Anda di halaman 1dari 3

Analisis Mikrozonasi Kerentanan Seismik Desa Repaking, Kabupaten Boyolali;

dan Sekitarnya
Annisa Trisnia Sasmi, Hibatul Haqqi Laksana, I Wayan Rizky Erwandhita, Muhammad Adis Suryo Wicaksono,
Mochamad Aditya Girash, Menif Kurniado, Sarah Citra Setyaloka, Santika Satya Widita, Yopi Anas Saputro Adi

Program Studi Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

INTISARI

I. Pendahuluan

Fenomena pergerakan tanah merupakan

II. Tinjauan Pustaka


2.1. Dasar Teori
a. Mikrotremor
Getaran alami tanah dengan amplitudo dan magnitudo rendah disebut sebagai mikrotremor.
Getaran ini memiliki kisaran amplitudo 0,1-1 mikron dan kecepatan 0.0001-0.01 cm/detik (Mirzaouglu
dan Dýkmen, 2003). Keberadaan mikrotremor dipengaruhi oleh berbagai penyebab alami maupun
buatan seperti gelombang laut, angin, kerapatan bangunan, aktivitas manusia, dan lain-lain. Sumber
alami mikrotremor umumnya memiliki kisaran frekuensi 1 Hz. Gelombang laut menimbulkan ambient
vibration dengan frekuensi sekitar 0.2 Hz sedangkan frekuensi sekitar 0.5 Hz dihasilkan oleh interaksi
antara gelombang laut dan pantai. Pada frekuensi di bawah 0.1 Hz, mikrotremor diasosiasikan dengan
aktivitas di atmosfer. Sementara itu, frekuensi tinggi yang berkisar lebih dari 1 Hz dapat ditimbulkan oleh
angin, aliran air, aktivitas manusia, dan lalulintas kendaraan. Adapun lokasi sumber getaran mikrotremor
biasanya berada di permukaan tanah dan bervariasi dengan adanya siang dan malam (SESAME European
project, 2005).
Pada awalnya, penelitian mengenai mikrotremor dilakukan oleh Omori pada tahun 1908. Riset
ini terus mengalami perkembangan, hingga pada tahun 1961, Kanai dan Tanaka mengusulkan rekayasa
aplikasi mikrotremor. Selanjutnya, Nagoshi dan Igrashi (1970) mengembangkan teknik rasio spektral
Horizontal to Vertical dari konsep mikrotremor terdahulu. Nakamura (1989) pun mempopulerkan teknik
Horizontal to Vertikal Spektrum Ratio (HVSR) untuk menganalisis parameter-parameter penting dari
mikrotremor, seperti frekuensi natural dan amplifikasi tanah. Teknik pengolahan gelombang
mikrotremor ini dipopulerkan oleh Nakamura (1989). Teknik HVSR merupakan teknik sederhana yang
dapat menggambarkan karakteristik dinamis tanah maupun struktur. Rasio spektral dari H/V merupakan
estimasi rasio antara spektrum amplitudo komponen horizontal dan vertikal dari suatu getaran.
Spektrum H/V akan menunjukkan frekuensi resonansi/frekuensi dasar (f0) dan nilai puncak HVSR (A).
Kagami, dkk (1982) menyatakan bahwa rasio perbandingan komponen horizontal per vertikal
pada litologi sedimen mengindikasikan besar kecilnya amplifikasi yang terjadi di wilayah tersebut.
Nakamura (1989) berhipotesis bahwa site effect mikrotremor dapat ditentukan melalui evaluasi
komponen pergerakan dari rasio spektrum komponen horizontal per vertikal pada daerah tersebut.

b. Horizontal Per Vertical Spectral Ratio (HVSR)


HVSR merupakan teknik pengolahan gelombang mikrotremor dengan melakukan fourier fast
transform pada data rekaman mikrotremor yang berdomain waktu. Teknik ini dipopulerkan oleh
Nakamura pada tahun 1989. HVSR merupakan metode sederhana yang dapat menggambarkan
karakteristik dinamis tanah maupun struktur. Rasio spektral dari H/V merupakan estimasi rasio antara
spektrum amplitudo komponen horizontal dan vertikal dari suatu getaran. Spektrum H/V akan
menunjukkan frekuensi resonansi/frekuensi dasar (f0) dan nilai puncak HVSR (A0).
Persamaan rasio komponen horizontal per vertikal didefinisikan oleh Nakamura (1989) berikut:
√𝐴𝑛2 −𝐴𝑒 2
H/V =
𝐴𝑉

Dimana H/V = rasio komponen horizontal per vertikal; AV = amplitudo komponen vertikal;
An = amplitudo komponen northing; EW = amplitude komponen easting.

c. Frekuensi Natural (f0)


Melalui operasi fourier fast transform pada metode HVSR, akan dihasilkan frekuensi dominan
yang menyatakan frekuensi natural daerah penelitian. Nilai frekuensi natural suatu wilayah sangat
dipengaruhi oleh kondisi geologi bawah permukaan setempat. Batas pengamatan frekuensi natural
di suatu tempat adalah 0.5-20 Hz. Persamaan dari frekuensi natural yaitu:
𝑉𝑠
𝑓 =
4𝐻
Dimana Vs merupakan kecepatan perambatan gelombang permukaan, dan H adalah ketebalan
dari lapisan lapuk.

d. Amplifikasi (A0)
Apabila suatu medium terusik oleh gelombang lain dengan frekuensi yang sama dengan
frekuensi natural benda tersebut, terjadilah fenomena yang dinamakan penguatan
gelombang (amplifikasi).

e. Peak Ground Acceleration (PGA)


Peak Ground Acceleration (PGA) adalah percepatan gerakan tanah maksimum yang terjadi pada
suatu titik akibat gempa bumi yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Analisis PGA dilakukan
dengan memperhatikan besar magnitudo dan jarak hiposenter gempa bumi. Salah satu metode
perhitungan percepatan gerakan tanah diformulasikan oleh Kanai (1996) yaitu:
𝑎1 10a2M-Plog10 R+Q
𝑎=
√𝑇𝑔
Dengan M yaitu magnitudo gempa, Tg adalah periode natural, R adalah jarak episenter gempa.

f. Indeks Kerentanan Seismik (Kg)


Nakamura (1998) dan Huang-Tseng (2002) menyatakan bahwa indeks kerentanan tanah
(Kg) merepresentasikan tingkat kerentanan suatu lapisan tanah yang mengalami deformasi
akibat gempa bumi. Kg dinyatakan sebagai berikut:

𝐴𝑚2
𝐾𝑔 =
𝑓
Dengan Am adalah faktor amplifikasi dan f adalah frekuensi HVSR. Semakin tinggi nilai Kg,
semakin rentan wilayah tersebut akan gempa bumi.

g. Ketebalan Lapisan Lapuk (H)


Apabila densitas batuan dasar dengan batuan sedimen sama, A0 merupakan nilai amplifikasi
dan Vb merupakan kecepatan gelombang badan di batuan dasar, maka diperoleh:
𝑉𝑏
𝐴0 =
𝑉𝑠
Sehingga nilai ketebalan lapisan lapuk yaitu:
𝑉𝑏
𝐻=
4 𝑓0 𝐴0

2.2. Geologi Regional

III. Metodologi Penelitian


3.1. Instrumen yang Digunakan
3.2. Akuisisi Data
Penelitian dilakukan pada tanggal 24 April – 2 Mei 2017, melingkupi area seluas 6 x 4 km,
dengan spasi antartitik 500 meter. Untuk masing-masing titik pengamatan, perekaman
dilakukan selama kurang lebih 30 menit, menggunakan frekuensi sampling 100 Hz. Pada alat
BPPTKG (tulis jenis alatnya), besarnya gain adalah 1, sedangkan pada instrumen *tulis jenis alat
lab geofis*, digunakan gain sebesar 100.

3.3. Pengolahan Data


Data yang telah diakuisisi kemudian diproses menggunakan perangkat lunak Geopsy.
Setelah menginput komponen vertikal, easting dan northing dari masing-masing data, data
terlebih dahulu difilter dengan filter lolos tinggi untuk menghilangkan noise stasioner.hyh

3.4. Interpretasi Data

IV. Hasil

V. Kesimpulan
VI. Daftar Pustaka

Mudamakin, Philips, dkk. (2011). STUDI AWAL RESPON DINAMIS BERDASARKAN PENGUKURAN
MIKROTREMOR DI BENDUNGAN KARANGKATES MALANG. Jurnal Meteorologi dan Geofisika. Vol.14
No.3 Tahun 2013: 103-116.

Hartantyo, Eddy, dkk. (2013). Predicting The Liquefaction Phenomena from Shear Velocity Profiling:
Empirical Approach to 6.3. Mw, May 2006 Earthquake. Procedia Earth and Planetary Sciences.
ISEDM 2013.