Anda di halaman 1dari 6

TERAPI URINE DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

Harus diakui, untuk mewujudkan konsumsi terapi urine tentu dimbangi penelitian untuk
membuktikan, mujarab tidaknya bila diterapkan kepada penderita penyakit ringan ataupun berat,
hal ini dikembangkan oleh spesialis dengan metode-metode yang signifikan demi menerapkan
aturan yang sesuai dengan sumber daya (manusia) serta struktur yang menjadi
kelebihannya(dokter), tujuannya membuat obat sebagai solusi bagi siapa saja (manusia) bagi
pengidap sakit atau bagi yang terganggu kesehatannya menjadi sehat kembali. (Catharina, 2004)
Terbukti, perusahaan farmasi dan kosmetik yang terdapat di Amerika selalu memburu untuk
dijadikan bahan baku produk urine. Layaknya, Dr. Dr. Iwan T Budiarso menjelaskan 95%
kandungan urine terdiri air. Sementara 2/5% lainnya mengandung mineral vitamin, asam amino,
antibodi, antigen, garam, hormon dan enzim. Zat-zat ini sangat dibutuhkan tubuh manusia. Urine
hanya mengandung zat-zat makanan dan hasil metabolisme tubuh. Sementara bahan-bahan yang
meracuni tubuh, disaring dan dikeluarkan melalui usus hati, hati jukit dan pernafasan. Karena itu,
kandungannnya steril. (Yasid, 2005)
Tawaran pengobatan urine begitu menggiurkan, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke
bawah, yang tidak bisa mengeluarkan terlalu banyak biaya ke dokter, karena persoalan ekonomi
yang menghimpit. Ternyata air seni yang dianggap menjijikkan, berbau pesing, dan kotor ini,
malah membuat tubuh sehat dan segar bugar. Terapi digunakan untuk menyembuhkan hampir
setiap yang didera si pasien seperti ginjal, kanker, diabetes, jantung, psoasiasis, eksim, sampai
penyakit terganas saat ini, AIDS. Jika parah, terutama bagi penderita penyakit kanker, jantung dan
AIDS, minimal 5 gelas (1000 cc) sehari. Atau, kalau si pasien menginginkan kesegaran tubuh dan
kecantikan kulit cukup dengan 1-2 gelas perhari. Caranya cukup yang diminum harus urinenya
sendiri
1 Chatarina Pancer Istiani, Tubuh dan bahasa, Aspek Linguistik Pengungkapan Pandangan Masyarakat
Lewolema Terhadap Kesehatan, (Yogyakarta: Galang Pres (Anggota IKAPI, 2004), hlm. 16.
2 Yasid Abu, Fiqh Realitas, cet. ke-I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 196-197

Akan tetapi, di dalam ajaran Islam masih kita kenal dengan membedakan, mana yang najis, mana
yang tidak najis. Mana yang berhak di makan atau di minum, maka yang haram dan mana yang
tidak. Oleh karena itu, mashlahat dan mafsadat kerap saling sangkal demi menemukan titik
kejelasan di dalam ajaran Islam (syāri’) sesuai yang terlampir di dalam al-Quran maupun al-
Hadits.
Working Thought
Ajaran syariat Islam mengajarkan manusia untuk tidak boleh berputus asa dan menganjurkan
untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah swt., demikian halnya di
antara pasca-mashlahat yang diayomi oleh maqashidusy syariah (tujuan filosofis syariah Islam)
adalah hifdzun nafs (memelihara fungsi dan kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan
kesinambungan generasi umat Manusia. (Setiawan, 2003)
Allah berfirman di dalam al-Quran:
ّ‫ يسرا العسر مع فإن‬5 ¸ ّ‫يسرا العسر مع إن‬
Menurut Ibnul Qayim menuntut umat Islam untuk menjauhinya dengan secagal cara. Sedangkan
pengambilan sesuatu yang haram sebagai obat konsekuensi dan efeknya adalah akan mendorong
orang yang menyukai dan menjamahnya yang tentunya hal ini bertentangan dengan maksud dan
tujuan Allah dalam menetapkan syarih-Nya. (Setiawan, 2003)
Selain itu, Qayyim juga mengatakan bahwa mengkonsumsi makanan yang bergizi dan baik adalah
metode pengobatan yang ampuh, selain itu juga beliau mengutip perkataan al-Harist bin Kaladah
bahwa melindungi badan dan menjaga kesehatannya adalah inti dari pengobatan itu sendiri.
(Yasin, 2006)
Namun demikian, Islam adalah agama rahmat dan tidak menginginkan umatnya celaka dan
membiarkannya binasa dalam kondisi darurat karena salah satu tujuan syariah adalah hifdzun-nafs
(memelihara kelangsungan hidup dengan baik).
Maka dalam konteks ini, ada kaidah rukhsah (dispensasi) yang memberikan kelonggaran dan
keringanan bagi orang yang sakit gawat dengan ketentuan sebagaimana dikemukakan Dr. Yusuf
Al-Qardlawi yaitu sebagai berikut:
Pertama, benar-benar dalam kondisi gawat darurat bila seorang penderita penyakit tidak
mengkonsumsi sesuatu yang haram ini. Kedua, tidak ada obat alternatif yang halal sebagai
pengganti obat yang haram ini. Ketiga, menurut resep atau petunjuk dokter muslim yang
berkompeten dan memiliki integrasi moral dan agama. Keempat, terbukti secara uji medis dan
analisis ilmiah, di samping pengalaman empiris yang membuktikan bahwa suatu yang haram
tersebut benar-benar dapat menyembuhkan bahkan dan tidak menimbulkan efek yang
membahayakan. (Setiawan, 2003)
4 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, cet. ke-I (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 185-186.
5 QS. Alam Nasyrah: 5-6
6 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, cet. ke-I (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 185
7 M. Nu`aim Yasin, Fiqih Kesehatan, Penerjemah Munirul Abidin, MA, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2006), hlm. 15.
8 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, cet. ke-I (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 185-186.

Dalam pandangan Islam urine itu tidak baik dikonsumsi, sebagaimana Islam menyuruh manusia
untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi. Bukan yang kotor
dan membawa penyakit. Di dalam al-Quran disebutkan:
‫الخبائث عليهم ويحرم الطيبات ويحللهم‬9
Baik dan buruk itu ditentukan oleh syări’, karena dialah yang mengetahui segala sesuatunya. Dia
punya hak otoritas untuk menentukan halal dan haram. Bukan akal tabi’at manusia. Seperti
haramnya riba. Syara’ dan akal sama-sama berperan dalam menetukan baik dan buruk. Yang
menjadi standar adalah pengakuan dari syara’ dan sesuai dengan tabi’at manusia.
Apa yang tersurat baik oleh syara’, mesti di dukung penuh akal sehat bahwa itu betul-betul baik.
Sebab, tidak semua kehendak perasaan itu sesuai dengan keinginan syara’. Perasaan berfungsi
untuk mengetahui apa yang sebetulnya diingini syara’.
Menyangkut Hukum Terapi obat urine, Rasulullah menegur dengan hadits tentang ketidakbolehan
mengkonsumsi konsumsi urine, dikarenakan terdapat barang najis. Berdasarkan hadits Nabi:
‫ تنزهوامنالبولفإنعامةعذابالقبرمنه‬10
“Bersihkanlah (tubuh) kalian dari kencing. Karena siksaan kubur pada umumnya gara-gara air
seni.”
Di dalam al-Quran, Allah berfirman:
‫ فيماحرمعليكم شفاءكم يجعل لم إناهلل‬11
“sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat (buat) kamu sekalian barangbarang yang
diharamkan (termasuk najis) bagi kalian”.
Lain halnya, kebolehkan memakai terapi urine, manakala terserang penyakit ganas; kanker ganas,
jantung dan AIDS yang sampai detik ini belum ditemukan obatnya wajib minum air seni demi
kelangsungan hidup manusia. Terutama, ketika lagi tidak ada uang, serta sulit mencari dana untuk
berobat.
Hal ini terlampir di dalam al-Quran:
‫ وقدفصللكمماحرمعليكمإالمااضطررتمإليه‬12
“Sungguh, Allah telah menjelaskan apa-apa yang haram kalian makan kecuali terpaksa
memakannya.”
Tidak salah, urine tidak hanya diminum untuk menyembuhkan penyakit dalam. Tapi juga bisa di
gunakan untuk mempercantik dan mencegah rambut rontok. Bahkan sebagian kosmetik
kecantikan, bahan bakunya terdiri dari ekstra urine. Di dalam teori ushul fiqih terapi urine
diperbolehkan untuk penyakit keras, dari pada menyiksa tubuh sendiri digerogoti (merusak tubuh)
bertentangan dengan maqasyidusy-syari’ah (hifzun nafs), lebih baik memberlakukannya (karena
mengandung mashlahat). Larangan menyentuh barang najis termasuk tahsiniyyat. Yaitu hal-hal
yang tujuannya memperindah diri agar tidak mengurai prestise (harga diri).
Nah, kalau hanya demi mempercantik diri, tidak dapat menghalagi haram, kalau luluran saja. Akan
tetapi, jika terdapat jerawat, rambut rontok, maka dianjurkan memakai terapi urine sebagai
solusinya. Maka bukan lagi tahsiniyya melainkan hajiyyat (menghilangkan kesulitan diri). Ketika
keduanya (tahsiniyyat maupun hajiyyat) dihadapkan, tentu hajiyyat yang menangkan. Yang
terpenting, jika hanya untuk mempercantik tidak boleh dipakai, karena tidak ada kejelasan dalam
penyakitnya.
Urine mungkin tak hanya dari manusia, dari binatang tentu bisa menjadi. Adapun hukum
mengkonsumsi urine binatang yang halal dimakan daginya sebagai obat urine unta, kambing, sapi,
unggas dan burung maka pendapat yang paling kuat adalah hal itu diperbolehkan dan halal karena
urine tersebut suci dan tidak najis, berbeda dengan urine binatang yang haram dimakan dagingnya
maka hukum urinenya juga haram dan najis.
Urine Menurut Ulama Madzhab
Jika merujuk pada interpretasi para madzahib, terdapat pergolakan pemikiran antara Imam Syafi`i
dan Imam Hanafi yang sama meneguhkan menyangkut terapi urine sebagai obat. Imam Syafi’i
masih toleran mengenai pengobatan urine (alternatif) karena tidak ada lagi penyembuhan penyakit.
Lain halnya, apabila masih ada obat yang lebih baik dari urine, maka hukumnya tetap haram.
Sesuai Hadits Rasul:
‫ عليكم حرم فيما شفاءآم يجعل لم هللا ان‬13
Selain itu, Imam Hanafi bertolak belakang dengan Syafi’i, yang mana ia tetap membolehkan
mengkonsumsi air seni, jika untuk pengobatan. Jika terapi urine diberlakukan dengan cara lain
(tujuannya selain pengobatan), maka hukumnya haram (najis). Sebagaimana terlampir dalam
Hadits Rasul:
‫وسلم عليه هللا صلى هللا رسول اثوا وبالن المهملة العين بضم معروفة قضبيلة وهي عرينة من نفرا‬
‫خمراالمدينة فاسثوا االسالم علي يعوه فبا‬, ‫فقال هللا رسول ءالى ذلك فشكوا اجسامهم فسقمث‬: ‫اال‬
‫نها البا من فشربوا فخرجوا بلى قالوا نها؟ والبا ابوالها من فثصيبون ابله في راعينا مع ثخرجون‬
‫وسلم عليه هللا صلى هللا رسول راعى فقاثلوا فصحوا وابوالها‬. (Al-Bukhori, 2004)
Maka akan jelas bahwa Rasulullah masih memperbolehkan bagi orang-orang yang terkena
penyakit untuk mengkonsumsi kencing (unta) yang bercampurkan susu. Jikalau rasulullah
mengharamkan perbuatan tersebut, maka tidak ada lagi rukshah untuk menggunakannya (dalam
situasi apapun). Berdasarkan dengan kaidah Fiqhiyyah yang berbunyi:
‫( الضرورة منزلة ينزل الحاجة‬Zubair, 2006)
Dalam kesempatan yang darurat, segala yang diharamkan masih ada kesempatan untuk
mengerjakannya (memakan binatang bertaring manakala tidak ada lagi yang akan dimakan “di
hutan”. Dari pada mati sia-sia “bertentangan dengan hifdzun nafs”, maka tidak ada salahnya
memakan hewan yang menjadi alternatif. Namun, walaupun dalil yang diteguhkan oleh Hanafi itu
menjadi benteng sebagai jawabannya, kiranya masih kurang kuat diterapkan di ruang publik.
Kendatipun demikian, dalil yang digunakan Hanafi masih belum menguatkan persoalan terapi
urine, dikarenakan riwayat hadits tersebut hanya ditopang oleh Anas ra, walaupun secara spesifik
hadits tersebut tsiqoh, namun masih dalam lingkup hadits shahih.
13 Al Bukhori Muhammad bin Ismail, Sahih al-Bukhori, (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiyah, 2004), hlm 1062.
14 Dewan Asatid, Hukum Terapi Air Seni dan Kesehatan kita, www. Pesantren Virtual. Com
15 Al-Bukhori Muhammad bin Ismail, Sahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiyah, 2004), hlm. 106
16 Maimoen Zubair, Formasi Nalar Fiqh Konsep Telaah Kaidah Fiqh konseptual, (Surabaya: Khalista,
2006), hlm. 45

DAFTAR PUSTAKA
Al-Suyuti, Al-Jami’ al-Shaghir, juz I, 517 dan Al-Nawawi, Al-Majmu’, juz II, hlm. 547-
548.
Al-Bukhari, Matn al-Bukhari, juz III
Budi Utomo, Setiawan, Fiqih Aktual, Jakarta: Gema Insani Press, 2003
Chatarina Pancer Istiani, Tubuh dan bahasa, Aspek Linguistik Pengungkapan Pandangan
Masyarakat Lewolema Terhadap Kesehatan, (Yogyakarta: Galang Pres Anggota IKAPI,
2004
Dewan Asatid, Hukum Terapi Air Seni dan Kesehatan kita, www. Pesantren Virtual.
Com
Muhammad bin Ismail, Al Bukhori Sahih al-Bukhori, (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiyah,
2004)
Maimoen Zubair, Formasi Nalar Fiqh Konsep Telaah Kaidah Fiqh konseptual,
(Surabaya: Khalista, 2006), hlm. 45
Yasin, Nu`aim, Fiqih Kesehatan, Alih Bahasa Munirul Abidin, Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar, 2006
Yasid Abu, Fiqh Realitas, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)