Anda di halaman 1dari 7

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA REFLEKSI KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN 22 Septemb 2017


UNIVERSITAS ALKAIRAAT
PALU

Disusun Oleh :

Musdalipa Hi.P
(12 777 065)

Pembimbing : dr. Patmawati, M.Kes., Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIANILMU KEDOKTERAN JIWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2017

1
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat :-

Pekerjaan : IRT

Agama : Islam

Status Perkawinan : Sudah menikah

Pendidikan : SD (tidak tamat)

Tanggal Pemeriksaan : 05 Agustus 2017

Tempat Pemeriksaan : Ruang Langsat RSD Madani Palu

Diagnosis Sementara : Gangguan Mental Lainnya Akibat


Kerusakan Dan Disfungsi Dan Penyakit Fisik

A. Deksripsi
Seorang permpuan 20 tahun tidak tamat SD sudah menikah,
dibawa ke RSD Madani pada 05 Agustus 2017 oleh keluarganya
karena selalu mengamuk dan gelisah sejak 2 bulan yang lalu.
Sebelunya pasien tampak kesepian karena terpisah jauh dari orang
tuanya dan hanya tinggal bersama keluarga neneknya. Sebelum
mengamuk pasien juga mengatakan mendengar suara bisikan dari
neneknya yang selalu merasuki pikirannya sehingga membuat pasien
marah da mengamuk. Pasien juga juga mengatakan masalah dalam
keluarganya yang membuat sering berfikir masalah sawah dan tanah
dorang tuanya. Menurut pasien pertama kali masuk masuk rumah sakit
2
pada tahu 2003 dengan keadaan mengamuk. Riwayat penyakit medis
yaitu epilepsi.

B. Evaluasi
- Pengalaman baik : selama proses anamnesis pasien cukup
kooperatif
- Pengalaman buruk : -

C. Analisis
Gangguan Mental lainnya akibat kerusakan dan disungsi otak dan
penyakit fisik
Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk Gangguan
Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik:
 Adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi otak, atau penyakit fisik
sistemik yang diketahui berhubungan dengan dengan salah satu
sindrom mental yang tercantum.
 Adanya hubungan waktu (dalam beberapa minggu atau bulan) antara
perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya sindrom
mental
 Kekambuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau
dihilangkannya penyebab yang mendasarinya
 Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif dari
sindrom mental ini (seperti pengaruh yang kuat dari riwayat keluarga
atau pengaruh stres sebagai pencetus).

Pada pasien ini didapatkan gejala yang amat jelas yaitu terdapat halusinasi
auditorik dimana pasien mendengar suara”neneknya yang sudah meninggal.
Farmakoterapi yang diberikan pada pasien ini berupa antipsikosis tipikal,
dimana obat ini bekerja dengan cara memblokade reseptor dopamine pasca

3
sinaptic neuron diotak khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal.
Penggunaan obat ini didasarkan atas hipotesis bahwa sindrom psikosis berkaitan
dengan aktivitas neurotransmitter dopamin yang meningkat (hiperaktivitas
dopaminergik sentral)
Untuk terapi awal pemberian obat Haloperidol merupakan antipsikotik
tipikal yang poten untuk mengatasi gejala positif pada pasien. Dosis maksimum
Haloperidol antara 5-15 mg/hari. Pemberian haloperidol dimulai dengan dosis
awal yaitu 1,5mg 3 kali sehari, jika dalam pemantauan dua sampai tiga hari terapi
dianggap kurang dapat memperbaiki keadaan pasien maka dosis dapat dinaikkan
secara bertahap hingga mencapai dosis efektif.
Pemberian haloperidol harus diawasi dengan baik karena salah satu efek
samping pemberian obat antipsikotik khususnya golongan tipikal seperti
haloperidol adalah menimbulkan gejala-gejala ekstrapiramidal. Jika pada pasien
terdapat gejala tersebut maka pemberian obat Trihexyphenidyl tablet jika pasien
dapat minum dan jika tidak dapat di injeksi dengan Diphenhydramine dianjurkan
untuk memperbaiki gejala-gejala ekstrapiramidal pasien

D. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I :
 Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna berupa mengamuk, gelisah, memukul dan
menggigit perawat panti. Keadaaan ini menimbulkan disstress bagi pasien
dan keluarganya, dan menimbulkan disabilitas dalam sosial dan
pekerjaan dan dalam menilai realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami Gangguan Jiwa.
 Pada pasien ditemukan hendaya berat dalam menilai realita , juga
terdapat hendaya dalam social dan pekerjaan yang telah dialami,
sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik.

4
 Pada pemeriksaan status internus dan neurologis ditemukan adanya
kelaianan yang mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan
gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang
diderita pasien ini. Dengan demikian pasien di kategorikan Gangguan
Mental Organik.
 Dari data diatas, saat ini didapatkan halusinasi yang diderita pasien
muncul bersamaan dengan adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi
otak yang menyebabkan perubahan perilaku, sehingga dapat didiagnosis
Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak
dan Penyakit Fisik
 Aksis II
Retardasi mental.
 Aksis III
Epilepsi

 Aksis IV
Stressor psikososial

 Aksis V
GAF scale 50-41 ( gejala berat (serious) disabilitas berat).

E. RENCANA TERAPI
1. Farmakoterapi:
o Haloperidol 2 mg, 2 x1/ hari
o THP 1mg 2x1
o Diazepam 5 mg 1x1

2. Non psikofarmaka
a) Edukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:

5
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara
pengobatan, dan efek samping pengobatan.
- Memotivasi agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol
setelah pulang dari perawatan.
- Membantu agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari
secara bertahap
- menggali kemampuan yang bisa dikembangkan.

b) Eduksi terhadap keluarga:


- Memberikan penjelasan mengenai gangguan yang dialami pasien
agar keluarga lebih memaklumi kondisi pasien.
- Menyarankan agar lebih telaten dalam pengobatan pasien dengan
membawa kontrol secara teratur, memperhatikan agar minum obat
secara teratur, dan memberi dukungan agar mempunyai aktivitas
yang positif.

F. KESIMPULAN
Berdasarkan kasus di atas dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan Dadisfungsi Dan Penyakit
Fisik yang sesuai diagnosis dari PPDGJ-III. Pengobatan skizoafektif paranoid
adalah diberikan anti psikotik

6
DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim R (ed). 2001.Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-
III. Jakarta: Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, PT Nuh Jaya
2. Sadock B J, Sadock V A. Kaplan & Sadock. 2010.Buku Ajar Psikiatri Klinis
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta: EGC
3. Maslim, R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi Ketiga. Jakarta : FK Unika Atmajaya