Anda di halaman 1dari 58

OTOPSI

2011
BAB I
OTOPSI

1.1 Definisi Otopsi


Otopsi berasal dari kata Auto yang berarti sendiri dan Opsis yang berarti melihat.
Namun pengertian yang sebenarnya dari otopsi adalah suatu pemeriksaan terhadap tubuh
mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam dengan
menggunakan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang
berkompeten. Karena meliputi pemeriksaan bagian dalam maka otopsi memerlukan
pembukaan tubuh jenazah dengan melakukan irisan. 1,5,7
Dikenal 3 macam otopsi yaitu otopsi anatomik, klinik, dan forensik. Otopsi anatomik
adalah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikan, yaitu untuk mempelajari susunan
tubuh manusia yang normal. Pelaksanaan otopsi jenis ini diatur di dalam Peraturan Pemerintah
No.18 Th. 1981 tentang bedah jenazah.1,2,5,7
Otopsi Klinik adalah otopsi yang dilakukan terhadap jenazah dari penderita penyakit
yang dirawat dan kemudian meninggal dunia di Rumah Sakit.
Tujuan utama dari otopsi klinik adalah untuk kepentingan penyelidikan penyakit, antara
lain :
1. Untuk mengetahui diagnosis penyakit dari penderita yang
sampai meninggalnya belum dapat ditentukan.
2. Untuk menilai apakah diagnosis klinik yang dibuat sebelum mati
benar.
3. Untuk mengetahui proses perjalanan penyakit.
4. Untuk mengetahui kelainan-kelainan patologik yang timbul.
5. Untuk menilai efektifitas obat atau metode pengobatan.

Pelaksanaan otopsi ini juga diatur di dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Th. 1981, yang
pada prinsipnya baru boleh diakukan sesudah ada izin dari keluarga terdekat atau jika sesudah
2 hari tidak ada keluarga yang mengurusnya.
Sedangkan Otopsi forensik ialah yang dilakukan untuk kepentingan peradilan, yaitu
membantu penegak hukum dalam rangka menemukan kebenaran materiel.

Dalam melakukan otopsi forensic, terdapat beberapa hal pokok yang perlu diketahui,
antara lain :
1. Otopsi harus dilakukan sedini mungkin
Hal ini berkaitan dengan perubahan yang terjadi setelah kematian (postmortem)
yang dapat terjadi seiring dengan berjalannya waktu, sehingga dapat menimbulkan

24
OTOPSI

2011
salah interpretasi. Sebagai contoh, bintik perdarahan akibat mati lemas (petechiae
asfiksia) dapat menghilang dengan lewatnya waktu.
2. Otopsi harus lengkap.
Meliputi pemeriksaan luar dan pembedahan, berupa pembukaan rongga
tengkorak, rongga dada, rongga perut, dan rongga panggul.
3. Otopsi dilakukan sendiri oleh dokter.
Otopsi tidak boleh diwakilkan kepada perawat dan mantri. Dokter sendiri yang
harus melakukan pemeriksaan dan interpretasi hasil pemeriksaan, dengan
menggunakan pengetahuan yang sebaik-baiknya, dengan mengingat sumpah
jabatan/profesi.
4. Pemeriksaan dan pencatatan harus seteliti mungkin.
Semua kelainan yang ditemukan pada jenazah harus dicatat sebaik-baiknya.
Selain itu, perlu juga dicatat negative findings (tidak menemukan suatu kelainan),
untuk menunjukkan bahwa dokter telah melakukan pemeriksaan dan mencari kelainan,
tetapi tidak menemukannya1,5,7.

Kegunaan otopsi forensik pada hakekatnya adalah membantu penegak hukum untuk
menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, yaitu :
1. Membantu menentukan cara kematian (manner of death = mode of dying),
yaitu :
a. Pembunuhan
b. Bunuh diri
c. Kecelakaan.
Bantuan dokter seperti ini sangat penting, utamanya terhadap kasus yang belum jelas
cara kematiannya.
2. Membantu mengungkapkan proses tejadinya tindak pidana yang
menyebabkan kematiannya, yaitu :
a. Kapan dilakukan
Perlu mendapat kejelasan sebab yang berkaitan dengan alibi yang
sering dikemukakan oleh orang yang dituduh sebagai pelakunya. Perlu
diketahui bahwa pembunuhan selalu dilakukan sebelum kematian, yaitu
berhimpitan dengan atau beberapa saat sebelum kematian.
b. Di mana dilakukan
Penting untuk diketahui mengingat banyaknya jenazah yang ditemukan
di luar tempat kejadian perkara.
c. Senjata, benda atau zat kimia apa yang digunakan
Sebagaimana yang sering terjadi pada kasus pembunuhan, senjata atau
benda yang digunakannya tidak ditemukan di tempat kejadian perkara. Dari ciri
luka yang ditemukan akan dapat diidentifikasi benda yang digunakan. Dalam
hal pembunuhan dilakukan dengan racun, perlu racun tersebut diidentifikasi.
d. Cara melakukan

24
OTOPSI

2011
Perlu diketahui bahwa dari satu jenis senjata dapat digunakan berbagai
cara untuk membunuh. Senjata tajam misalnya dapat ditusukkan, digorokkan
atau dibacokkan dengan meninggalkan luka yang ciri-cirinya berbeda.
e. Sebab Kematian (cause of death)
Ini sangat penting karena kadang-kadang pada orang yang mati dengan
trauma, sebab kematiannya bukan karena akibat trauma tersebut.

3. Membantu mengungkapkan identitas jenazah.


Sebagaimana yang sering terjadi, banyak jenazah ditemukan dalam keadaan
busuk atau terpotong-potong (mutilasi) sehingga tidak mudah dikenali. Padahal
identitas korban perlu diketahui mengingat penyidikan yang tidak dimulai dengan
mengetahui siapa korban akan sulit dilakukan.

4. Membantu mengungkapkan pelaku kejahatan.


Pada tubuh jenazah dari korban tindak pidana (misalnya perkosaan) sering kali
ditemukan bagian-bagian dari tubuh pelaku, seperti misalnya sperma, rambut kepala,
rambut kelamin atau darah. Kadang-kadang juga jejas perbuatan pelaku, yaitu jejas
gigit. Semua yang ditemukan itu dapat dijadikan bahan guna mengidentifikasi pelaku.

1.2 Dasar Hukum Otopsi

Menurut Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 122


(1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat forensik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(2) Bedah mayat forensik dilakukan oleh dokter ahli forensik atau oleh dokter lain
apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter
ahli forensiknya tidak dimungkinkan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas tersedianya pelayanan
bedah mayat forensic di wilayahnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik diatur dengan
Peraturan Menteri.
Tindakan bedah mayat oleh tenaga kesehatan harus dilakukan sesuai dengan norma
agama, norma kesusilaan, etika profesi ( pasal 124 ). Adapun biaya pemeriksaan kesehatan
terhadap korban tindak pidana dan atau pemeriksaan mayat untuk kepentingan hukum
ditanggung oleh pemerintah.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis serta transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia, Pasal
2 PP No. 18/1981.

24
OTOPSI

2011
Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalanm keadaan sebagai berikut:
(1). Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat
setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat
ditentukan dengan pasti
(2). Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga
penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau
masyarakat sekitarnya.
(3). Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka
waktu 2 x 24 (dua kai duapuluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari yang
meninggal dunia dating ke rumah sakit.

Menurut Pasal 70 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


(2). Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang
berlaku dalam masyarakat.
Menurut KUHAP
Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus ( Pasal 120 KUHAP ayat 1 ).

Pasal 132 ayat (1) KUHAP :


Dalam hal diterima pengaduan bahwa sesuatu surat atau tulisan palsu atau dipalsukan
atau diduga palsu oleh penyidik, maka untuk kepentingan penyidikan, oleh penyidik
dapat dimintakan keterangan mengenai hal itu dari orang ahli.

Pasal 133 KUHAP menyebutkan :


(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2)Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Penjelasan terhadap pasal 133 KUHAP :


(3)Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan
ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan.

24
OTOPSI

2011
Wewenang penyidik meminta keterangan ahli ini diperkuat dengan kewajiban dokter
untuk memberikannya bila diminta, seperti yang tertuang dalam pasal 179 KUHAP sebagai
berikut :
(1)Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 186
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Penjelasan pasal 186 KUHAP : keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada
waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk
laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Pasal 187
(c)Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi
dari padanya.

Keduanya termasuk ke dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam
KUHAP :
Pasal 184 :
(1) Alat bukti yang sah adalah : Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Petunjuk,
Keterangan terdakwa .

1.3 Kewajiban Otopsi


Kewajiban otopsi dapat kita lihat dari pasal 133 ayat 1 KUHAP dan pasal 179 ayat 1
KUHAP, dimana dijelaskan bahwa kita sebagai dokter mempunyai kewajiban memberi
keterangan kepada penyidik jika diminta,sehingga kita perlu melakukan otopsi untuk
memberikan keterangan tersebut
Pasal 133 ayat (ayai 1) KUHAP
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana ia berwenang mengajukan permintaan ketreangan ahli kepada aahli
kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya
Pasal 179 (ayat1) KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

24
OTOPSI

2011
Jelas pula disini bahwa dokter yang diminta bantuannya dalam kapasitasnya sebagai
ahli dapat memberikan keterangan ahli yang , yang dalam system peradilan disini merupakan
salah satu alat bukti yang sah.
Pada kenyataannya bunyi pasal 133 memang sudah sangat jelas yaitu penyidik
berwenang, meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
bahkan ahli lainnya.pasal 179 ayat 1 lebih memperjelas lagi kewenangan dokter (dalam hal
ini dokter non ahli kedokteran kehakiman bahkan ahli lainnya) untuk memberikan keterangan
ahli.

1.4 Tehnik & Langkah-Langkah


Pengangkatan organ dalam dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Secara umum
terdapat 4 teknik dasar otopsi yaitu teknik Rokitansky, Virchow, Lettule, dan Ghon. Seiring
dengan perkembangan, selanjutnya teknik-teknik ini mengalami modifikasi dengan berbagai
alternatif yang digunakan untuk beberapa kepentingan. Keempat teknik memiliki kelebihan
dan kekurangan tersendiri. Bagi pemeriksa, keuntungan dan kelebihan masing-masing dapat
digunakan untuk menjadi dasar pemilihan saat menjumpai kasus-kasus tertentu. Teknik-teknik
tersebut akan dibahas sebagai berikut 2,5:
1. Teknik otopsi Rokitansky
Teknik pemeriksaan ini dikenal juga dengan nama insitu dissection. Metodenya
dengan mengiris organ secara insitu kemudian diperiksa secara langsung dan
diangkat untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Teknik sebenarnya jarang
digunakan, biasanya digunakan pada keadaan membutuhkan waktu yang cepat
dan informasi yang sekilas. Contohnya pada kasus jenazah dengan penyakit
menular, untuk membatasi risiko dan penyebaran penyakit pada pemeriksaan.
Pada jaman dulu teknik ini digunakan pula bila pemeriksaan jenazah di
kediamannya.
Langkah-langkah yang dikerjakan adalah:
 Pemeriksaan mediastinum dan cavum pleura
 Menarik paru-paru ke depan dan mengiris masing-masing lobusnya
 Membuka pericardium dan memotong jantung, pertama sisi kiri
kemudian sisi kanan.
 Memeriksa abdomen
 Mengiris hepar
 Memotong vesica felea
 Mengiris limpa
 Mengiris ginjal dan kelenjar adrenal
 Membuka vesica urinaria

24
OTOPSI

2011
 Memotong genitalia interna
 Membuka lambung
 Mengiris pankreas
 Membuka usus halus
 Membuka dan memeriksa pembuluh darah besar dan cabang-cabangnya
2. Teknik otopsi Virchow
Teknik ini cukup sederhana dan simple dengan cara mengeluarkan organ satu
persatu kemudian langsung diperiksa. Dengan demikian yang terdapat pada
masing-masing organ dapat segera dilihat, namun hubungan anatomik antar
beberapa organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi hilang. Dengan
demikian teknik ini kurang baik bila dilakukan pada otopsi forensik, terutama
pada kasus-kasus penembakan dengan senjata api dan penusukan pada senjata
tajam, yang membutuhkan penentuan saluran luka, arah serta dalamnya
penetrasi yang terjadi.
Langkah-langkah yang dikerjakan pada tekni Virchow adalah:
 Memeriksa isi abdomen
 Memeriksa cavum pleura
 Membuka perikardium dan mengangkat jantung
 Mengangkat paru kiri dan paru kanan
 Menilai faring, esofagus, trakea, kelenjar paratiroid, kelenjar tiroid
 Mengangkat limpa
 Menilai saluran empedu
 Mengangkat usus
 Membuka lambung
 Mengangkat hepar
 Mengangkat pankreas
 Mengupas ginjal kiri dan kanan serta kelenjar adrenal
 Mencari dan mengurut ureter dengan menggunting sampai ke vesica
urinaria
 Memotong sturktur organ-organ rongga pelvis
 Memeriksa dan membuka pembuluh darah besar
3. Teknik otopsi Lettule
Teknik ini sering juga disebut dengan nama teknik en messe dissection. Dengan
pengangkatan organ-organ tubuh secara en messe ini, hubungan antar organ-
organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh.
Kerugian teknik ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu serta agak sulit
dalam penanganan karena “panjang”nya kumpulan organ-organ yang
dikeluarkan bersama-sama ini.
Langkah-langkah yang dikerjakan adalah:
Membuka tubuh dengan cara umum.
 Pembukaan struktur leher dengan cara menarik lidah seperti umumnya
 Mengangkat usus dari duodenum sampai rectum

24
OTOPSI

2011
 Struktur pada rongga pelvis dipotong setinggi prostat atau servik uteri
 Transeksi pembuluh darah iliaca
 Menyobek diafragma dari dinding tubuh
 Membebaskan ginjal kiri, kelenjar adrenal, dan ureter
 Melanjutkan irisan ke arah tengah untuk membebaskan limpa dan
pankreas dari jaringan lunak dibelakangnya
 Membebaskan hepar, ginjal kanan, kelenjar adrenal dan ureter
 Melanjutkan irisan ke arah tengah di belakang struktur retroperitoneal
 Membebaskan organ thorak dari jaringan lunak di belakangnya.
 Potong pembuluh darah kecil dan perlekatan dengan jaringan lunak
 Angkat seluruh organ ke atas meja pemeriksa untuk dilakukan
pemotongan dan pemeriksaan lebih lanjut
Setelah organ tubuh dibuka, organ-organ leher, dada, diafragma dan perut
dikeluarkan sekaligus (en messe). Kemudian diletakan di atas meja dengan
permukaan posterior menghadap ke atas. Pleksus coeliacus dan kelenjar-
kelenjar para aortal diperiksa. Aorta dibuka sampai arcus aorta dan arteri
renalis kanan dan kiri dibuka serta diperiksa. Aorta diputus di atas arteri
renalis. Rectum dipisahkan dari sigmoid. Organ-organ urogenital
dipisahkan dari organ-organ lain. Bagian proksimal jejunum diikat pada
dua tempat kemudian diputus diantara dua ikatan tersebut, dan usus-usus
dapat dilepaskan. Esofagus dilepaskan dari trakea, tetapi hubungan dengan
lambung dipertahankan. Vena cava inferior serta aorta diputus diatas
diafragma dengan demikian organ-organ leher dan dada dapat dilepaskan
dari organ perut.
4. Teknik otopsi Ghon
Teknik ini sering juga disebut dengan nama en block dissection. Setelah rongga
tubuh dibuka, organ leher dan dada, hati dan limpa, dan organ-organ
pencernaan serta organ-organ urogenital diangkat keluar sebagai tiga kumpulan
organ(block). Teknik ini relatif lebih cepat dan mudah, hubungan antar organ
penting masih dapat dipertahankan, sehingga bila ada kegagalan satu organ
yang mempengaruhi organ lain dapat diketahui. Namun kelemahan metode ini
misalnya pada kasus Sirosis Hepatis dan Hipertensi portal yang
mengakibatkan adanya varises esophageal. Hal ini terjadi karena hubungan
antar keadaan tersebut dirusak dengan pemotongan esophagus diatas
diafragma. Namun tiap ahli mengembangkan sendiri teknik ini sesuai dengan
kasus yang dihadapi.

24
OTOPSI

2011
Langkah-langkah yang dikerjakan pada teknik Ghon adalah membagi organ
dalam empat block:
Block pertama atau block Thorak
 Pembukaan stuktur leher dengan cara menarik lidah seperti umumnya
 Membebaskan perlekatan pleura dan mengidentifikasi duktus
thoraksicus
 Menarik stuktur leher dari perlekatan jaringan lunak dibelakangnya
 Mengidentifikasi esofagus, mengikat dan menggunting
 Memisahkan aorta desenden
 Mengangkat Thoracic pluck
Block kedua atau block Intestinal
 Mengidentifikasi duodenojejunal junction, membuka dua ikatan dan
menggunting diantara keduanya
 Mengidentifikasi rectum bagian atas/sigmoid bagian bawah dan
membebaskannya dari jaringan lemak disekitarnya
 Memotong rectum bagian atas dan mulai memotong mesenterium dekat
dinding usus atau memulai memotong mesenterium dari ikatan di
duodenojejenal junction kebawah
 Membebaskan usus halus dan usus besar dari
penggantungnya(mesenterium)
 Mengangkat seluruh usus untuk diperiksa lebih lanjut
Block ketiga atau block Coeliac
 Mengidentifikasi spleen dan menarik kearah medial untuk memotong
secara posterior didepan ginjal sampai garis tengah tubuh
 Mengangkat organ-organ tersebut dalam satu kelompok(hepar,
pankreas, duodenum, lambung, dan limfa)
 Memeriksa aorta abdominalis dengan cara menggunting sampai ke
cabang-cabangnya yang kebagian depan
Block keempat atau block Urogenital
 Memotong dibelakang ginjal untuk melepaskannya(termasuk kelenjar
adrenal) dari jaringan lunak disekitarnya, baik ginjal kanan maupun kiri
 Memotong jaringan retroperitoneal untuk mencari ureter dan mengurut
dengan menggunting sampai ke vesica urinaria
 Jaringan lunak disekitar vesica urinaria dilepaskan secara tumpul
 Genggam dibawah vesica urinaria dan potong setinggi prostat atau
servik uteri
 Organ-organ rongga pelvis dilepaskan dari perlekatan dengan
sekelilingnya
 Pisahkan pembuluh darah iliaca
 Angkat oragn-organ tersebut dalam satu kelompok untuk diperiksa
lebih lanjut.

24
OTOPSI

2011
1.5 TEMPAT DAN PERALATAN OTOPSI

Untuk melakukan otopsi secara baik diperlukan tempat otopsi dan alat yang memadai,
antara lain :
1. Kamar otopsi
Fungsi kamar otopsi adalah agar dokter yang melakukan pemeriksaan jenazah dapat
melakukan tugasnya dengan tenang, tidak terganggu oleh orang yang tidak
berkepentingan.
Untuk keperluan ini tidak diperlukan suatu kamar khusus bila keadan setempat ini
tidak memungkinkan , cukup digunakan salah satu sudut kamar jenazah misalnya
asalkan mendapat penerangan yang cukup bahkan bedeng darurat yang didirikan
dilapangan dekat dengan tempat penggalian kubur pun dapat digunakan, asalkan
tertutup dan tidak melanggar etika.
2. Meja otopsi
Untuk meja autopsi pun bila keadaan tidak memungkinkan tidak perlu menggunakan
meja otopsi khusus yang stainless steel. Bila perlu dapat digunakan kereta dorong
mayat atau meja darurat yang terbuat dari beberapa helai papan saja. Perlu dipikirkan
dalam hal meja otopsi adalah adanya tempat penampungan darah yang keluar saat
dilakukan otopsi serta adanya air yang diperlukan untuk melakukan pencucian bila
perlu.
3. Peralatan otopsi
Alat-alat yang diperlukan adalah pisau yang dapat digunakan untuk memotong kulit
serta organ dalam dan otak, gunting serta pinset bergigi untuk melaksanakan
pemeriksaan alat dalam tubuh. Disamping itu diperlukan juga sebuah gergaji yang
dapat digunakan untuk menggergaji tulang tengkorak.
Untuk keperluan perawatan mayat setelah selesai otopsi sediakan sebuah jarum jahit
kulit serta benang kasar untuk merapikan kemabali mayat yang telah di otopsi.
Peralatan tambahan yang diperlukan adalah gelas ukur untuk mengukur volume cairan/
darah yang ditemukan pada otopsi serta semperit berikut jarum untuk pengambilan
darah.
4. Peralatan tamabahan untuk pemeriksaan tambahan
Perlu pula disediakan beberapa buah botol kecil yang terisi formalin 10% atau alkohol
70-80% untuk keperluan pengambilan jaringan guna pemeriksaaan histopatologik,
serta beberapa botol yang lebih besar untuk pengambilan bahan guna pemeriksaan
toksikologi yang berisi bahan pengawet yang sesuai.
5. Peralatan tulis menulis dan fotografi

24
OTOPSI

2011
Sediakan kertas atau formulir-formulir isian yang dipergunakan untuk mencatat segala
hasil pemeriksaaan.
Bila mungkin sediakan juga peralatan memotret yang dapat digunakan untuk
pemotretan kelainan-kelainan untuk keperluan dokumentasi atau identifikasi.

PENGGALIAN KUBUR
Pembongkaran kuburan kadang-kadang diperlukan untuk tujuan tertentu sesuai dengan
kepentingannya , dimana dalam hal penggalian kubur ada dua buah kepentingan yang terkait
dengannya yaitu untuk kepentingan peradilan (forensik) dan untuk kepentingan penguasa atau
pemerintah setempat misalnya pemindahan tempat pemakaman massal sehubungan dengan
pembangunan tempat tersebut untuk keperluan atau pengembangan kota.

1. Penggalian / pembongkaran kuburan untuk kepentingan peradilan (forensik)


Untuk kepentingan penyidikan kepolisian kadang-kadang suatu kuburan perlu digali
kembali untuk memeriksa dan membuat visum et repertum dari jenazah yang beberapa waktu
lalu telah dikubur, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 135 KUHAP dimana “Dalam hal
penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat , dilaksanakan
menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 135 ayat 2 dan pasal 134 ayat 1
undang-undang ini”.
Hal ini terjadi atas dasar laporan / pengaduan masyarakat agar polisi dapat melakukan
penyidikan atas kematian orang yang dikubur tadi , karena diduga kematian tersebut tidak
wajar dan menimbulkan kecurigaan
Kadang-kadang korban suatu pembunuhan atau tindak kejahatan lain dimana korban
ditanam / dikubur disuatu tempat atau suatu kematian yang pada waktu itu dianggap / dibuat
seolah-olah kematian wajar sehingga pada waktu itu tidak dimintakan visum et repertum
ternyata beberapa waktu kemudian diketahui bahwa kematian itu tidak wajar.
Bila mayat baru beberapa hari dikuburkan maka penggalian kuburan harus segera
dilakukan tidak boleh ditunda-tunda. Tetapi bila telah beberapa bulan dikuburkan maka
penundaan beberapa hari tidak menjadi masalah yang penting segala persiapan harus rapi dan
lengkap.Untuk pelaksanaan penggalian kuburan perlu persiapan-persiapan dan syarat
kelengkapan serta sarana-sarana tertentu serta pengadaan sarana untuk pelaksanaan
pengadilan.
Adapun persiapan-persiapan yang perlu adalah sebagai berikut :

24
OTOPSI

2011
a. Surat persetujuan dari keluarga yang meninggal yang menyatakan tidak berkeberatan
bahwa makam / kuburan tersebut dibongkar
b. Surat pernyataan dari keluarga, juru kubur , petugas pemerintah setempat / saksi-saksi
lain yang menyatakan bahwa kuburan tersebut memang kuburan dari orang yang
meninggal yang dimaksudkan
c. Surat penyitaan dari kuburan yang akan digali sebagai barang bukti yang dikuasai oleh
penyidik (kepolisian) untuk sementara
d. Surat permintaan visum et repertum kepada dokter pemerintah , dokter polri / dokter
setempat untuk pemeriksaan mayat penggalian kubur
e. Berita acara penggalian kubur harus dibuat secara kronologis serta sesuai metode
kriminalistik yang membuat semua kejadian-kejadian sejak pertama kali kuburan itu
dibongkar.
Contoh :
1) Jam berapa dimulai pemeriksaan kuburan (dari luar)
2) Tanda-tanda yang ada dicatat, misalnya nisan dibuat dari apa, berapa tingginya
dan bagaimana bentuknya.
3) Identitas nama, tanggal kematian dan sebagainya
4) Keadaan cuaca mendung, panas, dan sebagainya
5) Setiap mencapai kedalaman tertentu harus dicatat, diukur, dengan mistar dan
difoto
6) Misalnya jam 09.30 mencapai kedalaman 1 meter
7) Keadaan tanah, komposisi tanah, pasir, tanah liat warna merah / coklat dan
sebagainya
8) Pada jam berapa mencapai papan penutup liang lahat / peti mati mayat dan
sebagainya dan pada kedalaman berapa meter jangan lupa selalu dibuat fotonya
9) Jam berapa peti mayat / papan penutup diangkat atau bila tidak ada peti ,
jenazah diangkat dari liang lahat
10) Bagaimana keadaan jenazah , posisi mayat, keadaan kain kafan dan lain-lain
11) Saat dokter mulai mengadakan pemeriksaan (otopsi) sampai selesai
f. Berita acara pemakaman kembali
g. Berita acara penyerahan kembali kuburan kepada keluarga
h. Peralatan dan sarana lain yang diperlukan
o Sebelum penggalian, sekitar kuburan harus ditutup dengan tabir ( dari bahan
apa saja) asalkan dapat menutupi kuburan sehingga tidak menjadi tontonan
umum
o Apabila otopsi akan dikerjakan dikuburan maka selain tabir perlu penutup
untuk dokter dan petugas lain yang melakukan pemeriksan mayat. Jangan
sampai lupa menyediakan meja untuk otopsi
o Air sangat perlu disediakan untuk keperluan dokter selama otopsi

24
OTOPSI

2011
o Seandainya otopsi akan dilakukan di rumah sakit maka mayat / peti mayat
sebagai barang bukti harus dibungkus, disegel dan sebagainya sebelum dikirim
ke rumah sakit dan harus disertai dengan berita acara dan sebagainya
o Untuk mengukur dapat disediakan mistar kayu 1 meter atau meteran dari pita
logam 2-5 meter
o Peralatan fotografi dilengkapi flash unit dengan film hitam putih petugas Polri
sendiri. Tidak diperkenankan wartawan / wartawan foto berada dilokasi
penggalian.

2 Penggalian kuburan non forensik / bukan untuk pengadilan


 Biasanya dilakukan untuk keperluan-keperluan kota , pembangunan gedung-gedung
dan sebagainya atas perintah dari penguasa pemerintahan setempat. Untuk pelaksanaan
biasanya ada petunjuk pelaksanaan yang diatur oleh pemerintah setempat bekerjasama
dengan keluarga. Oleh karena itu sifatnya lebih sederhana dan tidak perlu ikut sertanya
Polri dalam pelaksanaan tersebut. Mungkin masih diperlukan peran serta Polri dari
segi pengamanan pelaksanaan sehingga hanya untuk mencegah seandainya terjadi hal-
hal yang tidak diinginkan.
 Kadang-kadang atas kemauan keluarga sendiri untuk memindahkan kuburan seseorang
ke kuburan lain atau ke kota lain. Untuk tujuan ini sudah ada tatacara tertentu dan
biasanya tidak menjadi urusan Kepolisian.

BAB II
Pemeriksaan Hasil Otopsi

24
OTOPSI

2011
2.1 Pemeriksaan Jaringan

Pada dasarnya pemeriksaan jaringan merupakan hal yang cukup penting dalam bidang
ilmu kedokteran forensik. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan dan melengkapi
visum et repertum yang berguna dalam penyelidikan kasus pidana. Tidak semua institusi di
Indonesia memiliki laboratorium khusus untuk memeriksa jaringan forensik, oleh karena itu
jaringan terkadang harus dikirim atau dirujuk ke laboratorium yang lebih lengkap.
Dalam pemeriksaan mikroskopis jaringan, harus diperhatikan beberapa hal yang sangat
penting. Dari proses pengambilan jaringan dengan teknik tertentu, pembungkusan atau
packing jaringan dan pengiriman jaringan harus dperhatikan dengan baik agar mendapatkan
hasil yang diinginkan. Maka langkah-lankah di bawah ini dapat digunakan dalam membantu
analisis jaringan:
a. Cara pengambilan bahan
potong jaringan segar yg dicurigai uk. 3x2x0,5cm
Perlu diperhatikan : jangan ditekan, hindari kena air
b. Cara Pengawetan
Sediakan wadah dan masukkan potongan jaringan
Usahakan jaringan jangan menekuk
Tambahkan larutan Formalin 10% sampai jaringan terendam
Wadah tutup rapat.
Formalin 10% dibuat dari campuran 1 bagian commercial formalin dengan 3
bagian volume air
c. Cara Pengiriman
Masukkan wadah/stoples tadi pada kardus sedemikian rupa
Ikat dengan tali bersambung, beri label dan lengkapi surat-surat

I. PEMERIKSAAN RAMBUT

Pemeriksaan rambut baik kepala maupun kelamin, merupakan bagian tubuh manusia
yang dapat memberikan banyak informasi bagi kepentingan peradilan antara lain tentang:
a. Saat korban meninggal dunia

24
OTOPSI

2011
b. Sebab kematian
c. Jenis kejahatan
d. Identitas korban
e. Identitas pelaku
f. Benda atau senjata yang digunakan
Informasi tersebut diperoleh dengan meneliti sifat-sifat, gambaran mikroskopik serta
perubahan-perubahan yang terjadi akibat trauma atau racun tertentu.
1. Saat korban meninggal dunia
sifat-sifat rambut yang dapat dipakai untuk menentukan saat kematian korban antara
lain:
A. tingkat pertumbuhannya, yaitu sekitar 0,4 mm per hari. Pertumbuhan tersebut
akan berhenti jika orang meninggal dunia. Atas dasar sifat tersebut maka saat
kematian dapat ditentukan jika diketahui kapan korban terakhir mencukur
rambutnya. Ada beberapa pendapat yang mengatakan rambut masih dapat
tumbuh saat korban meninggal dunia, namun sebenarnya keadaan ini muncul
akibat menyusutnya kulit.
B. Lepasnya rambut akibat pembusukan jika kematian sudah berlangsung 48-72
jam maka rambut kepala akan mudah lepas.
C. perubahan warna juga dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian. Pada
penguburan yang dangkal perubahan warna akan terjadi sesudah 1-3 bulan,
sedang pada penguburan yang dalam sesudah 6-12 bulan.
2. Sebab kematian
Informasi mengenai sebab kematian dapat juga diperoleh melalui rambut,
terutama dalam paparan terhadap racun metalik. Karena racun metalik dapat di simpan
di bagian tubuh tersebut.
3. Jenis kejahatan
Mengenai jenis kejahatan yang terjadi dapat diperkirakan dengan melihat
macam rambut yang ditemukan. Adanya rambut pubes pada tubuh korban memberikan
dugaan adanya tindakan pidana perkosaan atau tindak pidana seksual lainnya. Adanya
rambut binatang pada tubuh manusia atau sebaliknya, memberikan perkiraan bestiality.
4. Identitas korban
Rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan
kimiawi sehingga dapat digunakan sebagai identifikasi bagi mayat-mayat tak dikenal
yang sudah membusuk. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal tetapi dari

24
OTOPSI

2011
rambut paling tidak dapat ditemukan umur, jenis kelamin, ras, golongan darah dan
sebaliknya.
5.Identitas pelaku
Rambut juga dapat digunakan dalam identifikasi pelaku. Sebagaimana
diketahui pada kasus pemerkosaan dan pembunuhan sering ditemukan rambut pelaku
yang tertinggal atau berhasil dijambak oleh korban.
6. Benda atau senjata yang digunakan
Kerusakan pada rambut kadang-kadang menunjukan ciri-ciri tertentu. Pukulan
dikepala dapat meninggalkan kerusakan kortikal pada rambut, sedangkan tembakan
senjata api dapat menyebabkan kebakaran pada rambut. Rambut yang tebakar tersebut
akan terlihat hitam, rapuh terpilin atau menjadi keriting dan menimbulkan bau yang
khas.
Keadaan pangkal rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk bagaimana
rambut itu lepas. Pada pangkal rambut yang lepas secara alami akan terlihat atrofi,
sedang pada rambut yang dicabut secara paksa akan mengalami robekan pada sarung
rambut dan pada bulbus terlihat tak teratur.
Ditemukannya rambut pada senjata juga dapat memberikan petunjuk tentang
adanya kaitan antara senjata itu dengan kasus pembunuhan dan ditemukannya rambut
pada kendaraan bermotor juga dapat memberi petunjuk tentang keterlibatan kendaraan
tersebut dalam peristiwa tabrakan.

Jika ditemukan rambut yang diduga ada kaitannya dengan kejahatan maka hendaknya
rambut tersebut diperiksa dengan teliti untuk mengetahui:
1. Keaslian rambut. Pemeriksaan keaslian rambut perlu dilakukan dengan mengingat
adanya berbagai serat yang bentuk dan warnanya menyerupai rambut. Rambut
yang utuh biasanya terdiri atas akar, batang dan ujung. Akar rambut terdiri atas
jaringan ikat longgar sedangkan batang rambut terdiri atas kutikula, korteks dan
medulla. Serat yang bukan berasal dari rambut tidak memiliki susunan seperti itu.
Serat sintetis misalnya, gambaran mikroskopiknya terlihat homogen.
2. Penentuan rambut manusia atau bukan. Jika hasil pemeriksaan menunjukan bahwa
serat itu rambut maka langkah selanjutnya adalah menentukan apakah rambut
tersebut berasal dari manusia atau hewan. Cirri rambut manusia yaitu halus dan
tipis, kutikula mempunyai sisik kecil dan bergerigi, medulla sempit atau kadang-
kadang tak ada, kotek tebal, indeks medulla kurang dari 0,3 dan pigmennya lebih

24
OTOPSI

2011
ke arah perifer. Sedangkan rambut binatang adalah kasar dan tebal, kutikula
memiliki sisik lebar dan polihidral, medulla lebar, kortek tipis, index medulla lebih
dari 0,5 dan pigmennya di perifer maupun sentral. Dengan tes presipitasi akan
dibedakan dengan tepat antara rambut manusia dan rambut binatang.
3. Identifikasi. Jika sudah dapat dipastikan rambut manusia maka pemeriksaan lanjut
perlu dilakukan untuk menentukan siapa pemiliknya, yang dapat diketahui antara
lain:
a. Umur dari pemilik rambut dapat ditentukan dengan memeriksa rambut tersebut.
Rambut lanugo pada bayi yang baru lahir memiliki sifat halus, tidak
berpigmen, tak bermedulla dengan pola sisik yang lebih seragam. Perlu
dikemukakan bahwa tumbuhnya rambut di berbagai bagian tubuh berbeda-beda
waktunya. Rambut pubis dan rambut ketiak misalnya tumbuh pada masa
dewasa. Pada orang tua rambut akan berubah warna menjadi putih.
b. Jenis kelamin. Melalui bebagai pemeriksaan yang teliti akan dapat ditemukan
jenis kelamin dari pemilik rambut. Rambut laki laki pada umumnya lebih kaku,
lebih kasar dan lebih gelap. Sedangkan rambut wanita halus panjang dan
meruncing ke arah ujung. Dari distribusinya juga dapat ditentukan jenis
kelaminnya. Rambut dada, rambut jenggot dan kumis merupakan rambut yang
khas pada laki-laki. Penyebaran rambut pubis antara laki-laki dan wanita
memiliki penyebaran yang berbeda. Jika sel-sel akar rambut masih ada dapat
dilakukan pemeriksaan sex-chromatin.
c. Ras. Untuk menentukan jenis rasnya dapat dilihat dari warna, panjang, bentuk
dan susunan rambut. Rambut orang eropa misalnya, berwarna pirang
kecoklatan atau kemerahan dan pendek.
d. Golongan darah. Penentuan golongan darah sekarang ini sudah dapat dilakukan
dengan memeriksa sehelai rambut dari bagian tubuh yang manapun melalui
system ABO. Ciri-ciri khusus dari rambut juga dapat membantu proses
identifikasi, terlebih jika ada rambut pembandingnya. Warna, bentuk,
minyak,cat atau struktur mikroskopik dari rambut dapat dijadikan bahan
pembanding bagi kepentingan identifikasi.

II. PEMERIKSAAN OTAK

24
OTOPSI

2011
Pada pemeriksaan jaringan otak secara mikroskopik dan makroskopik dapat ditemukan
penyebab kematian dari pasien karena mengingat otak memiliki fungsi yang vital dalam
menyokong kehidupan manusia.
Pada kasus perdarahan otak akan tampak jelas pada penyayatan otak dan pada kasus
infark akan ditemukan perubahan jaringan otak menjadi lebih gelap. Pada substansia alba dan
korteks kedua belah otak, globus palidus dapat ditemukan bintik perdarahan. Kelainan ini
tidak patognomonik untuk keracunan CO, karena setiap keadaan hipoksia otak yang cukup
lama dapat menimbulkan bintik perdarahan. Ensefalomalasia simetris dapat ditemukan pada
globus palidus juga dapat ditemukan pada kasus keracunan barbiturat akut, aterosklerotik
pembuluh darah korpus striatum dan keracunan CO.
Pada kasus keracunan CO dapat ditemukan beberapa tanda diantara lain:
- Pembuluh darah halus mengandung trombi hialin.
- Nekrosis halus dengan bagian tengah terdapat pembuluh darah yang mengandung
trombi hialin dengan perdarahan disekitarnya, yang biasanya disebut ring
hemorrhage.
- Nekrosis halus yang dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh darah yang mengandung
trombi.
- Ball Hemorrhage yang terjadi karena dinding arteriol menjadi nekrotik akibat
hipoksia dan pemecahan.
Pada keracunan akut dengan kematian yang cepat biasanya tidak ditemukan edema
otak, misalnya pada kematian cepat akibat barbiturat atau eter dan juga pada
keracunan kronik arsen atau timah hitam. Perdarahan kecil-kecil di dalam otak dapat
ditemukan pada keracunan karbon monoksida, barbiturat , nitrogen oksida, dan
logam berat seperti air raksa, arsen dan timah hitam. Ensefalomalasia sering
ditemukan pada keracunan karbon monoksida atau barbiturat dengan korban yang
sempat hidup beberapa hari.

III. PEMERIKSAAN JANTUNG

Pada pemeriksaan jantung dapat ditemukan sebab kematian akibat penyakit jantung
dan sebab-sebab lain. Pada penyakit infark miokard dapat ditemukan perubahan warna pada
otot jantung, infark yang baru terjadi biasanya tampak merah gelap sedangkan pada infark
yang sudah lama terjadi tampak berwarna kuning. Mikroskopik jaringan yang ditemukan

24
OTOPSI

2011
memperlihatkan serat otot yang nekrotik, bergelombang (wavy), eosinofiik, granulasi
sitoplasma, membrane sel mengabur, pola serat lintang menghilang, perubahan inti,
fragmentasi dan infiltrasi leukosit. Kelainan ini akan tampak pada infark yang sudah
berlangsung 8-12 jam. Serabut ini akan digantikan dengan jaringan ikat pada fase berikutnya,
jaringan parut tampak pada infark berusia 5 minggu hingga 3 bulan. Infark berulang dapat
mengakibatkan penggantian otot jantung dengan jaringan ikat sehingga dinding jantung dapat
menipis. Sedangkan ruptur jantung pada umumnya justru terjadi pada infark yang pertama kali
terjadi.
Miokarditis biasanya tidak menunjukkan gejala yang sering terjadi pada dewasa muda.
Diagnosis miokarditis pada kematian mendadak hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
histopatologik. Otot jantung harus di ambil minimal 20 potongan dari 20 lokasi yang berbeda
untuk pemeriksaan ini. Pada pemeriksaan histopatologik tampak pemeriksaan interstisial dapat
disertai atau tidak dengan edema parenkim, edema perlemakan, nekrosis, degenerasi otot
hingga miolisis. Infiltrasi leukosit berinti banyak dan tunggal, plasmosit dan histosit tampak
jelas.
Hipertoni dapat ditegakan dengan hipertrofi jantung disertai dengan tanda-tanda lain
seperti:
a. Bendungan atau tanda-tanda dekompensasi
b. Sklerosis pembuluh darah perifer serebral
c. Sklerosis arteri folikularis limpa
d. Arterosklerosis ginjal
Hipertrofi jantung sendiri belum dapat menjelaskan kematian, meskipun dikatakan
berat 500 gram adalah batas berat jantung yang dikatakan berat kritis. Hipertrofi jantung juga
tidak selalu merupakan penyakit (misalnya penyakit hipertensi menahun), tetapi dapat pula
berupa fisiologis pada beberapa atlet.
Pada kasus keracunan arsen ditemukan perdarahan subendokard pada septum.
Histopatologi jantung menunjukan infiltrasi sel-sel radang bulat pada miokard. Sedangkan
pada organ lain parenkimnya dapat mengalami degenerasi, pembengkakan,dan kekeruhan.
Pada kasus keracunan kronik yang meninggal jantung dapat jantung dapat menunjukan
fibrosis intestisial, hipertrofi otot jantung, sel-sel radang pada beberapa tempat tertentu,
gambaran serat lintang otot jantung menghilang, hialinisasi, edema dan vakuolisasi serabut
otot jantung. Schnesider melaporkan miopati alkoholik akut dengan miohemiglobinuria akut
tubular nekrosis ginjal dan miokardium.
Pemeriksaan darah jantung juga dapat dilakukan pada orang yang mati tenggelam.
Pemeriksaan berat jenis dan kadar elektrolit pada darah yang berasal dari bilik jantung kiri dan

24
OTOPSI

2011
biik jantung kanan. Bila tenggelam di air tawar, berat jenis dan kadar elektrolit dalam darah
jantung kiri lebih rendah dari jantung kanan. Sedangkan pada tenggelam di air asin terjadi
sebaliknya.

IV. PEMERIKSAAN PARU-PARU

Paru merupakan salah satu organ penting dalam menunjang kehidupan, dan ada
beberapa pemeriksaan khusus forensik baik mikroskopis maupun makroskopis untuk menilai
penyebab kematian. Pada kasus bayi yang mati harus dapat dibedakan kematian setelah lahir
atau kematian di dalam kandungan. Pada bayi yang mati di dalam kandungan biasanya
ditemukan dada belum mengembang, iga masih datar diafragma setinggi iga ke 3-4, sering
sukar dinilai bila mayat sulit membusuk.
Pemeriksaan makroskopik paru ditemukan pada 75% kasus paru telah mengisi rongga
dada pada bayi yang lahir mati maupun lahir hidup, tampak paru –paru berwarna ungu kelabu
merata seperti hati, tidak teraba delik udara dan pleura yang longgar (slack pleura). Berat paru
kira-kira 1/70 berat badan.
Uji apung paru ini dilakukan dengan teknik tanpa sentuh agar menghindari
pembentukan artefak pada sediaan histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan melalui rahang bawah dan ujung lidah dijepit dengan pinset atau klem,
kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak palatum mole, disayat sepanjang
perbatasannya sehingga tampak palatum mole. Dengan scalpel tajam palatum mole disayat
sepanjang perbatasannya dengan palatum durum, faring, laring, esofagus bersamaan dengan
trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersamaan dengan trakea diikat di bawah
kartilago krikoidea dengan menggunakan benang. Pengikatan ini bertujuan agar supaya
seluruh benda dalam paru baik cairan maupun benda padat tidak keluar saat paru diangkat.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forcep, pinset bedah dan
scalpel, tidak boleh dipegang. Kemudian esophagus diikat diatas diafragma dan dipotong
diatas ikatan. Pengikatan ini dilakukan agar supaya udara tidak masuk ke dalam lambung dan
uji apung lambung dan usus (uji beslau) tidak memberikan hasil yang meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukan kedalam
air di lihat mengapung atau tenggelam. Kemudian kedua paru dimasukan ke dalam air apakah
masih tenggelam atau tidak. Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukan ke dalam air, dan
dilihat mengapung atau tenggelam. Setiap 5 potong kecil dari bagian perifer tiap lobus
dimasukan ke dalam air, dan diperhatikan mengapung atau tenggelam.

24
OTOPSI

2011
Hingga tahap ini paru masih dapat mengapung karena kemungkinan adanya gas
pembusukan . Bila potongan kecil mengapung, letakan diantara kedua karton kemudian
ditekan (dengan arah tegak lurus, jangan bergeser) untuk mengeluarkan jaringan pembusukan
yang ada di jaringan interstisial paru lalu dimasukan kembali ke dalam air dan diamati apakah
masih mengapung atau tenggelam. Jika masih terapung berarti paru memiliki udara residu
yang tidak akan keluar. Kadang ditemukan pada penekanan jaringan alveoli paru yang telah
membusuk cukup lama, dapat pecah juga dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil
uji apung paru negatif.
Hasil uji apung paru negatif pada kasus kematian bayi belum berarti pasti lahir mati
karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup tetapi kemudian berhenti bernafas
meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji
negatif ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk menentukan bayi lahir
mati atau lahir hidup. Hasil uji apung paru positif berarti pasti lahir hidup.
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya,
sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan. Biasanya paru dengan pemeriksaan mikroskopik
lahir mati akan memberikan hasil uji apung paru negatif (tenggelam).

Mikroskopik paru-paru
Setelah paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan larutan
formalin 10% sesudah 12 jam, dibuat irisan-irisan melintang untuk memungkinkan cairan
fiksasi meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat
sediaan histopatologik. Biasanya digunakan pewarnaan HE dan bila paru telah membusuk
digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernafas, tetapi
merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk
paru bayi belum lahir adalah adanya tonjolan(projection), yang berbentuk seperti bantal
(cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak
seperti gada (club-like). Pada permukaan ujung bebas tonjolan tampak kapiler yang berisi
banyak darah. Pada paru bayi yang belum bernafas yang sudah membusuk, dengan pewarnaan
Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli
berkelok seperti rambut yang keriting, sedangkan pada tonjolan berjalan di bawah kapiler
sejajar dengan permukaan tonjolan dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Serabut elastin dinding alveoli belum terwarnai dengan jelas, masih merupakan
fragmen-fragmen yang tersusun dan belum membentuk suatu lapisan yang mengelilingi

24
OTOPSI

2011
seluruh alveoli. Serabut tersebut tegang, tidak bergelombang dan tidak terdapat di daerah basis
tonjolan.
Pada bayi yang baru mati juga kadang ditemukan inhalasi cairan amnion yang luas
karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekan tali pusat atau solusio plasenta sehingga
terjadi pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat
deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti pignotik berbentuk
huruf S bila dilihat dari atas samping akan terlihat seperti bawang (onion bulb). Juga tampak
sedikit sel-sel amnion yang bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak
eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas. Mekonium yang berbentuk bulat berwarna hijau
sampai hijau tua mungkin terihat dalam bronkoli dan alveoli. Kadang-kadang ditemukan
deskuamasi sel-sel epitel saluran pernafasan yang merupakan tanda dari maserasi dini atau
fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding alveoli.

Pemeriksaan Diatom
Beberapa topik dalam patologi forensik telah menimbulkan banyak pendapat seperti
penggunaan diatom pada diagnosa dari mati tenggelam. Revenstorf pada 1904 pertama kali
mencoba menggunakan diatom sebagai tes untuk mati tenggelam, meski ia menetapkan bahwa
Hoffmann pada 1896 telah menemukan diatom yang pertama kali dalam cairan paru-paru.
Pemeriksaan yang baik sekali dari perdebatan tentang diatom telah diumumkan oleh Peabody
pada 1980.
Alasan dasar kapan orang terbenam dalam air yang berisi diatom (mikroskopik: alga
dengan eksoskeleton silikaseus), banyak diatom yang akan menembus dinding alveolar dan
dibawa ke organ sasaran yang jauh seperti otak, ginjal, hati dan sumsum tulang. Setelah
autopsi, contoh dari organ-organ ini dapat dicerna dengan asam kuat untuk melarutkan
jaringan lunak, sehingga meninggalkan kerangka diatom tahanan tinggi untuk dikenali di
bawah mikroskop. Bila tidak, maka darah dapat dipakai untuk melihat organisme.
Ketika tubuh yang mati disimpan dalam air atau ketika mati dalam air tidak mengarah
pada mati tenggelam, kemudian meski diatom mungkin mencapai paru-paru dengan tampisan
pasif, tidak adanya denyut jantung mencegah sirkulasi diatom ke organ-organ yang jauh.
Keuntungan terbesar dari tes diatom, akan menunjukkan diagnosa mati tenggelam
positif, dapat dibuat sama seringnya diperoleh pada tubuh yang membusuk, dimana tidak ada
harapan dari pengenalan anatomis dari mati tenggelam mungkin. Sebagai tambahan, bukti dari
tempat mati tenggelam mungkin didapatkan dari tipe ekologi dari diatom, khususnya dalam
hubungan dengan air asin atau air tawar.

24
OTOPSI

2011
Perhatian yang sangat teliti harus digunakan pada autopsi untuk memperoleh sample
jaringan yang cocok, dimana tidak dikontaminasi oleh permukaan tubuh atau alat-alat,
sebelum pencernaan dimulai.
Diatom termasuk kelas tumbuh-tumbuhan (Diatomaceae) dan terdiri dari 1 boks atau
‘frustule’ disusun oleh 2 katup yang dapat bersama-sama menyertakan isi sitoplasmik. Mereka
mempunyai simetri radial (diatom ‘centric’) atau diperpanjang (diatom ‘pennate’). Bentuk
katup-katup terlalu kompleks dan secara ekstrim tahan terhadap kerusakan/kebusukan, fosil
diatom dari zaman Jurasik menjadi berlimpah-limpah. Dasar samudera mempunyai daerah 11
juta mil2 dari tebal lumpur diatomaceous dan dasar terangkat dari tanah mungkin beratus-ratus
tebal kaki, dimana jumlah yang sangat banyak dari kontaminan potensial tersedia.
Terdapat sedikitnya 10.000 spesies dan identifikasi dari berbagai tipe merupakan
bahan untuk ahli botani atau ahli biologi yang berpengalaman, tetapi klasifikasi secara umum
berikut ini berguna yaitu diatoma ‘oligohalophilic’ hidup pada air tawar dengan salinitas
kurang dari 0,05% dan diatoma ‘mesohalophilic’ dan ‘polyhalophilic’ hidup pada air payau
dan air laut dengan salinitas lebih tinggi dari 0,05%.
Pembahasan dari titik tes diatoma terhadap masalah tertentu:
1. Diatoma ada dimana-mana, terdapat di tanah, persediaan air dan di udara.
Biasanya bekas mineral seperti Kieselguhr, sebagian besar fosil diatoma.
Substansi dibuat seperti papan kapur dan amplas , seperti pasta gigi berisi bahan
diatomaceous mentah. Namun, bagaimanapun pada pemeriksaan penyaring
(filter) sistem pendingin udara dari RS Guy di London, tidak ditemukan diatom
yang diambil dari atmosfer kota.
2. Meski masuk ke dalam tubuh harus dipikirkan sebagian diatom yang melewati
paru-paru, terlihat tidak ada alasan mengapa mereka tidak dapat menembus
lapisan intestinal (usus) dan tambahan jalan masuk ke aliran darah dan beberapa
jaringan tubuh.
3. Makanan tertentu, khususnya kerang-kerangan, terdiri dari sejumlah diatom yang
sangat banyak, yang mungkin masuk ke sirkulasi dan mencapai jaringan.
Penelitian yang dilakukan oleh Foged yaitu penelitian yang terperinci ke dalam tubuh
yang mati tenggelam dan tidak tenggelam di Denmark, dan disimpulkan bahwa tes diatom
sungguh sudah tidak berlaku. Saat ini tes diatom sebaiknya digunakan hanya sebagai
pertolongan bantuan indikatif dan bukan sebagai bukti yang sah dari mati tenggelam.
Pekerja Jepang menggunakan metode lain untuk mencerna jaringan otopsi untuk
melihat diatom karena tubuh ditunjukkan bahwa pencernaan asam kuat hasilnya berkurang

24
OTOPSI

2011
dengan nyata sekali. Metode baru diperkenalkan untuk diatom seperti pencernaan enzimatik
dan deterjen, memberikan mikroskopik organisme tubuh lunak untuk diperoleh dan meminta
untuk spesifisitas yang lebih baik untuk mati tenggelam telah dibuat (Matsumoto dan Fukui,
Funiyama dkk.). Pekerja cina dituntut bahwa deteksi spektrofluorofotometrik dalam paru dari
klorofil berasal dari plankton adalah diagnostik, tapi tidak jelas bagaimana dapat dibedakan
dari plankton yang secara pasif masuk ke paru setelah mati.
Namun di Indonesia pemeriksaan diatom masih merupakan pemeriksaan yang sering
dilakukan dan dijadikan pegangan. Alga (gang-gang) bersel satu dengan dinding terdiri dari
silikat (SiO2) yang tahan panas dan asam kuat. Diatom ini dapat dijumpai di air tawar, air laut,
air sungai air sumur, dan udara. Bila seseorang mati tenggelam maka diatom bersamaan
dengan air akan masuk kedalam saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Jika terjadi
destruksi kapiler maka diatom akan masuk kedalam seluruh jaringan.
Pemeriksaan diatom pada paru dilakukan hanya pada saat mayat masih segar namun
jika sudah terjadi pembusukan maka pemeriksaan diatom menggunakan jaringan ginjal, otot
skelet atau sum-sum tulang. Pemeriksaan diatom pada limpa dan hati kurang bermakna sebab
dapat berasal dari penyerapan abnormal dari saluran cerna terhadap air minum atau makanan.
Pemeriksaan destruksi (digesti asam) pada paru. Ambil jaringan paru sebanyak 100
gram, masukan kedalam labu dan tambahkan asam sulfat pekat sampai jaringan paru
terendam, diamkan kurang lebih setengah hari agar hancur. Kemudian dipanaskan dalam
lemari asam sambil diteteskan asam nitrat pekat sampai terbentuk cairan yang jernih,
dinginkan caira di sentrifuge.
Sedimen yang terjadi ditambah dengan akuades, dicentrifuge kembali dan akhirnya
dilihat dengan mikroskop. Pemeriksaan diatom positif pada jaringan paru bila ditemukan
diatom yang cukup banyak, 4-5/ LPB atau 10-20 per satuan sediaan, atau pada sumsum tulang
cukup ditemukan satu.
Pemeriksaan getah paru. Permukaan paru disiram dengan air bersih, iris bagian perifer,
ambil sedikit cairan perasan dari jaringan perifer paru, taruh pada gelas objek, tutup dengan
kaca penutup dan lihat dengan mikroskop. Selain diatom dapat pula terlihat ganggang atau
tumbuhan jenis lainnya.

V. PEMERIKSAAN SALURAN CERNA

Pemeriksaan saluran cerna merupakan hal yang sangat penting dalam bidang
toksikologi forensik karena sering racun disalurkan melalui paparan intra oral. Pada

24
OTOPSI

2011
pemeriksaan lambung dan usus dua belas jari dipisahkan dari alat-alat lainnya dan diletakkan
dalam wadah yang bersih. Lambung dibuka sepanjang kurvatura mayor dan diperhatikan
apakah mengeluarkan bau yang tidak biasa. Perhatikan isi lambung, warnanya dan terdiri atas
bahan apa saja. Bila tampak tablet atau kapsul dipisahkan dengan sendok untuk mencegah
disintegrasi tablet atau kapsul. Pada keracunan timah isi lambung berwarna putih karena
tebentuk PbCl2, pada penelanan 5-10 tablet ferro sulfat sekaligus akan berwarna kebiru-
biruan. Pada penelanan asam nitrat berwarna kuning karena reaksi xanthoprotetik. Volume dan
isi lambung diukur dan dimasukan kedalam botol bersih. Selaput lendir lambung diperhatikan
warnanya apakah terdapat hiperemi dan nekrosis. Kemudian sampel jaringan lambung
dipotong dan dimasukan kedalam botol yang sama dengan isis lambung. Bila dicurigai korban
menelan fosfor maka isi lambung harus dibuka di dalamm kamar nitrogen untuk mencegah
terjadinya oksidasi fosfor. Bila bahan-bahan perlu dikirim ke kota lain maka lambung dan usus
dua belas jari tidak perlu di buka.
Secara rutin pemeriksaan saluran cerna sebaiknya dikirim seluruhnya dengan ujung-
ujung yang terikat, pemeriksaan isi usus diperlukan pada kematian yang terjadi beberapa jam
setelah korban menelan zat beracun dan diketahui beberapa lama waktu tersebut. Pada saat
pengeluaran isi usus salah satu ikatan dibuka dan usus diurut kemudian isi usus ditampung
kedalam gelas dan dilakukan analisis toksikologi.
Pemeriksaan tes apung saluran cerna juga dapat dilakukan pada bayi yang meninggal
untuk menilai sudah berapa lama bayi tersebut hidup atau mati. Saluran cerna dikeluarkan
dengan pengikatan pada bagian atas lambung tepat diatas diafragma dan ikatan ganda di
bawah lambung untuk memisahkan usus halus dengan lambung dan ikatan ganda pada daerah
ileosekal untuk memisahkan usus besar dan usus halus. Kemudian ikatan pada daerah rektum
untuk memfiksasi isi dari usus besar agar tidak keluar. Setelah itu seluruh organ pencernaan
tersebut dicelupkan ke dalam air untuk menilai uji apung. Hasil positif didapat bila ada organ
yang mangambang di permukaan air.

VI. PEMERIKSAAN HATI

Pada pemeriksaan hati dinilai degenerasi lemak atau nekrosis. Degenerasi lemak biasa
sering ditemukan pada peminum alkohol. Nekrosis dapat ditemukan pada keracunan fosfor,
karbon tertraklorida, kloroform dan trinitro toluene. Setelah diambil potongan untuk
pemeriksaan histologik, seluruh hati atau paling sedikit 500 gram berikut kandung empedu
diambil. Hati diambil cukup banyak karena takaran toksik kebanyakan racun sering kurang

24
OTOPSI

2011
dari beberapa miligram per kilogram berat badan, lagi pula pada mayat konsentrasi yang
tertinggal di dalam tubuh mungkin jauh dibawah itu.
Hati merupakan alat detoksifikasi utama dan memiliki kemampuan untuk
mengkonsentrasikan zat-zat beracun. Jadi kadar racun dalam hati dapat 100 kali lebih tinggi
daripada dalam darah. Dengan demikian hati merupakan bahan yang penting untuk analisis
toksikologi, misalnya arsen, barbiturate, dan imipramine.

VII. PEMERIKSAAN GINJAL

Perubahan degeneratif pada korteks ginjal dapat disebabkan oleh racun. Ginjal agak
membesar, korteks membengkak, gambaran tidak jelas dan berwarna suram kelabu kuning.
Perubahan ini dapat dijumpai pada keracunan dengan persenyawaan, air raksa, sulfonamid,
fenil, lisol, karbon tetraklorida. Setelah diambil potongan untuk pemeriksaan histologik, kedua
ginjal diambil kemudian disimpan masing-masing dalam botol tersendri. Umumnya analisis
toksikologi ginjal terbatas pada kasus-kasus keracunan logam berat atau pada pencarian racun
secara umum atau bila pemeriksaan histologik ditemukan Kristal-kristal Ca oksalat atau
sulfonamid.

2.2 Pemeriksaan Cairan-cairan tubuh

a. Perubahan Pada Cairan Mata


Perubahan pada mata setelah kematian dapat dipakai sebagai penentuan saat mati.
Perubahan ini meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya yang menyebabkan kornea
menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif.
Setelah kematian terjadi penurunan tekanan intra okuler, tekanan intra okuler yang turun
ini mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil kehilangan bentuk sirkuler
setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak sama ,pupil dapat berkontraksi dengan diameter
2 mm atau berdilatasi sampai 9 mm dengan rata-rata 4-5 mm oleh karena pupil mempunyai
sifat tidak tergantung dengan pupil lainnya maka sering terdapat perbedaan sampai 3 mm.
Nicati (1894) telah melakukan pengukuran terhadap tekanan bola mata posmortem dimana
tekanan normal pada bola mata pada waktu hidup adalah 14 j - 25 j akan tetapi begitu sirkulasi
terhenti maka penurunan tekanan bola mata menjadi sangat rendah (tidak sampai mencapai
12 j) dan dalam waktu 30 menit akan berkurang menjadi 3j yang kemudian menjadi nol

24
OTOPSI

2011
setelah 2 jam kematian. Penurunan tekanan bola mata ini pernah dicoba untuk menentukan
perkiraan saat kematian.
Memperkirakan saat mati secara kimia dalam vitreus humor sudah pernah dicoba selama
30 tahun belakangan ini, walaupun tidak pernah diterima sebagai pemeriksaan rutin. Dasar
pemikiran dari digunakannya humor vitreus dalam penentuan saat mati ialah karena cairan ini
bebas terkontaminasi dari darah, bakteri dan produk-produk autolisa postmortem bila
dibandingkan dengan LCS. Sebenarnya banyak yang dapat dinilai untuk penentuan saat mati
melalui humor vitreus, seperti mengukur kadar asam askorbat, konsentrasi asam piruvat,
hypoxanthine, glukosa dan potassium, tetapi yang paling banyak dipakai sebagai penentuan
saat mati adalah kadar potassiun dalam humor vitreus.
Penelitian yang dilakukan oleh Jaffe adalah yang pertama kali memperkenalkan
peningkatan kadar potassium dan menghubungkannya dengan saat kematian dan John Coe
adalah forensik patologi yang berpengalaman dalam hal ini. Sesudah kematian, potassium
interseluler menembus masuk ke dalam retina melalui membran sel yang setelah kematian
menjadi membran yang permeable, dan kemudian masuk kedalam corpus vitreus. Disini
terdapat peningkatan yang nyata dan progressif dari konsentrasi potassium sesudah mati,
tetapi masih menjadi perdebatan apakah peningkatan ini secara linear atau bifasik
Cara pengambilan humor vitreus ini tidaklah sulit, hanya dibutuhkan 2 ml dari tiap mata
dengan jarum no 20. Sering didapati perbedaan kadar potassium mata kiri dan mata kanan
dalam satu individu. Selain itu bila aspirasinya dilakukan secara paksa atau terlalu dekat
dengan retina dapat mengubah nilai dari hasil pemeriksaan oleh karena potassium mencapai
vitreus dengan jalan menembus retina. Pengaruh suhu juga masih menjadi perdebatan yang
penting.
Elektrolit lain yang dapat diperiksa dari humor vitreus adalah konsentrasi sodium dan
klorida, dimana konsentrasi elektolit - elektrolit ini mengalami penurunan sesudah kematian,
dan ini dapat digunakan untuk memeriksa reabilitasnya satu sama lain, misalnya kadar
potassium adalah < 15 mmol/l maka kadar sodium dan chlorida dapat diperkirakan, dimana
penurunan klorida kurang dari 1 mmol/l/jam dan sodium adalah 0.9 mmol/l/jam, sehingga
penurunan sodium disini tidak signifikan pada beberapa jam pertama, berbeda dengan
potassium yang peningkatannya terjadi secara bermakna.
Sturner menemukan cara pengukuran yang paling popular dalam penentuan
potassium vitreus untuk penentuan saat mati dengan menggunakan rumus :

7,14 x Konsentrasi Potasium mEq /L-3,91

24
OTOPSI

2011
c. Perubahan LCS

Dasar pemikiran dari digunakannya LCS sebagai salah satu metode dalam penentuan
saat mati adalah bahwa komposisi LCS menyerupai komposisi ultra filtrat dari plasma darah
dengan konsentrasi yang tinggi dari beberapa unsur pokok seperti klorida, magnesium dan
inositol, dengan anggapan bahwa substansi - substansi ini aktif disekresi oleh pleksus
khoroideus atau dibentuk oleh jaringan saraf. Segera setelah mati volume dari cairan LCS
hanya tinggal kurang lebih 150 ml, yang dalam 24 – 48 jam setelah kematian secara bertahap
akan menghilang.
Komposisi dalam LCS ini bila dibandingkan dengan darah ternyata kurang dipengaruhi
oleh perubahan-perubahan kimia dalam tubuh, penentuan saat mati disini akan diperoleh dari
perubahan-perubahan reaksi difusi yang kurang sensitif terhadap temperatur.
Manson dkk, Nauman, Fraschini dkk, kemudian Murray dan Hordynsky telah
melaporkan adanya kenaikan kadar potassium dalam LCS setelah kematian. Kemungkinan
untuk digunakan dalam penentuan saat mati sudah dicoba tetapi hasil yang diperoleh terlalu
tidak menentu dalam memberi perkiraan saat mati yang akurat walaupun pada awal periode
post mortem . Schleyer mendapatkan hasil yang tidak dapat dipercaya sepenuhnya setelah 20
jam post mortem
Schleyer dalam artikelnya yang mengagumkan, mendiskusikan secara detail tentang
penentuan saat mati dengan mengukur perubahan – perubahan kimia yang terjadi dalam serum
maupun dalam LCS. Dia juga memperlihatkan kadar aminonitrogen, nonprotein nitrogen,
kreatinin, amonia, dan phosphat anorganik yang semuanya mempunyai nilai prognostik yang
berharga, akan tetapi range kesalahan tiap individu yang diperiksa ternyata juga besar. Ini
dapat disingkirkan dengan menggunakan kombinasi diantaranya, seperti yang diperlihatkan
dalam tabel di bawah ini.

d. Pengosongan isi lambung

Banyak Ahli patologi memperdebatkan penggunaan isi lambung sebagai pengukuran


saat mati dan menghubungkannya dengan saat makan terakhir sebelum terjadi kematian.
Dasar dari metode pengosongan lambung sebagai penentuan saat mati adalah bahwa
makanan hampir mempunyai waktu yang sama di lambung sebelum dilepaskan dan masuk ke
dalam duodenum yang secara fisik sudah diubah oleh asam lambung, yang diukur pada saat

24
OTOPSI

2011
makanan itu ditelan. Adelson mengatakan secara fisiologis biasanya makanan ringan
meninggalkan lambung dalam 1,5 jam sampai 2 jam sesudah makan, makanan yang
jumlahnya sedang membutuhkan waktu 3 sampai 4 jam untuk meninggalkan lambung, dan
untuk makanan berat memerlukan waktu 4 sampai 6 jam sebelum seluruhnya dikeluarkan ke
dalam usus dua belas jari. Makanan biasanya mencapai bagian bawah usus halus antara 6
sampai 8 jam sesudah makan. Modi memberi batasan 4 sampai 6 jam untuk makan daging dan
sayuran dan 6 sampai 7 jam untuk makanan biji-bijian dan kacang-kacangan. Akan tetapi
semua nilai-nilai ini adalah sangat bervariasi dari tiap individu. Metode terbaru dengan
menggunakan teknik radioisotop dalam penelitian mengenai pengosongan lambung
memperlihatkan hal-hal yang menarik. Bila makanan padat dimakan bersama dengan air maka
air akan meninggalkan lambung lebih cepat terlepas dari sifat atau kandungan kalori dari
bagian yang padat. Akan tetapi cairan yang mengandung kalori ternyata tinggal lebih lama
dalam lambung.
Pengalaman menunjukan bahwa waktu pengosongan lambung ini tidaklah konstan,
waktu pengosongan lambung yang lama tidak hanya disebabkan oleh penyakit dalam saluran
cerna saja tetapi juga oleh faktor-faktor psikologis atau trauma fisik terutama yang mengenai
kepala, seperti yang terjadi pada korban kecelakaan lalu lintas yang mengalami koma selama 1
minggu sebelum meninggal karena trauma kepala yang mematikan, pada penemuan otopsi
terdapat sejumlah besar dari isi lambung yang masih terlihat segar seperti baru saja ditelan.
De Saram pernah mempelajari isi lambung dan isi usus dari 41 orang - orang yang
menjalani hukum gantung, dan mencatat bahwa kecepatan perjalanan makanan dalam jumlah
banyak dan padat mempunyai rata-rata perjalanan 6 – 7 kaki/ jam dalam usus halus dan
mencapai katup antara usus halus dan sekum dalam 3 – 3,5 jam, ini membuktikan bahwa
emosi yang abnormal dapat meningkatkan motilitas saluran cerna.
Terdapat beberapa faktor yang membingungkan dalam penggunaan pengosongan
lambung sebagai penentuan saat mati adalah :
1. Proses pencernaan mungkin masih berlangsung selama beberapa saat setelah
kematian.
2. Sifat-sifat fisika dari makanan, dimana lebih cair konsistensi makanan maka lebih
cepat pengosongannya. Cairan yang masuk kedalam lambung akan langsung menuju
duodenum tanpa istirahat yang berarti.
3. Sifat-sifat dari makanan dapat mengubah atau memodifikasi waktu pengosongan
lambung, khususnya yang mengandung lemak, yang dapat menyebabkan lambatnya
pembukaan pilorus secara nyata, kadar alkohol yang tinggi dan kopi yang dapat

24
OTOPSI

2011
mengiritasi mukosa lambung juga cenderung menyebabkan penngosongan lambung
menjadi lambat.
4. Yang tidak kalah pentingnya adalah syok sistemik atau syok neurogenik melalui sistem
saraf parasimpatis seperti N.X dapat memperlambat atau menghentikan pergerakan
lambung atau mungkin meningkatkan motilitasnya.
Sehingga bila hendak mengambil kebijaksanaan atau keputusan dengan menggunakan
isi lambung sebagai pernyataan saat mati yang dihubungkan dengan makan terakhir sebelum
mati maka diperlukan suatu ketelitian yang tinggi, oleh karena tingkat dan cepatnya
pengosongan lambung dapat digunakan untuk penentuan saat mati bila ada salah satu orang
yang tahu betul kebiasaan makan, waktu makan, dan jumlah yang biasa dimakan oleh orang
yang meninggal tersebut sebelum dia mati.

e. Pemeriksaan Cairan Mani (SEMEN)

Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan
berbau khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental, kemudian akibat enzim proteolitik
menjadi cair dalam waktu yang singkat (10-12 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan
mani 3-5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7,2 – 7,6. Cairan mani mengandung
spermatozoa, sel-sel epitel dan sel- sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma
seminal yang mengandung spermin dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Spermatozoa
mempunyai bentuk kahs untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara
60 sampai 120 juta per ml.
Untuk menentukan adanya cairan air mani dalam vagina guna membuktikan adanya
suatu persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :

Penentuan Spermatozoa (mikroskopis)


 Tanpa Pewarnaan
o Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang
bergerak. Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini paling bermakna untuk
memperkirakan saat terjadinya persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa 2-3
jam setelah persetubuhan masih dapat ditentukan spermatozoa yabg bergerak
dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini menjadi 3-4 jam. Setelah

24
OTOPSI

2011
itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya ekornya akan menghilang
(lisis), sehingga harus dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan.
o Cara pemeriksaan :satu tetes lendir vagina diletakkan pada kaca objek,
dilihat dengan pembesaran 500x serta kondensor diturunkan. Perhatikan
pergerakan sperma.
Menurut Voigh, sperma masih bergerak kira-kira 4 jam pasca persetubuhan. Menurut
Gonzales, sperma masih bergerak 30-60 menit pasca persetubuhan. Menurut Ponzold kurang
dari 5 jam pasca persetubuhan, tetapi kadang-kadang bila ovulasi atau terdapat secret serviks,
dapat bertahan sampai 20 jam.
Menurut Nickols, sperma masih dapat ditemukan 5 – 6 hari pasca persetubuhan
walaupun setelah 3 hari hanya tinggal beberapa saja. Menurut Voigh, 66 jam pasca
persetubuhan sedangkan menurut Davies & Wilson adalah 30 jam. Pada orang yang mati
setelah persetubuhan, sperma masih dapat ditemukan sampai 2 minggu pasca persetubuhan,
bahkan mungkin lebih lama lagi.
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat
ditemukan sampai 3 hari pasca persetubuhan, kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan.Bila
sperma tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat mengingat kemungkinan
azoospermia atau pasca vasektomi sehingga perlu dilakukan penentuan cairan mani dalam
cairan vagina.

 Dengan Pewarnaan
Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut
pada nyala api, pulas dengan HE, Metilen blue atau malachite green.
Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah dengan
pulasan malachite green dengan prosedur sebagai berikut :
Warna dengan larutan malachite green 1 % selama 10 – 15 menit, lalu dicuci
dengan air mengalir dan setelah itu dilakukan counter stain dengan laruran Eosin
Yellowish 1 % selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air.
Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak
terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak
terwarnai. Kepala sperma tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya
berwarna hijau.

24
OTOPSI

2011
Penentuan cairan mani (kimiawi)
Untuk membuktikan adanya cairan mani dalam secret vagina, perlu dideteksi adanya
zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium berikut :
1. Reaksi fosfatase asam
 Dasar reaksi : adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang
dihasilkan oleh kelenjar prostat. Aktivitas enzim fosfatase asam rata-
rata adalah sebesar 2500 U.K.A (Kaye). Dalam sekret vagina setelah 3
hari abstinensi seksualis ditemukan aktifitas 0- 6 Unit (Resfeld).
 Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm
bercak, dapat ditentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mania
tau bukan. Aktifitas 25 U.K.A. per 1 cc ekstrak yang diperoleh dari 1
cm bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani.

Reagens untuk pemeriksaan ini adalah :


Larutan A : Brentamin Fast Blue B 1 g (1)
Natrium acetat trihyrate 20 g (2)
Glacial acetate acid 10 ml (3)
Aquadest 100 ml (4)
(2) adan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan pH 5,
kemudian (1) dilarutkan dalam larutan penyangga tersebut.

Larutan B : Natrium-alfa-naphytyl phosphate 800 mg


Aquadest 10 ml
Larutan A yang mengandung 89 ml ditambahkan 1 ml larutan B, lalu disaring cepat ke dalam
botol yang berwarna gelap. Jika disimpan di lemari es reagen ini dapat bertahan berminggu-
minggu dan adanya tidak akan mengganggu reaksi.
 Prinsip : enzim fosfatase asam menghidrolisis Na-alfa naftil fosfat, alfa-naftol yang
telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warna azo yang
berwarna biru ungu.
 Cara pemeriksaan : bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang telah
terlebih dahulu dibasahi dengan aquadest selama beberapa menit. Kemudian kertas
saring diangkat dan disemprotkan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi dari saat
penyemprotan sampai timbul warna ungu.

24
OTOPSI

2011
 Perlu diperhatikan bahwa intensitas warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur
dan tes ini tidak spesifik. Hasil positif semu dapat terjadi dengan feces, air, the,
kontraseptik, sari buah dan tumbuh-tumbuhan.
 Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase member warna dengan serentak
dengan intensitasnya tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim fosfatase,
memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur.

Menurut Davies & Wilson, bila waktu reaksi 30 detik, merupakan indikasi yang baik
untuk adanya cairan mani. Bila 30 – 65 detik, indikasi sedang, dan masih perlu dikuatkan
dengan pemeriksaan elektroforesis.
 Bila >65 detik, belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani,
karena pernah ditemukan waktu reaksi >65 detik tetapi spermatozoa positif.

Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi rata-rata
90-100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan fungsi dapat mempercepat waktu reaksi.
Untuk membedakan fosfatase asam lain dapat dilakukan pemeriksaan berikut : Inhibisi dengan
I (-)tartrat(Sivaram)
Untuk membedakan bercak mani dari bercak lain dapat digunakan I (-) tartrat yang
menghambat aktifitas enzim fosfatase asam dalam semen
Dipergunakan 2 macam reagens yang mengandung Na-alfa naftil fosfat dan breatamine Fas
Blue Salt.
 Reagens I : merupakan larutan kedua zat diatas dalam larutamn penyangga sitrat
dengan pH 4,9.
 Reagens II : terdiri dari 9 bagian larutan sitrat (pH 4,9) dan 1 bagian larutan 0,4 M I
(+) asam tatrat dengan pH 4,9

 Cara pemeriksaan : lakukan ekstraksi sepotong bercak dengan beberapa tetes


aquades. Ekstrak diteteskan pada dua helai kertas saring Whatman no 1, masing-
masing 1 tetes dan ditandai dengan pensil, biarkan mongering. Kertas saring pertama
disemprotkan dengan reagens I dan yang lain dengan reagens II
 Interprestasi : apabila bercak ekstrak yang disemprotkan dengan reagens I berwarna
ungu, sedangkan dengan reagens II tidak timbul warna, maka dapat dipastikan bahwa
dalam ekstrak terdapat mani.

24
OTOPSI

2011
Bila warna ungu dengan intensitas yang sama timbul pada kedua kertas tadi, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat aktivitas fosfatase asama yang bukan berasal dari mani.
 Cara elektro-iminodifusi (Baxter)
Serum anti mani manusia (anti human semen serum), selain spesifik untuk antigen
manusia, juga mengandung zat anti terhadap fosfatase asam.Medium yang digunakan adalah
lempeng agar yang mengandung serum anti mani manusia dalam konsentrasi kecil
(1%).Setelah dilakukan elektroforesis,lempeng agar dikembangkan dalam reagens fosfatase
asam.Pada fosfatase seminal tampak puncak presipitin ke arah anoda, sedangkan pada
fosfatase vaginal, puncak presipitin ke arah katoda.
 Cara ini adalah satu-satunya cara untuk menentukan dengan pasti adanya mani
manusia pada keadaan azoospermia. Dengan cara ini,Baxter dapat menentukan
adanya semen didalam vagina sampai 4 hari pasca persetubuhan
 Elektroforitik (Adam & Wraxall)
Cara ini menggunakan lempeng akrilamid dan dikembangkan dengan buffer (pH 3),
dilihat dibawah sinar ultra violet.
 Hasil : fosfatase asam seminal bergerak sejauh 4 cm, sedangkan fosfatase asam
vaginal bergerak sejauh 3 cm
 Reaksi Florence
o Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya kholin
o Reagens : larutan lugol yang dapat dibuat dari :Kalium yodida 1,5 g, Yodium
2,5 g, Aquades 30 ml
o Cara memeriksa : bercak diesktraksi dengan sedikit aquades, esktrak diletakkan
pada kaca objek, biarka mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagens
dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup.
o Bila terdapat mani, tampak kristal khlin-peryodida berwarna coklat,berbentuk
jarum dengan ujung sering terbelah . Tes ini tidak khas untuk cairan mani
karena ekstrak jaringan berbagai organ, putih telur, dan ekstrak serangga akan
memberikan Kristal serupa. Sekret vagina kadang-kadang member hasil positif.
Sebaiknya bila cairan mani belum cukup berdegradasi,maka hasilnya mungkin
negatif
o Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermi dan cara lain untuk menentukan
semen tidak dapat dilakukan

24
OTOPSI

2011
 Reaksi berberio
o Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya spermin dalam semen .
o Reagens : larutan asam pikrat jenuh
o Cara pemeriksaan : sama seperti pada reaksi Florence
o Hasil positif memperlihatkan adanya Kristal spremin pikrat yang kekuning-
kuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul, dan kadang-kadang terdapat
garis refraksi yang terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid.
Reaksi tersebut mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa
Penentuan adanya spermin dapat juga dengan tes Puranen yang khas untuk cairan mani. Tetapi
mungkin terjadi hasil negatif semu dan reaksinya lebih lambat dibandingkan dengan tes
Berberio. Reagens adalah larutan 5g naphothol S yellow dalam 100 cc aquades

Cara pemeriksaan : seperti tes Florence,tunggu kira-kira 1jam. Hasil positif terlihat kristal-
kristal spermin flavinat berwarna kuning

Penentuan golongan darah ABO pada cairan mani


Penentuan golongan darah ABO pada semen golongan sekretor dilakukan dengan cara
absorpsi inhibisi. Hanya untuk golongan sekretor saja dapat ditentukan golongan darah dalam
semen. Pada individu yang termasuk golongan sekretor dapat ditemukan substansi golongan
darah dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani, dan lain-lain. Ternyata
substansi cairan mani jauh lebih banyak daripada dalam air liur (2-100 kali)

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai substansi golongan darah dalam
bahan pemeriksaan yang berasal dari forniks posterior vagina, lihatlah tabel dibawah ini
Golongan darah si wanita
O A B AB
Substansi ‘sendiri’ H A A A+B
dalam sekret vagina A+H B+H
Substansi ‘asing’ A B A H*
berasal dari semen B H* H* A+H
A+ B

24
OTOPSI

2011
Jika dari sekret vagina wanita golongan O, ditemukan substansi A dan H atau B dan H,
berarti terdapat substansi ‘sendiri’ bersama dengan sunstansi ‘asing’. Jika ditemukan substansi
A atau B atau A dan B,berarti pada sekret vagina tersebut terdapat substansi ‘ asing’. Adanya
substansi ‘asing’ menunjukkan bahwa didalam vagina wanita tersebut terdapat cairan mani.

Pemeriksaan bercak mani pada pakaian


 Visual
o bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnya. Bercak
yang sudah agak tua berwarna agak kekuning-kuningan. Pada bahan
sutera batasnya sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap dari
sekitarnya. Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar akan
menunjukkan permukaan mengkilat dan transparan, kemudian akan
mongering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning
sampai coklat
Pada tesktil yang menyerap, bercak yang segar tidak berwarna atau bertepi kelabu
yang berangsur-angsur akan berwarna kuning coklat dalam waktu 1 bulan. Dibawah sinar
ultra violet, bercak semen menunjukkan fluoresensi putih. Hasil pemeriksaan ini kurang
memuaskan untuk bercak pada sutera buatan karena mungkin tidak member fluoresensi.
Fluoresensi terlihat jelas pada bercak mani yang melekat dibahan tekstil tang terbuat dari
serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret vagina, dan serbuk detergen yang tersisa pada
pakaian sering menunjukkan fluoresensi juga.
Pada perabaan, bercak mani member kesan kaku seperti kanji. Pada tekstil tidak
menyerap , bila teraba kaku, kita masih dapat mengenalinya karena permukaan bercak akan
teraba kasar

Dapat pula dilakukan uji Pewarnaan Baecchi


o Reagens Baecchi dibuat dari :
o Asam fukhsin 1 % 1 ml ,Biru metilen 1 % 1 ml, Asam klorida 1% 40
ml
Bercak yang dicurigai digunting sebesar 5 mm x 5 mm, pada bagian pusat bercak.
Bahan dipulas dengan Reagen Baecchi selama 2-5 menit, dicuci dalam HCl 1 % dan
dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alcohol 70%, 80%, dan 95-100% (absolut), lalu
dijernihkan dalam xylol (2x). kemudian dikeringkan diantara kertas saring.Dengan jarum

24
OTOPSI

2011
diambil 1-2 helai benang, letakkan pada gelas objek dan diuraikan sampai serabut-serabut
saling terpisah. Tutup dengan gelas tutup balsam Kanada, periksa dengan mikroskop
pembesaran 400x. Serabut pakaian tidak mengambil warna, spermatozoa dengan kepala
berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut
benang.
Skrining dapat dilakukan dengan Reagen Fosfatase Asam. Sehelai kertas saring yang
telah dibasahi dengan aquadest ditempelkan pada bercak yang dicurigai selama 5-10 menit.
Keringkan lalu semprot dengan reagen. Bila terlihat bercak berwarna ungu, kertas saring
diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula. Dengan demikian letak
bercak pada pakaian dapat diketahui. Reaksi fosfatase asam dan Florence dilakukan bila pada
pemeriksaan tidak dapat ditemukan sel spermatozoa.

Pemeriksaan pria tersangka


Untuk membuktikan seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan seorang
wanita, dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :
 Cara Lugol
o Kaca objek ditempelkan dan ditekankan pada glans penis, terutama pada
bagian korona, serta frenulum. Kemudian diletakkan dengan specimen
menghadap ke bawah di atas tempat yang berisi larutan lugol dengan tujuan
agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasil positif akan
menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan berwarna coklat karena mengandung
banyak glikogen.
o Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu
ditentukan adanya kromatin seks (Barr Bodies) pada inti. Dengan pembesaran,
perhatikan inti sel epitel dan cari Barr Bodies. Ciri-cirinya adalah menempel
erat pada permukaan membrane inti dengan diameter kira-kira 1 u yang
terbatas jelas dengan tepi tajam dan terletak pada satu dataran fokus dengan
inti.

2.3 Pemeriksaan Darah, urine, feses, cairan lambung

A. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah

24
OTOPSI

2011
Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering
dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer pada hampir semua
bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak darah ini sangat berguna untuk
mengungkapkan suatu tindakan kriminal.
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu identifikasi
pemilik darah tersebut.Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih
dahulu kita harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu
perlu dilakukan pemeriksaan guna menentukan :
a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas, harus dilakukan pemeriksaan
laboratorium sebagai berikut :
a. Persiapan
Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian direndam dalam
larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan garam fisiologis bila
menempel pada pakaian.
b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)
Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah bercak
tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif saja yang
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Prinsip pemeriksaan penyaringan:


H2O2 ——> H2O + On
Reagen —-> perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine dan
reaksi Phenolphtalein. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal Benzidin
dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi Phenolphtalein digunakan reagen yang dibuat dari
Phenolphtalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji – biji zink sehingga
terbentuk Phenolphtalein yang tidak berwarna.
Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negatif pada kedua reaksi tersebut
memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah.

24
OTOPSI

2011
a. Reaksi Benzidine (Test Adler)
Dulu Benzidine test pada forensik banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes
Benzidine atau Test Adler lebih sering digunakan dibandingkan dengan tes tunggal
pada identifikasi darah lainnya. Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik yang
telah lama dilakukan. Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup bermakna.
Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk melakukan
pemeriksaan lainnya.
 Cara pemeriksaan reaksi Benzidin :Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak
yang dicurigai kemudian diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.
 Hasil: Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap
pada kertas saring.

Gambar Hasil Positive Benzidin

24
OTOPSI

2011
b. Reaksi Phenolphtalein (Kastle – Meyer Test) (1)
Prosedur test identifikasi yang sekarang ini, mulai banyak menggunakan
Phenolphtalein. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini
menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi darah.
 Cara Pemeriksaan reaksi Phenolphtalein: Sepotong kertas saring
digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung diteteskan reagen
Phenolphtalein.

Gambar Hasil Positive Reaksi Phenolphtalein


 Hasil: Hasil positif pada reaksi Phenolphtalein adalah bila timbul warna merah
muda pada kertas saring.
c. Pemeriksaan Meyakinkan / Test Konfirmasi Pada Darah
Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah maka
dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan darah
berdasarkan terdapatnya pigmen atau kristal hematin (hemin) dan hemokhromogen.
Terdapat tiga jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan bercak
darah tersebut benar berasal dari manusia, yaitu :
1. Cara kimiawi
Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa yang
diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin yang
dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. Tes tersebut antara lain
tes Teichmann dan tes Takayama.

24
OTOPSI

2011
a. Test Teichman (Tes kristal haemin)
Pertama kali dilakukan oleh Teicmann (1853). Test diawali dengan memanaskan
darah yang kering dengan asam asetat glasial dan kloride untuk membentuk derivat
hematin. (1)
 Cara pemeriksaan :Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca objek
tambahkan 1 butir kristal NaCL dan 1 tetes asam asetat glasial, tutup dengan
kaca penutup dan dipanaskan.
 Hasil: Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang
berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik.
 Kesulitan : Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu
panas atau terlalu dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel.

Gambar Hasil Positif Test Teichman

b. Test Takayama ( Tes kristal B Hemokromogen )


Apabila heme sudah dipanaskan dengan seksama dengan menggunakan piridine
dibawah kondisi basa dengan tambahan sedikit gula seperti glukosa, Kristal piridine
ferroprotoporphyrin atau hemokromogen akan terbentuk.

Cara kerja :Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada
gelas objek dan biarkan reagen takayama mengalir dan bercampur dengan
sampel. Setelah fase dipanaskan, lihat di bawah mikroskop.

Hasil : Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal halus berwarna
merah jambu yang terlihat dengan mikroskopik.

Kelebihan : Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau
bercak yang sudah lama dan juga dapat memunculkan noda darah yang

24
OTOPSI

2011
menempel pada baju. Selain itu test ini juga memunculkan hasil positif pada
sampel yang mempunyai hasil negatif pada test Teichmann. (1)

Hasil positif Test Takayama

c. Pemeriksaan Wagenaar
 Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca
objek, letakkan juga sebutir pasir, lalu tutup dengan kaca penutup sehingga
antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan zat.
Kemudian pada satu sisi diteteskan aseton dan pada sisi lain di tetes kan HCL
encer, kemudian dipanaskan.
 Hasil: Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk
batang berwarna coklat. Hasil negatif selain menyatakan bahwa bercak
tersebut bukan bercak darah, juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap
bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak, misalnya bercak darah
yang sudah lama sekali, terbakar dan sebagainya.

2. Cara serologik
Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah.
Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin) serta
terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu.

24
OTOPSI

2011
Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan
antibodi (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.

a. Test Presipitin Cincin


Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemusingan sederhana
antara dua cairan di dalam tube. Dua cairan tersebut adalah anti serum dan
ekstrak dari bercak darah yang diminta untuk diperiksa.

Cara pemeriksaan : Antiserum ditempatkan pada tabung kecil
dan sebagian kecil ekstrak Biarkan pada temperatur ruang kurang
lebih 1,5 jam. Pemisahan antara bercak darah ditempatkan secara
hati-hati pada bagian tepi antiserum. antigen dan antibody akan
mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan. (1)

Hasil: Akan terdapat lapisan tipis endapan atau precipitate pada
bagian antara dua larutan. Pada kasus bercak darah yang bukan
dari manusia maka tidak akan muncul reaksi apapun.
b. Reaksi presipitasi dalam agar.
 Cara pemeriksaan : Gelas objek dibersihkan dengan spiritus
sampai bebas lemak, dilapisi dengan selapis tipis agar buffer.
Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar dengan diameter
kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis.
Masukkan serum anti-globulin manusia ke lubang di tengah dan
ekstrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-
lubang sekitarnya. Letakkan gelas objek ini dalam ruang lembab
(moist chamber) pada temperatur ruang selama satu malam.
 Hasil : Hasil positif memberikan presipitum jernih pada perbatasan
lubang tengah dan lubang tepi.

3. Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel darah merah.
 Cara pemeriksaan : Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh
pada kaca objek kemudian ditambahkan 1 tetes larutan garam faal, dan
ditutup dengan kaca penutup, lihat dibawah mikroskop. Cara lain, dengan
membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa.

24
OTOPSI

2011
 Hasil : Pemeriksaan mikroskopik kedua sediaan tersebut hanya dapat
menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut. Kelas mamalia
mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti, sedangkan
kelas lainnya berbentuk oval atau elips dan tidak berinti Bila terlihat
adanya drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapat dipastikan bahwa
darah tersebut berasal dari seorang wanita.
 Kelebihan: Dapat terlihatnya sel –sel leukosit berinti banyak. Dapat terlihat
adanya drum stick pada pemeriksaan darah seorang wanita.
Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan setelah suatu bercak merah benar bercak darah
dan benar bercak darah manusia, meliputi :
Penentuan Golongan Darah
American Association of Blood Banks mendefinisikan golongan darah sebagai
kumpulan antigen yang diproduksi oleh alel gen. Bagaimanapun, golongan darah secara
genetic dikontrol dan merupakan karakteristik yang seumur hidup dapat diperiksa karena
berbeda pada tiap individual.
Darah yang telah mengering dapat berada dalam berbagai tahap kesegaran.
 Bercak dengan sel darah merah masih utuh.
 Bercak dengan sel darah merah sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan
antigen yang masih dapat di deteksi;
 Sel darah merah sudah rusak dengan jenis antigen yang masih dapat
dideteksi namun sudah terjadi kerusakan aglutinin.
 Sel darah merah sudah rusak dengan antigen dan agglutinin yang juga
sudah tidak dapat dideteksi.
Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh penentuan golongan darah dapat
dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup, yaitu dengan
meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi. Aglutinasi
yang terjadi pada suatu antiserum merupakan golongan darah bercak yang diperiksa, contoh
bila terjadi aglutinasi pada antiserum A maka golongan darah bercak darah tersebut adalah A.
Bila sel darah merah sudah rusak penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan
cara menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil
dibandingkan dengan aglutinin. Di antara system-sistem golongan darah, yang paling lama
bertahan adalah antigen dari system golongan darah ABO.

24
OTOPSI

2011
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi elusi
atau aglutinasi campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusi dengan
prosedur sebagai berikut :

Cara pemeriksaan :
 Dengan menggunakan 2-3 helai benang yang mengandung bercak kering
difiksasi dengan metil alcohol selama 15 menit. Benang diangkat dan dibiarkan
mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat-
serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum. Lakukan juga terhadap benang
yang tidak mengandung bercak darah sebagai kontrol negatif
 Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama
diteteskan serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga
serabut benang tersebut teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut
disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 4 derajat Celcius selama satu
malam.
 Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat
Celcius) sebanyak 5-6 kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indikator
(sel daram merah golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada
tabung kedua), pusing dengan kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila tidak
terjadi aglutinasi, cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan
garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat Celcius selama 10 menit dan
pindahkan hasil ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspense sel indikator
ke dalam masing-masing tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing selama 1
menit pada kecepatan 1000 RPM.
Hasil : Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti darah
mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator.
Penentuan
golongan
darah ABO
cara makroskopik

24
OTOPSI

2011
Pemeriksaan golongan darah juga dapat membantu mengatasi kasus paternitas. Hal ini
berdasarkan Hukum Mendel yang mengatakan bahwa antigen tidak mungkin muncul pada
anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu atau kedua orang tuanya. Orang tua
yang homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya. (Anak
dengan golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB).
Perlu diingat bahwa Hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas),
sehingga penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat dipastikan, namun sebaliknya
kita dapat memastikan seseorang adalah bukan ayah seorang anak (“singkir ayah”/”paternity
exclusion”).

Pemeriksaan Toksikologi
Dari pemeriksaan pada kasus-kasus yang mati akibat racun umumnya tidak akan di
jumpai kelainan-kelainan yang khas yang dapat dijadikan pegangan untuk menegakan
diagnosa atau menentukan sebab kematian karena racun suatu zat. Jadi pemeriksaan
toksikologi mutlak harus dilakukan untuk menentukan adanya racun pada setiap kasus
keracunan atau yang diduga mati akibat racun. Setelah mayat si korban dibedah oleh dokter
kemudian diambil dan dikumpulkan jaringan-jaringan atau organ-organ tubuh si korban untuk
dijadikan barang bukti dan bahan pemeriksaan toksikologi. Prinsip pengambilan sampel pada
keracunan adalah diambil sebanyak-banyaknya setelah disisihkan untuk cadangan dan untuk
pemeriksaan histopatologis.
Secara umum sampel yang harus diambil adalah :
1. Lambung dengan isinya.
2. Seluruh usus dengan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada usus
setiap jarak sekitar 60cm.
3. Darah yang berasal dari sentral (jantung), dan yang berasal dari perifer
(v.jugularis, a. femoralis dan sebagainya) masing-masing 50ml dan dibagi 2 yang
satu diberi bahan pengawet (NaF 1%), yang lain tidak diberi bahan pengawet.

24
OTOPSI

2011
4. Hati sebagai tempat detoksifikasi, tidak boleh dilupakan, hati yang diambil
sebanyak 500gram.
5. Ginjal, diambil keduanya, yaitu pada kasus keracunan dengan logam berat
khususnya, dan bila urin tidak tersedia.
6. Otak diambil 500 gram, khusus untuk keracunan kloroform dan keracunan sianida,
hal tersebut dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai
kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembusukan.
7. Urin diambil seluruhnya, penting oleh karena pada umumnya racun akan
dieksresikan melalui urin, khususnya untuk tes penyaring pada keracunan
narkotika, alkohol, dan stimulan.
8. Empedu sama halnya dengan urin diambil oleh karena tempat ekskesi berbagai
racun terutama narkotika.
9. Pada kasus khusus dapat diambil :
a. Jaringan sekitar suntikan dalam radius 5-10 sentimeter.
b. Jaringan otot, yaitu, dari tempat yang terhindar dari kontaminasi, misalnya
muskulus psoas sebanyak 200 gram.
c. Lemak di bawah kulit dinding perut sebanyak 200 gram.
d. Rambut yang dicabut sebanyak 10 gram.
e. Kuku yang dipotong sebanyak 10 gram, dan.
f. Cairan otak sebanyak-banyaknya.
Alkohol dan larutan garam jenuh untuk sampel padat atau organ, sedangkan Naf 1% dan
campuran NaF dengan Na sitrat untuk sample cair, sedangkan natrium benzoate dan mercuric
nitrat khusus untuk pengawetan urin..
Pada mayat yang diotopsi :
1. Darah diambil dari vena femoral.
2. Jika darah tidak dapat diambil dari vena femoral, dapat diambil dari : Vena subklavia,
Aorta, Arteri pulmonalis, Vena cava superior dan Jantung.
3. Darah seharusnya diberi label sesuai dengan tempat pengambilan.
4. Pada kejadian yang jarang terjadi biasanya berhubungan dengan trauma massif, darah
tidak dapat diambil dari pembuluh darah tetapi terdapat darah bebas pada rongga
badan.
a. Darah diambil dan diberi label sesuai dengan tempat pengambilan.
b. Jika dilakukan tes untuk obat tersebut tidak dibawah efek obat pada saat
kematian.

24
OTOPSI

2011
c. Jika tes positif harus diperhitungkan kemungkinan kontaminasi

Bila dicurigai penyebab kematian adalah keracunan maka dapat dilakukan pemeriksaan darah
sebagai berikut :

1. PEMERIKSAAN CO (KARBON MONOKSIDA)(2)


a. Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji difusi alkali.
i. Ambil 2 tabung reaksi. Masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes
darah korban dan tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol.
Encerkan masing-masing darah dengan menambahkan 10 ml air
sehingga warna merah pada kedua tabung kurang lebih sama.
ii. Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%,
lalu dikocok. Darah normal segera berubah warna menjadi merah hijau
kecoklatan karena segera terbentuk hematin alkali, sedangkan darah
yang mengandung COHb tidak berubah warnanya untuk beberapa
waktu, tergantung pada konsentrasi COHb, karena COHb lebih bersifat
resisten terhadap pengaruh alkali. COHb dengan kadar saturasi 20%
memberi warna merah muda (pink) yang bertahan selama beberapa
detik, dan setelah 1 menit baru berubah warna menjadi coklat
kehijauan.
iii. Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebagai kontrol
dalam uji dilusi alkali ini haruslah darah dengan Hb yang normal.
Jangan gunakan darah fetus karena dikatakan bahwa darah fetus juga
bersifat resisten terhadap alkali.

b. Dapat pula dilakukan uji formalin (Eachloz-Liebmann).


Darah yang akan diperiksa ditambahkan larutan formalin 40% sama banyaknya. Bila
darah mengandung COHb 25% saturasi maka akan terbentuk koagulat berwarna merah yang
mengendap pada dasar tabung reaksi. Semakin tinggi kadar COHb, semakin merah warna
koagulatnya. Sedangkan pada darah normal akan terbentuk koagulat yang berwarna coklat.

24
OTOPSI

2011
c. Cara Gettler-Freimuth (semi-kuantitatif)
Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan berwarna
hitam. Dengan membandingkan intensitas warna hitam tersebut dengan warna hitam yang
diperoleh dari pemeriksaan terhadap darah dengan kadar COHb yang diketahui, maka dapat
ditentukan konsentrasi COHb secara semi kuantitatif.

2. PEMERIKSAAN ALKOHOL.
Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan. Diagnosis pasti hanya dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah. Kadar alkohol dari udara
ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua. Untuk korban meninggal sebagai
pilihan kedua dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak, hati, atau organ lain atau cairan tubuh
lain seperti cairan serebrospinalis.
Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol dalam
darah hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah minum alkohol. Pada mayat, alkohol
dapat didifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk ke dalam jantung, sehingga untuk
pemeriksaan toksikologi, diambil darah dari pembuluh darah vena perifer (kubiti atau

24
OTOPSI

2011
femoralis).Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah yang cukup
sederhana adalah
Teknik modifikasi mikrodifusi (Conway), sebagai berikut :
Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reagen Antie dibuat
dengan melarutkan 3,70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Kemudian
tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Encerkan dengan 500 ml akuades.
Sebarkan 1 ml darah yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml
kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi berlawanan.
Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati-hati supaya darah bercampur
dengan larutan kalium karbonat. Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada temperatur
ruang. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen Antie.
Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Perubahan warna kuning
kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %, sedangkan warna hijau
kekuningan sekitar 300mg %.
Kadar alkohol darah yang diperoleh dari pemeriksaan belum menunjukkan
kadar alkohol darah pada saat kejadian. Hasil ini akibat dari pengambilan darah
dilakukan beberapa saat setelah kejadian, sehingga yang dilakukan adalah perhitungan
kadar alkohol darah saat kejadian. Meskipun kecepatan eliminasi kira-kira 14-15 mg%,
namun pada perhitungan harus juga dipertimbangkan kemungkinan kesalahan
pengukuran dan kesalah perkiraan kecepatan eliminasi. Gruner (1975) menganjurkan
angka 10 mg% per jam digunakan dalam perhitungan. Sebagai contoh, bila ditemukan
kadar alkohol darah 50 mg% yang diperiksa 3 jam setelah kejadian, akan memberikan
angka 80 mg% pada saat kejadian.

3. PEMERIKSAAN INSEKTISIDA
Untuk pemeriksaan toksikologi insektisida perlu diambil darah, jaringan hati, limpa,
paru-paru dan lemak badan. Penentuan kadar AchE dalam darah dan plasma dapat dilakukan
dengan cara tintimeter (Edson) dan cara paper-strip (Acholest).
 Cara Edson : berdasarkan perubahan pH darah AChE
Ach —— > kolin + asam asetat
Ambil darah korban dan tambahkan indikator brom-timol-biru, diamkan beberapa saat
maka akan terjadi perubahan warna. Bandingkan warna yang timbul dengan warna standar
pada comparator disc (cakram pembanding), maka dapat ditentukan AchE dalam darah.

24
OTOPSI

2011
% aktifitas AchE darah Interpretasi

75% – 100% dari normal Tidak ada keracunan


50% – 75% dari normal Keracunan ringan
25% – 50% dari normal Keracunan
0% – 25% dari normal Keracunan berat

Table. Interpretasi Hasil pada Tes Edson.

Cara Acholest :
Ambil serum darah korban dan teteskan pada kertas Acholest bersamaan dengan
kontrol serum darah normal. Pada kertas Acholest sudah terdapat Ach dan indikator. Waktu
perubahan warna pada kertas tersebut dicatat. Perubahan warna harus sama dengan perubahan
warna pembanding (serum normal) yaitu warna kuning telur.
Interpretasi :
Kurang dari 18 menit  tidak ada keracunan
20-35 menit  keracunan ringan
35-150 menit  keracunan berat
 Kromatografi lapisan tipis (TLC)
o Cara Pemeriksaan :
 Kaca berukuran 20 x 20 cm, dilapisi dengan absorben gel silikat atau
dengan aluminium oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 derajat
celcius selama 1 jam.
 Filtrat yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan
korban) diteteskan dengan mikropipet pada kaca. Disertai dengan
tetesan lain yang telah diketahui golongan dan jenis serta
konsentrasinya sebagai pembanding. Ujung kaca TLC dicelupkan ke
dalam pelarut, biasanya n-Hexan. Celupan tidak boleh mengenai tetesan
tersebut di atas. Dengan daya kapilaritas maka pelarut akan ditarik ke
atas sambil melarutkan filtrat-filtrat tadi. Setelah itu kaca TLC
dikeringkan lalu disemprot dengan reagensia Paladium klorida 0,5%
dalam HCl pekat, kemudian dengan Difenilamin 0,5% dalam alkohol.
 Hasilnya :

24
OTOPSI

2011
 Warna hitam (gelap) berarti golongan hidrokarbon terklorinasi. Warna hijau
dengan dasar dadu berarti golongan organofosfat. Untuk menentukan jenis
dalam golongannya dapat dilakukan dengan menentukan Rf masing-masing
bercak. Angka yang didapat dicocokan dengan standar, maka jenisnya
dapat ditentukan. Dengan membandingkan besar bercak dan intensitas
warnanya dengan pembanding, dapat diketahui konsentrasi secara
semikuantitatif.

4. PEMERIKSAAN SIANIDA
 Uji kertas saring.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh, biarkan hingga
menjadi lembab. Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan sampai
agak mengering, kemudian teteskan Na2CO3 10 % 1 tetes. Uji positif bila terbentuk
warna ungu.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HNO 3 1%, kemudian ke dalam
larutan kanji 1% dan keringkan. Setelah itu kertas saring dipotong-potong seperti
kertas lakmus. Kertas ini dipakai untuk pemeriksaan masal pada pekerja yang diduga
kontak dengan CN. Caranya dengan membasahkan kertas dengan ludah di bawah
lidah. Uji positif bila warna berubah menjadi biru. Hasil uji berwarna biru muda
meragukan sedangkan bila warna tidak berubah (merah muda) berarti tidak dapat
keracunan.
Kertas saring dicelup ke dalam larutan KCL, dan dipotong kecil-kecil. Kertas
tersebut dicelupkan ke dalam darah korban, bila positif maka warna akan berubah
menjadi merah terang karena terbentuk sianmethemoglobin.

24
OTOPSI

2011
BAB III
PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM

Pengertian arti harafiah dari Visum et Repertum yakni berasal dari kata “visual” yang
berarti melihat dan “repertum” yaitu melaporkan.Sehingga jika digabungkan dari arti harafiah
ini adalah apa yang dilihat dan diketemukan sehingga Visum et Repertum merupakan suatu
laporan tertulis dari dokter (ahli) yang dibuat berdasarkan sumpah, mengenai apa yang dilihat
dan ditemukan atas bukti hidup, mayat atau fisik ataupun barang bukti lain,kemudian
dilakukan pemeriksaan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya (Soeparmono, 2002).
Dalam Stbl tahun 1937 No 350 dikatakan bahwa visa et reperta para dokter yang dibuat baik
atas sumpah dokter yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajarannya di Indonesia.
Dalam Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.M04/UM/01.06 tahun 1983 pada
pasal 10 menyatakan bahwa hasil pemeriksaan ilmu kedokteran kehakiman disebut sebagai
Visum et Repertum. Pendapat seorang dokter yang dituangkan dalam sebuah Visum et
Repertum sangat diperlukan oleh seorang hakim dalam membuat sebuah keputusan dalam
sebuah persidangan. Hal ini mengingat, seorang hakim sebagai pemutus perkara pada sebuah
persidangan, tidak dibekali dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kedokteran forensik
ini, Dalam hal ini, hasil pemeriksaan dan laporan tertulis ini akan digunakan sebagai petunjuk
sebagaimana yang dimaksud pada pasal 184 KUHAP tentang alat bukti yang sah, yang
berbunyi :
1. Alat bukti yang sah ialah
a. keterangan saksi
b. keterangan ahli
c. surat
d. petunjuk

24
OTOPSI

2011
e. keterangan terdakwa
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Artinya, hasil Visum et Repertum ini bukan saja sebagai petunjuk dalam hal
membuat jelas suatu perkara pidana namun juga mendukung proses penuntutan dan
pengadilan.
3.1 Berita Acara Otopsi
Jenazah yang akan dimintakan visum et repertum harus diberi label yang memuat
identitas mayat yang diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. Pada surat
permintaan visum et repertum-nya harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta, apakah
hanya pemeriksaan luar jenazah atau pemeriksaan otopsi. Hal-hal tersebut terkandung dalam
pasal 133 KUHAP, yakni:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli
lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat,
dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau
bagian lain badan mayat.
Bila pemeriksaan otopsi diinginkan, maka penyidik wajib memberitahu kepada
keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuannya pemeriksaan. Otopsi dilakukan
setelah keluarga korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apa pun
dari keluarga korban, hal ini tertulis pada pasal 134 KUHAP,yakni,
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

24
OTOPSI

2011
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
.Jenazah yang diperiksa dapat juga berupa jenazah yang didapat dari penggalian kuburan,
seperti yang disebutkan dalam pasal 135 KUHAP, yaitu:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2) dan
pasal 134 ayat (1) undang-undang ini.

Contoh surat permintaan otopsi:

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH JAWA TENGAH
RESOR KOTA BESAR SEMARANG
Jl.Dr.Sutomo No.19 Semarang Semarang,07 juli 2011
R/258/VER/VII/2011/RESKRIM Kepada
Yth. DIREKTUR RUMAH SAKIT
RS.Dr.KARYADI SEMARANG
Di Semarang

1. Rujukan:
a. Pasal 133 dan pasal 136 KUHP
b. Undang – undang No.02 tahun 2002 tentang kepolisian Negara Republik
Indonesia.
c. Laporan segera No.Pol: LP/K/VII/2011/Reskrim,tanggal 07 juli 2011
2. Bersama ini kami kirimkan Mayat seorang perempuan dengan identitas sebagai
berikut:
Nama :Tanpa identitas
Umur :20 th
Jenis Kelamin :Perempuan
Pekerjaan :Indonesia
Agama :- -
Alamat :- -
3. Mayat tersebut ditemukan di tepi jalan,jalur lingkar masjid Agung Jawa Tengah
Jl.Arteri sukarno Hatta Semarang.
Pada hari : Kamis tanggal.07 juli 2011 sekitar pukul 10.00WIB
Dengan penjelasan sebagai berikut :
a.Diduga meninggal pada hari kamis tanggal 07 juli 2011 sekitar pukul 09.00 wib.
b.Kematian di duga akibat : sakit tidak dirawat

24
OTOPSI

2011
1. Diduga keras dengan cara :……………………………………..
2.Diduga menggunakan :
…………………………………….
3.Diduga akibat penyakit/tidak pernah menderita……………………….dan
pernah/tidak pernah berobat pada……………………………………….

4. Bersama ini disertakan barang bukti yang diduga ada hubungannya dengan kematian
berupa…………………………………..
5. Mohon bantuan dilakukan pemeriksaan luar / dalam atas jenazah tersebut dan
dibuatkan Visum et Repertum serta menghubungi Polrestabes Semarang.
6. Demikian untuk menjadi maklum dan atas kerjasamanya yang baik diucapkan terima
kasih.

AN.KEPALA KEPOLISIAN RESOR KOTA BESAR


SEMARANG
KASAT RESKRIM
KATEAM III IDENTIFIKASI
SELAKU PENYIDIK
SRI RAHNARTO
AIPTU NRP.55010323

3.2 Format Visum et Repertum


Visum et repertum dibuat secara tertulis, sebaiknya dengan mesin ketik, di atas sebuah
kertas putih dengan kepala surat institusi kesehatan yang melakukan pemeriksaan, dalam
bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa membuat singkatan, dan sedapat mungkin tanpa
istilah asing, bila terpaksa digunakan agar diberi penjelasan bahasa Indonesia. Apabila
diperlukan gambar atau foto untuk lebih memperjelas uraian tertulis dalam visum et repertum,
maka gambar atau foto tersebut diberikan dalam bentuk lampiran.
Visum et repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu:
a. Pro justitia. Kata ini menjelaskan bahwa visum et repertum khusus dibuat untuk
tujuan peradilan. Visum et repertum tidak membutuhkan meterai untuk dapat dijadikan
sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. Kata
ini diletakkan di bagian atas.
b. Pendahuluan. Kata “pendahuluan” sendiri tidak ditulis di dalam visum et repertum,
melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini
berisi identitas penyidik peminta berikut nomor dan tanggal surat permintannya,

24
OTOPSI

2011
identitas dokter yang melakukan pemeriksaan dan institusi kesehatannya, identitas
jenazah yang diperiksa, alasan permintaan visum et repertum, serta tempat dan waktu
pemeriksaan.
c. Pemberitaan. Bagian ini berjudul “Hasil Pemeriksaan” dan berisi hasil pemeriksaan
tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan
perkaranya, tindakan medik yang dilakukan serta keadaannya selesai pengobatan/
perawatan. Bila korban meninggal dan dilakukan otopsi, maka diuraikan keadaan
seluruh organ dalam yang berkaitan dengan perkara dan matinya orang tersebut.
d. Kesimpulan. Bagian ini berjudul “Kesimpulan” dan berisi pendapat dokter
berdasarkan keilmuannya, mengenai jenis perlukaan/ cedera yang ditemukan dan jenis
kekerasan atau zat penyebabnya, serta derajat perlukaan atau sebab kematiannya.
e. Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan pernyataan bahwa keterangan tertulis
dokter tersebut dibuat dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan
atau dibuat dengan mengucapkan sampah atau janji lebih dahulu sebelum melakukan
pemeriksaan, dan dibubuhi tanda tangan dokter pembuat visum et repertum.

Kesimpulan

24
OTOPSI

2011
Otopsi berasal dari bahsa yunani yaitu dari kata auto berarti sendiri dan opsis berarti
melihat. Namaun pengertian sebenarnya dari otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat,
meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam , dengan menggunakan cara-cara yang
daapat dipertanggungb jawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten. Tujuan otopsi
forensik ialah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan peradilan yaitu membantu penegak
hukum dalam rangka menemukan kebenaran materiil. Hak dan kewajiban otopsi diatur dalam
peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia, yang berfungsi sebagai dasar
hukum dalam melakukan otopsi.
Ada 4 tehnik otopsi yaitu Rokitansky, Virchow, Lettule, dan Ghon. Tehnik Ghon
merupakan tehnik yang paling sering digunakan saat ini. Dalam melakukan otopsi yang baik
diperlukan tempat otopsi serta alat yang memadai. Untuk mendapatkan fakta tetang kematian
seseorang, dokter memerlukan pendekatan multidisiplin yang seksama sehingga dapat
membantu penyelidikan.
Jika pada otopsi tidak ditemukan fakta-fakta yang diperlukan uktuk kepentingan
penyelidikan, maka dapat dilakukan pemeriksaan hasil otopsi tersebut. Dapat dilakukan
pemeriksaan jaringan seperti pemeriksaan rambut, pemeriksaan otak, pemeriksaan jantung,
pemeriksaan paru, pemeriksaan saluran cerna, pemeriksaan hati dan pemeriksaan ginjal.
Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan cairan-cairan tubuh yaitu pemeriksaan perubahan
pada cairan mata,perubahan LCS, Pengosongan isi lambung, serta pemeriksaan cairan mani.
Pemeriksaan cairan mani meliputi penentuan spermatozoa (mikroskopis), penentuan cairan
mani (kimiawi), serta penentuan golongan darah ABO pada cairan mani. Kemudian dapat
dilanjutkan dengan pemeriksaan darah dan toksikologi untuk memastikan sebab kematian.
Visum et Repertum adalah laporan tertulis dari dokter (ahli) yang dibuat berdasarkan
sumpah, mengenai apa yang dilihat dan ditemukan atas bukti hidup, mayat atau fisik ataupun
barang bukti lain, kemudian dilakukan pemeriksaan menurut pengetahuan yang sebaik-
baiknya. Visum et Re[ertum terdiri dari 5 bagian tetap yaitu pro justitia, pendahuluan,
pemberitaan, kesimpulan, dan penutup. Hasil visum et repertum ini bukan saja sebagai
petunjuk dalam hal membuat jelas suatu perkara pidana, namun juga mendukung proses
penuntutan dan pengadilan.

24