Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor industri biasanya menjadi penyumbang terbesar pendapatan
domestik dalam suatu daerah, salah satunya adalah kota Makassar. Makassar
merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang kini mulai menunjukkan
kemajuan dan menjadi incaran para pencari kerja. Hal ini disebabkan karena
Kota Makassar sebagai ibukota provinsi telah secara bertahap mulai
menumbuhkan kawasan-kawasan industri dalam pembangunan daerahnya.
Kondisi ini kemudian menjadikan kota Makassar sebagai salah satu kota
terpadat di Indonesia sekaligus sebagai kota dengan kemampuan perekonomian
yang cukup baik.
PT.KIMA sebagai Kawasan Industri Pemerintah merupakan wahana untuk
lokasi industri yang berwawasan lingkungan yang dalam kurun waktu selama
ini mengalami perkembangan pesat dan mendapat pengakuan Internasional
berupa sertifikat ISO 9001, menjadi perusahaan BUMN terbaik serta peringkat
pertama, Kawasan Industri dalam Lingkungan Kementrian BUMN Versi
INFOBANK 2013. Hal ini menjadikan PT. KIMA sebagai pengelola Kawasan
Industri di Kawasan Timur Indonesia yang terdepan. Kebijakan pembangunan
Industri Nasional melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RJPJ) 2005-
2025 yang direncanakan secara nasional maupun melalui pendekatan industri
berbasis produktivitas wilayah (Daerah) telah memberikan sumbangan berarti
bagi Pembangunan Ekonomi Nasional dalam menciptakan Kesejahteraan dan
Kemakmuran bagi masyarakat dan dunia usaha. Sejalan dengan hal tersebut,
Pemerintah Sulawesi Selatan telah merekomendasikan pengembangan
Kawasan Industri baru, KIMA 2 Maros sebagai bagian dari konsep
pengembangan Kawasan Strategis Propinsi Mamminasata. (Makassar, Maros,
Sungguminasa, Gowa, Takalar). (sumber: https://www.ptkimamakassar.co.id,
diakses 19 November 2017)

Pesatnya perkembangan sektor industri mempengaruhi perekonomian kota


Makassar. Ini dapat dilihat dari perkembangan areal perindustrian di Kawasan
Industri Makassar (KIMA) di Kecamatan Biringkanaya. KIMA adalah kawasan

1
industri besar yang telah cukup lama berkembang. Perkembangan industri ini
mendatangkan atau menciptakan kesempatan kerja dan perubahan perilaku
masyarakat, baik masyarakat yang berasal dari wilayah sekitar industri ataupun
berasal dari luar wilayah tersebut.

Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014


tercatat 14.264 jiwa jumlah tenaga kerja dari 28 perusahaan industri besar dan
69 perusahaan industri sedang, pada tahun 2015 tercatat 16.159 jiwa jumlah
tenaga kerja dari 29 perusahaan industri besar dan 71 perusahaan industri
sedang dan pada tahun 2016 tercatat 16.660 jiwa jumlah tenaga kerja dari 28
perusahaan industri besar dan 62 perusahaan industri sedang. Dari data di atas
dapat kita simpulkan bahwa pada tahun 2014–2016, jumlah tenaga kerja
meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi jumlah
pekerja yang meningkat setiap tahunnya dibutuhkan permukiman yang layak
bagi para pekerja. (sumber: https://sulsel.bps.go.id, diakses 1 desember 2017)

Rumah adalah suatu nikmat dari Allah yang terkadang, bahkan sering
‘dilupakan’ oleh manusia. Padahal dengan adanya rumah, manusia bisa
mendapatkan banyak sekali kemudahan dan kesenangan dalam hidup. Allah
mengingatkan kita akan kenikmatan ini dalam Qur’an Surah An-Nahl,Ayat:80:

ْ َ ‫س َكنًا َو َجعَ َل لَ ُك ْم ِم ْن ُجلُو ِد ْاْل َ ْنعَ ِام بُيُوت ًا ت‬


‫ست َ ِخفُّونَ َها يَ ْو َم َظ ْعنِ ُك ْم َو َي ْو َم‬ َ ‫َّللاُ َجعَ َل لَ ُك ْم ِم ْن بُيُوتِ ُك ْم‬
‫َو ه‬
‫شعَ ِار َها أَثَاثًا َو َمتَاعًا إِلَ ٰى ِحين‬ ْ َ ‫إِقَا َمتِ ُك ْم َو ِم ْن أَص َْوافِ َها َوأ َ ْوبَ ِار َها َوأ‬

Terjemahan :
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan
Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang
ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan
waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta
dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai)
sampai waktu tertentu”. (Surah An-Nahl Ayat 80)
Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa
Ayat ini mengingatkan manusia tentang nikmat yang dapat diperolehnya dari
binatang ternak itu dengan menyatakan bahwa dan di samping nikmat-nikmat
yang lalu (nikmat untuk memperoleh hal-hal yang bersifat immaterial yakni
sarana perolehan pengetahuan), Allah juga menjadikan bagi kamu dalam hal

2
ini rumah-rumah kamu sebagai tempat tinggal yang dapat memberi ketenangan
menghadapi gangguan lahir dan batin dan dia menjadikan bagi kamu dari kukit
binatang ternak seperti unta, sapi, kambing dan sebagainya rumah-rumah
yakni kemah-kemah berdampingan yang kamu merasakannya ringan
membawanya pada hari, yakni di waktu kamu berpergian dan pada hari, yakni
di waktu kamu bermukim dan dijadikan-Nya pula untuk kamu dari bulu domba,
bulu onta dan bulu kambing, aneka alat-alat rumah tangga dan kesenangan,
yakni perhiasan serta hal-hal lain yang menyenangkan untuk kamu pakai dan
nikmati sampai waktu tertentu yang singkat. (Tafsir Al-misbah hal : 311-312)

Para pekerja di kawasan industri Makassar cenderung bertempat tinggal


jauh dari lingkungan kerja atau menyewa tempat tinggal yang dekat dari
lingkungan kerja. Keduanya menimbulkan permasalahan, bagi yang bertempat
tinggal jauh dari lingkungan kerja membutuhkan biaya transportasi yang besar,
bertambahnya waktu tempuh, meningkatnya resiko di jalan, kemacetan lalu
lintas dan lain-lain. Sedangkan bagi mereka yang menyewa tempat tinggal
dapat menimbulkan lingkungan kumuh di sekitar kawasan industri dan
ketidaklayakan hunian. Jika tempat kerja dekat dengan tempat tinggal, waktu
tak banyak terbuang di jalan. Para pekerja pun lebih bisa berhemat, bahkan
meningkatkan kualitas hidup karena frekuensi bertemu dengan keluarga lebih
banyak. Pada jam istirahat siang, misalnya tidak sedikit pekerja yang memilih
pulang ke rumah dan makan bersama dengan keluarga. Karena lokasinya dekat
maka tingkat biaya yang dikeluarkan untuk transportasipun berkurang baik
bagi pekerja maupun dari kalangan industri.

Dengan adanya permasalahan tersebut, diperlukan adanya penyediaan


fasilitas hunian yang memadai di kawasan industri. Tempat tinggal yang layak
dan terjangkau serta mampu memenuhi kebutuhan bermukim akan tingkat
aksesbilitas yang tinggi pada lingkungan industri dan memberikan nuansa yang
berbeda bagi kalangan pekerja maupun industri itu sendiri. Oleh kerena itu,
Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bagi Pekerja Industri KIMA di
Makassar sebagai solusi permasalahan di atas dan diharapkan dapat lebih
meningkatkan produktivitas para pekerja.

3
Adapun penekanan desain yang digunakan yaitu arsitektur bioklimatik.
Arsitektur bioklimatik merupakan suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek
untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan
antara bentuk arsitektur dengan lingkungan iklim daerah tersebut. Dengan
strategi perancangan tersebut, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang
tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak menkonsumsi
energi serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang tidak
dapat diperbaharui.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana mendesain Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bagi
Pekerja Industri KIMA di Makassar yang efektif dengan fasilitas yang sesuai
kondisi sosial-ekonomi para pekerja?
C. Tujuan Dan Sasaran Pembahasan
1. Tujuan Pembahasan
Menghasilkan acuan perencanaan desain Rumah Susun Sederhana Sewa
(Rusunawa) Bagi Pekerja Industri KIMA di Makassar dengan penerapan
Arsitektur Bioklimatik.
2. Sasaran Pembahasan
Sasaran yang ingin dicapai dalam perencanaan Rumah Susun Sederhana
Sewa (Rusunawa) Bagi Pekerja Industri KIMA di Makassar, yaitu :
a. Pengolahan tapak
b. Pemrograman ruang
c. Pengolahan bentuk
d. Pendukung dan kelengkapan bangunan
e. Pendekatan Arsitektur bioklimatik
D. Lingkup dan Batasan Pembahasan
1. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan mencakup tentang kajian aspek-aspek dasar
arsitektur dalam hal perencanaan dan perancangan dalam Rumah Susun
Sederhana Sewa (Rusunawa) Bagi Pekerja Industri KIMA di Makassar.

4
2. Batasan Pembahasan
Ada beberapa hal yang membatasi dalam pembahasan agar lebih
objektif, antara lain :

a. Fungsi bangunan
Fungsi bangunan menjadi suatu wadah yang dapat memenuhi
kebutuhan pekerja serta dapat meningkatkan taraf hidup penghuninya.
b. Penekanan desain
Studi tentang Arsitektur bioklimatik sebagai pendekatan
perencanaan dan perancangan Rumah Susun Sederhana Sewa
(Rusunawa) Bagi Pekerja KIMA di Makassar.
c. Pengguna bangunan
Rumah susun di desain untuk mewadahi fungsi utama sebagai
tempat tinggal bagi pekerja industri.
d. Prediksi kapasitas bangunan
Perencanaan berdasarkan pertimbangan kemungkinan di masa yang
akan datang dan diprediksi sampai dengan 10 tahun yang akan datang.
E. Metode Pembahasan
Dalam melakukan pembahasan mengenai judul, ada beberapa metode yang
digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan hingga menghasilkan
sebuah desain, yaitu:
1. Penelitian Lapangan
Penyusun melakukan pengamatan atau penelitian lapangan dengan
survey lansung ke lokasi.
2. Tinjauan Pustaka
Digunakan penyusun untuk mencari dan mengumpulkan data yang
diperlukan dari bahan-bahan referensi seperti buku dan website.
3. Tinjuan Preseden
Melakukan studi komparasi atau perbandingan terhadap fasilitas-
fasilitas sejenis yang sudah ada sebagai suatu bahan untuk perbandingan
untuk memperoleh masukan yang dapat diterapkan pada rancangan dan
memperoleh pemahaman mengenai factor-faktor pendukung persyaratan
teknis bangunan.

5
4. Analisis dan Deskripsi
Melakukan penyusunan dan penggabungan, serta perbaikakan dari
bahan-bahan ang telah diperoleh dari hasil penelitian lapangan dan metode
kepustakaan serta studi preseden.
5. Penyajian
Hasil dari pembahasan dan penelitian disajiakan dalam bentuk sebuah
desain kompleks.
F. Sistematika Pembahasan
Pembahasan terdiri dari 6 bab dan tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab
pembahasan, antara lain :
BAB I Pendahuluan
Merupakan penjabaran mengenai latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan dan sarana pembahsan. Kemudian
menjabarkan ruang lingkup pembahasan yang mencakup
pembatasan masalah, metode pembahsan dan perancangan serta
sitematika pembahasan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Merupakan tahap penyajian data yang mengungkapkan secara
umum sesuai judul dan tematik. Mulai dari studi literatur, studi
kasus dengan fungsi bangunan sejenis dan resume.
BAB III Pendekatan Desain
Merupakan tahap pengumpulan data sesuai yang ada di
lapangan dan kebutuhan yang sebenarnya, seperti data lokasi, pelaku
kegiatan, kebutuhan ruang serta besaran yang lainnya.
BAB IV Pendekatan Desain
Merupakan tahap analisis antara studi literatur dengan keadaan
dan kebutuhan yang sebenarnya. Menghasilkan beberapa gagasan
yang dapat diaplikasikan pada perancangan fisik.

6
BAB V Transformasi Konsep
Merupakan sebuah eksplorasi atau tahap analisa data dari
gagasan yang sudah ada, menghasilkan sebuah penerapan ide berupa
sketsa atau konsep
BAB VI Hasil Desain
Merupakan hasil dari analisis dan eksplorasi konsep yang
dituangkan ke dalam desain yang lebih kompleks, meliputi : site
plan, denah, tampak, potongan, rencana utilitas dan detail aplikasi
tema.