Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENYAKIT CAMPAK PADA ANAK

Disusun Oleh:
Tingkat II Reguler 2
Wida Rahamaniar Monika (1514401078)

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG


PRODI DIII KEPERAWATAN TANJUNG KARANG
2017

1
LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN CAMPAK

Topik : Campak
Waktu : 20 menit
Tempat : Posyandu
Sasaran : Ibu yang datang bersama anaknya ke posyandu

I. Latar Belakang
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai
dengan gejala-gejala utama demam, batuk dan pilek dan konjungtivitis dan
timbulnya ruam campak. Penyakit campak adalah salah satu penyakit
menular yang masih menjadi masalah kesehatan pada bayi dan anak di
Indonesia dan merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I). Penyakit ini tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di
kalangan anak-anak di dunia, meskipun tersedia vaksin yang aman dan
efektif. Penyakit ini umumnya menyerang anak umur di bawah 5 tahun
(balita) akan tetapi campak bisa menyerang semua umur.
Pada tahun 2013, sekitar 145.700 orang meninggal akibat campak,
sekitar 400 kematian setiap hari atau 16 kematian setiap jam dan sebagian
besar terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sampai saat ini cara yang
efektif untuk mencegah penyakit campak yaitu dengan imunisasi. Selama
tahun 2000 sampai 2013, imunisasi campak berhasil menurunkan 15,6 juta
(75%) kematian akibat campak di seluruh dunia (WHO, 2015).
Sedangkan, menurut Profil Kesehatan Indonesia (2012), Indonesia
merupakan Negara ASEAN yang memiliki kasus penyakit campak terbanyak
dengan jumlah 15.489 kasus, urutan kedua terbanyak adalah Thailand dengan
5.197 kasus, sedangkan 8 negara ASEAN lainnya memiliki jumlah lebih
sedikit dan tidak lebih dari 3.000 kasus.

2
II. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan ini, diharapkan ibu-ibu yang ke posyandu
dan diberi penyuluhan tentang campak dapat mengerti dan memahami
tentang penyakit campak.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini ibu- ibu yang datang ke posyandu dan di
beri penyuluhan dapat :
1. Menjelaskan pengertian campak dengan bahasa sederhana.
2. Menjelaskan pengertian penyakit campak dengan bahasa sederhana.
3. Menjelaskan penyebab dari penyakit campak.
4. Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit campak.
5. Apa saja komplikasi dari penyakit campak.
6. Menjelaskan bagaimana cara penularan penyakit campak.
7. Menjelaskan bagaimana cara pencegahan terhadap penyakit campak.
8. Menjelaskan bagaimana cara pengobatan terhadap penyakit campak.

III. Materi
1. Pengertian campak.
2. Pengertian penyakit campak.
3. Penyebab dari penyakit campak.
4. Tanda dan gejala dari penyakit campak.
5. Komplikasi dari penyakit campak.
6. Cara penularan penyakit campak.
7. Cara pencegahan terhadap penyakit campak.
8. Cara pengobatan terhadap penyakit campak.

IV. Strategi Pelaksanan


1. Persiapan :
a. Survey penyakit apa yang akan dijadikan tema penyuluhan

3
b. Koordinasi dengan pihak pemegang program posyandu untuk
pelaksanaan penyuluhan
c. Menyiapkan alat dan bahan penyuluhan

V. Metode
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :
1. Penyuluhan langsung oleh dokter muda
2. Diskusi
3. Tanya jawab

VI. Media
1. Leaflet.

VII.Evaluasi
1. Struktur
a. Ruang posyandu cukup nyaman untuk dapat melakukan penyuluhan

2. Proses
a. Ketepatan waktu pelaksanaan.
b. Peran serta aktif ibu-ibu dalam menyimak penyuluhan

3. Hasil
Evaluasi dengan proses Tanya jawab untuk mengukur pengetahuan ibu
terhadap penyakit campak yang baru di paparkan

4
TINJAUAN PUSTAKA
CAMPAK

Pengertian Campak
Pengertian campak menurut WHO adalah penyakit menular dengan gejala
kemerahan berbentuk mukolo papular selama tiga hari atau lebih yang
disertai panas 38oC atau lebih dan disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan
mata merah.
Penyakit campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin
dan measles dalam bahasa inggris atau dikenal dengan sebutan gabagen
(dalam bahasa Jawa) atau kerumut (dalam bahasa Banjar) atau disebut juga
rubeola (nama ilmiah) merupakan suatu infeksi virus yang sangat menular,
yang ditandai dengan demam, lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan
selaput ikat mata atau konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit).

Penyebab Penyakit Campak


Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan
paramyxovirus genus morbilivirus merupakan salah satu virus RNA. Virus ini
terdapat dalam darah dan secret (cairan) nasofaring (jaringan antara
tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal hingga 24 jam setelah
timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.
Virus ini berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris tengah 140 nm
dan di bungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di
dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein
yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan struktur heliks 5
nukleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan
pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai
hemaglutinin.

5
Tanda dan Gejala Dari Penyakit Campak
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu
berupa:
1. Panas badan
2. Nyeri tenggorokan
3. Hidung meler (coryza)
4. Batuk (cough)
5. Bercak koplik
6. Nyeri otot
7. Mata merah (conjunctivitis)
Gejala klinis dibagi menjadi 3 stadium, yakni:
1. Stadium Kataral atau Prodormal
Biasanya berlangsung 4-5 hari, ditandai dengan panas, lesu, batuk-batuk
dan mata merah. Pada akhir stadium, kadang-kadang timbul bercak
Koplik`s (Koplik spot) pada mukosa pipi atau daerah mulut, tetapi gejala
khas ini tidak selalu dijumpai. Bercak Koplik ini berupa bercak putih
kelabu, besarnya seujung jarum pentul yang dikelilingi daerah kemerahan.
Koplik spot ini menentukan suatu diagnosa pasti terhadap penyakit
campak.
2. Stadium Erupsi
Batuk pilek bertambah, suhu badan meningkat oleh karena panas tinggi,
kadang-kadang anak kejang-kejang, disusul timbulnya rash (bercak merah
yang spesifik), timbul setelah 3-7 hari demam. Rash timbul secara khusus
yaitu mulai timbul di daerah belakang telinga, tengkuk, kemudian pipi,
menjalar keseluruh muka, dan akhirnya ke badan. Timbul rasa gatal dan
muka bengkak.
3. Stadium konvalensi atau penyembuhan
Erupsi (bercak-bercak) berkurang, meninggalkan bekas kecoklatan yang
disebut hiperpigmentation, tetapi lama-lama akan hilang sendiri. panas
badan menurun sampai normal bila tidak terjadi komplikasi.

6
Komplikasi Dari Penyakit Campak
Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya
tahan tubuh secara umum sehingga mudah terjadi infeksi tumpangan. Hal
yang tidak diinginkan adalah terjadinya komplikasi karena dapat
mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang menyebabkan
mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti:
1. Otitis media akut
Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus campak ke dalam telinga
tengah. Gendang telinga biasanya hyperemia pada fase prodormal dan
stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang
rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta.
2. Ensefalitis
Ensefalitis adalah komplikasi neurologik yang paling jarang terjadi,
biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah terjadinya ruam. Kejadian
ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus campak dengan CFR berkisar
antara 30-40%. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme
imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak.
3. Bronchopneumonia
Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus campak menyerang epitel
saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru
atau Pneumonia. Bronchopneumonia dapat disebabkan virus campak
sendiri atau oleh Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang
menyerang epitel pada saluran pernafasan maka Bronchopneumonia ini
dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan kurang
kalori protein.
4. Enteritis
Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita campak, penderita
mengalami muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat
invasi virus ke dalam sel mukosa usus.

7
Cara Penularan Penyakit Campak
Cara penularan penyakit ini adalah melalui droplet dan kontak, yakni
karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun
tenggorokan penderita morbili atau campak artinya, seseorang dapat tertular
campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan
atau dimana saja. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari
sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi
adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Sebelum vaksinasi campak
digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama
pada anak usia pra sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah
menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit
ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan
kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal
(berlangsung selama 1 tahun).
Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah :
a. Bayi berumur lebih dari 1 tahun
b. Bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
c. Remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

Cara Pencegahan Terhadap Penyakit Campak


a. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial dilakukan dalam mencegah munculnya faktor
predisposisi atau resiko terhadap penyakit campak. Sasaran dari
pencegahan primordial adalah anak-anak yang masih sehat dan belum
memiliki resiko yang tinggi agar tidak memiliki faktor resiko yang tinggi
untuk penyakit campak. Edukasi kepada orang tua anak sangat penting
peranannya dalam upaya pencegahan primordial. Tindakan yang perlu
dilakukan seperti penyuluhan mengenai pendidikan kesehatan, konseling
nutrisi dan penataan rumah yang baik.
b. Pencegahan Primer

8
Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk
kelompok beresiko, yakni anak yang belum terkena campak, tetapi
berpotensi untuk terkena penyakit campak. Pada pencegahan primer ini
harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
campak dan upaya untuk mengeliminasi faktor-faktor tersebut.
1. Penyuluhan
Edukasi campak adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan
mengenai campak. Di samping kepada penderita campak, edukasi juga
diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko
tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. Berbagai materi
yang perlu diberikan kepada pasien campak adalah definisi penyakit
campak, faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya campak dan
upaya-upaya menekan campak, pengelolaan campak secara umum,
pencegahan dan pengenalan komplikasi campak.
2. Imunisasi
Di Indonesia sampai saat ini pencegahan penyakit campak dilakukan
dengan vaksinasi campak secara rutin yaitu diberikan pada bayi
berumur 9-15 bulan. Vaksin yang digunakan adalah Schwarz vaccine
yaitu vaksin hidup yang diolah menjadi lemah. Vaksin ini diberikan
secara subkutan sebanyak 0,5 ml. Vaksin campak tidak boleh diberikan
pada wanita hamil, anak dengan TBC yang tidak diobati, penderita
leukemia. Vaksin campak dapat diberikan sebagai vaksin monovalen
atau polivalen yaitu vaksin measles-mumps-rubella (MMR). Vaksin
monovalen diberikan pada bayi usia 9 bulan, sedangkan vaksin
polivalen diberikan pada anak usia 15 bulan.
Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus pada
temperature antara 2oC-8oC atau ± 4oC, vaksin tersebut harus
dihindarkan dari sinar matahari. Mudah rusak oleh zat pengawet atau
bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam. Dimana imunisasi
ini terbagi atas 2 yaitu :

9
a. Imunisasi aktif
Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif
pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Pada tahun 1963 telah dibuat
dua macam vaksin campak, yaitu vaksin yang berasal dari virus
campak hidup yang dilemahkan (tipe Edmonstone B); vaksin yang
berasal dari virus campak yang dimatikan (dalam larutan formalin
dicampur dengan garam alumunium). Namun sejak tahun1967,
vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak
digunakan lagi, oleh karena efek proteksinya hanya bersifat
sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang
hebat. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dilemahkan
berkembang dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965)
dan kemudian menjadi strais Moraten (1968). Dosis baku minimal
pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara
subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular
mempunyai efektivitas yang sama. Vaksin ini biasanya diberikan
dalam bentuk kombinasi dengan campak Jerman (vaksin MMR atau
mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan
atas. Jika hanya mengandung campak vaksin diberikan pada umur 9
bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15
bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Vaksin campak
sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis
epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri, tetanus, polio
dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa
kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif.
b. Imunisasi pasif
Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan
serum konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin
kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan
campak. Campak dapat dicegah dengan Immune serum globulin
(gamma globulin) dengan dosis 0,25 ml/kgBB intramuskuler,

10
maksimal 15 ml dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera
mungkin. Perlindungan yang sempurna diindikasikan untuk bayi,
anak-anak dengan penyakit kronis, dan para kontak di bangsal rumah
sakit serta institusi penampungan anak. Setelah hari ke 7-8 dari masa
inkubasi, maka jumlah antibodi yang diberikan harus ditingkatkan
untuk mendapatkan derajat perlindungan yang diharapkan.
Kontraindikasi vaksin: reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau
gelatin, kehamilan imunodefisiensi (keganasan hematologi atau
tumor padat), imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresan
jangka panjang, infeksi HIV dengan imunosupresi berat.
3. Isolasi
Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena
penyakit campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi
penderita campak untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari
penularan lingkungan sekitar.
c. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat
timbulnya komplikasi dengan tindakan-tindakan seperti tes penyaringan
yang ditujukan untuk pendeteksian dini campak serta penanganan segera
dan efektif. Tujuan utama kegiatan-kegiatan pencegahan sekunder adalah
untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa gejala yang telah sakit atau
penderita yang beresiko tinggi untuk mengembangkan atau memperparah
penyakit. Memberikan pengobatan penyakit sejak awal sedapat mungkin
dilakukan untuk mencegah 13 kemungkinan terjadinya komplikasi.
Edukasi dan pengelolaan campak memegang peran penting untuk
meningkatkan kepatuhan pasien berobat.
d. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat
komplikasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain mencegah perubahan dari
komplikasi menjadi kecatatan tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini
mungkin bagi penderita yang mengalami kecacatan. Dalam upaya ini

11
diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dengan dokter maupun
antara dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya. Penyuluhan juga
sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien untuk
mengendalikan penyakit campak. Begitu pun dengan pelayanan kesehatan
yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan,
terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli sesama ilmu.

Cara Pengobatan Terhadap Penyakit Campak.


Penderita campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. Sehingga
pengobatannya bersifat symptomatik, yaitu memperbaiki keadaan umum atau
untuk mengurangi gejalanya saja dengan pemberian vitamin A.
Cara pemberian vitamin A
1. Cara pemberian kapsul pada bayi dan anak balita :
a. Berikan kapsul biru (100.000 SI) untuk bayi dan kapsul merah (200.000
SI) untuk balita
b. Potong ujung kapsul dengan menggunakan gunting yang bersih
c. Pencet kapsul dan pastikan anak menelan semua isi kapsul dan tidak
membuang sedikitpun isi kapsul.
d. Untuk anak yang sudah bisa menelan dapat diberikan langsung 1 kapsul
untuk diminum
2. Cara pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas :
a. Diberikan segera setelah melahirkan dengan cara meminum langsung 1
(satu) kapsul
b. Kemudian minum 1 (satu) kapsul lagi 24 jam setelah pemberian kapsul
pertama
Tempat pemberian vitamin A diberikan secara gratis di sarana fasilitas
pelayanan kesehatan, seperti : RS, Puskesmas, Postu, polindes, praktek
dokter/bidan swasta, posyandu, sekolah, TK, dan PAUD.
Bila terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi
komplikasi yang timbul seperti :

12
a. Otitis media akut, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder,
maka perlu mendapat antibiotik kotrimoksazol-sulfametokzasol.
b. Ensefalitis, perlu direduksi jumlah pemberian cairan ¾ kebutuhan untuk
mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid dosis tinggi
yaitu: Hidrokostison 100-200 mg/hari selama 3 -4 hari dan prednison 2
mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu, perlu dilakukan koreksi
elektrolit dan gangguan gas darah.
c. Bronchopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari
dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum
obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda.
d. Enteritis, pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairan
intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan
dehidrasi.

13