Anda di halaman 1dari 27

ABSTRAK

Perkembangan teknologi memiliki peranan penting dalam peningkatan


efisiensi kenerja, maka dapat di kembangkan teknologi-teknologi pengontrolan
untuk membantu pekerjaan manusia sebagai bagian dari efisiensi sumber daya
walaupun dalam wujud sistem yang sederhana. Sala satu bidang khususnya dalam
Pengecetan dapat dikembangkan menggunakan aplikasi pengontrolan secara
otomatis. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendesain pola penyemprotan
pengecetan yang memiliki kualitas yang baik dan membuat sistem kendali cerdas
pada tekanan, kecepatan dan arah pergerakan penyemprotan, serta untuk
keamanan dan kenyamanan pekerja maka teknologi pengontrolan memiliki
peranan penting.
Motode yang di gunakan adalah Jaringan Saraf Tiruan yang akan membuat
banyak kondisi kemungkinan. Sesuai dengan luas media pengecetan. Sistem yang
akan di rancang atau di bangun memamfaatkan data input untuk mengontrol arah,
kecepatan dan tekanan penyemprotan.
Hasil yang akan diperoleh adalah kualitas pengecetan dengan
memperhitungkan efisiensi waktu dan pengunaan cat, sesuai dengan luas media
pengecetan.
Kata kunci: efisiensi, Pengontrolan, Pengecetan Otomatis, Jaringan Saraf Tiruan

1
DAFTAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................................... 1

DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2

DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 5

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 5

1.2 Perumusan Masalah ........................................................................................... 6

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................................................... 6

1.4 Batasan Masalah ................................................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 7

2.1 Tinjauan Teoritis ................................................................................................. 7

2.1.1 Motor DC Servo Trainer ............................................................................ 7

2.1.1.1 Pengendali Sudut Dengan Loop Tertutup ................................... 7

2.1.1.2 Kecepatan Motor dan Karakteristik Input ................................... 9

2.1.2 Pengertian kompresor angin .................................................................... 10

2.1.2.1 Fungsi Kompresor Angin .......................................................... 11

2.1.2.2 Jenis-jenis Kompresor Angin .................................................... 11

2.1.2.3 Bagian- bagian kompresor angin ............................................... 13

2.1.3 Konsep Jaringan Syaraf Tiruan ............................................................... 14

2.1.3.1 Model jaringan syaraf tiruan ..................................................... 15

2.1.3.1 Arsitektur Jaringan .................................................................... 17

2.1.3.2 Proses Pembelajaran .................................................................. 18

2.1.4 Pengertian Pengecatan ............................................................................. 21

2.1.4.1 Sistem kontrol............................................................................ 21

2
2.2 Studi Penelitian Terdahulu ................................................................................ 22

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................................. 24

3.1 Tempat dan waktu penelitian ............................................................................ 24

3.2 Teknik pengumpulan data ................................................................................. 24

3.3 Alat dan Bahan .................................................................................................. 24

3.4 Diagram Blok .................................................................................................... 25

3.5 Perencanaan Biaya Pembuatan Proposal Tugas Akhir ...................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 27

3
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Motor DC Servo……………………………………………………………….…….. 7
Gambar 1.2 Sebuah loop tertutup pengontrol posisi servo……..……….. 8
Gambar 1.3 Hubungan antara kecepatan motor dan tegangan masuk….……… 9
Gambar 1.4 Rangkaian ekivalen pengontrolan motor………………….……… 10
Gambar 1.5 Susunan syaraf pada manusia………………………….……. 15
Gambar 1.6 Struktur neuron jaringan syaraf tiruan…………………….… 16
Gambar 1.7 Simpul (neuron) sebagai Elemen Pemroses……………….… 20
Gambar 1.8 Fungsi Aktivasi : (a)Fungsi Pembatas (tresholded function)
(b) Fungsi Sigmoidal (sigmoid function)…………………….………….… 20

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam meningkatkan efisiensi kinerja dengan memanfaatkan


perkembangan teknologi, dimana salah satunya adalah Teknologi
pengontrolan sederhana telah banyak digunakan dan terus berkembang
sampai saat ini, seiring dengan munculnya hasil-hasil karya manusia dalam
berbagai bidang yang umumnya bertujuan untuk mengefisienkan sumber
daya yang ada.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka dapat dikembangkan teknologi-
teknologi pengontrolan untuk membantu manusia sebagai bagian dari
efisiensi sumber daya walaupun dalam wujud sistem yang sederhana. Salah
satu bidang yang dapat menggunakan aplikasi dari pengembangan teknologi
pengontrolan adalah kegiatan pengecatan. Sistem pengontrolan bertujuan
untuk mendapatkan kwalitas pengecatan yang baik, kecepatan pengecatan
untuk suatu objek dalam jumlah yang banyak serta keamanan dan
kenyamanan pekerja.
Pemanfaatan teknologi pengontrolan untuk kegiatan pengecatan
sebenarnya telah digunakan terutama pada pabrik-pabrik besar dengan
produksi berskala besar. Namun di Indonesia, biaya pembuatan dan
pengoperasian yang besar, serta tidak ditunjang dengan penerapan teknologi
yang ada, membuat pemanfaatan teknologi kontrol belum menjangkau
seluruh lapisan industri khususnya yang berkaitan dengan kegiatan
pengecatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain pola penyemprotan
pengecatan yang memiliki kualitas yang baik dan membuktikan bahwa
metode Jaringan Syaraf Tiruan dapat diterapkan untuk kendali cerdas pada
tekanan dan arah pergerakan penyemprotan.

5
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk peningkatan
efisiensi kenerja manusia,peningkatan mutu pengecetan dengan hasil yang
berkualitas dan mengurangi terjadinya pemborosan pemakaian bahan cat.

1.2 Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Bagaimana cara mengimplementasikan metode jaringan syaraf tiruan
pada pengontrolan pengecetan otomatis.
2. Bagaimana mengontrol tekanan penyemprotan pada pengecetan
dinding bidan datar berdasarkan jarak objek dan luasan semprotan.
3. Bagaimana mengontrol arah gerakan penyemprotan.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah :


1. Membuktikan bahwa metode Jaringan Syaraf Tiruan dapat di
terapkan untuk kendali cerdas pada tekanan dan arah pergerakan
penyemprotan.
2. Meningkatkan kualitas pengecetan agar mendapatkan hasil yang
berkualitas.
3. Peningkatan efisiensi kinerja manusia.
4. Peningkatan mutu pengecetan dengan hasil yang berkualitas.
5. Mengurangi terjadinya pemborosan pemakian bahan cat

1.4 Batasan Masalah

Dalam penulisan proposal ini penulis hanya membatasi permasalahan, yaitu :


1. Sistem control mencakup ; metode control dengan jaringan syaraf
tiruan (JST), tekanan dan gerak pengecetan.
2. Pengecetan mencakup; hanya pada benda atau material dengan
besaran tertentu.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Motor DC Servo Trainer


DC Servo Trainer ED-4400B dari ED Co., LTD. adalah sistem loop
tertutup servo DC yang didesain untuk modul praktikum. Inti konsep
pembuatan sistem trainer ED-4400B adalah untuk memberikan pengetahuan
praktik kerja pada sistem loop tertutup servo DC kepada pengguna dengan
mengintegrasikan dasar teori dan langkah demi langkah percobaan dengan
satu subjek.

Gambar 1.1 Motor DC Servo

Modul praktikum pada ED-4400B sangat sederhana dan mudah untuk


diuji cobakan pada sistem. Yang hanya dibutuhkan adalah untuk
menghubungkan antara modul seperti yang diinstruksikan pada gambar
rangkaian pada setiap seksi dengan menggunakan jumper yang telah
disediakan.

2.1.1.1 Pengendali Sudut Dengan Loop Tertutup


Dalam sistem pengendali servo posisi, informasi posisi dari
potensiometer yang dihubungkan pada motor menjadi umpan balik pada
penguat kontrol (control amplifier). Kemudian, pengaturan posisi masukan

7
dari masukan potensiometer dikombinasikan dengan sinyal balik pada input
amplifier yang menjalankan motor pada bagian yang berbeda antara dua
sinyal. Ketika kedua posisi teridentifikasi, keluaran pada amplifier akan
menjadi nol.
Sebuah diagram sederhana dari sistem pengontrolan posisi putaran
dapat dilihat pada gambar 2.1

.
Gambar 1.2. Sebuah loop tertutup pengontrol posisi servo

Terdapat tiga penguat pada gambar. A1 adalah sinyal dari generator,


A2 adalah sinyal masukan penguat, dan A3 adalah driver untuk motor M.
P1 berlawanan arah dengan P0. Perbedaan antara dua tegangan
potensiometer menjadi masukan ke A1. Sinyal terus brlanjut melewati A2
dan A3, kemudian menjalankan motor dan tegangan pada P1 dan P0 saling
mengurangi. Keadaan ini terus berlanjut sampai keluaran pada A1 sama
dengan nol. Dalam hal ini, tegangan pada P1 dan P0 adalah sama tetapi
dengan polaritas yang berbeda. Misalnya P1 = +3V dan P0 = -3V, inilah
membuat keluaran pada A1 menjadi nol.
Posisi akhir dari P1 da P0 sangat relatif, bergantung pada ada tidaknya
penambahan tegangan pada penguat. Untuk penambahan yang besar, posisi
P0 hampir sama dengan P1, tetapi ketika penambahan tidak cukup maka
posisi antara keduanya tidak akan sama. Hal ini disebut sebagai kerugian
pada pengontrolan posisi.

8
2.1.1.2 Kecepatan Motor dan Karakteristik Input
Secara umum motor merupakan sebuah mesin yang mengkonversi
energi listrik menjadi energi gerak. Elemen kunci dari motor DC adalah
medan (field) dan armatur. Aliran arus listrik yang melewati medan akan
menimbulkan torka (tenaga putaran) pada armatur. Pada motor ED-4400B
ini, efek medan dibangkitkan oleh magnet permanen. Magnet permanen ini
menciptakan fluks magnet yang nilainya konstan. Sehingga kecepatan motor
hanya bergantung pada tegangan masukan yang sampai pada armatur.
Hubungan antara kecepatan motor dengan tegangan masukan dapat dilihat
pada Gambar II.27.

Gambar 1.3. Hubungan antara kecepatan motor dan tegangan masuk

Pada Gambar II.23, point a terjadi karena motor membutuhkan


tegangan minimum untuk mengatasi gesekan mesin dengan sikat-sikat,
sampai akhirnya motor dapat berputar. Ketika tegangan masukan telah
melebihi tegangan minimum (yang dibutuhkan), maka kecepatan motor
akan naik secara linier sesuai dengan bertambahnya tegangan masukan.
Meskipun demikian, karakteristik linier akan berhenti pada saat terjadi
saturasi. Hal ini disebabkan karena adanya batasan kapasitas bahan pada
gulungan armatur, sehingga pada saat tegangan dinaikkan terus menerus
maka arus yang dihasilkan pada armatur tidak akan berambah (saturation).

9
Motor ED-4400B system dijalankan dengan motor driver mplifier U-
154 dan Attenuator U-151 sebagai pengontrol tegangan. Kecepatan motor
dapat di deteksi dan dilihat langsung pada output tacho U-159

Gambar 1.4. Rangkaian ekivalen pengontrolan motor

2.1.2 Pengertian kompresor angin


Kompresor angin (air compressor) adalah sebuah mesin atau alat
mekanik yang berfungsi untuk meningkatkan tekanan atau memapatkan
fluida gas atau udara. Mesin kompresor angin umumnya menggunakan
motor listrik, mesin bensin, atau mesin diesel sebagai tenaga penggeraknya.
Prinsip kerja kompresor angin mirip dengan cara kerja paru-paru
manusia. Misalnya, ketika kita mengambil nafas dalam-dalam untuk meniup
api lilin, maka kita akan meningkatkan tekanan udara di dalam paru-paru,
sehingga mampu menghasilkan udara bertekanan yang kemudian
diembuskan kembali untuk meniup api lilin tersebut.
Sering terjadi salah pengertian tentang air compressor, yaitu semakin
besar ukuran air compressor semakin tinggi tekanannya, padahal tidak
demikian, yang benar adalah semakin besar air compressor, semakin tinggi
kecepatan pengisian udara ke tanki (air delivery/debit udara yang dihasilkan
pompa) hal ini juga mengakibatkan semakin cepat peningkatan tekanan
dalam tanki. Hal ini yang harus kita perhatikan ketika kita memilih air
compressor selain tekanan maximum yang dihasilkan air compressor.
Ketika kita mendengar kata “air compressor” mungkin yang langsung
terbayang adalah tukang tambal ban di pinggir jalan, memang air
compressor yang paling sering kita temui adalah yang seperti kita lihat di
tempat tukang tambal ban, padahal sangat banyak jenis-jenis air compressor.

10
2.1.2.1 Fungsi Kompresor Angin
Kompresor angin berfungsi mengambil udara atau gas dari sekitar
yang kemudian akan diberi tekanan di dalam tabung, lalu disalurkan
kembalSei sebagai udara bertekanan. Kompresor udara umumnya
dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan, seperti:
a. Menyuplai udara bersih bertekanan tinggi untuk mengisi tabung atau
silinder gas.
b. Menyuplai udara bersih bertekanan ke sistem kontrol HVAC (Heating,
Ventilation, dan Air Conditioning) pneumatic di beberapa bangunan
perkantoran dan sekolah.
c. Menyuplai sejumlah besar udara bertekanan pada peralatan bertenaga
udara(Pneumatic Tools), seperti bor jack hammer
d. Mengisi udara pada ban.
e. Menyuplai udara pada penyelam.
f. Menyuplai udara untuk alat-alat spray atau air brush.
g. Gerinda udara.
h. Menghasilkan udara bertekanan dengan volume besar untuk proses
industri skala besar, seperti keperluan untuk oksidasi kokas minyak bumi,
atau sistem purge pada pabrik semen.

2.1.2.2 Jenis-jenis Kompresor Angin


cara umum air compressor dikelompokkan menjadi :
A. Air compressor mini
Ada beberapa macam air compressor jenis ini, pada intinya air
compressor mini tidak menggunakan tabung tekanan, jadi bentuknya mini
dan bekerja hanya menghasilkan tiupan udara. Contoh
1. Air compressor mini dengan penggerak motor DC untuk perlengkapan
mobil.
2. Air compressor mini untuk pengecatan sederhana dengan spraygun low
pressure.

11
3. Air compressor mini untuk pengecatan menggunakan air pen brush.

B. Air compressor direct driven


System dari air compressor ini adalah direct driven, yaitu motor
penggerak langsung terkoneksi dengan pompa udara. Jadi jumlah putaran
motor penggerak (rpm) otomatis sama dengan kecepatan pompa udara.
Biasa pada jenis air compressor model direct driven menggunakan motor
dengan kecepatan sekitar 2.850 rpm dan menggunakan system single piston
pada pompa udara.
Kelebihan air compressor jenis ini adalah kecepatan pengisian (air
delivery) yang cukup tinggi karena pompa udara diputar dengan kecepatan
sekitar 2.850 rpm. Kekurangan jenis air compressor ini adalah suara yang
dihasilkan cukup keras, karena hasil dari putaran tinggi pompa udara, juga
lebih banyak menghasilkan air di dalam tanki tekanan.

C. Air compressor belt driven


Sesuai dengan namanya, air compressor ini menggunakan system
koneksi antara tenaga penggerak dan pompa udara menggunakan vanbelt (v-
belt) jenis ini yang sering dijumpai di tempat tukang tambal ban. Tenaga
penggerak dapat menggunakan elektromotor listrik atau mesin berbahan
bakar bensin atau solar.Air compressor ini yang paling sering digunakan
dibanding dengan air compressor jenis lain, karena direkomendasikan
menggunakan penggerak dengan putaran sekitar 1500 rpm, mengakibatkan
air compressor ini lebih tahan lama dibandingkan dengan jenis direct driven.
Air compressor jenis ini direkomendasikan bekerja selama 8 jam, apabila
digunakan lebih dari 8 jam maka udara yg dihasilkan akan lebih banyak
mengandung air.

Air compressor ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu :


1. Single stage air compressor (working pressure 8 bar, maximum pressure
10 bar)

12
2. Two stage air compressor (working pressure 12 bar, maximum pressure
14 bar)
3. High pressure air compressor (working pressure up to 14 bar)
4. Booster air compressor (air compressor tambahan agar tekanan dapat
menjadi lebih tinggi)
Pada setiap jenis type air compressor diatas masih dibagi lagi sesuai
dengan air delivery/debit udara yang dihasilkan.

D. Air Compressor Screw


Air compressor jenis ini digunakan apabila ada kebutuhan tekanan
udara selama 24 jam nonstop, atau pengguna membutuhkan air
delivery/debit udara yang tinggi. Kelebihan dari screw air compressor
adalah udara yang dihasilkan tidak banyak mengandung uap air, karena
system dari air compressor ini menggunakan screw yaitu dua buah ulir yang
saling berputar dalam memompa udara, air compressor jenis ini juga tidak
menimbulkan suara bising.

2.1.2.3 Bagian- bagian kompresor angin


Selain kita mengenal berbagai jenis air compressor, sebaiknya kita
juga mengenal beberapa perlengkapan untuk air compressor yang
disesuaikan dengan kegunaan air compressor tersebut
a) Air dryer
Digunakan untuk mengeringkan udara setelah keluar dari air
compressor, biasa digunakan untuk pengecatan kualitas tinggi, supply
tekanan udara untuk pneumatic, air tools, dsb.
b) Desicant dryer
Fungsinya sama dengan air dryer diatas, hanya efisiensi alat ini lebih
tinggi daripada air dryer, biasa digunakan untuk mesin-mesin makanan
dan farmasi.
c) Air filter (filter udara)

13
Alat ini digunakan untuk menyaring partikel kotoran yang keluar dari
air compressor, penggunaannya biasa dipasang sebelum air dryer atau
desicant dryer. ada beberapa ukuran kerapatan saringan partikel kotoran
dalam micron. Alat ini sering disalah artikan dapat menyaring air yang
keluar dari air compressor, mungkin karena lama kelamaan dalam gelas
di alat ini terdapat air, padahal air itu hasil dari tekanan udara yang
terkondensasi dalam gelas, seperti halnya air yang terjadi dalam tanki
air compressor. Padahal alat ini sama sekali tidak dapat menyaring
molekul air yang keluar dari air compressor.
d) Regulator
Alat ini digunakan untuk mengatur/menstabilkan tekanan yang keluar
dari air compressor. Alat ini biasa tekoneksi dengan air filter.
e) Lubrikator
Alat ini digunakan untuk menambah pelumas dalam udara yang keluar
dari air compressor, biasa digunakan ketika air compressor digunakan
untuk menggerakkan unit-unit pneumatik atau air tools, alat ini biasa
terkoneksi bersama air filter dan regulator.

2.1.3 Konsep Jaringan Syaraf Tiruan


Jaringan syaraf tiruan merupakan salah satu representasi buatan dari
otak manusia yang selalu mencoba mensimulasikan prosespembelajaran
pada otak manusia tersebut. Istilah buatan disini digunakankarena jaringan
syaraf ini diimplementasikan dengan menggunakanprogram komputer yang
mampu menyelesaikan sejumlah prosesperhitungan selama proses
pembelajaran.

14
Gambar 1.5 Susunan syaraf pada manusia.

Pada gambar 1.5 ditunjukkan susunan syaraf pada manusia. Setiap sel
syaraf (neuron) memiliki satu inti sel dimana inti sel ini yang bertugas untuk
melakukan pemrosesan informasi. Informasi yang datang diterima oleh
dendrit. Selain menerima informasi, dendrit juga menyertai axon sebagai
keluaran dari suatu pemrosesan informasi. Informasi hasil olahan ini
menjadi masukan bagi neuron lain dimana antar dendrit kedua sel tersebut
dipertemukan dengan synapsis. Informasi yang dikirimkan antara neuron ini
berupa rangsangan yang dilewatkan melalui dendrit. Informasi yang datang
dan diterima oleh dendrit dijumlahkan dan dikirim melalui axon ke dendrit
akhir yang bersentuhan dengan dendrit dari neuron yang lain. Informasi ini
diterima oleh neuron lain jika memenuhi batasan tertentu, yang sering
dikenal dengan nama ambang (threshold). Pada kasus ini, neuron tersebut
dikatakan teraktivasi. Hubungan antar neuron terjadi secara adaptif, artinya
struktur hubungan terjadi secara dinamis.

2.1.3.1 Model jaringan syaraf tiruan


Jaringan syaraf tiruan terdiri dari beberapa neuron dan terdapat
hubungan antara neuron-neuron tersebut. Neuron-neuron akan
mentransformasikan informasi yang diterima melalui sambungan keluarnya
menuju ke neuron-neuron yang lain. Pada jaringan syaraf, hubungan ini

15
dikenal dengan nama bobot. Pada gambar 1.6 menunjukkan struktur neuron
dari jaringan syaraf tiruan.

Gambar 1.6 Struktur neuron jaringan syaraf tiruan.

Neuron buatan ini sebenarnya mirip dengan sel neuron biologis.


Neuron-neuron buatan bekerja dengan cara yang sama pula dengan neuron-
neuron biologis. Informasi (disebut dengan : input) dikirim ke neuron
dengan bobot kedatangan tertentu. Input diproses oleh suatu fungsi
perambatan yang akan menjumlahkan nilai-nilai semua bobot yang datang.
Hasil penjumlahan ini kemudian dibandingkan dengan nilai ambang
(threshold) tertentu melalui fungsi aktivasi setiap neuron. Apabila input
melewati suatu nilai ambang tertentu, maka neuron akan diaktifkan, tapi jika
tidak maka neuron tidak akan diaktifkan. Apabila neuron diaktifkan, maka
neuron akan mengirimkan output melalui bobot-bobot outputnya ke semua
neuron yang berhubungan dengannya. Demikian seterusnya.
Pada jaringan syaraf, neuron-neuron dikumpulkan dalam lapisan-
lapisan (layer) yang disebut lapisan neuron (neuron layers). Biasanya
neuron-neuron pada satu lapisan akan dihubungkan dengan lapisan-lapisan
sebelum dan sesudahnya (kecuali lapisan input dan lapisan output).
Informasi yang diberikan pada jaringan syaraf dirambatkan lapisan ke
lapisan, mulai dari lapisan input sampai ke lapisan output melalui lapisan
yang lainnya, yang sering dikenal dengan nama lapisan tersembunyi (hidden
layer). Masukan pada lapisan input dari gambar adalah X selanjutnya input
ini diberi bobot sebelum masuk ke hidden layer. Pada

16
hidden layer, dibentuk kombinasi linier dari input dan bobot yaitu :

Suatu bias (treshold) dilibatkan dalam jaringan. Keluaran dari hidden


layer masuk ke dalam suatu fungsi aktivasi tertentu sebelum menuju output
layer. Jadi output dari model diatas adalah:
O f (v)
dengan f merupakan fungsi aktivasi.

2.1.3.1Arsitektur Jaringan
Di dalam jaringan syaraf tiruan, neuron-neuron dikelompokkan dalam
lapisan-lapisan. Umumnya, neuron-neuron yang terletak pada lapisan yang
sama akan memiliki keadaan yang sama. Faktor terpenting dalam
menentukan kelakuan suatu neuron adalah fungsi aktivasi dan pola
bobotnya. Pada setiap lapisan yang sama, neuron-neuron akan memiliki
fungsi aktivasi yang sama.

Ada beberapa arsitektur jaringan syaraf, antara lain :


1. Jaringan dengan lapisan tunggal (single layer net).
Jaringan dengan lapisan tunggal hanya memiliki satu lapisan dengan
bobot-bobot terhubung. Jaringan ini hanya menerima input kemudian
secara langsung akan mengolahnya menjadi output tanpa harus melalui
lapisan tersembunyi.

2. Jaringan dengan banyak lapisan (multilayer net).


Jaringan dengan banyak lapisan memiliki 1 atau lebih lapisan
yang terletak diantara lapisan input dan lapisan output (memiliki 1 atau
lebih lapisan tersembunyi). Umumnya, ada lapisan bobot-bobot yang
terletak antara 2 lapisan yang bersebelahan. Jaringan dengan banyak
lapisan ini dapat menyelesaikan permasalahan yang lebih sulit daripada
lapisan dengan lapisan tunggal dengan pembelajaran yang lebih rumit.

17
3. Jaringan dengan lapisan kompetitif (competitive layer net.
Hubungan antara neuron pada lapisan kompetitif ini tidak
diperlihatkan pada diagram arsitektur.

2.1.3.2 Proses Pembelajaran


Jaringan syaraf tiruan mencoba untuk mensimulasikan kemampuan
otak manusia untuk belajar. Tidak seperti model biologis, jaringan syaraf
memiliki struktur yang tidak dapat diubah, dibangun oleh sejumlah neuron,
dan memiliki nilai tertentu yang menunjukkan seberapa besar koneksi antar
neuron (yang dikenal dengan nama bobot). Perubahan yang terjadi selama
proses pembelajaran adalah perubahan nilai bobot. Nilai bobot akan
bertambah, jika informasi yang diberikan oleh neuron yang bersangkutan
tersampaikan, sebaliknya jika informasi tidak disampaikan oleh suatu
neuron ke neuron yang lain, maka nilai bobot yang menghubungkan
keduanya akan dikurangi. Pada saat pembelajaran dilakukan pada input
yang berbeda, maka nilai bobot akan diubah secara dinamis hingga
mencapai suatu nilai yang cukup seimbang. Apabila nilai ini telah tercapai
mengindikasikan bahwa tiap-tiap input telah berhubungan dengan output
yang diharapkan.
Untuk mendapatkan tingkat kecerdasan yang diinginkan maka
jaringan syaraf tiruan harus melalui proses pembelajaran. Pembelajaran
(learning) adalah proses yang melibatkan serangkaian nilai input menjadi
input jaringan secara berurutan dan bobot jaringan disesuaikan sehingga
akan diperoleh nilai yang sama dengan nilai outputnya. Ide dasar jaringan
syaraf tiruan adalah metode belajar. Jaringan syaraf tiruan membagi metode
belajar menjadi dua macam, yaitu:
1) Pembelajaran terawasi (Supervised learning)
Metode pembelajaran pada jaringan syaraf disebut terawasi jika output
yang diharapkan telah diketahui sebelumnya. Pada proses pembelajaran,
satu pola input akan diberikan ke satu neuron pada lapisan input. Pola ini

18
akan dirambatkan di sepanjang jaringan syaraf hingga sampai ke neuron
pada lapisan output. Lapisan output ini akan membangkitkan pola output
yang kemudian dicocokkan dengan output targetnya. Apabila terjadi
perbedaan antara pola output hasil pembelajaran dengan pola target, maka
disini akan muncul error. Apabila nilai error ini masih cukup besar,
mengindikasikan bahwa masih perlu dilakukan lebih banyak pembelajaran
lagi.

2) Pembelajaran tak terawasi (Unsupervised learning)


Pada metode pembelajaran yang tak terawasi ini tidak memerlukan
target output. Pada metode ini tidak dapat ditentukan hasil yang seperti
apakah yang diharapkan selama proses pembelajaran. Tujuan dari
pembelajaran ini adalah mengelompokan unit- unit yang hampir sama dalam
suatu area tertentu. Pembelajaran ini biasanya sangat cocok untuk
pengelompokan (klasifikasi) pola.
Untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan, JST memerlukan
prosedur belajar, yaitu bagaimana sebuah konfigurasi JST dapat dilatih
untuk mempelajari data historis yang ada. Dengan pelatihan ini,
pengetahuan yang terdapat pada data dapat diserap dan direpresentasikan
oleh harga-harga bobot koneksinya. Jaringan syaraf tiruan terdiri dari
sejumlah simpul (node) yang merupakan elemen pemroses. Setiap simpul
tersebut memodelkan sebuah sel saraf biologis (neuron). Hubungan antar
simpul dicapai melalui bobot koneksi (weight). Bobot koneksi menentukan
apakah sinyal yang mengalir bersifat peredam (inhibitory connection) atau
perangsangan (excititory connection). Bobot koneksi yang bersifat meredam
dapat dinyatakan, misalnya oleh bilangan negatif, sedangkan yang bersifat
merangsang oleh bilangan positif. Selain ditentukan oleh karakteristik bobot
koneksinya, besarnya sinyal yang keluar dari sebuah simpul juga ditentukan
oleh fungsi aktivasi (activation function) yang digunakannya. Artinya,
pemilihan fungsi aktivasi menentukan derajat aktif dari sebuah simpul. Pada
gambar 2.6 dibawah ini, memperlihatkan sebuah contoh simpul yang ke "j"

19
sebagai elemen pemroses. Biasanya masukan bersih ke simpul "j" adalah :
net_input = XiWIj. Xi adalah besarnya masukan dari simpul yang ke "I" (
i= 1, 2, 3, ........., n) sedangkan Wij adalah besarnya bobot koneksi dari
simpul yang ke "i" ke simpul "j". Bila masukan bersih cukup kuat untuk
mengaktifkan simpul "j", maka besarnya keluaran dari simpul tersebut
adalah : output = f (net_input)

Gambar 1.7 Simpul (neuron) sebagai Elemen Pemroses

Pemilihan jenis fungsi aktivasi menentukan bentuk sinyal keluaran


dari simpul dan harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pada gambar 2.7
dibawah ini memperlihatkan dua jenis fungsi aktivasi yang sering
digunakan. Pada Gambar 2.7 (a ) bentuk sinyal keluarannya adalah biner (0
atau 1), sedangkan pada Gambar 2.7 (b) sinyal keluarannya adalah
kontinyu.

Gambar 1.8 Fungsi Aktivasi : (a) Fungsi Pembatas (tresholded


function) (b) Fungsi Sigmoidal (sigmoid function)

20
2.1.4 Pengertian Pengecatan
Pengecatan adalah sebuah proses untuk membuat lapisan cat tipis (cair
atau bubuk diatas sebuah benda dan kemudian membuat lapisan cat ini
mengeras dengan cara mengeringkannya. Proses cat adalah bagian dari
proses kerja yang sangat penting, karena cat berungsi untuk memperindah
suatu bidang atau benda. Dalam memperoleh hasil pengecatan yang
sempurna, maka bahan cat yang berkualitas sangat diperlukan, tenaga ahli
serta peralatan juga harus memenuhi syarat. Jika mengabaikan hal-hal
tersebut maka hasil yang diterima sangat tidak memuaskan.
Proses pengecatan memerlukan ketelitian serta keterampilan yang
baik. Diperlukan kesabaran dan teknik yang mendalam untuk mendapatkan
hasil yang sempurna.

2.1.4.1 Sistem kontrol


Sistem kontrol atau sistem kendali telah memegang peranan yang
sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Di samping sangat
diperlukan pada alat transporasi udara bahkan alat keamanan suatu negara
(peluru kendali), sistem kontrol juga menjadi bagian yang penting dari
proses – proses dalam pabrik dan industri yang besar. Sebagai contoh,
sistem kontrol sangat diperlukan dalam operasi – operasi di industri untuk
mengontrol tekanan, temperatur, perakitan bagian – bagian mekanik dalam
industri manufaktur, dan sebagainya.

Karena sistem kontrol pada saat ini sangt berkembang sangat pesat,
maka sistem kontrol dapat mempermudah manusia untuk mendapatkan
suatu informasi,meningkatkan produksi suatu barang, meringankan
pekerjaan sehari – hari yang harus dilakukan oleh manusia dan sebagainya.
Pengertian sistem kontrol itu sendiri adalah proses pengaturan /
pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter)

21
sehingga berada pada suatu harga atau dalam suatu rangkuman harga
(range) tertentu.
Sasaran sistem kontrol memiliki tujuan/ sasaran tertentu. Sasaran
sistem kontrol adalah untuk mengatur keluaran (output) dalam suatu sikap /
kondisi / keadaan yang telah ditetapkan oleh masukan (input) melalui
elemen sistem kontrol.

2.2 Studi Penelitian Terdahulu


Berikut adalah daftar penelitian terdahulu yang sejenis dengan judul
ini, karena penelitian-penelitian terdahulu sangat penting dalam pembuatan
proposal yang sekaran di lakukan. Bebarapa contoh penelitian terdahulu
yang mendasari penelitian ini antara lain :

1. Perancangan Sistem Pengaturan Tekanan Udara Untuk Proses


Pengecatan (Moch. Alfan Effendi 2012, 2208030014)
Dalam perancangan sistem pengaturan tekanan udara untuk proses
pengecatan ini kami lakukan perancangan dengan menggunakan input
tekanan udara dari kompresor yang dikenadilkan oleh alat yang dibuat.
Alat ini terdiri dari sebuah sensor tekanan MPX2200AP sebagai pembaca
tekanan pada udara yang dihasilkan dari kompresor kemudian sebagai
pengontrolnya digunakan triac untuk mengaktifkan atau menonaktifkan
kompresor. Dengan adanya alat ini tukang cat dapat mengukur tekanan
udara dari kompresor secara otomatis untuk mempermudah proses
pengecatan bisa maksimal dan menghemat bahan cat.

2. Perancangan Pengendalian Mesin Penyemprot dan Pengering Cat


berbasis PLC ( Agus M., Cokro 2007 other thesis, unika soegijapranata)
Perancangan pengendalian Mesin dan Pengering Cat berbasis
PLC, adalah suatu alat elektronika yang bekerja untuk mengeat dan
mengeringkan logam secara otomatis. Sistem kontrolnya menggunakan
PLC jenis ZEN 10 C1DR- DV1, prinsip kerja dari alat ini adalah
pendetksian logam oleh proxymity, kemudian logam dibawa oleh

22
conveyor menuju tempat pengecatan sesuai dengan pengaturannya,
logam tersebut dibawa ke tempat pengeringan dan akhirnya logam
dibawa ke tempat pengeringan dan akhirnya logam dibawa ke tempat
akhir proses, dimana terjadi peng-resetan kerja program PLC kembali ke
proses awal jika proxymity mendeteksi adanya logam.

3. Studi Perbedaan Aplikasi Variasi Waktu Pengecetan Anta Layer Pada


Pengecetan Chemical Tanker Calafuri (Kefas Adityasurya 2012, NRP :
6208030008)
dilakukan analisa tentang pengecatan sebuah kapal tentang
perbedaan waktu dalam aplikasinya. Khususnya antara layer pertama
dengan layer kedua. Ditinjau dari kondisi di lapangan dan prosedur.
Dari analisa tersebut, waktu pengecatan Chemical Tanker Calafuria
antara layer satu dengan layer kedua sangat bervariasi diantaranya ( 5, 8,
11, 12, 14, 15, 16 dan 22 ) hari. Bisa disimpulkan, pengecatan Chemical
Tanker Calafuria di PT.PAL Indonesia sudah memenuhi standard.

4. Pengembangan Robot Mobil Otonom Menggunakan Sistem Kendall


Fuzzy Dan Jaringan Syaraf Tiruan (M. Syamsa Ardisasmita, 2012)
emulator.J aringanp engendalmi enghasilkank eluaranb erupa sinyal
sudut-pengarahse dangkanja ringan emulator akan menghitung posisi
berikutnya dari robot. Pada setiap tingkat, sistem kendali fuzzy dan
jaringan syaraf akan menghasilkan sudut pengarah yang akan menuntun
robot mobil dari posisi awal
menujup posisi terminal dari berbagai suduta arah pengangkutan
Dipelajari juga kepekaan dan kehandalan pengendali dengan
mengevaluasi tingkat kegagalan.

23
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan waktu penelitian


Penulis melakukan penelitian pada benda atau material dengan
besaran tertentu. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai saat disetujui
proposal penelitian ini dan Bertempat di bengkel M&R Politeknik Negeri
Manado.

3.2 Teknik pengumpulan data


Dalam penulisan proposal ini, penulis akan mengunakan 3 cara
pengambilan data yaitu:
1. Metode Observasi, metode observasi dilakukan pengamatan secara
langsung ditempat atau lokasi penelitian.
2. Metode Literatur, pada metode ini, penulis mengunakan alat bantu buku-
buku pustaka yang ada kaitannya dengan objek penelitian ini.
3. Metode Interview, metode ini adalah melakukan wawancara secara
langsung dengan pihak yang memahami tentang objek penelitian ini.

3.3 Alat dan Bahan


pada penelitian diperlukan suatu sistem otomatisasi lampu dengan
mengunakan alat dan bahan sebagai berikut:
1. ARDUINO
2. LEPTOP ATAU PC
3. KOMPRESOR
4. MOTOR SERVO
5. SELANG CAT
6. OBENG + & -
7. SENSOR ULTRA SONIK

24
3.4 Diagram Blok

MULAI
(Masuka Benda Kerja)

BENDA KERJA SIAP PEMILIHAN


DI KELUARKAN WARNA

MESIN MULAI MENGECET


DENGAN MEMPERHATIKAN
BENDA DI KERINGKAN JARAK ANTARA BENDA KERJA
DENGAN SUHU DENGAN ALAT CET
TERTENTU
MENGUNAKAN ELEMEN

3.5 Perencanaan Biaya Pembuatan Proposal Tugas Akhir


Table 1.2 rencana biaya pembuatan proposal tugas akhir

No Uraian alat dan Bahan Satuan unit Harga Satuan Total

1 Kertas Hvs 4 Rp. 40.000 Rp. 160.000

2 Tinta Printer 4 Rp. 40.000 Rp. 160.000

3 Print Canon 1 Rp. 1.000.000 Rp. 1.000.000

4 Biaya Jilid Rp. 45.000 Rp. 1.500.000

25
5 Biaya Transpotasi Rp. 1.500.000 Rp. 1.500.000

6 Biaya Tak Terduga Rp. 1.300.000

Jumlah Rp. 5.620.000

26
DAFTAR PUSTAKA

1. ED Co., Ltd. 2006, ED-4400B DC Servo Trainer Instruction Manual, ED


Co., Ltd., SeongNam-City, South Korea
2. Handayani ,Sri Utami. 2003. Pompa dan Kompresor
3. Dayhoff, Judith E. Neural Network Architectures (An Introduction).
USA : Van Nostrand Reinhold. 1990
4. Patterson, Dan W. Artificial Neural Networks (Theory And
Applications). Prentice Hall. 1996.
5. Trippi, Robert R. And Turban, Efraim. Neural Networks In Finance
and Investing, Probus Publishing Company. 1993.
6. Haykin, Simon. Neural Networks (A Comprehensive Foundation).
New York : Macmillan College Publishing Company. 1998
7. Kusumadewi, Sri. Artificial Intelligence (Teknik Dan Aplikasinya).
Jogjakarta : Graha Ilmu. 2003.
8. Kusumadewi, Sri. Membangun Jaringan Syaraf Tirua
(Menggunakan MATLAb dan Excel Link). Jogjakarta : Graha Ilmu.
2004

27