Anda di halaman 1dari 41

KANKER TIROID DAN GOITER

KEPERAWATAN BEDAH

MAKALAH

Oleh
KELOMPOK 6

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2017
KANKER TIROID DAN GOITER
KEPERAWATAN BEDAH

MAKALAH

diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Bedah


dengan dosen Ns. Jon Hafan S, M.Kep., Sp.Kep.MB

Oleh
M.Anshori Rizqy P NIM 152310101058
Alviolita Nur S NIM 152310101067
Rega Estu K NIM 152310101079
Wilda Al Aluf NIM 152310101154
Dwi Ayu Sita Rasmi NIM 152310101155
Wahyu Rizki Oktaviandani NIM 152310101156
Kezia Ria NIM 152310101157
Mifta Irma Mei Liani NIM 152310101162
Andini Zahrotul F. NIM 152310101163
Alfy Meilinda Hapsari NIM 152310101168

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2017

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Kanker Tiroid dan Goiter”. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tentu tidak lepas dari kontribusi dan bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Jon Hafan S, M.Kep., Sp.Kep.MB, selaku dosen pengajar mata kuliah
Keperawatan Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember;
2. Rekan satu kelompok yang mampu bekerjasama dan berusaha semaksimal
mungkin sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik;
3. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu terciptanya makalah ini
Penulis juga menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

Jember, Maret 2017

iii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Tujuan ......................................................................................... 2
1.3 Implikasi Keperawatan.............................................................. 2
BAB 2. TINJAUAN TEORI .......................................................................... 3
2.1 Pengertian ................................................................................... 3
2.2 Etiologi ........................................................................................ 4
2.2 Klasifikasi .................................................................................... 4
2.4 Manifestasi Klinis ....................................................................... 6
2.5 Patofisiologis ............................................................................... 8
2.6 Prognosis ..................................................................................... 8
2.7 Komplikasi ................................................................................. 10
2.8 Penatalaksanaan ......................................................................... 11
2.9 Pemeriksaan Diagnostik ............................................................ 16
2.10 Diagnosa .................................................................................... 17
2.11 Intervensi ................................................................................... 17
BAB 3. PENUTUP .......................................................................................... 18
3.1 Kesimpulan ................................................................................. 18
3.2 Saran ............................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 19

iv
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua kelenjar pengahsil hormon sangat penting bagi tubuh manusia. Salah
satunya adalah kelenjar tiroid yang berfungsi mengatur kecepatan pembakaran energi
dalam tubuh. Selain itu kelenjar ini juga berfungsi membuat protein dan mengatur
sensitivitas tubuh dalam hormon yang lain. Sehingga apabila mengalami masalah juga
akan berdampak bagi kesehatan tubuh seperti halnya terjadinya ca Tiroid atau kanker
tiroid. Kanker tiroid merupakan penyakit keganasan yang tidak jarang ditemukan.
Sebagian besar pertumbuhan dan perjalanan penyakit lambat, sehingga morbiditas dan
mortalitasnya rendah namun ada yang pertumbuhannya sangat cepat dengan prognosa
yang fatal.
Kanker tiroid pada dasarnya kurang prevalensinya dibandingkan dengan bentuk
kanker lainnya. Kanker tiroid didapat 1% dari seluruh penyakit keganasan dan
menempati urutan petama keganasan kelenjar endokrin. Insidens kanker tiroid sampai
saat ini di Indonesia belum didapati, hanya saja pada registerasi patologi menempati
urutan ke 9 (4%) dari 10 keganasan tersering (Pasaribu, 2006). Di Amerika sendiri
didapati 14000 penderita baru dan Republik Federal German 3000 penderita setiap
tahunnya. Geografi dan lingkungan, pada daerah endemik goiter(gondok) dijumpai
peningkatan insidens kanker tiroid tipe folikuler dan anaplastik. Insidens kanker tiroid
ini sendiri juga sangat dipengaruhi oleh banyak factor antara lain, demografi,
lingkungan, usia, riwayat keluarga dan pernah terpapar radiasi.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, dalam makalah ini akana
membahas tentang kanker tiroid dan peran perawat di dalamnya. Hal tersebut
dikarenakan pentingnya fungsi dari kelenjar tiroid dan angka insidensinya yang cukup
tinggi. Sehingga diperlukan juga suatu peran perawat untuk membantu klien untuk
menghapi kesehatannya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

1
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada klien
dengan Kanker Pankreas
1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memperoleh gambaran tentang :
1. Pengertian dari Goiter dan Kanker Tiroid;
2. Etiologi dari Goiter dan Kanker Tiroid;
3. Klasifikasi dari Goiter dan Kanker Tiroid;
4. Manifestasi Klinis dari Goiter dan Kanker Tiroid; ;
5. Patofisiologi dari Goiter dan Kanker Tiroid;
6. Prognosis Goiter dan Kanker Tiroid;
7. Komplikasi dari Goiter dan Kanker Tiroid ;
8. Penatalaksanaan dari Goiter dan Kanker Pankreas;
9. Konsep Asuhan Keperawatan dari Goiter dan Kanker Pankreas;
10. Asuhan Keperawatan pada Goiter dan Kanker Pankreas.

1.3 Implikasi Keperawatan


Dengan adanya makalah yang berjudul ”Asuhan Keperawatan Pada Klien Kanker
Pankreas dan Goiter” ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep secara
umum dan mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Kanker
Pankreas .

2
BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Goiter nodular merupakan pembesaran klinis pada kelenjar thyroid yang ditandai
dengan pertumbuhan yang berlebih dari struktural didalam thyroid yang normal.
Dengan tidak adanya disfungsi pada thyroid, autoimun penyakit thyroid, dan keganasan
pada tiroid maka digambarkan sebagai goiter sederhana. Goiter sederhana terjadi karena
terkait kekurangan yodium, prevalensi terjadinya goiter pada usia anak-anak 6-12 tahun
(laszlo hegedus, steen j. Bonnema, et al. 2003)
Tiroid adalah kelenjar di dalam tubuh yang memproduksi hormon yang mengatur
metabolisme tubuh. Hipertiroid disebabkan oleh kelenjar tiroid yang tidak normal.
Hipertiroid sering menyerang wanita ketimbang pria karena produksi hormon wanita
jauh lebih kompleks di bandingkan dengan produksi hormon pada pria (Harmanto,
2014).
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research, 2014 Kanker
tiroid terjadi pada sel-sel tiroid - kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di pangkal
leher tepat di bawah jakun. tiroid menghasilkan hormon yang mengatur denyut jantung,
tekanan darah, suhu tubuh dan berat badan. Meskipun kanker tiroid tidak umum di
Amerika Serikat, tingkat tampaknya akan meningkat. Sebagian besar kasus kanker
tiroid bisa disembuhkan dengan pengobatan. Kanker tiroid biasanya tidak menyebabkan
tanda-tanda atau gejala awal penyakit. Seperti dapat menyebabkan: Sebuah benjolan
yang dapat dirasakan melalui kulit di leher; Perubahan suara, termasuk meningkatkan
suara serak; kesulitan menelan; Nyeri pada leher dan tenggorokan; Pembengkakan
kelenjar getah bening di leher.
Menurut American Society of Clinical Oncology 2016 Kanker tiroid dimulai di
kelenjar tiroid. Kelenjar ini terletak di bagian depan leher tepat di bawah laring, yang
disebut kotak suara. Kelenjar tiroid adalah bagian dari sistem endokrin, yang mengatur
hormon dalam tubuh. Kelenjar tiroid menyerap yodium dari aliran darah untuk
memproduksi hormon tiroid, yang mengatur metabolisme seseorang. Sebuah kelenjar
tiroid normal memiliki 2 lobus, 1 di setiap sisi tenggorokan, bergabung dengan strip
sempit dari jaringan yang disebut tanah genting. Sebuah kelenjar tiroid sehat adalah

3
hampir tidak teraba, yang berarti sulit untuk menemukan dengan sentuhan. Jika tumor
berkembang di tiroid, itu dirasakan sebagai benjolan di leher. Sebuah kelenjar tiroid
bengkak atau membesar disebut gondok, yang mungkin disebabkan ketika seseorang
tidak mendapatkan cukup yodium. Perkiraan terbaru menurut American Cancer Society
untuk kanker tiroid di Amerika Serikat untuk tahun 2017 adalah: sebesar 56.870 kasus
baru kanker tiroid (42.470 pada wanita, dan 14.400 pada pria) dan 2.010 kematian
akibat kanker tiroid (1090 perempuan dan 920 laki-laki).

2.2 Etiologi
1. Etiologi kanker Thyroid
Kenaikan sekresi hormon TSH ( Thyroid Stimulating Hormon) dari kelenj ar
hipofise anterior disebabkan berkurangnya sekresi hormon T3 dan T4 dari
kelenjar tiroid oleh karena kurangnya intake iodium. Ini menyebabkan tiroid
yang abnormal dapat berubah menjadi kanker.
Radiasi eksternal kepala, leher, atau dada pada bayi dan anak-anak
meningkatkan risiko karsinoma tiroid. Antara tahun 1940 gan 1960, terapi
radiasi kadang-kadang dilakukan untuk mengecilkan jaringan tonsil dan
adenoid yang membesar, mengobati jerawat atau mengurangi pembesaran
kelenjar timus. Bagi individu yang terkena radiasi eksternal dalam usia kanak-
kanak terdapat peningkatan insiden kanker tiroid dalam 5 hingga 40 tahun
sesudah penyinaran tersebut. Akibatnya, individu yang menjalani terapi radiasi
harus berkonsultasi dengan dokter dan meminta pemeriksaan pemindai isotop
tiroid sebagai bagian dari pemeriksaan evaluasi, mengikuti terapi yang
dianjurkan untuk kelainan pada kelenjar tersebut serta melanjutkan
pemeriksaan umum check-up setiap tahun sekali jika semua hasil pemeriksaan
normal. (Brunner dan Suddarth, 2001)
2. Etiologi Goiter
Etiologi terjadinya goiter selain faktor genetik, perbedaan lingkungan
dan faktor individu juga dapat disebabkan oleh adanya perbedaan wilayah
secara geografis. Kekurangan Yodium (I2) merupakan yang paling penting
dalam faktor epidemiologi untuk goiter endemik. Tisanat (SCN2) sangat

4
berpengaruh dalam fungsi daripada thyroid tersebut, namun tergantung dari
jumlah konsentrasi (H.Below, A.kramer, et.al. 2006)

Etiologi :

a. Environmental faktor : iodine intake, smooking, certain drugs, natural goiters,


stress, infections
b. Genetic factors : family and twin studies, genetic markers(Tg, MNG-1,TSHR)
c. Endegenous factors : gender (laszlo hegedus, steen j. Bonnema, et al. 2003)
2.3 Klasifikasi
Berdasarkan histopatologinya kanker tiroid dibagi menjadi 4 jenis, yaitu : kanker
papilar, kanker folikular, kanker medular, dan kanker anaplastik (American Thyroid
Association, 2017).
1. Kanker tiroid papiler.
Karsinoma papilar adalah jenis keganasan tiroid yang paling sering
ditemukan (75-85%) yang lebih sering terdapat pada anak dan dewasa muda dan
lebih banyak terjadi pada wanita. Karsinoma ini muncul dengan satu nodul yang
berkembang perlahan dan kadang-kadang bermetastasis ke limfonoduli (Mackay
& Hayes, 1997). Karsinoma tiroid terutama berkaitan dengan riwayat terpapar
radiasi pengion dimana semasa kecil terkena radiasi. Tumor ini tumbuh lambat,
penyebaran melalui kelenjar limfe dan mempunyai prognosis yang lebih baik
diantara jenis karsinoma tiroid lainnya. Faktor yang mempengaruhi prognosis
baik adalah usia dibawah 40 tahun, wanita dan jenis histologik dominan papilar.
Sifat biologic daripada jenis papilar ini yakni tumor atau tumor primer yang kecil
bahkan mungkin tidak teraba tetapi metastasis ke kelenjar getah bening dengan
massa atau tumor yang besar atau nyata. Namun, tidak seperti banyak kanker
lainnya, kanker papiler memiliki pandangan umumnya sangat baik, bahkan jika
ada menyebar ke kelenjar getah bening (American Thyroid Association, 2017).
2. Kanker tiroid folikular.
Kanker tiroid folikular meliputi sekitar 10-20% keganasan tiroid dan biasa
ditemukan pada usia dewasa pertengahan atau diatas 40 tahun.dari semua kanker
tiroid di Amerika Serikat. Kanker ini juga menyeerang wanita 2 sampai 3 kali
lebih sering daripada pria. Kanker folikuler dapat menyebar ke kelenjar getah

5
bening di leher, tapi ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kanker papiler.
Kanker folikuler juga lebih mungkin dibandingkan kanker papiler menyebar ke
organ yang lebih jauh, terutama paru-paru dan tulang (American Thyroid
Association, 2017). Kanker ini paling lazim dialami oleh kelompok usia
pertengahan, cenderung bermetastasis melalui aliran darah menuju tulang dan
paru-paru (Mackay & Hayes 1997). Diagnosis tumor ini secara sitologi sulit
dibedakan dengan adenoma folikular, diagnosis pasti dengan pemeriksaan frozen
section pada durante operasi atau dengan pemeriksaan histopatologi untuk
melihat adanya invasi ke kapsul atau pembuluh darah. Karsinoma folikular
bermetastasis terutama melalui pembuluh darah ke paru, tulang, hati dan jaringan
lunak. Karsinoma folikular diterapi dengan tiroidektomi total diikuti pemberian
iodin radioaktif. Juga karena sel karsinoma ini menangkap yodium maka
radioterapi dengan Y 131 dapat digunakan dengan pengukuran kadar TSH
sebagai follow up bahwa dosis yang digunakan bersifat supresif dan untuk
memantau kekambuhan tumor. Angka ketahanan hidup 10 tahun mencapai 85%
(Livolsi, 2004).
3. Kanker tiroid meduler.
Kanker tiroid medular timbul sebagai suatu nodul solitary dan sering
menyebar ke limfonuduli servikal dan mediastinum. Sekitar 20% berhubungan
dengan laki-laki (Mackay & Hayes, 1997). Meduler kanker tiroid (MTC),
menyumbang sekitar 2% dari semua kanker tiroid. Dalam anggota keluarga dari
orang yang terkena, tes untuk mutasi genetik dalam RET proto-onkogen dapat
menyebabkan diagnosis dini kanker tiroid meduler dan, sebagai hasilnya, untuk
pembedahan kuratif. Massa tumor berbatas tegas dan keras pada perabaan, pada
tumor yang lebih luas tampak daerah nekrosis dan perdarahan dan dapat meluas
sampai ke kapsul. Mikroskopis tampak kelompokan sel-sel bentuk poligonal
sampai lonjong dan membentuk folikel atau trabekula. Tampak adanya deposit
amiloid pada stromanya yang merupakan gambaran khas pada karsinoma tipe
medular ini (Livolsi, 2004).
4. Kanker tiroid anaplastik.

6
Kanker tiroid anaplastik adalah yang paling agresif dan ganas dari kanker
tiroid yang lain yaitu sekitar 10 %. Manifestasinya cepat yaitu mula-mula ke
sekitarnya dan kemudian ke seluru bagian tubuh. Kanker tiroid anaplastik sangat
jarang dan ditemukan dalam kurang dari 2% dari pasien dengan kanker tiroid
(American Thyroid Association, 2017). Karsinoma anaplastik ini berkembang
dengan menginfiltrasi ke jaringan sekitarnya. Kanker ini terutama timbul pada
usia lanjut, terutama di daerah endemik gondok dan lebih banyak pada wanita.
Sebagian besar kasus muncul dengan riwayat pembengkakan yang cepat
membesar pada leher, disertai dengan adanya kesulitan bernafas dan menelan,
serta suara serak karena infiltrasi ke nervus rekurens. Pertumbuhannya sangat
cepat walaupun diterapi. Metastasis ke tempat jauh sering 29 terjadi, tetapi
umumnya kematian terjadi dalam waktu kurang dari setahun. Angka ketahanan
hidup 5 tahun <5% (Endocrine Surgery, 2014).

3. Klasifikasi Goiter
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat terjadi
padakelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan hormone
tiroid(hipotiroidisme) atau kelebihan produksi hormon (hipetiroidisme). Derajat goiter
dapat diketahui mulai dari pembesaran yang tidak begitu Nampak hingga pembesaran
yang menimbulkan deformitas pada leher. Sebagian lain terlihat noduler disertai dengan
hipertiroidisme sehingga disebut penyakit goiter yang toksik, sementara sebagian lain
disertai dengan keadaan eutiroid dan dinamakan penyakit goiter nontoksik (Brunner &
Sddarth, 2001).
Klasifikasi Goiter menurut Nevada State Medical Association, 1928) yaitu sebagai
berikut:
1. Goiter Diffusa Toksik. Merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh
dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab
tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exopthalmic goiter), bentuk
tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan di antara hipertiroidisme
lainnya. Insidensi tiap tahun pada wanita berusia diatas 20 tahun sekitar 0,7% per
1000. Tertinggi pada usia 40 – 60 tahun. Angka kejadian penyakit Grave 1/5 –

7
1/10 pada laki-laki maupun perempuan, dan tidak umum diapatkan pada
anak-anak. Prevalensi penyakit grave sama pada orang kulit putih dan Asia, dan
lebih rendah pada orang kulit hitam.
2. Goiter Nodusa Toksik. Merupakan kelenjar tiroid yang mengandung nodul tiroid
dan fungsinya yang otonomik, dan mengahsilkan suatu keadaan hipertiroid.
Struma nodular toksik lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Pada wanita
dan pria berusia diatas 40 tahun, rata – rata prevalensi nodul yang bisa teraba
adalah 5 – 7 % dan 1 – 2 %. Kebanyakan pasien struma nodular toksik berusia
lebih dari 50 tahun.
3. Adenomatous goiter, tanpa ism hyperthyroid (Nodusa Non Toksik). Merupakan
struma nodosa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. Pada penyakit struma
nodosa nontoksik tiroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar
secara difus dan permukaan licin. Pembesaran kelenjar tiroid ini bukan merupakan
proses inflamasi atau neoplastik dan tidak berhubungan dengan abnormalitas
fungsi tiroid. Struma nodusa endemic terjadi pada 10% populasi di suatu daerah.
Sedangkan nodusa yang bersifat sporadic disebabkan oleh multifactor seperti
lingkungan dan genetic dan tidak melibatkan populasi secara umum.
4. Adenomatous goiter, dengan hipertiroidisme (Nodusa Toksik). Merupakan nodul
tiroid yang mempunyai fungsi yang otonomik, yang menghasilkan suatu keadaan
hipertiroid. Nodula tosik lebih sering terjadi pada wanita daripada pria yang
berusia diatas 40 tahun, rata-rata prevalensi terabanya nodul adalah 5-7% dan 1-
2%.

2.4 Manifestasi Klinis


Penderita kanker tiroid yang sudah berkembang lebih jauh akan memperlihatkan
sekelompok tanda dan gejala yang khas. Gejala yang sering ditemukan sering berupa
kegelisahan. Penderita sering secara emosional mudah terangsang
(hipereksitabel), iritabel dan terus merasa khawatir; mereka tidak dapat duduk diam;

8
menderita palpitasi; dan denyut nadi yang abnormal cepat ditemukan pada saat
melakukan aktivitas maupun beristirahat. Penderita kanker tiroid tidak tahan panas dan
terus berkeringat secara tidak lazim; kulit penderita sering kemerahan dengan warna
salmon yang khas dan cenderung hangat, lunak serta bahas. Namun, penderita yang
berusia lanjut kulit menjadi kering dan pruritus yang menyebar. (Brunner dan Suddarth,
2001)
Kebanyakan penderita datang disebabkan oleh karena pembesaran tiroid atau
dijumpainya nodul atau beberapa nodul. Untuk alasan yang tidak diketahui, kebanyakan
penderita adalah perempuan, pada usia 20-50 tahun. Selain itu letak geografis juga
mempengaruhi, di daerah pegunungan di mana makanan yang dikonsumsi sangat
tergantung pada produksi pangan setempat pada kondisi tanah yang miskin yodium.
Dalam penelitian dibuktikan bahwa orang yang tinggal di daerah pegunungan lebih
banya yang terkena kanker tiroid. (Parura, Pontoh, dan Merung, 2016).
Menurut American Cancer Society , Manifestasi klinis kanker tiroid terjadi
dengan tanda dan gejala, sebuah benjolan di leher; kadang-kadang tumbuh cepat;
pembengkakan di leher; nyeri di bagian depan leher kadang-kadang naik ke telinga;
suara serak atau perubahan suara lainnya yang tidak pergi; kesulitan menelan dan
bernapas; batuk terus-menerus yang bukan karena cuaca dingin maupun gejala flu.
Manifestasi lain mencakup peningkatan selera makan dan konsumsi makanan,
penutunan berat badan yang progresif, kelelahan otot yang abnormal, amnore dan
perubahan defekasi dengan konstipasi atau diare. Frekuensi denyut nadi pasien berkisar
secara konstan antarab90 dan 160 kali/menit; tekanan sistolik; dan secara khas bukan
tekanan diastolik, akan meningkat; fibrilasi atrium dapat terjadi; dan dekonpensasi
jantung dalam bentuk kegagalan kongestif sering dijumpai, terutama pada pasien
berusia lanjut. Osteoporosis dan fraktur juga menyertai kanket tiroid. (Brunner dan
Suddarth, 2001)
Efek pada jantung mencakup sinus takikardia atau aritmia jantung, peningkatan
tekanan nadj dan palputasi; diperkirakan bahwa semja perubahan ini mungkim
berhubungan dengan peningkatan sensivitas terhadap katekolamin atau dengan
perubahan pada turnover neurotransmiter. Hipertrofi dan gagal jantung dapat terjadi jika
hipertiroidisme tersebut berat dan tidak diobati.

9
Kelenjar tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan
membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup
banyak hormon tiroid yang mengakibatkan hipertiroidisme. (Handayani dan Purnami,
2014). Gejala hiperteriodisme dapat terjadi pada pelepasan hormon tiroid dengan
jumlah yang berlebihan sebagai akibat dari reaksi inflamasi setelah penyinaran kelenjar
tiroid atau penghancuran jaringan tiroid oleh tumor. (Brunner dan Suddarth, 2001)
Secara klinis, nodul tiroid jinak sulit dibedakan dari nodul tiroid ganas. Nodul
tiroid yang ganas, dapat timbul dalam beberapa bulan terakhir, tetapi dapat juga timbul
sesudah mengalami pembesaran kelenjar selama beberapa puluh tahun tanpa disertai
adanya gejala klinis yang berarti. Dalam beberapa penelitian, menjelaskan bahwa ada
beberapa hal yang dapat digunakan untuk menilai nodul tersebut bersifat ganas atau
tidak, antara lain adanya riwayat paparan sinar radiasi pada daerah leher, usia saat nodul
tesebut timbul dan konsistensi nodul.

2.5 Patofisiologi
Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang berasal dari kelenjar yang terletak di
depan leher yang secara normal memproduksi hormon tiroid yang penting untuk
metabolisme tubuh. Infiltrasi karsinoma tiroid dapat ditemukan di trachea, laring,
faring, esophagus, pembuluh darah karotis, venajugularis, struktur lain pada leher dan
kulit.
Metastase limfogen dapat meliputi semua region leher sedangkan metastase
hematogen biasanya di paru, tulang, otak dan hati. Kanker ini berdiferensiasi
mempertahankan kemampuan untuk menimbun yodium pembesaran kelenjar getah
bening. Lokasi kelenjar getah bening yang dapat semakin besar dan bisa teraba pada
perabaan yakni di ketiak, lipat paha. Ada juga kelenjar getah bening yang terdapat di
dalam tubuh yang mana tidak dapat diraba yakni didalam rongga perut. Penyebab dari
pembesaran kelenjar getah bening adalah infeksi non spesifik, infeksi spesifik (TBC),
keganasan (lymphoma).
Hormon stimulator tiroid ( Thyroid Stimulating Hormone, TSH) memegang
peran terpenting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus

10
anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai negative feedback sangat
penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi. (Guyton dan Hall, 2004).
Kelenjar tiroid terdiri atas sel-sel epitel kubus rendah yang tersusun membentuk
kantung-kantung kecil, folikel-folikel, yang merupakan unit struktural, fungsional, dan
sekresi kelenjar tiroid. (Price dan Wilson, 2006).
Karsinoma tiroid biasanya menangkap iodium radio aktif dibandingkan dengan
kelenjar tiroid normal yang terdapat di sekelilingnya. Oleh karena itu, bila dilakukan
scintiscan, nodula akan tampak sebagai suatu daerah dengan pengambilan yang kurang,
suatu lesi dingin. Teknik diagnostik lain yang dapat digunakan untuk diagnosis banding
nodula tiroid adalah ekografi tiroid. Teknik ini memungkinkan membedakan dengan
cermat antara massa padat dan massa kistik. Karsinoma tiroid biasanya padat,
sedangkan massa kistik biasanya merupakan kista jinak. Karsinoma tiroid harus
dicurigai berdasarkan tanda klinis jika hanya ada satu nodula yang teraba, keras, tidak
dapat digerakkan pada dasarnya, dan berhubungan dengan limfadenopati satelit.
Secara umum telah disepakati bahwa kanker tiroid secara klinis dapat dibedakan
menjadi suatu kelompok besar neoplasma berdeferensiasi baik dengan kecepatan
pertumbuhan yang lambat dan kemungkinan penyembuhan tinggi, dan suatu kelompok
kecil tumor anaplastik dengan kemungkinan fatal. Terdapat empat jenis kanker tiroid
menurut sifat morfologik dan biologiknya : papilaris, folikularis, medularis, dan
anaplastik. (Price dan Wilson, 2006).
Kanker tiroid secara klinis dapat dibedakan menjadi suatu kelompok besar
neoplasma berdiferensiasi baik dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat dan
kemungkinan penyembuhan yang tinggi, dan suatu kelompok kecil tumor anaplastik
dengan kemungkinan fatal.

2.6 Prognosis
1.5 Prognosis dan Komplikasi
1.5.2 Prognosis
Karsinoma tiroid berdiferensiasi mempunyai prognosis yang baik, walaupun masih
dijumpai 20-40% rekurensi atau metastasis. Prognosis karsinoma tiroid sangat erat
kaitannya dengan stadium pada saat didiagnosis. Daya tahan hidup 5 tahun menjadi

11
99% untuk pasien tanpa metastasis dan menjadi 58% untuk pasien dengan kanker
metastasis jauh. (Rahadiyanto dkk, 2014).

Prognosis pada pasien dengan kanker tiroid ini bergantung pada umur (semakin
bertambahnya umur maka semakin jelek prognosis pada kanker tiroid). Pada pasien
dengan usia <45 tahun dan mereka dengan sel kanker tiroid yang sedikit memiliki
prognosis kanker tiroid yang baik. Sedangkan pada pasien dengan usia >45 tahun atau
pada pasien dengan kanker tiroid yang lebih banyak dan lebih agresif, prognosisnya
tetap baik, hanya saja resiko kekambuhannya lebih tinggi. Diantara pasien dengan
beberapa tipe kanker tiroid, pasien dengan kanker tiroid papilari adalah yang memiliki
prognosis yang paling baik. Harapan hidup pada setiap pasien adalah 100% dan jarang
terjadi kematian (American Thyroid Association, 2017).

Prognosis pada kanker tiroid juga dapat dibedakan menurut klasifikasinya (Borley &
Grace 2007) yaitu:
1. Kanker tiroid papiler dengan pembedahan tiroidektomi dan pengangkatan kelenjar
getah bening serta terpi L-tiroksin untuk menekan produksi TSH yang menstimulasi
pertumbuhan tumor papiler memiliki prognosis yang sagat baik
2. Kanker tiroid folikular dengan pembedahan lobektomi/tiroidektomi dan terapi
iodium radioaktif untuk metatastasis jauh serta L-tiroksin memiliki prognosis: tanpa
metastasis maka angka ketahanan hidup 10 tahun sebesar 90% dan dengan
metastasis maka angka ketahanan hidup 10 tahun sebesar 30%
3. Kanker tiroid anaplastik dengan pembedahan hanya untuk meghilangkan gejala
penekanan dan dengan terapi tidak ada satupun dari radioterapi maupun kemoterapi
yang efektif untuk jenis ini maka prognosis pada kanker tiroid anaplastik ini buruk.
Sebagian besar pasien akan meninggal dalam waktu 12 bulan setelah diagnosis
4. Kanker tiroid meduler dengan pembedahan tiroidektomi total dan eksisi kelenjar
getah bening regional maka prognosisnya adalah secara keseluruhan angka
ketahanan hidup 5 tahun sebesar 50%

Jadi, prognosis pada kanker tiroid ini secara umum adalah baik namun ada beberapa
kondisi atau faktor resiko yang membuat prognosis kanker tiroid menjadi buruk yaitu
umur, metastasis, dan metode pengobatan. Baik buruknya prognosis juga dapat

12
dibedakan menurut klasifikasi kanker tiroid. Kanker tiroid papiler memiliki prognosis
yang sangat baik, sedangkan pada folikuler prognosisnya ditentukan oleh adanya
metastasis. Prognosis yang paling buruk adalah pada kanker tiroid anaplastik,
sedangkan pada kanker tiroid meduler masih memiliki harapan hidup 5 tahun dengan
presentase 50%

1.5.3 Komplikasi

Pada (Park et all, 2010 dan Houwari & Berri, 2013) sebagian besar komplikasi pada
goiter dan kanker tiroid hampir sama. Komplikasi pada penyakit goiter dan kanker
tiroid ini sebagian besar terjadi ketika dilakukannya pembedahan tiroidektomi.
Komplikasi ini dapat muncul pada tahap pre, intra, maupun post operasi. Namun
komplikasi yang sering terjadi adalah pada tahap intra dan post operasi. Beberapa
komplikasi yang muncul ketika dilakukannya pembedahan tiroidektomi untuk penyakit
goiter dan kanker tiroid adalah:
1. Komplikasi umum
a. Koma miksedema: komplikasi yang bisa mengancam nyawa pasien dengan
hipotiroidisme. Selain gagal pernafasan, komplikasi ini juga dikaitkan dengan
hipotiroidisme berat, biasanya dengan koma miksedema. Hipotiroidisme kronis
juga dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular. (Siswadi et all, 2009)
2. Komplikasi intra dan pasca operasi
a. Gangguan pita suara karena terpotongnya saraf, yang berakibat suara menjadi
parau atau bahkan hilang sama sekali, namun komplikasi ini jarang terjadi
(Siswadi et all, 2009).
b. Perdarahan post operatif yang disebabkan oleh pembedahan pasien. Tanda-tanda
perdarahaan harus dipantau dalam 24 jam pasca operadi. Perdarahan dapat
mengakibatkan kompresi pada trakea dan jaringan sekitarnya (Siswadi et all,
2009).
c. Trauma kelenjar tiroid saat pembedahan. Pembengkakan dapat pula
menghambat keluarnya hormon paratiroid. Tanda-tanda defisiendi kalsium akan
timbul apabila hormon tiroid berkurang. Apabila tidak segera ditangani maka

13
akan mengakibatkan kontraksi glotis, obstruksi pernafasan, dan kematian
(Siswadi et all, 2009).
d. Cedera Recurrent Laryngeal Nerve (RLN) atau palsy yaitu cedera yang terjadi
pada cabang dari saraf vagus (saraf kranial X) yang memasok semua otot
intrinsik dari laring , dengan pengecualian dari otot krikotiroid (Park et all,
2010)
e. Hematoma adalah kumpulan darah tidak normal yang berada diluar pembuluh
darah. Menurut Park et all, 2010 Hematoma merupakan komplikasi yang fatal
akibat pembedahan, maka hematoma ini harus diangkat melalui pembedahan
kembali
f. Seroma adalah cairan menumpuk dibawah permukaan kulit. Seroma ini
komplikasi yang masih dapat diatasi dengan cara aspirasi untuk membuat pasien
nyaman. Aspirasi ini dilakukan dengan memasukkan jarum suntik diatas sayatan
apabila ada tanda-tanda terjadi pengumpulan cairan (Park et all, 2010).
g. Chyle fistula adalah komplikasi yang disebabkan oleh cedera duktus toraks.
Komplikasi ini jarang terjadi pada prosedur pembedahan maupun pasca operasi.
h. Horner’s Syndrom adalah kumpulan gejala yag disebabkan oleh rusaknya saraf
simpatis.
2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Penatalaksanaan Medis
Menurut American Cancer Society ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
mengatasi kanker tiroid, yaitu:
1. Pembedahan
Pengobata pilihan adalah pengangkatan melalui pembedahan (Rubenstein, D. et al,
2007). Pembedahan adalah pengobatan utama di hampir setiap kasus kanker tiroid,
kecuali untuk beberapa jenis kanker tiroid anaplastik. Jika kanker tiroid didiagnosis
dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNA), operasi untuk mengangkat tumor di seluruh
atau sebagian dari kelenjar tiroid yang tersisa biasanya dianjurkan. Dalam kanker tiroid
bisa dilakuan beberapa macam pembedahan, diantaranya Lobektomi, Tiroidektomi,
Lymph Node Removal (pengambilan kelenjar getah bening).
a. Lobektomi

14
Operasi ini kadang-kadang digunakan untuk mengobati kanker tiroid (papiler atau
folikular) yang kecil dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyebaran luar kelenjar
tiroid. Hal ini juga kadang-kadang digunakan untuk mendiagnosa kanker tiroid jika
hasil biopsi FNA tidak memberikan diagnosis yang jelas.
b. Tiroidektomi
Tiroidektomi adalah operasi untuk mengeluarkan kelenjar tiroid. Seperti dengan
lobektomi, ini biasanya dilakukan melalui sayatan beberapa inci panjang di bagian
depan leher. Ini adalah operasi yang paling umum untuk kanker tiroid. Jika seluruh
kelenjar tiroid diambil, itu disebut tiroidektomi keseluruhan. Kadang-kadang ahli bedah
mungkin tidak dapat mengambil atau mengeluarkan seluruh tiroid. Jika hampir semua
dari kelenjar diambil, itu disebut tiroidektomi nyaris total. Jika sebagian besar kelenjar
diambil, itu disebut tiroidektomi subtotal.
c. Lymph Node Removal (pengambilan kelenjar getah bening)
Jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di leher, maka kelenjar getah
bening juga akan diambil pada saat yang sama pada operasi pengambilan kelenjar tiroid
tiroid. Hal ini sangat penting pada pengobatan kanker tiroid meduler dan untuk kanker
anaplastik (ketika operasi adalah pilihan).
2. Radioaktif Iodine (Radioiod) Terapi untuk Kanker Tiroid
Pengobatan ini dapat digunakan untuk mengikis (menghancurkan) setiap jaringan
tiroid yang tidak diambil pada saat operasi atau untuk mengobati beberapa jenis kanker
tiroid yang telah menyebar ke kelenjar getah bening dan bagian lain dari tubuh. Terapi
yodium radioaktif meningkatkan kelangsungan hidup pasien dengan kanker tiroid
papiler atau kanker tiroid folikular yang telah menyebar ke leher atau bagian tubuh
lainnya, dan pengobatan ini sekarang menjadi praktek standar dalam kasus tersebut.
Terapi yodium radioaktif tidak dapat digunakan untuk mengobati anaplastik
(undifferentiated) dan karsinoma tiroid meduler karena jenis kanker tidak mengambil
yodium.
3. Terapi Radiasi Beam Eksternal untuk Kanker Tiroid
Terapi radiasi pancaran eksternal menggunakan sinar berenergi tinggi (atau
partikel) untuk menghancurkan sel-sel kanker atau memperlambat pertumbuhan sel
kanker. Hal ini lebih sering digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk kanker

15
tiroid meduler dan kanker tiroid anaplastik. Ketika kanker telah menyebar di luar tiroid,
pengobatan radiasi eksternal dapat membantu mengobati kanker atau mengurangi
kemungkinan penyakit datang kembali di leher setelah operasi. Jika kanker tidak
merespon terapi radioiodine, terapi radiasi eksternal dapat digunakan untuk mengobati
leher kekambuhan atau jauh metastasis lokal yang menyebabkan rasa sakit atau gejala
lainnya.
4. Terapi Radiasi
Terapi radiasi ini biasanya menggunakan energi tinggi partikel atau gelombang
untuk menghancurkan atau merusak sel-sel kanker. Ini adalah salah satu pengobatan
yang paling umum untuk kanker, baik dengan pengobatan tunggal atau bersama dengan
bentuk-bentuk lain dari pengobatan.
5. Kemoterapi untuk Kanker Tiroid
Kemoterapi biasanya menggunakan obat anti kanker yang disuntikkan ke pembuluh
darah atau otot, atau melalui oral. Kemoterapi adalah terapi sistemik, yang berarti
bahwa obat memasuki aliran darah dan kemudian dibawa ke seluruh tubuh untuk
mencapai dan menghancurkan sel-sel kanker. Kemoterapi jarang membantu untuk
sebagian besar jenis kanker tiroid, tapi untungnya itu tidak diperlukan dalam
kebanyakan kasus. Hal ini dikombinasikan dengan terapi radia sinar eksternal untuk
kanker tiroid anaplastik dan kadang-kadang digunakan untuk kanker canggih lainnya
yang tidak lagi merespon pengobatan yang digunakan.

2.8.2 Penatalaksanaan Non Medis


Menurut American Cancer Society Penatalaksanaan Non Medis yang dapat
dilakukan adalah:
1. Terapi Hormon Tiroid
Meminum pil hormon tiroid setiap hari ( terapi hormon tiroid) dapat memberikan 2
manfaat, yaitu:
a. Hal ini dapat membantu menjaga metabolisme tubuh supaya tetap normal (dengan
mengganti hormon tiroid yang hilang setelah operasi).
b. Hal ini dapat membantu menghentikan sel-sel kanker yang tersisa (dengan
menurunkan kadar TSH). Setelah tiroidektomi, tubuh tidak bisa lagi membuat hormon

16
tiroid yang dibutuhkan, sehingga pasien harus meminum pil (obat) hormon tiroid
(levothyroxine) untuk menggantikan hilangnya hormon yang alami. Meminum pil untuk
hormon tiroid juga dapat membantu mencegah dari beberapa jenis kanker tiroid yang
mungkin akan kembali. Fungsi tiroid yang normal diatur oleh kelenjar hipofisis.
Hipofisis membuat hormon yang disebut TSH yang berguna untuk membuat kelenjar
tiroid yang kemudian digunakan untuk membuat hormon tiroid bagi tubuh.
2. Obat Yang di Targetkan untuk Kanker Tiroid Moduler
Dokter untuk menemukan obat yang ditargetkan untuk mengobati kanker tiroid
meduler (MTC) karena pengobatankanker tiroid yang menggunakan terapi hormon
kurang efektif untuk mengobati kanker ini. Obat yang digunakan untuk kanker tiroid
adalah:
a. Vandetanib
Vanadetanib adalah obat yang ditargetkan untuk diminum sebagai pil sekali dalam
sehari. Pada pasien dengan MTC, vandetanib dapat menghentikan pertumbuhan sel
kanker selama rata-rata sekitar 6 bulan, meskipun belum jelas apakah obat ini dapat
membantu orang yang menderita dapat hidup lebih lama.
b. Cabozantinib
Cabozantinib adalah obat yang ditargetkan lain yang digunakan untuk mengobati MTC.
Sama halnya dengan vanderanib, obat ini juga diminum dalam bentuk pil sekali sehari.
Pada pasien MTC, cabozantinib telah terbukti untuk membantu menghentikan
pertumbuhan sel kanker selama sekitar 7 bulan lebih lama. Sejauh ini, cabozantinib juga
belum terbukti untuk dapat membantu pasien hidup lebih lama.
c. Sunitinib
Sunitinib adalah obat yang memiliki banyak target tirosin kinase inhibitor (TKI).
Target obat termasuk faktor pertumbuhan endotel vaskular reseptor (VEGFR) tipe 1 dan
2, reseptor hormon PDGF (Platelet-Derived Growth Factor receptors), c-KIT, FLT3,
dan RET. Efek penghambatan obat pada VEGF dan RET membuatnya menjadi bahan
untuk terapi DTC dan MTC. mutasi somatik dari RET protoonkogen sangat penting
dalam pengembangan MTC. Selain itu, kadar serum dari faktor pertumbuhan endotel
vaskular juga terkait dengan prognosis buruk pada karsinoma papiler tiroid.
d. Sorafenib

17
Sorafenib (BAY 43-9006) adalah obat oral, memiliki molekul kecil dan TKI
(tirosin kinase inhibitor) menargetkan VEGF reseptor 2 dan 3, RET (termasuk bentuk
yang paling mutan yang telah diperiksa), dan BRAF. Dalam studi praklinis, sorafenib
mencegah pertumbuhan TPC1- dan TT-sel garis, yang berisi RET / PTC1 dan mutasi
C634W RET, masing-masing. Pengaruh sorafenib pada DTC dan MTC pasien telah
dilaporkan pada tahap II penelitian nonrandomized yang digunakan dosis sorafenib 800
mg / hari sebagai agen tunggal pada pasien dengan refrakter DTC untuk yodium
radioaktif.
e. Motesanib
Motesanib adalah inhibitor oral dari beberapa kinase, termasuk VEGFR 1, 2, dan 3
serta bentuk-bentuk liar dan mutan dari RET reseptor membran. Dalam fase I respon
percobaan mencapai 50% secara keseluruhan yang diamati pada pasien dengan
karsinoma tiroid.
f. XL281
XL281 adalah molekul kecil dengan aktivitas antineoplastik potensi khusus yang
menghambat kinase RAF, yang dapat berakibat pada penurunan proliferasi sel tumor.
g. Axitinib
Axitinib (AG-013.736) adalah inhibitor oral yang efektif blok reseptor VEGF pada
konsentrasi subnanomolar, tetapi terutama bukan RET kinase.
h. XL184
XL184 adalah molekul kecil yang dirancang untuk menghambat beberapa reseptor
tirosin kinase, khususnya MET dan VEGFR2. MET adalah kinase reseptor tirosin yang
memainkan peran kunci dalam proliferasi sel, migrasi, dan invasi serta angiogenesis ini
merupakan proses biologis yang berkontribusi pada transformasi, perkembangan,
kelangsungan hidup, dan metastasis sel kanker.
i. Pazopanib
Pazopanib adalah obat yang ditargetkan pada beberapa reseptor tirosin kinase
inhibitor poten dan selektif VEGFR-1, VEGFR-2, VEGFR-3, PDGFR-a / β, dan c-KIT
bahwa pertumbuhan blok tumor dan menghambat angiogenesis. Telah disetujui untuk
karsinoma sel ginjal oleh AS Food and Drug Administration. Pazopanib mungkin juga

18
aktif dalam kanker ovarium dan sarcoma jaringan lunak. Pazopanib juga efektif dalam
pengobatan karsinoma paru sel non-kecil dan kanker tiroid.
j. Lenvatinib
Lenvatinib adalah tirosine kinase inhibitor oral yang menargetkan kepada
VEGFR1-3, FGFR1-4, RET, KIT, dan PDGFR β. Lenvatinib memblok aktivasi
VEGFR2 dengan VEGF, yang mengakibatkan penghambatan jalur reseptor sinyal
transduksi VEGF, penurunan vaskular migrasi endotel sel dan proliferasi, dan
pembuluh darah apoptosis sel endotel, sehingga menghambat kinase VEGFR2 dan
VEGFR3.

2.9 Pemeriksaan Diagnostik pada Kanker Tiroid


Pemeriksaan Diagnostik pada Kanker Tiroid adalah :
1. Laboratorium
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa triiodotironin bebas dalam serum
(T3), tiroksin bebas (T4), dan TSH jika dicurigai adanya hipertiroidisme, atau T4 bebas
dan TSH jika dicurigai hipotiroidisme.
2. Biopsi aspirasi jarum halus
Pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus ini merupakan prosedur biopsi dimana
menggunakan jarum tipis untuk menarik jaringan pada kelenjar tiroid yang abnormal.
Kemudian sampel jaringan dilihat menggunakan mikroskop untuk mengetahui
gambaran sel pada kelenjar tiroid tersebut.
3. Sintigrafi
Pemeriksaan sintigrafi dilakukan dengan lima buah fantom tiroid dengan volume
yang berbeda-beda dengan mengisi isotop Tc-99m pertechnetat sebanyak 6-10 µCi dan
ditambahkan larutan NaCl dengan konsentrasi 0,9% sampai fantom penuh. Kemudian
pengukuran dapat dilakukan menggunakan kamera gamma dengan jarak 8 cm dari
permukaan kolimator. Kamera gamma dengan fasilitas komputer yang telah diprogram
dengan perhitungan volume kelenjar tiroid digunakan untuk mengukur volume kelenjar
tiroid pada pasien-pasien tersebut. Pemeriksaan sintigrafi mempunyai peranan yang
sangat penting untuk memnunjukkan fungsi dari kelenjar tiroid , nodul, mendeteksi lesi
teroid, lokalisasi jaringan tiroid ektoik dan evaluasi metastasis dari karsinoma tiroid

19
papiler dan folikuler. Pemeriksaan sintigrafi ini menggunakan zat radiokaktif seperti I-
131 dan Tc-99m pertechnetat. Namun untuk penggunaan Tc-99m pertechnetat lebih
menghasilkan visualisasi yang baik pada kamera gamma.
4. Ultrasonografi
Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan yang menggunakan
gelombang suara dengan frekuensi tinggi, sehingga dapat digunakan berulang-ulang.
Pemeriksaan ini relatif mudah dan cepat serta nilai akurasi diagnostik yang cukup tinggi
dan sering digunnakan untuk penunjang diagnostik termasuk pemeriksaan kelenjar
tiroid.
Masalah yang dihadapi dalam pengukuran kelenjar tiroid dengan dengan teknik ini
yaitu:
a. Penentuan batas tepu kelenjar tiroid.
b. Bentuk probe yang datar sehingga sulit menentukan volume kelenjar tiroid yang
menonjol kepermukaan kulit.

2.10 Diagnosa Keperawatan


2.10.1 Diagnosa Keperawatan Goiter
Diagnosa keperawatan goiter yang mungkin muncul adalah : (Nanda, 2012)
1. Resiko Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan adanya
obstruksi pada trakea, pendarahan, pembengkakan, dan kejang laring.
2. Gangguan komunikasi verbal berkaitan dengan cedera syaraf vokal/kerusakan
laring, edema jaringan, nyeri dan ketidaknyamanan
3. Resiko cidera / tetanus berkaitan dengan operasi, dan stimulasi sistem syaraf pusat
4. Nyeri akut berkaitan dengan operasi jaringan / otot dan edema pascaoperasi

2.10.2 Diagnosa Keperawatan Kanker Tiroid


Diagnosa keperawatan kanker tiroid (Lippintcott ddan Wilkins, 2006)
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
disphagia
2. Gangguan menelan berhubungan dengan adanya tumor
3. Ketidakefektifan komunikasi verbal berhubungan dengan adanya tumor

20
2.11 Intervensi Keperawatan
2.11.1 Intervensi Keperawatan Goiter
Diagnosa Tujuan da Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
(NOC)

Ketidakefektifan Setelah dilakukan proses Stabilisasi dan membuka jalan


bersihan jalan keperawatan, diharapkan napas (3120)
napas pasien dapat mematenkan
Aktivitas :
berhubungan jalan napas dengan kriteria
dengan adanya hasil : 1. Posisikan pasien dan kepala
obstruksi pada sesuai dengan kebutuhan
1. Frekuensi pernapasan
trakea, 2. Suction mulu dan orofaring
normal
pendarahan, 3. Masukkan tube/orofar ,
2. Irama pernapasan normal
pembengkakan, pzastikan mencapai lidah dan
3. Kedalam inspirasi normal
dan kejang laring tahan lidah agar tidak jatuh ke
4. Tidak merasakan ansietas
belakang
4. Rekatkan tube/orofaring denga
cara yang tepat
5. Ganti selang oro/nasafaring
setiap hari dan inspeksi mukosa
Manajemen jalan napas (3140)\

Aktivitas :

1. Buka jalan napas dengan


tekhnik chin lift sebagaimana
mestinya
2. Posisikan pasie untuk
memaksimalkan ventilasi
3. Identifikasi kebutuhan
atual/potensial pasie untuk
memasukkan alat membuka

21
jalan napas
4. Buang sekret dengan
memotivasi pasien untuk batuk
au menyedot lendir
Gangguan Setelah dlakukan tindakan Pengurangan kecemasan (5820)
komunikasi perawatan, diharapkan pasien
Aktivitas:
verbal berkaitan dapat berkomunikai melalui
dengan cedera ekspresi, dengan kritia hasil : 1. Gunakan peekatan yang

syaraf tenang dan meyakinkan


1. Menggunakan bahasa lisan
vokal/kerusakan 2. Jelaskan semua prosedur
: vokal tidakterganggu
laring, edema termasuk sensasi yang akan
2. Kejelasan brbicara tidak
jaringan, nyeri dialami klien selama
terganggu
dan prosedur dlakukan
3. Mengarahkan pesan pada
ketidaknyamanan 3. Dorong verbalisasi
penerima yang tepat perasaan, prsepsi dan
dengan tidak terganggu ketakutan
4. Dorong keluarga untuk
mendampingi klien
5. Berikan aktivitas pengganti
yan bertujuan untuk
mengurangi tekanan
6. Kaji untuk tanda verbal dan
non verbal kecemasan

Resiko cidera / Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi (6540)


tetanus berkaitan perwatan dharapkan pasian
Aktivitas :
dengan operasi, dapat kntrol resiko, dengan
dan stimulasi kriteria hasil : 1. Bersihkan lingkungan dengan
sistem syaraf baik setelah digunaka untuk
1. Mencari informasi tentang
setiap pasien

22
pusat resiko kesehatan secara 2. Ganti peralatan perawatan per
konsisten pasien sesuai protokol instruksi
2. Mengidentifikasi faktor 3. Ajarkan cara mencuci tangan
resiko secara konsisten yng benar
3. Memonitor faktor resiko 4. Gunakan sabun anti mikroba
lingkunga saat cuci tangan
4. Memonitor faktor resiko 5. Jaga lingkungan aseptik
individu Identifikasi resiko (6610)

Aktivitas :

1. Kaji ulang riwayat kesehatan


masa lalu dan dokumentasikn
bukti yang menunjukkan
adanya penyakit
medis,diagnosa keperawatn
dan perawatannya
2. Pertimbangkan ketersediaan
dan kualitas sumber yang ada
3. Identifikasi adanya sumber-
sumber agensi untuk
membantu menurunkan resiko
4. Intifikasi resiko biologis,
lingkungan dan perilaku sert
hbungan timbal balik
Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (1400 )
berkaitan dengan perawatan diharapkan pasien
Aktivitas :
operasi jaringan / mampu kontrol nyeri dengan
otot dan eema kriteria hasil : 1. Lakukan pengkajian nyeri
pascaoperasi secara komprehnsif
1. Mengenali kapan nyeri
2. Gali pengetahan dan
terjadi
kepercayaan pasien mengenai

23
2. Menggambarkan faktor nyeri
penyebab 3. Gali bersama pasien faktor yng
3. Menggunakan tindakan dpat menurunkan/memperberat
pecegahan nyeri nyeri
4. Menggunakan tindakan 4. Ajarkan prinsip-prinsip
pengurangan nyeri tanpa manajemen nyeri
analgesik 5. Ajati penggunaanteknik
nonfarmakolog
Pengalihan (5900)

Aktivitas :

1. Motivasi individu untuk


memilih teknik pengalihan
yang diinginkan
2. Gunakan teknik distraksi
3. Srankan teknik yang
sesuaidngan tingkat energi,
kemampuan, kesesuaian usia,
tingkat perkembangan, dan
kefektifan penggunaannya
4. Intifikasi bersama pasien
menai daftr keinginanyang
menynangkan

2.11.2 Intervensi Keperawatan Kanker Tiroid


Diagnosa Tujuan da Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Monitor nutrisi (1160 )


nutrisi : kurang dari perawatan diharapkan pasien
Aktivitas :
kebutuhan tubuh mampu memenuhi status
berhubungan nutrisi asupan makanan dan 1. Timbang berat badan pasien

24
dengan disphagia minuman, dengan kriteria 2. Lakukan pengukuran
hasil : antropometrikpada
komposisi tubuh
1. Asupan makanan secara
3. Identifikasi perubahan berat
oral sepenuhya adekuat
adan terakhir
2. Asupan cairan secara oral
4. Monitor turgor kulit dan
3. Asupan cairan intravena
mobilitas
4. Asupan nutrsi parnteral
5. Identifiksi abnormalitas
rambut
6. Monitor diet dan asupan
kalori
Intubsi gastrointestinal (1080)

Aktivitas :

1. Pilih jenis dan ukuran


selang nasogastrik dngan
mempertimbangkan
penggunaan danrasionalisasi
dlakukannya penyisipan
2. Jelaskan pada pasien dan
keluarga alasanpemasangan
selang gastrointestinal
3. Masukkan selang seuai SOP
4. Posisikan pasien di sebelah
kanan untuk memfasilitasi
pergerakan selang ke
duodenum
Gangguan menelan Setelah dilakukan tindakan Terapi mnelan (1860)
berhubunngan perawatan diharapkan pasien
Aktivitas :
dengan adanya mampu eningkatkan status
1. Klaborasi dengan tim

25
tumor menelan dengan kriteria hasil : kesehatan yang lain untuk
menyediakan rencana terapi
1. Mempertahankan
yang berlanjut
makanan di mulut
2. Tetukan kemampuan paien
2. Kemampuan menguyah
untuk mmfokuskan perhatian
tidak terganggu
pada belajar/melakukan tugas
3. Jmlah menlan sesuai
mkan dan menelan
dengan ukuran atau
3. Hilangkan distraksi dari
tekstur bolus
lingkungan sekitar sebelum
bekerja dengan pasien dalam
proses belajar makan
4. Jelaskan rasionalisasi terapi
menelan pada pasien atau
keluarga
Ketidakefektifan Seetelah dlakukan tindakan Pengurangan kecemasan
komunikasi verbal perawatan, diharapkan pasien (5820)
berhubungan dapat berkomunikasi melalui
Aktivitas:
dengan adanya ekspresi, dengan kritia hasil :
tumor 1. Gunakan peekatan yang
1. Menggunakan bahasa
tenang dan meyakinkan
lisan : vokal
2. Jelaskan semua prosedur
tidakterganggu
termasuk sensasi yang akan
2. Kejelasan brbicara tidak
dialami klien selama
terganggu
prosedur dlakukan
3. Mengarahkan pesan pada
3. Dorong verbalisasi perasaan,
penerima yang tepat
prsepsi dan ketakutan
dengan tidak terganggu
4. Dorong keluarga untuk
mendampingi klien
5. Berikan aktivitas pengganti
yan bertujuan untuk
mengurangi tekanan

26
6. Kaji untuk tanda verbal dan
non verbal kecemasan

27
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kanker tiroid merupakan suatu keganasan pada leher akibat pembengkakan kelenjar
tiroid karena perubahan susunan kelenjar dan morfologinya, kanker tiroid ini awalnya
bersifat asimptomatis yaitu tidak menimbulkan gejala pada umumnya. Kejadian ini
disebabkan oleh adanya kenaikan sekresi hormon TSH dari kelenjar hipofise anterior
karena kurangnya intake iodium, selain itu paparan radiasi eksternal di kepala dan
bagiannya. Menurut american thyroid association, 2017 klasifikasi kanker thyroid
dibagi menjadi 4 jenis kanker thyroid. Tanda dan gejala pada kanker tiroid yang
menonjol adalah adanya benjolan pada leher. Kanker thiroid ini berdiferensiasi
mempertahankan kemampuan untuk menimbun yodium pembesaran kelenjar getah
bening. Hormon TSH memegang peran penting untuk mengatur sekresi dari kelenjar
thyroid. Biasanya prognosis klien dengan kanker thyroid daya tahan hidup 5 tahun
menjadi 99% untuk pasien anpa metastasis dan menjadi 58%, namun prognosis pada
kanker thyroid ini tergantung pada usia masing-masing klien. Banyak komplikasi yang
terjadi pada pasien kanker thyroid selain gagal pernafasan juga gangguan pita suara
karena terpotongnya saraf setelah postoperasi. Beberapa yang dapat dilakukan dalam
penanganan pasien dengan kanker thyroid secara medis yaitu dengan dilakukannya
pembedahan, terapi, dan farmakoterapi dan juga dilakukan pemeriksaan penunjang.
Pasien dengan kasus kanker thyroid dapat memunculkan beberapa diagnosa
keperawatan salah satunya yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas, maka sebagai
perawat intervensi yang dilakukan stabilisasi dan membuka jalan napas, manajemen
jalan napas, dan yang paling penting adalah ajarkan juga kepada anggota keluarga
pasien agar dapat mengetahui intervensi tersebut.

28
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2017. Key Statistics for Thyroid Cancer.


https://www.cancer.org/cancer/thyroid-cancer/about/key-statistics.html [Diakses
pada 30 Maret 2017]

American Society of Clinical Oncology. 2016. Thyroid Cancer: Introduction.


http://www.cancer.net/cancer-types/thyroid-cancer/introduction [Diakses pada 30
Maret 2017]

American Thyroid Assocition. 2017.Kanker Tiroid. http://www.thyroid.org/thyroid-


cancer/ [diakses pada tanggal 30 Maret 2017]

Borley, N.R dan Grace, P.A. 2007. At A Glance Ilmu Bedah. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga. Diunduh dari
https://books.google.co.id/books?id=tXPMbfIQSUsC&printsec=frontcover&hl=id
#v=onepage&q&f=false . [Diakses pada 30 Maret 2017]

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 Vol.2. Jakarta :


EGC.

Bulecheck, Gloria M., H.K. Butcher., J.M. Dochterman., C.M. Wagner. 2016. Nursing
Intervention Classification (NIC) 6th Indonesian Edition. Indonesia: Mocomedia.

Handayani, S.H.S. dan Purnami, S.W. 2014. Pendekatan Metode Classification and
Regression Tree untuk Diagnosis Tingkat Keganasan Kanker pada Pasien Kanker
Tiroid.[SerialOnline]http://ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/viewFile/6
108/1587 [diakses pada tanggal 30 Maret 2017]

Harmanto, N., 2014. Mahkota Dewa Panglima Penakluk Kanker. Jakarta: PT


AgroMedia Pustaka.

Livolsi VA, Baloch ZW. 2004. Pathology of thyroid and parathyroid disease in:Mills
SE, Carter D, Reuter VE. Sternberg‘s diagnostic surgical pathology. 4th ed.
Philadelphia: Elseiver. p: 493-527. [iakses pada tanggal 30 Maret 2017]

Mackay & Hayes. 1997. Diagnosis dan Terapi. Jakarta. Buku Kedokteran EGC
https://books.google.co.id/books?id=y7qG55rc_g0C&pg=PA468&dq=klasifikasi
+kanker+tiroid&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjUyI3Xu_7SAhUDq48KHYw8CO
QQuwUIIjAB#v=onepage&q=klasifikasi%20kanker%20tiroid&f=false [diakses
pada tanggal 30 Maret 2017] American Thyroid Association. 2017. [Serial
Online] http://www.thyroid.org/thyroid-cancer/ . [Diakses pada 30 Maret 2017]

29
Mayo Foundation for Medical Education and Research. 2014. Diseases and Conditions
Thyroidcancer.http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/thyroid
cancer/basics/definition/CON-20043551?p=1

Moorhead, Sue., M. Johnson., M.L. Maas., E. Swanson. 2016. Nursing Outcome


Classification (NOC) 5th Indonesian Edition. Indonesia: Mocomedia.

Nanda International. 2012. Nursing Care Plan for Goiter – Assessement and Diagnosis.
http://www.nanda-books.com/2012/10/nursing-care-plan-for-goiter-
assessment.html [diakses tanggal 30 Maret 2017}

Park, Cheong Soo et all. 2010. Postoperative Complications of Thyroid Cancer in a


Single Center Experience. J Korean Med Sci 2010; 25: 541-5. DOI:
10.3346/jkms.2010.25.4.541 Diunduh dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24648108 . [Diakses pada 30 Maret 2017]

Parura, Y., Pontoh, V., & Werung, M. (2016). Pola kanker tiroid periode Juli 2013–Juni
2016 di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado. e-CliniC, 4(2).American Cancer
Society. 2016. Signs and Symptoms of Thyroid Cancer. American Cancer
Society Medical. https://www.cancer.org/cancer/thyroid-cancer/detection-
diagnosis-staging/signs-symptoms.html [diakses pada tanggal 30 Maret 2017]

Pasaribu, E Taris. (2006). Epidemiologi dan Gambaran Klinis Kanker Tiroid. [serial on
line]. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20678/1/mkn-sep2006-
%20sup%20(14).pdf. [diakses pada 30 Maret 2017].

Price, Silvia A.,Wilson,Lorainnne M.2006.Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses


Penyakit. Volume 1 & 2 Edisi 6.Jakarta:EGC

Siswadi, Yakobus et all. 2009. Asuhan KeperawatanKlien Gangguan Endokrin. Jakarta:


EGC. Diunduh dari https://books.google.co.id/books?id=vfRE-
V2JlRMC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false. [Diakses pada 30
Maret 2017]

Syaugi et all. 2014. Perbedaan Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor pada
Karsinoma Tiroid Papilari dan Folikular. Volume 1, no. 1. Diunduh dari
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jkk/article/view/2534 [Diakses pada 30 Maret
2017]

30
William, Lippintcott., Wilkins. 2006. Handbook of Medical - Surgical Nursing. Library
of Congress in Publicating Data: A Wolters Kluwer CompanyGuyton, Arthur C.,
Hall, John E.2004.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi IX.Jakarta: EGC

(Bennedbæk, 2003)Bennedbæk, F. N. (2003). Management of Simple Nodular Goiter :


Current Status, 24(1), 102–132. http://doi.org/10.1210/er.2002-0016

Brauer, V. F. H., Below, H., Kramer, A., & Fu, D. (2006). The role of thiocyanate in the
etiology of goiter in an industrial metropolitan area, 229–235.
http://doi.org/10.1530/eje.1.02076

Nevada State Medical Association. 1928. TYPES OF GOITER-PULFORD.


Diunduh dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1655931/pdf/calwestmed00194-
0039.pdf [Diakses pada tanggal 31 Maret 2017]

31
LAMPIRAN

32
American Thyroid Assocition. 2017.Kanker Tiroid.
Diunduh dari
http://www.thyroid.org/thyroid-cancer/ Diakses pada tanggal 30 Maret 2017

33
Mackay & Hayes. 1997. Diagnosis dan Terapi. Jakarta. Buku Kedokteran EGC
Diunduh dari
https://books.google.co.id/books?id=y7qG55rc_g0C&pg=PA468&dq=klasifikasi+k
anker+tiroid&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjUyI3Xu_7SAhUDq48KHYw8COQQu
wUIIjAB#v=onepage&q=klasifikasi%20kanker%20tiroid&f=false Diakses pada
tanggal 30 Maret 2017

34
35
36
37