Anda di halaman 1dari 4

PEMBERIAN ANESTESI LOKAL DAN SEDASI

DI PUSKESMAS
No. Dokumen :
SOP/033-UKP/PKM-PRII

SOP No. Revisi :0

Tanggal Terbit : 10 Maret 2017

Halaman : 1/4
UPTD PUSKESMAS dr. Sari Manurung, MM
PERUMNAS II NIP. 197407192009022001

1. Pengertian 1. Pemberian anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit


atau nyeri terbatas pada area tertentu saja / lokal tanpa disertai
hilangnya kesadaran.
2. Obat anestesi lokal/regional adalah obat yang menghambat hantaran
saraf bila diberikan secara lokal.
3. Pemberian Sedasi di puskesmas adalah pemberian obat sedasi
(diazepam suppositoria) yang digunakan untuk menanggulangi kejang
pada anak.
4. Pemberian anestesi lokal dan sedasi yang dapat dilakukan di
Puskesmas Perumnas II antara lain :
4.1 Anestesi permukaan adalah pengolesan atau penyemprotan
analgetik lokal diatas selaput mukosa seperti mukosa mulut
4.2 Anestesi infiltrasi adalah penyuntikan larutan analgetik lokal
langsung diarahkan disekitar daerah luka atau area insisi. Cara
infiltrasi yang sering digunakan adalah blokade lingkar dan larutan
obat disuntikan intradermal atau subkutan.
4.3 Anestesi blok adalah penyuntikan analgetik lokal langsung ke
saraf utama atau pleksus saraf.
4.4 Sedasi (diazepam) diberikan secara suppositoria dengan dosis 5
mg (BB < 10 kg) dan 10 mg ( BB > 10 kg ).
5. Contoh obat anestesi lokal dan sedasi yang digunakan di Puskesmas
Perumnas II :
5.1 Lidokain (xylocain) adalah anestesi lokal kuat yang digunakan
secara topikal dan suntikan. Efek anestesi lebih
kuat,cepat,ekstensif dibanding prokain.
5.2 Diazepam/Stesolit suppositoria.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menghilangkan rasa sakit
sementara ketika melakukan tindakan bedah minor dan untuk mengatasi
kejang pada anak.
3. Kebijakan SK Kepala UPTD Puskesmas Perumnas II Nomor : 440/040/SK/PKM-
PRII/2017 Tentang Jenis Sedasi/Anastesi Lokal Yang Dapat Dilakukan Di
UPTD Puskesmas Perumnas II
4. Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun
2014 Tentang Puskesmas.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas
Kesehatan Primer
5. Prosedur/Lan 1. Alat :
gkah-langkah a. Spuit 3 cc
b. Bengkok / cawan ginjal steril
c. Lidokain
d. Diazepam Suppositoria 5 mg / 10 mg
e. Kassa steril
f. Larutan Betadin
g. Larutan Alkohol 70%
h. Form inform consent
2. Petugas yang melaksanakan :
a. Dokter
b. Perawat
c. Bidan
3. Langkah-langkah :
Tindakan pemberian anestesi lokal pada tindakan bedah minor :
a. Dokter / petugas mengidentifikasi pasien, mencocokkan identitas
pasien dengan status pasien.
b. Dokter / petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik (
status lokalis ) pasien.
c. Dokter / petugas mendokumentasikan data pasien ke status
pasien.
d. Dokter / petugas menjelaskan mengenai tindakan anestesi lokal
yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarganya beserta
resikonya.
e. Dokter / petugas meminta pasien / keluarganya untuk
menandatangani informed consent persetujuan tindakan
anestesi yang akan dilakukan.
f. Petugas meminta pasien ke ruang tindakan, dan memposisikan
area luka yang akan dilakukan anestesi / tindakan agar mudah
untuk di akses.
g. Petugas menyiapkan cawan ginjal steril, spuit 3 cc dan lidokain.
h. Petugas membuka bungkus spuit 3 cc secara steril dan
meletakkan pada cawan ginjal steril.
i. Dokter / petugas mencuci tangan dan menggunakan APD.
j. Dokter / petugas melakukan desinfeksi dengan larutan betadin
dan alkohol 70% pada area yang akan dilakukan anestesi secara
melingkar dari dalam ke luar.
k. Dokter / petugas mengambil obat anestesi dengan spuit 3 cc
dibantu dengan petugas lain yang membukakan ampul obat
anestesi.
l. Dokter / petugas memberitahukan pasien kalau akan segera
dilakukan penyuntikan obat anestesi.
m. Dokter / petugas menyuntikkan obat anestesi lokal di sekeliling
area yang akan dilakukan tindakan dengan teknik infiltrasi(
disuntikan intradermal atau subkutan ).
n. Dokter / petugas menunggu 1-2 menit sampai obat anestesi
bekerja dan pasien sudah tidak merasakan sakit pada area
tindakan dan sekitarnya.
o. Dokter / petugas melakukan monitoring status fisiologis selama
tindakan anestesi.
p. Untuk memastikan dokter / petugas menanyakan pada pasien
dengan memberikan rangsangan nyeri pada sekitar area tindakan
apakah masih nyeri atau tidak.
q. Petugas membersihkan luka dengan larutan NaCl 0,9 %, setelah
pasien tidak merasa nyeri.
r. Dokter / petugas melakukan tindakan bedah minor.
s. Dokter / petugas melakukan monitoring status fisiologis segera
setelah tindakan pembedahan dilakukan.
t. Setelah selesai tindakan, dokter / petugas mendokumentasikan
data pasien dan tindakan yang dilakukan ke status pasien.
Tindakan pemberian sedasi ( diazepam ) pada anak dengan kejang :
a. Dokter / petugas memastikan identitas pasien secara cepat.
b. Dokter melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik dengan cepat
c. Dokter menjelaskan kepada orang tua pasien bahwa pasien perlu
segera diberikan diazepam suppositoria, resiko jika tidak
diberikan dan kemungkinan efek samping obat yang timbul.
d. Dokter meminta orang tua pasien untuk menandatangani
informed consent persetujuan tindakan pemberian obat.
e. Petugas / perawat memberikan diazepam suppositoria perrektal.
f. Dokter / petugas melakukan monitoring status fisiologis selama
dan segera setelah pemberian diazepam suppositoria.
g. Dokter / petugas mendokumentasikan semua proses tindakan
yang dilakukan.
6. Bagan Alir -
7. Hal-hal yang
1. Tempat yang akan dilakukan penyuntikan anestesi harus didesinfeksi.
perlu
2. Ada tidaknya alergi terhadap obat yang akan diberikan.
diperhatikan
8. Unit Terkait 1. Ruang tindakan
2. Ruang Pemeriksaan KIA
9. Dokumen 1. Rekam medis
Terkait 2. Form informed consent
10. Rekaman No. Yang Diubah Isi Perubahan Tanggal mulai
Historis diberlakukan
Perubahan