Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL

KEGIATAN PENDAMPINGAN KEPADA MASYARAKAT

PENYULUHAN TENTANG PERILAKU SEX YANG SEHAT DALAM UPAYA


PENCEGAHAN HIV/AIDS DI WILAYAH KEDUNGLUMBU

KECAMATAN PASARKLIWON KOTA SURAKARTA

I. Latar Belakang
Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang dapat
dibilang sebagai kota yang sudah memiliki tatanan pembangunan yang baik,
namun hal ini belum tentu menghindarkan kota Surakarta dari masalah
masalah di era pembangunan, misalnya masalah kesehatan. Salah satu
masalah kesehatan yang dewasa ini sedang menjadi sorotan adalah kasus
HIV AIDS, hal ini merupakan dampak negative globalisasi sehingga terjadi
pergeseran budaya yang menyatakan bahwa free sex adalah sesuatu yang
dapat dianggap biasa. Secara komulatif kasus HIV dari tahun 1995-2016
yang ditemukan di kota Surakarta mengalami kenaikan dari 280 kasus pada
tahun 1995 menjadi 3.785 kasus ditahun 2016 sedangkan secara kumulatif
kasus AIDS Tahun 1998-2016 di Kota Surakarta juga cenderung naik dari 5
kasus pada tahun 1998 menjadi 529 kasus pada tahun 2016. Menurut jenis
kelamin kasusu HIV lebih banyak ditemukan pada laki-laki (56%) dari pada
perempuan (44%), hal ini dikarenakan laki-laki lebih aktif melakukan sex
dengan berganti-ganti pasangan (Majalah Tempo , 2 desember 2016).
Hal ini diperkuat lagi bahwa factor resiko penularan paling banyak yaitu
melalui homoseksual (7%) . Kelompok umur yang paling bayak menyumbang
kasus AIDS di kota Surakarta adalah usia produktif dari 21 tahun sampai 50
tahun dengan jenis pekerjaan paling banyak yaitu karyawan (20%), IRT
(18%), dan wiraswasta(16%).Menyadari akan hal tersebut mulai tahun 2012

1
Pemerintah kota surakarta menunjuk 5 puskesmas yaitu, banjarsari, jebres,
laweyan, serengan, pasar kliwon dalam upaya mewujudkan pelayanan
komprehensif berkkesinambungan konsultasi penderita HIV/AIDS untuk
menunjang rencana tersebut Dinas Kesehatan Surakarta melaksanakan
pelatihan bagi warga peduli AIDS yang terintegrasidengan LKB yang
bertujuan meningkatkan upaya pengendalian HIV/AIDS dan IMS melalui
kegiatan pendampingan masyarakat (Depkes,2012)

II. Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada kegiatan pendampingan kepada masyarakat ini adalah
bagaimana peningkatan pemahaman masyarakat tentang pencegahan
HIV/AIDS di wilayah kdunglumbu kecamatan pasar kliwon?
Penularan HIV-AIDS merupakan masalah kesehatan yang harus segera
diatasi, hal ini selaras dengan visi dari Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi
Jawa Tengah yaitu terkendalinya penyebaran HIV AIDS di Provinsi Jawa
Tengah. untuk itu kami mempertimbangkan perlunya solusi untuk menekan
penyebaran HIV-AIDS mengingat di daerah ini di dominasi oleh pendatang
dari luar daerah.

III. Tinjauan Pustaka


1. Pengertian HIV/AIDS
Virus HIV termasuk virus ss RNA positif yang berkapsul, dari famili Retroviridae.
Diameternya sekitar 100 nm dan mengandung dua salinan genom RNA yang dilapisi
oleh protein nukleokapsid. Pada permukaan kapsul virus terdapat glikoprotein
transmembran gp41 dan glikoprotein permukaan gp120. Di antara nukleokapsid dan
kapsul virus terdapat matriks protein. Selain itu juga terdapat tiga protein spesifik
untuk virus HIV, yaitu enzim reverse transkriptase (RT), protease (PR), dan
integrase (IN). Enzim RT merupakan DNA polimerase yang khas untuk retrovirus,
yang mampu mengubah genom RNA menjadi salinan rantai ganda DNA yang
selanjutnya diintegrasikan pada DNA sel pejamu. Retrovirus juga memiliki sejumlah
gen spesifik sesuai dengan spesies virusnya, antara lain gag (fungsi struktural virus),
pol (fungsi struktural dan sintesis DNA), serta env (untuk fusi kapsul virus dengan
membran plasma sel pejamu).Replikasi retrovirus berbeda dengan virus RNA
lainnya. Segera setelah inti virus memasuki sitoplasma sel yang terinfeksi, RNA

2
disalin ke DNA rantai ganda dengan RT. Penyalinan dimungkinkan oleh aktivitas
RNAse H dari RT, sehingga rantai RNA dapat dipecah menjadi campuran DNA (-)
dan RNA (+). Baru kemudian campuran ini berubah menjadi molekul DNA rantai
ganda. DNA hasil salinan akan memasuki inti sel yang terinfeksi dan menyatu
dengan kromosom sel pejamu. Provirus (gen virus spesifik) juga ikut mengalami
penyatuan dengan kromosom sel yang terinfeksi. Integrasi ini dimungkinkan dengan
adanya sisipan rantai pengulangan yang disebut long terminal repeats (LTR) pada
ujung-ujung salinan genom RNA. Rantai LTR ini memuat informasi sinyal yang
diperlukan untuk transkripsi provirus oleh RNA polimerase dari pejamu. Selain itu
juga protein integrase berperan dalam proses ini. Setelah DNA pejamu terintegrasi
dengan materi genetik virus, akan terjadi proses transkripsi yang menghasilkan satu
rantai genom RNA yang utuh dan satu atau beberapa mRNA. mRNA yang
dihasilkan ini mengkode protein regulator virus.AIDS(Acquired Immuno Deficiency
Syndrome) atau sindrom penurunan kekebalan yang didapatkan adalah kumpulan
gejala penyakit yang timbul karena rendahnya daya tahan tubuh. Pada awalnya
penderita HIV positif sering menampakkan gejala sampai bertahun-tahun(5-10
tahun). Banyak faktor yang mempengaruhi panjang pendeknya masa tanpa gejala
ini, namun pada masa ini penderita dapat menularkan penyakitnya pada orang lain.
Sekitar 89% penderita HIV akan berkembang menjadi AIDS. Semakin lama
penderita akan semakin lemah dan akhirnya akan berakhir dengan kematian, karena
saat ini belum ditemukan obat untuk mencegah atau menyembuhkan HIV/AIDS.
(Widyastuti,2009)

2. Mekanisme dan Cara Transmisi


Ada lima unsur yang perlu diperhatikan pada transmisi suatu penyakit
menular, yaitu sumber penyakit, vehikulum yang membawa, agent penyakit,
host yang rentan, adanya tempat keluar, adanya tempat masuk (port d entrée).
(Adisasmito, 2010)
HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel limfosit T dan sel otak
sebagai organ sasarannya. HIV sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh.
Sebagai vehikulum yang dapat membawa HIV ini keluar tubuh adalah
berbagai cairan tubuh, tetapi yang terbukti dalam epidemiologi hanya semen,
caran vagina atau serviks dan darah. Selain itu, HIV telah dapat diisolasikan

3
dari air susu ibu, airmata, air liur atau saliva yang semuanya tidak terbukti
dapat menularkan HIV. Pola transmisi yang berhubungan dengan unsur
tempat keluar dan masuknya agent adalah sebagai berikut (Wiku Adisasmito,
2010);
a. Transmisi seksual yang berhubungan dengan semen dan cairan vagina
atau serviks.
Cara hubungan seksual ano-genital merupakan perilaku seksual dengan
resiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra seksual yang
pasiv menerima ejakulasi semen dari seorang pengidap HIV. Mukosa
rektum sangat tipis dan mudah sekali mengalami perlukaan saat
berhubungan seksual secara ano-genital. Resiko ini bertambah bila terjadi
perlukaan dengan tangan (fisting) pada anus/rektum.
Tingkat resiko kedua adalah hubungan oro-genital termasuk menelan
semen dari mitra seksual mengidap HIV. Tingkat resiko ketiga adalah
hubungan genito-genital/heteroseksual. (Wiku Adisasmito, 2010)
b. Transmisi nonseksual yang berhubungan dengan darah yaitu transmisi
parenteral dan transmisi transplasental ( dari ibu kepada janinnya)
Transmisi perenteral yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk
lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi HIV. Di beberapa negara
khususnya Thailand untuk negara berkembang cara transmisi ini terutama
terjadi pada penyalahgunaan narkotika suintik. Di negara berkembang
lainnya cara transmisi ini terjadi melalui jarum suntik yang dipakai untuk
banyak orang oleh petugas kesehatan. Resiko tertular lewat cara transmisi
parenteral ini kurang dari 1%. Dari data-data CDC-NIH (centers for
disease control dan national institute of health) Amerika Serikat, hanya 4
orang tertular HIV dari 973 orang yang tertusuk jarum suntik yang
terkontaminasi HIV. Transmisi parenteral lainnya adalah lewat donor atau
transfusi darah yang mengandung HIV. (Wiku Adisasmito, 2010)
Transmisi transplasental, yaitu transmisi dari ibu kepada janinnya saat
hamil atau dapat juga terjadi saat melahirkan anak. Resiko cara transmisi
ini 50%, yaitu bila seorang ibu mengidap HIV melahirkan anak, maka
kemungkinan anak itu tertular HIV. Transmisi lewat air susu ibu masih

4
menjadi bahan perdebatan para pakar AIDS. Transmisi melalui
transplantasi alat tubuh atau bagian-bagian alat tubuh juga termasuk
transmisi nonseksual ini. (Wiku Adisasmito, 2010)
c. Transmisi yang belum terbukti
Transmisi lewat air susu ibu; Hiv teelah dapat diisolasi dari air susu ibu
tiga orang pengidap HIV. Banyak laporan ibu-ibu pengidap HIV yang
menyusui bayinya, tetapi tidak menularkan HIV pada bayinya sehingga
dapat disimpulkan bahwa transmisi lewat air susu ibu belum dapat
dibuktikan dengan pasti.
1) Transmisi lewat saliva/air liur;HIV dapat diisolasi dari saliva
pengidap HIV. Transmisi lewat jalan ini mungkin dapat terjadi saat
melakukan ciuman yang mengakibatkan perlukaan mukosa mulut.
2) Transmisi lewat air mata; HIV dapat diisolasi dari air mata
maupun kontak lensa pengidap HIV. Penularan kepada petugas
kesehatan/ Dokter ahli mata belum terbukti dapat terjadi.
3) Transmisi lewat urine; HIV dapat diisolasi dalam konsentrasi
rendah pada urine dan juga tidak terbukti dapat menularkan HIV.
4) Transmisi lewat hubungan sosial dan pada orang serumah dan
bukan mitra seksual tidak terbukti penularan HIV.
5) Transmisi lewat gigitan serangga; secara teoritis transmisi ini
dapat terjadi melalui transmisi biologis dengan adanya
perkembangbiakan HIV didalam tubuh serangga/dengan cara
transmisi mekanis. Berdasarkan penelitian tidak terbukti penularan
melalui serangga,HIV tidak dapat hidup pada tubuh serangga, pada
percobaan melalui serangga kutu busuk dan nyamuk.(Adisasmito,
2010)

3. Perjalanan Penyakit
Perjalanan HIV/AIDS dibagi dalam dua fase :
a. Fase Infeksi Awal
Pada proses awal infeksi(immunokompeten) akan terjadi respon imun
berupa peningkatan aktivasi imun, yaitu pada tingkat seluler(HLA-
DR;sel-T;IL-2R) serum atau humoral(beta 2 mikroglobulin, neopterin,
CD8, IL-R) dan antibodi apregulation(gp120, antip24;igA) (Dr.

5
Nursalam,dkk; 2007) induksi sel T-helper dan sel-sel lain diperlukan
untuk mempertahankan fungsi sel-sel faktor sistem imun agar tetaap
berfungsi dengan baik. Infeksi HIV akan menghancurkan sel-T, sehingga
T-helper tidak dapat memberikan induksi kepada sel-sel efektor sistem
imun. Dengan tidak adanya T-helper sel-sel efektor sistem imun seperti
T8 sitotoksik, sel NK, monosit dan sel B tidak dapat berfungsi dengan
baik. Daya taha tubuh menurun sehingga pasien jatuh ke dalam stadium
lebih lanjut. (Nursalam,2009)
b. Fase Infeksi Lanjut
Fase ini disebut dengan imunnodefisien, karena dalam serum pasien yang
terinfeksi HIV ditemukan adanya supresif berupa antibodi terhadap
proliferasi sel-T. Adanya supresif pada proliferasi sel-T tersebut dapat
menekan sintesis dan sekresi limfokin, sehingga sel-T tidak mampu
memberikan respon terhadap mitogen dan terjadi disfungsi imun yang
ditandai dengan penurunan kadar CD4+, sitokin(IFNc;IL2;IL6), antibodi
down regulation(gp120;antip24, TNFa, dan antinef.(Nursalam,2009).
Klasifikasi klinis CD4 pada pasien remaja dan orang dewasa menurut CDC
(Depkes, 2013)

CD4 Kategori Klinis


A B C
Total %
(Asimtomatis, Infeksi Akut) (Simtomatis) (AIDS)
≥ 500/ml ≥ 29% A1 B1 C1
200-499 14-28% A2 B2 C2
< 200 < 14% A3 B3 C3
Pembagian stadium :
1) Stadium Pertama:HIV
Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti dengan terjadinya
perubahan serologis ketika antibodi terhadap virus tersebut berubah dari
negatif menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk kedalam tubuh
sampai test antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut dengan window

6
period. Lama window period adalah antara 1-3 bulan bahkan ada yang dapat
berlangsung sampai 6 bulan.
2) Stadium Kedua:Asimptomatis (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa didalam organ tubuh terdapat HIV, tetapi tidak
menunjukkan gejala apapun. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata selama
5-10 tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah
dapat menularkan HIV kepada orang lain.
3) Stadium Ketiga:Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata
(Persistent Generalized Lympadenopathy)
Hal ini tidak hanya muncul pada satu tempat saja dan berlangsung lebih dari
1 bulan.
4) Stadium Keempat:AIDS
Keadaan ini disertai dengan adanya bermacam-macam penyakit, antara lain
penyakit konstitusional, penyakit saraf, dan penyakit infeksi sekunder.
(Nursalam,2009)
Gejala klinis pada stadium AIDS dibagi antara lain:
 Gejala utama/ mayor:
a) Demam berkepanjangan lebih dari tiga bulan.
b) Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus menerus.
c) Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam tiga bulan.
 Gejala minor:
a) Betuk kronis selama lebih dari satu bulan.
b) Infeksi pad mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh jamur
Candida albicans
c) Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap diseluruh tubuh.
d) Munculnya harpes zorter berulang dan bercak-bercak gatal diseluruh
tubuh.
Empat Tahap Derajat Infeksi HIV
Fase Derajat
1 Infeksi HIV primer
2 HIV dengan defisiensi imun dini (CD4+ >500/ul)
3 Adanya HIV dengan defisiensi imun yang sedang (CD4+: 200- 500/ul)
4 HIV dengan defisiensi imun yang berat (CD4+ <200/ul) disebut dengan
AIDS. Sehingga menurut CDC Amerika (1993), pasien masuk dalam
kategori AIDS bila CD4+ <200/ul.

Klasifikasi klinis Infeksi HIV menurut WHO (Depkes, 2013)

7
Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas
I 1. Asimptomatis Asimptomatis, aktivitas
2. Limfadenopati generalisata
normal
II 3. Berat badan menurun Simptomatis, aktivitas
< 10%
normal
4. Kelainan kulit dan mukosa
yang ringan seperti,
dermatitis seburoik,
prurigo, onikomikosis,
ulkus oral yang rekuren,
dan kheilitis angularis
5. Herpes zoster dalam 5
tahun terakhir
6. Infeksi saluran nafas
bagian atas seperti,
sinusistis bakterialis
III 7. Berat badan menurun > Pada umumnya lemah,
10% aktivitas ditempat tidur
8. Diare kronis yang
kurang dari 50%
berlangsung lebih dari 1
bulan
9. Demam yang
berkepanjangan lebih dari 1
bulan
10. Kandidiasis orofaringeal
11. Oral hairy leukoplakia
12. TB Paru dalam tahun
terakhir
13. Infeksi bacterial yang berat
seperti pnemonia,
piomiositis
IV 14. HIV wasting syndrome Pada umumnya sangat
seperti yang didefinisikan lemah, aktivitas di tempat
oleh CDC tidur lebih dari 50%
15. Pneumonia Pneumocystis

8
Carinii
16. Taxoplasmosis otak
17. Diare kriptosporidiosis
lebih dari 1 bulan
18. Kriptokokosis
ekstrapulmonal
19. Retinitis virus sitomegalo
20. Herpes simpleks
mukokutan > 1bulan
21. Leukoensefalopati
multifokal progresif
22. Mikosis diseminata seperti
histoplasmosis
23. Kandidiasis di esophagus,
trakea, bronkus, dan paru
24. Mikobakteriosis atipika
diseminata
25. Septisemia salmonelosis
nontifoid
26. Tuberkulosis di luar paru
27. Limfoma
28. Sarkoma kaposi
29. Ensephalopati HIV

4. Pencegahan Penularan Melalui Hubungan Seksual


Penularan infeksi HIV melalui hubungan seksual merupakan yang paling
banyak terjadi. Pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual
memerlukan pendidikan dan penyuluhan yang intensif dan ditujukan untuk
mengubah perilaku seksual masyarakat tertentu sedemikian rupa sehingga
mengurangi kemungkinan penularan HIV sehingga pencegahan AIDS perlu
difokuskan pada hubungan seksual. Dalam rangka ini dianjurkan 4 hal yang
berkaitan dengan perilaku sehat
a. Mengadakan hubungan seksual dengan jumlah pasangan yang
terbatas. Dengan membatasi pasangan seksual maka resiko terinfeksi HIV
juga akan berkurang.

9
b. Memilih pasangan seksual yang mempunyai resiko rendah terhadap
infeksi HIV.
c. Mempraktikkan protectivesex, yaitu hubungan seksual dimana tidak
ada pertukaran atau kontak dengan seme, cairan vagina atau darah antar
pasangan.
d. Jika ingin melakukan hubungan seks gunakan alat kontrasepsi
kondom dalam mencegah penularan hiv/aids (Adisasmito, 2010)

5. Pengobatan/ Treatment dan Immunisasi/Pemberian Vaksin


a. PENGOBATAN
1) Terhadap Etiologi
Meningkatnya pengetahuan tentang Etiologi AIDS dan kaitannya
dengan pengobatan rupanya tidak menunjukkan hal yang
menggembirakan, beberapa obat telah dicoba diantaranya adalah:
a) Zidovudine (Azidothymidine) mempunyai efek mempengaruhi
peoses replikasi virus.
b) Suramin, HPA 23, Ribavirin, terbukti menghambat replikasi
virus.
c) Foscarnet, masih dalam tahap penelitian.(Adisasmito, 2010)
2) Terhadap Infeksi Sekunder
Pada umumnya penderita AIDS menderita infeksi berat, multiple dan
berulang. Respon pengobatan seringkali buruk karena adanya strain
yang resisten. Jenis-jenis mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder
adalah protozoa (Pnemocytis carinii, toxoplasma, dan
cryptotosporidium), jamur (kandidiasis), virus (herpes,
cytomegalovirus/CMV, papovirus), dan bakteri (Mycobacterium TBC,
Mycobacterium ovarium intra cellular,streptococcus). Penanganan
terhadap infeksi sekunder ini disesuaikan dengan jenis
mikroorganisme penyebabnya, diberikan terus-menerus sampai gejala
infeksi sekunder menghilang dan tidak menimbulkan komplikasi lebih
lanjut. (Adisasmito, 2010)
3) Mengatasi Status Defisiensi Immune

10
Sampai saat ini belum ditemukan adanya obat-obatan yang dapat
meningkatkan status immun penderita AIDS. Obat yang sampai
sekarang masih diuji coba adalah sebagai berikut :
a) Biological respons modifier, misalnya alpha interferon,
gamma interferon, interleukin, thymic hormone, transplantasi
sumsum tulang, dan transplantasi timus.
b) Immunomodlar agent, misalnya isoprinosine. Semua
obat ini in vitro menunjukkan hasil yang baik, namun in vivo
tidak. (Adisasmito,2010)
b. VAKSIN
Walaupun saat ini kemungkinan pemberian vaksinsedang dikembangkan dan
ditujukan untuk mencegah infeksi oleh HIV, tetapi prospek pengguaan dalam
waktu yang dekat agak sulit untuk direalisasikan. Adanya variasi yang
bermacam-macam pada struktur setiap strain HIV mempersulit keberhasilan
kerja vaksin. Keadaan ini disebabkan oleh virus HIV dapat berpindah dari
sel-ke sel sehingga induksi vaksin oleh system immune humoral atau seluler
tampaknya tidak dapat mencegah infeksi pada sel yang rentan. (Wiku
Adisasmito, 2010)

IV. Tujuan Kegiatan


1. Tujuan Umum
Tujuan umum pelaksanaan kegiatan pendampingan kepada masyarakat
melalui penyuluhan perilaku sex yang sehat dalam pencegahan
HIV/AIDS ini adalah masyarakat dapat memahami dan mengetahui
definisi,cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus kegiatan pendampingan masyarakat melalui penyuluhan
perilaku sex yang sehat ini secara rinci dijelaskan sebagai berikut :
a. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengertian, tanda
gejala, penyebab, cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS di
wilayah kedunglumbu kecamatan pasarkliwon
b. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang langkah-
langkah pencegahan HIV dan AIDS wilayah kedunglumbu
kecamatan pasar kliwon

11
c. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang merawat dan
memahami pasien dengan HIV dan AIDS.

V. Manfaat
Manfaat yang dapat dipetik dari hasil kegiatan ini, diharapkan dapat
memberikan sumbangan bagi masyarakat baik yang bersifat praktis maupun
yang bersifat teoritis. Manfaat tersebut adalah :
1. Manfaat praktis
a) Sebagai sumbangan informasi bagi masyarakat tentang
perilaku sex yang sehat dalam upaya pencegahan HIV/AIDS.
b) Memberikan gambaran yang lebih konkrit dan dapat dijadika
sumber pijakan atau input dalam memberikan alternatif dalam
memecahkan masalah tentang upaya pencegahan HIV/AIDS
2. Manfaat teoritis
a) Mengembangkan konsep dan kajian yang lebih mendalam
tentang perilaku sex yang sehat dalam upaya pencegahan HIV/AIDS
sehingga diharapkan dapat menjadi dasar dan pendorong dilakukannya
pengembangan metode penyuluhan tersebut.
b) Bagi penulis, kegiatan ini bermanfaat dalam mendapatkan
gambaran dan pengalaman praktis dalam merubah perilaku kesehatan
masyarakat khususnya tentang perilaku sex yang sehat dalam upaya
pencegahan HIV/AIDS

VI. Sasaran
Sasaran yang terlibat pada kegiatan pendampingan kepada masyarakat melalui
penyuluhan masyarakat tentang perilaku sex yang sehat dalam upaya
pencegahan HIV/AIDS adalah anggota masyarakat di wilayah kedunglumbu
kecamatan pasar kliwon kota surakarta.

VII. Luaran
Luaran yang diharapkan nantinya adalah masyarakat kota surakarta dapat
mengerti perilaku yang beresiko dalam penularan HIV-AIDS dan mau
melakukan pencegahan hiv/aids dengan melakukan perilaku sex yang sehat

12
VIII. Metode Pelaksanaan penyuluhan
Kegiatan pendampingan masyarakat dengan judul “Penyuluhan perilaku sex
sehat dalam upaya pencegahan HIV/AIDS” menggunakan pendekatan
penyuluhan masyarakat menggunakan metode perilaku sex yang sehat.
Adapun prosedur yang dilakukan pada kegiatan tersebut meliputi :

1. Tahap persiapan
Pada tahapan ini, melakukan kegiatan penyusunan proposal kegiatan
pemberdayaan masyarakat dengan judul “penyuluhan masyarakat tentang
perilaku sex yang sehat dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di wilayah
kedunglumbu kecamatan pasar kliwon”,pembuatan leafleat/materi
PPT,pembuatan modul,mengurus perijinan dari pemangku
kepentingan,penjagaan,dan melakukan koordinasi terhadap anggota
masyarakat di wilayah kedunglumbu kecamatan pasar kliwon
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini, setelah mendapatkan ijin, selanjutnya melakukan dharma
pemberdayaan masyarakat dengan memberikan penyuluhan kesehatan
melalui pemberian modul dan leafleat , demonstrasi penggunaan kondom
yang benar pada anggota masyarakat akan di wilayah kedunglumbu
kecamatan pasar kliwon.Kegiatan pemberdayaan akan dilaksanakan pada
bulan oktober 2017 sampai dengan desember 2017.
3. Tahap evaluasi
Pada tahap ini,melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan pendidikan
kesehatan tentang “ penyuluhan tentang perilaku sex yang sehat dalam
upaya pencegahan HIV/AIDS “ di wilayah kedunglumbu kecamatan pasar
kliwon dengan melakukan penilaian menggunakan angket pre dan post
test tentang perilaku sex yang sehat dalam upaya pencegahan HIV/AIDS
pada anggota masyarakat di wilayah kedenglumbu kecamatan pasarkliwon
kota surakarta.
4. Tahap penyusunan laporan kegiatan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah diskusi dan menyusun konsep
laporan,membuat laporan akhir pemberdayaan masyarakat tentang
“penyuluhan tentang perilaku sex yang sehat dalam upaya pencegahan

13
HIV/AIDS” di wilayah kedunglumbu kecamatan pasar kliwon kota
surakarta.

IX. Jadwal Kegiatan


Tabel 1.

Jadwal Kegiatan Pendampingan Masyarakat

No Kegiatan Bulan

Sept Okt Nov Des Jan

1 Usulan Proposal Pengabmas

2 Revisi Proposal

3 Pelaksanaan Pengabmas

4 Evaluasi Pengabdian Masyarakat

5 Pengumpulan laporan Pengabdian


Masyarakat dan SPJ

X. Biaya Kegiatan
Tabel 2.
Biaya Kegiatan Pendampingan Masyarakat

No Uraian Volume Satuan Jumlah


Harga

A Belanja Barang

1 Penjilidan dan 1 PKT 1 65.000 65.000


Pengadaan Laporan,
Modul dan Leaflet

14
3 Konsumsi Rapat 6 OR X 1 KL 6 35.000 210.000
Koordinasi

4 Konsumsi pre test 24 OR X 1 KL 25 30.000 750.000

5 Konsumsi Pelaksanaan 25 OR X 1 KL 28 30.000 840.000

B Belanja Perjalanan

1 Transport koordinasi 1 OR X 1 KL 1 80.000 80.000

2 Transport kegiatan pre 1 OR X 1 KL 1 80.000 80.000


test

3 Transport kegiatan 1 OR X 1 KL 1 80.000 80.000


penyuluhan

JUMLAH 2.105.000

XI. Daftar Pustaka


1. Adisasmito, wiku. 2010. Sistem Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada
2. Depkes (2013). Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan
Pengobatan ODHA.Jakarta: Dirjen P2M Depkes RI, hal 80-177
3. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Kemenkes. (2013). LaporanSituasi Perkembangan HIV dan AIDS di
Indonesia 2013. Di akses 16 september 2017.Available from:
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Laporan%20HIV%20AIDS
%20TW%204%202013.pdf.
4. Kebijakan AIDS Indonesia. (2011). Surveilans Terpadu Biologis
dan Perilaku (STBP)(2011).Diakses 18 september 2017 . Available from
http://www.kebijakanaidsindonesia.net/id/dokumenkebijakan/pendukung/2

15
7-artikelarticle/publikasi-publication/358-survei-terpadu-biologi-dan-
perilaku-2011
5. KPA (2016). Laporan HIV/AIDS provinsi jawatengah.Jawa
tengah.
6. Nursalam, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta:
Salemba Medika
7. Stewart GJ. 2013, Mananging HIV. Sydney: MJA Published, hal 17-
21, 42-44.

16