tumpuan) dan berbantal dengan tangan kanan, tidak mengapa

5
apabila setelahnya berubah posisinya di atas sisi kiri (rusuk kiri sebagai
tumpuan). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

‫ش ِقِّ َك اْأل َ ْي َم ِن‬


َ ‫علَى‬ َ ‫ض‬
َ ‫ط ِج ْع‬ ْ ِ‫ا‬.
“Berbaringlah dengan memiringkan badan ke sebelah kananmu.” [HR.
Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710]

Pada saat kita tidur dalam posisi ini, jantung hanya akan terbebani
oleh paru-paru kiri yang berukuran lebih kecil. Selain itu tidur dalam posisi
ini akan menempatkan hati pada posisi yang stabil dan juga posisi ini
sangat baik untuk sisitem pencernaan. Penelitian menunjukkan saat kita
tidur dengan posisi menyamping ke kanan, makanan akan mampu dicerna
oleh usus dalam waktu 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan, dalam posisi tidur
yang lain, makanan baru selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

4. Tidak dibenarkan telungkup dengan posisi perut sebagai tumpuannya baik


ketika tidur malam ataupun tidur siang. Sebagaimana hadits:

‫ع َّز َو َج َّل‬ ُ َ‫ض ْجعَةٌ يَ ْبغ‬


َ ُ‫ض َها هللا‬ َ ‫إِنَّ َها‬.
“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang
dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.”[2]

5. Membaca ayat-ayat al-Qur-an, antara lain:


a. Membaca ayat kursi:

َّ ‫ي ْالقَيُّو ُم ۚ ََل تَأ ْ ُخذُهُ ِسنَةٌ َو ََل ن َْو ٌم ۚ لَهُ َما فِي ال‬ َٰ
‫ت‬
ِ ‫س َم َاوا‬ ُّ ‫َّللاُ ََل إِلَهَ إِ ََّل ُه َو ْال َح‬
َّ
‫ض‬ َ َّ
ِ ‫َم ْن ذَا الذِي َي ْشفَ ُع ِع ْندَهُ ِإ ََّل ِبإ ِ ْذنِ ِه ۚ َي ْعلَ ُم َما َبيْنَ أ ْيدِي ِه ْم ۗ َو َما فِي ْاأل َ ْر‬
ُ‫ش ْيءٍ ِم ْن ِع ْل ِم ِه ِإ ََّل ِب َما شَا َء ۚ َو ِس َع ُك ْر ِسيُّه‬ َ ‫طونَ ِب‬ ُ ‫َو َما خ َْلفَ ُه ْم ۖ َو ََل ي ُِحي‬
‫ي ْال َع ِظي ُم‬
ُّ ‫ظ ُه َما ۚ َو ُه َو ْال َع ِل‬
ُ ‫ض ۖ َو ََل َيئُودُهُ ِح ْف‬ َ ‫ت َو ْاأل َ ْر‬ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫ال‬
Artinya : “Allah, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia,
Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-
Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa
yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi
syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-
apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan
mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan
apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan
bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya,
dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

6
Keterangan ini tercantum di dalam Shahih al-Bukhari dengan
syarahnya, Fat-hul Baari XI/267 no. 2311, 5010 (cet. Daar Abi Hayaan,
1416 H)

Manfaat membaca ayat Kursi (ketika akan tidur) adalah


sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa membaca ayat Kursiy (ketika akan tidur), maka Allah
senantiasa menjaganya dan tidak akan didekati syaitan sampai Shubuh.”
Hal ini shahih berdasarkan hadits di atas.

b. Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah:

َّ ‫سو ُل ِب َما أ ُ ْن ِز َل ِإلَ ْي ِه ِم ْن َر ِبِّ ِه َو ْال ُمؤْ ِمنُونَ ۚ ُك ٌّل آ َمنَ ِب‬
‫اَّللِ َو َم َالئِ َكتِ ِه‬ ُ ‫الر‬َّ َ‫آ َمن‬
‫غ ْف َران ََك‬ َ َ ‫س ِم ْعنَا َوأ‬
ُ ۖ ‫ط ْعنَا‬ َ ‫س ِل ِه ۚ َوقَالُوا‬ ُ ‫س ِل ِه ََل نُفَ ِ ِّر ُق َبيْنَ أ َ َح ٍد ِم ْن ُر‬
ُ ‫َو ُكتُبِ ِه َو ُر‬
‫ت‬ ْ ‫س َب‬َ ‫سا ِإ ََّل ُو ْس َع َها ۚ لَ َها َما َك‬ ً ‫َّللاُ نَ ْف‬
َّ ‫ف‬ ُ ِّ‫﴾ ََل يُ َك ِل‬٢٨٥﴿ ‫ير‬ ُ ‫ص‬ ِ ‫َربَّنَا َو ِإلَي َْك ْال َم‬
‫طأْنَا ۚ َربَّنَا َو ََل تَ ْح ِم ْل‬ َ ‫اخ ْذنَا إِ ْن نَسِينَا أ َ ْو أ َ ْخ‬ ِ ‫ت ۗ َربَّنَا ََل ت ُ َؤ‬ َ َ ‫علَ ْي َها َما ا ْكت‬
ْ َ‫سب‬ َ ‫َو‬
َ‫طاقَة‬ َ ‫ص ًرا َك َما َح َم ْلتَهُ َعلَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِلنَا ۚ َربَّنَا َو ََل ت ُ َح ِ ِّم ْلنَا َما ََل‬ ْ ‫علَ ْينَا ِإ‬ َ
ْ
‫على القَ ْو ِم‬ َ َ ‫ص ْرنَا‬ ُ ‫ت َم ْو ََلنَا فَا ْن‬ َ
َ ‫ار َح ْمنَا ۚ أ ْن‬ َ
ْ ‫ْف َعنَّا َوا ْغ ِف ْر لنَا َو‬ ُ ‫لَنَا ِب ِه ۖ َواع‬
َ‫ْال َكافِ ِرين‬
Artinya: “Rasul telah beriman kepada al-Qur-an yang diturunkan
kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-
Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): ‘Kami tidak membedabedakan antara seorang
pun (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya,’ dan mereka
mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdo’a):
‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat
kembali. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. (Mereka berdo’a): ‘Ya Rabb kami, janganlah
Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya
Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-
orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri ma-aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir.’” [Al-Baqarah/2: 285-286][4]

d. Membaca Tri Qul yakni surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nasr. Hal ini
berdasarkan pada riwayat-riwayat yang menganjurkan hal tersebut.

Yaitu dengan cara mengumpulkan dua tapak tangan lalu ditiup dan
dibacakan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nasr, kemudian dengan dua

7
telapak tangan mengusap bagian tubuh yang dapat dijangkau dengannya
dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan, hal ini diulang
sebanyak 3 (tiga) kali. [HR. Al-Bukhari dalam Fat-hul Baari XI/277 no.
4439, 5016 (cet. Daar Abi Hayaan), Muslim no. 2192, Abu Dawud no.
3902, At Tirmidzi no. 3402 dan Ibnu Majah no. 3539.

6. Hendaknya mengakhiri berbagai do’a tidur dengan do’a berikut:

‫ َو ِإ ْن‬،َ‫ار َح ْمها‬ ْ ‫ت نَ ْفس‬


ْ َ‫ِي ف‬ َ ‫س ْك‬َ ‫ ِإ ْن أَ ْم‬،ُ‫ض ْعتُ َج ْن ِبي َو ِب َك أ َ ْرفَعُه‬ َ ‫ِباس ِْم َك َر ِبِّي َو‬
َ‫صا ِل ِحيْن‬
َّ ‫ظ بِ ِه ِعبَادَ َك ال‬ ْ َ‫احف‬
ُ ‫ظ َها بِ َما ت َ ْح َف‬ ْ َ‫س ْلت َ َها ف‬
َ ‫أ َ ْر‬.
Artinya :“Dengan Nama-Mu, ya Rabb-ku, aku meletakkan lambungku. Dan
dengan Nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila
Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya.
Tapi apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah,
sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang
shalih.”

‫ضتُ أ َ ْم ِري ِإلَي َْك َو َو َّج ْهتُ َو ْج ِهي ِإلَي َْك‬ ْ ‫اللَّ ُه َّم أ َ ْسلَ ْمتُ نَ ْفسِي ِإلَي َْك َو َف َّو‬
‫ َلَ َم ْل َجأ َ َوَلَ َم ْن َجا ِم ْن َك إَِلَّ إِلَي َْك‬,‫ َر ْغبَةً َو َر ْهبَةً إِلَي َْك‬،‫ظ ْه ِري إِلَي َْك‬ َ ُ‫َوأ َ ْل َجأْت‬
َ ‫س ْل‬
‫ت‬ َ ‫ آ َم ْنتُ ِب ِكتَا ِب َك الَّذِي أ َ ْنزَ ْل‬،‫ب ِإلَي َْك‬
َ ‫ت َو ِبنَ ِب ِي َِّك الَّذِي أ َ ْر‬ ُ ‫أ َ ْست َ ْغ ِف ُر َك َوأَت ُ ْو‬.
Artinya : “Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan
urusanku kepada-Mu aku menghadapkan wajahku kepada-Mu,
dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap
dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan
menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu, aku
memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu, aku
beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi
yang Engkau utus.” [HR. Al-Bukhari no. 247, 6113, 6313, 7488,
Muslim no. 2710, Abu Dawud no. 5046 dan at-Tirmidzi no. 3394]

‫ت أ َ ْعلَ ُم‬
َ ‫فَا ْغ ِف ْر ِلي َما قَد َّْمتُ َو َما أ َ َّخ ْرتُ َو َما أَس َْر ْرتُ َوما أ َ ْعلَ ْنتُ َو َما أ َ ْن‬
‫ت‬َ ‫ت ْال ُم َؤ ِ ِّخ ُر َلَ ِإلهَ ِإَلَّ أَ ْن‬
َ ‫ت ْال ُمقَ ِدِّ ُم َوأ َ ْن‬
َ ‫ ِب ِه ِم ِنِّ ْي أ َ ْن‬.
Artinya : “Ampunilah dosa-dosaku di masa lalu dan masa yang akan
datang, yang tersembunyi, serta yang nampak. Engkaulah Yang
terdahulu dan Yang terakhir dan tidak ada ilah yang berhak
diibadahi kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari no. 1120, 6317
dan Muslim no. 2717]

َ ‫اَللِّ ُه َّم قِنِ ْي‬.


ُ ‫عذَا َب َك َي ْو َم ت َ ْب َع‬
‫ث ِع َبادَ َك‬
Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksa-Mu pada hari dimana
Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” [HR. Abu Dawud

8
no. 5045, at-Tirmidzi no. 3399, Ibnu Majah no. 3877 dan Ibnu
Hibban no. 2350. Lihat Shahiih at-Tirmidzi no. III/143]

7. Disunnahkan apabila hendak membalikkan tubuh (dari satu sisi ke sisi yang
lain) ketika tidur malam untuk mengucapkan do’a:

‫ض َو َما َب ْينَ ُه َما ْال َع ِزي ُْز‬


ِ ‫ت َواْأل َ ْر‬
ِ ‫س َم َاوا‬ ُ ‫احد ُ ْالقَ َّه‬
َّ ‫ َربُّ ال‬،‫ار‬ ِ ‫َلَ ِإلهَ ِإَلَّ هللاُ ْال َو‬
ْ
ُ َّ‫الغَف‬.
‫ار‬
“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah Yang Mahaesa, Maha
Perkasa, Rabb Yang menguasai langit dan bumi serta apa yang ada di
antara keduanya, Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun.” [HR. Al-
Hakim I/540 disepakati dan dishahihkan oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat
Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 2066]

8. Apabila merasa gelisah, risau, merasa takut ketika tidur malam atau merasa
kesepian maka dianjurkan sekali baginya untuk berdo’a sebagai berikut:

ِ ‫ض ِب ِه َو ِعقَا ِب ِه َوش ِ َِّر ِعبَا ِد ِه َو ِم ْن َه َمزَ ا‬


‫ت‬ َ ‫غ‬ ْ ‫ت‬
َ ‫من‬ ِ ‫ت هللاِ التَّا َّما‬ ُ َ‫أ‬
ِ ‫ع ْوذ ُ ِب َك ِل َما‬
‫ض ُر ْو ِن‬ُ ‫اطي ِْن َوأ َ ْن َي ْح‬ ِ َ‫شي‬ َّ ‫ال‬.
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-
Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para
syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” [HR. Abu Dawud no.
3893, at-Tirmidzi no. 3528 dan lainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-
Shahii-hah no. 264]

9. Memakai celak mata ketika hendak tidur, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar
Radhiyallahu anhuma :

َ ‫اإلثْ ِم ِد ُك َّل َل ْيلَ ٍة قَ ْب َل أ َ ْن َين‬


‫َام ِف ْي‬ ِ ‫سلَّ َم َكانَ يَ ْكت َ ِح ُل ِب‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ ‫ي‬ َّ ‫أ َ َّن النَّ ِب‬
‫عي ٍْن ثَالَثَةَ أ َ ْم َيا ٍل‬
َ ‫ ُك ِِّل‬.
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa
memakai celak dengan batu celak setiap malam sebelum beliau hendak
tidur malam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai celak pada
kedua matanya sebanyak tiga kali go-resan.” [HR. Ibnu Majah no. 3497.
Lihat Syamaa-il Muhammadiyyah hal. 44]

10. Hendaknya mengibaskan tempat tidur (membersihkan tempat tidur dari


kotoran) ketika hendak tidur.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

9
َ ُ‫شهُ َو ْلي‬
َ‫س ِ ِّم هللا‬ ِ َ‫ِإذَا َجا َء أ َ َحد ُ ُك ْم ِإلَى ِف َرا ِش ِه فَ ْل َيأ ْ ُخ ْذ د‬
ْ ُ‫اخلَةَ ِإزَ ِار ِه فَ ْل َي ْنف‬
َ ‫ض ِب َها ِف َرا‬
ُ‫فَإِنَّهُ َلَ يَ ْعلَ ُم َما َخلَفَهُ بَ ْعدَه‬.
“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil
potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut
sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi
sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-
Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini
berdasarkan riwayat Muslim]

11. Mematikan lampu sebelum tidur


Dari Jabir Radhiallaahu anhu diriwayatkan bahwa sesung-guhnya
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda :” Padamkanlah
lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah
rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (Sahih
Bukhori 5301).

12. Anjuran qoyluulah (tidur siang)


Berkata Ibnu Atsir: "Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan
siang walaupun tidak tidur". Berdasarkan hadits: Dari Sahl Bin Sa'd dia
berkata: "Tidaklah kami qoyluulah dan makan siang kecuali setelah shalat
jum'at". Juga Rasulullah bersabda: "Qoyluulah kalian sesungguhnya
syaithon tidak qoyluulah".

13. Hendaknya menyucikan hati dari setiap dengki yang (mungkin timbul) pada
saudaranya sesama muslim dan membersihkan dadanya dari setiap
kemarahannya kepada manusia lainnya.

14. Hendaknya senantiasa menghisab (mengevaluasi) diri dan melihat


(merenungkan) kembali amalan-amalan dan perkataan-perkataan yang
pernah diucapkan.

15. Hendaknya bersegera bertaubat dari seluruh dosa yang dilakukan dan
memohon ampun kepada Allah dari setiap dosa yang dilakukan pada hari
itu.

16. Jika sudah bangun tidur hendaknya membaca do’a sebelum berdiri dari
tempat pembaringan, yaitu:

ُ ُّ‫ا َ ْل َح ْمد ُ ِهللِ الَّذِي أ َ ْح َيانا َ َب ْعدَ َما أ َ َماتَنَا َو ِإلَ ْي ِه الن‬.
‫ش ْو ُر‬
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ditidurkan-
Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan.” [HR. Al-Bukhari no. 6312 dan
Muslim no. 2711]

10
2.3 Sunnah-sunnah Setelah Bangun Tidur

Sunnah-sunnah setelah bangun tidur:


(a). Mengusap bekas tidur yang ada di wajah maupun tangan, berdasarkan hadits
berikut:

َ ‫س ُح النَّ ْو َم‬
‫ع ْن َو ْج ِه ِه ِب َي ِد ِه‬ َ َ‫سلَّ َم فَ َجل‬
َ ‫س َي ْم‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ِ ‫س ْو ُل‬
َ ‫هللا‬ َ َ‫فَا ْست َ ْيق‬.
ُ ‫ظ َر‬
“Maka bangunlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tidurnya kemudian
duduk sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.” [HR. Muslim no. 763 (182)]

(b). Bersiwak

‫اك‬ ِّ ِ ‫ش فَاهُ بِال‬


ِ ‫س َو‬ ُ َ‫ظ ِمنَ اللَّ ْي ِل ي‬
ُ ‫ص ْو‬ َ َ‫سلَّ َم إِذَا ا ْست َ ْيق‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ َ‫ َكان‬.
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun malam membersihkan
mulutnya dengan bersiwak.” [HR. Al-Bukhari no. 245 dan Muslim no. 255]

(c). Beristintsaar (mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung sesudah


menghirupnya)

ُ ‫علَى َخ ْي‬
‫ش ْو ِم ِه‬ َّ ‫َام ِه فَ ْليَ ْستَ ْنثِ ْر ثَالَثا ً فَإ ِ َّن ال‬
َ ‫ش ْي‬
َ ُ‫طانَ يَ ِب ْيت‬ ِ ‫ظ أ َ َحدُ ُك ْم ِم ْن َمن‬
َ َ‫إِذَا ا ْست َ ْيق‬.
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah
tiga kali karena sesungguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” [HR.
Bukhari no. 3295 dan Muslim no. 238].

(d). Mencuci kedua tangan tiga kali, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:

‫َاء َحتَّى يَ ْغ ِسلَ َها ثَالَثًا‬ ْ ‫ظ أ َ َحدُ ُك ْم ِم ْن ن َْو ِم ِه فَالَ َي ْغ ِم‬


ِ ‫س يَدَهُ ِفي اْ ِإلن‬ َ َ‫ ِإذَا ا ْست َ ْيق‬.
“Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur, janganlah ia memasukkan
tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali.” [HR. Al-Bukhari no.
162 dan Muslim no. 278]

2.4 Penerapan pada Pasien dengan Gangguan Tidur


1. Anjurkan Pasien Berwudhu Sebelum Tidur

Selain memiliki banyak keutamaan, wudhu sangat bermanfaat


terhadap kesehatan. Dr. Ahmad Syauqy Ibrahim, peneliti bidang penderita
penyakit dalam dan penyakit jantung di London mengatakan “Para pakar
sampai pada kesimpulan mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan
mengembalikan tubuh yang lemah menjadi lebih kuat, mengurangi
kekejangan pada syaraf dan otot, menormalkan detak jantung, kecemasan,

11
dan insomnia (susah tidur)” Para pakar syaraf (neurologis) telah
membuktikan bahwa dengan air wudhu yang mendinginkan ujung – ujung
syaraf jari – jari tangan dan jari – jari kaki berguna untuk memantapkan
konsentrasi pikiran dan menjadikan rileks. (Ali, 2009, Manfaat Wudhu).

Percikan air wudhu pada beberapa anggota tubuh menghadirkan rasa


damai dan tentram. Dengan sendirinya pikiran akan tunduk dengan rasa
damai itu, hingga ia menjadi sangat rileks. Saat pikiran rileks, tubuh pun
ikut rileks (Anonim, 2005). Dengan keadaan rileks dan keadaan otot-otot
yang kendur dapat memberikan kenyamanan sebelum tidur sehingga
siapapun dapat memulai tidur.

2. Anjurkan pada Pasien Posisi Tidur Menyamping ke Kanan


a) Sunnah Posisi Tidur Menyamping Kekanan Dalam Pandangan
Medis

Pada saat kita tidur dalam posisi ini jantung hanya akan terbebani
oleh paru-paru kiri yang berukuran kecil. Selain itu tidur dengan cara ini
akan menenpatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu posisi ini juga
sangat baik bagi pencernaan, penelitian menunjukkan saat kita tidur dengan
menyamping ke kanan, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5
sampai 4,5 jam. Sedangkan dalam posisi tidur yang lain makanan baru akan
selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

b) Tidur dengan Menyamping ke Kiri

Tidur miring ke kiri ternyata jugalah tidak baik untuk kesehatan,


terutama organ jantung. Hal ini dikarenakan saat kita tidur pada posisi ini,
maka paru-paru sebelah kanan, yang berukuran besar, akan menekan kearah
paru-paru sebelah kiri. Hal ini akan berpengaruh kepada kinerja jantung,
terutama kepada orang yang berusia lanjut.

c) Tidur dengan Tengkurap

Dr. Zafir al-Attar berkata “Seseorang yang tidur dengan cara


tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu aan mengalami
kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah
dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat
bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan
oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak.”

Peneliti dari Australia telah menyatakan bahwa terjadi peningkatan


kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap
dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping.

Sedangkan Majalah “Times” mempublikasikan hasil sebuah


penelitian di Inggris yang menunjukan peningkatan tingkat kematian
mendadak pada anak-anak yang tidur tengkurap.

12
Fakta-fakta tersebut sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Islam,
sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW
bahwa beliau pernah melihat seorang pria yang sedang tidur dengan posisi
tengkurap, lalu beliau bersabda,

“Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dimurkai oleh Allah


dan Rasul-Nya.” (HR Tirimizi dan Ahmad-hasan lighairihi)

3. Membaca Al-Qur’an Sebelum Tidur

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di


Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya
dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik
mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan
fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa,


menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang
dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang
dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan
bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah,
detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.
Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh
besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan
penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya


yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian
yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada
tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan
ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya.

4. Mematikan Lampu Sebelum Pasien Tidur

Terdapat hasil penelitian yang membahas dan memahami tentang


pentingnya memelihara keadaan ruangan tidur dalam posisi gelap yang
berpengaruh terhadap irama sirkadian tubuh. Irama sirkadian atau
Circardian rhythm berasal dari bahasa Latin. Circa yang berarti kira-kira
dan Dies berarti hari (circardies = kira-kira satu hari). Irama sirkadian
adalah perubahan fisik, mental, dan perilaku mahluk hidup yang mengikuti
siklus tertentu dalam periode 24 jam, terutama sebagai akibat pengaruh
terang dan gelap. Dalam 24 jam tubuh akan mengalami fluktuasi berupa
temperatur, pola aktivitas gelombang otak, kemampuan untuk bangun,
aktivitas lambung, denyut jantung, tekanan darah dan kadar hormon,
produksi hormon, regenerasi sel dan aktivitas biologis lainnya.

13
Berdasarkan survei yang di lakukan departemen kesehatan di
Amerika dari 1000 orang laki-laki dan perempuan mereka di suruh tidur di
kamar yang terang dan di hari berikutnya tidur di kamar yg gelap. Dari hasil
studi tersebut 95% orang mengatakan tidur diruangan yang gelap ketika
bangun pagi mereka merasakan tubuhnya lebih segar dan tidurnyapun puas.

5. Anjurkan Pasien untuk Qoyluulah (Tidur Siang)

Tidur sementara saat menjelang tengah hari atau dalam Islam


disebut dengan istilah Qoyluulah dipercayai oleh ilmuan bahwa hal tersebut
memiliki manfaat yang besar jika dipraktikkan pada semua usia. Penelitian-
penelitian yang lalu telah menunjukkan bahwa tidur sebentar sesaat
menjelang tengah hari dapat meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan
fungsi kognisi, dan juga bermanfaat untuk penggabungan memori.

Penelitian kesehatan yang dilakukan di Yunani juga menunjukkan


hasil yang membahagian tentang manfaat Qoyluulah ini. Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa responden dewasa yang melakukan tidur sejenak
sebelum tengah hari selama tiga kali seminggu memiliki risiko kematian
karena penyakit jantung 37% lebih rendah daripada mereka yang tidak
melakukan hal tersebut (qoyluulah).

Dalam beberapa dekade terakhir, telah muncul secara signifikan


pengetahuan manusia tentang psikologi tidur, gangguan dalam tidur, dan
pentingnya mendapatkan tidur yang cukup. Islam juga menyediakan
informasi yang signifikan tentang sejarah dan budaya sudut pandang tidur.
Rasulullah SAW telah menekankan kepada umatnya tentang pentingnya
tidur bagi kesehatan.

Oleh karena itu, para ilmuan masa kini hendaknya melibatkan dan
menggunakan literatur-literatur Islam yang membahas tentang masalah
tidur ini. Akan banyak jawaban yang membantu para ilmuwan modern
karena jauh sebelum kehidupan hiruk pikuk dunia dimulai, Allah SWT telah
merancang sebuah sistem kehidupan terbaik termasuk tentang tidur sebagai
bagian kecil dari kehidupan.

14
BAB III
KESIMPULAN

Allah SWT menyampaikan bahwa tidur adalah proses untuk istirahat.


Dengan beristirahat maka dapat menjadi kesegaran dan proses detoksifikasi racun
yang ada dalam tubuh sesuai mekanisme biologis yang terjadi, “Dan Kami
jadikan tidurmu untuk istirahat”. (QS. An-Naba’: 9).

Tidak hanya dalam sudut pandang biologis, jauh sebelum ilmu biologi
banyak muncul di dunia, Islam sudah membahas mengenai tidur. Hal ini
sebagaimana di dalam Al-Quran. Untuk itu islam dan ilmu pengetahuan selalu
sejalan.

Para ilmuan masa kini hendaknya melibatkan dan menggunakan literatur-


literatur Islam yang membahas tentang masalah tidur ini. Akan banyak jawaban
yang membantu para ilmuwan modern karena jauh sebelum kehidupan hiruk
pikuk dunia dimulai, Allah SWT telah merancang sebuah sistem kehidupan
terbaik termasuk tentang tidur sebagai bagian kecil dari kehidupan.

15
DAFTAR PUSTAKA

- Al-Qur’an dan Al-Hadits


- Buku Etika Tidur Nabi (Muhammad Hasan Yusuf)
- Buku Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah Jilid 2
(Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada)
- Buku Islam On The Spot (Dr. Rangga Almahendra, ST., MM)
- Buku Jalan Kebahagian Sejati Menggapai Keseimbangan dan
Kebermaknaan Kehidupan Pribadi, Keluarga, dan Sosial (Adnan Tharsyah)
- Sumber bahasan dari Sleep from a perspective Islam oleh Prof. Ahmed S.
BaHammam The University Sleep Disorders Center, Departemen of
Medicine College of Medicine, King Saudi University Riyadh, Saudi Arabia.
- Jurnal Pengaruh Terapi Wudhu Sebelum Tidur Terhadap Kejadian Insomnia
Jangka Pendek pada Usia Lanjut di PSTW Budhi Dharma Ponggalan
Yogyakarta Tahun 2010, Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Yuli
Purwaningsih)

16