Anda di halaman 1dari 12

1

NAMA : PUTRI INDAH LESTARI


NIM : 17.01.347
PEMBIMBING UTAMA : YURI PRATIWI UTAMI, S.Farm.,
M.Si., Apt
PEMBIMBING PERTAMA : KHAERUDDIN, S.Si., M.Si., Apt

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kanker merupakan suatu penyakit yang dianggap sebagai masalah
besar didunia. Organisasi kesehatan dunia menyatakan, pada tahun 2015
diperkirakan ada 9 juta orang yang meninggal karena kanker dan pada
tahun 2030 diperkirakan meningkat sebesar 11,4 juta orang yang
meninggal karena kanker. Jumlah kematian akibat kanker lebih besar dari
pada total jumlah kematian akibat TBC, HIV dan malaria. World Health
Organization (WHO) mengungkapkan terjadi peningkatan jumlah
penderita kanker setiap tahunnya hingga mencapai 6,25 juta orang dan
dua pertiganya berasal dari Negara berkembang termasuk Indonesia
(Depkes RI, 2010).
Beberapa usaha pengobatan kanker telah dilakukan dengan
cara seperti pembedahan, radiasi, pemberian obat anti kanker atau
kemoterapi. Namun usaha ini belum memperoleh hasil memuaskan,
bahkan efek dari kegagalan pembedahan dapat menyebabkan kanker
menyebar ke bagian tubuh lain dengan kondisi yang parah (Nafrialdi dan
Gunawan, 2007). Salah satu metode pengobatan antikanker yang telah
ada dan masih terus dikembangkan adalah penggunaan agen antikanker
dari bahan alam. Penggunaan bahan alam relative lebih aman karena
efek samping yang relative kecil. Apabila digunakan dengan tepat agen
antikanker dari bahan alam mampu mengobati pada sumber penyakit

2
dengan memperbaiki sel-sel, jaringan dan organ tubuh yang rusak dengan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Kamubabwa et al, 2000). Salah
satu bahan alam yang diduga sebagai antikanker adalah teh hitam
(Camelia sinensis L).
Teh hitam berdasarkan proses pengolahannya, merupakan teh
fermentasi penuh atau oksidasi enzimatis. Ada beberapa tahap
pembuatan dari daun teh menjadi teh hitam yaitu daun teh yang telah
dipetik dibiarkan layu sebentar, kemudian daun teh tersebut digiling
hingga kandungan cairan dalam teh keluar. Daun teh dibiarkan teroksidasi
enzimatis seluruhnya, kemudian teh tersebut dikeringkan (Ningrat, 2006).
Teh hitam atau black tea secara kimia banyak mengandung senyawa-
senyawa unggul yang sangat berperan dalam kesehatan. Teh hitam
memiliki dua kandungan yang paling signifikan salah satunya yaitu
theaflavin, dimana diketahui bahwa theaflavin hanya terdapat pada teh
hitam atau teh yang mengalami oksimatis, kekuatan theaflavin dianggap
setara dengan katekin sebagai antioksidan alami yang sangat potensial
sebagai penangkal radikal bebas (Winarsi, 2007). Daya antioksidan teh
hitam (Camelia sinensis L) asal Malino yakni ekstrak etanol teh hitam
mempunyai nilai IC50 (Inhibitor Concentration 50%) sebesar 14,0993 μg/ml,
dengan kekuatan 3 kali lebih kuat dibanding dengan vitamin C yang
memiliki IC50 sebesar 52,8986 µg/ml (Susanti., S, 2009).
Lazimnya setiap bahan alam yang diduga berpotensi sebagai obat
maupun secara empiris telah digunakan masyarakat sebagai obat, diawali
dengan uji pre-klinis toksisitas untuk memprediksi tingkat keamanannya,
kemudian dilanjutkan dengan uji farmakologi lainnya. Salah satu metode
toksisitas in vitro yang sering digunakan adalah metode Brine Shrimp
Letality Test (BSLT) (Meyer, et al., 1982 cit. Frengki, 2014).
Metode BSLT merupakan salah uji pendahuluan yang sederhana
untuk skrining toksisitas dari ekstrak tanaman dengan menggunakan larva
udang Artemia salina Leach (Meyer et al., 1982). Uji toksisitas dengan
metode BSLT ini memiliki spektrum aktivitas farmakologi yang luas,

3
prosedurnya sederhana (tanpa tehnik aseptik), cepat dan tidak
membutuhkan biaya yang besar (tidak perlu serum hewan), serta
hasilnya representatif dan dapat dipercaya (Meyer, et al., 1982; Alam,
2002).
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu untuk dilakukan skrining awal
kemampuan sitotoksik dari ekstrak teh hitam asal Malino menggunakan
metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) sebelum diuji cobakan pada
sel kanker.
I.2 Rumusan Masalah
Apakah ekstrak teh hitam (Camelia sinensis L) asal Malino
memiliki aktivitas sitotoksik dengan mengunakan metode Brine Shrimp
Lethality Test (BSLT) ?
I.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik
dari ekstrak etanol teh hitam (Camelia sinensis L) asal Malino
menggunakan metode Brine Shrimp Letality Test (BSLT) sehingga dapat
digunakan sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut pada sel
kanker.
I.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai skrining awal aktivitas
sitotoksik dari teh hitam (Camelia sinensis L) asal Malino dan menunjukan
bahwa teh hitam asal Malino merupakan tanaman yang potensial untuk
dikembangkan dalam terapi antikanker.

BAB III
METODE PENELITIAN

III.1 Jenis penelitian

4
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental.
III.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Sekolah
Tinggi Ilmu Farmasi Makassar pada bulan Juni 2019 sampai selesai.
III.3 Pelaksanaan Penelitian
III.3.1 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah teh hitam (black tea
Malino High Land) dari Malino.
III.3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain
peralatan ekstraksi, wadah untuk penetasan larva Artemia salina
Leach, aerator, alat-alat gelas, lampu, deksikator, alumunium foil
dan timbangan analitik.
Adapun bahan-bahan yang digunakan antara teh
hitam (Black tea), etanol 70%, FeCl3, HCL 2 N, NaCl, telur
Artemia salina Leach, air laut, ragi, pereaksi Meyer, pereaksi
Wegner, pereaksi Dragendrof serta aquadest.
III.3.3 Cara Kerja
III.3.3.1 Pembuatan Ekstrak The Hitam
1. Pengambilan Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah daun teh
hitam (Camelia sinensis L) yang sudah diolah dalam
bentuk produk teh hitam (Black tea Malino higt land).
2. Pembuatan Ekstrak Teh Hitam
Sampel teh hitam (Camelia sinensis L)
sebanyak 1 kg diekstraksi mengunakan pelarut
etanol 70% sebanyak 7,5 liter dengan cara metode
maserasi. Simplisia dimasukan kedalam wadah
maserasi kemudian ditambahkan pelarut secukupnya
untuk proses pembasahan lalu didiamkan selama 15-
30 menit. Sisa pelarut ditambahkan hingga semua

5
simlisia terendam sempurna kemudian didiamkan
ditempat yang terlindung dari cahaya matahari
selama 3 hari dan diaduk setiap 12 jam lalu disaring.
Residu dimaserasi kembali (remaserasi) dengan
pelarut yang sama seperti sebelumnya sebanyak
tiga kali. Filtrat dikumpulkan hingga diperoleh ekstrak
kental (Atun, 2014).
III.3.3.2 Uji Fitokimia
1. Identifikasi Alkaloid
Ekstrak dicampur dengan 5 ml kloroforom dan
5 ml amonia kemudian dipanaskan, dikocok dan
disaring. Asam sulfat 2 N sebanyak 5 tetes
ditambakan pada masing-masing filtrat, kemudian
kocok dan diamkan. Bagian atas dari masing-masing
filtrat diambil dan diuji dengan pereaksi Mayer, dan
Dragendorf. Terbentuknya endapan jingga, cokelat,
dan putih menunjukan adanya alkaloid (Harbone,
1987).
2. Identifikasi Steroid/Triterpenoid
Ekstrak sebanyak 1 ml dicampur dengan 3 ml
kloroforom atau 3 ml etanol 70 % dan ditamba 2 ml
asam sulfat pekat dan 2 ml asam asetat anhidrat.
Perubahan warna dari unggu ke biru atau hijau
menunjukan adanya senyawa steroid dan
terbentuknya warna kecoklatan antar permukaan
menunjukan adanya senyawa triterpenoid (Harbone,
1987).
3. Identifikasi Flavanoid
Ekstrak sebanyak ± 1 ml dicampur dengan 3 ml etanol
70% lalu dikocok, dipanaskan, dan dikocok lagi
kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh ditambakan
serbuk Magnesium 0,1 g dan 2 tetes asam klorida

6
pekat. Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol
menunjukkan adanya flavanoid (Harbone, 1987).
Ekstrak sebanyak ± 1 ml dicampur dengan 3 ml etanol
70% lalu dikocok, dipanaskan, dan dikocok lagi
kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh ditambakan
serbuk Magnesium 0,1 g dan 2 tetes asam klorida
pekat. Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol
menunjukkan adanya flavanoid (Harbone, 1987).
4. Identifikasi Saponin
Ekstrak dimasukan ke dalam tabung reaksi, air panas
sebanyak 10 ml ditambahkan, dinginkan dan
kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Positif
mengandung saponin jika terbentuk buih setinggi 1-10
cm selama tidak kurang dari 10 menit dan pada
penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, buih tidak
hilang (Harbone, 1987).
5. Identifikasi Tanin
Ekstrak sebanyak ± 1 ml sampel didihkan dengan 20
ml air atas penagas air, lalu disaring. Filtrat yang
diperoleh ditambah beberapa tetes (2-3 tetes) FeCl 3
1% dan terbentuknya warna coklat kehijawan atau
biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Harbone,
1987).
III.3.3.3 Pengujian Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
1. Pemilihan dan Pemeliharaan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini
adalah larva udang Artemia saliina Leach yang
dipelihara dalam wadah yang berisi air laut bersih
dengan pH yang dikondisikan 7-8 dibawah cahaya
lampu dan suhu 250C dibiarkan selama 48 jam.
2. Penyiapan Larva

7
Sebanyak 50 mg telur Artemia salina Leach
direndam dalam 200 mL air laut pada wadah yang
diberi sinar lampu, setelah 24 jam telur akan
menetas menjadi larva dan larva yang telah berumur
48 jam akan digunakan sebagai hewan untuk uji
aktivitas toksisitas.
3. Pelaksanaan Uji Toksisitas
Ekstrak etanol kental ditimbang sebanyak 100
mg dilarutkan dengan etanol 70% 10 mL sehingga
diperoleh konsentrasi 10.000 µg /mL sebagai
persediaan (stok). Dari sedian tersebut dipipet 1, 10,
100, 1000, µg/ mL kedalam vial lalu diuapkan. Untuk
kontrol yaitu 5 ml air laut kedalam masing-masing
vial dan ditambahkan 10 ekor larva Artemia salina
Leach, dan dicukupkan volumenya hingga 10 mL.
tiap vial ditambahkan 1 tetes suspensi ragi (3 mg
dalam 5 ml air laut) sebagai sumber makanan. Vial-
vial uji kemudian disimpan ditempat yang cukup
mendapatkan sinar lampu. Setelah 24 jam dilakukan
pengamatan terhadap jumlah larva yang mati. Untuk
tiap sampel dan kontrol dilakukan pengulangannya
sebanyak tiga kali.

III.4 Variabel Penelitian


1. Variabel bebas : ekstrak etanol teh Hitam (Camelia sinensis L)
2. Variabel terikat : efek sitotoksik terhadap larva udang Artemia
salina Leach.
III.5 Pengumpulan dan Analisis Data
Data dikumpulkan dari hasil pengamatan jumlah larva yang
mati setelah 24 jam dari tiap konsentrasi sampel dan kontrol. Data
tersebut selanjutnya dianalisis secara probit untuk memperoleh nilai

8
LC50, larutan ekstrak yang diuji dikatakan mempunyai efek toksik
apabila harga LC50 <1000 µg/mL (Alam, 2002).
III.6 Jadwal Penelitian
Periode Waktu
Tahap Kegiatan
3 4 5 6 7 8 9
Studi
Pustaka
Seminar
Persiapan
Skripsi I
Orientasi
Penelitian
Ekstraksi
Pengujian
toksisitas
Pelaksanaan
ekstrak
etanol teh
hitam)
Analisis Data
Penulisan
Skripsi
Penyelesaian Seminar
Skripsi II
Ujian Tugas
Akhir
DAFTAR PUSTAKA
Alam, G. 2002. Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) sebagai bioassay
dalam isolasi senyawa bioaktif dari bahan alam. Majalah Farmasi
dan Farmakologi. 6(2):432-435.
Atun, S. 2014. Metode Isolasi dan Identifikasi Struktur Senyawa Organik
Bahan Alam. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur. 8(2).
Depkes RI. 2010. Laporan PTM berdasarkan rumah sakit dan puskesmas
Kabupaten sukuharjo. Departemen Kesehatan : Jakarta.
Frenki, dkk. 2014. Uji Toksisitas ekstrak Etanol Sarang Semuy Lokal Aceh
(Mymercodia sp.) dengan Metode BSLT Terhadap Larva Udang
Artemia Salina Leach, 8:60-62.
Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia, Terjemahan oleh K. Padmawinata
dan I. Soediso. Institut Teknologi Bandung : Bandung.

9
Kamuhabwa, A., Nshimo, C. 2000. Cytotoxicity of somo Medical Plant
Ekstracts Used In Tarzanian 12 Tradisional medicine. J.
Ethnopharmacol. 70: 143-149.
Meyer, U.N., N.R. Ferigni, J.E. Putnam, L.B. Ja Cobsen, D.E. Nichols, and
J.L. Melaughlin. 1982. “Brine shrimp: A Covenient General
Bioassay for Active Plant Constituents”. Planta Medika. 45:31-34.
Nafrialdi dan Gunawan, S.G. 2007 Antikanker, Farmakologi dan Terapi,
Edisi ke-5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Ningrat, S.D. 2006 Teknologi Pengolahan Teh Hitam. Institut Teknologi
Bandung : Bandung.
Susanti, S. 2009. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Teh Hitam
(Camelia sinensis) asal Malino dengan Metode DPPH (2,2 Dipheny
– 1 – Picrylhydrazyl) Karya Tulis Ilmiah. hal. 1-38.
Winarsi, H. 2007. Antioksidant Alami dan Radikal Bebas, Sebuah tinjauan
ilmiah. Kanisus : Yogyakarta

Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Etanol Teh Hitam


(Camelia sinensis L)

1 kg Teh hitam

Dimaserasi dengan etanol 70% (3x24 jam )

Filtrat Residu

10
Remaserasi dengan etanol
70% sebanyak 3 kali

Filtrat
Residu

Diuapkan

Ekstrak kental

Uji fitokimia
Identifikasi Alkaloid
Identifikasi
Steroid/Triterpenoid
Identifikasi Flavanoid
Identifikasi Saponin
Identifikasi Tannin

Lampiran 2. Skema Kerja Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Teh Hitam


Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bslt)

Ekstrak etanol teh hitam kental

10000
ppm

10 100 1000 Kontol


ppm ppm ppm air laut

11
Masing-masing vial ditambahkan:
1. Air laut sampai 10 mL berisi larutan uji kecuali
kontol air laut
2. 10 ekor larva Artemia salina Leach
3. 1 tetes uspensi ragi (makanan larva) 3mg/5ml

Setelah 24 jam dihitung Artemia salina Leach yang mati

Nilai LC50

Analisis data

Kesimpulan

12