Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

SELULITIS

A. DEFENISI
Selulitis merupakan inflamasi jaringan subbkutan dimana proses inflamasi yang
umumnya dianggap sebagai penyebab adalah bakteri S.aureus dan atau streptococcus
(Arif Mutaqin, hal 68, 2011)
Selulitis adalah inflamasi supuratif yang juga melibatkan sebagian jarigan
subkutan.

B. KLASIFIKASI
Menurut berini, et al (1999) selulitis dapat digolongkan menjadi :
a. Selulitis sirkumskripta serous akut
Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia fasial,
yang jelas batasnya. Infeksi bakteri mengandung serous, konsistensinya sangat
lunak dan spongius
b. Selulitis sirkumskripta supuratif akut
Prosesnya hamir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut, hanya
infeksi bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen. Enamaan
berdasarkan spasia yang dikenainya. Jika berbentuk eksudat yang purulen.
c. Selulitis difus akut
Dibagi menjadi beberapa kelas yaitu :
 Ludwig’s angina
 Selulitis yang berasal dari inframylohyoid
 Selulitis senator’s difus peripharingeal
 Selulitis fasialis difus
 Selulitis kronik
 Selulitis difus yang sering dijumpai
C. ETIOLOGI
Penyakit selulitis disebabkan oleh :
1. Infeksi bakteri dan jamur
Disebabkan oleh streptococcus grup A dan staphyococcus aureus. Pada bayi
yang terkena penyakit ini disebabkan oleh streptococcus grup B. infeksi dari
jamur, tapi infeksi yang diakibatkan jamur termasuk jarang Aeromonas
hydrophila, S. numoniae

2. Penyebab lain
Gigitan binatang, serangga atau bahkan gigitan manusia, kulit kering, eksim,
kulit yang terbakar atau melepuh, diabetes, obesitas, pembengkakan yang
kronis pada kaki, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, menurunnya daya
tahan tubuh, cacar air, malnutrisi, gagal ginjal.

Beberapa factor yang memperparah resiko dari perkembangan selulitis :

 Usia
Semakin tua usia, keefktifan system sirkulasi dalam menghantarkan darah
berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi
mengalami infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya
memprihatinkan
 Melemahnya system imun
Dengan system immune yang melemah maka semakin mempermudah
terjadinya infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymfotic kronis dan
infeksi HIV.penggunaan obat pelemah immune bagi orang yang baru
transplantasi organ juga mempermudah infeksi
 Diabetes mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi
system immune tubuh dan menambah resiko infeksi. Diabetes mengurangi
sirkulasi darah pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada
kaki dan menjadi jalan masuk bagi bakteri penginfeksi
 Cacar dan ruam saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan
masuk bakteri penginfeksi
 Pembengkakan kronis pada lengan dan tungkai
Pembengkakkan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk
bagi bakteri penginfeksi
 Infeksi jamur kronis pada telapak atau jari tangan
 Malnutrisi
Sedangkan lingkungan tropis, panas, banyak debu dan kotoran,
mempermudah timbulnya penyakit ini.

D. PATOFISIOLOGI

Selulitis terjadi jika bakteri masuk ke dalam kulit melalui kulit yang terbuka. Dua
bakteri yang aling sering menyebabkan infeksi ini adalah streptococcus dan
staphylococcus. Lokasi paling sering terjadi adalah di kaki, khususnya di kulit daerah
tulang kering dan punggung kaki karena cendrung menyebar melalui aliran limfatik dan
aliran darah, jika tidak segera tidak diobati selulitis dapat menjadi gawat. Bakteri
pathogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi pada permukaan kulit atau
menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering terjangkit pada orang gemuk, rendah
gizi, kejemuan atau orang tua pikun dan pada orang kencing manis yang pengobatannya
tidak adekuat. Gambaran klinis eritema local pada kulit dan system vena dan limfatik
pada kedua ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan yang
karakteristik hangat, nyeri tekan, demam dan bakterimia. Selulitis yang tidak
berkomplikasi paling sering disebabkan oleh streptococcus grup A, streptococcus
lainnya, staphylococcus aureus, kecuali jika luka yang terkait berkembang bakterimia,
etiologi microbial yang asti sulit ditentukan, untuk abses lokalisata yang memunyai gejala
sebagai lesi kultur pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan. Meskipun etiologi abses ini
kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan anaerob yang lebih komleks bau
busuk dan ewarnaan gram pus menunjukkan adanya organism campuran. Ulkus kulit
yang tidak nyeri sering terjadi, lesi ini dangkal dan berindurasi dan dapat mengalami
super infeksi. Etiologinya tidak jelas tetapi mungkin merupakan hasil perubahan
peradangan benda asing, nekrosis dan infeksi derajat rendah.

E. MANIFESTASI KLINIS

Selulitis menyebabkan kemerahan atau peradangan yang terlokalisasi. Kulit


tamak merah, bengkak, licin, disertai nyeri tekan dan teraba hangat. Ruam kulit muncul
secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas, gejala lain yaitu :

 Demam peningkatan suhu tubuh yang menyolok


 Nyeri keala
 Penurunan kesadaran
 Mendadak shock
 Hipertensi
 Takikardi
 Peningkatan rangsang migren
 Terkadang koma

F. KOMLIKASI

 Bakteremia
 Nanah atau local abscess
 Supperinfeksi oleh bakteri gram negative
 Lymhagitis
 Trombophebitis
 Selulitis pada mukan atau facial cellulitis pada anak menyebabkan meningitis
sebesar 8%
G. FAKTOR RESIKO TERJADI SELULITIS

 Gigitan dan serangan serangga, gigitan hewan, gigitan manusia


 Luka di kulit
 Riwayat penyakit pembuluh darah perifer, diabetes
 Baru menjalani prosedur jantung, paru-paru dan gigi
 Pemakaian obat imunosupresan atau kortikosteroid

H. PENCEGAHAN

Jika memiliki luka :


 Bersihkan luka setia hari dengan sabun dan air
 Oleskan antibiotic
 Tutupi luka dengan perban
 Sering-seirng mengganti perban tersebut
 Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi

Jika kulit masih normal :

 Lembabkan kulit secara teratur


 Potong kuku jari tangan dan kaki secar berhati-hati
 Lindungi tangan dan kaki
 Rawat secar tepat infeksi pada bagian superficial

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak membutuhkan prosedur lebih lanjut untuk sampai ke tahap diagnosis ( yang
meliputi anamnesis, uji laboratorium, sinar x dll) dalam kasus cellulite yang belum
mengalami komplikasi yang mana kriterianya seperti :

 Daerah penyebaran belum luas


 Daerah yang terinfeksi belum mengalami rasa nyeri atau sedikit nyeri
 Tidak ada tanda-tanda systemic seperti demam, teras dingin, dehidrasi,
tachypnea, tachycardia, hypotensi
 Tidak ada factor resiko yang dapat menyebabkan penyakit bertambah
parah seperti umur yang sangat tua, daya tahan tubuh yang lemah.
Jika sudah mengalami gejala seperti adanya tanda systemic, maka untuk
melakukan diagnosis membutuhkan penegakan diagnosis tersebut dengan
melakukan pemeriksaan laboratorium seperti :
 Complete blood count, menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan rata-
rata sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi
bakteri
 BUN level
 Creatinine level
 Culture darah
 Pembuangan luka
 Immounoflurescence : immounoflurescence adalah sebuah teknik yang
dimana dapatmembantu menghasilak diagnose secara pasti pada culture
cellulitis negative, tapi teknik ini jarang digunakan
 Penggunaan MRI juga dapat membantu dalam mendiagnosa infeksi
cellulitis yang parah. Mengidentifikasi pyomyositis, necrotizing fasciitis,
dan infeksi selulitis dengan atau tanpa pembentukkan abses pada
subkutaneus.

J. PENATALAKSANAAN
1. Pemeriksaan Laboratorium
CBC (Complete Blood Count), menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan rata-rata
sedimentasi eritrosit. Sehingga mengidentifikasikan adanya infeksi bakteri
2. BUN level
3. Creatinin level
4. Kultur darah, dilaksanakan bila infeksi tergeneralisasikan telah diduga mengkultur
dan membuat apusangram, dilakukan secara terbatas pada daerah penampakan luka
namun sangat membantu pada area abses atau terdapat bula.
Pemeriksaan laboratorium tidak dilaksanakana apabila penderita belum memenuhi
beberaa criteria seperti area kulit yang terkena kecil, tidak terasa sakit, tidak ada tanda
systemic (demam, dingin, dehidrasi,takipnea,takikardia, hipotensi), dan tidak ada
factor resiko.

K. ASUHAN KEPERAWATAN

1) Pengkajian umum
Penting artinya untuk memulai setiap pengkajia dengan pengkajian umum
terhadap pasien sebagai satu kesatuan. Setiap pengkajian pasien harus meliputi
pengkajian dan dokumentasi fisik umum, kemampuan perawatan diri,penamilan
kulit, mobilitas, status nutrisi, kontinensia, fungsi sensoris, status kardiovaskuler,
fungsi resirasi, tidak adanya nyeri, status kesadaran dan kewaspadaan mental,
status emosional, pemahaman kondisi saat ini, meditasi terbaru, alergi dan
keadaan social.
a. Status nutrisi
Malnutrisi merupakan penyebab yang sangat penting dari kelambatan
penyembuhan luka. Pentingya pemantauan secara ketat terhadap berat
badan dan indicator malnutrisi lainnya pada pasien dengan cedera berat,
setelah operasi besar dan saat terhadap septicemia sangat ditekankan.
Mintalah nasehat ahli gizi apabila dicurigai adanya malnutrisi. Pengkajia
nutrisi : indeks umum malnutrisi kalori / protein. Antropometri
L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor sirkulasi dan edema
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi menyebabkan
penatalaksanaan perawatan dirumah
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan glukoneogenesis
e. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi / inflamasi sistemik
f. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka pada kulit
g. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuscular, nyeri / tak
nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.