Anda di halaman 1dari 12

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pneumonia
1.1 Definisi
Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit, dan lain-lain).6
1.2 Faktor Resiko
Suatu individu dapat menderita pneumonia merupakan kombinasi paparan terhadap
faktor resiko yang meliputi faktor host, faktor lingkungan, dan faktor infeksi itu
sendiri. Kategori faktor resiko kejadian pneumonia pada anak yang ditetapkan oleh
WHO dibagi menjadi 3 yaitu:1,7
 Definite risk factors: malnutrisi, BBLR, ASI tidak eksklusif, imunisasi belum
dilakukan, polusi indoor.
 Likely risk factors: kebiasaan merokok orang tua, defisiensi zinc, pengalaman ibu
sebagai pengasuh, dan keadaan komorbid lainnya (diare, asma, penyakit jantung).
 Possible risk factors: tingkat pendidikan orang tua, kebiasaan menitipkan anak di
day-care, musim hujan (kelembaban), lokasi rumah di dataran tinggi (udara
dingin), defisiensi vitamin A, polusi outdoor.
Pada pasien ini didapatkan beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya
pneumonia. Definite risk factors yang terdapat pada pasien ini yaitu BBLR, tidak
mendapatkan ASI eksklusif, imunisasi dasar yang belum lengkap dan polusi indoor.
Selain itu, pasien mempunyai likely risk factors yaitu berupa kebiasaan merokok paman
dan riwayat asma pada ibu. Tingkat pendidikan orang tua yang hanya lulus SMA juga
dapat menjadi possible risk factors terjadinya pneumonia pada pasien ini.
1.3 Etiologi
Etiologi pneumonia berbeda sesuai distribusi usia.1
Usia Bakteri Virus
< 1 bulan Group b streptococcus Cytomegalovirus
Eschericia coli
Other gram negative enteric
bacteria
Listeria monocytogenes
2 bulan – Streptococcus pneumonia Respiratory syncytial virus
1 tahun Haemophillus influenza type B Influenza virus
Staphylococcus aureus Parainfluenza virus
Pseudomonas aeruginosa Adenovirus
Chlamydia trachomatis Human metapneumovirus
2-5 tahun Streptococcus pneumonia Respiratory syncytial virus
Haemophillus influenza type B Influenza virus
Mycoplasma pneumonia Parainfluenza virus
Mycobacterium tuberculosis Adenovirus
Human metapneumovirus
Rhinovirus
6-18 tahun Streptococcus pneumonia Influenza virus
Chlamydophila pneumonia
Mycoplasma pneumonia
Mycobacterium tuberculosis

Berdasarkan tempat didapatkanya kuman, pneumonia diklasifikasikan menjadi


Community Acquired Pneumonia (CAP) dan Hospital Acquired Pneumonia (HAP).
CAP adalah infeksi parenkim paru yang didapatkan individu yang tidak sedang dalam
perawatan di rumah sakit paling sedikit 14 hari sebelum timbulnya gejala. HAP
adalah infeksi parenkim paru yang didapatkan setelah perawatan di rumah sakit yang
terjadi setelah 48 jam perawatan atau karena perawatan di rumah sakit sebelumnya,
dan bukan dalam stadium inkubasi. Klasifikasi lain pneumonia berdasarkan lokasi
paru yang terkena infeksi yaitu adalah pneumonia lobaris, bronkopneumonia, dan
pneumonia interstitial.1
Pada kasus ini, usia anak 2 bulan dengan jumlah leukosit meningkat dan hitung
jenis menunjukkan neutropenia dan monositosis. Neutropenia kurang dari 1 x 109 /L
menunjukkan infeksi yang berulang.8 Namun, pada anamnesis ibu pasien mengaku
tidak memeliki riwayat penyakit seperti ini sebelumnya. Sedangkan monositosis
merupakan peningkatan monosit lebih dari 9% jumlah leukosit. Peningkatan tersebut
dapat terjadi pada beberapa kondsi, seperti infeksi kronis jamur dan bakteri.9 Oleh
karena itu, hal ini mendukung diagnosis yakni pneumonia yang terjadi 3 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Selain itu, trombositosis yang terjadi merupakan
trombositosis reaktif dimana rombositosis reaktif terjadi ketika nilai trombosit
meningkat lebih dari 500.000/L namun masih dibawah 1 juta/L. Trombositosis reaktif
dapat terjadi karena adanya penyakit inflamasi.8 Hal ini mendukung adanya diagnosis
bronkopneumonia.
Selain itu, pada pemeriksaan kultur darah yang dilakukan pada tanggal 30 Maret
2017 menunjukkan bahwa organisme yang terlibat pada kasus ini adalah
Staphylococcus haemolyticus. Staphylococcus haemolythicus merupakan bakteri gram
negatif menjadi salah satu penyebab Hospital Acquired Pneumonia.9 Pasien
dilakukan kultur urin untuk mencari sumber infeksi dan didapatkan Enterococcus
faecalis. Enterococcus faecalis merupakan bakteri gram negatif yang dapat
menyebabkan Hospital Acquired Pneumonia.10. Namun, pada pasien ini memiliki
riwayat rawat inap di RS Roemani maka kemungkinan bakter-bakteri hasil kultur
adalah bakteri nosocomial yang didapatkan dari rumah sakit.
1.4 Patofisiologi
Mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer. Awalnya akan terjadi
edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman
ke sekitar. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi serbukan
sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya kuman di alveoli (stadium
hepatisasi merah). Selanjutnya deposisi fibrin semakin bertambah, terdapat fibrin dan
leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat (stadium hepatisasi
kelabu). Selanjutnya, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami
degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang (stadium resolusi).1
Diagnosis. 1,7
1. Anamnesis
 Gejala infeksi umum: demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu
makan, keluhan gastrointestinal (mual, muntah, diare).
 Gangguan respiratori: batuk awalnya kering kemudian menjadi produktif
dengan dahak purulen, sesak napas, retraksi dinding dada, takipneu, napas
cuping hidung, sianosis.
2. Pemeriksaan fisik
 Gelisah, rewel
 Demam
 Distress respirasi: takipnea, retraksi dinding dada, sianosis
 Perkusi paru pekak, suara napas melemah, auskultasi terdapat ronkhi.
3. Pemeriksaan penunjang
 Darah rutin
Pada infeksi virus, leukosit dapat normal atau sedikit meningkat. Pada infeksi
bakteri terdapat leukositosis antara 15.000-40.000/mm3, predominan PMN.
 Foto thorax
- Infiltrat intersisial, ditandai peningkatan corak bronkovaskuler,
peribronchial cuffing, dan hiperaerasi.
- Infiltrat alveolar, ditandai konsolidasi paru dengan air bronchogram.
Konsolidasi bila mengenai 1 lobus disebut pneumonia lobaris. Atau dapat
berbentuk lesi tunggal mirip lesi tumor paru, biasanya cukup besar, sfering,
batas tak terlalu tegas disebut round pneumonia.
- Bronkopneumonia, ditandai gambaran difus merata pada kedua paru, berupa
bercak infiltrat disertai corakan peribronkhial.
 Pengecatan gram dan kultur sputum
 Pemeriksaan antigen virus
 Analisis cairan pleura
 Pemeriksaan C-reactive protein (CRP)
Pada kasus ini, diagnosis bronkopneumonia ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan. Saat anamnesis
orang tua mengeluhkan anak sesak dan batuk. Anak juga mengalami demam, yang
turun apabila diberi obat penurun panas tetapi demam kembali bila tidak minum obat.
Dari hasil pemeriksaan fisik, didapatkan pasien mengalami sesak napas, takipneu,
retraksi epigastrial, subcostal, dan suprasternal, ronkhi basah halus serta hantaran.
Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan antara lain yaitu pemeriksaan
darah rutin dalam batas normal, pemeriksaan kimia darah dalam batas normal, hitung
jenis didapatkan hasil limfositosis, analisis gas darah dalam batas normal, dan
pemeriksaan foto thoraks didapatkan gambaran bronkoponeumonia.
1.5 Klasifikasi. 3
a. Anak usia 2 bulan – 59 bulan dengan batuk dan/atau kesulitan bernapas:
- Bukan pneumonia: batuk dan gejala flu
- Pneumonia : napas cepat dan/atau tarikan dinding dada
- Pneumonia berat: tanda bahaya umum (tidak bisa minum, muntah terus
menerus, kejang, letargi atau tidak sadar, stridor pada anak yang tenang atau
gizi buruk)
1.6 Tatalaksana.8
1. Bukan pneumonia
a. Anak di rawat jalan
b. Tidak diberikan antibiotik
2. Pneumonia
a. Anak di rawat jalan
b. Anak diterapi amoxicillin oral minimal 40 mg/kgBB/pemberian 2 kali sehari
untuk 5 hari. Bila gagal, rujuk ke fasilitas lanjutan untuk terapi lini ke 2.
3. Pneumonia berat
a. Anak di rawat di rumah sakit
b. Anak usia 2-59 bulan dengan pneumonia berat diterapi ampicillin 50mg/kgBB
atau penicillin 50.000 units per kgBB parenteral (IM/IV) tiap 6 jam selama
minimal 5 hari dan gentamicin 7,5 mg/kgBB IM/IV 1 kali sehari minimal
selama 5 hari sebagai terapi lini pertama. Ceftriaxone diberikan sebagai lini
kedua bila lini pertama gagal.
c. Terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi > 92%
d. Bila asupan per oral kurang, dapat diberikan cairan intravena. Pada distress napas
berat, hindari asupan per oral, ganti dengan NGT/intravena. Monitor balans
cairan.
e. Bila demam ≥ 380C dapat diberikan parasetamol.
f. Nebulisasi dengan β-2 agonis dan/atau NaCl 0,9% dapat diberikan untuk
memperbaiki mucocilliaryclearance.
Pada kasus ini, anak dirawat inap, diberikan oksigenasi dengan nasal kanul,
diberikan infus D5 240/10/10 tpm (mikro), diberikan asupan makanan via NGT. Anak
diberikan terapi antibiotik ampicillin dan gentamicin parenteral. Namun, pada hari
keempat, antibiotik diganti dengan ceftriaxon intravena karena tidak ada perbaikan
klinis. Anak juga diberikan nebulisasi dengan berotec 8 tetes + NaCl 0,9% 2 cc per 4
jam.

2. Laringomalasia
2.1 Definisi
Laringomalasia adalah suatu abnormalitas kongenital dari kartilago laring
(epiglotis dan/atau kartilago aritenoid). Hal ini merepresentasikan keterlambatan
maturitas struktur pendukung laring.12 Laringomalasia merupakan penyebab stridor
paling banyak pada bayi baru lahir, sebnayak 45-75% pada bayi dengan stridor
kongenital.13,14 Gejala umumnya muncul pada minggu pertama kehidupan, puncak
pada bulan 6-8, dan membaik pada usia 12-24 bulan.13,14
2.2 Etiologi13
Sampai saat ini etiologi laringomalasia belum diketahui dengan pasti. Beberapa teori
etiologi yang dikenal antara lain: (jurnal)
 Teori anatomis : penempatan jaringan lunak abnormal sehingga menyebabkan
stridor.
 Teori neurologis : akibat dari imaturitas dan integrasi abnormal dari sistem saraf
pusat dan perifer. Saat anak tumbuh, laringomalasia umumnya membaik
bersamaan dengan maturitas sistem saraf pusat.

2.3 Patofisiologi13
Pada laringomalasia, berkurangnya tonus laring menyebabkan struktur supraglotis
kolaps dan menyumbat jalan napas saat fase inspirasi sehingga menyebabkan stridor
inspirasi. Jika struktur yang bermasalah adalah epiglotis, epiglotis tampak
memanjang dan dinding epiglotis akan melipat. Jika dilihat dari potongan melintang,
struktur epiglotis menyerupai simbol omega. Jika struktur yang bermasalah adalah
kartilago aritenoid, kartilago aritenoid tampak membesar.

Gambar . Epiglotis berbentuk omega


2.4 Gejala Klinis
Laringomalasia menyebabkan stridor inspirasi, bernada rendah, umumnya memberat
saat anak makan, menangis, posisi supinasi, dan agitasi. beberapa gejala yang
berkaitan dengan laringomalasia antara lain, regurgitasi, tersedak, sulit makan, gagal
tumbuh, takipnea, retraksi dada, sleep apnea, hingga hipertensi pulmonal akibat
obstruksi jalan napas kronik.12
2.5 Diagnosis
Diagnosis laringomalasia dari gejala klinisnya dan dikonfirmasi dengan laringoskopi
atau bronkoskopi. 12,13
2.6 Tatalaksana
Umumnya gejala akan membaik saat anak bertambah besar, kebanyakan diatas usia 2
tahun, sehingga tidak membutuhkan terapi. Namun, pada bayi dan anak dengan
masalah saat menyusu dapat diberikan obat penekan asam lambung. Pada bayi dan
anak dengan sianosis berulang, aspirasi, gagal tumbuh, umumnya membutuhkan
terapi surgikal ditambah obat penekan asam lambung.13
Pada kasus ini, anak didiagnosa suspek laringomalasia karena terdapat
riwayat sering ngorok dan kadang tersedak saat minum susu terutama saat posisi
tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan stridor inspirasi yang membaik saat anak
diposisikan setengah duduk. Anak tidak mendapat terapi apapun, hanya dimonitor
keadaan umum, tanda vital dan tanda distress pernapasan. Orangtua diedukasi bahwa
kelainan pada anak umumnya dapat membaik dengan sendirinya, namun apabila
terjadi komplikasi dapat diberikan terapi obat hingga operasi. Orangtua diedukasi
apabila terdapat gejala yang berkaitan dengan laringomalasia untuk segera melapor
ke petugas kesehatan.

3. Pediatric Nutritional Asesmment


Status gizi pasien : gizi baik sesuai tabel pertumbuhan
1. Nutritional requirement
BB sekarang: 39,5 TB : 53.5 cm. TB sesuai usia 4 minggu (RDA 108 kkal/kgBB/24
jam). 10
2. Route of administration
Pasien dapat mengasup makanan melalui oral, namun resiko tinggi untuk tersedak,
sehingga jalur pemberian diet makanan akan dipilih melalui nasogastric tube (NGT).
Sedangkan untuk maintenance (infus D5 ½ NS) cairan akan digunakan jalur
parenteral.
3. Formula
Kebutuhan 24 jam Cairan Kalori Protein
(390 cc) (421,2 kkal) (8,58 gr)
D5 ½ NS 240/10/10 240 cc 40,8 kkal -
tpm mikro
Susu SGM Gain 47 480 ml 400 9,12 gr
8 x 60 ml
Total 720 ml 440,8 kkal 9,12 gr
%AKG 184,6% 104,6% 106,3%

4. Monitoring
a. Toleransi pasien
b. Akseptabilitas diet
c. Pertambahan berat badan

4. Imunisasi Dasar Tidak Lengkap


Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa tidak
terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu
kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh
dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada
janin yang diperoleh dari ibu. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan
dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh
sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi atau terpajan secara alamiah,
akan berlangsung lama karena ada memori imunologik.11
Berdasarkan jadwal program Imunisasi Nasional tahun 2014, pada usia 4 bulan anak
seharusnya sudah mendapat imunisasi Hepatitis B saat lahir, Hepatitis B 2 x, BCG 1x,
DPT 2x, Polio 3x, Hib 2x.
Status imunisasi pasien saat ini adalah:
Hepatitis B : 1x usia 0 bulan
BCG : belum diberikan
DPT : belum diberikan
Polio : 1x usia 0 bulan
HiB : belum diberikan
Pada pasien ini, imunisasi belum lengkap diberikan karena pasien sering demam.
Kurang lengkapnya imunisasi DPT, BCG, HiB, campak dan Hepatitis B pada pasien ini
dapat menyebabkan kurangnya daya kekebalan pasien terhadap penyakit sehingga pasien
dapat terkena infeksi difteri, pertusis, tetanus, TBC dan hepatitis B, oleh karena itu untuk
meningkatkan daya tahan tubuh anak disarankan orang tua untuk memberikan imunisasi
dasar secara lengkap. Pada pasien ini harus segera dilakukan catch up immunization.
Adapun rekomendasi jadwal catch up immunization untuk pasien ini adalah sebagai
berikut (dengan asumsi pasien sudah sembuh pada usia 4 bulan) :
 DPT/Hepatitis B/Hib I, II, III berturut-turut pada usia 4, 5, 6 bulan.
 BCG pada usia 4 bulan, sebelumnya perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.
 Polio II, III, IV berturut-turut pada usia 4, 5, 6 bulan.

5. Penatalaksanaan Komprehensif dan Holistik


Sesuai dengan prinsip pengelolaan pasien secara komprehensif dan holistik, maka
pada pasien tidak hanya diperhatikan dari segi kuratifnya saja, tetapi juga meliputi upaya
promotif, preventif, rehabilitatif dan psikososial. Upaya promotif dan preventif dilakukan
agar anak tidak sakit atau tidak mengalami kecacatan, sedang upaya kuratif dan
rehabilitatif dilakukan agar anak sembuh dan tidak cacat atau kembali pada
lingkungannya semula dengan memperhatikan faktor psikososial anak.
1. Kuratif
Adalah upaya untuk mendiagnosis dan mengobati secara tepat dan rasional terhadap
individu yang terserang penyakit. Upaya kuratif yang dilakukan pada penderita ini
meliputi:
a. Terapi Suportif:
Infus D5 ½ NS 240/10/10 tpm (mikro)
Nasal canul 2 L / menit
b. Medikamentosa
Pada kasus ini diberikan Ampicillin 100 mg/6 jam + Gentamicin 25 mg/24 jam IV
selama 3 hari. Namun karena tidak ada perbaikan, anak diberikan Ceftriaxon
300mg/24 jam IV selama 6 hari.
Paracetamol drop 40 mg/4 jam (jika t > 38 oC)
Nebul : Berotec 2 tetes + NaCl 2 cc setiap 8 jam
c. Dietetik
Infus D5 ½ NS 240/10/10 tpm (mikro)
Susu SGM Gain 47 8 x 60 ml per hari
2. Preventif
Adalah usaha-usaha untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan mencegah
terjangkitnya penyakit tersebut. Ada tiga tingkat upaya pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan primer
merupakan tingkat pencegahan awal untuk menghindari atau mengatasi faktor resiko.
Pencegahan sekunder untuk deteksi dini penyakit sebelum penyakit menimbulkan
gejala yang khas. Pencegahan tersier dengan melakukan tindakan klinis untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit
tersebut diketahui.
Terdapat beberapa upaya preventif yang perlu diedukasikan kepada orangtua
mengenai bronkopneumonia yaitu:
1. Pemberian imunisasi memberikan arti yang sangat penting dalam
pencegahan pneumonia. Pneumonia diketahui dapat sebagai komplikasi dari
campak, dan varisela sehingga imunisasi dengan vaksin yang berhubungan
dengan penyakit tersebut akan membantu menurunkan insiden pneumonia.
Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophillus influenza dapat juga
dicegah dengan pemberian imunisasi Hib.
2. Pencegahan lain dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap rokok
dan polusi udara, membatasi penularan terutama dirumah sakit misalnya
dengan membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan masker,
isolasi penderita, menghindarkan bayi/anak kecil dari tempat keramaian
umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak dengan
penderita ISPA, dan pemberian makanan melalui NGT untuk menghindari resiko
tersedak.
3. Promotif
Adalah upaya penyuluhan yang bertujuan untuk merubah kebiasaan yang kurang
baik dalam masyarakat agar berperilaku sehat dan ikut serta berperan aktif dalam
bidang kesehatan. Dalam kasus ini, upaya yang dapat dilakukan yaitu:
1. Pengetahuan tentang bronkopneumonia
Menjelasan kepada keluarga tentang keadaan pasien bahwa bronkopneumonia
merupakan radang pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan sesak napas.
Menjelaskan bahwa risiko anak menderita penyakit seperti ini akan naik apabila
nutrisi tidak adekuat, ASI tidak eksklusif, berat badan lahir rendah, imunisasi
tidak lengkap, kepadatan rumah yang tinggi. Meningkatkan pola hidup bersih,
cuci tangan, tata kelola lingkungan yang optimal dan menghindari asap rokok .
2. Pengetahuan mengenai Imunisasi
Masyarakat memerlukan pentingnya imunisasi untuk meningkatkan kekebalan
tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga mencegah infeksi penyakit
tertentu, tidak bermanifestasi menjadi berat (tidak cacat dan meninggal).
Imunisasi yang tidak sesuai umur dapat dilanjutkan sesuai jadwal.
3. Pengetahuan mengenai Makanan Pendamping ASI
Pengetahuan masyarakat tentang MP-ASI yang penting diberikan sejak anak usia
6 bulan (tidak boleh terlalu cepat atau terlambat), prinsip pemberian MP ASI, dan
cara pemberian MP-ASI, dapat dilakukan dengan penyuluhan atau media massa
tertulis.
4. Mencukupi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang meliputi:
o Asuh: memenuhi kebutuhan dasar (pangan, papan, perawatan kesehatan dasar,
pengobatan yang layak) dan memenuhi kebutuhan tambahan (bermain).
o Asih: memberi rasa aman dan nyaman, dilindungi dan diperhatikan (minat,
keinginan dan pendapat anak), diberi contoh (bukan dipaksa), dibantu, diberi
dorongan, dihargai, penuh kegembiraan serta koreksi (bukan ancaman/
hukuman)
o Asah: memberikan stimulasi emosional-sosial, kognitif, kreativitas,
kemandirian, kepemimpinan moral dan mental.
o Hal ini dapat dilakukan dengan penyuluhan atau media massa, seperti poster,
atau brosur.
4. Rehabilitatif
Adalah upaya untuk menolong atau membantu anak terhadap
ketidakmampuannya dengan berbagai usaha, agar anak sedapat mungkin kembali
pada lingkungannya baik lingkungan sosial maupun keluarga. Untuk menjaga anak
tetap sehat, maka orang tua diberitahu untuk:
- Menjaga kualitas dan kuantitas gizi anak sehari-hari di rumah, yaitu agar ibu
menjalani program relaktasi agar anak dapat mendapat ASI sehingga kebutuhan
gizi anak tetap terpenuhi dengan baik sertaa memiliki daya tahan tubuh yang baik
pula.
- Melanjutkan program imunisasi anak yang tidak sesuai jadwal.
5. Psikososial
Aspek psikososial adalah aspek yang berkaitan dengan emosi, sikap,
pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai sosial budaya, kepercayaan, dan adat
istiadat dilingkungan sekitar anak. Meliputi mikrosistem, mesosistem, eksosistem dan
makrosistem.
Mikrosistem meliputi interaksi anak dengan ibunya atau pengasuhnya. Ibu /
pengasuh berperan dalam pendidikan, gizi, imunisasi, dan pengobatan sederhana pada
anak. Ibu adalah orang pertama di rumah yang memegang peranan penting terhadap
proses tumbuh kembang anak dan perawatan anak ketika anak sakit. Rendahnya
pengetahuan ibu tentang kesehatan juga mempengaruhi sikap yang diambil ketika anak
sakit, seperti usaha mengobati sendiri. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan yang
kurang juga menyebabkan kurangnya perhatian terhadap makanan dan tumbuh
kembang anak.
Mesosistem meliputi interaksi anak dengan anggota keluarga lain, lingkungan,
tetangga, keadaan rumah dan suasana rumah dimana anak tinggal.
Eksosistem merupakan lingkungan yang meliputi wilayah yang lebih luas.
Meliputi kebijaksanaan pemerintah daerah maupun informasi yang bisa diperoleh
seperti dari surat kabar maupun televisi.
Makrosistem yaitu berkaitan dengan kebijakan pemerintah, sosial budaya
masyarakat, dan lembaga non pemerintahan yang ikut andil dalam usaha tumbuh
kembang anak yang optimal.
- Ibu secara rutin dan teratur memeriksakan kesehatan dan memantau
perkembangan anaknya di Posyandu yang diadakan tiap bulan serta terus
mengikuti program imunisasi yang dianjurkan pemerintah.
- Keluarga mampu mengenalkan dan mengajarkan anak mengenai sosial budaya
dan norma yang berlaku di masyarakat.
- Pentingnya pemerintah memperhatikan tata kota dan daerah pemukiman
penduduk, guna meningkatkan kesehatan warga dan mencegah penyakit menular.
Rumah pasien berada di samping sungai besar yang airnya masih kotor dan
kepadatan penduduk yang tinggi.