Anda di halaman 1dari 23

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

TEORI DASAR
A. Pengertian
Irigasi adalah kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha
mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan usaha lain-lain. Usaha
tersebut berupa:
a. Membuat sarana dan prasarana untuk membagikan air secara teratur
b. Mebuang kelebihan air yang tidak diperlukan lagi.
B. Tujuan Irigasi
Tujuan irigasi adalah membasahi tanah agar dapat mencapai suatu
kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman. (Teknik Sumber Daya
Air, 1996)
C. Areal Irigasi
Areal irigasi adalah daerah-daerah yang dapat diairi semaksimal
mungkin, dimana airnya diambil dari bangunan sadap utama.Batas keliling
areal diambil dari petak-petak tersier terluar.
Dalam irigasi khususnya jaringan ada beberapa istilah yaitu :
a. Wilayah (region) adalah areal yang airnya diambil dari beberapa
bangunan sadap utama yang selanjutnya dibawa ke jaringan irigasi
tunggal / majemuk.
b. Daerah (zone) adalah areal yang airnya diambil dari satu bangunan sadap
utama.
c. Petak primer adalah areal yang airnya diambil dari sebuah saluran-
saluran primer dan terdiri dari beberapa petak-petak sekunder.
d. Petak sekunder adalah areal yang airnya diambil dari sebuah saluran-
saluran sekunder dan terdiri dari beberapa petak-petak tersier.
e. Petak tersier adalah areal yang airnya diambil dari saluran-saluran tersier
dan terdiri dari beberapa petak kwarter (sawah).
f. Areal mati adalah areal yang tidak dapat diairi dari suatu sistem irigasi.
g. Areal bruto (gross irrigable area) adalah keseluruhan areal irigasi baik
yang mendapat air maupun yang tidak mendapat air irigasi karena
permukaan tanah lebih tinggi, jalan ispeksi dan lain-lain.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

h. Areal netto (culturable irrigation area) areal bersih yang mendapat air.

D. Petak Petak
Peta petak adalah suatu peta yang menerangkan suatu lokasi dari sistem
jaringan irigasi yang akan diairi. Peta ini memuat arah saluran, letak
bangunan, batas-batas jalan, batas-batas pembuang alam, daerah yang dapat
diairi dan yang tidak dapat diairi. Penentuan peta petak ini di dasarkan pada
kondisi topografi yang tergambar pada peta situasi dapat dilihat pada Tabel
3.1.

Tabel 3.1. Kriteria umum untuk pengembangan petak (KP - 01, 1986)
Ukuran Petak Luas ( Ha )
Ukuran petak sekunder 500 - 800 Ha
Ukuran petak tersier 50 - 100 Ha
Ukuran petak kuarter 8 – 15 Ha
Ukuran petak petani 0 – 1,75 Ha

Petak Sekunder adalah suatu petak yang berupa kumpulan dari beberapa
petak yang mendapat air / pengambilannya dari saluran sekunder.
Petak tersier didasarkan pada kondisi topografi daerah itu hendaknya
diatur sebaik mungkin, sedemikian rupa sehingga satu petak tersier terletak
dalam satu daerah administrasi desa. Jika ada dua desa dalam satu petak
tersier yang luas dianjurkan untuk membagi petak tersier tersebut menjadi
dua petak sub tersier yang berdampingan sesuai dengan daerah desa masing-
masing.
Petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuang kuarter
yang memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier serta pembuang
tersier atau primer yang mengikuti kemiringan medan. Jika mungkin batas-
batas ini bertepatan dengan batas-batas hak milik tanah.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

E. Trase Saluran
Trase saluran merupakan jalur rencana saluran yang dibuat dari kondisi
topografi tentang penggambaran baik berupa relief tanah, alur-alur, jalan,
batas kampung, sungai, yang menunjang dalam perencanaan jaringan irigasi.
Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yakni :
a. Daerah yang sudah diairi
b. Daerah yang belum diairi
Trase saluran terbagi atas trase saluran pembawa dan trase saluran
pembuang. Jika daerah irigasi baru akan dibangun, aturan yang sebaiknya
diikuti adalah menetapkan lokasi saluran pembuang terlebih dahulu, ini
sudah ada kebanyakan di daerah tadah hujan.

F. Jaringan Irigasi
1. Sistem jaringan irigasi
Sistem jaringan irigasi dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Sistem irigasi tunggal (independent irrigation system) yaitu suatu
sistem irigasi dengan sumber air yang berasal dari satu bangunan
sadap utama berupa waduk, bendung atau rumah pompa yang
letaknya masih dalam areal irigasi itu sendiri.
b. Sistem irigasi majemuk (dependent irrigation system) yaitu sistem
irigasi dengan sumber air yang berasal lebih dari satu bangunan sadap
utama dan semuanya terletak didalam areal irigasi atau juga bangunan
sadap utamanya terletak disuatu jaringan irigasi ditempat lain.
2. Klasifikasi jaringan irigasi
Jaringan irigasi dapat diklasifikasikan dalam tiga tingkatan, yaitu :
a. Jaringan irigasi sederhana
Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasi karena para
pemakai air tergabung dalam satu kelompok sosial yang sama, dan
tidak diperlukan keterlibatan pemerintah di dalam organisasi jaringan
irigasi semacam ini.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

b. Jaringan irigasi semiteknis


Adapun ciri-ciri dari sistem jaringan irigasi semiteknis ini antara lain :
1) Sudah dibangun beberapa bangunan permanen di jaringan saluran
2) Daerah pelayanan lebih luas dibandingkan dengan sistem jaringan
irigasi sederhana.
3) Organisasinya lebih rumit sehingga diperlukan lebih banyak
keterlibatan pemerintah dalam hal ini Departemen Pekerjaan
Umum.
c. Jaringan irigasi teknis
Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan irigasi teknis
adalah pemisahan antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang.

Hal ini berarti baik saluran irigasi maupun pembuang bekerja


sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam irigasi teknis petak
tersier memiliki fungsi sentral. Petak tersier menerima air di suatu
tempat dalam jumlah yang sudah diukur dari suatu jaringan pembawa.
Pembagian air di dalam petak tersier diserahkan kepada para petani.
Dalam hal-hal khusus, dibuat sistem gabungan (fungsi saluran irigasi
dan pembuang di gabung).
Secara sederhana klasifikasi jaringan irigasi kita lihat pada
Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Klasifikasi Jaringan Irigasi (KP- 01, 1986)


Klasifikasi Jaringan Irigasi
Keterangan
Teknis Semi teknis Sederhana

Bangunan
1. Bangunan Bangunan Bangunan
Permanen atau
Utama permanen sementara
semi permanen
2. Kemampuan
bangunan dalam
Baik Sedang Jelek
mengukur dan
mengatur debit

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

Saluran irigasi
dan Saluran irigasi
Saluran irigasi dan Pembuang dan
3. Jaringan saluran
Pembuang terpisah tidak Pembuang
Selamanya menjadi satu
terpisah
Dikembangkan
4. Petak tersier
sepenuhnya
5. Efisiensi secara
50 – 60 % 40 – 50 % < 40 %
keseluruhan
Sampai 2.000 Tak lebih dari
6. Ukuran Tidak ada batasan
Ha 500 Ha

G. Tata Nama/Nomenklatur
1. Pengertian
Nomenklatur atau tata nama petunjuk atau indeks yang jelas dan
singkat dari suatu objek, baik itu petak, saluran atau bangunan, bangunan
bagi, bangunan silang dan lain sebagainya, sehingga akan memudahkan
dalam pelaksanaan eksploitasi dan pemeliharaan dari tiap-tiap bagian dari
jaringan irigasi.
2. Ketentuan Nomenklatur
Dalam pemberian tata nama pada suatu jaringan irigasi, harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Singkat dan jelas, jika mungkin hanya terdiri dari satu huruf
b. Huruf ini harus menyatakan petak, saluran atau bangunan
c. Dibedakan antara saluran pembawa dan pembuang
3. Tata cara pemberian nama
Secara umum huruf awal saluran irigasi diberi S, saluran drainase
diberi D, bangunan-bangunan bagi sadap diberi B dan kemudian diikuti
dengan notasi lainnya.
a. Daerah Irigasi
Daerah irigasi diberi nama sesuai dengan nama daerah setempat
atau desa penting didaerah itu. Contohnya adalah daerah irigasi Sibea
atau daerah irigasi Janja. Apabila ada dua pengambilan atau lebih,
maka daerah irigasi tersebut sebaiknya diberi nama sesuai dengan
desa-desa terkenal didaerah layanan tersebut.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

b. Saluran irigasi
Saluran irigasi primer sebaiknya diberi nama sesuai dengan
daerah irigasi yang dilayani, contoh Saluran Sibea Salugan.
Saluran sekunder sering diberi nama sesuai dengan nama desa
yang terletak dipetak sekunder. Petak sekunder akan diberi nama
sesuai dengan nama saluran sekunder. Sebagai contoh saluran
sekunder Sibea mengambil nama yang terletak dipetak sekunder
Sibea.
Saluran dibagi menjadi ruas-ruas yang berkapasitas sama.
Misalnya RS 2 adalah ruas saluran sekunder (S) antara bangunan
sadap BS 1 dan BS 2.

H. Bangunan-Bangunan Irigasi
Untuk keperluan irigasi tentunya diperlukannya sebuah jaringan irigasi
teknis dengan membuat bangunan-bangunan irigasi yang diantaranya seperti
dibawah ini :
1. Bangunan Sadap Utama
Untuk mendapatkan air , pengambilan dapat dilakukan melalui :
a. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibangun ditepi
sungai yang berfungsi untuk mengalirkan air kedalam suatu jaringan
irigasi.
b. Bendung
Bendung adalah bangunan yang dibangun melintang sungai yang
berfungsi untuk meninggikan muka air,kemudian dialirkan kejaringan
irigasi.
c. Waduk
Waduk adalah bangunan yang berfugsi untuk menampung air
pada waktu surplus air dan dipakai sewaktu-waktu bila terjadi
kekurangan air.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

d. Stasiun Pompa
Irigasi pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan secara
grafitasi ternyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun
ekonomis.
2. Bangunan Bagi
Apabila air irigasi dibagi dari saluran primer sekunder, maka akan
dibuat bangunan bagi. Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu yang
dengan teliti mengukur dan mengatur air yang mengalir ke berbagai
saluran. Salah satu dari pintu-pintu bangunan bagi berfungsi sebagai
pintu pengatur muka air, sedangkan pintu-pintu sadap lainnya mengukur
debit.
3. Bangunan Sadap
a. Bangunan sadap sekunder akan memberi air kesaluran sekunder dan
melayani lebih dari satu petak tersier, oleh sebab itu kapasitas
bangunan-bangunan sadap ini lebih dari sekitar 0,250 m3/det..
b. Bangunan Sadap tersier akan memberi air kesaluran tersier, kapasitas
bangunan sadap ini berkisar 50 l/dt sampai 250 l/dt.
4. Bangunan Pengatur Tinggi Muka Air
Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu dengan teliti mengukur dan
mengatur air yang mengalir ke berbagai saluran. Salah satu dari pintu-
pintu tersebut sebagai pintu pengatur tinggi muka air dan pintu-pintu
lainnya berfungsi mengukur debit. Ada dua bangunan pengontrol untuk
mengendalikan tinggi muka air di saluran yaitu :
a. Pintu Skot Balok
Pintu ini terdiri dari balok-balok kayu profil segi empat yang
ditempatkan tegak lurus terhadap potongan segi empat saluran.
Balok-balok tersebut disangga didalam sponeng/alur yang lebih lebar
0,03 m sampai 0,05 m dari tebal balok itu sendiri.
b. Pintu Sorong
Kebanyakan pintu sorong digunakan sebagai bangunan pengatur
tinggi muka air. Kelebihan yang dimiliki dari alat ini adalah tinggi

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

muka air hulu dapat dikontrol dengan tepat, pintu bilas kuat dan
sederhana serta sedimen yang diangkut oleh saluran hulu dapat
melewati pintu bilas.

Persamaannya adalah sebagai berikut : (KP – 04, 1986)

Q = K..b.a. ( 2g h i ) …(3.1)

Dimana :
Q = Debit rencana, yang melewati pintu, m3/det
K = Koefesien debit, perbandingan h2 dengan a ( Bukaan Pintu )
 = Koefesien debit perbandingan h1 dengan a
a = Tinggi bukaan bersih pintu, m
b = Lebar bukaan bersih pintu, m
h1 = Tinggi air diatas ambang di hulu pintu, m
h2 = Tinggi air diatas ambang di hilir pintu, m
g = Percepatan grafitasi, m/det2

5. Bangunan Pengukur debit


Agar pengaturan air irigasi menjadi lebih efektif , maka debit harus
di ukur. Ada berbagai macam bangunan dan peralatan pengukur debit
yang telah dikembangkan seperti :
a. Alat ukur ambang lebar
Ambang lebar dan flum leher panjang (tanpa ambang/tinggi
ambang nol) adalah bangunan pengukur debit yang biasanya
ditempatkan di awal saluran primer. Pada titik cabang saluran besar
dan tepat dihilir pintu sorong pada titik masuk petak tersier.
b. Alat ukur Romijn
Pintu Romijn adalah alat ukur ambang lebar yang bisa
digerakkan untuk mengatur dan mengukur debit. Agar dapat bergerak
mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang diatas pintu sorong, alat

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

ini sering digunakan sebagai bangunan sadap tersier tetapi dapat juga
dipakai sebagai bangunan sadap sekunder.
c. Alat ukur Crump de Gruyter
Alat ini dapat digerakkan dan digunakan untuk mengatur dan
mengukur debit. Penggunaan alat ini sama dengan penggunaan alat
ukur romijn.

Persamaan alirannya adalah sebagai berikut : (KP – 04, 1986)

Q = Cd.b .w . ( 2g ( h  w ) ) …(3.2)
Z = 0,50 ( h – w ) …(3.3)

dimana :
Q = Debit rencana, yang melewati pintu, m3/det
CD = Koefesien debit, umumnya diambil sebesar 0,94
w = Tinggi bukaan bersih pintu, m
b = Lebar bukaan bersih pintu, m
h = Tinggi air diatas ambang di hulu pintu, m
z = Kehilangan energi di pintu ukur, m
g = Percepatan grafitasi, m/det2

6. Bangunan Pembawa
Bangunan pembawa adalah bangunan yang diperlukan untuk
membawa aliran air di tempat-tempat dimana tidak mungkin dibuat
potongan saluran biasa tanpa pasangan.
Bangunan pembawa mungkin diperlukan karena :
a. Persilangan dengan jalan yang diperlukan gorong-gorong, jembatan.
Gorong-gorong adalah bangunan yang terletak pada saluran
pembawa bersilangan dengan jalan atau saluran pembuang, bentuk
dari gorong-gorong ada yang berbentuk bulat dan persegi yang
diatasnya diberi pelat beton tipis. Lebar penampang gorong-gorong
minimal sama dengan lebar dasar saluran atau muka air saluran.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

b. Bangunan Terjun
Bangunan terjun dibangun ditempat yang medannya lebih curam
dibandingkan dengan kemiringan saluran rencana dan diperlukan
penurunan muka air. Bangunan terjun berfungsi sebagai
1) Bagian pengontrol untuk mencegah penurunan muka air secara
berlebihan
2) Peredam energi yang berlebuhan di ruas saluran hilir
3) Lindungan aliran keluar untuk mencegah akibat gerusan dan erosi
Apabila tinggi terjunan kurang dari 1,5 meter digunakan type
terjunan tegak sedangkan lebih dari 1,5 meter digunakan type
terjunan miring .

Persamaan untuk menghitung Bangunan Terjun adalah : ( KP- 04,


1986 )
Perkiraan awal tinggi bangunan terjun :
ΔZ = ( ΔH + Hd ) – H1 ...(3.4)

Perkiraan awal tinggi energi hilir pada kolam olak :


Hd = 1,67 H1 ...(3.5)

Kecepatan aliran :

Vu = ( 2.g . Z ) ...(3.6)
Yu = q / Vu ...(3.7)
Vu
Fr = ...(3.8)
g.Yu

dimana :
ΔH = Perubahan tinggi energi pada bangunan, m
Hd = Tinggi energi hilir pada kolam olak, m
H1 = Tinggi enegi dimuka ambang, m
Vu = Kecepatan awal loncatan, m

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

Yu = Kedalaman air di awal loncatan


q = Debit persatuan ambang, m2/det
Fr = Bilangan Froude
g = Percepatan grafitasi, m/det2

Tipe kolam olak yang akan direncana disebelah hilir bangunan


bergantung pada energi air yang masuk, yang dinyatakan dengan
bilangan froude, dan pada bahan konstruksi kolam olak. Salah satu
tipe kolam olak yaitu tipe kolam vlugter khusus dikembangkan untuk
bangunan terjun disaluran irigasi.
Persamaan untuk menghitung tipe kolam olak vlugter : ( KP- 04,
1986 )

Tinggi energi diatas ambang :

q2
hc = 3 ...(3.9)
g

Perubahan tinggi energi pada bangunan terjun dan tinggi energi diatas
ambang :
Z
Z/hc = ...(3.10)
hc

Jika, 0,5 < z/hc < 2,0 , maka tinggi loncatan air untuk bangunan
terjun dapat dihitung dari persamaan :
t = 2,4hc+0,4z ...(3.11)

Jika, 2,0 < z/hc < 15,0 , maka tinggi loncatan air untuk bangunan
terjun dapat dihitung dari persamaan :
t = 3,0 hc + 0,1 z ...(3.12)

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

Tinggi ambang pada ujung kolam olak :

hc
a = 0,28 hc ...(3.13)
z

Ukuran dalam kolam olak ( D = R = L ) : = z + t – h ...(3.14)

dimana :
hc = Tinggi energi diatas ambang, m
t = Tinggi loncatan air, m
a = Tinggi ambang pada ujung kolam olak, m
R/D/L = Ukuran dalam kolam olak, m
L = Panjang kolam olak bangunan terjun, m

c. Keadaan topografi yang berakibat terbatasnya lebar saluran atau


perubahan kemiringan secara tiba-tiba, atau ditempat-tempat dimana
kemiringan medan melebihi kemiringan saluran, yang diperlukan
talang, flum, bangunan terjun atau saluran pasangan.
d. Persilangan dengan saluran atau sungai, yang diperlukan, sipon atau
gorong-gorong.
e. Menjaga muka air tetap setinggi yang diperlukan di daerah-daerah
rendah, yang dibutuhkan talang, flum, saluran pasangan.
f. Perlu membuang kelebihan air dengan bangunan pembuang, yang
dibutuhkan bangunan pembuang.
Keputusan mengenai type bangunan yang akan dipilih bergantung
pada besarnya biaya pelaksanaan. Biaya ini ditentukan oleh dimensi
saluran serta jalan atau saluran yang akan diseberangi.

I. Perencanaan Saluran
Perencanaan hendaknya didasarkan pada prinsip-prinsip teknis yang
andal, tetapi juga harus dapat memenuhi keinginan yang diajukan para

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

pemakai air.Kapasitas saluran irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi


selama penyiapan lahan.
Cara pemeliharaan saluran menentukan koefesien yang akan dipilih.
Pemeliharaan yang jelek akan menyebabkan kecepatan aliran akan menjadi
rendah dan kemudian akan diperlukan saluran yang lebih besar.
Saluran harus direncanakan sedemikian sehingga mempunyai efisiensi
yang tinggi dan biaya pembuatan yang ekonomis serta mudah dalam
pengoperasiannya.
1. Kapasitas rencana
a. Debit Rencana
Debit rencana di saluran di hitung berdasarkan kebutuhan bersih
air disawah, efisiensi dan luas areal yang akan diairi. (KP – 03, 1986)
Persamaan untuk menghitung debit rencana saluran sebagai
berikut :
c. NFR . A
Q ( Ltr / det ) …(3.15)
e.

dimana :
Q = Debit rencana, m3/det
c = Koefesien pengurangan karena adanya sistem golongan ( c =
1)
NFR = Kebutuhan bersih (netto) air disawah, m.lt/dt
A = Luas petak yang diairi, ha
e = Efisiensi irigasi secara keseluruhan
b. Kebutuhan Air di sawah
Kebutuhan bersih air disawah (NFR) untuk padi dapat
ditentukan oleh faktor-faktor berikut :
a) Cara penyiapan lahan
b) Kebutuhan air untuk tananaman
c) Perkolasi dan rembesan
d) Pergantian lapisan air

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

e) Curah hujan efektif

c. Efisiensi
Akibat eksploitasi dan rembesan, sebagian air yang dibagikan
akan hilang sebelum mencapai tanaman padi. Kehilangan air akibat
evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat
eksploitasi.
Pada umumnya kehilangan air di irigasi akibat kemungkinan
diatas dapat dibagi-bagi sebagai berikut : (KP – 03, 1986)
a) Untuk saluran tersier e = 0,775 – 0,850 ( diambil 0,80 )
b) Untuk saluran sekunder e = 0,875 – 0,925 ( diambil 0,90 )
c) Untuk saluran primer e = 0,875 – 0,925 ( diambil 0,90 )

2. Perencanaan Saluran Yang Stabil


Pada umumnya penampang saluran dibuat trapesium karena
memiliki efisiensi yang tinggi dalam mengalirkan air. Untuk perencanaan
ruas aliran saluran dianggap sebagai aliran tetap, dan untuk itu diterapkan
aliran yang juga dikenal sebagai rumus Strickler.
Berikut ini merupakan gambar saluran parameter melintang dari
penampang yang dibuat trapesium yang dapat dilihat pada gambar 3.1.
w
1
m M.AR h

A
b

Gambar 3.1. Parameter Potongan Melintang


(KP – 03, 1986)

Persamaan untuk menghitung ruas saluran sebagai berikut : (KP – 03,


1986) :
Q = VxA …(3.16)

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

V = K x R2/3 x I1/2 ( m/dt ) ...(3.17)


A
R = (m) ...(3.18)
P
A = ( b + m.h ) h ( m2 ) ...(3.19)

P = b + 2.h m 2 1 ( m ) ...(3.20)
b = n.h …(3.21)

Dari persamaan rumus (3.10) diatas dapat diuraikan menjadi


persamaan rumus sebagai berikut :
Q = VxA
Q = ( K x R2/3 x I1/2 ) x ( b + m.h ) h …(3.22)
A
Q = (Kx x I1/2 ) x ( b + m.h ) h …(3.23)
P
2/3
 (b  m.h )h 
Q =(Kx   x I1/2 ) x ( b + m.h ) h ...(3.24)
 b  2.h m 2 1 
 
2/3
 (( n .h )  m.h )h 
Q =(Kx   x I1/2 ) x ( n.h + m.h ) h ...(3.25)
 (n.h )  2.h m 2 1 
 

dimana :
V = Kecepatan, m/det
K = Koefesien kekasaran strickler, m1/3/det
R = Jari-jari hidrolis, m2/3
I = Kemiringan rencana saluran
A = Luas penampang basah, m2
P = Keliling basah, m
Q = Debit rencana, Ltr/det
b = Lebar dasar saluran, m
h = Kedalaman air saluran, m
n = Perbandingan kedalaman dan lebar saluran
m = Kemiringan talud horizontal / vertikal

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

a. Kecepatan Saluran
Distribusi kecepatan maksimum disebabkan oleh tekan pada
muka air akibat adanya perbedaan fluida atau udara dan juga akibat
gaya gesekan pada dasar maupun dinding saluran, maka kecepatan
aliran pada suatu potongan melintang saluran tidak seragam.
Ketidakseragaman ini disebabkan oleh bentuk tampak melintang
saluran dilokasi saluran. (Robert.J.K,2002)
Kecepatan minimum yang diizinkan atau kecepatan tampa
pengendapan, merupakan kecepatan terendah yang tidak
menimbulkan sedimentasi dan mendorong pertumbuhan tanaman air
ganggang. Kecepatan ini sangat tidak menentu dan nilainya yang
tidak tepat dapat membawa pengaruh besar kecuali terhadap
pertumbuhan tanaman. Umumnya dapat dikatakan bahwa kecepatan
rata-rata 2 sampai 3 kali perdetik dapat digunakan bila presentase
lanau ditunjukan dalam saluran kecil tidak kurang dari 2,5 perdetik
dapat mencegah pertumbuhan tanaman air yang dapat mengurangi
kapasitas saluran tersebut. (VenTeChow,1984).
Kecepatan maksimum yang di izinkan juga akan menentukan
kecepatan rencana untuk dasar saluran tanah dengan pasangan
campuran. Prosedur perencanaan saluran untuk saluran dengan
pasangan adalah sama dengan prosedur perencanaan saluran tanah.
Harga kecepatan minimum yang direncanakan untuk saluran
tersier dan kuarter pada saluran irigasi tanpa pasangan dapat dilihat
pada tabel 3.3.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

Tabel 3.3. Kriteria Perencanaan Untuk saluran Irigasi Tanpa Pasangan


(KP – 05, 1986)
Karakteristik
Satuan Saluran Tersier Saluran Kuarter
perencanaan
Kecepatan
m/det Sesuai dengan grafik perencanaan
maksimum
Kecepatan
m/det 0,20 0,20
minimum

Harga k m1/3/det 35 30

Lebar minimum
m 0,30 0,30
dasar saluran
Kemiringan
m 1:1 1:1
talud
Tanggul Tanggul
Lebar minimum 0,50 0,40
m
mercu Jalan inspeksi Jalan inspeksi
1,50 – 2,00 m 1,50 – 2,00 m
Tinggi Jagaan
0,30 0,30
minimum (W)

Batas kecepatan maksimum sesuai jenis-jenis bahan dasar


saluran di anjurkan pemakaiannya adalah sebagai berikut :
a) Pasangan Batu = 2,00 m/dt
b) Pasangan Pelat Beton = 3,00 m/dt
b. Koefesien Kekasaran Stickler
Koefesien kekasaran Stickler bergantung pada kekasaran
permukaan saluran, ketidak teraturan permukaan saluran, trase
saluran, vegetasi dan sedimen.
Pada saluran irigasi, ketidakteraturan permukaan yang
meyebabkan perubahan dalam keliling basah dan potongan melintang

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

mempunyai pengaruh lebih penting pada koefesien kekasaran saluran


daripada kekasaran permukaan.
Koefisien kekasaran Strickler k (m1/3/det) yang dianjurkan
pemakaiannya untuk saluran pasangan adalah :
a) Pasangan batu 60
b) Pasangan beton 70
c) Pasangan tanah 35 – 45
c. Kemiringan minimum Talud
Untuk menekan biaya pembebasan tanah dan penggalian, talud
saluran di rencana securam mungkin. Bahan tanah, kedalaman saluran
dan terjadinya rembesan akan menentukan kemiringan maksimum
untuk talud yang stabil.
Kemiringan galian minimum talud ( m ) dan perbandingan
kedalaman dan lebar saluran ( n ) dapat dilihat pada tabel 3.3.
d. Kemiringan Saluran
Kemiringan saluran diusahakan sedapat mungkin mengikuti
kemiringan medan yang ada, selama itu tidak mengakibatkan
munculnya kecepatan aliran di saluran yang melampaui batas izin.
Kemiringan minimum dibuat untuk mencegah munculnya
sedimentasi disaluran sedangkan kemiringan maksimum untuk
mencegah terjadinya erosi saluran.Untuk itu keduanya harus dibatasi,
sesuai Kriteria Perencanaan Irigasi.
e. Elevasi Muka Air
a) Elevasi hilir dan udik saluran (UHS dan UUS)
Elevasi hilir (EHS) dan elevasi udik (EUS) setiap ruas
saluran ditentukan langsung dari garis-garis kontur peta topografi
berdasarkan medan. Apabila ujung hilir atau udik saluran terletak
diantara dua garis kontur maka penentuan elevasinya diperoleh
dengan cara interpolasi linear.

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

b) Elevasi muka air sesuai medan (MAHr dan MAUm)


Elevasi muka air hilir rencana (MAHr) untuk saluran tersier
didasarkan pada elevasi muka air udik rencana tertinggi dibagian
hilir boks yang dilayani + kehilangan tinggi energi di books
tersebut (sebagai asumsi awal biasanya daiambil 5 – 15 cm).
Elevasi muka air udik sesuai medan (MAUm) saluran tersier
didasarkan pada eleveasi muka air udik rencana tertinggi saluran
kuarter dibagian hilir books dimana saluran tersebut mendapat air.
Bila ada boks tersebut tidak saluran kuater maka penentunya
didasarkan pada elevasi udik saluran (EUS) sesuai kontur.

MAUr  MAHr  Δh
Im = ...(3.26)
L

dimana :
Im = Kemiringan medan yang ada
MAHr = Elevasi muka air hilir rencana
MAUm = Elevasi muka air udik rencana
L = Panjang Saluran (m)
Δh1 = Jumlah perkiraan kehilangan energi digorong-
gorong atau talang,tidak termasuk bangunan terjun
(sebagai asumsi awal diambil 5 – 15 cm
perbangunan)

c) Muka Air Udik Rencana (MAUr)


Bila pada ruas saluran tidak terdapat bangunan terjun, maka
muka air udik rencana dapat dilihat pada gambar 3.2 dengan
persamaan yaitu :
MAUr = MAHr + ( Ir x L ) + h1 ...(3.27)

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

MAUr
H1 ( 5 – 15 cm )

Ir x L MAHr

Gambar 3.2. Ilustrasi perhitungan muka air udik rencana (MAHr)


tanpa bangunan terjun ( KP – 01, 1986 )

Tetapi apabila pada ruas saluran terdapat bangunan terjun, maka


muka air udik rencana dapat dilihat pada gambar 3.3 dengan
persamaan yaitu :
MAUr = MAUm
Dan diperoleh tinggi Bangunan Terjun :
Z = MAUr – MAHr - ( Ir x L ) - h1 ...(3.28)

MAUr
Gorong-gorong /
H2 Talang
H2
H1 ( 5 – 15 cm )

Ir x L MAHr

Gambar 3.3. Ilustrasi perhitungan muka air udik rencana (MAHr)


dengan bangunan terjun ( KP – 01, 1986 )

d) Elevasi hilir dan udik pintu ukur (MAHps dan MAUps)


Elevasi muka air yang diperlukan dihilir pintu alat ukur
bangunan sadap tersier (MAHps) adalah elevesi muka air udik
rencana (MAUr) saluran tersier muka yang dilayaninya. Elevasi
muka air yang diinginkan didasarkan pada tinggi muka air yang

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

diperlukan disawah yang diairi. Berikut ini pada Gambar 3.4


dapat dilihat ilustrasi mengenai cara perhitungannya :

Sal. Sekunder Sal. Tersier Sal. Kuarter

g f
h e
d
P c b
H100 H70 H
1%

A a

L L

Bangunan Sadap
Gorong-gorong Box Bagi Tersier Box Bagi Kuarter
Tersier dengan alat

Gambar 3.4. Ilustrasi perhitungan tinggi muka air yang


dibutuhkan. ( KP – 01, 1986 )

P = A + a + b + m . c + d + n . e + f + g + h + Z …(3.29)

dimana :
P = Muka air yang dibutuhkan disaluran sekunder
A = Elevasi sawah dengan elevasi yang menentukan
a = Lapisan air disawah, ± 10 cm
b = Kehilangan tinggi energi di saluran kuarter sampai kesawah ± 5
cm
c = Kehilangan tinggi energi di boks kuarter ± 5 cm/boks
d = Kehilangan pada bangunan pembawa disaluran irigasi, I x L
L = Panjang saluran, m
e = Kehilangan tinggi energi di boks tersier ± 10 cm
f = Kehilangan tinggi energi digorong-gorong ± 10 cm
g = Kehilangan tinggi energi dibangunan sadap tersier 1/3 H
Untuk alat ukur Romijn
h = Variasi muka air = 0,18h100 ( sekitar 0,05 – 0,30 cm )
Z = Kehilangan tinggi energi dibangunan petak tersier lainnya

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

m = Jumlah boks kuarter ditrase tersebut


n = Jumlah boks tersier ditrase tersebut
Elevasi muka air di udik pintu sadap (MAUps) diperoleh dari
elevasi muka air dihilir pintu sadap + kehilangan tinggi energi
dipintu ukur.

MAUps = MAHps + Δh

dimana :
MAHps = Elevasi muka air dihilir pintu sadap, m
Δh = Kehilangan energi pada pintu ukur

f. Tinggi Jagaan
Tinggi Jagaan ini dimaksudkan untuk mencegah kerusakan
tanggul saluran serta memberikan ruang apabila secara tiba-tiba
terjadi kenaikan muka air disaluran diatas muka air yang
direncanakan.
Persamaan Tinggi Jagaan dapat dihitung dengan :

( KP – 03, 1986 )
W = 0,30 + 0,25 ( h ) ...(3.30)

dimana :
h = Tinggi muka air, m
Meningginya muka air dapat pula diakibatkan oleh pengaliran
air buangan kedalam saluran, penurunan pintu secara tiba-tiba
disebelah hilir.

g. Jalan Inspeksi
Jalan inspeksi merupakan jalan-jalan yang dugunakan baik oleh
oleh para petani, kendaraan maupun ternak yang menghubungkan

Syavira Ayuningsih
F11115017
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

antara jaringan irigasi yang lain atau jalan-jalan umum desa yang
sudah ada.
Jalan inspeksi biasanya dibangun diatas tanggul saluran atau
pembuang , jika ini dianggap tidak ekonomis jarak maksimum antara
jalan inspeksi dan saluran atau pembuang adalah 300 m.

Syavira Ayuningsih
F11115017