Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan bagian dari keluarga dan masyarakat, anak yang

sakit dapat menimbulkan suatu stress bagi anak itu sendiri maupun keluarga

(Setiawan et al, 2014). Stres pada anak biasa karena hospitalisasi,

hospitalisasi merupakan suatu proses karena suatu alasan yang direncanakan

atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani

terapi dan perawatan sampai anak dapat dipulangkan kembali kerumah.

Selama proses tersebut, anak dapat mengalami berbagai kejadian berupa

pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stress (Supartini,

2012).

Hospitalisasi biasanya diakibatkan karena rumah sakit dapat

menjadi suatu tempat yang menakutkan dilihat dari sudut pandang anak -

anak. Suasana rumah sakit yang tidak familiar, wajah-wajah yang asing,

berbagai macam bunyi dari mesin yang digunakan, dan bau yang khas,

dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan baik bagi anak ataupun orang

tua. (Norton-Westwood, 2012.). Reaksi anak terhadap stress yang muncul

akibat hospitalisasi pada semua rentang usia anak masing-masing berbeda.

Pada anak usia pra sekolah, reaksi yang muncul adalah merintih dan

merengek, marah, menarik diri, bermusuhan, tetapi sudah mampu

mengkomunikasikan nyerinya secara verbal ( Hockenberry & Wilson, 2009)

1
Di Amerika Serikat, diperkirakan lebih dari 5 juta anak menjalani

hospitalisasi karena prosedur pembedahan dan lebih dari 50% dari jumlah

tersebut, anak mengalami kecemasan dan stress. Diperkirakan juga lebih

dari 1,6 juta anak dan anak usia antara 2-6 tahun menjalani hospitalisasi

disebakan karena injury dan berbagai penyebab lainnya (Apriliawati, 2011).

Sedangkan di Indonesia besarnya jumlah anak yang di rawat di

rumah sakit karena penyakit menunjukkan besarnya jumlah anak yang

mengalami pengalaman hospitalisasi, sebagian anak yang di rawat

mengalami kecemasan tingkat sedang sebesar 53,3%, 43,3% anak

mengalami kecemasan tingkat tinggi, dan 3,3% anak mengalami kecemasan

tingkat ringan, anak usia sekolah yang mengalami kecemasan karena

hospitalisasi di dominasi oleh usia terendah 6-9 tahun ( Ardiningsih, 2012)

Dari hasil penelitian yang dilakukan Purwaningsih, di Jawa Timur

sendiri didapatkan data, bahwa anak usia sekolah yang menjalani rawat

inap mengalami tingkat kecemasan yaitu cemas ringan 30%, cemas sedang

56,67%, sedangkan cemas berat 13,13% (Purwaningsih W, 2013).

Anak yang dihospitalisasi mengalami kecemasan dan kegelisahan

karena perpisahan dengan orangtua dan keluarga, prosedur pemeriksaan dan

pengobatan, dan akibat berada di lingkungan asing, sampai saat ini sebagian

besar orang beranggapan bahwa hospitalisasi pada anak merupakan

pengalaman yang menakutkan, sehingga reaksi cemas ini akan berlanjut bila

anak tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan

dengan tindakan yang akan dilakukan. Faktor – faktor yang mempengaruhi

2
kecemasan adalah perpisahan dengan orangtua, tidak mengenal petugas dan

lingkungan rumah sakit, pembatasan aktivitas dan merasa sebagai hukuman,

kehilangan keutuhan, cedera tubuh dan nyeri(Coyne, 2006).

Perpisahan dengan orangtua merupakan aspek yang paling

menimbulkan stress, dan menimbulkan efek bagi anak dan orangtua,

orangtua harus beradaptasi terkait perannya sebagai orangtua dengan anak

sakit dan stress akibat hospitalisasi pada anak akan mengakibatkan anak

merasa takut dan cemas. Beberapa anak tidak mampu mengungkapkan rasa

stress yang dialami secara terbuka dan pada anak yang pendiam biasanya

kurang memiliki koping yang baik dalam mengatasi stress ( Potts &

Mandleco, 2007. ). Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat

dirumah sakit maka besar sekali kemungkinan anak akan mengalami

disfungsi perkembangan. Anak akan mengalami gangguan, seperti

gangguan somatik, emosional dan psikomotor ( Potts & Mandleco, 2007).

Oleh karena itu untuk mengatasi kecemasan pada anak ada beberapa

tekhnik relaksasi yang di gunakan, Terapi musik merupakan sebuah

pekerjaan yang menggunakan musik dan aktivitas musik sebagai sarana

untuk mengatasi kekurangan dalam aspek fisik, emosi, kognitif, dan sosial

untuk anak-anak serta orang dewasa yang mengalami sakit (Papilaya, 2011).

Selain itu ada pula terapi bermain, dari penelitian Munasih mengenai

pengaruh pemberian terapi bermain terhadap respon kecemasan pada anak,

didapatkan hasil bahwa ada pengaruh pemberian terapi bermain terhadap

penurunan respon kecemasan pada anak (Munasih, 2010). Dan tehnik

bermain, yang mana tekhnik ini merupakan salah satu tekhnik relaksasi

3
yang di gunakan untuk mengatasi kecemasan pada pasien dengan

mengalihkan perhatian dan mengurangi rasa cemas yang di alami oleh

pasien ( hidayat 2009, hlm. 62).

Play therapy adalah sebuah proses terapeutik yang menggunakan

permainan sebagai media terapi agar mudah melihat ekspresi alami seorang

anak yang tidak bisa diungkapkannya dalam bahasa verbal karena

permainan merupakan pintu masuk ke dalam dunia anak-anak

(Hatiningsih,2013)

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang “ Pengaruh Terapi bermain Terhadap Tingkat Kecemasan

Pada Anak Usia Pra Sekolah (3-5 tahun) Akibat Hospitalisasi di Ruang

Anak RSUD Blambangan Tahun 2016”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disusun maka

peneliti dapat menentukan rumusan masalah sebagai berikut : Adakah

Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Pra

Sekolah (3-5 tahun ) Akibat Hospitalisasi di Ruang Anak RSUD Blambangan

Banyuwangi Tahun 2016 ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap tingkat

kecemasan pada anak usia pra sekolah (3-5 tahun) Akibat

4
Hospitalisasi di Ruang Anak RSUD Blambangan Banyuwangi

Tahun 2016 .

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sebelum diberi terapi

bermain pada anak usia pra sekolah (3-5 tahun) Akibat

Hospitalisasi di Ruang Ruang Anak RSUD Blambangan

Banyuwangi Tahun 2016.

2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sesudah diberi terapi

bermain pada anak usia pra sekolah (3-5 tahun) Akibat

Hospitalisasi di Ruang Ruang Anak RSUD Blambangan

Banyuwangi Tahun 2016.

3. Menganalisis pengaruh terapi bermain pada anak usia pra

sekolah (3-5 tahun) Akibat Hospitalisasi di Ruang Ruang Anak

RSUD Blambangan Banyuwangi Tahun 2016.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Memberikan wawasan atau informasi mengenai pentingnya

terapi bermain pada anak di Ruang Anak RSUD Blambangan

Banyuwangi Tahun 2016.

1.4.2 Manfaat Praktis

5
1. Manfaat bagi responden

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi keluarga

terutama orangtua untuk mengurangi tingkat cemas pada anak

selama di rumah sakit, serta bermanfaat bagi anak yaitu

mengurangi ketakutan dan memberikan kenyamanan selama

hospitalisasi.

2. Manfaat bagi Peneliti selanjutnya

Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk dapat

melanjutkan atau mengembangkan penelitian tentang terapi

bermain dalam menurunkan tingkat cemas pada anak selama

hospitalisasi.

3. Manfaat bagi Rumah Sakit Blambangan

Bagi rumah sakit diharapkan hasil penelitian ini bisa

dijadikan acuan dalam menentukan kebijakan, sehingga hasil

penelitian ini dapat diterapkan di ruang perawatan anak. Hal ini

memberikan dampak positif bagi anak yang dirawat di rumah

sakit dengan menurunkan tingkat cemas anak akibat

hospitalisasi sehingga dapat mendukung koping yang efektif

dan mendukung kelancaran perawat dalam memberikan asuhan

keperawatan.