Anda di halaman 1dari 21

1

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA LAPORAN KASUS


RSD MADANI PALU 15 April 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIV. AL-KHAIRAAT PALU

LAPORAN KASUS
SKIZOAFEKTIF TIPE MANIAK

Disusun Oleh:
Musdalipa Hi.Palanro
12 777 065

Pembimbing:
dr. Merry Tjandra, Sp.KJ

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

RSD MADANI PALU

2017
2

HALAMAN PENGESAHAN

Nama dan stambuk : Musdalipa Hi.Palanro, S.ked (12 777 o65)


Fakultas : Kedokteran
Program Studi : Pendidikan Dokter
Universitas : Alkhairaat
Judul Laporan Kasus : Skizoafektif
Bagian : Ilmu Kesehatan Jiwa

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa

RSD MADANI PALU

Program Studi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, 13 April 2017


Pembimbing

dr. Merry Tjandra, Sp.KJ


3

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn.F
Umur : 25 tahun
Jenis kelamin : Laki - laki
Agama : Islam
Status perkawinan : Belum Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :-
Alamat : Toli - toli
Tanggal masuk : 5 April 2017

II. RIWAYAT PENYAKIT

A. Keluhan utama

Mengamuk

B. Riwayat gangguan sekarang

a) Keluhan dan gejala :


Seorang laki – laki 28 tahun dibawah oleh keluarganya ke RSD Madani
dengan keluhan mengamuk dan gelisah yang dialami + 3 minggu yang lalu
disertai suka membanting barang – barang. Sebelum mengamuk, pasien biasa
mendengar bisikan – bisikan makhluk halus yang memasuki pikirannya sehingga
membuat pasien marah dan mengamuk. Pasien juga mengeluh susah tidur dan
sering melihat bayangan hitam besar dan tinggi, serta melihat wajahnya didalam
foto untuk diguna – guna. Pasien mengatakan bahwa sakit yang dialami karena di
guna – guna oleh pamannya sebab ibu pasien selalu bertengkar dengan pamannya
tersebut.
Pasien mengatakan, kadang – kadang dia melihat ibunya berubah menjadi
bayangan hitam yang besar dan tinggi, yang pernah ia lihat sebelumnya. Sehingga
pasien menjadi marah dan mengamuk saat melihat ibunya. Pasien juga
4

mengatakan bahwa pertama kali dia melihat bayangan hitam dan bisikan makhluk
halus pada tahun 2004 dan menghilang pada tahun 2014, dan pada tahun 2005
pasien dimasukan ke RSD Madani, kemudian keluhan yang sama dirasakan
kembali pada tahun ini.
Hendaya / disfungsi :
 Hendaya social (+)
 Hendaya pekerjaan (-)
 Hendaya dalam penggunaan waktu senggang (-)

b) Faktor stressor psikososial :


 ada stressor psikososial dengan keluarganya

c) Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit psikis sebelumnya :


ada

C. Riwayat gangguan sebelumnya

a) Riwayat penyakit terdahulu :


Hipertensi (-)
Kejang (-)
Infeksi (-)
Trauma (-)
b) Riwayat penggunaan zat psikoaktif :
 NAPZA (+)
 Merokok (+)
 Alkohol (+)
 Obat-obatan lainnya (+)

c) Riwayat Psikiatri sebelumnya :


Pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada tahun 2011 dan masuk
RSD Madani pada tahun 2017
5

D. Riwayat kehidupan pribadi :

a) Riwayat Prenatal :
Pasien lahir normal, dilahirkan dirumah dibantu oleh dukun.

b) Riwayat masa kanak awal (1-3 tahun) :


Pertumbuhan dan perkembangan pasien pada saat ini baik, tidak terdapat
masalah perilaku pada usia ini.

c) Riwayat Masa Kanak Pertengahan (4-11 tahun) :


Pada masa ini, pasien mulai sekolah. Penyusaian diri pasien baik, tidak
terdapat masalah hukum, hubungan social dan sikap terhadap teman bermain
baik.

d) Riwayat Masa Remaja (12-18 tahun) :


Pasien masa ini, pasien pertama kali mengalami gangguan psikiatri. Pada
masa ini juga pasien tidak melanjutkan sekolahnya yang putus sekolah saat
kelas 2 SMA.

e) Riwayat Masa Dewasa :


pasien belum menikah.

E. Riwayat kehidupan keluarga :

Pasien merupakan anak kedua dari 6 bersaudara. Dirumah pasien tinggal


bersama ibu dan adik-adiknya. Hubungan pasien dengan keluarga baik.

F. Situasi hidup sekarang :

Saat ini pasien mendapat perawatan diruang srikaya RSD Madani karena
mengamuk. Saat ini sudah merasa tenang.

G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya :

Pasien menyadari bahwa dirinya sakit dan membutuhkan penggobatan.


6

III. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

1) Penampilan :
Tampak seorang laki – laki memakai baju kaos berwarna biru dan celana
jeans berwarna coklat, wajah sesuai usia, perawatan diri baik.
2) Kesadaran : Compos mentis
3) Perilaku dan aktivitas psikomotor : tenang pada saat diwawancara
4) Pembicaraan : Berespon secara spontan, intonasi baik
5) Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif, Perasaan, dan Empati:

1) Mood : Eutimia
2) Afek : Luas
3) Keserasian : Serasi
4) Empati : Tidak dapat apat diraba-rasakan

C. Fungsi Intelektual (kognitif)

1) Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan :


Sesuai dengan taraf pendidikan
2) Daya konsentrasi : Baik
3) Orientasi :
 Waktu : Baik
 Tempat : Baik
 Orang : Baik
4) Daya ingat:
 Segera : Baik
 Jangka pendek : Baik
 Jangka panjang : Baik
5) Pikiran abstrak : Baik
7

6) Bakat kreatif : Ada


7) Kemampuan menolong diri sendiri : Baik

D. Gangguan Persepsi

1) Halusinasi :
 Halusinasi auditorik : (+) Mendengar bisikan anak-anak kecil.
2) Ilusi : (-)
3) Depersonalisasi : (-)
4) Derealisasi : (-)

E. Proses Berpikir

1) Arus pikiran:
 Produktivitas : baik
 Kontiniuitas : Relevan
 Hendaya berbahasa : Tidak ada
3. Isi pikiran :
 Preokupasi : Tidak ada
 Gangguan isi pikiran : Waham Paranoid (pasien merasa selalu di
kendalikan dengan suara bisikan oleh anak kecil yang berada didalam
dadanya)

F. Pengendalian Impuls : Baik


G. Daya Nilai

1) Norma sosial : Baik


2) Uji daya nilai : Baik
3) Penilaian realitas : Baik
H. Tilikan (insight) : Derajat 3 (Menyalahkan faktor lain sebagai penyebab
penyakitnya)
I. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya
8

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT

a. GCS
Eye :4
Verbal :5
Motorik :6
b. Status internus
TD 110/70mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,5°C
c. Pemeriksaan Fisik
Kepala Leher : Dalam batas normal
Thorax : dalam batas normal, pernapasan normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ektremitas : Dalam batas normal
d. Pemeriksaan Neurologis
Rangsang menings : Kaku kuduk (-)
Kernig sign (-)
Lasegue sign (-)
Brudzinski 1 (-)
Brudzinski 2 (-)
Brudzinski 3 (-)
Brudzinski 4 (-)
Guillain sigh (-)
Reflex fisiologis : Reflex biceps (-)
Reflex triceps (-)
Reflex patella (-)
Reflex Achilles (-)

Reflex patologis : Reflex Tromner (-)


Reflex Hoffman (-) Reflex Gordon (-)
Reflex Oppenheim (-) Reflex Babinski (-)
Reflex Chaddock (-) Reflex Schaeffer (-)
9

V. IKTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Seorang laki-laki 28 tahun dibawa oleh keluarganya ke RSD Madani dengan


keluhan gelisah dan mengamuk yang dialami + 3 minggu yang lalu disertai suka
membanting barang-barang. Pasien mengeluh mendengar bisikan makhluk halus
dan melihat bayangan hitam yang tinggi dan besar. Kadang-kadang pasien melihat
ibunya berubah menjadi bayangan hitam tersebut. Pasien merasa bahwa penyakit
yang dideritanya adalah santet dari pamannya sendiri oleh karena ibu pasien dan
pamannya sering berkelahi. Pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada
tahunb 2004 dan masuk RSD Madani pada tahun 2005.

Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal. Sedangkan dari hasil
pemeriksaan status mental didapatkan halusinasi berupa bayangan hitam dan
suara bisikan, didapatkan waham curiga yang merasa bahwa pamannya
mengguna-gunai dirinya, serta didapatkan ilusi dimana pasien melihat ibunya
menjadi bayangan hitam. Didapatkan pula mood hipertimia dan pembicaraan
membanjir.
10

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL

 Axis I : (F20.0) Skizofrenia Paranoid

- Step 1 : Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala psikologis


dan terlihat perilaku bermakna secara klinis berupa mengamuk
dan merusak barang. Pasien juga mendengar bisikan dan
melihat bayangan hitam. Keadaan ini menimbulkan distress
bagi pasien dan keluarganya serta menimbulkan disability
sehingga pasien dapat disimpulkan mengalami gangguan jiwa.
- Step 2 : Dari pemeriksaan status mental terdapat halusinasi visual dan
auditorik serta terdapat waham curiga sehingga pasien didiagnosa sebagai
gangguan jiwa psikotik.
- Step 3 : Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala ataupun penyakit
yang dapat mengakibatkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari tingkat
kesadarannya, daya konsentrasi, orientasi, serta fungsi kognitif pasien
yang masih baik sehingga digolongkan sebagai gangguan mental non
organik.
- Step 4 : Dari autoanamnesis didapatkan gejala umum adanya manifestasi
berupa halusinasi visual dan auditorik, waham curiga, mood hipertimia
dan pembicaraan membanjir. Gejala-gejala tersebut sudah dialami sejak
tahun 2004, maka berdasarkan kriteria diagnosis PPDGJ III pasien ini
digolongkan sebagai skizoafektif tipe maniak(F25.0).
 Axis II : Ciri kepribadian tidak khas
 Axis III : Tidak ada kelainan
 Axis IV : Tidak diketahui
 Axis V : GAF Scale 60-51 : gejala sedang (moderate), disability sedang.
11

VII. DAFTAR PROBLEM


a. Organobiologik :Terdapat ketidak seimbangan neurotransmitter
(dopamine) di otak sehingga membutuhkan farmakoterapi.
b. Psikologis : Adanya halusinasi visual dan auditorik serta waham
paranoid, sehingga pasien membutuhkan psikoterapi.

VIII. PROGNOSIS

1) Kemungkinan prognosis baik :


 Kepatuhan minum obat
 Adanya dukungan dari keluarga
 Tidak ada kelainan organik
2) Faktor penghambat :
 Pernah dirawat di RSD Madani

Dari faktor di atas prognosis pada kasus ini adalah bonam.

IX. RENCANA TERAPI


1. Farmakoterapi
 Obat utama Antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik :
- Haloperidol 5 mg ( 2 x sehari)
- THP 2 mg
- CPZ 100 mg
2. Psikoterapi :
 Ventilasi: Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega
 Dilakukan terhadap pasien berupa konseling, yaitu memberikan penjelasan
dan pengertian kepada pasien tentang penyakit pasien agar pasien dapat
memahami kondisi dirinya dan dapat menemukan jalan keluar atas
masalahnya.
12

 Menjelaskan kepada keluarga untuk memberikan perhatian, dukungan


serta semangat penuh terhadap pasien.

X. PEMBAHASAN
a. Definisi
Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun
gangguan afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang
jelas dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang
menonjol. Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.
Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang persisten,
seperti halusinasi atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah suasana
(mood disorder) seperti depresi, manik, atau episode campuran

b. Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1%,
kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8%. Namun, angka tersebut adalah
angka perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif
sering kali digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Prevalensi gangguan
telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya
wanita yang menikah; usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia
untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan
skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki
pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata.

Statistik umum gangguan ini yaitu kira-kira 0,2% di Amerika Serikat dari
populasi umum dan sampai sebanyak 9% orang dirawat di rumah sakit karena
gangguan ini. Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada
gangguan bipolar. Prevalensi pada pria lebih rendah daripada wanita. Onset umur
pada wanita lebih besar daripada pria, pada usia tua gangguan skizoafektif tipe
depresif lebih sering sedangkan untuk usia muda lebih sering gangguan
13

skizoafektif tipe bipolar. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan


menunjukkan perilaku antisosial.

c. Etiologi
Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak
dari waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif
mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori etiologi
mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan.
Beberapa data menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif mungkin berhubungan secara genetik. Ada peningkatan resiko terjadinya
gangguan skizofrenia diantara keluarga dengan gangguan skizoafektif.
Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model
konseptual telah diajukan.
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu
tipe gangguan mood.
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari
skizofrenia dan gangguan mood.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang
berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu
gangguan mood.
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama.
Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan
skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen.

d. Gambaran Klinis
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan
jiwa (PPDGJ-III): Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas
(dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang
jelas):
14

a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing
dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan “thought
broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau “delusion of passivitiy” = waham tentang
dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke
pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus). “delusional perception” =
pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara
mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara
halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain).
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme.
15

g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh


tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.

e. Diagnosis
Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia
maupun gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk
gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam
kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain.
Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa pasien
telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode
manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase
aktif dari skizofrenia. Disamping itu, pasien harus memiliki waham atau
halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood
yang menonjol. Gejala gangguan mood juga harus ditemukan untuk sebagian
besar periode psikotik aktif dan residual. Pada intinya, kriteria dituliskan untuk
membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif.
16

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)

Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif

A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.
Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode
campuran dengan gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.
B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama
sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian
bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manic suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita


gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe depresif.
Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada
adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat.
Selain itu, pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif.
Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah
karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-
kondisi lain dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau
membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-
gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-
gangguan waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai
dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan
17

(mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis


gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-


III

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif


adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama
menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa
hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan
bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi
kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan
gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran
dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik
atau depresif (F30-F33)

F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manic

Pedoman Diagnostik

 Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manic yang
tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode
skizoafektif tipe manic.
 Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak
begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang
memuncak.
18

 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi
dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia,
F20.-pedoman diagnostic (a) sampai (d).

F 25.1 Skizoafektif tipe depresif

Pedoman diagnostik

 Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang
tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar di dominasi
oleh skizoafektif tipe depresif.
 Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya 2 gejala khas, baik
depresif maupun kelainan prilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk
episode depresif (F 32)
 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi
dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia,
F20.-pedoman diagnostic (a) sampai (d).

f. Terapi
1) Psikofarmaka
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di
rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang mendasari
farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan
dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik
digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. Jika
protokol thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar
berkelanjutan, medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. Pasien dengan
gangguan skizoafektif, tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan lithium,
carbamazepine (Tegretol), valproate (Depakene), atau suatu kombinasi obat-obat
tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Pasien dengan gangguan skizoafektif,
tipe depresif, harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif
(ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan.
19

Farmakoterapi untuk mengatasi gejala skizoafektif tipe manik yaitu


pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Pada kasus ini, pasien
diberikan carbamazepin dan stelazine. Carbamazepine adalah obat antikejang yang
digunakan sebagai stabilizer mood. Cara kerja mood stabilezer yaitu membantu
menstabilkan kimia otak tertentu yang disebut neurotransmitters yang
mengendalikan temperamen emosional dan perilaku dan menyeimbangkan kimia
otak tersebut sehingga dapat mengurangi gejala gangguan kepribadian borderline.
Efek samping carbamazepine dapat menyebabkan mulut kering dan tenggorokan,
sembelit, kegoyangan, mengantuk, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah.
Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan inhibitor monoamine
oxidase ( MAOIs ). Hindari minum alkohol saat mengambil carbamazepine. Hal
ini dapat meningkatkan beberapa efek samping carbamazepine yaitu dapat
meningkatkan risiko untuk kejang.
Stelazine memiliki efek antiadrenergik sentral, antidopaminergik, dan
efekantikolinergik minimal. Hal ini diyakini stelazine dapat bekerja dengan
memblokade reseptor dopamin D1 dan D2 di jalur mesokortical dan mesolimbik,
menghilangkan atau meminimalkan gejala skizofrenia seperti halusinasi, delusi,
dan berpikir dan berbicara yang tidak terarah. Stelazine menimbulkan efek
samping ekstrapiramidal seperti akatisia, distonia, dan parkinsonisme selain itu
dapat menimbulkan efek samping antikolinergik seperti merah mata dan
xerostomia (mulut kering). Stelazine dapat menurunkan ambang kejang sehingga
harus berhati-hati penggunaan stelazine pada orang yang mempunyai riwayat
kejang.
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon terbaik untuk
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan
skizoafektif dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood
stabilizer cenderung bekerja dengan baik.
20

2) Psikoterapi
Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan.
Menurut penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk
kesembuhan pasien, tetapi juga harus diiringi oleh lingkungan keluarga yang
mendukung dan sikap pasien terhadap penyakit yang diderita.
Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-edukasi
pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa menjadi
bagian penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.
21

DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis, W.S. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga


University Presss.
2. Kaplan, H.I, Sadock, B.J, Grebb J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh.
Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher.
3. Melissa Conrad Stöppler. 2013. Schizoaffective disorder.
http://www.medicinenet.com. Diakses: 10 Oktober 2015
4. Jibson MD. 2011. Schizophrenia: Clinical presentation, epidemiology, and
pathophysiology. http://www.uptodate.com. Diakses: 10 Oktober 2015
5. Rusdi Maslim. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
6. Ken Duckworth, M.D., and Jacob L. Freedman, M.D. 2012. Schizoaffective
disorder. diakses: 10 Oktober 2023
7. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of
Mental disorders (DSM IV TM). American Psychological Association
(APA): Washington DC. 1996.
8. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri