Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

DIARE PADA ANAK

KELOMPOK 6 :

1. MEIKE DWI RAHAYU Y.S


2. SUWANDA ALRASYID
3. REZA JULIA

DIII KEPERAWATAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TA 2017/2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat NYA
sehingga kami bisa menyelesaikan tugas MAKALAH yang berjudul DIARE PADA ANAK
dengan lancar, tanpa rahmat NYA saya tidak akan bisa menyelesaikan tugas ini dengan lancar
dan tepat. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan jalan penerangan bagi kita semua selaku umatnya.
Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada ibu Umi Baroroh S.st selaku dosen pengampu mata
kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah.

Semoga dengan dibuatnya MAKALAH yang berjudul DIARE PADA ANAK pembaca
menjadi lebih tahu dan mengerti lebih spesifik tentang DIARE PADA ANAK.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya berharap atas kritikan
yang membangun untuk makalah yang saya buat ini karena saya masih dalam porses
pembelajaran.
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..............................................................................................


B. Rumusan Maslah............................................................................................
C. Tujuan............................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Diare…………………………………………………………….
B. Etiologi ……………………………………………………………………..
C. patofisiologi…………………………………………………………………
D. Manifestasi klinis……………………………………………………………..
E. Diagnosa.…………………………………………………………………..…
F. Penatalaksanaan………………………………………………………………
G. Pemeriksaan diagnostik……………………………………………….……..
H. Pemeriksaan fisik ……………………………………………………………
I. Asuhan keperawatan pada anak ……………………………………………
J. Rencana keperawatan ……………………………………………………….

BAB III PENUTUP

Kesimpulan…………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….………
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih
banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi
penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran
orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang
menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada
terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare
dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang.
Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua. sehingga
mungkin saja diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com).Angka tersebut
bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di
beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan serius.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi
lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor utamanya.
Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai
penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare
baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di saluran
pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan.
(lifestyle.okezone.com).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan pada klien dengan diare pada anak.

2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami definisi diare
2. Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus diare.
3. Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis diare.
C. Manfaat

1. Dapat mengetahui dan memahami definisi diare


2. Dapat mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus diare
3. Dapat menyebutkan dan memahami manifestasi klinis diare

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain meliputi
phatofisiologi hipertensi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,asuhan keperawatan
pada pasien diare pada anak.
BAB II

PEMBAHASAN

DIARE PADA ANAK.

A. Defenisi

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan,
dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml
sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).

Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.

Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan
darah (Ngastiyah, 1997).

Anak usia TODDLER adalah anak usia antara 1 sampai 3 tahun (Donna L. Wong)

B. Etiologi

Menurut A. Aziz (2007), Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :

a. Faktor infeksi
Proses ini dapat diawali dengan adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk kedalam saluran
pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa intestinal yang dapat
menurunkan daerah permukaan intestinal sehingga terjadinya perubahan kapasitas dari intestinal yang
akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi intestinal dalam absorbsi cairan dan elektrolit. Adanya toksin
bakteri juga akan menyebabkan sistem transpor menjadi aktif dalam usus, sehingga sel mukosa
mengalami iritasi dan akhirnya sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat.

1. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada
anak.
2. Infeksi bakteri: oleh bakteriVibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Aeromonas.
3. Infeksi virus: oleh virus Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, poliomyelitis), Adenovirus,
Ratavirus, Astrovirus.
4. Infestasi parasit: oleh cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba
histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans).
5. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti Otitis media
akut (OMA),Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia,Ensifalitis, keadaan ini terutama terdapat pada
bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
b. Faktor malabsorbsi
Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat
kemudian akan terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga
usus sehingga terjadilah diare.
1. Malabsorbsi karbohidrat: Disakarida (Intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa), munosakarida
(intoleransi lukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada b
2. ayi dan anak yang tersering ialah intoleransi laktosa.
3. Malabsorbsi lemak
4. Malabsorbsi protein

c. Faktor makanan
Dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik dan dapat terjadi
peningkatan peristaltik usus yang akhirnya menyebabkan penurunan kesempatan untuk menyerap
makanan seperti makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan.

d. Faktor psikologis
Dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik usus yang dapat mempengaruhi proses
penyerapan makanan seperti : rasa takut dan cemas.

C. Patofisiologi

Menurut Suriadi (2010), akibat terjadinya diare baik akut maupun kronis adalah :
a) Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari
gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan.
b) Cairan, sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler kedalam tinja,
sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit, dan dapat terjadi asidosis metabolik.
Diare yang terjadi merupakan proses dari transfort aktif akibat rangsangan toksin terhadap
elektrolit kedalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya
sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal
sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi
gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal
untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan makanan. Ini terjadi pada sindrom
malabsorbsi. Serta meningkatnya motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi
intestinal.

D. Manifestasi klinis.

a) Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
b) Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek. (elastisitas menurun) ubun-ubun
dan mata cekung, membrane mukosa kering.
c) Keram abdominal
d) Demam
e) Mual dan muntah
f) Anoreksia
g) Lemah
h) Pucat
i) Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan pernafasan cepat
j) Menurun atau tidak ada pengeluaran urin

Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, napsu makan berkurang
kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama
berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu. Daerah anus dan sekitarnya timbul luka
lecet karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama
diare.

Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena
lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
kehilangan cairan terus berlangsung tanpa penggantian yang memadai, gejala dehidrasi mulai
tampak yaitu: berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung
(pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit kering.

Bila dehidrasi terus berlanjut dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut
jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat dan lemah bahkan tidak teraba, tekanan darah menurun,
klien tampak lemah dengan kesadaran menurun. Karena kekurangan cairan, diuresis berkurang
(oliguria sampai anuria). Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat, pernapasan
cepat dan dalam (pernapasan Kussmaul).

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbul diare :

1. Gangguan osmotik

Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam
lumen usus naik sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam lumen usus. Isi
rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbulah diare.

2. Gangguan sekresi

Akibat-rangsangan-tertentu-(toksin)..pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi


air dan elektrolit kedalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare karena kenaikan isi
lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap


makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

Sebagai akibat diare akan terjadi:

 Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan


keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
 Gangguan gizi

Selama sakit sering terjadi gangguan gizi dengan akibat penurunan berat badan dalam waktu
yang singkat oleh karena:

 Makanan sering dihentikan oleh orangtua karena takut diare/muntah bertambah hebat
 Orang tua hanya memberikan air teh saja
 Walaupun susu diteruskan sering diencerkan dalam waktu yang lama
 Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan baik karena
adanya hiperperistaltik

 Hipoglikemia

 2-3 % dari anak-anak diare


 jarang terjadi pada anak dengan gizi baik namun sering terjadi pada anak dengan
KKP (Kurang Kalori Protein)
 Hipoglikemi terjadi karena penyimpanan / persediaan glikogen dalam hati terganggu
dan kadang disebabkan adanya gangguan absorpsi glukosa

 Gangguan sirkulasi darah

Akibat diare dengan/tanpa muntah-muntah dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa syok
hipovolemik. Hal ini menyebabkan perfusi jaringan berkurang dan dapat menyebabkan hipoksi.

E. Diagnose keperawatan.

 Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan encer.
 Resiko gangguan integritas kulit berhungan dengan seringnya buang air besar.
 Resiko pada imfeksi pada orang lain berhungan dengan terinfeksi kuman diare atau kurangnya
pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake output
(pemasukan) dan menurunnya absorbs makanan dan cairan
 Kurangnya pengetahuan berhungan dengan perawatan anak.
 Cemas dan takut pada anak/orang tua berhubungan dengan hospitalisasi dan kondisi sakit.

F. Penatalaksanaan

Prinsip Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas:
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.
2. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.
3. Memberikan terapi simtomatik
4. Memberikan terapi definitif.

Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan
akurat, yaitu:

1. Jenis cairan yang digunakan.

Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup
banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar
kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya
ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik.
Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah
dehidrasi dengan segala akibatnya.

2. Jumlah cairan yang hendak diberikan.

Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan
jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat
dihitung dengan cara/rumus:

a. Mengukur BJ Plasma
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:
BJ Plasma – 1,025
———————- x BB x 4 ml
0,001
b. Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:
* diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB
* diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB
* diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB
3. Jalan masuk atau cara pemberian cairan.

Rute pemberian cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena. Larutan orali
dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g KCl stiap
liternya diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah
rehidrasi inisial untuk mempertahankan hidrasi.

4. Jadwal pemberian cairan

Jadwal rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ plasma atau sistem skor diberikan
dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk mencapai rehidrasi optimal secepat mungkin.
Jadual pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan pada kehilangan
cairan selama 2 jam fase inisial sebelumnya. Dengan demikian, rehidrasi diharapkan
lengkap pada akhir jam ke-3.

Penatalaksanaan terapeutik

 Penanganan focus pada penyebab.


 Pemberian cairan dan elektrolit; oral (seperti pedialyte atau oralit) atau terapi parenteral.
 Pada bayi pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI

G. Pemeriksaan diagnostic
 Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan
 Kultur tinja
 Pemeriksaan elektrolit, BUN,creatinine, dan glukosa
 Pemeriksaan tinja; PH, leukosit, glukosa, dan adanya darah.

H. Pemeriksaan Fisik

1. Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
2. Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar
lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.
3. Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas
tambahan.
4. Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
5. Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus
meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer
6. Perkemihan
Volume diuresis menurun.
7. Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.
8. Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
9. Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
10. Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
11. Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
12. Neorologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.

I. asuhan keperawatan pada anak

1. Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur), abortus
atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan
serta imunisasi.
2. Natal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong
persalinan, penyulit persalinan.
3. Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg – 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan
baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital.
4. Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan
makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-masalah feeding
(vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.
5. Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden
penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap
sebelumnya.
6. Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-
tumbuhan, debu rumah
7. Obat-obat terakhir yang didapat
Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.
8. Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang
terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi,
pemberian tubrkulin test dan reaksinya.
9. Tumbuh Kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg – 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB
bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada
usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan
pada usia 10-12 bulan.

Riwayat.

1. Riwayat Psikososial
Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya
dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah
belajar bermain dengan teman sebaya.
2. Riwayat Spiritual
Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.
3. Reaksi Hospitalisasi

 Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan yang
dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih
 Perubahan pola kegiatan rutin
 Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi
 Kehilangan otonomi
 Takut keutuhan tubuh
 Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan terbatasnya
kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya

1. Aktivitas Sehari-Hari
1. Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari
2. Output cairan :
(a) IWL (Insensible Water Loss)
Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam
Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh – 36,8 oC)
(b) SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati,
misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :
Urine : 1 – 2 cc / Kg BB / 24 jam
Faeces : 100 – 200 cc / 24 jam
Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.

J. Rencana Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta
intake terbatas (mual)

Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi

Intervensi Rasional
Berikan cairan oral dan parenteral sesuai Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti
dengan program rehidrasiPantau intake dan cairan yang keluar bersama
output. feses.Memberikan informasi status
keseimbangan cairan untuk menetapkan
kebutuhan cairan pengganti.
Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan Menilai status hidrasi, elektrolit dan
hasil pemeriksaan laboratorium keseimbangan asam basa
Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif Pemberian obat-obatan secara kausal
penting setelah penyebab diare diketahui

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan

Intervensi Rasional
Pertahankan tirah baring dan pembatasan Menurunkan kebutuhan metabolik
aktivitas selama fase akut.
Pembatasan diet per oral mungkin
Pertahankan status puasa selama fase akut ditetapkan selama fase akut untuk
(sesuai program terapi) dan segera mulai menurunkan peristaltik sehingga terjadi
pemberian makanan per oral setelah kondisi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan
klien mengizinkan sesegera mungkin penting setelah keadaan
klinis klien memungkinkan.
Bantu pelaksanaan pemberian makanan Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
sesuai dengan program diet
Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan
sesuai indikasi mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi
lebih lanjut

3. Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal

Intervensi Rasional
Atur posisi yang nyaman bagi klien, Menurunkan tegangan permukaan abdomen
misalnya dengan lutut fleksi. dan mengurangi nyeri
Lakukan aktivitas pengalihan untuk Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus
memberikan rasa nyaman seperti masase perhatian kliendan meningkatkan
punggung dan kompres hangat abdomen kemampuan koping
Bersihkan area anorektal dengan sabun Melindungi kulit dari keasaman feses,
ringan dan airsetelah defekasi dan berikan mencegah iritasi
perawatan kulit
Analgetik sebagai agen anti nyeri dan
Kolaborasi pemberian obat analgetika dan antikolinergik untuk menurunkan spasme
atau antikolinergik sesuai indikasi traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi
klinis
Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk
Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik menetapkan intervensi selanjutnya
nyeri, petunjuk verbal dan non verbal

4. Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.

Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.

Intervensi Rasional
Dorong keluarga klien untuk membicarakan Membantu mengidentifikasi penyebab
kecemasan dan berikan umpan balik tentang kecemasan dan alternatif pemecahan
mekanisme koping yang tepat. masalah
Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah Membantu menurunkan stres dengan
yang umum terjadi pada orang tua klien mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya
yang anaknya mengalami masalah yang orang yang mengalami masalah yang
sama demikian
Ciptakan lingkungan yang tenang, Mengurangi rangsang eksternal yang dapat
tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus memicu peningkatan kecemasan
dalam membantu klien.

5. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d
pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.

Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu
mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.

Intervensi Rasional
Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh
pembelajaran, termasuk pengetahuan kesiapan fisik dan mental serta latar
tentang penyakit dan perawatan anaknya. belakang pengetahuan sebelumnya.
Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, Pemahaman tentang masalah ini penting
penyebab dan akibatnya terhadap gangguan untuk meningkatkan partisipasi keluarga
pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas klien dan keluarga dalam proses perawatan
sehari-hari. klien
Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, Meningkatkan pemahaman dan partisipasi
dosis, frekuensi dan cara pemberian serta keluarga klien dalam pengobatan.
efek samping yang mungkin timbul
Meningkatkan kemandirian dan kontrol
Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan
keluarga klien terhadap kebutuhan
perineal setelah defekasi
perawatan diri anaknya

6. Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru

Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda


kenyamanan

Intervensi Rasional
Anjurkan pada keluarga untuk selalu Mencegah stres yang berhubungan dengan
mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perpisahan
perawatn yang dilakukan
Berikan sentuhan dan berbicara pada anak Memberikan rasa nyaman dan mengurangi
sesering mungkin stress
Lakukan stimulasi sensory atau terapi Meningkatkan pertumbuhan dan
bermain sesuai dengan ingkat perkembangan secara optimun
perkembangan klien
BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah
cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal
yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali
sehari.
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3
kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
Anak usia TODDLER adalah anak usia antara 1 sampai 3 tahun (Donna L. Wong)
DAFTAR PUSTAKA

A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI

Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta

Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4, EGC,
Jakarta

Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.

Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

Whaley & Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda company,
USA.