Anda di halaman 1dari 7

Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia pada

Pedagang Laki-Laki Lansia Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga


Rr. Agatha Rhana Aveonita, T.A Larasati, Azelia Nusadewiarti

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Abstrak
Latar Belakang: Indonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan warga lansia terbesar di seluruh dunia antara tahun
1990-2025, yaitu sebesar 414% umur harapan hidup. Karakteristik pasien geriatri yang pertama adalah multipatologi, yaitu
adanya lebih dari satu penyakit kronis degeneratif, maka diperlukan tatalaksana pasien secara holistik. Tekanan darah tinggi
dianggap sebagai faktor resiko utama bagi berkembangnya penyakit jantung dan berbagai penyakit vaskuler pada orang-
orang yang telah lanjut usia. Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko mayor Penyakit Jantung Koroner. World
Health Organization memperkirakan hiperkolesterolemia berkaitan dengan lebih dari separuh kejadian penyakit jantung
koroner dan lebih dari empat juta kematian tiap tahunnya Studi deskriptif dengan analisis data primer diperoleh melalui
anamnesis (autoanamnesis), pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium di klinik. Kunjungan rumah, melengkapi data keluarga,
dan psikososial serta lingkungan. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses dan akhir studi secara kuantitatif
dan kualitatif. Pasien merupakan geriatri 80 tahun dengan hipertensi dan hiperkolesterol yang memiliki pola makan dan gaya
hidup yang tidak baik. Selain itu, pola pengobatan pasien adalah kuratif. Pada skor depresi tidak didapatkan depresi, maka
tidak perlu intervensi pada pasien. Pasien diberikan edukasi mengenai pola makan yang baik, pola olahraga, dan pentingnya
meminum obat secara rutin dan kontrol tekanan darah serta kadar kolesterol. Dukungan keluarga berupa peran menjadi
partner pasien diperlukan untuk membantu pasien mengendalikan kadar kolesterol.

Kata Kunci: Hipertensi, Hiperkolesterolemia, Pelayanan Kedokteran Keluarga

Korespondensi: RR. Agatha Rhana Aveonita, S. Ked │ Jl. Soemantri Brodjonegoro No. 1 │ HP 081315050866
e-mail: agathaaveonita@yahoo.com

PENDAHULUAN 160/90 mmHg, maka ia sudah dapat


Tekanan darah tinggi dianggap sebagai dikatagorikan sebagai penderita hipertensi.2
faktor resiko utama bagi berkembangnya Angka harapan hidup penduduk sering
penyakit jantung dan berbagai penyakit kali dijadikan salah satu tolak ukur kemajuan
vaskuler pada orang-orang yang telah lanjut suatu bangsa. Indonesia merupakan salah satu
usia, hal ini disebabkan ketegangan yang lebih Negara berkembang yang memiliki angka
tinggi dalam arteri sehingga menyebabkan harapan hidup penduduk semakin meningkat
hipertensi. Lansia sering terkena hipertensi sejalan dengan meningkatnya taraf hidup dan
disebabkan oleh kekakuan pada arteri sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat.3
tekanan darah cenderung meningkat. Selain itu Semakin meningkat umur harapan hidup
penyebab hipertensi pada lansia juga (UHH) suatu bangsa ditandai dengan
disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan meningkatnya warga lanjut usia. Angka UHH di
yang lebih penting lagi kemungkinan terjadinya Indonesia yang pada tahun 1995 – 2000
peningkatan tekanan darah tinggi karena sebesar 64,71 tahun meningkat menjadi 67,68
bertambahnya usia lebih besar pada orang tahun pada tahun 2000–2005. Proporsi
yang banyak mengkonsumsi makanan yang penduduk lansia (di atas 60 tahun) meningkat
banyak mengandung garam. Tekanan darah dari 16 juta jiwa (7,6%) pada tahun 2000
tinggi atau hipertensi ditandai dengan menjadi 18,4 juta jiwa (8,4%) pada tahun
meningkatnya tekanan darah secara tidak 2005. Sedangkan dari data USA – Bureau of the
wajar dan terus-menerus karena rusaknya Cencus, Indonesia diperkirakan akan
salah satu atau beberapa faktor yang berperan mengalami pertambahan warga lansia terbesar
mempertahankan tekanan darah tetap normal. di seluruh dunia antara tahun 1990-2025, yaitu
1
Badan kesehatan dunia atau WHO (world sebesar 414% umur harapan hidup.4
health organization) juga memberikan batasan Di bagian Asia tercatat 38,4 juta
bahwa seseorang, dengan beragam usia dan penderita hipertensi pada tahun 2000 dan
jenis kelamin, apabila tekanan darahnya diprediksi akan menjadi 67,4 juta orang pada
berada pada satuan 140/90 mmHg atau diatas tahun 2025. Menurut penelitian yang
Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
dilakukan Boedi Darmojo pada tahun 2011 di Pasien geriatri sering disertai penyakit
Indonesia diperoleh terjadi peningkatan lansia kronis degeneratif. Masalah yang muncul
yang menderita hipertensi sekitar 50% di jawa sering tumpang tindih dengan gejala yang
sekitar 42,6%. Dari data diatas dapat sudah lama diderita sehingga tampilan gejala
disimpulkan dari tahun ke tahun terdapat menjadi tidak jelas. Penyakit degeneratif yang
meningkatan lansia yang menderita hipertensi banyak dijumpai pada pasien geriatri adalah
dan ini perlu mendapatkan perhatian dan hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia,
penanganan yang baik, mengingat prevalensi osteoartritis, dan penyakit kardiovaskular.
yang tinggi dan komplikasi yang ditimbulkan Penyakit jantung koroner (PJK) adalah
cukup berat.2 Hipertensi merupakan penyebab pembunuh nomor satu di dunia saat ini.
kematian nomor 3 yakni mencapai 6,7 % dari Penyebab utama penyakit ini adalah
populasi kematian pada semua umur di aterosklerosis koroner. Aterosklerosis timbul
Indonesia.5 secara perlahan akibat disfungsi endotel,
Pasien geriatri adalah pasien usia inflamasi vaskuler, dan tertumpuknya
lanjut yang memiliki karakteristik khusus yang kolesterol pada dinding pembuluh darah.
membedakannya dari pasien usia lanjut pada Hiperkolesterolemia merupakan salah satu
umumnya. Karakteristik pasien geriatri yang faktor risiko mayor PJK.6 World Health
pertama adalah multipatologi, yaitu adanya Organization (WHO) memperkirakan
lebih dari satu penyakit kronis degeneratif. hiperkolesterolemia berkaitan dengan lebih
Karakteristik kedua adalah daya cadangan faal dari separuh kejadian penyakit jantung koroner
menurun karena menurunnya fungsi organ dan lebih dari empat juta kematian tiap
akibat proses menua. Karakteristik yang ketiga tahunnya.7
adalah gejala dan tanda penyakit yang tidak American Heart Association (AHA)
khas. Tampilan gejala yang tidak khas seringkali memperkirakan lebih dari 100 juta penduduk
mengaburkan penyakit yang diderita pasien. Amerika memiliki kadar kolesterol total >200
Karakteristik berikutnya adalah penurunan mg/dl, yang termasuk kategori cukup tinggi,
status fungsional yang merupakan kemampuan dan lebih dari 34 juta penduduk dewasa
seseorang untuk melakukan aktivitas sehari- Amerika memiliki kadar kolesterol >240 mg/dl,
hari. Penurunan status fungsional yang termasuk tinggi dan membutuhkan
menyebabkan pasien geriatri berada pada terapi. Di Indonesia, prevalensi
kondisi imobilisasi yang berakibat hiperkolesterolemia pada kelompok usia 25-34
ketergantungan pada orang lain. Karakteristik tahun adalah 9,3% dan meningkat sesuai
khusus pasien geriatri yang sering dijumpai di dengan pertambahan usia hingga 15,5% pada
Indonesia ialah malnutrisi. Setiati et all, kelompok usia 55-64 tahun.
melaporkan malnutrisi merupakan sindrom Hiperkolesterolemia umumnya lebih banyak
geriatri terbanyak pada pasien usia lanjut yang ditemukan pada wanita (14,5 termasuk tinggi
dirawat (42,6%) di 14 rumah sakit. Kelompok dan membutuhkan terapi. Di Indonesia,
lansia rentan akan terjadinya berbagai macam prevalensi hiperkolesterolemia pada kelompok
gangguan, baik medis maupun psikologis. Salah usia 25-34 tahun adalah 9,3% dan meningkat
satu gangguan psikologis yang umum terjadi sesuai dengan pertambahan usia hingga 15,5%
pada lansia adalah depresi. Adanya perubahan- pada kelompok usia 55-64 tahun.
perubahan alamiah tersebut akan Hiperkolesterolemia umumnya lebih banyak
mengakibatkan perubahan perilaku pada ditemukan pada wanita (14,5%) dibandingkan
dirinya dan dapat mengganggu fungsi pria (8,6%).8
kehidupannya mulai dari kognitif, motivasi, Lipid merupakan masalah yang penting
emosi dan perasan, tingkah laku, sampai pada dalam mempengaruhi kejadian hipertensi, ini
penurunan kondisi fisiknya. Dan perubahan berdasarkan kesimpulan yang di sampaikan
inilah yang merupakan indikator terdapatnya oleh Patel dan beberapa penelitian lainnya.8
masalah psikososial pada lansia yaitu depresi. Pada peningkatan kadar profil lipid darah
Berdasarkan kondisi diatas, penatalaksanaan sangat erat hubungannya dengan
masalah kesehatan pada geriatri tidak cukup aterosklerosis, terutama pada usia 30-40
hanya fokus pada disease oriented tapi harus tahun, kadar kolesterol total dalam darah
ditatalaksana secara holistik. mencapai 260 mg/dl maka angka kejadian
aterosklerosis akan meningkat 3-5 kali lipat.

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 39


Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
Selain itu penelitian epidemiologi, sakit. Ayah Tn.W sakit jantung. Setelah
laboratorium dan klinik yang dilakukan dilakukan, pemeriksaan, ternyata istri Tn.W
Framing Heart Study (FH) dan Multiple Risk yakni Ny.S juga mengalami hipertensi. Ny.S
Faktor Intervention Trial (MRFIT), belum pernah mengetahui bahwa tensinya
membuktikan bahwa gangguan metabolism tinggi sebelum ini, maka Ny.S belum
lipid merupakan faktor sentral terjadinya mengkonsumsi obat apapun. Tidak ada gejala
atreosklerosis. yang dirasakan Ny.S. Sejak setahun terakhir
Tn.W sering merasa sakitnya sangat
KASUS menganggu waktu tidur sehingga pasien sulit
Tn. W, 80 tahun, seorang pedagang beristirahat. Pola pengobatan pasien ini
tempe, datang ke Puskesmas Karang Anyar bersifat kuratif, apabila mengalami keluhan,
dengan keluhan sakit kepala sejak 1 bulan yang pasien baru pergi untuk berobat. Sama saja
lalu dan semakin memberat sejak 1 minggu dengan pola pengobatan anggota keluarga
yang lalu. Nyeri kepala dirasakan terutama lainnya merupakan kuratif, dimana anggota
pada bagian belakang kepala terkadang keluarga mencari pelayanan kesehatan jika
menjalar hingga ke leher, sehingga tengkuk sakit saja. Ada riwayat keluarga dengan
pasien terasa berat. Nyeri kepala biasanya penyakit yang sama.yaitu hipertensi yang
hilang timbul. Rasa nyeri kepala mengganggu dialami kakak serta istri pasien.
istirahat pasien sehingga pasien merasakan Dari pemeriksaan fisik didapatkan
sulit tidur. Selain itu pasien mengeluhkan keadaaan umum: tampak sakit ringan; suhu: 36
o
tangan dan kaki sering pegal dan kesemutan. C; tekanan darah: 170/100 mmHg;; frek. nadi:
Pasien merasakan agak sulit untuk berjalan. 88 x/menit; frek. nafas: 20 x/menit; berat
Pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari- badan: 75 kg; tinggi badan: 164 cm; IMT: 27,8.
hari seperti biasanya dan tidak mengonsumsi Mata, telinga, hidung, kesan dalam batas
obat-obatan untuk menghilangkan sakitnya. normal. Paru, gerak dada dan fremitus taktil
Awalnya sekitar 1 tahun yang lalu simetris, tidak didapatkan rhonki dan
pasien mengalami keluhan seperti ini. lalu wheezing, kesan dalam batas normal. Batas
pasien memeriksakan diri ke puskesmas untuk jantung tidak terdapat pelebaran, kesan batas
diobati dan diberikan obat antihipertensi. jantung normal. Abdomen, datar dan supel,
Namun, setelah obat tersebut habis dan tidak didapatkan organomegali ataupun
keluhan berkurang, pasien tidak kontrol lagi ascites, kesan dalam batas normal. Ekstremitas
untuk mendapatkan obat antihipertensi. Selain tidak didapatkan edema, kesan dalam batas
itu, sejak 3 bulan terakhir pasien mengalami normal. Muskuloskeletal dan status neurologis
keluhan tangan dan kaki sering pegal dan kesan dalam batas normal. Pada pemeriksaan
kesemutan namun belum pernah diperiksakan penunjang didapatkan kadar kolesterol : 286
ke dokter. mg/dl. Selain itu, masalah pada pasien adalah
Pasien biasanya makan tiga kali sehari. 1) mengeluhkan nyeri kepala hingga tengkuk
Makanan yang dimakan cukup bervariasi. disertai pegal-pegal seluruh badan,
Namum pasien suka mengkonsumsi makanan kekhawatiran keluhan makin berat dan tidak
yang berlemak, seperti daging dan kuning dapat sembuh. Harapan tekanan darah dan
telur, kulit ayam. Pasien pun suka makan kadar kolesterol terkontrol 2) diagnosis kerja
makanan gorengan, rendang dan sayuran adalah hipertensi grade II dengan
bersantan. Pasien masih mengerjakan aktivitas hiperkolesterolemia, 3) perilaku pola makan
dirumah seperti membuat tempe, yang tidak sehat, suka makanan berlemak,
membersihkan rumah serta berjualan tempe gorengan dan bersantan, pola hidup tidak baik
berkeliling menggunakan motor. Pasien jarang suka merokok dan jarang olahraga, 4) masalah
berolahraga. Pasien mengatakan tidak psikososial terkadang pasien merasa stress dan
mengkonsumsi alkohol ataupun merokok saat kurangnya pengetahuan keluarga tentang
ini, namun 5 tahun yang lalu pasien adalah penyakit pasien.
perokok aktif dengan menkonsumsi rokok Rencana penatalaksanaan pasien terhadap
sebanyak 2-3 bungkus per hari. hipertensi dengan hiperkolesterolnya adalah
Tn.W tinggal bersama istrinya Ny.S dua dengan obat antihipertensi dan
anak, dua menantu serta ketiga cucunya. Ayah antikolesterolemia. Sedangkan untuk masalah
dan ibu Tn.W sudah meninggal dikarenakan

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 40


Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
psikososial dengan bersama-sama partner jarang dilakukan, namun setiap hari pasien
(keluarga) untuk mengubah pola hidup pasien. bekerja mengendarai motor untuk berdagang
tempe. Sistem pelayanan kesehatan
PEMBAHASAN terjangkau baik dari segi biaya maupun lokasi.
Masalah kesehatan yang dibahas pada Namun pasien dan keluarga hanya melakukan
kasus ini adalah 1) seorang laki-laki berusia 80 pengobatan bila ada keluhan saja setelah itu
tahun mengeluhkan nyeri kepala hingga pasien tidak rutin kontrol penyakitnya.
tengkuk disertai pegal-pegal seluruh badan, 2) Pada pasien ini penegakan diagnosis
diagnosis kerja adalah hipertensi grade II klinik hipertensi grade II, berdasarkan keluhan
dengan hiperkolesterolemia, 3) perilaku pola pasien yang di dapatkan nyeri kepala. Nyeri
makan yang tidak sehat, suka makanan kepala menjalar ke tengkuk, rasa pusing
berlemak, gorengan dan bersantan, pola hidup dirasakan hilang timbul, terlebih bila pasien
tidak baik suka merokok dan jarang olahraga, kurang istirahat. Sedangkan dari pemeriksaan
4) masalah psikososial terkadang pasien fisik didapatkan tekanan darah pasien 170/100
merasa stress dan kurangnya pengetahuan mmHg. Sesuai dengan gambaran klinis
keluarga tentang penyakit pasien. hipertensi berupa sakit kepala sampai ke
Dari hasil kunjungan, sesuai konsep tengkuk bagian belakang, sering gelisah,
mandala of health, pasien memiliki tengkuk rasa pegal yang akan berkurang bila
pengetahuan yang kurang tentang penyakit- penderita beristirahat.9
penyakit yang ia derita. Lingkungan psikososial, Diagnosis hipertensi grade II
terkadang pasien merasa stress akan ditegakkan berdasarkan Eight Report Joint
pekerjaannya dan untuk lingkungan sosial National Committe on Prevention, Detection,
pasien cukup baik sering ikut kegiatan masjid Evaluation , and Treatment of High Blood
dan kegiatan lain di kampungnya. Life style, Pressure (JNC-7), dimana hipertensi grade II
pola makan belum sesuai dengan anjuran yaitu tekanan darah systole >160 mmHg dan
dokter. Pasien suka makan gorengan, kulit diastole >100 mmHg. Faktor risiko timbulnya
ayam, tempe goreng, jeroan seperti ati ayam, hipertensi antara lain usia, stres, aktivitas fisik
usus, ampela, makanan bersantan dan lainnya dan kebiasaan olah raga. 10
makanan yang berlemak. Perilaku olahraga

Gambar 1. Skema pemetaan masalah Tn. W berdasarkan konsep Mandala of Health

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 41


Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
Seorang lansia yang menderita antihipertensi pada pasien dengan golongan
penyakit kronis seperti hipertensi, jauh lebih Calsium Channal Blocker (Amplodipine)
rentan terkena depresi karena telah memasuki dengan dosis 5 mg diberikan satu kali sehari
fase hidup terakhirnya. Pada pasien didapatkan pada malam hari.
hasil geriatric depression scale (GDS) yang Rekomendasi pertama yang dipublikasikan
hasilnya adalah 7 dan jika score >7 melalui JNC 8 ini terkait dengan target tekanan
menandakan ada nya depresi atau stress pada darah pada populasi umum usia 60 tahun atau
pasien tersebut.9
lebih. Berbeda dengan sebelumnya, target
Pada pasien ini juga ditegakkan
diagnosis hiperkolesterolemia. Hal ini tekanan darah pada populasi tersebut lebih
berdasarkan keluhan pasien pegal-pegal tinggi yaitu tekanan darah sistolik kurang dari
diseluruh badan, serta hasil pemeriksaan 150 mmHg serta tekanan darah diastolik
laboratorium kadar kolesterol yang tinggi yaitu kurang dari 90 mmHg. Apabila ternyata pasien
286 mg/dl (>200 mg/dl). Berdasarkan literatur, sudah mencapai tekanan darah yang lebih
target kolesterol pada pasien ini adalah <200 rendah, seperti misalnya tekanan darah sistolik
mg/dl.11
<140 mmHg (mengikuti JNC 7), selama tidak
Telah dilakukan intervensi terhadap ada efek samping pada kesehatan pasien atau
pasien dengan menggunakan media leaflet kualitas hidup , terapi tidak perlu diubah.12
tentang hipertensi dan hiperkolesterolemia. Adapun makanan yang harus dihindari
Intervensi ini dilakukan dengan tujuan untuk atau dibatasi oleh pasien yang disampaikan
merubah pola makan pasien yang tidak teratur, saat konseling adalah: makanan yang
pola hidup lebih sehat dan teratur minum obat. berkadar lemak jenuh tinggi (otak, paru,
Ketika intervensi dilakukan, keluarga juga turut minyak kelapa, gajih), makanan dan minuman
serta mendampingi dan mendengarkan apa dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran
yang disampaikan pada pasien. serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink),
Tujuan dari penatalaksanaan pasien yang sumber protein hewani yang tinggi kolesterol
mengalami hipertensi dengan hiperkolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning
adalah pengendalian tekanan darah agar telur, kulit ayam), bumbu-bumbu seperti
dapat mengurangi gejala kepala pusing dan kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal,
pegal di tengkuk dan menghambat penyakit tauco serta bumbu penyedap lain yang pada
supaya tidak menjadi lebih parah dan timbul umumnya mengandung garam natrium,
komplikasi lebih lanjut seperti stroke, alkohol dan makanan yang mengandung
retinopati, nefropati dan penyakit jantung alkohol seperti durian, tape.6
hipertensi. Penatalaksanaan hipertensi terdiri Selain itu agar terhindar dari penyakit
dari terapi non medikamentosa (edukasi, hiperkolesterolemia, salah satu caranya adalah
menurunkan asupan garam, menurunkan menjaga kadar kolesterol dalam darah di posisi
asupan lemak,terapi fisik dan lain-lain), dan normal, yaitu <200 mg/dl. Bagi penderita
terapi obat. Obat antihipertensi untuk terapi hiperkolesterolemia, asupan kolesterol harus
farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh dibatasi yaitu <200 mg/hari. Kita bisa
JNC-8 antara lain: 12 mengontrol asupan kolesterol dengan
1. Diuretika mengurangi asupan lemak jenuh dan
2. Beta Bloker (BB) kolesterol, seperti daging, susu sapi, dan
3. Calsium Channel Blocker (CCB) kuning telur. Kemudian memilih makanan yang
4. Angiotensin Converting Enzyme bisa menurunkan kolesterol seperti kacang
Ihibitor (ACEI) kedelai, serta peningkatan asupan serat.
5. Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB).( Penurunan berat badan dan peningkatan
Yogiantoro M, 2006). aktivitas fisik yang teratur juga dapat
Sehingga disimpulkan sesuai dengan faktor membantu penurunan kolesterol.
pemilihan jenis obat hipertensi dan melihat Pada kunjungan pasien ke Puskesmas
kondisi klinis pasien dengan hipertensi tanpa di Karang Anyar, pasien diberi terapi
sertai komplikasi, harga relatif terjangkau, medikamentosa dengan HMG Co-A Reductase
mudah didapatkan, dengan efek samping yang Inhibitor simvastatin 10 mg diminum stau kali
bisa diatasi, maka pemilihan obat setiap malam. Obat ini dikonsumsi terus

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 38


Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
menerus, sampai kadar kolesterol pasien gorengan atau kerupuk di sore hari. Lauk pauk
mencapai target <200 mg/dl, dan pasien telah yang dimakan sebanyak ± 3 porsi, berupa ikan,
dapat mengatur diet.11 ayam, atau tahu tempe yang digoreng, jarang
Tujuan pemberian simvastatin adalah dipepes atau direbus. Pasien jarang makan
menurunkan jumlah kolesterol dengan cara buah dan sayur.
menurunkan sintesis kolesterol di hati.11 Adanya ketidaksesuaian tersebut
Terdapat beberapa macam obat yang bekerja menyebabkan pasien kemudian diberikan
dengan mekanisme yang sama dengan edukasi mengenai gizi seimbang. Berdasarkan
simvastatin, misalnya lofastatatin dan piramida gizi seimbang dari USDA Department,
atrovastatin. Dibandingkan kedua obat ini didapatkan kebutuhan sehari untuk
simvastatin memiliki kelebihan yaitu karbohidrat yaitu 3-8 porsi, dimana satu
absorpsinya tidak dipengaruhi oleh intake porsinya sama dengan1 potong roti atau½
makanan.13 mangkuk nasi atau ½ mangkuk sereal.
Selain golongan HMG Co-A Reductase Kebutuhan sehari untuk protein yaitu 2-3 porsi,
Inhibitor terdapat beberapa golongan obat lain dimana satu porsinya sama dengan1 potong
untuk terapi farmakologi hiperkolesterol di tahu/tempe atau 3 ons daging/ayam/ikan.
anataranya golongan bile acid seuestrants Sedangkan kebutuhan lemak yaitu 2-3 porsi,
seperti colestipol, golongan derivat asam fibrat dimana satu porsinya sama dengan 1 sendok
seperti gemfibrozil, dan golongan asam teh minyak atau margarin. Kebutuhan sehari
nikotinik seperti niaspan. Kelebihan untuk sayur dan buah masing-masing yaitu 3-5
simvastatin dibandingkan obat-obat tersebut porsi, dimana satu porsinya sama dengan 1
yaitu statin merupakan obat yang cocok untuk potong buah atau ½ mangkuk sayur dan
pasien dengan masalah hiperkolesterolemia merupakan kebutuhan kalori serat pada diet
yang lama dan sulit dikontrol. namun, dengan hiperkolesterolemia (National Cholesterol
berbagai kelebihan tersebut simvastatin tetap Education Program, 2001). Pola makan dan
memiliki efek samping. Efek samping olahraga pasien perlu diatur untuk mencegah
simvastatin yang tidak diharapkan di antaranya komplikasi yang dapat muncul karena
yaitu adanya miositis yang ditandai dengan hiperkolesterolemia. Pola makan yang baik
nyeri otot dan timbulnya gangguan fungsi hati. bagi pasien,selain menyesuaikan dengan gizi
Oleh karena itu, penting untuk memantau seimbang, perlu untuk memperbanyak
fungsi hati dalam masa terapi farmakologis.15 konsumsi serat. Pasien dapat melakukan
Terapi non farmakologis dilakukan olahraga jalan kaki, naik sepeda, ataupun
untuk menambah pengetahuan pasien dan berenang, disesuaikan dengan kemampuan
keluarga mengenai kebutuhan gizi pada dan kesenangan pasien,yang penting dapat
hiperkolesterolemia dan konsumsi makanan dilakukan secara terus menerus.11
yang dapat membantu menurunkan kolesterol. Kunjungan ketiga dilakukan pada
Untuk menentukan terapi non farmakologis, tanggal 1 Maret 2016 dari hasil anamnesis
sebelumnya dilakukan kunjungan ke rumah lanjut didapatkan bahwa menurut pasien
pasien untuk mengetahui pola makan yang kondisi yang ia rasakan mulai semakin
selama ini pasien lakukan dan pengetahuan membaik, tetap melakukan anjuran dokter
pasien mengenai gizi seimbang. yang dijelaskan pada kunjungan kedua.
Pada kunjungan kedua telah dilakukan Pengukuran tekanan darah pasien didapatkan
kunjungan ke rumah pasien untuk mencari 140/90 mmHg, dan pengukuran kadar
mengetahui pola makan yang selama ini pasien kolesterol pasien didapati 205 mg/dl, meskipun
lakukan dan pengetahuan pasien mengenai gizi kadar tersebut masih di atas kadar optimal
seimbang. Pada kunjungan ini didapatkan untuk kolesterol di dalam tubuh yaitu dibawah
hampir setiap hari pasien mengkonsumsi 200 mg/dl. Kadar kolesterol turun dikarenakan
tumisan, gorengan, kulit ayam, kerupuk, pasien telah menjaga pola makannya yaitu
makanan bersantan, dan makanan berlemak mengurangi asupan makanan yang berlemak
lainnya. Pasien selama ini tidak mengetahui dan berminyak. Pasien dianjurkan untuk tetap
pola makan yang sesuai dengan gizi seimbang. memeriksakan diri setiap obat telah habis dan
Namun, pasien mengetahui contoh bahan apabila ada gejala lain yang mengganggu
makanan dari zat gizi yang diperlukan. Pasien pasien dapat langsung ke puskesmas dan
mengkonsumsi nasi 3 piring sehari, ditambah mengikuti saran serta anjuran yang diberikan.

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 39


Rr. Agatha Rhana Avenita dkk. │ Penatalaksanaan Holistik Hipertensi dengan Hiperkolesterolemia
Dalam masalah psikososial, keluarga sudah healthcare system. Am J Manag Care.
memahami penyakit pasien sebagai partner. 13(Suppl):568-71.
Pada pasien ini ditatalaksana secara holistik 8. Badan Penelitian dan Pengembangan
dengan konsep Mandala of Health, Departemen Kesehatan Republik
berdasarkan permasalahan pasien seperti Indonesia. Status kesehatan masyarakat
skema dibawah ini. Indonesia. 2004. In: Soemantri S, Budiarso
LR, Sandjaja, editors. Survei Kesehatan
SIMPULAN Rumah Tangga (SKRT). Volume 2. p. 34-6.
Diagnosis dan tatalaksana pasien ini 9. Yogiantoro M. 2006. Ilmu penyakit Dalam.
sudah tepat. Berdasarkan anamnesis, Fakultas Kedokertan Universitas
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang Indonesia. Jakarta: EGC.
pada pasien ini diagnosisnya hipertensi grade II 10. National Heart, Lung, and Blood Institute
sudah sesuai dengan JNC VIII dan sesuai kadar (NHLBI). 2013. Coronary Heart Disease
kolesterol> 200mg.dl maka pasien ini Risk Factors. Available from:
didiagnosis sebagai hiperkolesterolemia. http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-
Tatalaksana pasien juga sudah tepat dari terapi topics/topics/hd/atrisk.html. Akses
medikamentosa dan non medikamentosa tanggal 28 Maret 2016
sudah sesuai dengan literature yang ada. Pada 11. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
pasien diberikan edukasi mengenai pola makan Simadibrata M, Setiati S. 2009. Buku Ajar
sesuai dengan gizi seimbang, pola olahrga terus Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :Penerbit
menerus, dan pentingnya untuk meminum Buku Kedokteran EGC.
obat dan kontrol tekanan darah dan kadar 12. Paul A, James. 2013. 2014 Evidence-Based
kolesterol. Dukungan keluarga diperlukan Guidline for the Management of High
untuk membantu pasien mengendalikan Pressure In Adults Report from the Panel
penyakit pasien. Members Appointed to the Eight Joint
National Committee (JNE 8). Diunduh dari
DAFTAR PUSTAKA http://www.measureuppressuredown.co
1. Jain, Ritu. 2011. Pengobatan alternative m/HCProf/Find/BPs/JNC8/specialCommu
untuk mengatasi tekanan darah. Jakarta: nication.pdf pada tanggal 18 Maret 2016.
Gramedia Pustaka Utama. 13. Hullisz, D. Which Statin Is Right for My
2. Price S,Wilson L. 2006. Patofisiologi Patient?.2007.(http://www.medscape.co
:konsep klinis proses-proses penyakit edisi m/viewarticle/561128) Akses 18 Maret
ke 6. Vol.2. Jakarta: EGC 2016.
3. Setiabudhi dan Hardywinoto. 2005. 14. Gudmundsson LS, Johannsson M,
Panduan Gerontologi Tinjauan dari Thorgeisson G, Sigfusson, Witteman JCM.
Berbagai Aspek: Menjaga Keseimbangan 2004. Risk profile and prognosis of
Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta: treated and untreated hypertensive men
Gramedia Pustaka Utama. and women in a population-based
4. Martono, H. Proses Penuaan pada Lanjut longitudinal study. Journal of Human
Usia. Dalam: Martono, H, Pranarka, K(Ed.) Hypertension. 18: 615-622
Buku Ajar Boedhi Darmaja Geriatri (Ilmu 15. PERKI. 2013. Pedoman Tatalaksana
Kesehatan Usia Lanjut). Ed.4 . Jakarta: Dislipidemia. Jakarta: Perhimpunan
Balai Penerbit FK UI. 2011. Hal. 82-106. Dokter Kardiovaskular Indonesia Edisi ke-
5. Laporan hasil riset kesehatan dasar 1.
(Riskesdas) Indonesia. 2007. Jakarta : 16. Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, dkk.
Departemen kesehatan republik Prevalensi geriatric giant dan kualitas
Indonesia. hidup pada pasien usia lanjut yang dirawat
6. Antman EM, Braunwald E. 2007. Acute di Indonesia: penelitian multisenter. In
myocardial infarction. In: Braunwald E, Rizka A (editor). Comprehensive
Editor. Heart disease: a textbook of prevention & management for the elderly:
cardiovascular medicine. 8th ed. interprofessional geriatric care. Jakarta:
Philadelphia: WB Saunders. p. 1197-322. Perhimpunan Gerontologi Medik
7. Smith DG. 2007. Epidemiology of Indonesia; 2013:183.
dyslipidemia and economic burden on the

JPM Ruwa Jurai | Volume 2 | Nomor 1 | Oktober 2016 | 40