Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Ischialgia merupakan penyakit kelainan pada nervus ischiadicus yang


ditandai nyeri hebat pada punggung bawah dan menjalar melewati paha belakang
hingga kaki. Ischialgia dapat disebabkan oleh beberapa penyakit yang mendasarinya
seperti misalnya herniasi diskus, stenosis tulang punggung, spondylolisthesis,
piriformis syndrome, tumor, maupun trauma.
Di Indonesia berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Pokdi Nyeri
PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia) di Poliklinik Neurologi
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada tahun 2002 menemukan
prevalensi penderita Ischialgia sebanyak 15,6 %. Angka ini berada pada urutan kedua
tertinggi sesudah sefalgia dan migren yang mencapai 34,8%. Dari hasil penelitian
secara nasional yang dilakukan di 14 kota di Indonesia juga oleh Pokdi Nyeri
PERDOSSI tahun 2002 ditemukan sebanyak 18,13% penderita Ischialgia dengan
rata-rata nilai VAS sebesar 5,46 ± 2,56 yang berarti nyeri sedang sampai berat. 50%
diantaranya adalah penderita berumur antara 41-60 tahun (Purba & Rumawas, 2006).
Menurut Mahadewa (2013) sakit yang menyebar dari punggung bawah
menuju paha belkang hingga kaki merupakan tanda khas pada ischialgia. Sakit yang
terjadi dapat beragam, mulai dari yang ringan hingga seperti tertusuk-tusuk, dapat
dirasakan seperti tersetrum listrik. Rasa sakit ini akan bertambah parah apabila
penderita batuk, bersin, atau duduk dalam waktu yang lama. Masyarakat harus tau
bahwa kondisi ischialgia perlu mendapatkan pelayanan medis yang tepat dan sesuai
termasuk didalamnya fisioterapi yang dapat berperan dalam mengurangi nyeri,
meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan aktivitas
fungsional penderita dengan modalitas fisioterapi, seperti Transcutaneus Electrical
Nerve Stimulation (TENS) dan Neurodynamic.

1
BAB II
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
 Nama : Tn. A
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 25 tahun
 Alamat : RT 04 Desa Senaung Kec Jaluko, Kab Muaro Jambi
 Status Perkawinan : Menikah
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Pedagang
 Pendidikan : SMA
 Suku Bangsa : Jambi
 Tanggal Masuk RS : 24 September 2017
 Ruang Perawatan : Neurologi

DAFTAR MASALAH
No. Masalah Aktif Tanggal Masalah Pasif Tanggal
1 Nyeri pangkal paha kiri 24-9-2017

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada hari Minggu, tanggal 24 September 2017 pada
1. Keluhan Utama : Nyeri pangkal paha kepala sejak 1 minggu SMRS.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
 Lokasi : Nyeri dirasakan di pangkal paha sebelah kiri, nyeri mulai
dari pangkal paha dan kebas dari lutut hingga keujung
kaki.
 Onset : Semakin lama semakin memberat.
 Kualitas : Nyeri dirasakan tajam dan hebat sehingga mengganggu
aktivitas sehari-hari pasien.
 Kuantitas : Dari skala 0-10, menurut pasien nyerinya di skala 9.

2
 Kronologis :
Pasien diantar keluarga dengan keluhan nyeri pangkal paha sebelah
kiri yang dirasakan sejak 1 minggu SMRS. Nyeri pada pangkal paha
sebelah kiri dirasakan semakin lama semakin memberat, terus-menerus,
dan tajam, mulai dari pangkal paha dan dirasakan kebas dari lutut
hingga keujung kaki. Rasa nyeri semakin terasa berat bila pasien
berjalan serta beraktivitas dan sedikit berkurang bila pasien berbaring
sambil menekuk paha dan lutut atau beristirahat. Namun, pasien
mengaku tidak bisa tidur 4 hari SMRS karena nyeri yang dirasakan
semakin hebat. Pasien merupakan penderita hemofilia.
 Faktor yang memperberat : Beraktivitas.
 Faktor yang memperingan : Berbaring sambil menekuk paha dan lutut
atau beristirahat.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan seperti ini sudah pernah dirasakan + 2 bulan SMRS dan
nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan pernah terjatuh dari motor +
6 bulan SMRS.
4. Riwayat Pengobatan
Dua bulan SMRS pasien sudah pernah dua kali berobat ke dokter namun
keluhan hanya hilang untuk sementara dan kemudian muncul kembali. Untuk
mengurangi rasa nyeri tersebut pasien juga mengatakan membeli sendiri obat
anti dorin namun nyeri juga hilang hanya untuk sementara dan timbul kembali.
5. Riwayat Kebiasaan
Kegiatan pasien sehari-hari adalah pedagang di jalan arah ke Merlung.
Sehari-hari pasien biasa menggunakan motor dan membawa beban berat,
merokok (+), mengkonsumsi jamu-jamuan (-), minum alkohol (-).
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal serupa. Namun ayah
pasien mempunyai riwayat penyakit hemofilia, riwayat HT (-), riwayat DM (-).

3
7. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan kepala keluarga dengan seorang istri dan satu orang anak.
Pasien tinggal bersama istri dan anaknya yang masih berusia 6 tahun. Sumber
keuangan keluarga didapatkan dari hasil berdagang. Pasien berobat sebagai
pasien bpjs.

III. PEMERIKSAAN FISIK (OBJEKTIF)


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 7 Agustus 2017.
1. Keadaan Umum
 Kesadaran : Compos mentis
 Kesan sakit : Tampak sakit sedang
 Kesan gizi : Gizi cukup

2. Tanda Vital
 Tekanan darah : 160/90 mmHg
 Nadi : 92 kali/menit
 Respirasi : 22 kali/menit, pernapasan reguler
 Suhu : 36,6° C
 SpO2 : 98 %
 Skala nyeri :9

3. Status Generalis
 Kepala : Normocephal
 Mata : Edema palpebra (-/-), conjungtiva anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-), pupil bulat, isokor,  ± 3 mm/± 3
mm, refleks cahaya (+)/(+), katarak -/-
 THT : Dalam batas normal
 Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa kering (-), lidah hiperemis
(-), T1-T1, faring hiperemis (-).

4
 Leher : JVP 5-2 cm H2O, pembesaran KGB (-), pembesaran
tiroid (-)
 Dada : Simetris, tidak ada retraksi
 Jantung :
- Inspeksi : Tidak terlihat
- Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : BJ I dan BJ II regular, gallop (-), murmur (-)
 Paru :
- Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kanan dan kiri
- Palpasi : Massa (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-),
fremitus taktil sama kanan dan kiri
- Perkusi : Vocal fremitus sama kiri dan kanan, sonor
(+/+)
- Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Perut :
- Inspeksi : Tampak datar, distensi (-), massa (-)
- Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (+), undulasi
(-), shifting dullness (-), hepar dan lien tidak
teraba
- Perkusi : Timpani (+)
- Auskultasi : Bising usus (+) N
 Alat kelamin : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)/(-), sianosis (-)/(-)

4. Status Psikitus
Cara berpikir : Baik.
Perasaan hati : Cukup Baik.
Tingkah laku : Normoaktif.
Ingatan : Baik.

5
Kecerdasan : Baik.

5. Status Neurologis
a. Kepala
Nyeri tekan : (-)
Simetri : (+)
Pulsasi : (-)
b. Leher
Sikap : Normal
Pergerakan : Normal
Kaku kuduk : (-)
Tabel 2.1 Nervus Kranialis
Nervus Kranialis Kanan Kiri
N I (Olfaktorius)
Subjektif Baik Baik
Objektif (dengan bahan) Baik Baik
N II (Optikus)
Tajam penglihatan Baik Baik
Lapangan pandang Baik Baik
Melihat warna Baik Baik
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N III (Okulomotorius)
Sela mata Simetris Simetris
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Pergerakan bola mata Normal Normal
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
Ekso/endotalmus Tidak ada Tidak ada
Pupil :
bentuk Bulat, isokor, 3 mm Bulat, isokor, 3 mm
reflex cahaya + +
reflex konvergensi + +
Melihat kembar - -
N IV (Trochlearis)
Pergerakan bola mata ke Normal Normal
bawah-dalam
Diplopia - -
N V (Trigeminus)
Motorik

6
Otot Masseter Normal Normal
Otot Temporal Normal Normal
Otot Pterygoideus Normal Normal
Sensorik
Oftalmikus Normal Normal
Maksila Normal Normal
Mandibula Normal Normal
N VI (Abdusen)
Pergerakan bola mata Normal Normal
(lateral)
Diplopia - -
N VII (Fasialis)
Mengerutkan dahi Simetris Simetris
Menutup mata Normal Normal
Memperlihatkan gigi Normal Normal
Bersiul Normal Normal
Sensasi lidah 2/3 depan Normal Normal
N VIII (Vestibularis)
Suara berbisik Normal Normal
Detik arloji Normal Normal
Rinne test Normal Normal
Weber test Normal Normal
Swabach test Normal Normal
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
N IX (Glossofaringeus)
Sensasi lidah 1/3 blkg Normal Normal
Refleks muntah + +
N X (Vagus)
Arkus faring Simetris
Berbicara Normal
Menelan Baik
Refleks muntah Baik
Nadi Normal
N XI (Assesorius)
Menoleh ke kanan + +
Menoleh ke kiri + +
Mengangkat bahu + +
N XII (Hipoglosus)
Kedudukan lidah Lurus ke depan
dijulurkan
Atropi papil -
Disartria -
Badan dan Anggota Gerak Kanan Kiri

7
Badan
Motorik
Respirasi Simetris Simetris
Duduk Normal Normal
Bentuk kolumna vertebralis Normal Normal
Pergerakan kolumna vertebralis Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensibilitas
Taktil Normal Normal
Nyeri Normal Normal
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Reflek kulit perut atas Normal Normal
Reflek kulit perut tengah Normal Normal
Reflek kulit perut bawah Normal Normal
Anggota Gerak Atas
Motorik
Pergerakan + +
Kekuatan 5 5
Tonus Normal Normal
Trofi Eutrofi Eutrofi
Sensibilitas
Taktil Normal Normal
Nyeri Normal Normal
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Biseps ++ ++
Triseps ++ ++
Hoffman-Tromner - -
Anggota Gerak Bawah
Motorik
Pergerakan + +
Kekuatan 5 4
Tonus Normal Normal
Trofi Eutrofi Eutrofi
Sensibilitas
Taktil Normal -
Nyeri Normal -
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Patella ++ ++
Achilles ++ ++
Babinsky - -
Chaddock - -

8
Rossolimo - -
Mendel-Bechterew - -
Schaefer - -
Oppenheim - -
Klonus Paha - -
Klonus Kaki - -
Tes Laseque - +
Kontra Laseque - -
Patrick - +
Kontra Patrick - +
Bragard - -
Sicard - -

Koordinasi, Gait dan Keseimbangan Hasil Pemeriksaan


Cara berjalan Butuh bantuan
Test Romberg -
Disdiadokinesis -
Ataksia -
Rebound Phomenon -
Dismetria -

Gerakan-gerakan Abnormal Hasil Pemeriksaan


Tremor -
Athetosis -
Miokloni -
Khorea -

Alat Vegetatif Hasil Pemeriksaan


Tidak ada kelainan 2-3 kali
Miksi sehari, warna kuning, nyeri (-),
darah (-).
Tidak ada kelainan 1-2 kali
Defekasi
sehari, nyeri (-), darah (-)

Tes tambahan
Tes Nafziger Tidak dilakukan
Tes Valsava Tidak dilakukan

6. Status lokalis punggung


 Look (inspeksi)

9
Tidak tampak deformitas, bengkak, kemerahan, panas.
 Feel (palpasi)
Nyeri tekan pada area punggung sekitar lumbal 5- sacrum 1
 Move (gerak)
Pasien terbatas melakukan gerakan-gerakan tertentu karena
menimbulkan nyeri.

IV. RINGKASAN
S:
 Nyeri pangkal paha kiri ± 1 minggu SMRS
 Kualitas nyeri dirasakan secara perlahan yang makin lama makin memberat seperti
di tusuk-tusuk
 Nyeri di rasakan terus menerus dan sulit untuk beraktivitas.
 Nyeri semakin hebat saat pasien berjalan dan meluruskan kaki. Nyeri berkurang
saat pasien berbaring menekuk paha dan lutut serta beristirahat.
 Riwayat sering mengangkat dan melakukan pekerjaan berat diakui dan pasien
pernah terjatuh dari motor.

O : Kesadaran : Compos mentis,GCS: 15 E:4 M:6 V: 5


Tekanan darah : 130/90 mmHg.
Nadi : 92x/menit.
Suhu : 36,6oC.
Respirasi : 22x/menit.
SpO2 : 98%
Nyeri tekan vertebra (+)

A : Diagnosis Klinis : Ischialgia Sinistra


Diagnosis Topis : Vertebra Lumbalis 5-Sacrum 1
Diagnosis Etiologi : susp.HNP

10
P :Non-medikamentosa:
Tidur pada kasur yang datar dan tidak terlalu empuk
Beristirahat yang cukup
Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas
Jangan mengangkat beban yang berat

Medikamentosa:
Ketorolak 30 mg/ml 3x1 IV
Ranitidine 25 mg/ml 2x1 IV
Vit B Comp tab 2x1
Tramadol 50 mg/ml 2x1 IV
Gabapentin tab 300 mg 1x1

Rencana pemeriksaan penunjang :


Foto Rontgen Lumbosakral AP/Lateral

Mx: Pantau tanda-tanda vital dan skala nyeri

Ex: Beri penjelasan kepada pasien mengenai penyakitnya, faktor risiko, mengatur
pola makan yang sehat, penanganan stress dan istirahat yang cukup, komplikasi
serta prognosisnya.

V. PROGNOSIS
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanam : dubia ad bonam

11
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Punggung


Garis besar struktur punggung bawah terdiri dari (1) kolumna vertebralis
dengan jaringan ikatnya, termasuk discus intervertebralis dan nukleus pulposus, (2)
jaringan saraf yang meliputi konus medularis, filum terminalis, durameter dan
araknoid, radiks dengan saraf spinalnya, (3) pembuluh darah dan (4) muskulus atau
otot skelet.1

3.1.1 Kolumna Vertebralis


Kolumna vertebralis berfungsi menyanggah kranium, gelang bahu,
ekstremitas superior, dan dinding toraks serta melalui gelang panggul meneruskan
berat badan ke ekstremitas inferior. Di dalam rongganya terletak medulla spinalis,
radiks nervi spinales, dan lapisan penutup meningen.2

Unit Fungsional Kolumna Vertebralis


1. Segmen anterior
Sebagian besar fungsi segmen ini adalah sebagai penyangga badan. Segmen
ini meliputi korpus vertebrae dan diskus intervertebralis yang diperkuat oleh
ligamentum longitudinale anterior dan ligamentum longitudinale posterior.1

2. Segmen posterior
Segmen ini dibentuk oleh arkus, prosesus transversus dan prosesus spinosus.
Satu sama lain dihubungkan dengan sepasang artikulasi dan beberapa ligamentum
serta otot. Gerakan tubuh yang terbanyak ialah gerakan fleksi dan ekstensi.Dan
gerakan ini paling banyak dilakukan oleh sendi L5-S1, yang dimungkinkan oleh
bentuk artikulasinya yang tidak datar tetapi membentuk sudut 30 derajat dengan garis
datar. Titik tumpu berat badan terletak kira-kira 2,5 cm di depan S2. Titik ini penting

12
karena setiap pemindahan titik tersebut akan memaksa tubuh untuk mengadakan
kompensasi dengan jalan mengubah sikap.1

Komposisi Kolumna Vertebralis


Kolumna vertebralis terdiri atas 33 vertebra, yaitu 7 vertebra servikalis, 12
vertebra torakalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sakralis (yang bersatu membentuk
os sacrum), 4 vertebra koksigis.2
Struktur kolumna ini fleksibel, karena kolumna ini bersegmensegmen dan
tersusun atas vertebra, sendi-sendi, dan bantalan fibrokartilago yang disebut diskus
intervetebralis. Pada bagian servikal dan lumbal tulang belakang menunjukkan posisi
lordosis (melengkung ke dalam) dan pada bagian torakal dan sacral tulang belakang
menunjukkan posisi kifosis (melengkung ke luar).2

Gambar 3.1 Kolumna Vertebralis

13
Ciri-ciri umum vertebra
Vertebra tipikal terdiri atas korpus yang bulat di anterior dan arkus vertebra di
posterior.Keduanya melingkupi sebuah ruang disebut foramen vertebralis, yang
dilalui oleh medulla spinalis dan bungkus-bungkusnya.Arkus vertebra terdiri atas
sepasang pedikulus yang berbentuk silinder, yang membentuk sisi-sisi arkus, dan
sepasang lamina gepeng yang melengkapi arkus dari posterior.
Arkus vertebra mempunyai tujuh prosesus yaitu satu prosesus spinosus yang
menonjol ke posterior dari pertemuan kedua lamina, dua prosesus transversus yang
menonjol ke posterolateral dari pertemuan lamina dan pedikulus, dan empat prosesus
artikularis (masing-masing dua pada bagian superior dan inferior).2
Prosesus spinosus dan prosesus transversus berfungsi sebagai pengungkit dan
menjadi tempat melekatnya otot dan ligamentum.Prosesus artikularis yang terletak
vertikal ini menonjol dari pertemuan antara lamina dan pedikulus, dan fasies
artikularisnya diliputi oleh kartilago hialin. Kedua prosesus artikularis superior dan
sebuah arkus vertebra bersendi dengan kedua prosesus artikularis inferior dari arkus
yang ada di atasnya, membentuk sendi sinovial.2
Pedikulus mempunyai lekuk pada pinggir atas dan bawahnya, membentuk
incisura vertebralis superior dan inferior.Pada masing-masing sisi, incisura vertebralis
superior sebuah vertebra dan incisura vertebralis inferior dari vertebra di atasnya
membentuk foramen intervetebralis.Foramen ini berfungsi sebagai tempat lewatnya
nervus spinalis dan pembuluh darah. Radiks anterior dan posterior nervus spinalis
bergabung di dalam foramen ini, bersama dengan pembungkusnya membentuk saraf
spinalis segmentalis.2

Ciri-ciri vertebra lumbalis tipikal


1. Korpus besar dan berbentuk ginjal
2. Pedikulus kuat dan mengarah ke belakang
3. Lamina tebal
4. Foramen vertebralis berbentuk segitiga
5. Prosesus transversus panjang dan langsing

14
6. Prosesus spinosus pendek, rata, dan berbentuk segiempat dan mengarah ke
belakang.
7. Fasies artikularis prosesus artikularis superior menghadap ke medial dan fasies
artikularis prosesus inferior menghadap kelateral.

Gambar 3.2 Vertebra Lumbal


Vertebra lumbal tidak mempunyai fasies artikularis untuk bersendi dengan
kosta dan tidak ada foramen pada prosesus transversus.2

Os Sacrum
Os sacrum mempunyai lima vertebra rudimenter yang bergabung menjadi
satu membentuk sebuah tulang berbentuk baji yang cekung di anterior dan seperti
segitiga jika dilihat dari arah depan. Pinggir atas atau basis tulang bersendi dengan
vertebra lumbalis V. Pinggir bawah bersendi dengan os coccygis.Di lateral, os sacrum

15
bersendi dengan dua os coxae untuk membentuk artikulasio sakroiliaka. Pinggir
anterior dan atas vertebra S1 menonjol ke depan sebagai margo posterior apertura
pelvis superior dan dikenal sebagai promontorium sakralis.2
Terdapat foramina vertebralis dan membentuk kanalis sakralis.Lamina
vertebra sakralis kelima dan kadang-kadang juga vertebra sakraliske empat tidak
mencapai garis tengah dan membentuk hiatus sakralis.Kanalis sakralis berisi radiks
anterior dan posterior nervi spinalis sakraliscoccygealis, filum terminale dan zat-zat
fibroadiposa. Permukaan anteriordan posterior sakrum mempunyai empat foramen
pada setiap sisi, untuktempat lewatnya ramus anterior dan posterior nervus spinalis
S1-S4.2

Diskus Intervertebralis
Diskus intervetebrlis menyusun seperempat dari panjang
kolumnavertebralis.Diskus ini paling tebal di daerah servikal dan lumbal,
tempatbanyak terjadi gerakan kolumna vertebralis. Tetapi diskus intervetebralis tidak
ditemukan di antara vertebra C1 dan C2, di dalam os sacrum dan tulang koksigis.
Struktur ini dapat dianggap sebagai diskus semi elastis, yangterletak di antara korpus
vertebra yang berdekatan dan bersifat kaku. Cirifisiknya memungkinkannya berfungsi
sebagai peredam benturan bilabeban pada kolumna vertebralis mendadak bertambah,
seperti bilaseseorang melompat dari tempat yang tinggi.2
Setiap diskus terdiri atas bagian pinggir yaitu annulus fibrosus dan bagian
tengah yaitu nukleus pulposus. Annulus fibrosus terdiri atasjaringan fibrokartilago, di
dalamnya serabut-serabut kolagen tersusundalam lamel-lamel yang konsentris.2
Nukleus pulposus pada anak-anak dan remaja merupakan masalonjong dari
zat gelatin yang banyak mengandung air, sedikit serabutkolagen, dan sedikit sel-sel
tulang rawan.Permukaan atas dan bawahkorpus vertebra yang berdekatan yang
menempel pada diskus diliputi olehkartilago hialin yang tipis.Sifat nukleus pulposus
yang setengah cair memungkinkannyaberubah bentuk dan vertebra dapat menjungkit
ke depan atau ke belakang,seperti pada gerakan fleksi dan ekstensi kolumna
vertebralis. Struktur nukleus pulposus yang elastis memungkinkan diskus untuk

16
menahankompresi dan torsi. Seiring bertambahnyausia, diskus akan menjadi lebih
kaku dan lebih sulit untuk menahan kompresi.2
Peningkatan beban kompresi yang mendadak pada kolumnavertebralis
menyebabkan nukleus pulposus yang semi cair ini menjadi gepeng. Dorongan keluar
dari nukleus ini dapat ditahan oleh daya pegas annulus fibrosus disekelilingnya.2

Ligamentum
1. Ligamentum longitudinal anterior dan posterior
Ligamentum longitudinal anterior meliputi bagian depan dan sisibadan
vertebra yang berjalan turun dari kranium sampai ke sakrum. Ligamentum
longitudinal anterior melekat pada tepi atas dan tepibawah setiap korpus vertebra
untuk membatasi ekstensi tulang belakang dan mencegah gerakan maju mundur
relatif terhadap satusama lainnya. Ligamentum longitudinal posterior membentang
darioksiput sampai sakrum, berjalan melalui bagian belakang korpusvertebra serta
melekat pada pinggir posterior diskus. Ligamentum ini membantu membatasi gerakan
fleksi vertebra.1,2
2. Ligamentum supraspinalis
Berjalan diantara ujung-ujung prosesus spinosus yang berdekatan.
3. Ligamentum interspinalis
Menghubungkan prosesus spinosus yang berdekatan.
4. Ligamentum intertransversaria
Berjalan diantara prosesus transversus yang berdekatan.
5. Ligamentum flavum
Menghubungkan lamina dari vertebra yang berdekatan.2

Gerakan kolumna vertebralis


a. Fleksio adalah gerakan ke depan, dan ekstensio adalah gerakan kebelakang.
Keduanya dapat dilakukan leluasa di daerah servikal danlumbal, tetapi terbatas di
daerah torakal.

17
b. Laterofleksio adalah melengkungnya tubuh ke salah satu sisi. Gerakan ini mudah
dilakukan di daerah servikal dan lumbal, tetapi terbatas didaerah torakal.
c. Rotasio adalah gerakan memutar kolumna vertebralis. Gerakan inisangat terbatas
di daerah lumbal.
d. Sirkumdiksio adalah kombinasi dari seluruh gerakan-gerakan diatas.

Di daerah lumbal, fleksio dilakukan oleh m. rectus abdominis dan mm.psoas.


Ekstensio dilakukan oleh mm. postvertebrales. Laterofleksio dilakukan oleh mm.
postvetebralis, m.quadratus lumborum, dan otot-otot serong dinding anterolateral
abdomen.M. psoas mungkin ikut dalam gerakan ini. Rotasio dilakukan oleh otot-otot
rotator dan otot-otot dinding anterolateral abdomen.2

3.1.2 Otot-otot Punggung


Otot-otot superfisial
Otot-otot ini merupakan bagian ekstremitas superior yaitu, m.trapezius, m.
lattisimus dorsi, m. levator scapulae, dan m. rhomboideusmajor dan minor2

Gambar 3.3 Otot-Otot Punggung

18
Otot-otot intermedia
Otot-otot ini berhubungan dengan respirasi dan terdiri atasm.serratus
posterior superior, m.serratus posterior inferior danm.levatores costarum.2

Otot-otot profunda punggung (otot-otot postvertebralis)


Pada posisi berdiri, garis gaya berat berjalan melalui dens axis, dibelakang
pusat sendi koksa, dan di depan sendi lutut dan pergelangankaki. Akibatnya bila
tubuh dalam posisi ini, sebagian besar berat badanjatuh di depankolumna vertebralis.
Oleh karena itu, otot postvertebralispada manusia berkembang dengan lebih baik.
Tonus posturnal otot-ototpostvertebralis ini merupakan faktor utama dalam
mempertahankankelengkungan normal kolumna vertebralis.2
Otot-otot punggung profunda membentuk kolum jaringan ototyang lebar dan
tebal, yang menempati lekukan di kanan kiri prosesusspinosus.Otot-otot ini
terbentang dari sakrum sampai kranium.Prosesus spinosus dan prosesus transversus
vertebra berfungsisebagai pengungkit yang mempermudah kerja otot.Otot-
ototterpanjang terletak superfisial dan berjalan vertical dari sakrum keangulus kosta,
prosesus transversus, dan prosesus spinosus vertebrabagian atas.Otot-otot dengan
panjang sedang (intermedia) berjalanmiring dari prosesus spinosus ke prosesus
transversus. Otot-otot palingpendek dan paling dalam berjalan di antara prosesus
spinosus dandiantara prosesus transversus vertebra yang berdekatan.2

3.1.3 Fasia Profunda Punggung (Torakolumbal)


Fasia torakolumbal berfungsi untuk membantu menyatukan gerakantubuh
bagian atas dengan bagian bawah. Hal ini didukung oleh bentuk danlokasinya yang
cukup terpusat di bagian belakang, serta memiliki tingkatfleksibilitas dan
memungkinkan fasia torakolumbal untuk melakukantransmisi kekuatan untuk
kontraksi dan relaksasi otot.3
Pars lumbalis fasia profunda terletak di dalam celah antarakristailiaka dan
kosta XII. Bagian ini membentuk aponeurosis kuat dan dilateral menjadi tempat origo

19
serabut-serabut tengah m.transversusabdominus dan serabut-serabut atas m.obliquus
internus dindingabdomen.2,3
Di medial, pars lumbalis fasia profunda pecah menjadi tiga lamel.Lamel
posterior menutupi otot-otot profunda punggung dan melekat padaprosesus spinosus
vertebra lumbalis. Lamel tengah berjalan ke arahmedial, dan melekat pada ujung
prosesus transversus vertebra lumbalis,lamel ini terletak di depan otot punggung
profunda dan di belakangm.quadratus lumborum. Lamel anterior berjalan ke medial
dan melekatpada permukaan anterior prosesus transversus vertebra lumbalis, lamel
initerletak di depan m.quadratus lumborum. Di daerah torakal, fasia profundamelekat
dimedial pada prosesus spinosus vertebra dan di lateral padaangulus kosta. Fasia ini
menutupi permukaan posterior otot punggungprofunda. Di daerah servikal, fasia
profunda jauh lebih tipis.2

3.1.4 Pendarahan Punggung


Arteri
Di daerah servikal, cabang-cabang yang berasal dari a.occipitalis,sebuah
cabang a.carotis externa dari a.vertebralis, sebuah cabanga.subclavia dari
a.cervicalis profunda, sebuah cabang dan truncuscostoservikalis, cabang dari
a.subclavia, dan dari a.cervicalis ascenden,sebuah cabang dari a.thyroidea inferior.2
Di daerah torakal, cabang-cabang berasal dari aa. Intercostalesposteriors, dan
di daerah lumbal cabang-cabang dari a.subcostalis danlumbalis. Di daerah sakrum,
cabang-cabang berasal dari a.iliolumbalisdan a.sacralis lateralis, cabang-cabang dari
a.iliaca interna.2

Vena
Vena-vena yang mengalirkan darah dari struktur-struktur dipunggung
membentuk pleksus rumit yang terbentang sepanjangkolumna vertebralis dari
kranium sampai ke koksigis.Vena-vena inidapat dibagi menjadi (a) yang terletak di
luar kolumna vertebralis danmengelilinginya membentuk pleksus venosus vertebralis
eksternus dan(b) yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan membentuk

20
pleksusvenosus vertebralis internus.Pleksus-pleksus ini berhubungan secarabebas
dengan vena-vena di leher, toraks, abdomen dan pelvis. Di atas,pleksus ini
berhubungan dengan sinus venosus oksipitalis dan basilarisdi dalam kavum kranial
melalui foramen magnum.2
Pleksus venosus vertebralis internus terletak di dalam kanalisvertebralis tetapi
di luar durameter medulla spinalis.Pleksus initertanam di dalam jaringan areolar dan
menampung cabang-cabang darivertebra dengan perantaraan vv.basivertebralis dan
dari meningen sertamedulla spinalis.Pleksus internus bermuara ke
dalamv.intervertebralis, yang berjalan ke luar bersama dengan saraf spinalmelalui
foramen intervertebralis. Lalu, vena ini akan bergabung dengancabang-cabang dari
pleksus venosus vertebralis eksternus danselanjutnya bermuara berturut-turut ke
dalam v.vertebralis,v.intercostalis, v.lumbalis, dan v.sacralis lateralis.2

3.1.5 Persarafan Punggung


Kulit dan otot-otot pinggang dipersarafi secara segmental oleh ramiposterior
31 pasang saraf spinalis.Rami posterior C1, C6, C7 dan C8 sertaL4 dan L5
mempersarafi otot punggung profunda, tetapi tidakmempersarafi kulitnya. Ramus
posterior C2 (n. occipitalis major) berjalanke atas melalui tengkuk dan mempersarafi
kulit kepala, rami posteriorberjalan ke bawah dan lateral serta mempersarafi sebagian
kulit, sedikit dibawah tempat keluarnya foramen intervertabralis. Setiap ramus
posteriorterbagi menjadi dua, yaitu cabang medial dan lateral.2

21
Gambar 3.4 Dermatom Tubuh

3.1.6 Aliran Limfe Punggung


Pembuluh-pembuluh limfe profunda mengikuti vena dan bermuarake dalam
nodi lymphoidei cervicalis profunda, mediastinalis posterior,aortica lateralis dan
sacralis. Pembuluh limfe dari kulit leher bermuara kenodulus servikalis, yang berasal
dari batang tubuh diatas crista iliacabermuara ke nodus axillaris, dan yang berasal
dari daerah di bawah cristailiaca bermuara ke nodus inguinalis superficialis.

3.2 Ischialgia
3.2.1 Definisi Ischialgia
Ischialgia berasal dari kata “ischion” yang berarti panggul dan ”algos” yang
berarti nyeri. Ischialgia merupakan salah satu manisfestasi dari nyeri punggung

22
bawah yang dikarenakan karena adanya penjepitan nervus ischiadicus. Ischialgia
adalah nyeri yang menjalar kebawah sepanjang perjalanan akar saraf ischiadikus.
Nyeri ini terasa pada pungung bawah dan pinggul, lalu menjalar turun hingga ke paha
dan kaki. Penyebab utamanya adalah disfungsi dari saraf ischiadikus. Nervus
ischiadikus merupakan saraf terpanjang pada tubuh manusia. Saraf ini berasal dari
spinal cord menuju bagian belakang kaki dengan melewati pinggul komplikasi.
Ischialgia ini sebenarnaya merupakan gejala dari penyakit lain yang sedang terjadi,
semisal herniasi diskus. Namun apabila bukan suatu yang serius, tipe akut dari
ischialgia ini dapat reda dalam empat hingga delapan minggu.4

3.2.2 Klasifikasi
Ischialgia dibagi menjadi tiga, yaitu:5
1) Ischialgia sebagai perwujudan neuritis ischiadikus primer
Ischialgia akibat neuritis ischiadikus primer adalah ketika nervus
ischiadikus terkena proses radang. Tanda dan gejala utama neuritis ischiadikus
primer adalah nyeri yang dirasakan bertolak dari daerah sakrum dan sendi
panggul, tepatnya di foramen infra piriformis atau incisura ischiadika dan
menjalar sepanjang perjalanan nervus ischiadikus dan lanjutannya pada nervus
peroneus dan tibialis. Nyeri tekan ditemukan pada incisura ischiadika dan
sepanjang spasium poplitea pada tahap akut. Juga tendon achilles dan otot
tibialis anterior dan peroneus longus terasa nyeri pada penekanan. Kelemahan
otot tidak seberat nyeri sepanjang tungkai. Karena nyeri itu maka tungkai di
fleksikan, apabila diluruskan nyeri bertambah hebat. Tanda-tanda skoliosis
kompensatorik sering dijumpai pada ischialgia jenis ini.
Diagnosa neuritis ischiadikus primer ditetapkan apabila nyeri tekan pada
otot tibialis anterior dan peroneus longus. Dan pada neuritis sekunder nyeri
tekan disepanjang nervus ischiadikus, tetapi di dekat bagian nervus ischiadikus
yang terjebak saja. Timbul nyerinya akut dan tidak disertai adanya nyeri pada
punggung bawah merupakan ciri neuritis primer berbeda dengan ischialgia

23
yang disebabkan oleh problem diskogenik. Reflek tendon achilles dan tendon
lutut biasanya tidak terganggu.
2) Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radikulitis atau radikulopati
Pada ischialgia radikulopati merupakan akibat dari jebakan oleh tumor,
nukleus pulposus yang menjebol ke dalam kanalis vertebralis maupun osteofit
atau peradangan (rematois spondilitis angkilopoetika, herpes zoster,
tuberkulosa) yang bersifat menindihi, menjerat dan sebagainya terjadi
radikulopati.
Pola umum iskhialgia adalah nyeri seperti sakit gigi atau nyeri hebat yang
dirasakan bertolak dari vertebra lumbosakralis dan menjalar menurut perjalanan
nervus ischiadikus dan lanjutannya pada nervus peroneus atau nervus tibialis.
Makin jauh ke tepi nyeri makin tidak begitu hebat, namun parestesia atau
hipoastesia sering dirasakan.
Pada data anamnestik yang bersifat umum antara lain : nyeri pada
punggung bawah selalu mendahului iskhialgia, kegiatan yang menimbulkan
peninggian tekanan intra spinal seperti batuk, bersin dan mengejan
memprofokasi adanya iskhialgia, faktor trauma hampir selamanya dapat
ditelusuri, kecuali kalau proses neoplasmik atau infeksi yang bertanggung
jawab. Adapun data diagnostik non fisik yang bersifat umum adalah : kurva
lordosis pada lumbosakral yang mendatar, vertebra lumbosakral
memperlihatkan fiksasi, nyeri tekan pada salah satu ruas vertebra lumbosakralis
hampir selalu ditemukan, test lasegue hampir selalu positif pada derajat kurang
dari 70, tesr naffziger dan valsava hampir selalu positif. Data anamnestik dan
diagnostik fisik yang bersifat spesifik berarti informasi yang mengarahkan ke
suatu jenis proses patologik atau yang mengungkapkan lokasi di dalam vertebra
lumbosakralis atau topografi radiks terhadap lesi yang merangsangnya.

3) Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis


Unsur-unsur nervus ischiadikus yang dibawakan oleh nervi L4, L5, S1,
S2 dan S3 menyusun pleksus lumbosakralis yang berada di fasies pelvina os
sakri. Di situ pleksus melintasi garis sendi sakroiliaka dan sedikit lebih distal

24
membentuk nervus iskhiadikus, yang merupakan saraf perifer terbesar.
Selanjutnya dalam perjalanannya ke tepi nervus iskhiadikus dapat terjebak
dalam bangunan-bangunan yang dilewatinya. Pada pleksus lumbosakral dapat
diinfiltrasi oleh sel-sel karsinoma ovarii, karsinoma uteri atau sarkoma
retroperineal. Di garis persendian sakroiliaka komponen-komponen pleksus
lumbosakralis sedang membentuk nervus iskhiadikus dapat terlibat dalam
proses radang (sakroilitis). Di foramen infra piriformis nervus iskhiadikus dapat
terjebak oleh bursitis otot piriformis. Dalam trayek selanjutnya nervus
iskhiadikus dapat terlibat dalam bursitis di sekitar trochantor major femoris.
Dan pada trayek itu juga, nervus iskhiadikus dapat terganggu oleh adanya
penjalaran atau metastase karsinoma prostat yang sudaj bersarang pada tuber
iskhii. Simtomatologi entrapment neuritis iskhiadika sebenarnya sederhana
yaitu pada tempat proses patologik yang bergandengan dengan ischiagia.

3.2.3 Etiologi
Ischialgia timbul karena terangsangnya serabut-serabut sensorik dimana
nervus ischiadicus berasal yaitu radiks posterior L4, L5, S1, S2, S3. Penyebab
ischialgia dapat dibagi dalam:5
1. Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada penderita hernia nukleus pulposus
(HNP).
2. Ischialgia mekanik terbagi atas :
a. Spondiloarthrosis defermans.
b. Spondilolistetik.
c. Tumor caud.
d. Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral.
e. Fraktur corpus lumbosakral.
f. Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam rongga panggul
sehingga menimbulkan tekanan pada pleksus lumbosakralis.
3. Ischailgia non mekanik (medik) terbagi atas:
a. Radikulitis tuberkulosa

25
b. Radikulitas luetika
c. Adhesi dalam ruang subarachnoidal
d. Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus
e. Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya.
Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor, yaitu antara lain:
kontraksi/ radang otot-otot daerah bokong, adanya pengapuran tulang belakang atau
adanya keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus Pulposus (HNP). Untuk
mengetahui penyebab pasti perlu dilakukan pemeriksaan fisik secara seksama dan
dilakukan pemeriksaan tambahan radiologi/ Rontgen pada tulang belakang.

3.2.4 Patofisiologi
Ischialgia merupakan rasa sakit yang disebabkan oleh kompresi umum dan
atau iritasi dari salah satu lima akar saraf yang cabang pada saraf skiatis (ischiadicus).
Nyeri dirasakan di punggung, pantat, dan kaki. Selain rasa sakit, yang kadang-kadang
berat, mungkin juga disertai mati rasa, kelemahan otot, dan kesulitan bergerak atau
mengendalikan kaki. Biasanya, gejala hanya terasa pada satu sisi tubuh. Linu panggul
umumnya disebabkan oleh kompresi akar saraf tulang belakang lumbal (L4, L5) atau
tulang sakral saraf akar (S1, S2, S3) atau oleh kompresi dari skiatik saraf itu sendiri.
Keterlibatan akar saraf terjadi terutama akibat degenerasi disk; kompresi dari skiatik
saraf adalah sering karena otot jebakan.6
Jika ischialgia disebabkan oleh penekanan pada radiks (dorsal nerve root) hal
ini mungkin ditandai adanya lumbar radiculopathy (radiculitis ketika disertai adanya
inflamasi pada radix). Ketika terjadi robekan dari anulus fibrosus, nucleus pulposus
akan keluar melalui daerah robekan tersebut yang akan menekan saraf tulang
belakang (medula spinalis), cauda equina, atau akar saraf yang menyebabkan
peradangan, mati rasa atau nyeri yang hebat. Ischialgia yang disebabkan karena
kompresi akar saraf merupakan salah satu bentuk yang paling umum dari nyeri
radiculopathy.7

26
3.2.5 Tanda dan Gejala
Sakit yang menyebar dari punggung bawah menuju paha belakang hingga
kaki merupakan tanda khas pada ischialgia. Sakit yang terjadi dapat beragam, mulai
dari yang ringan hingga seperti tertusuk-tusuk, sensasi terbakar atau perasaan tak
nyaman yang luar biasa. Terkadang dapat dirasakan seperti tersentrum listrik. Dan
harus digarisbawahi adalah pada ischialgia, hanya satu tungkai ekstremitas yang
terkena, amat jarang ditemui kasus ischialgia pada kedua tungkai. Kekakuan
kemungkinan dirasakan pada kaki. Berjalan, berlari, menaiki tangga, dan meluruskan
kaki memperburuk nyeri tersebut, yang diringankan dengan menekuk punggung atau
duduk.8
Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah:9
1. Nyeri punggung bawah
2. Nyeri daerah bokong
3. Rasa kaku/ terik pada punggung bawah
4. Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kesetrum, yang di rasakan daerah bokong
menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki, tergantung bagian saraf
mana yang terjepit.
5. Rasa nyeri sering di timbulkan setelah melakukan aktifitas yang berlebihan,
terutama banyak membungkukkan badan atau banyak berdiri dan berjalan.
6. Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang yang berat.
7. Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota
badan bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot
tungkai bawah tersebut.
8. Dapat timbul gejala kesemutan atau rasa baal.
9. Pada kasus berat dapat timbul kelemahan otot dan hilangnya refleks tendon
patella dan Achilles.
10. Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi
dan fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang
memerlukan tindakan pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi
permanen.

27
11. Nyeri bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat

3.2.6 Diagnosis Banding


Spondylosis adalah terbentuknya osteofit pada tepi vertebrae yang berbatasan
dengan discus. Spondylosis ini termasuk penyakit degenerasi yang proses terjadinya
secara umum disebabkan oleh berkurangnya kekenyalan discus yang kemungkinan
menipis dan diikuti dengan lipatan ligamentum disekeliling corpus vertebrae, seperti
ligamentum longitudinal, selanjutnya pada lipatan ini terjadi pengapuran dan
terbentuk osteofit.10
Spondylolisthesis menunjukkan suatu pergeseran kedepan satu korpus
vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya. Umumnya
terjadi pada pertemuan lumbosakral (lumbosacral joints) dimana L5 bergeser diatas
S1, hal ini mengakibatkan nyeri radikuler yang berujung pada kulit yang menutupi
jari ke empat.10

3.2.7 Pemeriksaan Penunjang9


1. Foto rontgen lumbosakral
2. Elektromielografi
3. Myelografi
4. CT scan
5. MRI

3.3 HNP

3.3.1 Definisi
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan annulus fibrosus
dari diskus intervertebralis lumbal pada spinal canal atau rupture annulus fibrosus
dengan tekanan dari nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada element
saraf. Pada umumnya HNP pada lumbal sering terjadi pada L4-L5 dan L5-S1.
Kompresi saraf pada level ini melibatkan root nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan
menyebabkan nyeri dari pantat dan menjalar ketungkai. Kebas dan nyeri menjalar

28
yang tajam merupakan hal yang sering dirasakan penderita HNP. Weakness pada grup
otot tertentu namun jarang terjadi pada banyak grup otot.11

3.3.2 Epidemiologi
Prevalensi HNP berkisar antara 1 – 2 % dari populasi. Usia yang paling sering
adalah usia 30 – 50 tahun. Pada penelitian HNP paling sering dijumpai pada tingkat
L4-L5; titik tumpuan tubuh di L4-L5-S1. Penelitian Dammers dan Koehler pada 1431
pasien dengan herniasi diskus lumbalis, memperlihatkan bahwa pasien HNP L3-L4
secara bermakna dari usia tua dibandingkan dengan pasien HNP L4-L5.11
HNP merupakan salah satu penyebab dari nyeri punggung bawah yang
penting. dan merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama. Inside HNP di
Amerika Serikat adalah sekitar 5% orang dewasa. Kurang lebih 60-80% individu
pernah mengalami nyeri punggung dalam hidupnya. Nyeri punggung bawah
merupakan 1 dari 10 penyakit terbanyak di Amerika Serikat dengan angka prevalensi
berkisar antara 7,6-37% insidens tertinggi dijumpai pada usia 45-60 tahun. Pada
penderita dewasa tua, nyeri punggung bawah mengganggu aktivitas sehari-hari pada
40% penderita dan menyebabkan gangguan tidur pada 20% penderita akan mencari
pertolongan medis, dan 25% diataranya perlu rawat inap untuk evaluasi lebih lanjut.11

3.3.3 Etiologi
Penyebab dari Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya dengan
meningkatnya usia terjadi perubahan degeneratif yang mengakibatkan kurang lentur
dan tipisnya nucleus pulposus. Annulus fibrosus mengalami perubahan karena
digunakan terus menerus. Akibatnya, annulus fibrosus biasanya di daerah lumbal
dapat menyembul atau pecah.12
Hernia nucleus pulposus (HNP) kebanyakan juga disebabkan oleh karena
adanya suatu trauma derajat sedang yang berulang mengenai discus intervertebralis
sehingga menimbulkan sobeknya annulus fibrosus. Pada kebanyakan pasien gejala
trauma bersifat singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cidera pada diskus yang tidak
terlihat selama beberapa bulan atau bahkan dalam beberapa tahun. Kemudian pada

29
generasi diskus kapsulnya mendorong ke arah medulla spinalis, atau mungkin ruptur
dan memungkinkan nucleus pulposus terdorong terhadap sakus doral atau terhadap
saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.13

3.3.4 Anatomi
Kolumna vertebralis tersusun atas seperangkat sendi antara korpus vertebra
yang berdekatan, sendi antara arkus vertebra, sendi kostovertebralis dan sendi
sakroiliaka. Ligamentum longitudinal dan diskus intervertebralis menghubungkan
vertebra yang berdekatan. Ligamentum longitudinal anterior, suatu pita tebal dan
lebar, berjalan memanjang pada bagian depan korpus vertebra dan diskus
intervertebralis, dan bersatu dengan periosteum dan annulus fibrosus.13
Ligamentum longitudinalis anterior berfungsi untuk menahan gaya ekstensi,
sedangkan dalam kanalis vertebralis pada bagian posterior korpus vertebra dan diskus
intervertebralis terletak ligamentum longitudinal posterior, ligamentum longitudinalis
posterior berperan dalam menahan gaya fleksi. Ligamentum anterior lebih kuat dari
pada posterior, sehingga prolaps diskus lebih sering kearah posterior. Pada bagian
posterior terdapat struktur saraf yang sangat sensitif terhadap penekanan yaitu radiks
saraf spinalis, ganglion radiks dorsalis.13
Diantara korpus vertebra mulai dari vertebra servikalis kedua sampai vertebra
sakralis terdapat diskus intervertebralis. Diskus ini membentuk sendi fibrokartilago
yang lentur antara korpus vertebra.13
Diskus Intervertebralis terdiri dari dua bagian pokok; nukleus pulposus
ditengah dan anulus fibrosus di sekelilingnya. Diskus dipisahkan dari tulang yang di
atas dan dibawahnya oleh dua lempengan tulang rawan yang tipis.13
Nukleus pulposus adalah bagian tengah diskus yang bersifat semigelatin,
nukleus ini mengandung berkas-berkas serat kolagen, sel-sel jaringan penyambung
dan sel-sel tulang rawan. Zat ini berfungsi sebagai peredam benturan antara korpus
vertebra yang berdekatan. Selain itu. juga memainkan peranan penting dalam
pertukaran cairan antara diskus dan pembuluh-pembuluh darah kapiler.13

30
Anulus fibrosus terdiri atas cincin-cincin fibrosa konsentris yang mengelilingi
nukleus pulposus. Anulus fibrosus berfungsi untuk memungkinkan gerakan antara
korpus vertebra (disebabkan oleh struktur spiral dari serabut-serabut); untuk
menopang nukleus pulposus; dan meredam benturan. Jadi anulus berfungsi mirip
dengan simpail di sekeliling tong air atau seperti gulungan pegas, yang menarik
korpus vertebra bersatu melawan resistensi elastis nukleus pulposus, sedangkan
nukleus pulposus bertindak sebagai bola penunjang antara korpus vertebra.13
Diskus intervertebralis berukuran kira-kira seperempat panjang kolumna
vertebralis. Diskus paling tipis terdapat pada daerah torakal sedangkan yang paling
tebal tedapat di daerah lumbal. Bersamaan dengan bertambahnya usia, kandungan air
diskus berkurang dan menjadi lebih tipis.13

3.3.5 Patofisiologi
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus bersifat sirkum ferensial.
Karena adanya gaya traumatic yang berulang, sobekan tersebut menjadi lebih besar
dan timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, maka risiko HNP hanya
menunggu waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan
sebagai gaya traumatik ketika hendak menegakkan badan waktu terpeleset,
mengangkat benda berat dan sebagainya.11
Menjebolnya (herniasi) nucleus pulposus dapat mencapai ke korpus tulang
belakang diatas atau di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis
vertebralis. Menjebolnya sebagian nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat
dilihat pada foto rontgen polos dan dikenal sebagai nodus schmorl. Sobekan sirkum
ferensial dan radial pada annulus fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan
terbentuknya nodus schmorl merupakan kelainan yang mendasari low back pain
subkronis atau kronis yang kemudian disusul oleh nyeri sepanjang tungkai yang
dikenal sebagai ischialgia atau siatika. Menjebolnya nucleus pulposus ke kanalis
vertebralis berarti bahwa nucleus pulposus menekan radiks yang bersama-sama
dengan arteria radikularis yang berada dalam lapisan dura. Hal itu terjadi jika

31
penjebolan berada disisi lateral. Setelah terjadi HNP, sisa discus intervertebralis
mengalami lisis, sehingga dua korpus vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.11

3.3.6 Gejala
Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri d punggung bawah
disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan. HNP terbagi atas HNP sentral dan
lateral. HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia dan retensi
urine. Sedangkan HNP lateral bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang
terletak pada punggung bawah, di tengah-tengah area bokong dan betis, belakang
tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima kaki berkurang dan reflex
achiller negative. Pada HNP lateral L5-S1 rasa nyeri dan nyeri tekan didapatkan di
punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum
pedis. Kelemahan m. gastrocnemius (plantar fleksi pergelangan kaki), m. ekstensor
halusis longus (ekstensi ibu jari kaki). Gangguan reflex Achilles, defisit sensorik pada
malleolus lateralis dan bagian lateral pedis.11

3.3.7 Faktor Risiko14


Berikut ini adalah faktor risiko yang meningkatkan seseorang mengalami HNP:
a. Usia
Usia merupakan faktor utama terjadinya HNP karena annulus fibrosus lama
kelamaan akan hilang elastisitasnya sehingga menjadi kering dan keras,
menyebabkan annulus fibrosus mudah berubah bentuk dan ruptur.
b. Trauma
Terutama trauma yang memberikan stress terhadap columna vertebralis, seperti
jatuh.
c. Pekerjaan
Pekerjaan terutama yang sering mengangkat barang berat dan cara mengangkat
barang yang salah, meningkatkan risiko terjadinya HNP
d. Gender

32
Pria lebih sering terkena HNP dibandingkan wanita (2:1), hal ini terkait
pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan pada pria cenderung ke aktifitas fisik
yang melibatkan columna vertebralis.

3.3.8 Klasifikasi15
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) terbagi atas:
a. Hernia Nukleus Pulposus (HNP) sentral
HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia, dan retensi urine.
b. Hernia Nukleus Pulposus ( HNP) lateral
Rasa nyeri terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah abtra pantat dan
betis, belakang tumit dan telapak kaki.Ditempat itu juga akan terasa nyeri
tekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan refleks achiler negatif.
Pada HNP lateral L 4-5 rasa nyeri dan tekan didapatkan di punggung bawah,
bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum pedis.
Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan refleks patela negatif.
Sensibilitas [ada dermatom yang sdesuai dengan radiks yang terkena menurun.
Pada percobaan lasegue atau test mengangkat tungkai yang lurus (straigh leg
raising) yaitu mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi di sendi panggul,
akan dirasakan nyeri disepanjang bagian belakang (tanda lasefue positif).
Valsava dab nafsinger akan memberikan hasil positif.

3.3.9 Diagnosis Banding16


a. Spondylolisthesis
Spondylolisthesis adalah kondisi dari spine dimana salah satu dari vertebra
tergelinci kedepan dari satu vertebra pada lainnya dirujuk sebagai
anterolisthesis dan tergelincir kebelakan dirujuk sebagai retrolisthesis.
b. Spondylosis
Pada spondylosis terjadi degenerasi dari discus intervertebralis dimana tulang
dan ligament ditulang penipisan akibat pemakaian terus menerus , sehingga

33
menyebabkan penyempitan ruang diskus dan timbulnya osteofit, pada umunya
bersifat degeneratif atau timbul akibat mikrotrauma yang terus menerus.
c. Neoplasma
Neoplasma adalah massa jaringan abnormal akibat neoplasi, yaitu proses
pertumbuhan dan perkembangan jaringan tubuh yang abnormal, yang tumbuh
aktif dengan system otonom (tidak terkendali). Jaringan yang mengalami
neoplasi tersusun oleh sel-sel yang berasal dari jaringan tubuh itu sendiri.

3.3.10 Penegakan Diagnosis7


1. Anamnesis
Anamnesis dapat ditanyakan hal yang berhubungan dengan nyerinya.
Pertanyaan itu berupa kapan nyeri terjadi, frekuensi, dan intervalnya; lokasi
nyeri; kualitas dan sifat nyeri; penjalaran nyeri; apa aktivitas yang
memprovokasi nyeri; memperberat nyeri; dan meringankan nyeri. Selain
nyerinya, tanyakan pula pekerjaan, riwayat trauma.8
2. Pemeriksaan Neurologi
Untuk memastikan bahwa nyeri yang timbul termasuk dalam gangguan saraf.
Meliputi pemeriksaan sensoris, motorik, reflex.8
a. Pemeriksaan sensoris, pada pemeriksaan sensoris ini apakah ada
gangguan sensoris, dengan mengetahui dermatom mana yang terkena
akan dapat diketahui radiks mana yang terganggu.
b. Pemeriksaan motorik, apakah ada tanda paresis, atropi otot.
c. Pemeeriksaan reflex, bila ada penurunan atau refleks tendon
menghilang, misal APR menurun atau menghilang berarti
menunjukkan segmen S1 terganggu.
Adapun tes yang dapat dilakukan untuk diagnosis HNP adalah:
1. Pemeriksaan range of movement (ROM)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara aktif oleh penderita sendiri maupun
secara pasif oleh pemeriksa. Pemeriksaan ROM ini memperkirakan derajat nyeri,
function laesa, atau untuk memeriksa ada/ tidaknya penyebaran rasa nyeri.

34
2. Straight Leg Raise (Laseque) Test:
Tes untuk mengetaui adanya jebakan nervus ischiadicus. Pasien tidur dalam
posisi supinasi dan pemeriksa memfleksikan panggul secara pasif, dengan lutut
dari tungkai terekstensi maksimal. Tes ini positif bila timbul rasa nyeri pada saat
mengangkat kaki dengan lurus, menandakan ada kompresi dari akar saraf
lumbar.
3. Lasegue Menyilang
Caranya sama dengan percobaan lasegue, tetapi disini secara otomatis timbul
pula rasa nyeri ditungkai yang tidak diangkat. Hal ini menunjukkan bahwa radiks
yang kontralateral juga turut tersangkut.
4. Tanda Kerning
Pada pemeriksaan ini penderita yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggung sampai membuat sudut 90 derajat. Selain itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini
sampai sudut 135 derajat, antara tungkai bawah dan tungkai atas, bila terdapat
tahanan dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut ini, maka dikatakan tanda kerning
positif.
5. Ankle Jerk Reflex
Dilakukan pengetukan pada tendon Achilles. Jika tidak terjadi dorsofleksi pada
kaki, hal ini mengindikasikan adanya jebakan nervus di tingkat kolumna vertebra
L5-S1.
6. Knee-Jerk Reflex
Dilakukan pengetukan pada tendon lutut. Jika tidak terjadi ekstensi pada lutut,
hal ini mengindikasikan adanya jebakan nervus di tingkat kolumna vertebra L2-
L3-L4.

3. Diagnosis Penunjang
a. X-Ray
X-Ray tidak dapat menggambarkan struktur jaringan lunak secara akurat.
Nucleus pulposus tidak dapat ditangkap di X-Ray dan tidak dapat

35
mengkonfirmasikan herniasi diskus maupun jebakan akar saraf. Namun, X-
Ray dapat memperlihatkan kelainan pada diskus dengan gambaran
penyempitan celah atau perubahan alignment dari vertebra.
b. Mylogram
Pada myelogram dilakukan injeksi kontras bersifat radio-opaque dalam
columna spinalis. Kontras masuk dalam columna spinalis sehingga pada X-
ray dapat nampak adanya penyumbatan atau hambatan kanalis spinalis
c. MRI
Merupakan gold standard diagnosis HNP karena dapat melihat struktur
columna vertebra dengan jelas dan mengidentifikasi letak herniasi.

Gambar 3.5 MRI dari columna vertebralis normal (kiri) dan mengalami herniasi (kanan)
4. Elektromyografi
Untuk melihat konduksi dari nervus, dilakukan untuk mengidentifikasi
kerusakan nervus.

2.3.11 Terapi15
1. Terapi Konservatif

36
Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki
kondisi fisik pasien dan melindungi dan meningkatkan fungsi tulang
punggung secara keseluruhan. 90% pasien akan membaik dalam waktu 6
minggu, hanya sisanya yang membutuhkan pembedahan.

Terapi konservatif untuk HNP meliputi:


a. Tirah baring
Tujuan tirah baring untuk mengurangi nyeri mekanik dan tekanan intradiskal,
lama yang dianjurkan adalah 2-4 hari. Tirah baring terlalu lama akan
menyebabkan otot melemah. Pasien dilatih secara bertahap untuk kembali ke
aktivitas biasa.
Posisi tirah baring yang dianjurkan adalah dengan menyandarkan punggung,
lutut dan punggung bawah pada posisi sedikit fleksi. Fleksi ringan dari
vertebra lumbosakral akan memisahkan permukaan sendi dan memisahkan
aproksimasi jaringan yang meradang.
b. Medikamentosa
(1) Analgetik standar (parasetamol, kodein, dan dehidrokodein yang
diberikan tersendiri atau kombinasi).
(2) NSAID : penghambat COX-2 (ibuprofen, naproxen, diklofenak) dan
penghambat COX-2 (nabumeton, etodolak, dan meloxicam)
(3) Analgesic kuat : potensi sedang (meptazinol dan pentazosin), potensi kuat
(buprenorfin, dan tramadol), dan potensi sangat kuat (diamorfin dan
morfin).
(4) Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat
dipertimbangkan pada kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi
c. Terapi fisik
d. Traksi pelvis
Menurut panel penelitian di Amerika dan Inggris traksi pelvis tidak terbukti
bermanfaat. Penelitian yang membandingkan tirah baring, korset dan traksi
dengan tirah baring dan korset saja tidak menunjukkan perbedaan dalam
kecepatan penyembuhan.

37
e. Diatermi/kompres panas/dingin
Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme
otot. Pada keadaan akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk
bila terdapat edema. Untuk nyeri kronik dapat digunakan kompres panas
maupun dingin.
f. Korset lumbal
Korset lumbal tidak bermanfaat pada NPB akut namun dapat digunakan untuk
mencegah timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri pada NPB kronis. Sebagai
penyangga korset dapat mengurangi beban pada diskus serta dapat
mengurangi spasme.
g. Latihan
Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal pada punggung
seperti jalan kaki, naik sepeda atau berenang. Latihan lain berupa kelenturan
dan penguatan. Latihan bertujuan untuk memelihara fleksibilitas fisiologik,
kekuatan otot, mobilitas sendi dan jaringan lunak. Dengan latihan dapat terjadi
pemanjangan otot, ligamen dan tendon sehingga aliran darah semakin
meningkat.
h. Latihan kelenturan
Punggung yang kaku berarti kurang fleksibel akibatnya vertebra lumbosakral
tidak sepenuhnya lentur. Keterbatasan ini dapat dirasakan sebagai keluhan
“kencang”. Latihan untuk kelenturan punggung adalah dengan membuat
posisi meringkuk seperti bayi dari posisi terlentang. Tungkai digunakan
sebagai tumpuan tarikan. Untuk menghasilkan posisi knee-chest, panggul
diangkat dari lantai sehingga punggung teregang, dilakukan fleksi bertahap
punggung bawah bersamaan dengan fleksi leher dan membawa dagu ke dada.
Dengan gerakan ini sendi akan mencapai rentang maksimumnya. Latihan ini
dilakukan sebanyak 3 kali gerakan, 2 kali sehari.
i. Latihan penguatan
(1) Latihan pergelangan kaki: Gerakkan pergelangan kaki ke depan dan
belakang dari posisi berbaring.

38
(2) Latihan menggerakkan tumit: Dari posisi berbaring lutut ditekuk dan
kembali diluruskan dengan tumit tetap menempel pada lantai (menggeser
tumit).
(3) Latihan mengangkat panggul: Pasien dalam posisi telentang, dengan lutut
dan punggung fleksi, kaki bertumpu di lantai. Kemudian punggung
ditekankan pada lantai dan panggul diangkat pelan-pelan dari lantai,
dibantu dengan tangan yang bertumpu pada lantai. Latihan ini untuk
meningkatkan lordosis vertebra lumbal.
(4) Latihan berdiri: Berdiri membelakangi dinding dengan jarak 10-20 cm,
kemudian punggung menekan dinding dan panggul direnggangkan dari
dinding sehingga punggung menekan dinding. Latihan ini untuk
memperkuat muskulus kuadriseps.
(5) Latihan peregangan otot hamstring: Peregangan otot hamstring penting
karena otot hamstring yang kencang menyebabkan beban pada vertebra
lumbosakral termasuk pada anulus diskus posterior, ligamen dan otot
erector spinae. Latihan dilakukan dari posisi duduk, kaki lurus ke depan
dan badan dibungkukkan untuk berusaha menyentuh ujung kaki. Latihan
ini dapat dilakukan dengan berdiri.
(6) Latihan berjinjit: Latihan dilakukan dengan berdiri dengan seimbang pada
2 kaki, kemudian berjinjit (mengangkat tumit) dan kembali seperti
semula. Gerakan ini dilakukan 10 kali.
(7) Latihan mengangkat kaki: Latihan dilakukan dengan menekuk satu lutut,
meluruskan kaki yang lain dan mengangkatnya dalam posisi lurus 10-20
cm dan tahan selama 1-5 detik. Turunkan kaki secara perlahan. Latihan
ini diulang 10 kali.
Proper body mechanics: Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai
sikap tubuh yang baik untuk mencegah terjadinya cedera maupun nyeri.
Beberapa prinsip dalam menjaga posisi punggung adalah sebagai berikut:
Dalam posisi duduk dan berdiri, otot perut ditegangkan, punggung tegak
dan lurus. Hal ini akan menjaga kelurusan tulang punggung.

39
Ketika akan turun dari tempat tidur posisi punggung didekatkan ke
pinggir tempat tidur. Gunakan tangan dan lengan untuk mengangkat
panggul dan berubah ke posisi duduk. Pada saat akan berdiri tumpukan
tangan pada paha untuk membantu posisi berdiri.
Pada posisi tidur gunakan tangan untuk membantu mengangkat dan
menggeser posisi panggul. Saat duduk, lengan membantu menyangga
badan. Saat akan berdiri badan diangkat dengan bantuan tangan sebagai
tumpuan. Saat mengangkat sesuatu dari lantai, posisi lutut ditekuk seperti
hendak jongkok, punggung tetap dalam keadaan lurus dengan
mengencangkan otot perut. Dengan punggung lurus, beban diangkat
dengan cara meluruskan kaki. Beban yang diangkat dengan tangan
diletakkan sedekat mungkin dengan dada. Jika hendak berubah posisi,
jangan memutar badan. Kepala, punggung dan kaki harus berubah posisi
secara bersamaan. Hindari gerakan yang memutar vertebra. Bila perlu,
ganti wc jongkok dengan wc duduk sehingga memudahkan gerakan dan
tidak membebani punggung saat bangkit. Dengan melakukan latihan
setiap hari, atau setidaknya 3-4 kali/minggu secara teratur maka
diperkirakan dalam 6-8 minggu kekuatan akan membaik sebanyak 20-
40%.
2. Terapi Operatif
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan
mengubah defisit neurologik.
Tindakan operatif pada HNP harus berdasarkan alasan yang kuat yaitu berupa:
a. Defisit neurologik memburuk.
b. Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).
c. Paresis otot tungkai bawah.
d. Terapi Konservatif gagal
(1) Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari
diskus intervertebral

40
(2) Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural
pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk
menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan
mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi
medula dan radiks
(3) Laminotomi : Pembagian lamina vertebra
(4) Disektomi dengan peleburan : Graf tulang (Dari krista illaka atau bank
tulang) yang digunakan untuk menyatukan dengan
prosessus spinosus vertebrata. Tujuan peleburan spinal
adalah untuk menstabilkan tulang belakang dan
mengurangi kekambuhan.
Berdasar lokasi herniasi penatalaksanaan dapat dibedakan menjadi :
a. Hernia Lumbosacralis
Pada fase akut, pasien tidur diatas kasur yang keras beralaskan papan dibawahnya.
Traksi dengan beban mulai 6 Kg kemudian berangsur-angsur dinaikkan 10 Kg.
pada hernia ini dapat diberikan analgetik salisilat
b. Hernia Servicalis
Untuk HNP sevicalis, dapat dilakukan traksi leher dengan kalung glisson, berat
beban mulai dari 2 Kg berangsur angsur dinaikkan sampai 5 Kg. tempat tidur
dibagian kepala harus ditinggikan supaya traksi lebih efektif. Untuk HNP yang
berat, dapat dilakukan terapi pembedahan pada daerah yang rekuren. Injeksi enzim
chympapim kedalam sendi harus selalu diperhatikan.

41
BAB IV

ANALISIS KASUS

Tn. A, 25 tahun, diantar keluarga ke Bangsal Saraf RSUD Raden Mattaher


pada tanggal 24 September 2017 dengan keluhan nyeri hebat pada pangkal paha kiri
yang dirasakan sejak 1 minggu SMRS. Nyeri pada pangkal paha sebelah kiri
dirasakan semakin lama semakin memberat, terus-menerus, dan tajam, mulai dari
pangkal paha dan dirasakan kebas dari lutut hingga keujung kaki. Rasa nyeri semakin
terasa berat bila pasien berjalan serta beraktivitas dan sedikit berkurang bila pasien
berbaring sambil menekuk paha dan lutut atau beristirahat.
Berdasarkan anamnesis, diperoleh data bahwa pasien merasa sakit di pangkal
paha kiri yang dinamakan sebaga ischialgia. Ischialgia merupakan salah satu
manisfestasi dari nyeri punggung bawah yang dikarenakan karena adanya penjepitan
nervus ischiadicus. Ischialgia adalah nyeri yang menjalar kebawah sepanjang
perjalanan akar saraf ischiadikus. Nyeri ini terasa pada pungung bawah dan pinggul,
lalu menjalar turun hingga ke paha dan kaki. Penyebab utamanya adalah disfungsi
dari saraf ischiadikus. Ischialgia ini sebenarnya merupakan gejala dari penyakit lain
yang sedang terjadi, semisal herniasi diskus.
Ischialgia timbul karena terangsangnya serabut-serabut sensorik dimana
nervus ischiadicus berasal yaitu radiks posterior L4, L5, S1, S2, S3. Ada beberapa hal
yang dapat menyebabkan ischialgia, yaitu Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada
penderita hernia nukleus pulposus (HNP), Ischialgia mekanik yang terbagi atas
Spondiloarthrosis defermans, Spondilolistetik, Tumor caud, Metastasis carsinoma di
corpus vertebrae lumbosakral, Fraktur corpus lumbosakral, Fraktur pelvis, radang
atau neoplasma pada alat-alat dalam rongga panggul sehingga menimbulkan tekanan
pada pleksus lumbosakralis. Penyebab lainnya adalah Ischailgia non mekanik (medik)
terbagi atas Radikulitis tuberkulosa, Radikulitas luetika, Adhesi dalam ruang
subarachnoidal, Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus, dan Neuropati
rematik, diabetik dan neuropati lainnya.

42
Mengingat riwayat kebiasaan sehari-hari pasien sering mengangkat dan
melakukan pekerjaan berat seperti berdagang barang sembako, maka dengan landasan
tersebut dapat diperkirakan bahwa pasien sering menggunakan otot-otot punggung
saat mengangkat benda berat yang dapat menyebabkan HNP, seperti membungkuk
kemudian mengangkat benda. Pada tahap pertama HNP yaitu sobeknya annulus
fibrosus bersifat sirkum ferensial. Karena adanya gaya traumatic seperti sering
mengangkat beban berat yang berulang, sobekan tersebut menjadi lebih besar dan
timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, maka risiko terjadinya HNP
semakin tinggi.
Terapi Non-Farmakologis berupa edukasi, adalah agar pasien mengetahui
sedikit seluk beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya
tidak bertambah parah dan tidak terulang kembali. Apabila berat badan berlebihan,
maka harus selalu di usahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat
badan ideal.
Terapi farmakologis berupa Analgetik standar seperti parasetamol, kodein,
dan dehidrokodein yang diberikan tersendiri atau kombinasi. NSAID sebagai
penghambat COX-2 yaitu ibuprofen, naproxen, diklofenak dan penghambat COX-2
seperti nabumeton, etodolak, dan meloxicam. ·Analgesic kuat untuk potensi sedang
seperti meptazinol dan pentazosin, potensi kuat yaitu buprenorfin, dan tramadol, dan
potensi sangat kuat yaitu diamorfin dan morfin.
Pada pemeriksaan fisik, kesadaran pasien Compos Mentis dan vital sign
dalam batas normal, status pshychicus tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan
reflek fisiologis tidak didapatkan kelainan. Untuk penatalaksanaan definitif,
dibutuhkan pemeriksaan lanjutan berupa pencitraan untuk memastikan diagnosis
etiologi yang pasti.

43
BAB V
KESIMPULAN

Ischialgia adalah nyeri yang menjalar kebawah sepanjang perjalanan akar


saraf ischiadikus. Nyeri ini terasa pada pungung bawah dan pinggul, lalu menjalar
turun hingga ke paha dan kaki. Penyebab utamanya adalah disfungsi dari saraf
ischiadikus. Ischialgia ini sebenarnya merupakan gejala dari penyakit lain yang
sedang terjadi, semisal herniasi diskus. Salah satu penyebab ischialgia adalah HNP
(Hernia Nucleus Pulposus).
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan annulus fibrosus
dari diskus intervertebralis lumbal pada spinal canal atau rupture annulus fibrosus
dengan tekanan dari nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada element
saraf. Pada umumnya HNP pada lumbal sering terjadi pada L4-L5 dan L5-S1.
Kompresi saraf pada level ini melibatkan root nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan
menyebabkan nyeri dari pantat dan menjalar ketungkai. Kebas dan nyeri menjalar
yang tajam merupakan hal yang sering dirasakan penderita HNP. Weakness pada grup
otot tertentu namun jarang terjadi pada banyak grup otot.

44
DAFTAR PUSTAKA
1. Harsono. Kapita selekta neurologi Edisi ke-dua. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press; 2009
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran Edisi ke-enam. Jakarta:
EGC; 2006
3. Asher A. Thoracolumbar fascia (serial online) 2012 May 15 (diakses 29
September 2017). Diunduh dari: URL:
http://backandneck.about.com/od/t/p/thoracolumbar-fascia.htm
4. Hildreth, C.J. Sciatica. JAMA. 2013. Vol 301(2):216-216.
5. Liswoko, G. Korelasi Lama Menyupir dengan Terjadinya Ischialgia et Causa
Spasme Otot Piriformis pada Sopir Angutan Umum Banymanik Semarang
6. Dr. Fratto Ted, D.C. 2006. Sciatica and Exercise. San Francisco.
7. Abdullah, Mujianto. 2013. Cara Cepat Mengatasi 10 Besar Kasus
Muskuloskeletal dalam Praktik Klinik Fisioterapi. Jakarta: Trans Info Media
8. Mahadewa, TGB (ed). Saraf Perifer, Masalah dan Penanganannya. Jakarta:
Indeks;2013
9. Anggraini, W. Penatalaksanaan Fisioterapi pada Ischialgia Dekstra di RS Dr
Ramelan Surabya. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2013
10. Setianingrum. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Ischialgia Sinistra E.C Hernia
Nucleus Pulposus (Hnp) Di Rs Pku Muhammadiyah Yogyakarta. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2015
11. Cahyati, Y I. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Hernia Nucleus Pulposus
(Hnp) Pada L5-S1 Di Rsud Salatiga. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Surakarta; 2015
12. Moore, Keith L dan A. M. R. Agur. 2013. Clinically Oriented Anatomy.
Philladhelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
13. Helmi Zairin, N,. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba
Medika;2012
14. HIdayati, Sri. Fisioterapi pada Penderita Hernia Nukleus Pulposus. Tugas Akhir.
Surabaya: Universitas Airlangga;2012
15. Setyanegara dkk. 2014. Ilmu Bedah Saraf. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
16. Sidharta, P. 2009. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Jakarta: Dian Rakyat.

45