Anda di halaman 1dari 17

cv.

multi studio engineering

SPESIFIKASI TEKNIS
DATA-DATA KEGIATAN
1.1. Data Umum Kegiatan
Nama Pengguna Jasa : Pemerintah Republik Indonesia, Cq. Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan
Bukittinggi ........................................................................................................

Alamat Pengguna : Jln. Cindua Mato No. 7 Telp. 0752.21055 Bukittinggi ..........................................
Nama PPK : Nama Pejabat Pembuat Komitmen ( PPK ) :
Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Bukittinggi
Kegiatan Pembangunan Tempat Penampungan Pedagang Pasar Atas..................
Pekerjaan Pembangunan Kios Penampungan Pedagang ....................................
Tahun Anggaran 2018 .....................................................................................

Nama : HERMAN, S.Sos .......................................................................


NIP. : 19650307 198503 1 003...........................................................
Jabatan : Kepala Bidang Pengelolaan PAsar ...............................................
Alamat : Jln. Cindua Mato No. 7 Telp. 0752.21055 Bukittinggi ..................

Nama PPTK : Nama Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ) :


Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Pembangunan Tempat Penampungan
Pedagang Pasar Atas, Pekerjaan Pembangunan Kios Penampungan Pedagang ....
Tahun Anggaran 2018 .....................................................................................

Nama : OKI SATRIA, ST


NIP. : NIP. 19790421200802 1 001 ....................................................
Jabatan : Kepala Seksi Pengembangan Sarana dan Prasarana ....................
Alamat : Jln. Cindua Mato No. 7 Telp. 0752.21055 Bukittinggi...................

Nama Kegiatan : Pembangunan Tempat Penampungan Pedagang Pasar Atas ...............................


: Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Bukittinggi .............................................
: Tahun Anggaran 2018 .....................................................................................

Nama Pekerjaan : Pembangunan Kios Penampungan Pedagang.....................................................


: Tahun Anggaran 2018 .....................................................................................

Sumber Dana : APBD, Tahun Anggaran 2018 ...........................................................................

Sistem Kontrak : Unit Price .......................................................................................................

Masa Pelaksanaan : 50 ( Lima Puluh ) Hari Kalender .....................................................................

Masa Pemeliharaan : …… ( ……………………… ) Hari Kalender ......................................................

Konsultan Perencana : CV. MULTI STUDIO ENGINEERING....................................................................

1.2. Data Teknis Pekerjaan


Fungsi Umum : Kios Penampuangan Pedagang .........................................................................
Fisik Pekerjaan : Pembangunan Kios Penampungan Pedagang.....................................................

KETENTUAN UMUM
2.1. Mobilisasi Dan Demobilisasi
Cakupan kegiatan mobilisasi dalam Kontrak ini harus memenuhi :
a. Ketentuan Umum
i. Mobilisasi peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang diperlukan.
ii. Penyediaan base camp, kantor lapangan, bengkel, gudang dan lain-lain sebagainya.
iii. Mobilisasi semua staf pelaksana dan pekerja yang diperlukan.
b. Ketentuan Mobilisasi Kantor Lapangan dan Fasilitasnya untuk keperluan Direksi Pekerjaan dan Kebutuhan ini
akan disediakan dalam Ketentuan lain.
c. Ketentuan mobilisasi Fasilitas Pengendalian Mutu
Apabila penyediaan suatu laboratorium lapangan atau peralatan laboratorium tidak secara khusus
dinyatakan sebagai bagian dari cakupan pemasokan dalam kontrak ini seperti yang disebutkan dalam Data
Kontrak maka fasilitas pengendalian mutu, jika perlu termasuk fasilitas atau pelayanan laboratorium seperti
yang disyaratkan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan pengendalian mutu dari spesifikasi ini harus
dipasok melalui Laboratorium yang disetujui oleh Pengguna Jasa / Direksi Pekerjaan.
2.2. Kantor Kontraktor
a. Mutu ; Kontraktor harus memiliki sebuah kantor untuk penyelenggaraan kegiatannya.
b. Ukuran ; Ukuran kantor dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan harus menyediakan sebuah ruangan

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

yang akan digunakan untuk rapat kemajuan pekerjaan.


c. Alat Komunikasi ; Kontraktor harus menyediakan saluran komunikasi langsung.
d. Fasilitas ; Perlengkapan minimal dalam ruang rapat adalah meja rapat dengan kursi untuk 8 orang (paling
sedikit) dan lemari arsip/rak/laci untuk penyimpanan arsip Dokumentasi Kegiatan yang ditempatkan dekat
ruang rapat.
e. Kantor Pendukung ; Bilamana dianggap perlu, karena jarak dari kantor kontraktor dengan kantor lapangan,
lebih dari 50 km, maka kontraktor harus mendirikan sebuah kantor pendukung atau lebih, termasuk
penyediaan fasilitas-fasilitas kantor, kelengkapan ruangan untuk acara rapat kemajuan pekerjaan dan
sebuah ruangan khusus dengan ukuran mimimal 12 meter persegi yang akan digunakan oleh Staf Direksi
Pekerjaan.

2.3. Kantor Lapangan


Kontraktor harus membangun, menyediakan, memasang, memelihara, membersihkan & menjaga Kantor
Lapangan. Pada saat selesainya Kontrak, kantor lapangan harus dipindahkan serta membuang semua
bangunan darurat, gudang-gudang penyimpanan, barak-barak pekerja dan bengkel-bengkel yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan kegiatan.
Ketentuan Mutu
a. Kontraktor harus mematuhi semua peraturan baik Nasional maupun Daerah
b. Kantor dan fasilitasnya harus ditempati sesuai dengan lokasi, mutu dan denah lapangan yang telah di setujui
Pengguna Jasa dan merupakan bagian dari Program Mobilisasi, dimana penempatanya harus diusahakan
sedekat mungkin dengan daerah kerja (site) dan telah mendapat persetujuan dari Direksi.
c. Bangunan untuk kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga terbebas dari polusi
yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan.
d. Bangunan yang dibuat harus mempunyai kekuatan struktural yang baik, tahan cuaca dan elevasi lantai yang
lebih tinggi dari tanah di sekitamya.
e. Bangunan untuk penyimpanan bahan harus diberi bahan pelindung yang cocok sehingga bahan yang
disimpan tidak akan mengalami kerusakan.
f. Sesuai dengan pilihan Kontraktor, semua bangunan dapat dibuat di tempat atau dirakit dari komponen-
komponen pra-fabrikasi.
g. Kantor lapangan dan gudang sementara harus didirikan diatas pondasi yang mantap dan dilengkapi dengan
penghubung untuk pelayanan utilitas.
h. Bahan, peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk bangunan harus baru atau bekas pakai tetapi
berfungsi baik, cocok dengan maksud pemakaian dan tak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
i. Lahan untuk kantor lapangan dan semacamnya harus ditimbun dan diratakan sehingga layak untuk
ditempati, bebas dari genangan air, diberi pagar keliling dan dilengkapi dengan jalan masuk dari kerikil dan
tempat parker.
j. Kontraktor harus menyediakan alat pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K yang memadai di seluruh
barak, kantor, gudang dan bengkel.
2.4. Bengkel Kerja Dan Fasilitasnya
a. Jika diminta oleh Direksi Pekerjaan, maka Kontraktor harus menyediakan sebuah bengkel kerja di lapangan
dengan perlengkapan yang memadai serta, termasuk arus/daya listrik. Gudang untuk penyimpan suku
cadang juga harus disediakan.
b. Bengkel tersebut harus dikelola oleh seseorang yang ahli dan mampu melakukan perbaikan mekanik serta
memiliki sejumlah tenaga pembantu yang terlatih.
2.5. Gudang Penyimpanan Material Dan Fasilitasnya
a. Gudang Penyimpanan Material dan fasilitasnya ditempatkan sesuai petunjuk direksi pekerjaan dan
diusahakan sedekat mungkin dengan daerah kerja (site).
b. Bangunan untuk Gudang Penyimpanan Material & fasilitasnya harus ditempatkan diatas tanah yang datar
dengan pengaturan yang sedemikian rupa sehingga layak untuk ditempati, bebas dari genangan air,
kebakaran dan dilengkapi dengan jalan masuk yang baik.
c. Bangunan yang dibuat harus memiliki kekuatan struktural yang baik, tahan cuaca dan elevasi lantai harus
lebih tinggi dari tanah sekitamya. Selain itu bangunan gudang juga harus diberi fasilitas tambahan sehingga
bahan yang disimpan tidak mengalami kerusakan.
2.6. Fasilitas Dan Pelayanan Pengujian
a. Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan, fasilitas, pelayanan & hal-hal lain yang diperlukan untuk
melaksanakan pengujian yang disyaratkan. Bilamana secara khusus dimasukkan dalam lingkup Kontrak,
Kontraktor harus bertanggungjawab atas pelaksanaan semua pengujian menurut perintah dan pengawasan
dari Direksi Pekerjaan.
b. Pengajuan Kesiapan Kerja
Kontraktor diwajibkan untuk menyerahkan :
i. Usulan personil penguji : daftar beserta Daftar Riwayat Hidup semua teknisi yang diusulkan Kontrakor
untuk pelaksanaan pengujian.
ii. Jadwal pengujian : jadwal induk (master shedule) semua bagian yang akan diuji. Dengan jadwal
pelaksanaan (construction sehedule) yang ada, maka dapat ditentukan tanggal sementara setiap kegiatan
pengujian.
iii. Formulir pengujian : usulan pengujian untuk semua jenis pengujian yang disyaratkan dalam spesifikasi
harus diserahkan Kontraktor pada Direksi Pekerjaan dalam waktu 45 hari terhitung sejak Tanggal Mulai
Kerja untuk mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

2.8. Pembuatan Papan Nama Kegiatan.


Papan Nama Proyek terbuat dari seng plat atau kain spanduk berbingkai dengan ukuran 120x80 cm dan tiang
kayu 5/7 cm setinggi 240 cm, diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum serta harus memuat :
a. Pengguna Jasa : Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Bukittinggi
b. Nama Pekerjaan : Pembangunan Kios Penampungan Pedagang
c. Lokasi Pekerjaan : Kota Bukittinggi .............................................................................................
d. Kontraktor : .....................................................................................................................
e. Nilai Kontrak : .....................................................................................................................
f. Konsultan Perencana : CV. MULTI STUDIO ENGINEERING........................................................ ...........
g. Konsultan Pengawas : .....................................................................................................................
h. Masa Pelaksanaan : 50 ( Lima Puluh ) Hari Kalender ......................................................................

3.1. ADMINISTRASI
I. PELAPORAN PEKERJAAN
Seluruh laporan pekerjaan dipandang sebagai satu kesatuan dengan keseluruhan Spesifikasi Teknis dan
merupakan kewajiban/tanggungjawab Penyedia Jasa untuk membuat dan menyerahkannya kepada Pengguna
Jasa, sebagai bagian dari pelaksanaan kontrak. Legalitas dan keabsahan laporan pekerjaan adalah sesuai
dengan persetujuan Direksi Pekerjaan dan seluruh biaya yang timbul dalam pembuatan laporan ini, adalah
beban penyedia jasa.

Penyedia Jasa harus memiliki prosedur dan tata cara administrasi yang baku untuk menunjang seluruh
pelaksanaan fisik pekerjaan. Seluruh rekaman data pekerjaan, catatan-catatan, foto-foto dokumentasi dan lain-
lain yang dipandang perlu, mulai dari pekerjaan persiapan, pelaksanaan fisik, serah terima dan pemeliharaan
harus didokumentasikan secara sistematis sesuai dengan kelompok pekerjaan, urutan waktu atau kategori lain
yang dianggap penting.
Laporan pekerjaan tersebut meliputi :
1. Shop Drawing
2. Request Check
3. Laporan Harian
4. Laporan Mingguan
5. Laporan Bulanan
6. As Built Drawing
7. Back Up Data
8. Foto Dokumentasi

Disamping itu, penyedia jasa harus menyediakan Buku Instruksi dan Buku Tamu setiap saat di lapangan selama
masa pelaksanaan pekerjaan.

II. TENAGA AHLI / PERSONIL


Penyedia Jasa wajib dan bertanggungjawab untuk menyediakan tenaga ahli / personil yang berpengalaman
dengan jumlah orang, kualifikasi dan klasifikasi seperti yang ditentukan dalam Lembar Data Pemilihan dan/atau
Dokumen Penawaran Penyedia Jasa. Nama-nama dan jabatan tenaga ahli / personil tersebut, ditulis dalam
bentuk Struktur Organisasi di atas kertas ukuran A3 dan ditempelkan pada dinding yang mudah dilihat di kantor
lapangan.

Apabila tenaga ahli / personil seperti yang diusulkan dalam Dokumen Penawaran, tidak dapat disediakan oleh
Penyedia Jasa, baik menjelang pelaksanaan ataupun dalam masa pekerjaan maka Penyedia Jasa harus
menyampaikan Permintaan Penggantian Personil secara tertulis pada Direksi Pekerjaan dan apabila diizinkan,
Penyedia Jasa harus segera menempatkan penggantinya
paling lambat dalam tempo 7 (tujuh) hari sejak permintaan penggantian tertulis tersebut, dengan syarat, tenaga
ahli / personil pengganti harus memiliki kemampuan yang lebih baik atau setara dari tenaga ahli / personil yang
diganti.

Apabila dalam masa pelaksanaan, Direksi Pekerjaan memandang perlu untuk mengganti satu atau kesemua
personil Penyedia Jasa, karena sesuatu sebab yang mengganggu kelancaran pelaksanaan dan/atau merugikan
fisik kegiatan, maka Penyedia Jasa harus segera menggantinya paling lambat dalam tempo 7 (tujuh) hari sejak
permintaan penggantian tertulis dari Direksi Pekerjaan, dengan syarat, tenaga ahli / personil pengganti harus
memiliki kemampuan yang lebih baik atau setara dari tenaga ahli / personil yang diganti.

Setiap tenaga ahli / personil Penyedia Jasa, sesuai dengan jabatan dan tanggungjawabnya masing-masing,
diwajibkan untuk selalu hadir dan aktif membantu kelancaran proses pelaksanaan pekerjaan, mulai dari
pengukuran ulang sampai dengan serah terima pekerjaan.

Seluruh laporan pekerjaan dari Penyedia Jasa, seperti yang dimaksudkan pasal 3.1.I di atas, dapat
ditanggapi/diperiksa/disetujui oleh Direksi Pekerjaan, apabila ditandatangani oleh orang-orang yang sesuai
dengan lingkup kontrak.

Kerusakan / kekurangan / cacat pekerjaan akibat kelalaian tenaga ahli / personil, mutlak menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa untuk memperbaikinya.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

III. JADWAL PELAKSANAAN


Sebelum memulai pelaksanaan fisik pekerjaan, maka Penyedia Jasa harus membuat detail jadwal pelaksanaan
kegiatan yang merupakan penjabaran dari jadwal pelaksanaan pekerjaan yang terdapat dalam Dokumen
Penawaran. Selain untuk kepentingan rincian jadwal dan sistimatika item-item pekerjaan yang akan dilakukan
per-minggu, tahap ini adalah kesempatan Penyedia Jasa untuk melakukan Review Jadwal, jika perlu.

A. Detail Jadwal pelaksanaan


1. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Kemajuan Pekerjaan dalam bentuk diagram balok horizontal, dan
dilengkapi dengan kurva (Kurva S) yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. Karakteristik
diagram adalah :
a. Setiap jenis item pekerjaan harus digambarkan dalam diagram yang terpisah dan harus dibentuk
sesuai dengan urutan dari masing-masing kegiatan fisik pekerjaan.
b. Skala waktu dalam arah horizontal harus dinyatakan (minimal) dengan satuan minggu kalender
pelaksanaan.
c. Setiap diagram balok horizontal harus mempunyai ruangan yang cukup untuk mencatat atau
menuliskan bobot kemajuan aktual dari setiap item pekerjaan, dibandingkan dengan kemajuan
rencana.
d. Skala dan format dari Jadwal Kemajuan Pekerjaan harus sedemikian rupa hingga tersedia ruangan
untuk pencatatan, revisi dan pemutakhiran mendatang. Ukuran lembar kertas minimum adalah A3.
2. Jika diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus membuat Analisa Jaringan yang
menunjukkan awal dan akhir setiap tanggal mulainya suatu item pekerjaan, sehingga dapat dibaca ada
atau tidaknya jadwal jalur kritis (critical path schedule) dan secara keseluruhan, jenis-jenis pekerjaan
yang kritis (jika ada) dalam pelaksanaan pekerjaan, dapat diantisipasi terlebih dahulu .
3. Penyedia Jasa harus menyediakan jadwal untuk Trial Mix, baik untuk perkerasan Aspal maupun untuk
perkerasan Cor Beton, disertai dengan suatu perhitungan yang menunjukkan bahwa hasil Trial Mix dapat
tercapai sesuai rencana kebutuhan.
4. Penyedia Jasa harus membuat jadwal yang terpisah untuk lokasi semua sumber bahan, bersama
dengan rencana tanggal penyerahan contoh-contoh bahan dan rencana produksi bahan dan jadwal
pengiriman.

B. Revisi Jadwal Pelaksanaan.


Revisi jadwal pelaksanaan dilakukan apabila :
1. Terdapat perubahan kuantitas (volume) pekerjaan yang signifikan apabila ditinjau dari segi waktu,
setelah diterbitkannya Addenda.
2. Terjadinya Kontrak Kritis, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan pasal 33 Syarat-Syarat Umum
Kontrak. Dalam hal ini, untuk setiap Rapat Pembuktian Keterlambatan (Show Couse Meeting) yang
dilakukan, maka penyedia jasa harus membuat dan menyerahkan Revisi jadwal pelaksanaan secara
tertulis kepada Direksi Pekerjaan.
3. Pada saat menyerahkan Revisi Jadwal Pelaksanaan, maka Penyedia Jasa harus membuat laporan ringkas
yang memberikan alasan-alasan timbulnya revisi, yang harus meliputi :
a. Uraian Revisi, termasuk pengaruh terhadap seluruh jadwal karena adanya perubahan cakupan, revisi
dalam kuantitas atau perubahan jangka waktu kegiatan dan perubahan lainnya yang dapat
mempengaruhi jadwal.
b. Pembahasan bahagian-bahagian yang bermasalah, termasuk faktor-faktor penghambat yang sedang
berlangsung maupun yang harus diperkirakan serta dampaknya.
c. Faktor-faktor lain, yang secara logis, nyata dan dapat dipertanggungjawabkan, secara nyata telah
menimbulkan perubahan jadwal pelaksanaan.

IV. RAPAT PEMBUKTIAN KETERLAMBATAN ( SHOW COUSE MEETING /SCM )


1. Rapat Pembuktian Keterlambatan (Show Couse Meeting) dilakukan apabila terjadi Kontrak Kritis dalam
masa pelaksanaan fisik pekerjaan, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan pasal 41 Syarat-Syarat Umum
Kontrak, yaitu :
a. Dalam Periode I (rencana fisik pelaksanaan 0% – 70% dari kontrak), realisasi fisik pelaksanaan terlambat
lebih besar 10% dari rencana ;
b. Dalam periode II (rencana fisik pelaksanaan 70% - 100% dari kontrak), realisasi fisik pelaksanaan
terlambat lebih besar 5% dari rencana ;
c. Rencana fisik pelaksanaan 70% - 100% dari kontrak, realisasi fisik pelaksanaan terlambat kurang dari
5% dari rencana dan/atau akan melampaui tahun anggaran berjalan.

2. SCM Tahap I dilakukan sesegera mungkin setelah Surat Peringatan ke-1 akibat terjadinya Kontrak Kritis,
disampaikan kepada Penyedia Jasa. SCM Tahap I ini minimal harus dihadiri oleh PPK, PPTK, Assisten,
Konsultan Pengawas dan Penyedia Jasa ( Kontraktor ). Agenda dalam SCM Tahap I adalah membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh Penyedia Jasa dalam batasan waktu tertentu (
Uji Coba Pertama ) yang kemudian dituangkan dalam Berita Acara SCM Tahap I. Sebelum melakukan Uji
Coba Pertama, Penyedia Jasa harus menyampaikan Review Jadwal Pelaksanaan sesuai dengan Berita Acara
SCM Tahap I.

3. Apabila Uji Coba Pertama gagal, maka Pejabat Pembuat Komitmen wajib menyampaikan Surat Peringatan
ke-2 kepada Penyedia Jasa dan sesegera mungkin harus dilakukan SCM Tahap II. Dalam SCM Tahap II,

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

minimal harus dihadiri oleh PA dan/atau Kepala Dinas, KPA dan/atau PPK, PPTK, Assisten, Konsultan
Pengawas dan Penyedia Jasa ( Kontraktor ). Agenda dalam SCM Tahap II adalah membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh Penyedia Jasa dalam batasan waktu tertentu (
Uji Coba Kedua ) yang kemudian dituangkan dalam Berita Acara SCM Tahap II. Sebelum melakukan Uji
Coba Kedua, Penyedia Jasa harus menyampaikan Review Jadwal Pelaksanaan sesuai dengan muatan-
muatan yang tertuang dalam Berita Acara SCM Tahap II.

4. Apabila Uji Coba Kedua gagal, maka PPK wajib menyampaikan Surat Peringatan ke-3 kepada Penyedia Jasa
dan sesegera mungkin harus dilakukan SCM Tahap III. SCM Tahap III, minimal harus dihadiri oleh Kepala
Daerah atau yang mewakili, PA dan/atau Kepala Dinas, KPA dan/atau PPK, PPTK, Assisten, Konsultan
Pengawas dan Penyedia Jasa ( Kontraktor ). Agenda dalam SCM Tahap III adalah membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh Penyedia Jasa dalam batasan waktu tertentu (
Uji Coba Ketiga ) yang kemudian dituangkan dalam Berita Acara SCM Tahap III. Sebelum melakukan Uji
Coba Ketiga, Penyedia Jasa harus menyampaikan Review Jadwal Pelaksanaan sesuai dengan muatan-
muatan yang tertuang dalam Berita Acara SCM Tahap III.

5. Apabila Uji Coba Ketiga masih gagal, maka PPK dapat memutuskan Kontrak secarap sepihak dengan
mengkesampingkan pasal 1266 KUHP dan penyelesaian pekerjaan dapat dilakukan melalui Kesepakatan
Tiga Pihak sebagaimana yang sudah diatus dalam ketentuan pasal 33 Syarat-Syarat Umum Kontrak.

V. ASPEK LAIN DALAM PELAKSANAAN


1. Aspek Keselamatan Kerja
Penyedia Jasa harus memperhatikan ketentuan dan Undang-Undang tentang kesehatan dan Keselamatan
Kerja. Ketentuan-ketentuan tersebut harus diadopsi oleh pelaksana pekerjaan dalam prosedur/manual
pekerjaan secara menyeluruh untuk setiap tahapan pekerjaan, mulai dari tahap pekerjaan persiapan hingga
pemeliharaan setelah penyerahan pekerjaan.
2. Aspek Ekonomis
Penyedia Jasa wajib memperhatikan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan. Termasuk dalam hal ini aspek
SDM, Peralatan dan pengadaan bahan. SDM yang digunakan harus secara efektif dapat memenuhi
kebutuhan jadwal dan kualitas pekerjaan. Jumlah dan jenis peralatan-peralatan pendukung pekerjaan harus
diperhitungkan dengan seksama sesuai jadwal pekerjaan terutama bila peralatan-peralatan tersebut
diadakan dengan sewa. Pengadaan bahan/material harus diupayakan efektif sesuai dengan pekerjaan yang
dijadwalkan.
3. Aspek Kelancaran Lalu Lintas
Penyedia Jasa harus menjamin kelancaran dan keselamatan lalu lintas selama pelaksanaan pekerjaan. Untuk
mewujudkan hal ini, Penyedia Jasa harus memastikan adanya manual pengelolaan lalu lintas selama
pekerjaan dan audit keselamatan jalan. Penyedia Jasa pekerjaan berkewajiban untuk melaksanakan
pekerjaan sesuai manual pengelolaan lalu lintas, melakukan audit keselamatan jalan, melakukan kaji ulang
terhadap manual rencana pengelolaan lalu lintas, dan melaksanakan rekomendasi perbaikan sesuai hasil
audit keselamatan jalan.
4. Aspek Sosial Dan Budaya
Penyedia Jasa berkewajiban memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat di lokasi pelaksanaan
pekerjaan. Hal-hal yang cukup sensitif, seperti gangguan kebisingan pada waktu ibadah, waktu istirahat, hal-
hal yang ditabukan atau lokasi-lokasi yang dianggap suci oleh masyarakat setempat sedapat mungkin
dihindarkan dari gangguan pekerjaan atau personil yang terlibat dalam pekerjaan. Dalam hal ini, kepada
penyedia jasa juga disarankan untuk memakai tanaga lokal / masyarakat setempat, sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan.

I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. SURVEY LAPANGAN / PENGUKURAN ULANG
a. Syarat Umum
Sebelum fisik pekerjaan dimulai, maka Penyedia Jasa, dibawah pengawasan Direksi Pekerjaan harus
melakukan survai lapangan dan pengukuran ulang terlebih dahulu, untuk melihat keadaan mutakhir tentang
kondisi fisik dan struktur Bangunan, Perletakan Saptic tank, dan perlengkapan lainnya seperti pagar
pengaman Dll.
Pekerjaan survey lapangan dan pengukuran ulang, harus memuat rekaman data yang sangat jelas dan
terperinci serta disyahkan oleh Direksi Pekerjaan, untuk kemudian dilakukan perhitungan ulang dan
pengkajian masalah serta melihat perbandingannya dengan Daftar Kuantias seperti yang tertuang dalam
Dokumen Kontrak.

Pekerjaan ini harus mencakup hal-hal berikut ini, tetapi tidak terbatas pada :
1. Pengkajian terhadap Persiapan dan Gambar
a. Penyedia Jasa harus mempelajari Gambar yang terdapat dalam Dokumen Kontrak dan berkonsultasi
dengan Direksi Pekerjaan sebelum pekerjaan survai dimulai.
b. Penyedia Jasa harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan maksud dari Gambar dan Spesifikasi dan
tidak boleh mengambil keuntungan atas setiap kesalahan atau kekurangan dalam Gambar atau
perbedaan antara Gambar dan Spesifikasi. Penyedia Jasa harus menandai / memperbaiki setiap
kesalahan atau kekurangan, terutama yang berhubungan dengan struktur Bangunan. Direksi Pekerjaan
akan melakukan perbaikan dan interprestasi untuk melengkapi Spesifikasi dan Gambar ini. Bilamana

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

dimensi yang diberikan dalam Gambar dapat dihitung, pengukuran berdasarkan skala tidak boleh
digunakan kecuali bila disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Setiap penyimpangan dari Gambar sehubungan
dengan kondisi lapangan yang tidak terantisipasi, akan ditentukan dan diperintahkan secara tertulis oleh
Direksi Pekerjaan. Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan harus mencapai kesepakatan terhadap ketepatan
atas setiap perubahan yang diambil terhadap Gambar dalam Kontrak ini.

II. PEKERJAAN PEMBERSIHAN LAPANGAN


a. Ruang Lingkup
Pekerjaan ini mencakup :
1. Pembersihan lokasi kerja pada saat dan setelah pelaksanaan pekerjaan.
2. Pekerjaan-pekerjaan yang bersangkutan dengan pemenuhan persyaratan lingkungan.

b. Prinsip Dasar
Selama periode pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus memelihara lokasi pekerjaan bebas dari akumulasi
sisa-sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah yang diakibatkan oleh operasi pelaksanaan. Pada saat
selesainya Pekerjaan, semua sisa bahan bangunan dan bahan-bahan tak terpakai, sampah, perlengkapan,
peralatan dan mesin-mesin harus disingkirkan, seluruh permukaan terekspos yang nampak harus dibersihkan
dan lapangan ditinggalkan dalam kondisi siap pakai serta dapat diterima dengan layak oleh Direksi Pekerjaan.

c. Pembersihan Selama Pelaksanaan


1. Penyedia Jasa harus melakukan pembersihan secara teratur pada lokasi pekerjaan untuk menjamin bahwa
tempat kerja, struktur, kantor sementara dan tempat hunian dipelihara bebas dari akumulasi sisa bahan
bangunan, sampah dan kotoran lainnya yang diakibatkan oleh operasi-operasi di tempat kerja dan
memelihara tempat kerja dalam kondisi rapih dan bersih setiap saat.
2. Bilamana dianggap perlu, Penyedia Jasa harus menyemprot bahan-bahan dan sampah yang kering dengan
air secukupnya untuk mencegah debu atau pasir yang beterbangan.
3. Penyedia Jasa harus membuang sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah di tempat yang telah ditentukan
sesuai dengan Peraturan Pusat maupun Daerah dan Undang-undang Pencemaran Lingkungan yang berlaku.
4. Penyedia Jasa tidak diperkenankan mengubur sampah atau sisa bahan bangunan di lokasi pekerjaan tanpa
persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
5. Penyedia Jasa tidak diperkenankan membuang limbah-limbah berbahaya, seperti cairan kimia, minyak atau
thinner cat ke dalam saluran atau sanitasi yang ada.
6. Penyedia Jasa tidak diperkenankan membuang sisa-sisa bahan bangunan ke dalam sungai atau saluran air.

d. Pembersihan Akhir
Pada saat penyelesaian pekerjaan, tempat kerja harus ditinggalkan dalam keadaan bersih dan siap untuk
dipakai Pemilik. Penyedia Jasa juga harus mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang tidak
diperuntukkan dalam Dokumen Kontrak ke kondisi semula.

PASAL 1
UMUM
Persyaratan Teknis ini berlaku untuk seluruh pekerjaan, secara umum persyaratan ini bisa ditetapkan dan merupakan
kesatuan dengan dokumen lainya.
Semua pekerjaan yang dilaksanakan adalah berdasarkan/berpedoman kepada dokumen kontrak yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak (Pihak Proyek dan Pihak Pemborong).
Pekerjaan ini mencakup mendatangkan bahan, tenaga dan peralatan serta mengerjakan semua pekerjaan sampai
selesai, sesuai dokumen kontrak yang telah disepakati.

PASAL 2
REFERENSI
2.1 Secara umum dalam pelaksanaan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain, berlaku ketentuan-ketentuan
dibawah ini termasuk segala perubahannya.
a. Undang-Undang/Perpres Presiden Nomor 54 tahun 2010 dan Keputusan 70 Tahun 2012
b. Peraturan / Surat Keputusan dari Departemen / Instansi yang berwenang.
c. Peraturan Daerah
d. Standart / Pedoman Seperti:
 Baja Tulangan - SNI - 07-2052-2002
 Semen SNI-15-2049-2004
 Peraturan Perencana Bangunan Baja SNI DT-91-0013-2007
 Peraturan Muatan Indonesia
 Peraturan Umum Baja Bangunan Indonesia 1970
 Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia 2000 dan Peraturan PLN setempat
e. Semua peraturan dan standar lokal yang berlaku.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

2.2 Apabila ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak diatur dalam persyaratan teknis umum/khusus
maka Pemborong harus menganjukan salah satu persyaratan berikut ini guna mendapatkan persetujuan
pengawas lapangan.
a. Standar/normal pedoman yang bias diterapkan pada bagian pekerjaan yang bersangkutan yang
diterbitkan oleh instalasi, Assiasi, lambaga Pengujian ataupun badan lain yang berwenang.
b. Brosur Teknis dari Produsen yang dilengkapi dengan sertifikat dari lembaga pengujian.

PASAL 3
UKURAN DAN PENJELASAN GAMBAR
3.1.1 Pada dasarnya semua ukuran yang tertera dalam gambar rencana dan Detail adalah merupakan acuan
untuk pelaksanan pekerjaan, dan merupakan ukuran jadi.
3.1.2 Sebelum memulai pelaksanan pekerjaan, Pemborong harus terlebih dahulu mempelajari segala ukuran
yang tertera dalam gambar rencana dan detail. Dan apabila terjadi keraguan atau tidak cocoknya ukuran
gambar rencana (gambar skala yang lebih kecil) dengan gambar lain/detail maka pemborong harus
mengkonsultasikan dengan pihak Pengawas/Direksi untuk didapati suatu kesepakatan.
3.1.3 Apabila gambar rencana dalam satu disiplin pekerjaan tidak sama dengan gambar kerja/detail atau gambar
yang lain maupun dengan penjelasan RKS, RAB serta dokumen lainnya, sebelum memulai pekerjaan
tersebut pemborong harus mengkonsultasikan dengan Pengawas/Direksi untuk didapat suatu kesepakatan
dalam pelaksanaan.
3.1.4 Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur dengan struktur, mekanikal, Electrikal atau gambar
disiplin pekerjaan lainya, maka yang berlaku/mengikat adalah gambar kerja Arsitektur sepanjang tidak
mengurangi kekuatan konstruksi/struktur bangunan, atau dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak
Direksi/Pengawas.
3.1.5 Bila perbedaan-perbedaan itu, ketidak-jelasan maupun perbedaan menimbulkan keragu-raguan sehingga
dalam pelaksanaan dapat menimbulkan kesalahan, maka pemborong harus terlebih dahulu melaporkan
kepada Pengawas/Direksi untuk mendapatkan keputusan gambar mana yang akan dijadikan peganggan.
3.1.6 Ketentuan di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Pemborong untuk Memperpanjang waktu pelaksanaan
maupun mengajukan “claim” biaya pekerjaan tambah.

PASAL 4
PERSIAPAN PEKERJAAN
4.1 Pekerjaan Persiapan.
4.1.1 Sebelum pekerjaan dilaksanakan dilapangan pemborong terlebih dahulu harus mempersiapkan
peralatan, tenaga kerja dan bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
4.1.2 Apabila dilapangan, pihak Direksi/Pengawas menganggap peralatan dan tenaga serta bahan yang
didatangkan tidak memenuhi kebutuhan baik kuantitas, maupun kualitasnya, maka
Direksi/Pengawas berhak untuk menolak, dan Pemborong harus melakukan penggantian atau
penambahan.

4.2 Direksi Keet, Gudang dan Barak Kerja.


4.2.1 Dilapangan, pemborong diharuskan menyediakan ruangan untuk kantor Direksi (Direksi Keet )
yang digunakan untuk penunjang pelaksanaan pekerjaan dan juga sebagai ruang rapat lapangan.
4.2.2 Direksi Keet minimal harus dilengkapi dengan mobiler seperlunya antara lain:
 Meja tulis setengah biro + kursi : 1 Set
 Meja rapat ukuran 1,2 x 1,8 m’ : 1Bh
 Kursi/bangku untuk rapat : Secukupnya
 Papan tulis/ whiteboard + Spidol : 1 Set
 Triplek untuk menempel gambar
4.2.3 Pemborong juga harus menyediakan ruangan untuk kantor Pemborong dan gudang bahan serta
los kerja sesuai kebutuhan.
4.2.4 Segala biaya yang dikeluarkan untuk keperluan tersebut diatas adalah tanggung jawab pemborong,
dan tidak bisa dimasukkan dalam item pekerjaan/penawaran. Dan semua kelengkapan tersebut
menjadi milik pemborong dan dapat dibuka/diambil kembali setelah pekerjaan dinyatakan selesai
(setelah serah terima ke II pekerjaan).
4.3 Keamanan.
4.3.1 Pemborong harus menempatkan personil satuan pengaman /penjagaan untuk kepentingan
Pemborong sendiri dilokasi pekerjaan.
4.3.2 Segala sesuatu yang dapat merugikan pemborong yang disebabkan oleh tidak adanya
pengamanan adalah merupakan resiko pemborong dan tidak dapat di klaim kepada pihak proyek,
atau sebagai alasan untuk mengurangi suatu pekerjaan/keterlambatan.
4.4 Penerangan / Daya Listrik
4.4.1 Daya listrik yang diperlukan untuk penerangan dan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan harus
disediakan oleh pemborong dengan menggunakan generator atau pembangkit tenaga listrik
lainnya dengan kapasitas yang mencukupi.
4.4.2 Segala biaya yang disebabkan oleh penyediaan daya listrik tersebut merupakan tanggung jawab
pemborong.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

4.5 Air Kerja


4.5.1 Air untuk bekerja harus disediakan pemborong dengan mengambil sumber dari yang ada di lokasi
pekerjaan atau sumber lain atas persetujuan Pemberi Tugas/Pengawas.
4.5.2 apabila sumber air yang ada tidak dapat menjamin kebutuhan, pemborong harus membuat bak
penampungan air/reservoir dengan kapasitas yang mencukupi untuk air kerja, sesuai dengan
petunjuk Pengawas.

PASAL 5
PEKERJAAN PERMULAAN
5.1 Pembersihan Lapangan.
5.1.1 Sebelum memulai pekerjaan Pemborong harus memersihkan lokasi pekerjaan (Site) dari
tumbuhan, sampah atau benda lainnya yang dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan, dan juga
yang dapat merusak/mengurangi mutu pekerjaan.
5.1.2 Semua material/bahan bekas pembersihan lapangan tersebut harus dibuang dari lokasi, sehingga
tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan atau menganggu/merusak kebersihan lingkungan.
5.2 Pekerjaan Bongkaran
5.2.1 Sebelum dilaksanakan pekerjaan pembongkaran, terlebih dahulu pemborong harus mempelajari
terlebih dahulu bagian-bagian yang akan dibongkar, dan mengkonsultasikannya dengan pengawas
lapangan dan pemilik proyek.
5.2.2 Pekerjaan pembongkaran dilaksanakan harus dengan teliti sesuai dengan gambar rencana atau
atas pengarahan Direksi/Pengawas serta kebutuhan dilapangan untuk pekerjaan rehab tersebut,
sehingga bagian atau komponen bangunan yang tidak harus dibongkar tidak rusak.
5.2.3 Jika terjadi kerusakan dari bagian bangunan yang tidak harus dibongkar, yang disebabkan kelalaian
pemborong, maka pemborong harus bertanggung jawab memperbaikinya kembali.
5.2.4 Bekas bongkaran, seperti kayu-kayu seng dan lain-lainnya harus diserahkan kontraktor kepada
pengguna jasa dan menjadi milik pengguna jasa.
5.2.5 Pekerjaan bongkaran disini meliputi bongkaran kayu-kayu tempat berdirinya tiang Baja ringan
pada lapak-lapak kios pada lokasi pasa lereng, adapun bongkaran ini nantinya akan dirapikan
kembali sehingga tidak merusak lapak-lapak kios yang ada.
5.3 Pasang Bouwplank
5.3.1 Bouwplank dipasang pada patok kayu kasau berukuran 5/7, yang ditanamkan ditanah sehingga
tidak dapat di gerak-gerakkan atau diubah-ubah, berjarak maksimum 1,50 m dari garis as
bangunan dan maksimum 2,00 M’ antara patok satu dengan patok yang lainnya.
5.3.2 Bouwplank dibuat dari papan dengan ukuran tebal 2 cm dan lebar 20 cm dipasang lurus dan
diserut rata pada sisi di sebelah atasnya. Tinggi sisi atas papan bangunan harus sama satu dengan
yang lainya dan rata/waterpass, kecuali dii kehendaki lain oleh pengawas.
5.3.3 Setelah selesai pemasangan bouwplank, pemborong harus melaporkan kepada pengawas untuk
mendapatkan persetujuan dan harus menjaga serta memelihara keutuhan dan ketetapan letak
bouwplank selama pelaksanaan pekerjaan, sampai dinyatakan oleh Direksi/Pengawas bowplank
dapat dibuka (tidak diperlukan lagi).

PASAL 6
PEKERJAAN URUGAN PASIR
6.1 Pekerjaan Pengurugan Pasir.
6.2.1 Urugan Pasir dilaksanakan untuk mengisi bagian dalam bangunan/ kios bawah lantai.
6.2.2 Urugan pasir harus dilaksanakan lapis demi lapis (maksimum t = 20 cm untuk setiap lapisnya) dan
setiap lapisnya harus dilakukan pemadatan dengan cara menggilas atau dengan alat pemadat
getar/mesin pemadat (Stamper) yang disetujui oleh Direksi/Pengawas.
6.2.3 Jika menurut penilaian Direksi/Pengawas pemadatan harus dibantu dengan cara penyiraman,
maka pemborong harus melaksanakannya.
6.2.4 Pasir urug harus bebas dari segala bahan-bahan yang dapat membusuk atau dapat mempengaruhi
kepadatan urugan yang akan dilaksanakan.
6.2.5 Bahan-bahan bekas bongkaran bangunan sama sekali tidak boleh dipergunankan sebagai bahan
urugan. Pasir urugan dapat diambil dari bekas galian, atau pasir yang didatangkan dari luar yang
telah disetujui oleh Direksi/ Pegawas.

PASAL 7
PEKERJAAN PASANGAN
7.1 Agregat.
7.1.1 Agregat yang digunakan untuk semua pekerjan harus berkwalitas baik.
7.1.2 Untuk Pekerjaan pasangan dan beton agregat harus memenuhi yang disyaratkan dalam SNI 03-
2847-2002. dan Pemborong harus mengajukan sample dan hasil test aggregat yang akan
digunakan sebelum agregat tersebut dikirim ketempat pekerjaan.
7.1.3 Aggregat kasar adalah aggregat yang tertahan pada ayakan no. 5, aggregat halus adalah aggregat
yang dapat melewati ayakan no. 5.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

7.1.4 Aggregat kasar harus bersih dari Lumpur, tumbuhan dan bahan-bahan kimia yang dapat
mempengaruhi kekuatan beton, serta harus memiliki ukuran yang beragam, keras dan bentuk
yang baik.
7.1.5 Agregat Kasar Yang digunakan adalah Kerikil Beton ditentukan dengan Lolos Sariangan 1-3cm.
7.1.6 Aggregat halus yang dimaksud adalah pasir yang bersih, bebas dari segala jenis kerang, silk, clay,
garam dan bahan-bahan lain.
7.1.7 Apabila kadar Lumpur aggregat halus melebihi 5% dan aggregat kasar melebihi 1%, maka
aggregat harus dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan. Sesuai trial mix yang dilakukan, aggregat
yang digunakan untuk campuran beton harus berasal satu sumber, yang telah disetujui oleh
Direksi/ Pengawas.
7.1.8 Aggregat harus disimpan dalam keadaaan terpisah satu sama lain berdasarkan ukurannya diatas
permukaan yang keras, sehingga terhindar dari kemungkinan tercampur dengan lumpur maupun
tanah. Harus dibuatkan pula saluran air disekitar penyimpanan agar kadar air dari aggregat tidak
berubah terlalu banyak.
7.2 Batu Bata
7.2.1 Batu bata yang dipakai harus bermutu baik, dengan kekerasan /pembakaran yang sempurna
denga sudut-sudutnya yang sempurna dan siku antara sstu sisi dengan sisi yang lainnya.
7.2.2 Ukuran dan bentuk semua batu bata yang akan dipakai harus sama. Jika terjadi perbedaan ukuran
bata yang dipakai tidak boleh melebihi 5 mm.
7.2.3 Prosentase pemakaian batu bata patah tidak boleh lebih dari 10% dari volume bata yang dipakai
pada bidang yang akan dipasang.
7.2.4 Penyimpanan batu bata harus diatur sedemikian rupa agar batu bata tidak rusak atau berkurang
mutunya. Direksi/Pengawas berhak menolak pemakaian batu bata yang rusak atau kurang baik
mutunya akibat kesalahan penumpukkan/penyimpanan.
7.3 A i r.
7.3.1 Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan bebas dari unsur-unsur
yang merusak seperti alkali, asam, garam dan bahan anorganik lainnya. Air dari kualitas yang
dikenal dan untuk konsumsi manusia tidak perlu diuji. Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, semua
air kecuali yang telah disebutkan di atas, harus diuji dan memenuhi ketentuan AASHTO T26
dan/atau disetujui Manajer Proyek atau yang disyaratkan dalam hasil test labor (Mix Design).
7.3.2 Semua biaya untuk mendapatkan air bersih dan biaya pemeriksaan di laboratorium menjadi
tanggung jawab kontraktor.
7.4 Cement Portland
7.4.1 Semen harus dari tipe PCC dan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 atau ASTM C 150.
Semen harus berasal dari satu merek dagang, seperti Semen Padang, Indocement, Holcim, Gresik
atau yang setara.
7.4.2 Semen harus dikirim ketempat pekerjaan dalam keadaan tertutup rapat dalam kemasan aslinya
dari pabrik, sesuai dengan yang telah disetujui oleh Direksi/Pengawas. Semen harus diletakkan
dalam ruangan tertutup, sehingga tidak mendapatkan pengaruh langsung dari perubahan cuaca
dan kelembaban gudang penyimpanan semen tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga
memudahkan penyimpanan pada saat pengiriman maupun pengambilan pada saat pemakaian.
Semen yang digunakan harus dalam keadaan fresh (belum mulai mengeras).
7.4.3 Semen yang sudah mengalami perubahan akibat cuaca maupun kelembaban tidak diizinkan untuk
dipakai. Semen yang tidak memenuhi syarat harus dikeluarkan dari tempat pekerjaan, dengan
sepengetahuan Direksi/Pengawas.

PASAL 8
PEKERJAAN BETON
9.1 Standar Rujukan :
a. SNI 2847-2014 - Persyaratan Struktural Untuk Bangunan Gedung
b. SNI 03-2847-2002 - Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
c. American Concrete Institute (ACI)
d. American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO)
e. American Society for Testing and Materials (ASTM)
9.2 Kegagalan pekerjaan beton yang terjadi akibat penyimpangan dari spesifikasi yang telah ditentukan harus
diperbaiki dan seluruh biaya serta resiko menjadi tanggung jawab pemborong.
9.3 Komposisi adukan untuk pekerjaan beton bertulang di pekerjaan ini di pakai untuk pekerjaan non struktur
atau pekerjaan beton paraktis mengggunana beton K.125 dan Beton K -175.
9.4 Dalam melakukan pencampuran beton (semen, pasir dan Kerikil) dipakai takaran volume material, Takaran
Volume Material Diadapat dari Job Mix Formula (JMF), yang di ajukan kontraktor ke Owner dan Pengawas
sebelum Pengecoran, JMF yang diajukan harus dikeluarkan oleh Laboratorium yang mempunyai legalitas.
9.5 Untuk mendapatkan komposisi adukan yang tepat, pemborong harus membuat suatu takaran masing-
masing material dengan ukuran yang sama yang telah disetujui oleh Direksi /Pengawas.
9.6 Pengadukan beton harus dilakukan dengan menggunakan alat pengaduk mesin (Molen), type dan
kapasitasnya harus mendapat persetujuan dari Direksi/ pengawas.
9.7 Untuk Menentukan Beton Telah memenuhi Karaktersitik yang di inginkan, kontraktor harus mengambil
benda uji setiap pengecoran, semua biaya yang dikeluarkan ditanggung Oleh kontraktor.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

PASAL 9
PENGECORAN
12.1 Pengecoran Beton
12.1.1 Pengecoran beton dapat dimulai/dilaksanakan setelah acuan dari bagian/komponen bangunan
yang akan dicor selesai dipasang, dan telah diperiksa serta mendapat persetujuan dari Direksi/
Pengawas.
12.1.2 Tempat/bagian yang akan dicor terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran
(potongan kayu, batu, tanah, dan lain-lain) dan dibasahi dengan air semen.
12.1.3 Pengecoran dilakukan secara terus menerus. Adukan yang tidak dicor dalam waktu lebih dari 15
menit setelah keluar dari mesin adukan beton dan juga adukan yang tumpah selama
pengangkutan tidak diperkenankan untuk dipakai lagi.
12.1.4 Pada pengecoran baru (sambungan antar beton lama dan beton baru), maka permukaan beton
lama terlebih dahulu harus dibersihkan dan dikasarkan dengan menyikat sampai agregat kasar
tampak, kemudian disiram dengan air semen. Lokasi dari Constructrion joint ini harus disetujui
oleh Direksi/ pengawas.
12.2 Uji Beton
12.2.1 Dilakukan sesuai dengan SNI - 03-1972-1990 - Metode pengujian slump beton, SNI - 2458-2008 -
Tata cara pengambilan contoh uji beton segar.
12.2.2 Contoh adukan beton harus mewakili setiap kelompok pencampuran dan terdiri dari berbagai
perbandingan dari tempat yang berbeda dalam kelompok pencampuran. Komposisi contoh harus
terdiri tidak kurang dari 28,320 cm3 (1 cu.ft.)
12.2.3 Sebanyak minimal 3 (tiga) buah benda uji, atau 1 (satu) benda uji untuk setiap mutu beton untuk
setiap volume 5 m3 beton harus dibuat selama penggunaan setiap kelompok pencampuran
kecuali pada awal dan akhir pencampuran, dan menempatkannya pada sebuah tempat metal
seperti kereta dorong. Tingkat penggunaan kelompok pencampuran ditentukan oleh tingkat
kecepatan alat pencampur dan bukan oleh ukuran bukaan pintu. Pengambilan contoh dilakukan
dengan menempatkan wadah atau menuangkan campuran beton ke dalam kereta dorong. Harus
diperhatikan agar aliran campuran beton tidak menyebabkan terpisahnya bahan-bahan beton.
12.2.4 Contoh harus diaduk menyeluruh dengan sekop untuk memperoleh keseragaman. Uji slump
contoh harus dilakukan segera setelah pengambilan contoh
12.3 Transportasi Beton.
12.3.1 Pengangkutan beton harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi
kekuatan serta sifat-sifat fisik dari beton tersebut, serta misalnya pemisahan beton, kekentalan
beton dan lain sebagainya.
12.3.2 Pengangkutan beton harus kontiniu, direncanakan juga tempat pengecoran yang akan
memungkinkan dan metoda pengangkutan beton dilapangan (terutama untuk pengecoran yang
dilakkan di ketinggian).
12.3.3 Ketinggian jatuh dari adukan beton perlu diperhatikan, tempat jatuhan beton tersebut harus bersih
dari segala macam kotoran.
12.3.4 Apabila pemisahan adukan beton terjadi, beton harus diaduk kembali (remixed) sebelum
dilakukan pengecoran. Beton yang sudah tercemar bahan-bahan lain tidak diperkenankan untuk
dipakai.

PASAL 10
PEKERJAAN DINDING
13.1 Pasangan batu bata dengan adukan 1 Pc : 4 psr, dipasang pada dinding lantai ( dimulai diatas Perkeraasan
Dasar ).
13.2 Sebelum dimulai pasangan, batu bata harus terlebih dahulu direndam sampai kenyang dan permukaan bata
yang akan dipasang harus basah.
13.3 Tebalnya siar pasangan batu bata tidak boleh kurang dari 1,5 cm ( 15 mm) dan siarnya harus benar-benar
terisi merata dengan spesi. Dan untuk persiapan plesteran, siar harus ditekuk/dikorek sedalam 1 Cm.
13.4 Semua pasangan harus rata (horizontal) dan lot (tegak lurus). Untuk membuat pasangan bata tersebut
lurus, rata (horizontal) dan tegak lurus (lot) harus dimabtu dengan benang. Pemasangan benang untuk
setiap antara benang tidak boleh dari 5 (lima) lapis pasangan bata atau maksimal setiap jarak 30 cm dari
pasangan di bawahnya. Tidak dibenarkan menggunakan batu bata patah yang kurang dari ½ (separoh)
panjang bata , kecuali sesuai dengan peraturannya (di sudut).
13.5 Siar tegah pasangan bata lapis satu dengan lapis yang lainnya didak boleh satu garis (harus berbeda
setengah bata).
13.6 Semua pasangan bata harus dijaga jangan sampai terkena matahari langsung dan Pemborong harus
melindungi pasangan bata dari sinar mata hari langsung (minimal selama proses pengeringan).

PASAL 11
PEKERJAAN PLESTERAN
15.1. Semua bagian yang akan diplester harus disiram terlebih dahulu dan dibersihkan dari kotoran (minyak,
debu/tanah) serta bahan lainnya yang mungkin dapat merusak/mengurangi mutu pekerjaan plesteran.
15.2. Pasir untuk spesi plesteran adalah pasir kali dan harus diayak hingga mendapat butiran yang sama.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

15.3. Pemborong tidak diizinkan memakai campuran atau mencampur pasir kali dengan pasir gunung/pasir putih
atau pun pasir yang mengandung tanah/Lumpur.
15.4. Plesteran diaduk 1 Pc : 4 Psr dilaksanakan untuk semua pasangan bata dengan spesi 1 Pc : 4 Psr.
15.5. Pekerjaan plesteran harus rata, rapi dan tidak ada retak-retak,
15.6. Untuk mendapatkan permukaan plesteran rata dan rapi, pada jarak tertentu (sesuai pengarahan
Direksi/Pengawas) dibuat rol/kepala plesteran.
15.7. Seluruh pekerjaan plesteran harus diaci dengan pasta semen dan dengan permukaan dihaluskan.

PASAL 12
PEKERJAAN TIANG BESI DAN PASANGAN DINDING
2.1. Material
 Tiang Besi : Hollow Uk. 50x100mm dengan ketebalan 1,6mm
Hollow Uk. 50x50mm dengan ketebalan 1,6mm
Baja Ringan C.75 dengan ketebalan 0.75mm

 Rangka Dinding : Hollow Uk. 35x35mm dengan ketebalan 1,2mm


 Pengaku Lantai/Tiang : Besi Siku 40x40mm dengan ketebal 0,4mm
 Triplek : Standar SNI dengan ketebala 4mm

2.2 Ketentuan Umum


Sebelum pekerjaan pembuatan dan pemasangan dilakukan, maka :
Kontraktor wajib mengadakan pemeriksaaan pengukuran dilapangan agar ukuran yang akan
dipasang sesuai dengan keadaan di lapangan.
Kontraktor harus mengajukan terlebih dahulu contoh-contoh bahan yang akan
digunakan dan membuat mock-up untuk mendapat persetujuan Direksi Pengawas/Arsitek.
Bahan yang cacat tidak boleh digunakan. Bahan yang dipasang harus sesuai contoh yang
sudah disetujui Direksi Pengawas / Arsitek.

2.3. Pelaksanaan Pekerjaan


 Sebelum memulai pelaksanaan kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar dan kondisi
dilapangan (ukuran dan peil, lubang) dan membuat contoh jadi untuk sebagian type rangkaian yang
ditentukan oleh Direksi Pengawas / Arsitek.
 Proses fabrikasi harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai, dengan membuat lengkap dulu shop
drawing dengan petunjuk Direksi Pengawas / Arsitek meliputi gambar gambar rangkaian dan
sambungan, bentuk dan ukuran.
 Semua sambungan dan pertembuan besi dilakukan secara baik dengan teliti sesuai ukuran dan
kondisi lapangan agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
 Pada bagian pengelasan pertembuan atau sambungan besi hollow dilakukan pengelasan full pada
bidang dimensi / penampang besi hollow.
 Angkur-angkur untuk tiang kedasar beton dapat digunakan dinabolt.
 Pemasangan dinding triplek 4mm dan dinding GRC 6mm dapat dilakukan apabila :
1) Pemasangan Rangka besi hollow sudah rata dan disetujui oleh pihak pengawas.
2) Pemasangan dilakukan dengan cara dibaut / screw ke rangka besi hollow dengan jarak maksimal
25cm
3) Pemasangan harus rata dan tidak bergelombang.
4) Pemasangan triplek dilakukan pada bagian dinding dalam sedangan untuk pemasangan dinding
GRC dilakukan pada dinding bagian luar yang tempias air hujan atau sesuai yang tertera pada
gambar rencan.
5) Setiap sambungan pemasangan triplek dan GRC harus rapi dan tidak berserabut, dapat
dilakukan dengan memberi lakban gypsum.

PASAL 12
PEKERJAAN PINTU ROLLING DOOR
2.1. Material
Material daun : Galvalum dengan ketebalan 0,35mm
Material lainnya : gambar detail

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

2.2 Ketentuan Umum


Sebelum pekerjaan pembuatan dan pemasangan dilakukan, maka :
Kontraktor wajib mengadakan pemeriksaaan pengukuran dilapangan agar ukuran yang akan
dipasang sesuai dengan keadaan di lapangan.
Kontraktor harus mengajukan terlebih dahulu contoh-contoh bahan yang akan
digunakan dan membuat mock-up untuk mendapat persetujuan Direksi Pengawas/Arsitek.
Bahan yang cacat tidak boleh digunakan. Bahan yang dipasang harus sesuai contoh yang
sudah disetujui Direksi Pengawas / Arsitek.

2.3. Pelaksanaan Pekerjaan


 Sebelum memulai pelaksanaan kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar dan kondisi
dilapangan (ukuran dan peil, lubang) dan membuat contoh jadi untuk sebagian type kusen yang
ditentukan oleh Direksi Pengawas / Arsitek.
 Proses fabrikasi harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai, dengan membuat lengkap dulu shop
drawing dengan petunjuk Direksi Pengawas / Arsitek meliputi gambar denah, lokasi, merk, kwalitas,
bentuk dan ukuran.
 Semua dudukan pintu dikerjakan secara baik dengan teliti sesuai ukuran dan kondisi lapangan agar
hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
 Untuk menutupi roda putaran pintu dapat digunakan bahan material triplek dengan finshin cat air.

PASAL 13
PEKERJAAN LOTENG
17.1 Rangka Loteng
17.1.1 Sebelum pemasangan rangka langit-langit dilaksanakan, perlu diperhatikan pekerjaan yang
erat hubungannya dengan pekerjaan tersebut yaitu instalasi listrik.
17.1.2 Bila pekerjaan tersebut tidak tercantum pada gambar rencana langit-langit, maka harus diteliti
dahulu pada gambar instalasi pekerjaan yang dimaksud dengan Direksi/Pengawas.
17.1.3 Rangka langit-langit dibuat dari Rangka Besi hollow furing 20.40 mm
17.1.4 Semua Besi Hollow untuk rangka langit-langit telah diseleksi dengan baik tidak cacat-cacat
lainnya
17.1.5 Semua bahan yang akan dipasang harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi/Pengawas.
17.1.6 Setelah seluruh rangka langit-langit terpasang, seluruh permukan harus rata, lurus dan
waterpass.
17.1 Bahan Loteng
17.2.1 Bahan penutup Plafond Yang diapakai Triplek Tbl. 4 mm Ukuran 120 x 60 Cm yang dibaut /
di screw ke rangka besi hollow furing dengan jarak minimal 15cm.
17.2.2 Penempatan dari masing-masing bahan loteng harus disesuaikan dengan gambar rencana.
17.2.3 Pertemuan loteng dengan dinding dipasang list Kayu Penempatannya disesuaikan dengan
gambar rencana Plafond

PASAL 14
PEKERJAAN KUDA-KUDA DAN ATAP
15.1 Kuda-Kuda/Rangka Atap
15.1.1 Pekerjaan kuda-kuda dilaksanakan pada pekerjaan sesuai dengan Gambar Rencana Kap/atap.
15.1.2 Bahan Rangka atap baja ringan adalah dengan bahan baku Aluminium zinc coated steel plat (
plat baja dilapisi aluminium) berupa profil C75 dan untuk reng 0.45

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

15.1.3 Mutu baja yang digunakan minimal 550 MPA ( 5500Kg/Cm2 ).


15.1.4 Lapisan dengan komposisi 43.5% Zink, 55% Aluminium dan 1,5 % Silicon Alloy Coating
15.1.5 Kontraktor melampirkan Sertifikasi pengujian lentur dan tekan elemen profil baja ringan,
analisa struktur hasil out put dari software gambar kerja,terlampir SNI pada Row material.
15.1.6 Hasil out put gambar yang diusulkan kontraktor berdasarkan hasil perhitungan software
merupakan gambar kerja yang akan diterapkan dilapangan.
15.1.7 Melampirkan Surat dukungan Pabrik.
15.1.8 Melampirkan perhitungan Struktur
15.1.9 Mempunyai garansi minimal 10 tahun.
15.1.10 Lesplank dibuat dari GRC Ukuran 9mmx20cm.

15.2 Bahan Penutup Atap


15.2.1 Bahan Penutup Atap Adalah
- Seng Gelombang Berwarna KW I dengan ketebalan 0.2mm yang memiliki SNI/SII Untuk
pemilihan warna atap harus dikunsultasikan dengan direksi dan pengawas lapangan
- Atap Superdek berwarna dengan ketebalan 0.3mm yang memiliki SNI
- Atap Fiber Transparan dengan ketebalan 0.6mm
15.2.2 Screw yang dipakai adalah 2 jenis Srew yaitu 10 – 16 mm.

PASAL 15
PEKERJAAN LISTRIK
1. SPESIFIKASI TEKNIK INSTALASI LISTRIK
1.1. URAIAN PERSYARATAN DAN PERATURAN UMUM

1. Uraian persyaratan ini menjelaskan tentang detail spesifikasi bahan dan cara pemasangan Instalansi Listrik dan
penangkal petir, meliputi pekerjaan secara lengkap dan sempurna mulai dari penyediaan bahan sampai di
site, upah pemasangan, penyimpangan, transportasi, pengujian, pemeliharaan dan jaminan.
2. Dalam melaksanakan instalansi ini, kontraktor harus mengikuti semua persyaratan yang ada seperti :
a. Peraturan Umum Instalasi Listrik 2000
b.VDE, ISO, BS, LMK.
3. Pembuat panel harus mengikuti dan terikat pada semua persyaratan yang tercantum dalam :
a. Persyaratan umum
b.Spesifikasi teknis
c. Gambar rencana
d.Berita acara aanwijzing
4. Sumber daya listrik bersumber dari Perusahaan Umum Listrik Negara dan Diesel Generator Set bilamana daya
dari PLN mengalami gangguan.
5. Fasilitas instalasi listrik tersebut digunakan untuk :
a. Penerangan dalam
b.Penerangan halaman/jalan
c. Stop kontak biasa & tenaga
d.Penerangan service area
e. Air conditioning
f. Peralatan lain-lain
6. Sistem tegangan listrik 380 volt – 3fasa – 50 Hz atau 220 volt, 50 Hz.
7. Persyaratan kontraktor listrik
a. Harus mempunyai SIKA – PLN golongan C yang masih berlaku.
b.Harus dapat disetujui oleh Pemberi Tugas/ Pengawas Lapangan.
8. Semua instalansi penerangan dan stop kontak menggunakan sistem 3 core.
9. Semua panel listrik harus diberi pentanahan dengan kawat BC.
10. Semua pipa dari bahan metal yang terpasang dalam tanah harus diberi pelindung anti karat.

1.2. LINGKUP PEKERJAAN LISTRIK


1. Melaksanakan :
a. Seluruh instalansi penerangan & stop kontak dalam gedung
b.Seluruh instalansi pentanahan/grounding
2. Menyediakan dan memasang semua toevoer listrik.
3. Menyediakan dan memasang rack kabel dan hanger untuk feeder dan instalansi.
5. Mengurus permintaan daya listrik dan proses daya penyambungan listrik sehingga dapat digunakan oleh
pemilik bangunan.
6. Membuat gambar kerja dan menyerahkan gambar revisi.
7. Melakukan pengetesan.
8. Menyerahkan pengetesan.
9. Melaksanakan pemeliharaan jaminan.
10. Memasang nama-nama panel dan hubungan circuit breaker berupa tulisan yang jelas dari bahan yang tahan
lama.

1.3. PERSYARATAN UMUM BAHAN DAN PERALATAN

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

1. Syarat- syarat Dasar


a. Semua bahan atau peralatan harus baru dalam arti bukan barang bekas atau hasil perbaikan.
b.Material atau peralatan harus mempunyai kapasitas atau rating yang cukup.
c. Harus sesuai dengan spesifikasi/persyaratan.
d.Kapasitas yang tercantum dalam gambar atau spesifikasi adalah minimum.

Kontraktor boleh memilih kapasitas yang lebih besar dari yang diminta dengan syarat :
- Tidak boleh menyebabkan sistem menjadi lebih sulit.
- Tidak menyebabkan pertambahan bahan.
- Tidak meminta pertambahan ruang.
- Tidak menyebabkan adanya tambahan biaya.
- Tidak menurunkan mutu.

2. Syarat-syarat Fisik
a. Semua bahan atau peralatan dari kualifikasi atau tipe yang sama, diminta merek atau dibuat oleh pabrik
yang sama.
b. Dalam setiap hal, suatu bagian atau suku-suku cadang dari peralatan yang jumlahnya jelas ditentukan,
maka jumlah tersebut harus tetap lengkap setiap kali peralatan tersebut diperlukan, sehingga merupakan
unit yang lengkap.
c. Apabila suatu bahan atau peralatan disebutkan pabrik pembuatnya atau mereknya, hal ini dimaksud
untuk mengikat mutu, tipe perencanaan dan karakteristik.

1.4. SPESIFIKASI TEKNIK BAHAN DAN PERALATAN

1. Listrik
a. Kabel penerangan dan Power
- Kelas tegangan 1000 Volt dan 600/1000 Volt.
- Inti penghantar tembaga
- Isolasi PVC, sheated dan lain- lain.
- Jumlah inti satu atau banyak
- Jenis kabel : NYA, NYM, NYY, NYFGBY, BC dan lain-lain sesuai gambar rencana.

2. Pipa dan Fitting


a. Seluruh pengkabelan untuk penerangan dan stop kontak dilaksanakan dalam pipa dan fitting-fitting High
Impact Conduit PVC untuk dalam bangunan kecuali untuk feeder dan NYY tanpa pipa. untuk di halaman
terpasang dalam trench atau tertanam dalam tanah.
b. Sparing pipa menggunakan pipa galvanis yang ukurannya disesuaikan dengan material yang akan
dipasang.
c. Penyambungan dari jalur instalansi ke armature lampu menggunakan pipa flexible jenis PVC merek EGA
atau Clipsal.
d. Semua teknik pelaksanaan yaitu percabangan, pembelokan, pengetapan dan sebagainya harus
menggunakan fitting-fitting yang sesuai yaitu socket, elbow, T-doos, cross-doos, terminal 3 M puntir,
isolasiban, klem besi dan lain-lain.
e. Semua pipa yang tidak dalam cor-coran atau tertanam dalam tanah harus diberi marker dengan warna
merah pada ujung-ujung pipa dan kabel setiap jarak 10 m.

3. Cabletray, rak kabel dan hanger


Semua kumpulan dari jalur instalansi/feeder dilewatkan dalam cable tray lengkap dengan rak kabel dan
hanger sesuai kebutuhan yang tertera dalam gambar setara metosu.
4. Alat Bantu Instalasi
a. Bak kontrol dan tutupnya dari beton bertulang untuk pentanahan
b.Pasir urug, sirtu dan tanah urug.

5. Sakelar dan Stop Kontak


a. Saklar dari produksi ex. ABB, Clipsal, MK, type standard warna disesuaikan.
Mekanisme sakelar bentuk persegi dengan rating 13 A- 250 Volt dengan warna yang disetujui oleh MK.
Dalam supply saklar harus lengkap dengan box tempat dudukannya dari bahan metal.

b. Stop kontak
Stop kontak biasa dengan rating 10 A – 250 Volt. 2 kutub ditambah 1 untuk pertanahan. Stop kontak
tenaga dengan rating 15 A – 250 Volt. 2 kutub ditambah 1 untuk pertanahan.
Dalam supply stop kontak harus lengkap dengan box tempat dudukannya dari bahan metal jenis
pasangan inboow

6. Panel listrik

Terdiri atas :
a. Panel Utama PUTR
Berfungsi untuk menerima daya listrik dari Transformator sisi tegangan rendah.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

Main breaker dan branch breaker menggunakan ACB dan MCCB sebagai pengaman sesuai gambar
rencana.

Umum
 Tegangan kerja: 380 colt – 3 fase – 50 Hz
 Interupting capacity untuk main breaker 45 KA dan cabang-cabang minimal 25 KA.
 Jenis panel indoor frestanding lengkap dengan pintu.
 Gambar detail harus dibuat oleh kontraktor dan disetujui oleh pemberi tugas sebelum pembuatan.

Pemutusan Daya
 Rated breaking capacity pada 380 volt – 3 fase tidak kurang dari 35 KA.
 Breaker jenis ACB (air Circuit Breaker) haus memakai jenis fixed type.
 Release harus mengandung :
- Thermal overload release.
- Magnetic short circuit release (mempunyai sistem range)
- Under voltage & over voltage release khusus untuk main breaker dari transformer & genset dengan
motor dan mechanisme.
 Rumah panel dan busbar
- Ukuran rumah panel harus dapat mencakup semua peralatan dengan penempatan yang cukup
setara elektris dan fisik.
- Pasangan semua komponen harus dapat dicapai dari bagian depan dengan mudah tanpa pintu
terkunci.
- Rumah panel dari besi pelat dengan tebal tidak kurang dari 2 mm.
- Semua permukaan pelat baja sebelum dicat harus mendapat pengolahan pembersihan sejenis “
phospstizing tratment” atau setara.
- Bagian dalam dan luar harus mendapat paling sedikit satu lapis cat penahan karat. Untuk lapisan
akhir cat finish bagian luar dasarnya abu-abu.
- Ruang pencapaian harus cukup untuk memudahkan kerja.
- Label-label terbuat dari bahan trafolite yang tersusun berlapis putih hitam putih dan digravir
sesuai kebutuhan dalam bahasa Indonesia.
- Bukaan ventilasi dari bagian sisi panel.
- Semua pengabelan di dalam panel harus rapih terdiri atas kabel-kabel berwarna, mudah diusut
dan mudah dalam pemeliharaan.
- Busbar dan teknik penyambungan harus menurut peraturan PUIL dan DIN. Bahan dari tembaga
yang berdaya hantar tinggi, bentuk persegi panjang dipasang pada pole-pole isolator dengan
ketentuan dan jarak sesuai ketentuan untuk menahan tekanan-tekanan elektris dan mekanis
pada level hubung singkat.
- Busbar dalam panel harus disusun sebaik-baiknya sampai semua terminal kabel atau bar lainnya
tidak meyebabkan lekukan yang tidak wajar.
- Busbar harus dicat secara standard untuk membedakan fasa-fasanya.
- Batang penghubung antara busbar dengan breaker harus mempunyai penampang yang cukup
dengan rating tidak kurang dari 125 % dari rating breaker.
- Pada sambungan-sambungan busbar harus diberi bahan pelindung (tinned).
- Ujung kabel harus memakai sepatu kabel dari bahan tembaga.
Instrument dan peralatan penunjuk lainnya:
- Voltmeter AC :
 Jenis moving iron, range 600 volt, sudut 900, kelas 2.5 hubungan langsung.
 Rangkaian memakai fuse
 Bentuk persegi empat pasangan masuk.
 Selector switch dapat mengukur ;
- fasa/fasa
- fasa/netral
- Ammeter AC :
 Jenis moving iron, range sesuai kebutuhan, 900 hubungan langsung dengan trafo arus kelas
2.5.
 Bentuk persegi empat, pasangan masuk.
- Lampu pilot
- Cos Ø meter

b.Panel Distribusi
Persyaratan umum :
- Teknis pelayanan panel ini untuk penerangan setiap lantai.
- Type breaker baik main dan breaker sesuai gambar rencana terdiri atas MCCB dan MCB.
Persyaratan Pembuatan :
- Badan panel dari sheet steel dengan ketebalan minimal 1.6 mm.
- Persyaratan anti karat dan pengecatan luar 2 kali seperti panel utama.
- Type panel indoor.
- Jenis panel surface mounted pintu berkunci.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

Panel dengan pintu berkunci bilamana panel terletak di ruang terbuka.


- Pentanahan harus mempunyai bar bagi fasilitas pentanahan peralatan.
- Busbar dari bahan tembaga dengan kapasitas tidak boleh kurang dari kabel feeder yang masuk,
boleh telanjang asal dipasang secara kuat dan aman.
- Breaking capacity sesuai dengan gambar sebagai berikut :
 Main breaker 15 KA untuk panel penerangan.
 Cabang- cabangnya minimal 5 KA.

7. Material Pentanahan
Pentanahan sistem instalansi listrik mengguanan sistem pentanahan menurut apa yang ditentukan dalam PUIL
1987.

1.5. PERSYARATAN PEMASANGAN


1 Persyaratan Instalasi dan Peralatan
a. Kontraktor harus meneliti semua dimensi-dimensi secepatnya sesudah mendapat Surat Perintah Kerja
(SPK). Ajukan usul-usul kepada pemberi tugas, apa yang perlu dirubah atau diatur kembali agar semua
instalasi dan peralatan dalam sistem dapat ditempatkan dan bekerja sebaik-baiknya.
- Sebelum melakukan pemasangan bahan dan peralatan lakukanlah pengukuran, meneliti poin-poin
dalam proyek menurut keadaan sebenarnya.
- Apabila ada perbedaan antara pengukuran di lapangan, ajukan data-data kepada pemberi tugas.
b. Kontraktor harus membuat gambar kerja yang memuat gambar denah, potongan dan detail sesuai
keadaan sebenarnya di lapangan, dengan mendapat persetujuan dari pemberi tugas.
c. Kontraktor harus berkonsultasi dengan kontraktor lain, sehingga pemasangan instalasi dan peralatan
dapat dilakukan tanpa terjadi tabrakan.
d. Semua bahan instalasi dan peralatan sebelum dibeli, dipesan, masuk site atau dipasang harus mendapat
persetujuan dari pemberi tugas.

2. Pemasangan Instalasi dan Peralatan


a. Pada daerah langit-langit tanpa plafond instalansi terpasang dalam corcoran pelat beton pelindung pipa
lengkap fitting-fittingnya.
b. Pada daerah langit-langit dengan plafond instalasi terpasang sebagai berikut :
- Untuk 1 dan 2 jalur kabel saja, instalasi diklem kepelat beton atau diklem ke hanger besi pelat.
c. Semua instalasi feeder dalam bangunan tidak menggunakan pipa pelindung.
d. Di bawah plafond atau langit-langit instalasi terpasang sebagai berikut :
- Untuk sakelar dan stop kontak terpasang recessmounted ke kolom atau tembok. Saklar terpasang
150 cm di atas lantai finish dan stop kontak setinggi 30 cm di atas lantai kecuali peralatan tertentu.
e. Dalam shaft riser instalasi feeder terpasang dan diklem ke rak kabel shaft riser setiap jarak 150 tanpa
pipa.
f. Di halaman instalansi terpasang sebagai berikut :
Feeder dan instalansi lampu halaman terpasang minimal 60 cm di bawah permukaan tanah dengan
memakai pelindung pipa galvanis untuk yang melintas jalan.
g. Penyambungan dalam doos-doos percabangan memakai pelindung terminal 3 M puntir kemudian doos
tersebut ditutup.
h. Akhir dari instalasi exhaust fan berupa stopkontak 1 fasa atau 3 fasa.
i. Semua pipa instalasi di plafond, dilangit-langit dan di shaft harus diberi marker setiap jarak 10 m.
j. Ramset/ Dynabolt atau fischerplug harus terpasang ke plat beton dengan kokoh.
k. Pemasangan angkur harus dikerjakan sebelum pengecoran dan diikat kebesi beton. Dapat juga
dilakukan dengan tembakan ramset atau fisherplug.
l. Rackriser atau rak kabel atau cable tray bersama penggantung dimurbaut ke angkur.
m. Setiap belokan kabel terutama feeder yang besar harus diperhatikan radiusnya, minimal R = 30 D.
dimana D adalah diameter kabel.
n. Tidak diperkenankan melakukan penyadapan atau penyambungan ditengah jalan kecuali pada tempat
penyambungan.
o. Terminasi kabel harus selalu menggunakan sepatu kabel.
p. Panel Listrik
- Panel penerangan terpasang wallmounted kedinding bangunan.
- Panel penerangan terpasang wallmuonted atau surface mounted kekolom atau dinding.
- Panel penerangan luar jenis outdoor diberi pelindung.

3. Pentanahan
Semua instalasi, peralatan dan panel-panel listrik harus diberi pentanahan sebagai berikut:
a. Pentanahan sistem
b. Yang dimaksud dengan pentanahan sistem adalah pentanahan kawat netral (MP). Yang harus
ditanahkan adalah titik netral.
Grounding electroda berupa Ø 1”, sehingga diperoleh tahanan tanah lebih dari 5 ohm.

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis


cv. multi studio engineering

1.6. PENGUJIAN (TESTING)


1. Semua pelaksanaan instalasi dan peralatan harus diuji, sehingga diperoleh yang baik dan bekerja sempurna
sesuai persyaratan PLN, spesifikasi dan pabrik. Bila diperlukan, bahan-bahan instalasi dan peralatan dapat
diminta oleh direksi untuk diuji ke laboratorium atas tanggungan biaya kotraktor.

2. Tahap-tahap pengujian adalah sebagai berikut :


a. Semua pelaksanaan instalasi yang akan tertutup harus diuji sebelum dan sesudah bagian tersebut
tertutup sehingga diperolah baik menurut PLN, spesifikasi dan pabrik
b. Setiap satu lantai yang selesai dipasang harus dilakukan pengujian.
c. Semua panel listrik sebelum dipasang dan sesudah dipasang harus diuji tegangan dan tahanan isolasi
dalam kondisi baik. Juga harus diuji sistem kerjanya sesuai spesifikasi yang diisyaratkan.
d. Semua armature lampu harus diuji dalam keadaan menyala sempurna.
e. Semua penyambungan harus diperiksa tersambung dengan mantap dan tidak terjadi kesalahan
sambung atau polaritas.
f. Tahanan tanah harus diuji memenuhi persyaratan yang dospesifikasikan.
g. Pengujian harus bersama direksi dan dibuat laporan tertulis.

PASAL 16
PEKERJAAN CAT
22.1 Cat Dinding dan Cat Plafon
22.1.1 Pasangan dinding baru dan loteng Triplek yang akan dicat, terlebih dahulu harus dibersihkan
dari debu, minyak dan bahan lain yang dapat merusak/mengurangi mutu pekerjaan cat.
22.1.2 Pasangan dinding baru yang akan dicat terlebih dahulu harus diplamur merata dan diamplas
sampai rata dan rapi, baru kemudian dicat dengan cat tembok hingga rata (minimal 2 x jalan)
atau sampai sempurna dan disetujui oleh Direksi/Pengawas.
22.1.3 Seluruh dinding tembok dan loteng dicat dengan cat tembok Setara Catilac yang telah disetujui
oleh Direksi/Pengawas.
22.1.4 Permukaan tembok yang akan dicat harus benar – benar kering.
22.1.5 Pekerjaan Pengecatan harus dilakukan oleh tenaga yang telah berpengalaman serta mengikuti
petunjuk dari brosur/pabrik cat yang dipakai.
22.1.6 Warna cat yang akan dipakai ditentukan kemudian oleh Direksi/Pengawas ataupun pihak proyek.

PASAL 17
PENUTUP dan PEMELIHARAAN
Setelah seluruh pekerjaan selesai dilaksanakan, dan sebelum dilaksanakan serah terima pekerjaan, pemborong
diharuskan:
24.1 Membersikan seluruh lokasi pekerjaan dari segala kotoran/sampah bekas pekerjaan sehingga bangunan dan
lokasi bangunan kelihatan rapi dan bersih, serta tidak mengganggu pemakaian bangunan.
24.2 Membersihkan seluruh komponen/bagian bangunan dari kotoran/noda bekas pekerjaan sehingga bangunan
rapi dan bersih.
24.3 Selama masa pemeliharaan pemborong wajib memeriksa kembali seluruh hasil pekerjaannya. Apabila
ternyata terjadi kerusakan atau ketidak sempurnaan, maka pemborong wajib memperbaikinya baik atas
inisiatif sendiri maupun atas instruksi Direksi/Pengawas.
24.4 Walaupun dalam RKS ini tidak diuraikan satu persatu tentang persyaratan khusus, baik teknis maupun
bahan serta peraturan/undang-undang daerah setempat, namun pemborong dianggap telah memahaminya,
dan pemborong diharuskan untuk memenuhi/ melaksanakan nya dan segala hal tersebut diatas. Apabila
membutuhkan biaya, pemborong tidak dapat mengajukannya sebagai pekerjaan tambah. Dan hal tersebut
telah termasuk dalam harga penawaran.

Bukittinggi, Februari 2018


PPK
Dinas Koperasi, UKM dan Pedagangan
Kota Bukittinggi

HERMAN, S.Sos
NIP. 19650307 198503 1003

Pembangunan Kios Penampungan Pedagang Spesifikasi Teknis