Anda di halaman 1dari 2

Sumber : http://geografi-geografi.blogspot.co.id/2012/02/bowens-reaction-series.

html

REACTION BOWEN SERIES

Bowen menentukan bahwa mineral spesifik dari temperatur tertentu hasil pendinginan magma.
Pada temperatur tinggi akan berasosiasi dengan magma mafik dan intermediet, secara umum
kemajuan ini dibagi menjadi dua cabang. Cabang pertama Continuous menjelaskan mengenai
evolusi plagioklas feldspar mulai dari yang kaya calsium (Ca) dan kaya sodium (Na).

Cabang berikutnya discontinuous mendeskripsikan formasi atau bentuk mineral mafik seperti
olivine, pyroxene, amphibole dan bitotit mika. Hal aneh yang ditemukan pada Bowen adalah
mengenai bagian discontinuous. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s
Reaction Series.

Bowen’s Reaction Series merupakan urut-urutan pendinginan batuan beku. Sedangkan batuan
beku atau igneous rock itu sendiri adalah batuan yang terbentuk dari proses pembekuan magma
di bawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava di permukaan bumi. Menurut para ahli
seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan
sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara
1.500 – 2.500ºC dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian
bawah.

Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2, chlorine,
fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-
volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka
mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran.
Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL.
Temperatur tertentu magma dapat menghasilkan olivine, tetapi jika magma yang sama
mengalami pendinginan lebih lanjut, olivine akan bereaksi dengan magma yang terbentuk
terakhir, dan mengubah mineral selanjutnya pada seri tersebut dalam hal ini (pyroxene).
Pendinginan lebih lanjut dan pyroxene berubah ke amphibole dan kemudian ke biotit.

Dari diagram di atas, sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, dan yang pertama kali
terbentuk adalah olivin pada temperatur yang sangat tinggi (1.200ºC) dengan proporsi besi-
magnesium dan silikon adalah 2:1 dan membentuk komposisi (Fe2Mg).2SiO4. Tetapi jika
magma jenuh oleh SiO2, maka piroksen yang terbentuk pertama kali, dengan perbandingan
antara besi-magnesium dengan silikon adalah 1:1 membentuk komposisi (MgFe)SiO3 pada
temperatur yang lebih rendah.

Olivin dan piroksen merupakan pasangan Incongruent Melting, di mana setelah pembentukan,
olivin akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk piroksen. Temperatur menurun terus dan
pembentukan mineral berjalan sesuai dengan temperaturnya. Mineral yang terakhir terbentuk
adalah biotit. Karena terjadi demikian maka reaksi ini disebut dengan reaksi diskontinyu atau
reaksi tidak menerus.

Seri berikutnya yang ada di sebelah kanan mewakili kelompok plagioklas karena didominasi atau
hanya terdapat mineral plagioklas. Pada temperatur yang sangat tinggi (1.200ºC) yang
mengkristal adalah plagioklas-Ca, di mana komposisinya didominasi oleh kalsium dan sebagian
kecil silikon dan aluminium. Pengkristalan selanjutnya yang berlangsung secara menerus,
komposisi Ca akan semakin berkurang dan kandungan Na (sodium) akan semakin meningkat,
sehingga pengkristalan terakhir adalah plagioklas-Na. Reaksi pada seri ini disebut seri kontinyu
karena berlangsung secara terus menerus. Mineral mafik dan plagioklas bertemu pada mineral
potasium feldspar dan menerus ke mineral yang stabil, yang tidak mudah terubah menjadi
mineral lain pada temperatur sekitar 600ºC.
Diposting oleh Geografi