Anda di halaman 1dari 32

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA Laporan Kasus

FAKULTAS KEDOKTERAN 22maret 2017


UNIVERSITAS ALKAIRAAT
PALU

RETARDASI MENTAL

Disusun Oleh:

Musdalipa Hi.P. (12 777 0645)

Pembimbing :
dr. Patmawati, M.kes Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA
RSD MADANI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2017
2

HALAMAN PENGESAHAN

Nama dan stambuk : Musdalipa Hi.P (12777 065)


Fakultas : Kedokteran
Program Studi : Pendidikan Dokter
Universitas : Alkhairaat
Judul Laporan Kasus : Retardasi Mental
Bagian : Ilmu Kesehatan Jiwa

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa

RSD MADANI PALU

Program Studi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, 22 September 2017


Pembimbing

dr. Patmawati, M.kes Sp.KJ


3

LAPORAN KASUS PSIKIATRI

Nama : Ny.S
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan :-
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Pendidikan : SD
Tanggal Pemeriksaan : 05 Agustus 2017
Tempat Pemeriksaan : Ruangan langsat RS Madani

Alloanamnesis didapatkan dari : Ny. S


Usia : 20 Tahun
Pekerjaan :-

LAPORAN PSIKIATRIK
I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Mengamuk dan Gelisah
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang dibawa oleh tetangganya ke rumah sakit karena sering
mengamuk dan gelisah. Yang di dirasakan 2 bulan yang lalu.
Sebelumnya pasien tampak kesepian karena terpisah jauh dari orang
tuany dan hanya tinggal bersama keluarga neneknya. Sebelum
mengamuk pasien juga mengatakan mendengar suara bisikan dari
neneknya yang merasuki pikiranya sehingga membuat pasien marah dan
mengamuk. Pasien juga mengatakan mengalami masalah dalam
keluarganya yang membuat sering berfikir masalah sawah dan tanah
orang tuanya. Menurut pasien pertama kali mengamuk pada tahun 2003
dan sudah pernah masuk RS sebelumnya.
4

Hendaya/disfungsi :
 Hendaya Sosial (+)
 Hendaya Pekerjaan (-)
 Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (-)

Faktor stresor psikososial :


Saat ini faktor stresor psikososial yang mempengaruhi pasien adalah
masalah keluarganya

Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan


psikis sebelumnya.
ada

a. Riwayat Kehidupan Sebelumnya


Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pasien tidak pernah mengalami trauma, kejang dan sakit berat.
Riwayat gangguan psikiatri
- Pasien menderita keluhan seperti ini sejak tahun 2003 dan sudah sering
keluar masuk rumah sakit
Riwayat penggunaan zat psikoaktif
- Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif

b. Riwayat Kehidupan pribadi


Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien dilahirkan di rumah dengan bantuan dukundalam keadaan
sehat.
5

Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)


Pasien mendapatkan ASI dari ibunya, pertumbuhan dan
perkembangan sesuai umur, tidak ada riwayat kejang, trauma atau infeksi
pada masa ini.

Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)


Pasien tumbuh normal dan bergaul seperti anak-anak biasa. Pasien
mulai sekolah Taman Kanak-kanak dan melanjutkan pendidikan ke
jenjang berikutnya. Pasien bergaul dan bermain dengan teman sebaya
secara normal.

Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)


-
Masa Dewasa
-
c. Riwayat kehidupan keluarga
Pasien merupakan anak ke 3 dari 3bersaudara. Pasien mempunyai
hubungan baik dengan kedua orang tuanya.

d. Situasi Sekarang
Pasien tinggal bersama keluarga nenek pasien.

WAWANCARA PSIKIATRIK
Berdasarkan Alloanamnesis
Jam : 20 :00
Keterangan:
DM: Dokter Muda ; P: Pasien
DM Selamat siang ibu perkenalkan saya , dokter muda yang dinas di RS Madani
khususnya di bagian jiwa, jadi ibu disini saya, boleh saya wawancara ya bu
?

P Oh iya dok.
6

DM Maaf ibu sebelumnya pertama kali kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?

P Saya masuk rumah sakit pertama kali pada tahun 2003 dengan mengamuk
dan gelisah dok.

DM Oh iya ibu, Kalau boleh tahu apa yang membuat ibu mengamuk?

P mengamuk dok, dan sering suara mendengar bisikan nenek saya

DM Suara bisikan seperti apa ibu dengarkan?

P mendengar bisikan nenek saya yang sudah meninggal

DM Oh terus apa kira kira yang membuat ibu sehingga seperti ini? Apakah ada
masalah keluarga?

P Kalau masalah ada dok

DM Masalah apa memang yang anda dalam keluarganya?

P Masalah orang tua saya yang jauh dan saya merasa kesepian

DM Memang disini tinggal dengan siapa ?

P Saya hanya tinggal dengan keluarga nenek saya

DM Dari kapan tinggal dengan keluarga neneknya?

P Dari pertama kali tahun 2003 saya di ungsikan kepalu dan mulai sering
mengamuk

DM Terus ibu apakah pernah konsumsi zat/obat-obatan terlarangatau atau


minuman keras?

P Maaf dok, kalau obat-obatan dan minuman alcohol setau saya tidak pernah
mengkonsumsi

DM Tn. A berapa bersaudara?

P 3 bersaudara dok, dan anak ke 3

DM ibu sudah berkeluarga ?

P Sudah dok sekarang sudah menikah dan sementara hamil dokter

DM Ibu sebelumnya pernah sakit apa? Semasa kecil sampai sekarang bu?

P Saya tidak tau dok

DM Oh iya ibu . Kalau begitu terima kasih banyak sudah bersedia di


7

wawancara.

P Iya dok sama-sama dok.

II. STATUS MENTAL


a. Deskripsi Umum
- Penampilan: tampak sesuai umur, pasien berambut pendek tipis
berwarna hitam kecoklatan, pasien memakai baju berwarna pink dan
celana pendek berwarna ungu
- Kesadaran: compos mentis
- Perilaku dan aktivitas psikomotor: tenang
- Pembicaraan: bicara spontan, intonasi biasa dan menjawab sesuai
dengan pertanyaan
- Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif
b. Keadaan Afektif
- Mood : disforia
- Afek : sempit
- Keserasian : serasi
- Empati : Tidak dapat diraba/rasakan
c. Fungsi Intelektual (kognitif)
- Taraf Pendidikan, Pengetahuan umum dan kecerdasan : Pengetahuan
umum sesuai dengan tingkat pendidikannya
- Daya konsentrasi: sulit dinilai
- Orientasi waktu, tempat, dan orang: sulit dinilai
- Daya ingat jangka panjang, menengah dan pendek: sulit dinilai
- Pikiran abstrak: sulit dinilai
- Bakat kreatif : sulit dinilai
- Kemampuan menolong diri sendiri: cukup

d. Gangguan Persepsi
8

- Halusinasi : Halusinasi Auditorik (+) yang didengarkan suara


bisikan neneknya untuk pulang
- Ilusi : (-)
- Depersonalisasi : (-)
- Derealisasi : (-)

e. Proses Berpikir
- Arus Pikiran
a. Produktivitas : cukup
b. Kontinuitas : irrelevan
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada
- Isi Pikiran
a. Preokupasi : tidak ada
b. Gangguan isi pikir : Halusinasi Auditorik
f. Pengendalian Impuls : tidak baik
g. Daya Nilai
- Norma Sosial : terganggu
- Uji Daya Nilai : terganggu
- Penilaian Realitas : terganggu
h. Tilikan
Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami
penyebab sakitnta (derajat tilikan 4)
i. Taraf Dapat Dipercaya: Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan Fisik :
Status Internus
 Tekanan Darah : 120/80
 Denyut Nadi : 88i/menit
 Suhu : 36,5°C
9

 Pernapasan : 20 kali/menit
 Anemis : (-)/(-)
 Ikterus : (-)/(-)
 Sianosis : (-)/(-)
 Thorax
o Inspeksi : Respirasi dada simetris/bilateral
o Palpasi : Massa (-), Pergerakan dada bilateral
o Perkusi : Paru (Sonor), Batas jantung normal, bunyi pekak
o Auskultasi : Paru (Dalam Batas Normal) dan Jantung (S1 dan
S2, bunyi tambahan (-)
 Abdomen
o Inspeksi : Massa (-), dalam batas normal
o Auskultasi : Peristaltik usus (+)
o Perkusi : Bunyi timpani di 4 kuadran, Pembesaran hepar (-),
lien (-)
o Palpasi : Nyeri tekan (-)
 Neurologis
o Kesadaran :Compos mentis dengan GCS 15 (E4V5M6)
o Nervus Cranial : Dalam batas normal
o Refleks Fisiologi : Normal
o Refleks Patologis :-

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


- Sebelumnya Pasien datang dibawa oleh tetangganya ke rumah sakit karena
mengamuk . pasien tiba tiba gelisah, marah-marah dan mengamuk
- Pasien mendengar bisikan bisikan dari nenek yang sudah lama meninggal
- Perilaku dan aktivitas psikomotor pasien selama wawancara pasien tampak
tenang ketika diwawancarai. Pembicaraan spontan, intonasi biasa dan
berbicara sesuai dengan pertanyaan. Mood disforia, afek sempit,
keserasien serasi. Pada gangguan persepsi didapatkan adanya halusinasi
10

(+) auditorik dan dan pada gangguan isi pikir tidak di dapatkan, tilikan
derajat IV

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I :
 Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna berupa mengamuk, gelisah , memukul dan
menggigit perawat panti. Keadaaan ini menimbulkan disstress bagi pasien
dan keluarganya, dan menimbulkan disabilitas dalam sosial dan
pekerjaan dan dalam menilai realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami Gangguan Jiwa.
 Pada pasien ditemukan hendaya berat dalam menilai realita , juga
terdapat hendaya dalam social dan pekerjaan yang telah dialami,
sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik.
 Pada pemeriksaan status internus dan neurologis ditemukan adanya
kelaianan yang mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan
gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang
diderita pasien ini. Dengan demikian pasien di kategorikan Gangguan
Mental Organik.
 Dari data diatas, saat ini didapatkan halusinasi yang diderita pasien
muncul bersamaan dengan adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi
otak yang menyebabkan perubahan perilaku, sehingga dapat didiagnosis
Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak
dan Penyakit Fisik
 Aksis II
Retardasi mental.
 Aksis III
Epilepsi

 Aksis IV
Stressor psikososial
11

 Aksis V
GAF scale 50-41 ( gejala berat (serious) disabilitas berat).

VI. DAFTAR MASALAH


 Organobiologik
Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien
memerlukan psikofarmaka.
 Psikoedukatif
Terdapat halusinasi visual, auditorik sehingga diperlukan terapi
psikoedukatif

VII. PROGNOSIS
Dubia ad Bonam

VIII. RENCANA TERAPI


 Farmakoterapi :
- Haloperidol 1,5 mg 2 x 1
- THP 1 mg 2x1
- Diazepam 5 mg 1x1

 Non psikofarmaka
a) Edukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara
pengobatan, dan efek samping pengobatan.
- Memotivasi agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol
setelah pulang dari perawatan.
- Membantu agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari
secara bertahap
- menggali kemampuan yang bisa dikembangkan.
12

b) Eduksi terhadap keluarga:


- Memberikan penjelasan mengenai gangguan yang dialami pasien
agar keluarga lebih memaklumi kondisi pasien.
- Menyarankan agar lebih telaten dalam pengobatan pasien dengan
membawa kontrol secara teratur, memperhatikan agar minum obat
secara teratur, dan memberi dukungan agar mempunyai aktivitas
yang positif.
13

IX. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Keterbelakangan mental atau lazim disebut retardasi mental (RM) adalah
suatu keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa
perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak-anak). Biasanya terdapat
perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah
intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo =
kurang atau sedikit danfren = jiwa) atau tuna mental. Keadaan tersebut ditandai
dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata dan disertai
dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri atau berprilaku
adaptif.3
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ke-III
(PPDGJ III) adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak
lengkap, yang terutama ditandai oleh hendaya keterampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu
kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.4
Menurut American Association Mental Retardation (AAMR) 2002 adalah
suatu disabilitas yang ditandai dengan suatu limitasi/keterbatasan yang bermakna
baik dalam fungsi intelektual maupun prilaku adaptif yang diekspresikan dalam
keterampilan konseptual, social dan praktis.
Menurut Diagnostic and Scientific Manual IV-TR (DSM IV-TR) adalah
sama dengan definisi AAMR tetapi ditambahkan batas derajat IQ 70.2

2.2 Etiologi
a. Kelainan Kromosom
 Sindrom Down
Sindrom down adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya
kelebihan kromosom pada pasangan ke-21 dan ditandai dengan retardasi
mental serta anomali fisik yang beragam.1 Untuk seorang ibu usia
pertengahan (> 32 tahun), resiko memiliki anak dengan sindroma Down
14

adalah kira-kira 1 dalam 100 kelahiran. Retardasi mental adalah cirri


yang menumpang pada sindrom Down. Sebagian besar pasien berada
dlam kelompok retardasi sedang sampai berat., hanya sebagian kecil
yang memiliki IQ di atas 50. Diagnosis sindrom Down relatif mudah
pada anak yang lebih besar tetapi seringkali sukar pada neonates. Tanda
yang paling penting pada neonates adalah hipotonia umum, fisura
palpebra yang oblik, kulit leher yang berlebihan, tengkorak yang kecil
dan datar, tulang pipi yang tinggi, dan lidah yang menonjol. Dapat dilihat
juga tangan tebal dan lebar, dengan garis transversal tunggal pada telapak
tangan, dan jari kelingking pendek dan melengkung ke dalam.1

Gambar 1. Karakteristik Sindroma Down

 Sindrom Fragile X
Sindrom fragile X merupakan bentuk retardasi mental yang
diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X.1 Diyakini
terjadi pada kira-kira 1 tiap 1000 kelahiran laki-laki dan 2000 kelahiran
perempuan. Derajat retardasi mental terentang dari ringan sampai berat.
Ciri perilakunya adalah tingginya angka gangguan defisit
atensi/hiperaktivitas, ganguan belajar, dan gangguan perkembangan
pervasive seperti gangguan akuisitik. Defisit dalam fungsi bahasa adalah
15

pembicaraan yang cepat dan perseveratif dengan kelainan dalam


mengkombinasikan kata-kata membentuk frasa dan kalimat.1

 Sindrom Prader-Willi
Kelianan ini akibat dari penghilangan kecil pada kromosom 15,
biasanya terjadi secara sporadic. Prevalensinya kurang dari 1 dalam
10000. Orang dengan sindrom ini menunjukkan perilaku makan yang
kompulsif dan sering kali obesitas, retardasi mental, hipogonadisme,
perawakan pendek, hipotonia, dan tangan dan kaki yang kecil. Anak–
anak dengan sindrom ini seringkali memiliki perilaku oposisional yang
menyimpang.1

Gambar 2. Karakteristik Sindrom Prader-Willi

 Sindrom tangisan kucing (cat-cry [cri-du-chat] syndrome)


Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian dari
kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat dan
menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai dengan
penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letaknya
rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme, dan mikrognatia. Tangisan
seperti kucing yang khas (disebabkan oleh kelainan laring) yang
16

memberikan nama sindrom secara bertahap berubah dan menghilang


dengan bertambahnya usia.1
 Kelainan kromosom lain
Sindrom penyimpangan autosomal lain yang disertai dengan
retardasi mental adalah jauh lebih jarang terjadi dibandingkan Sindrom
Down.1

b. Faktor Genetik Lain


Phenylketonuria (PKU) merupakan gangguan yang menghambat
metabolisme asam phenylpyruvic, menyebabkan retardasi mental kecuali
bila pola makan amat dikontrol.3 PKU ditransmisikan dengan trait Mendel
autosomal resesif yang sederhana dan terjadi pada kira-kira yang di institusi
adalah kira-kira 1 persen dalam setiap 10.000 sampai 15.000 kelahiran
hidup. Bagi orang tua yang telah memiliki anak dengan PKU, kemungkinan
memiliki anak lain dengan PKU adalah satu dalam setiap empat sampai lima
kehamilan selanjutnya. Defek metabolisme dasar pada PKU adalah
ketidakmampuan untuk mengubah fenilalanin, suatu asam amino esensial,
menjadi paratirosin karena tidak adanya atau tidak aktifnya enzim
fenilalanin hidroksilase, yang mengkatalisis perubahan tersebut.
Sebagian besar pasien dengan PKU mengalami retardasi yang berat,
tetapi beberapa dilaporkan memiliki kecerdasan yang ambang atau normal.
Walaupun gambaran klinis bervariasi, anak PKU tipikal adalah hiperaktif
dan menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak dapat diramalkan, yang
menyebabkan sulit ditangani. Mereka seringkali memiliki temper tantrum
dan seringkali menunjukkan gerakan aneh pada tubuhnya dan anggota gerak
atas dan manerisme memutir tangan, dan perilaku mereka kadang-kadang
meyerupai anak autistic atau skizofrenik. Komunikasi verbal dan nonverbal
biasanya sangat terganggu atau tidak ditemukan. Koordiansi anak adalah
buruk, dan mereka memiliki banyak kesulitan perceptual.1
17

Gambar 3. Phenylketouria

c. Faktor Prenatal
Beberapa kasus retardasi mental disebabkan oleh infeksi dan
penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya terjadi
adalah Rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ibu juga
dapat menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis, cytomegalovirus, dan
herpes genital. Obat-obatan yang digunakan ibu selama kehamilan dapat
mempengaruhi bayi melalui plasenta. Sebagian dapat menyebabkan cacat
fisik dan retardasi mental yang parah. Anak-anak yang ibunya minum
alkohol selama kehamilan sering lahir dengan sindrom fetal dan merupakan
kasus paling nyata sebagai penyebab retardasi mental. Komplikasi
kelahiran, seperti kekurangan oksigen atau cedera kepala, infeksi otak,
seperti encephalitis dan meningitis, terkena racun, seperti cat yang
mengandung timah sangat berpotensi menyebabkan retardasi mental.3

d. Faktor Perinatal
Beberapa bukti menunjukkan bahwa bayi premature dan bayi dengan
berat badan lahir rendah berada dalam resiko tinggi mengalami gangguan
18

neurologis dan intelektual yang bermanifestasi selama tahun-tahun


sekolahnya. Bayi yang menderita pendarahan intrakranial atau tanda-tanda
iskemia serebral terutama rentan terhadap kelainan kognitif. Derajat
gangguan perkembangan saraf biasanya berhubungan dengan beratnya
perdarahan intrakranial.1

e. Gangguan Didapat Pada Masa Anak-anak


Kadang-kadang status perkembangan seorang anak dapat berubah
secara dramatik akibat penyakit atau trauma fisik tertentu. Secara
retrospektif, kadang-kadang sulit untuk memastikan gambaran kemajuan
perkembangan anak secara lengkap sebelum terjadinya gangguan, tetapi
efek merugikan pada perkembangan atau keterampilan anak tampak setelah
gangguan. Beberapa penyebab yang didapat pada masa anak-anak antara
lain :1
 Infeksi
Infeksi yang paling serius mempengaruhi interitas serebral adalah
ensefalitis dan meningitis.
 Trauma kepala
Penyebab cedera kepala yang terkenal pada anak-anak yag
menyebabkan kecacatan mental, termasuk kejang, adalah kecelakaan
kendaraan bermotor. Tetapi, lebih banyak cedera kepala yang disebabkan
oleh kecelakaan di rumah tangga, seperti terjatuh dari tangga. Penyiksaan
anak juga suatu penyebab cedera kepala.
 Masalah lain
Cedera otak dari henti jantung selama anesthesia jarang terjadi.
Satu penyebab cedera otak lengkap atau parsial adalah afiksia yang
berhubugan dengan nyaris tenggelam. Pemaparan jangka panjang dengan
timbal adalah penyebab gangguan kecerdasan dan keterampilan belajar.
Tumor intracranial dengan berbagai jenis dan asal, pembedahan, dan
kemoterapi juga dapat merugikan fungsi otak
19

f. Faktor Lingkungan dan Sosiokultural


Suatu bentuk retardasi mental dipengaruhi oleh lingkungan dengan
sosioekonomi rendah. Faktor-faktor psikososial, seperti lingkungan rumah
atau sosial yang miskin, yaitu yang memberi stimulasi intelektual,
penelantaran atau kekerasan dari orang tua, dapat menjadi penyebab atau
memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental pada anak-anak.3
TIdak ada penyebab biologis yang telah dikenali pada kasus tersebut.
Anak-anak dalam keluarga yag miskin dan kekurangan secara
sosiokultural adalah sasaran dari kondisi merugikan perkembangan dan
secara potensial patogenik. Lingkungan prenatal diganggu oleh perawatan
medis yang buruk dan gizi maternal yang buruk. Kehamilan remaja sering
disertai dengan penyulit obstetric, prematuritas, dan berat badan lahir
rendah. Perawatan medis setelah kelahiran buruk, malnutrisi, pemaparan
dengan zat toksin tertentu seperti timbale dan trauma fisik adalah serig
terjadi. Ketidakstabilan keluarga, sering pindah, dan pengasuh yang
berganti-ganti tetapi tidak adekuat sering terjadi. Selain itu, ibu dalam
keluarga tersebut sering berpendidikan rendah dan tidak siap memberikan
stimulasi yang sesuai bagi anak-anaknya.
Masalah lain yang tidak terpecahkan adalah pengaruh ganguan mental
parental yang parah. Gangguan tersebut dapat menganggu pengasuhan dan
stimulasi anak dan aspek lain dari lingkungan mereka, dengan demikian
menempatkan anak pada resiko perkembangan. Anak-anak dari orang tua
dengan gagguan mood dan skizofrenia diketahui berada dalam resiko
mengalami gangguan tersebut dan gangguan yang berhubungan. Penelitian
terakhrir menunjukkan tingginya prevalensi gangguan keterampialan
motorik dan gangguan perkembangan lainnya tetapi tidak selalu disertai
retardasi mental.1
20

2.3 Diagnosis
Menurut pedoman diagnostik PPDGJ III intelegensia bukan merupakan
karakteristik yang berdiri sendiri, melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah
besar ketrampilan khusus yang berbeda. Meskipun ada kecenderungan umum
bahwa semua ketrampilan ini akan berkembang ke tingkat yang serupa pada setiap
individu, tetapi ada ketimpangan (discrepancy) yang luas, terutama pada
penyandang RM. Orang yang demikian mungkin memperlihatkan hendaya berat
dalam satu bidang tertentu (misalnya bahasa) atau mungkin mempunyai suatu area
ketrampilan tertentu yang lebih tinggi (misalnya tugas visuospasial sederhana)
pada RM berat. Keadaan ini akan menimbulkan kesluitan dalam menentukan
kriteria diagnostik dimana seorang penyandang RM harus diklasifikasikan.
Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang
tersedia, termasuk temuan klinis, perilaku adaptif (yang dinilai dalam kaitan
dengan latar belakang budayanya), dan hasil tes psikometrik.
Untuk diagnosis pasti, harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang
meningkatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari
lingkungan sosial biasa sehari – hari. Gangguan jiwa dan fisik yang menyertai
retardasi mental mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan
penggunaan dari semua keterampilannya. Oleh karena itu kategori diagnostik
yang dipilih harus berdasarkan penilaian kemampuan global dan bukan atas suatu
hendaya atau ketrampilan khusus. Tingkat IQ yang ditetapkan hanya merupakan
petunjuk dan seharusnya tidak ditetapkan secara kaku dalam memandang
keabsahan permasalahan lintas budaya.
Kriteria diagnostik untuk RM menurut DSM IV – TR adalah sebagai
berikut:
1. Fungsi intelektual dibawah rata – rata (IQ 70 atau kurang) yang telah
diperiksa secara individual.
2. Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama dengan kekurangan
individu untuk memenuhi tuntutan standar perilaku sesuai dengan usianya
dari lingkungan budayanya) dalam sedikitnya 2 hal, yaitu komunikasi, self-
21

care, kehidupan rumah-tangga, ketrampilan sosial/interpersonal,


menggunakan sarana komunitas, mengarahkan diri sendiri, ketrampilan
akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang, kesehatan dan keamanan
3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun
Kode diagnostik dan derajat RM menurut DSM IV – TR adalah sebagai
berikut :4
317 Retardasi mental ringan, IQ 50 – 55 sampai 70
318 Retardasi mental sedang, IQ 35 – 40 sampai 50 – 55
318.1 Retardasi mental berat, IQ 20 – 25 sampai 35 – 40
318.2 Retardasi mental sangat berat, IQ dibawah 20 atau 25
Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan
hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ. Dapat dihitung
dengan :3
IQ = MA/CA x 100%
MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes
CA = Chronological Age, umur yang didapat berdasarkan perhitungan tanggal
lahir
Diagnosis retardasi mental dapat dibuat setelah riwayat penyakit,
pemeriksaan intelektual yang baku, dan pengukuran fungsi adaptif menyatakan
bahwa perilaku anak sekarang adalah secara bermakna di bawah tingkat yang
diharapakan. Diagnosis sendiri tidak menyebutkan penyebab ataupun
prognosisnya. Suatu riwayat psikiatrik adalah berguna untuk mendapatkan
gambaran longitudinal perkembangan fungsi anak, dan pemeriksaan stigma fisik,
kelainan neurologis, dan tes laboratorium dapat digunakan untuk memastikan
penyebab dan prognosis.1
a. Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit paling sering didapatkan dari orang tua atau
pengasuh, dengan perhatian khusus pada kehamilan ibu, persalinan, dan
kelahiran. Terdapat riwayat keluarga retardasi mental, hubungan darah pada
orangtua, dan gangguan herediter. Juga dapat menilai latar belakang
22

sosiokultural pasien, iklim emosional di rumah, dan fungsi intelektual


pasien.1
b. Wawancara Psikiatrik
Dua faktor yang sangat penting saat jika mewawancarai pasien adalah
sikap pewawancara dan cara berkomunikasi dengan pasien. Kemampuan
verbal pasien, termasuk bahasa reseptif dan ekspresif, harus dinilai sesegera
mungkin dengan mengobservasi komunikasi verbal dan nonverbal antara
pengasuh dan pasien dan dari riwayat penyakit. Sangat membantu jika
memeriksa pasien dan pengasuhnya bersama-sama. Jika pasien menggunakan
bahasa isyarat, pengasuh dapat sebagai penerjemah.
Orang terertardasi mengalami kegagalan seumur hidup dalam berbagai
bidang, dan mereka mungkin mengalami kecemasan sebelum menjumpai
pewawancara. Pewawancara dan pengasuh harus berusaha untuk memberikan
pasien suatu penjelasan yang jelas, suportif, dan konkret tentang proses
diagnostik, terutama pasein dengan bahasa reseptif yang memadai. Dukungan
dan pujian harus diberikan dalam bahasa yang sesuai dengan usia dan
pengertian pasien.
Pengendalian pasien terhadap pola motilitas harus dipastikan, dan bukti
klinis adanya distraktibilitas dan distorsi dalam persepsi dan daya ingat harus
diperiksa. Pemakaian bahasa, tes realitas, dan kemampuan menggali dan
pengalaman penting untuk dicatat. Sifat dan maturitas pertahanan pasien
(menundukkan diri sendiri menggunakan penghindaran, represi,
penyangkalan, introyeksi, da isolasi) harus diamati. Potensi sublimasi,
toleransi frustasi, dan pengendalian impuls (terutama terhadap dorongan
motorik, agresif, dan seksual) harus dinilai. Juga penting adalah citra diri dan
peranannya dalam perkembangan keyakinan diri, dan juga penilaian keuletan,
ketetapan hati, keingintahuan, dan kemauan menggali hal yang tidak
diketahui.
Pada umumnya pemeriksaan psikiatrik pasien yang teretardasi harus
mengungkapkan bagaimana pasien mengalami stadium perkembangan.
Dalam hal kegagalan atau regresi, juga dapat mengembangkan sifat
23

kepribadian yang memungkinkan perencanaan logis dari penatalaksanaan dan


pendekatan pengobatan. 1
c. Pemeriksaan Fisik
Berbagai bagian tubuh memiliki karakteristik tertentu yang sering
ditemukan pada orang retardasi mental dan memiliki penyebab prenatal.
Sebagai contoh, konfigurasi dan ukuran kepala memberikan petunjuk
terhadap berbagai kondisi seperti mikrosefali, hidrosefalus, dan sindroma
Down. Wajah pasien mungkin memiliki beberapa stigmata retardasi mental
yang sangat mempermudah diagnosis. Tanda fasial tersebut adalah
hipertelorisme, tulang hidung yang datar, alis mata yang menonjol, lipatan
epikantus, opasitas kornea, perubahan retina yag letaknya rendah atau
bentuknya aneh, lidah yang menonjol, dan gangguan gigi geligi. Lingkaran
kepala harus diukur sebagai bagian dari pemeriksaan klinis. Warna dan
tekstur kulit dan rambut, palatum dengan lengkung yang tinggi, ukuran
kelenjar tiroid, dan ukuran anak dan batang tubuh dan ekstremitasnya adalah
bidang lain yang digali. 1
d. Pemeriksaan Neurologis
Gangguan sensorik sering terjadi pada orang retardasi mental, sebagai
contoh sampai 10 persen orang retardasi mental mengalami gangguan
pendengaran empat kali lebih tinggi dibandingkan orang normal. Gangguan
sensorik dapat berupa gangguan pendengaran dan gangguan visual. Gangguan
pendengaran terentang dari ketulian kortikal sampai deficit pendengaran yang
ringan. Gangguan visual dapat terentang dari kebutaan sampai gangguan
konsep ruang, pengenalan rancangan, dan konsep citra tubuh.
Gangguan dalam bidang motorik dimanifestasikan oleh kelainan pada
tonus otot (spastisitas atau hipotonia), refleks (hiperefleksia), dan gerakan
involunter (koreoatetosis). Derajat kecacatan lebih kecil ditemukan dalam
kelambanan dan koordinasi yang buruk.1
e. Tes Laboratorium
Tes laboratorium yang digunakan pada kasus retardasi mental adalah
pemeriksaan urin dan darah untuk mencari gangguan metabolik. Penentuan
24

kariotipe dalam laboratorium genetic diindikasikan bila dicurigai adanya


gangguan kromosom.
Amniosintesis, di mana sejumlah kecil cairan amniotic diambil dari
ruang amnion secara transabdominal antara usia kehamilan 14 dan 16
minggu, telah berguna dalam diagnosis berbagai kelainan kromosom bayi,
terutama Sindroma Down. Amniosintesis dianjukan untuk semua wanita
hamil berusia di atas 35 tahun.
Pengambilan sampel vili korionik (CVS; chorionic villi sampling)
adalah teknik skrining yang baru untuk menentukan kelainan janin. Cara ini
dilakukan pada usia kehamilan 8 dan 10 minggu. Hasilnya tersedia dalam
waktu singkat (beberapa jam atau hari), dan jika kehamilan adalah abnormal,
keputusan untuk mengakhiri kehamilan dapat dilakukan dalam trimester
pertama. Prosedur memiliki resiko keguguran antara 2 dan 5 persen. 1
f. Pemeriksaan Psikologis
Tes psikologis, dilakukan oleh ahli psikologis yang berpengalaman,
adalah bagian standar dari pemeriksaan untuk retardasi mental. Pemeriksaan
psikologis dilakukan untuk menilai kemampuan perceptual, motorik,
linguistik, dan kognititf. Informasi tentang factor motivasional, emosional,
dan interpersonal juga penting.1

2.4 Klasifikasi
Menurut PPDGJ-III retardasi mental dibagi menjadi :4
F70 Retardasi Mental Ringan
Bila menggunakan tes IQ baku yang tepat, maka IQ berkisar antara 50 – 69
menunjukkan retardasi mental ringan.
Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai
tingkat, dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan
kemandirian dapat menetap sampai dewasa. Walaupun mengalami keterlambatan
dalam kemampuan bahasa, tapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan bicara
untuk keperluan sehari – hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam
25

merawat diri sendiri dan mencapai ketrampilan praktis dan ketrampilan rumah
tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak lambat daripada normal.
Kesulitan utama biassanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat
akademis dan banyak masalah khusus dalam membaca dan menulis.
Etiologi organik hanya dapat diidentifikasikan pada sebagian kecil
penderita. Keadaan lain yang menyertai, seperti autisme, gangguan perkembangan
lain, epilepsi, gangguan tingkah laku, atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam
berbagai proporsi. Bila terdapat gangguan demikian, maka harus diberi kode
diagnosis tersendiri.

F71 Retardasi Mental Sedang


IQ biasanya berada dalam rentang 35-49. Umumnya ada profil kesenjangan
dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam
ketrampilan visuo-spasial daripada tugas – tugas yang tergantung pada bahasa,
sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat mengadakan interaksi
sosial dan percakapan sederhana.
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi, ada yang dapat mengikuti
percakapan sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya
untuk kebutuhan dasar mereka.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasikan pada kebanyakan penyandang
retardasi mental sedang. Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan
pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh
besar pada gambaran klinis dan tipe penatalaksanaan yang dibutuhkan. Epilepsi,
disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun kebanyakan
penyandang retardasi mental sedang mampu berjalan tanpa bantuan.
Kadang – kadang didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena tingkat
perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan diagnosis dan
harus tergantung dari informasi yang diperoleh dari orang lain yang mengenalnya.
Setiap gangguan penyerta harus diberi kode diagnosis tersendiri.

F72 Retardasi Mental Berat


26

IQ biasanya berada dalam rentang 20-34. Pada umumnya mirip dengan


retardasi mental sedang dalam hal :

- Gambaranklinis
- Terdapatnyaetiologiorganik
- Kondisi yang menyertainya
- Tingkat prestasi yang rendah
- Kebanyakanpenyandangretardasi mental beratmenderitagangguanmotorik
yang mencolokataudefisitlain yang menyertainya,
menunjukkanadanyakerusakanataupenyimpanganperkembangan yang
bermaknasecaraklinisdarisusunansarafpusat.

F73 Retardasi Mental Sangat Berat


IQ biasanya dibawah 20. Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas,
hanya mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana.
Keterampilan visuospasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan
mencocokkan mungkin dapat dicapainya dan dengan pengawasan dan petunjuk
yang tepat, penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan
rumah tangga.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar kasus.
Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang mempengaruhi
mobilitas, seperti epilepsi dan hendaya daya lihat dan daya dengar. Sering ada
gangguan perkembangan pervasif dalam bentuk sangat berat khususnya autisme
yang tidak khas (atypical autism) terutam pada penderita yang dapat bergerak.

F78 Retardasi Mental Lainnya


Kategori ini hanya digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi mental
dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena
adanya gangguan sensorik atau fisik, misalnya buta, bisu, tuli dan penderita yang
perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak mampu.

F79 Retardasi Mental YTT


27

Jelas terdapat retardasi mental, tetapi tidak ada informasi yang cukup untuk
menggolongkannya dalam salah satu kategori tersebut diatas.

2.5 Penatalaksanaan
Retardasi mental berhubungan dengan beberapa gangguan heterogen dan
berbagai faktor psikososial. Terapi yang terbaik untuk retardasi mental adalah
pencegahan primer, sekunder, dan tersier.1
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan untuk
menghilangkan atau menurunkan kondisi yang menyebabkan perkembangan
gangguan yang disertai dengan retardasi mental. Tindakan tersebut termasuk :
 Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat
umum tentang retardasi mental.
 Usaha terus-menerus dari professional bidang kesehatan untuk menjaga
dan memperbaharui kebijaksanaan kesehatan masyarakat.
 Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang
optimal.
 Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan kerusakan system
saraf pusat.
Konseling keluarga dan genetik membantu menurunkan insidensi
retardasi mental dalam keluarga dengan riwayat gangguan genetic yang
berhubungan dengan retardasi mental. Untuk anak-anak dan ibu dengan
sosioekonomi rendah, pelayanan medis prenatal dan perinatal yang sesuai dan
berbagai program pelengakap dan bantuan pelayanan social dapat menolong
menekan komplikasi medis dan psikososial.
b. Pencegahan Sekunder dan Tersier
Jika suatu gangguan yang disertai dengan retardasi mental telah
dikenali, gangguan harus diobati untuk mempersingkat perjalanan penyakit
(pencegahan sekunder) dan untuk menekan sekuele atau kecacatan yang
terjadi setelahnya (pencegahan tersier).
28

Gangguan metabolik dan endokrin herediter, seperti PKU dan


hipotiroidisme, dapat diobati dalam stadium awal dengan control diet atau
dengan terapi penggantian hormone.
Anak retardasi mental seringkali memiliki kesulitan emosional dan
perilaku yang memerlukan terapi psikiatrik. Kemampuan kognitif dan sosial
yang terbatas yang dimiliki anak tersebut memerlukan modalitas terapi
psikiatrik yang dimodifikasi berdasarkan tingkat kecerdasan anak.
1) Pendidikan untuk anak
Lingkungan pendidikan untuk anak-anak dengan retardasi mental
harus termasuk program yang lengkap yang menjawab latihan
keterampilan adaptif, latihan keterampilan sosial, dan latihan kejujuran.
Perhatian khusus harus dipusatkan pada komunikasi dan usaha untuk
meningkatkan kualitas hidup. Terapi kelompok seringkali merupakan
format yang berhasil dimana anak-anak dengan retardasi mental dapat
belajar dan mempraktekkan situasi hidup nyata dan mendapatkan umpan
balik yang mendukung.
2) Terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika
Kesulitan dalam beradaptasi di antara orang retardasi mental
adalah luas dan sangat bervariasi sehingga sejumlah intervensi sendiri
atau dalam kombinasi mungkin berguna.
Terapi perilaku telah digunakan selama bertahun-tahun untuk
membentuk dan meningkatkan perilaku sosial dan untuk mengendalikan
dan menekan perilaku agresif dan destruksi pasien. Dorongan positif
untuk perilaku yang diharapkan dan memulai hukuman (seperti mencabut
hak istimewa) untuk perilaku yang tidak diinginkan telah banyak
menolong.
Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu dan latihan
relaksasi dengan instruksi dari diri sendiri, juga telah dianjurkan untuk
pasien retardasi mental yang mampu mengikuti instruksi pasien.
29

Terapi psikodinamika telah digunakan pada pasien retardasi mental


dan keluarganya untuk menurunkan konflik tentang harapan yang
menyebabkan kecemasan, kekerasan, dan depresi yang menetap.
3) Pendidikan keluarga
Satu bidang yang penting dalam pendidikan keluarga dari pasien
dengan retardasi mental adalah tentang cara meningkatkan kompetensi
dan harga diri sambil mempertahnkan harapan yang realistic untuk
pasien. Keluarga seringkali merasa sulit untuk menyeimbangkan antara
mendorong kemandirian dan memberikan lingkungan yang mengasuh
dan suportif bagi anak retardasi mental, yang kemungkinan mengalami
suatu tingkat penolakan dan kegagalan di luar konteks keluarga.
Orang tua mungkin mendapatkan manfaat dari konseling yang
terus-menerus datau terpai keluarga. Orang tua harus diberikan
kesempatan untuk mengekspresikan perasaan bersalah, putus asa,
kesedihan, penyangkalan yang terus-menerus timbul, dan kemarahan
tentang gangguan dan masa depan anak. Dokter psikiatrik harus siap
untuk memberikan semua informasi medis dasar dan terakhir tentang
penyebab, terapi, dan bidang lain yang berhubungan (seperti latihan
khusus dan perbaikna defek sensorik).
4) Intervensi farmakologis
Pendekatan farmakologis dalam terpai gangguan mental komorbid
pada pasien retardasi mental adalah banyak kesamaannya seperti untuk
pasien yang tidak mengalami retardasi mental. Semakin banyak data
yang mendukung pemakaian berbagai medikasi untuk pasien dengan
gangguan mental yang tidak retardasi mental. Beberapa penelitian telah
memusatkan perhatian pada pemakaian medikasi untuk sindrom perilaku
berikut ini yang sering terjadi di antara retardasi mental:
 Agresi dan perilaku melukai diri sendiri
o Beberapa bukti dari penelitian telah menyatakan bahwa lithium
(Eskalith) berguna dalam menurunkan agresi dan perilaku
melukai diri sendiri.
30

o Antagonis narkotik seperti naltrexone (Trexan) telah dilaporkan


menurunkan perilaku melukai diri sendiri pada pasien retardasi
mental yang juga memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan
austik infantile. Satu hipotesis yang diajukan sebagai
mekanisme kerja terapi naltrexone adalah bahwa obat
mempengaruhi pelepasan opioid endogen yang dianggap
berhubungan dengan melukai diri sendiri.
o Carbamazepine (Tegretol) dan valproic acid (Depakene) adalah
medikasi yang juga bermanfaat pada beberapa kasus perilaku
melukai diri sendiri.
 Gerakan motorik stereotipik
Medikasi antipsikotik, seperti haloperidol (Haldol) dan
chlorpromazine (Thorazine), menurunkan perilaku stimulasi diri
yang berulang pada pasien retardasi mental, terapi medikasi tersebut
tidak meningkatkan perilaku adaptif. Beberapa anak dan orang
dewasa (sampai sepertiga) dengan retardasi mental menghadapi
resiko tinggi mengalami tardive dyskinesia dengan pemakaian
kontinu medikasi antipsikotik.
 Perilaku kemarahan eksplosif
Penhambat-β, seperti propranolol dan buspirone (BuSpar), telah
dilaporkan menyebabkan penurunan kemarahan ekspolasif di antara
pasien dengan retardasi mental dan gangguan autistik. Penelitian
sistematik diperlukan sebelum obat dapat ditetapkan sebagai manjur.
 Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas
Penelitian terapi methylphenidate pada pasien retardasi mental
ringan dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas telah
menunjukkan perbaikan bermakna dalam kemampuan
mempertahankan perhatian dan menyelesaikan tugas. Penelitian
terapi metylphenidate tida menunjukkan bukti adanya perbaikan
jangka panjang dalam keterampilan sosial atau belajar.
31
32

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R (ed). 2001.Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-


III. Jakarta: Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, PT Nuh Jaya
2. Sadock B J, Sadock V A. Kaplan & Sadock. 2010.Buku Ajar Psikiatri Klinis
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta: EGC
3. Maslim, R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi Ketiga. Jakarta : FK Unika Atmajaya