Anda di halaman 1dari 11

laporan pemeliharaan ternak kambing peranakan etawa (PE)

BAB I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kambing merupakan salah satu komoditas ternak yang cukup potensial untuk
dikembangkan. Ternak ini banyak dipelihara di pedesaan,karena telah diketahui kemampuannya
beradaptasi dengan lingkungannya yang sederhana, miskin pakan, dan dapat lebih efisien dalam
mengubah pakan yang berkualitas rendah menjadi air susu dan daging. Disamping itu kambing
mempunyai kemmpuan reproduksi relative tinggi dan tahan terhadap serangan penyakit.
Populasi ternak kambing dengan berbagai jenis yang ada di Jawa Tengah pada tahun 2002
berjumlah 2.974.917 ekor.Populasi ternak kambing tersebut tersebar dibeberapa kabupaten di
Jawa Tengah.Kambing PE ( peranakan ettawa ) pada umumnya pada jumlah populasi yang
relatife lebih kecil, Karenajumlah peternak yang memilih memelihara ternak kambing PE masih
belum banyak. Disisi lain, masih sedikitnya peternak memelihara PE dikarenakan beberapa hal,
antara lain : Bibit kambing etawa harganya relative lebih mahal, bibitnya sulit diperoleh dan
terbatasnya populasi.
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Ettawa (PE), merupakan salah satu
sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi
yang tinggi, dan penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing
memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi
yang perlu segera dipenuhi.
Peternakan kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Banyak hal yang menjadi masalah dalam perkembanganya, beberapa masalah tersebut
adalahPemeliharaan yang masih bersifat tradisional, Terbatasnya ketersediaan bakalan yang
merupakan pengeluaran terbesar dalam suatu proses produksi, Keterbatasan fasilitas yang
menimbulkan efek langsung pada proses produksiManajemen pakan yang kurang baik.
B. Tujuan dan Kegunaan Praktek Kerja Lapang
Adapun tujuan dan kegunaan Praktek Kerja Lapang ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan
Adapun tujuan dalam pelaksanaan praktek kerja lapang ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui cara pemeliharaan kambing PE
b. Mengetahui cara pemberian pakan
c. Mengetahui cara pengendalian penyakit
2. Kegunaan
Adapun kegunaan dalam pelaksanaan praktek kerja lapang yaitu
a. Mampu merasakan dan menganalisa masalah-masalah yang ada pada usaha peternakan kambing
PE, yang pada gilirannya mampu menerapkan strategi yang tepat untuk pemecahannya serta
memberi tambahan informasi dan wawasan ilmu pengetahuan di bidang peternakan.
b. Mahasiswa memiliki pengalaman praktis dalam kegiatan pengelolaan peternakan kambing PE
sebagai bekal kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Usaha Beternak Kambing


Kambing banyak dipelihara oleh penduduk pedesaan (Mulyono, 2003).Dijelaskan lebih
lanjut, alasannya pemeliharaan kambing lebih mudah dilakukan daripada ternak ruminansia
besar. Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat besar.
Menurut Sarwono (2005), nilai ekonomi, sosial, dan budaya beternak kambing sangat nyata.
Dijelaskan lebih lanjut, besarnya nilai sumber daya bagi pendapatan keluarga petani bisa
mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga dan semakin rendah tingkat per luasan lahan
pertanian, semakin besar nilai sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing.
Pendapatan dan nilai tambah beternak kambing akan semakin nyata jika kaidah-kaidah
usaha peternakan diperhatikan. Kaidah-kaidah itu antara lain penggunaan bibit yang baik,
pemberian pakan yang cukup dari segi gizi dan volume, tatalaksana pemeliharaan yang benar,
serta memperhatikan permintaan dan kebutuhan pasar.
Kambing adalah hewan dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil
daging (Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling populer
dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan Burns, 1994). Ciri-ciri
kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung
melengkung, rahang bawah lebih menonjol, jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang
terkulai, memiliki kaki dan bulu yang panjang (Sosroamidjojo, 1991). Kambing PE telah
beradaptasi terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).
Mulyono dan Sarwono (2005) menyatakan, bila tata laksana pemeliharaan ternak
kambing yang sedang bunting atau menyusui dan anaknya baik, maka bobot anak kambing bisa
mencapai 10-14 kg/ekor ketika disapih pada umur 90-120 hari. Menurut Williamson dan Payne
(1993), untuk kambing pedaging ada kecenderungan menunda penyapihan untuk memberikan
kesempatan anak kambing memperoleh keuntungan yang maksimal dari susu induknya.
B. Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang mahal dan sulit
untuk membuat kandang, kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira
tiga sampai dua belas ekor kambing per hektar (Williamson dan Payne 1993).Sistem
pemeliharaan secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum
disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994).Rata-rata
pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram
per hari (Mulyono dan Sarwono, 2005).
Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan terus menerus atau tanpa
penggembalaan, sistem ini dapat mengontrol dari faktor lingkungan yang tidak baik dan
mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang merusak (Williamson dan Payne 1993).Dalam
sistem pemeliharaan ini perlu dilakukan pemisahan antara jantan dan betina, sehubungan dengan
ini perlu memisahkan kambing betina muda dari umur tiga bulan sampai cukup umur untuk
dikembangbiakkan, sedangkan untuk pejantan dan jantan harus dikandangkan atau ditambatkan
terpisah (Devendra dan Burns, 1994). Pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara
intensif bisa mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram per hari atau 700-1.050
gram dengan rata-rata 840 gram per minggu (Mulyono dan Sarwono, 2005).
Sistem pemeliharaan secara semi intensif merupakan gabungan pengelolaan ekstensif
(tanpa penggembalaan) dengan intensif, tetapi biasanya membutuhkan penggembalaan terkontrol
dan pemberian pakan konsentrattambahan (Williamson dan Payne 1993).Menurut Mulyono dan
Sarwono (2005), pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara semi-intensif, rata-rata
hanya 30-50 gram per hari.
C. Pakan
Menurut Sarwono (2005), kambing membutuhkan hijauan yang banyak ragamnya.
Kambing sangat menyukai daun-daunan dan hijauan seperti daun turi, akasia, lamtoro, dadap,
kembang sepatu, nangka, pisang, gamal, puteri malu, dan rerumputan.Selain pakan dalam bentuk
hijauan, kambing juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya.Pakan
penguat dapat terdiri dari satu macam bahan saja seperti dedak, bekatul padi, jagung, atau ampas
tahu dan dapat juga dengan mencampurkan beberapa bahan tersebut.Sodiq (2002) menjelaskan,
ditinjau dari sudut pakan, kambing tergolong dalam kelompok herbivora, atau hewan pemakan
tumbuhan.Secara alamiah, karena kehidupan awalnya di daerah-daerah pegunungan, kambing
lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput.
Menurut Kartadisastra (1997), kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan,
dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat
tergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau menyusui), kondisi
tubuh (sehat, sakit), dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur dan kelembaban nisbi udara).
Pakan sangat dibutuhkan oleh kambing untuk tumbuh dan berkembang biak, pakan
yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral
(Sarwono, 2005). Pemberian pakan dan gizi yang efisien, paling besar pengaruhnya dibanding
faktor-faktor lain, dan merupakan cara yang sangat penting untuk peningkatan produktivitas
(Devendra dan Burns, 1994).
D. Perkandangan
Kandang diusahakan menghadap ke timur agar memenuhi persyaratan kesehatan
ternak.Bahan yang digunakan harus kuat, murah dan tersedia di lokasi.Kandang dibuat panggung
dan beratap dengan tempat pakan dan minum.Dinding kandang harus mempunyai ventilasi
(lubang angin) agar sirkulasi udara lebih baik.
Kambing sebaiknya dipelihara dalam kandang untuk:
a. Memudahkan dalam pengawasan terhadap kambing yang sakit atau yang sedang dalam masa
kebuntingan.
b. Memudahkan dalam pemberian pakan.
c. Menjaga keamanan ternak.
Ukuran Kandang
a. Anak: 1 X 1,2 m /2 ekor (lepas sapih)
b. Jantan dewasa: 1,2 X 1,2 m/ ekor
c. Dara/ Betina dewasa:1 X 1,2 m /ekor
d. Induk dan anak: 1,5 X 1,5 m/induk + 2 anak
BAB III
METODE PRAKTEK KERJA LAPANG

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang


Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah selama 45 hari terhitung
sejak tanggal 15 Agustus sampai dengan tanggal 30 September 2013.
Tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah Dinas pertanian dan
peternakan Kabupaten Pinrang, yang kemudian dialihkan ke kawasan peternakan Kabupaten
Pinrang yaitu Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) Malimpung kecamatan Patampanua Kabupaten
Pinrang.
B. Jenis Dan Bentuk Kegiatan Yang Dilakukan
Adapun jenis dan bentuk kegitan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pengenalan Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Pinrang
2. Melaksanakan program pemeliharaan ternak kambing PE
3. Pengobatan pada ternak yang sakit.
4. Sanitasi kandang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Kabupaten Pinrang


1. Letak Geografis
Kabupaten Pinrang dengan ibukota Pinrang terletak 185 km disebelah utara ibukota
Propinsi Sulawesi Selatan, berada pada posisi 3°19’13” sampai 4°10’30” lintang selatan dan
119°26’30” sampai 119°47’20” bujur timur. Secara administratif, Kabupaten Pinrang terdiri atas
12 kecamatan, 39 kelurahan dan 65 desa. Batas wilayah Kabupaten ini adalah sebelah Utara
dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah Timur dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan
Enrekang, sebelah Barat Kabupaten Polmas Propinsi Sulawesi Barat dan Selat Makassar, sebelah
Selatan dengan Kota Parepare. Luas wilayah Kabupaten mencapai 1. 961,77 km².
2. Topografi Wilayah
Kondisi Topografi wilayah pada umumnya berbukit bukit dengan ketinggian 100 – 2000
meter di atas permukaan laut.
3. Wilayah Administrasi
Kabupaten Pinrang terdiri dari 12 Kecamatan meliputi 64 Desa dan 39 kelurahan.
Kabupaten Pinrang memiliki garis pantai sepanjang 93 Km sehingga terdapat areal pertambakan
sepanjang pantai, pada dataran rendah didominasi oleh areal persawahan, bahkan sampai
perbukitan dan pegunungan. Kondisi daerah tersebut di atas mendukung Kabupaten Pinrang
sebagai daerah potensial untuk sektor pertanian dan memungkinkan berbagai komoditi pertanian
(tanaman pangan, perikanan, perkebuanan dan Peternakan) untuk dikembangkan. Ketinggian
wilayah 0 – 500 m diatas permukaan laut (60, 41%), ketinggian 500 – 1000 m diatas permukaan
laut (19,69%) dan ketinggian 1000 m diatas permukaaan (9,90%).
4. Keadaan Iklim
Kabupaten Pinrang dipengaruhi oleh 2 musim pada satu periode yang sama, untuk
wilayah kecamatan Suppa dan Lembang di pengaruhi oleh musim Sektor barat dan lebih dikenal
dengan sektor peralihan dan 10 kecamatan lainnya termasuk sektor timur. Dimana puncak hujan
jatuh pada Bulan April dan Oktober. Berdasarkan data curah hujan termasuk tipe iklim A dan B
(Daerah basah) suhu ratarata normal 270C dengan kelembaban uadara kurang lebih 80% sampai
85%.
B. Potensi Kabupaten Pinrang
tanian
Potensi sektor pertanian di Kabupaten Pinrang terutama tanaman pangan dengan
komoditas andalan padi, sangat besar sehingga dapat diandalkan sebagai salah satu andalan
stimulator perekonomian daerah ini.Dengan potensi dan keunggulan tersebut Kabupaten Pinrang
ditetapkan sebagai salah satu sentra produksi utama pengembangan tanaman padi di Sulawesi
Selatan.Adapun lahan panen untuk produksi padi tahun 2008 adalah seluas 85. 259 Ha dan
mampu memproduksi padi sebanyak 540. 115 ton, komoditas lainnya yang juga merupakan
komoditas andalan adalah tanaman palawija seperti jagung. Produksi jagung di Kabupaten
Pinrang Tahun 2008 sebesar 13. 718 ton dengan luas panen 3. 904 Ha. Sedangkan hortikultura
(buahbuahan) sebanyak 185. 749 ton dan sayur sayuran seluas 1. 326 Ha dengan produksi
sebesar 7. 800 ton.
Luas sawah 46. 615 ha, berpengairan teknis 37. 575 ha (85 %), yang dapat ditanami
tanaman padi dua kali setahun, ratarata luas tanam padi 5 tahun terakhir seluas 86. 305,83 Ha,
produktifitas sebesar 60,35 Kw/ha, produksi sebesar 491. 295 ton GKG dan surplus beras
sebesar 244. 292 ton/tahun setara beras atau menyumbang (12%) dari target surplus beras 2 juta
ton SulSel. Luas tanam jagung tahun 2009, seluas 18. 351 ha, produktifitas 57,33 kw/ha,
produksi sebesar 81. 581 ton, (5,4 %) dari target produksi 1,5 juta ton SulSel. Bantuan benih
tahun 2009, bantuan benih langsung (BLBU) tahun 2009 melalui SLPTT padi non hibrida 4. 500
ha (180 unit), padi hibrida 15. 000 ha, jagung hibrida 3000 ha dan kedele 500 ha, sedang bantuan
benih melalui cadangan benih nasional, padi non hibrida 1. 026 ha, padi gogo 700 ha, jagung 5.
500 ha.
2. Perkebunan
Tanaman perkebunan yang cukup dominan di Kabupaten Pinrang antara lain kakao yang
berproduksi 24. 553 ton dan kelapa (kelapa dalam dan kelapa hybrida) dengan produksi
sebanyak 8. 987 ton (DISTANAK, 2013).
3. Peternakan
Jenis ternak yang diusahakan petani di Kabupaten Pinrang yaitu sapi, kerbau, kuda dan
kambing. Sedangkan jenis unggas yaitu ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging serta
itik.
4. Perikanan dan Kelautan
Potensi sumber daya laut untuk Kabupaten Pinrang yang mempunyai panjang pantai ±
93 Km sangat berlimpah dengan komoditas andalan antara lain perikanan laut dan darat
khususnya komoditas ikan dan udang. Produksi udang di Kabupaten Pinrang sebagian besar
dipasarkan keluar daerah antar pulau maupun ekspor dengan produksi perikanan darat tahun
2008 sebesar 880,85 ton dengan luas areal pengusahaan seluas 17. 173,45 Ha yang terdiri dari
budidaya air payau maupun air tawar.
Kabupaten Pinrang dikenal sebagai salah satu “Lumbung Pangan” di Sulawesi Selatan
sekaligus penghasil udang, ikan bandeng, ikan laut, kakao, kopi, kemiri dan kelapa. Sebagai
daerah pertanian yang memiliki sumberdaya alam yang cukup, Pinrang juga memiliki kekayaan
laut yang membentang sekitar 93 Km dari Parepare sampai ke Polewali Mandar (Polman) Sulbar
dan luas Kabupaten Pinrang yaitu 1. 961,77 km2. Secara administrasi pemerintahan Kabupaten
Pinrang terbagi atas 12 Kecamatan yaitu Kecamatan Lembang, Batulappa, Duampanua, Cempa,
Patampanua, Tiroang, Paleteang, Watang Sawitto, Mattiro Bulu, Lanrisang, Mattiro Sompe dan
Suppa. dari 12 Kecamatan tersebut terdapat 6 (enam) kecamatan yang berada di Wilayah Pesisir
dan Laut yaitu Kecamatan Lembang, Duampanua, Cempa, Mattiro Sompe, Lanrisang dan Suppa
serta Kabupaten Pinrang memiliki 16 Desa pantai dan 5 Kelurahan pantai. Kabupaten Pinrang
dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi darat, jarak tempuh dari Kota Makassar
adalah sepanjang 173 km dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam.
5. Kehutanan
Peranan hutan erat hubungannya dengan munculnya industri sebagai dimensi baru
dalam kehidupan ekonomi manusia. Saat ini hutan tidak lagi sematamata dipandang sebagai
sumber diperolehnya tanah pertanian baru melainkan sebagai sumber bahan mentah untuk
industri, misalnya kayu, rotan dan damar. Areal hutan yang ada di Kabupaten Pinrang seluas 72.
828 Ha dengan rincian fungsi yaitu : Hutan lindung seluas 46. 782 Ha, Hutan produksi terbatas
seluas 26. 049 Ha dan lahan kritis seluas 19. 000 Ha serta untuk pesisr pantai yang
memungkinkan untuk rehabilitasi hutan mangrov sepanjang ± 92 km.
C. Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) Malimpung
Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) Malimpung merupakan suatu usaha peternakan
yang sedang dikembangkan oleh bidang pengembangan produksi dan agribisnis peternakan
Dinas pertanian dan peternakan Kabupaten Pinrang. Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR)
Malimpung sudah masuk dalam tahun anggaran 2011, dan sementara dioperasikan pada tahun
2012.
Adapun komuditas yang sementara dikembang dalam kawasan Instalasi Perbibitan
Rakyat Malimpung ini yaitu jenis sapi potong, Kamping peranakan Ettawa, dan Ayam KUB .
Luas lahan untuk Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) ini yaitu seluas 900 m2. Dengan
pembagian lahan masing masing memiliki fungsi tersendiri. Dengan kata lain, dengan luas 9 Ha
tersebut dibagi menjadi beberapa bagian area seperti untuk kantor, rumah, kandang, lahan
Hijauan makanan ternak (HMT), Daerah Air Minum (DAM)/ embung dan padang
penggembalaan untuk ternak.
Adapun lokasi Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) Malimpung ini yaitu tepatnya berada
dalam kawasan peternakan Kabupaten Pinrang yang terletak di desa Malimpung Kecamatan
Patampanua Kabupaten Pinrang. Sebelah selatan Kawasan ini berbatasan langsung dengan
Kecamatan Paleteang, disebelah barat berbatasan dengan desa Mattiroade, dan disebelah utara
dan timur masingmasing berbatasan dengan desa Sipatuo dan desa Padang Loang.
D. Pembahasan
Beternak kambing, merupakan salah satu usaha yang cukup menjanjikan karena;
1. Tidak memerlukan lahan yang luas
2. Memilikidaya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungansehingga mudah dipelihara dan
dikembangkan
3. Untuk berkembang biak tidak memerlukanwaktu yang lama
4. Bahan pakan tidak mahal harganya karena dapat memanfaatkan limbah pertanian. Selain itu
kambing merupakan sumber protein yang bernilai gizi tinggi
E. Sistem Pemeliharaan
Instalasi Perbibitan Rakyat( IPR ) menggemukan kambing PE jantan untuk penghasil
daging dan memelihara kambing PE betina untuk induk, sebagai penghasil anak. Pemilihan
bakalan dilakukan dengan cara melihat cirinya yang mendekati Ettawa yaitu warna bulu belang
hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol,
jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang terkulai, memiliki kaki dan bulu yang
panjang dan kesehatannya.
Sistem pemeliharaan yang digunakan di Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) adalah sistem
pemeliharaan secara semi intensif yaitu menempatkan kambing dalam kandang dan
mengembalakan , sehingga memudahkan dalam pemantauan kesehatan ternak dan supaya bisa
mencari pakan dipadang pengembalaan dengan sendirinya.
Anak Kambing yang Dipilih untuk Bakalan.
Untuk memudahkan dalam pengontrolan ternak, di Instalasi Perbibitan Rakyat sudah
mulai melakukan rekording pada ternak.Kegiatan ini dilakukan untuk memudahkan dalam
pengelolaan atau pemeliharaan ternak. Hal-hal yang dicatat dalam kartu rekording antara lain
jenis kelamin, nomor ternak, penyakit, umur, keadaan ternak dan jenis pakan yang diberikan.
Rekording di peternakan ini masih banyak kekurangannya, antara lain belum ada data tentang
induk ternak, kebuntingan, dan cara perkawinan (IB atau alami)..
F. Pakan
Pakan yang diberikan dapat terdiri dari konsentrat dan dedak dengan perbandingan1: 3
atau penggabungan beberapa bahan pakandengan perbandingan dedak sebanyak 50%,bungkil
kelapa 25%, tepung jagung 15%, bungkilkacang tanah 8%, garam dapur 1%, tepung tulang0,5%
dan kapur 0,5% sebagai pakan tambahan.Kambing dapat diberikan rumput-rumput
seperti:rumput gajah, rumput setaria, rumput benggala,rumput raja dan rumput alam dan
dedaunan,seperti daun lamtoro, daun turi, daun gamal, daunkacang dan daun kaliandra.
Pakan hijauan /rumput dapat diberikan sebanyak 15 - 20% dari berat badankambing.
Pakan konsentrat dapat diberikan 0,5kg/ekor/hari untuk memacu pertumbuhan beratbadan, dapat
diberikan growth stimulant (GS)berupa Bio-N-Plus.
Pemberian Pakan
Komposisi rumput dan daunan untuk kambing :
Kambing dewasa membutuhkan 75% rumput dan25% daunan
Kambing bunting membutuhkan 60% rumput dan40% daunan
Kambing menyusui membutuhkan 50% rumputdan 50% daunan
Kambing Anak lepas membutuhkan 60% rumputdan 40% daunan.

G. Perkandangan
Sistem perkandangan di Instalasi Perbibitan Rakyat ( IPR ) adalah sistem perkandangan
kelompok. Kandang merupakan salah satu unsur tata laksana yang harus mendapatkan perhatian
yang cukup. Kandang yang baik akan memberikan dampak positif baik bagi ternak itu sendiri
maupun bagi peternak. Perkembangan ternak akan optimal karena mempunyai tempat tinggal
yang nyaman dan bersih. Pada akhirnya ternak bisa terhindar dari penyakit karena sanitasi
kandang yang baik.
Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang adalah suhu, cahaya,
ventilasi dan kelembaban. Artinya kandang cukup mendapat cahaya matahari, mempunyai
ventilasi yang baik dan mendapatkan udara segar yang cukup.
Bahan-bahan pembuat kandang yaitu lantai, dinding dan tempat pakan harus terbuat
dari bahan yang mudah didapat dan tahan lama.Penempatan kandang cukup jauh dari rumah
penduduk, sehingga kontaminasi dengan kandang semakin kecil.Ukuran kandang untuk masing-
masing status fisiologis kambing juga harus diperhatikan.
Untuk kandang kambing yang sedang beranak ukurannya 120 cm x 120 cm/ekor;
kandang induk ukurannya 100 cm x 125 cm/ekor; kandang anak ukurannya 100 cm x 125
cm/ekor; kandang pejantan ukurannya 110 cm x 125 cm/ekor dan untuk kandang dara ukurannya
100 cm x 125 cm/ekor.Untuk kambing yang sakit dibuatkan kandang terpisah agar penyakitnya
tidak menular.

Dalam hal ini kandang memiliki fungsi sebagai berikut ini:


a. Kandang harus dapat melindungi kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun hewan
penganggu.
b. Kandang harus dapat mempermudah kambing dalam melakukan aktifitas keseharian kambing
seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran.
c. Kandang dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan
ternak.
d. Sebagai tindakan preventif agar supaya kambing tidak merusak taneman dan fasilitas lain yang
berada di sekitar lokasi kandang, serta menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi
kesehatan kambing.
H. Pengendalian Penyakit
Kegiatan pengendalian penyakit yang dilakukan meliputi, sanitasi kandang, sanitasi
peralatan, sanitasi lingkungan perkandangan, dan sanitasi pekerja.Kandang dibersihkan setiap
satu minggu sekali.Sanitasi pekerja dilakukan dua kali sehari (mandi) yaitu sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas di kandang.Sanitasi pekerja dilakukan agar kebersihan dan kesehatan
pekerja dapat terjaga sehingga terhindar dari kuman penyakit yang mungkin berasal dari
kambing yang sedang sakit.
Penanganan ternak yang sakit di Instalasi Perbibitan Rakyat (IPR) sudah cukup baik.
Ternak yang mengalami mencret, diobati dengan cara diberi larutan garam dan gula masing-
masing 10 gram dengan air ± 2,5 liter, atau diberikan larutan oralit atau tablet karbon aktif (norit)
sebanyak 2 tablet, juga dapat menggunakan daun jambu biji yang sudah ditumbuk.
Kambing yang terserang kudis diobati dengan menyuntikkan Ivomic ± 2 ml dibawah
kulit.Kulit yang terserang digosok dengan beberapa campuran serbuk belerang, kunyit, dan
minyak kelapa yang dipanaskan.Selain itu, kambing juga harus disuntik hematopan ± 3 ml, untuk
mencegah anemia.
Pemberian Obat pada Ternak yang Sakit.
Pengobatan pada kambing yang cacingan dilakukan dengan beberapa cara antara lain
diberi obat cacing jenis Albendazole sebanyak 5 ml secara oral. Obat cacing Dovenix ± 1 ml dan
yang disuntikan di bawah kulit (Ilustrasi 8), atau diberi pelet buah pinang (jambe) tua. Selain itu,
ternak disuntik dengan Hematopan ± 3 ml.
Pengobatan untuk kambing yang terserang kembung dengan cara memberikan minyak
kelapa atau minyak kacang ± 100 ml, menekan perut yang kembung atau menusuknya antara
tulang rusuk dan tulang panggul, mulut ternak diusahakan tetap terbuka dan ternak dalam posisi
berdiri. Ternak disuntik dengan antibiotika 3 ml dan diberi permethyl 3%, atau minuman bersoda
± 200 ml.
Pengobatan untuk kambing yang terkena penyakit mata dilakukan dengan cara
mengolesi mata dengan salep Terramycin 0,1 %, atau dengan disemprotkan air garam ke mata
ternak secara rutin, bila sudah kronis diberi obat mata Sofradex.
Penanganan limbah di Instalasi Perbibitan Rakyat ( IPR ), belum maksimal. Limbah
padat di peternakan ini hanya di tampung saja, tidak diolah lebih lanjut.Limbah cair hanya
dibuang, belum dikelola dengan baik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktek Kerja Lapangan di Instalasi Perbibitan
Rakyat adalah tatalaksana pemeliharaan ternaknya sudah dilaksanakan dengan baik.Hal ini dapat
dilihat dari beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan, pengelolaan ternak, pertambahan
bobot badan harian, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.
B. Saran
Perlu adanya recording yang lebih jelas agar diketahui data tentang induk ternak,
kebuntingan, dan perkawinannya.Selain itu, limbah padat dan cair perlu dikelola dengan baik,
agar menambah penghasilan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2009. Kambing Etawah. Erlangga.http://www.infoternak.com/kambing kacang(Diakses 17


April 2013)

Blakely, J dan D.H. Blade. 1998. Ilmu Petemakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
(Diterjemahkan oleh: B. Srigandono ).

Devendra, C. Dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit ITB, Bandung

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia.Cetakan kesatu. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.

Jurgens. M. H. 1993. Animal Feeding and Nutrition.Seventh Edition. Kendall/ Hunt Publishing Company,
Dubuque.

Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V. Penerbit PT Penebar
Swadaya, Jakarta.

Mulyono, S dan B. Sarwono. 2005. Penggemukan Kambing Potong. Cetakan kedua. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Murtidjo, B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.

Sarwono, B. 2005. Beternak Kambing Unggul. Cetakan Ke – VIII. Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Setiawan, T dan A. Tanius. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sodiq, A. 2002.Kambing Peranakan Etawa Penghasil Susu Berkhasiat Obat. Cetakan Pertama. Agromedia
Pustaka, Jakarta.

Sosroamijoyo, M. S. 1991. Ternak Potong dan Kerja.Cetakan Ke-11. CV Yasaguna, Jakarta.

Sugeng, Y.B. 1992. Beternak Sapi Potong. CV Panebar Swadaya, Jakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawiro kusuma dan S.Ledbosoekotjo. 1991.


Cetakan ke-5. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Williamson, G dan W.J.A. Payne.1993. Pengantar Ilmu Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh S.G.N. D Darmaja).