Anda di halaman 1dari 2

Perdagangan anak merupakan tindak pidana serius dan merupakan

pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Kondisi cenderung semakin meningkat


jumlahnya, baik yang ada di Indonesia ataupun yang dijual ke luar negeri. Semua
pihak terutama negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk bertindak
segera guna mencegah perdagangan anak, menuntut para oknum pelaku perdagangan
anak, serta membantu dan melindungi korban.

Kasus perdagangan anak ini merupakan penyimpangan dari nilai kemanusiaan


yang terkandung dalam pancasila. Nilai kemanusiaan tersebut tercantum dalam sila
ke 2 dalam pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku
sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani
dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.

Pemenuhan dan perlindungan hak anak merupakan pusat dari seluruh upaya
untuk mencegah dan memberantas perdagangan anak. Anak-anak yang menjadi
korban harus diidentifikasi sebagaimana mestinya. Kepentingan anak tentunya
menjadi pertimbangan utama dalam memberikan bantuan dan perlindungan secara
tepat. Semua pihak terutama negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk
bertindak segera, guna mencegah perdagangan anak, menuntut para oknum pelaku
perdagangan anak, serta membantu dan melindungi korban. Langkah-langkah anti
perdagangan harus segera digalakkan dengan mengatasi akar permasalahan,
membasmi keterlibatan atau keterkaitan sektor public, memberikan bantuan hokum,
menjamin korban memperoleh perawatan fisikdan psikologis yang memadahi dan
mengembalikan ke daerah/negara asal. Pemerintah juga telah meratifikasi perundang-
undangan tentang perdagangan anak. Hal ini tertuang pada Undang-Undang nomor
23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang di dalamnya mengatur dengan jelas
tentang hak anak untuk dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan perdagangan,
serta sanksi pidana bagi pelanggaran hak tersebut.