Anda di halaman 1dari 32

PSIKOTROPIKA GOLONGAN I

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Narkotika, Bahan Terlarang dan Psikotropika

Yang dibina oleh:

Ibu Novida Pratiwi, S.Si, M.Sc dan Ibu Rini Retnosari, S.Pd, M.Si.

Oleh kelompok 6 :

1. Elmayana (15035160)
2. Fatricia Parenden (150351606069)
3. Mayakridayanti (15035160)
4. Sekar Yuliana Saputri (150351605456)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PRODI PENDIDIKAN IPA

FEBRUARI 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan dan berkat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah Narkotika, Bahan Terlarang dan Psikotropika
dengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Narkotika,
Bahan Terlarang dan Psikotropika. Makalah ini menjelaskan lebih mendalam
mengenai Psikotropika golongan I dengan bahasa yang lebih mudah untuk di cerna
dan dipahami.

Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Narkotika, Bahan
Terlarang dan Psikotropika khususnya bagi penulis.

Akhir kata, mungkin dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan.
Kritik dan saran tentunya sangat kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini
dapat terselesaikan.

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini psikotropika sudah menjadi barang yang biasa ada didalam
masyarakat, sudah tidak menjadi barang yang aneh lagi, bayangkan saja disetiap
berita televisi selalu ada berita tentang narkoba . Peredaran psikotropika saat ini
sudah bisa mencapai daerah yang terpelosok sekalipun, dan mulai dari kalangan
strata bawah samapai yang paling atas juga ikut menyalahgunakan psikotropika.
Psikotropika sebenarnya digunakan didalam bidang kesehatan dan ilmu
pengetahuan.
Saat ini sudah ada peraturan yang mengatur tentang penyalahgunaan
psikotropika, tetapi masih banyak juga kasus yang tidak tersentuh oleh peraturan
tersebut. Karena jaringan narkotika ini cukup besar wilayahnya, tidak hanya
didalam negeri saja, kasus penyelahgunaan obat ini sudah melibatkan jaringan
internasional dan sudah masuk kedalam kategori pidana khusus.
Menurut UU nomor 5 tahun 1997 psikotropika yang mempunyai potensi
mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan menjadi 3 golongan yaitu
psikotropika golongan I, psikotropika golongan II dan psikotropika golongan III.
Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai
potensi amat kuat, mengakibatkan sindroma ketergantungan. Conto psikotropika
golongan I yang umum di masyarakat adalah ekstasi.
Rumus kimia XTC atau ekstasi adalah 3-4-Methylene-Dioxy-Methil-
Amphetamine (MDMA). Senyawa ini ditemukan dan mulai dibuat di penghujung
akhir abad lalu. Pada kurun waktu tahun 1950-an, industri militer Amerika
Serikat mengalami kegagalan didalam percobaan penggunaan MDMA sebagai
serum kebenaran. Setelah periode itu, MDMA dipakai oleh para dokter ahli jiwa.
XTC mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit diminum. Efeknya berlangsung
maksimum 1 jam. Seluruh tubuh akan terasa melayang. Kadang-kadang lengan,
kaki dan rahang terasa kaku, serta mulut rasanya kering. Pupil mata membesar
dan jantung berdegup lebih kencang. Mungkin pula akan timbul rasa mual. Bisa
juga pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara
segar). Jenis reaksi fisik tersebut biasanya tidak terlalu lama. Selebihnya akan
timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal dan segala
perasaan malu menjadi hilang. Kepala terasa kosong, rileks dan “asyik”. Dalam
keadaan seperti ini, kita merasa membutuhkan teman mengobrol, teman
bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan
berangsur-angsur menghilang dalam waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan
merasa sangat lelah dan tertekan.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa saja jenis-jenis psikotropika golongan I ?
2) Apa saja jenis psikotropika golongan I yang umum di masyarakat ?
3) Apa saja pemanfaatan psikotropika golongan I yang umum di masyarakat ?
4) Bagaimana efek psikotropika golongan I yang umum di masyarakat ?
5) Bagaimana mekanisme kera psikotropika golongan I yang umum di
masyarakat ?
6) Bagaimana dampak penyalahgunaan psikotropika golongan I yang umum di
masyarakat ?
7) Apa saja contoh kasus penyalahgunaan psikotropika golongan I yang umum
di masyarakat ?
1.3 Tujuan
1) Dapat mengetahui jenis-jenis psikotropika golongan I.
2) Dapat mengetahui jenis psikotropika golongan I yang umum di masyarakat.
3) Dapat mengetahui pemanfaatan psikotropika golongan I yang umum di
masyarakat
4) Dapat mengetahui efek psikotropika golongan I yang umum di masyarakat.
5) Dapat mengetahui mekanisme kera psikotropika golongan I yang umum di
masyarakat.
6) Dapat mengetahui dampak penyalahgunaan psikotropika golongan I yang
umum di masyarakat.
7) Dapat mengetahui contoh kasus penyalahgunaan psikotropika golongan I
yang umum di masyarakat.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Jenis-jenis Psikotropika Golongan I

Obat-obat yang termasuk jenis Psikotropika golongan 1 adalah :


a. Broloamfetamine
b. Cathinone
c. DET
d. DMA
e. DMHP
f. DMT
g. DOET
h. Eticyclidine - PCE
i. Etrytamine
j. Lysergide - LSD
k. MDMA
l. Mescaline
m. Methcathinone
n. Methylaminore
o. MMDA
p. N-ethyl MDA
q. N-hydroxy)
r. Parahexyl
s. PMA
t. Psilocine, psilotsin
u. Psilocybine
v. Rolicyclidine
w. STP, DOM
x. Tenamfetamine
2.2 Jenis Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

 EKSTASI

Rumus kimia ekstasi adalah 3-4 methylene-dioksy-methil-amphetamin


(MDMA). Senyawa ini ditemukan dan mulai dibuat pada penghujung abad lalu. Pada
ahir 1950-an MDMA dipakai oleh para ahli dokter jiwa. Informasi tentang MDMA
muncul pada tahun 1973. Ekstasi dikenal sebagai inex, xtc, adam dan essense.
Dikemas dalam bentuk tablet dan kapsul. Biasanya dapat dikonsumsi secara oral.
Ekstasi mulai bereaksi 20 sampai 60 menit setelah diminum. Efeknya berlangsung
maksimum 1 jam.

Pengaruh setelah pemakaian, seluruh tubuh akan terasa melayang.


Kadangkadang, pupil mata membesar dan jantung berdegup lebih kencang, serta
meningkatkan pernapasan. Jenis reaksi fisik biasanya tidak berlangsung dalam waktu
yang lama. Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam
segala hal dan segala perasaan malu akan hilang. Kepala akan terasa ringan, rileks
dan nyaman. Semua perasaan tersebut akan berangsur-angsur menghilang dalam
waktu 4 sampai 6 jam. Selanjutnya kita akan merasa lelah dan tertekan.

2.2.2 Asam lisergat dietilamida (LSD)


Asam lisergat dietilamida (LSD) merupakan suatu narkotika halusinogen.
Obat ini bersifat psikedelik dari keluarga ergolina. Pemeriannya adalah
sebagai berikut :

• Nama umum : LSD LSD-25; Diethylamide


Asam lisergat.
• Rumus kimia : 9,10-Didehydro- N , N -
diethyl-6-methylergoline-8 β –
carboxamide. C 20 H 25 N 3 O = 323,4.
• Sebuah zat kristal tak berwarna.
• Larut dalam air.
• LSD mudah terdegradasi dalam
spesimen biologis ketika terkena cahaya
atau suhu tinggi. LSD juga dapat mengikat
wadah kaca dalam larutan asam.
• Konstanta disosiasi : pK a 7,5.
• Koefisien partisi : Log P (oktanol / air),
2.9.

LSD pertama kali disintesis oleh Albert Hofmann pada tahun 1938 dari
ergot, sebuah butir jamur yang biasanya tumbuh di rye. Bentuk LSD berasal
dari pada awal nama kode LSD-25, yang merupakan singkatan untuk
Lysergsäure “diethylamid-Jerman” diikuti dengan nomor urut. LSD sensitif
terhadap oksigen, sinar ultraviolet, dan klorin, terutama di solusi. Dalam
bentuk murni itu adalah tidak berwarna, tidak berbau, dan sedikit pahit. LSD
biasanya disampaikan secara lisan, biasanya pada substrat seperti penyerap
tinta kertas, sebuah kubus gula, atau gelatin. Dalam bentuk cair, juga dapat
diberikan melalui suntikan intramuskular atau intravena. LSD sangat kuat,
dengan 20-30 ug (mikrogram) adalah dosis ambang pemakaian LSD.
LSD bersifat non-adiktif (tak menimbulkan ketergantungan) dan non-toksik (tak
menimbulkan keracunan) dan banyak dikenal atas efek psikologisnya yang
menyebabkan tertutup/terbukanya mata, perasaan distorsi waktu, kematian ego
dan pergeseran kognitif yang dalam, serta berperan penting dalam kontrabudaya
tahun 1960. Dosis tunggal asam lisergat dietilamida berkisar antara 100-500
mikrogram. Jumlah tersebut hampir setara dengan 1/10 massa sebutir pasir. Reaksi
fisik pada LSD bervariasi dan tak spesifik. Gejala berikut telah dilaporkan: konstraksi
rahim, hipotermia, demam, kenaikan kadar gula darah, tegaknya bulu roma,
peningkatan curah jantung, cengkeraman rahang, perspirasi, midriasis (dilatasi
pupil), produksi air liur dan lendir, suhad (rasa tak dapat tidur), hiperefleksia, dan
tremor. Terdapat beberapa indikasi bahwa LSD dapat menimbulkan keadaan fuga
disosiatif pada orang-orang yang mengkonsumsi beberapa jenis antidepresan
tertentu seperti garam litium dan trisiklik.
2.2.3 Psilocybine

Psilocybin adalah senyawa psikedelik alami yang diproduksi oleh


lebih dari 200 jenis jamur, yang dikenal sebagai jamur psilocybin. Yang
paling kuat adalah anggota dari genus Psilocybe, seperti P. azurescens, P.
semilanceata, dan P. cyanescens, tetapi psilocybin juga telah diisolasi dari
sekitar selusin genera lain. Sebagai suatu prodrug, psilocybin dengan cepat
diubah oleh tubuh untuk psilocin, yang memiliki efek mengubah pola pikir
mirip dengan LSD dan meskalin. Efek dapat termasuk euforia, halusinasi
visual dan mental, perubahan persepsi, rasa terdistorsi waktu, dan pengalaman
spiritual, serta efek samping seperti mual dan serangan panik.
Sejenis jamur yang tumbuh di kotoran hewan atau yang biasa disebut
mushroom, magic mushroom, atau psilocybin mushroom termasuk dalam
narkotika golongan I yang diatur dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 35
Tahun 2009. Oleh karena itu, siapa pun yang menyalahgunakan jamur ini,
baik penjual maupun pengguna, dapat dipidana. Pakar Kimia-Farmasi Badan
Narkotika Nasional (BNN) Kombes Mufti Djusrin mengungkapkan, dalam undang-
undang, magic mushroom atau jamur ajaib ini termasuk di dalam zat aktif bernama
psilosibina. Zat itu masuk ke dalam narkotika jenis alamiah atau yang berbahan
dasar tumbuh-tumbuhan alami.
2.3 Pemanfaatan Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

a. Ekstasi
Manfaat ekstasi untuk mengurangi rasa sakit akibat pergerakan atau kehabisan
energi mungkin telah lama diketahui. Namun ilmuwan berhasli mengungkap manfaat
lainnya, yaitu sarana terapi bagi penderita gangguan kesehatan mental khususnya
penderita post-traumatic stress disorder (PTSD).
Hasil riset terbaru yang dikeluarkan Imperial College London Inggri, membuktikan,
ekstasi berdampak pada area tertentu yang berhubungan dengan memori dan emosi
pada otak. Obat dengan kandungan MDMA (methylenedioxymethamphetamine) ini
ternyata mampu meredakan kegelisahan seperti yang dialami pasien PTSD.
“Pada responden yang sehat, MDMA bisa meringankan efek memori buruk. Hal ini
diharapkan terjadi pada pasien PTSD yang sedang menjalani sesi terapi. Para pasien
diharapkan bisa mengalami trauma masa lalunya dan tidak lagi dilingkupi emosi
negatif. Kendati begitu, kami perlu mengujinya pada pasien PTSD sungguhan,” kata
peneliti yang juga profesor di Imperial College London, Robin Carhart-Harris.
1. LSD (LySergic Acid Diethylamide)
Digunakan untuk mengobati
ketergantungan, perawatan untuk
depresi dan menghentikan sakit
kepala. Dalam Spring Grove
State Hospital di Maryland, para
peneliti memberikan LSD kepada
pasien kanker akut untuk melihat
apakah dapat membantu
mengurangi kecemasan. 1/3 dari
pasien berkurang rasa tegang, depresi, takut kematian dan kesakitannya
(terbukti menjadi pereda nyeri yang efektif untuk sakit kronis). 1/3 lain
melaporkan kondisi ini cukup berkurang dan kelompok terakhir mengatakan,
kondisi mereka tidak membaik sama sekali, tapi juga tidak memburuk.

Gambar struktur LSD

2. Psilosibin
Salah satu peneliti, Dr. Robin
Carhart-Harris, dari Departemen
Kesehatan di Imperial College
London, mengatakan bahwa sejak
1950-an, jenis jamur psilocybin
sudah diteliti secara biologis, namun
pengunaannya belum diakui secara
efektif. Meski jamur ini sering dikatakan sebagai jamur ajaib atau magic
mushroom yang telah dikenal luas di kalangan pemuda di dunia untuk
mencari kesenangan sesaat dalam berhalusinasi, membuat tidak sadarkan diri
dan kesenangan semu, namun jamur ini ternyata dapat menekan tingkat
depresi. Hal tersebut berkaitan dengan sebuah penelitian yang
mengungkapkan tentang rendahnya tingkat kecemasan seseorang setelah
menerima terapi dari kandungan jamur psilocybin selama enam bulan.
Penelitian yang juga dikutip dari everydayhealth.com, menambahkan akan
fungsi dari kandungan jamur psilocybin sebagai anti depresan. Manfaat dari
jenis jamur yang memiliki warna kecoklatan dengan bentuk tangkai panjang
dan ramping ini, berkhasiat sama seperti obat Lysergic Acid Diethyliamide
yang akan membuat cara berpikir menjadi realistis setelah mengkonsumsinya
dalam rentang waktu setelah 20 menit.

2.4 Efek Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat


a. Ekstasi

Efek-efek jangka pendek dari ekstasi :

 Daya pertimbangan yang terganggu


 Perasaan kasih sayang yang semu
 Kekacauan
 Depresi
 Masalah-masalah tidur
 Kecemasan yang parah
 Kecurigaan
 Ketagihan Narkoba
 Ketegangan otot
 Rasa pusing dan kedinginan atau membengkak
 Pengepalan gigi yang di luar kontrol
 Penglihatan kabur
 Rasa mual

Efek-efek jangka panjang dari ekstasi :

 Kerusakan jangka panjang pada otak yang mempengaruhi pikiran dan


memori
 Kerusakan di bagian otak yang mengatur fungsi-fungsi yang sangat
penting seperti belajar, tidur dan emosi
 Seolah-olah alat penghubung otak dibongkar dan dipasang terbalik.
 Terhentinya proses regenerasi cabang-cabang saraf dan ujung-ujung sel
saraf
 Depresi, kecemasan, kehilangan memori
 Gagal Ginjal
 Pendarahan
 Psikosis (Gangguan Jiwa)
 Kardiovaskular pingsan
 Kejang-kejang
 Kematian

Mekanisme Kerja Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

Menurut pakar farmakologi amphetamin dan turunannya (termasuk ekstasi)


merupakan bahan neurotransmitter (pengantar rangsang) simpatik, yang
merangsang organ jantung dan otak.

 Zat ini merangsang pengeluaran adrenalin dan nor adrenalin yang


mengakibatkan kerja jantung semakin keras, yang ditandai dengan rasa
berdebar-debar, pembuluh darah menciut dan tekanan darah naik.
 Sedangkan di otak zat tersebut menyebabkan rasa "alert" (waspada, curiga dan
berjaga-jaga), sehingga orang yang meminumnya tidak terserang rasa
mengantuk.
Adrenalin dan nor adrenalin merupakan hormon yang berfungsi
mengubah glukosa menjadi energi. Hal inilah yang menyebabkan pemakai
ekstasi selalu mempunyai energi untuk beraktivitas tanpa kenal lelah. Padahal
perubahan untuk membentuk energi itu sangat berbahaya, karena tidak
berlangsung alamiah atau dipaksakan. Setelah menelan pil ini, suhu tubuh
meningkat dan rasa panas menjalar ke seluruh tubuh. Bila sudah klimaks, atau
sering disebut dengan istilah on, sinar lampu menjadi begitu indah dan
hentakan musik keras house music menyebabkan tubuh serasa tersedot
mengikuti gerak iramanya. Reaksi pil ini umumnya berkisar tiga sampai lima
jam, tergantung kualitasnya.

Para pakar farmakologi dan kedokteran di berbagai negara, menyebut pil ini
bisa menimbulkan kelumpuhan otak. Di AS disebutkan sudah puluhan orang
meninggal setelah menelan pil ini. Itu pula sebabnya pil ini diharamkan dibanyak
negara. MDMA (methylenedioxy-phenethylamine) merupakan unsur utama ekstasi
yang berefek menstimulasi otak. MDMA bukan tergolong obat, juga tak termasuk
narkotika, tapi zat ini termasuk sebagai salah satu zat psikotropika, digunakan untuk
menimbulkan rasa senang. MDMA berpengaruh neurotoksik khususnya terhadap sel-
sel neuron dari otak. Tidak sama seperti heroin atau kokain, ekstasi memang relatif
kurang menimbulkan ketagihan. Mereka masih bisa bekerja sehari-hari secara normal
sekalipun tidak menyantap pil itu. Tapi justru di sinilah sesungguhnya batas
keampuhan ekstasi yang disebut-sebut sangat menakutkan itu. Tidak seperti kokain
atau heroin, ekstasi tidak boleh digunakan setiap hari. Setiap kali menelan pil ini,
pemakainya harus istirahat sehari penuh dan hanya boleh memakannya kembali
minimal 4 hari kemudian. Jika tidak demikian, jangan harap akan mencapai on"
seperti yang diharapkan. Ekstasi tidak bisa dicampur dengan alkohol, akibatnya bisa
fatal. Padahal di berbagai diskotik di Indonesia, para pemakainya kerap memimum
bir atau whiski, untuk mempercepat terjadinya on. Di Eropa sendiri ekstasi sudah
mulai tidak laku. Kalangan muda kembali ke kokain, hasis, dan ganja yang ditanam
dirumah. "On-nya" bisa setiap waktu, sementara ekstasi tidak jelas kapan mulainya
atau diperlukan waktu yang cukup lama terutama bagi mereka yang sudah terbiasa
memakainya.

Beberapa Saat Setelah Diminum


Ekstasi mengandung stimulan yang dengan cepat diserap dalam aliran darah manusia,
tapi begitu ia sudah masuk maka ekstasi akan mengganggu kemampuan tubuh untuk
metabolisme atau merusak. Stimulan dalam ekstasi memacu sistem saraf pusat dan
kandungan lain mempengaruhi kemampuan persepsi seseorang. Pengguna ekstasi
juga akan berkurang kemampuan mengendalikan dirinya sehingga ia akan merasa
gembira tiba-tiba bahkan sebelum 1 jam sejak ia minum. Akibat dari efek stimulan ini
juga membuat seseorang yang mengonsumsi di klub malam mampu menari atau
berjoget dalam jangka waktu lama. Serta efek yang tidak langsungnya adalah
menimbulkan kecemasan dan membuat orang nekat melakukan sesuatu.

Beberapa Jam Setelah Pemakaian


Beberapa jam setelah orang mengonsumsi ekstasi akan dihasilkan penurunan
kemampuan mental yang signifikan, terutama mempengaruhi memori dan bisa
bertahan hingga seminggu. Kondisi ini berbahaya jika seseorang melakukan kegiatan
kompleks seperti menyetir.

Seminggu Setelah Konsumsi


Selama seminggu setelah konsumsi, banyak pengguna yang melaporkan berbagai
emosi termasuk kecemasan, kegelisahan, mudah marah, kesedihan, depresi, gangguan
tidur, kurang nafu makan dan tidak bisa menikmati seks. Terlebih jika seseorang
mengalami overdosis (OD) akibat obat ini maka akan timbul gejala tekanan darah
tinggi, memperburuk efek racun kardiovaskular, pingsan, serangan panik, dan pada
kasus berat mengakibatkan kehilangan kesadaran serta kejang.

b. LSD

Efek-Efek Fisik

 Membesarnya pupil
 Suhu tubuh lebih tinggi atau lebih rendah
 Berkeringat atau kedinginan (“merinding”)
 Kehilangan nafsu makan
 Tidak bisa tidur
 Mulut kering
 Tremor

Efek-Efek Mental
 Delusi (khayal)
 Halusinasi
 Perasaan euforia atau keyakinan yang semu
 Terganggunya kesadaran akan waktu dan identitas
 Persepsi kedalaman yang terganggu
 Gangguan persepsi terhadap waktu, kekacauan dalam mempersepsi ukuran
dan bentuk dari objek-objek, gerakan, warna, suara, perabaan dan penampilan
tubuh pemakai sendiri
 Perasaan dan pikiran yang sangat menakutkan
 Ketakutan akan kehilangan kendali
 Serangan panik
 Kilatan ingatan atau pengulangan perjalanan saat menggunakan LSD terjadi
secara tiba-tiba, lama setelah berhenti menggunakan LSD
 Depresi yang hebat dan psikosis

Mekanisme kerja :

Biasanya obat ini dipakai dengan cara ditelan atau melalui mukosa oral
dengan menggunakan kertas yang sudah diresapi LSD berdosis 100-300 mikrogram.
Setelah LSD teresap, si pemakai akan merasakan efek dari LSD yang
disebut tripping. Efek tripping LSD ini bisa mencapai 6-8 jam, ditambah dengan 2-6
jam offset (penurunan). Efek tripping yang terjadi meliputi, meningkatnya energi dan
sulit tidur, dan juga terjadinya halusinasi penglihatan seperti tembok yang bernapas,
motif gambar bergerak, sampai perubahan bentuk benda (morphing), mendengar
suara atau sosok lain. Pengguna LSD biasanya menamakan 'tripping' ini sebagai
sebuah perjalanan yang berlangsung selama 12 jam atau lebih. Hanya saja, halusinasi
yang dialami tidaklah selalu indah. Terkadang perjalanan mereka juga berlangsung
buruk yang disebut sebagai 'perjalanan buruk' sebuah sebutan untuk jalur neraka.
Beberapa pengguna LSD juga akan memiliki pikiran yang menakutkan, perasaan
putus asa, takut kehilangan kontrol, takut gila atau takut mati.
Pada beberapa individu, perjalanan ini akan bertahan di kepala dan menyebabkan
penderitaan yang signifikan, penurunan fungsi sosial, pekerjaan, gangguan persepsi,
dan halusinasi berkelanjutan yang disebut Hallucinogen-Induces Persisting
Perceptual Disorder (HPPD). Sebuah perjalanan baik akan membuat pengguna
merasa santai dan bahagia dan memiliki gambaran halusinasi yang menyenangkan.
Namun perjalanan buruk bisa membuat pemakai jadi merasa gelisah dan bingung
dengan halusinasi yang menakutkan dan perasaan tidak nyaman. Selain itu, pemakai
LSD juga akan merasakan perubahan suasana hati dan perasaan. Orang yang berada
di bawah pengaruh LSD akan lebih mudah dilihat dari perubahaan perasaan dan
suasana hati yang drastis dibanding tanda-tanda fisik. Pengguna mungkin akan
merasakan perubahan emosi yang berbeda sekaligus atau mengalami mood
swing yang sangat cepat. Menurut laman National Institute on Drug Abuse, di
Amerika, LSD tidak dianggap sebagai obat adiktif tinggi karena tidak menghasilkan
perilaku mencari obat secara kompulsif. Namun, LSD menyebabkan tubuh jadi
toleran. Artinya, pengguna akan mengambil obat berulang kali dan mengambil dosis
yang lebih tinggi sehingga menimbulkan efek berbahaya.

c. Psilosibin

Efek umum dari psilosibin meliputi: dilatasi pupil (93%), perubahan


denyut jantung (100%), termasuk peningkatan (56%), menurun (13%), dan
tanggapan variabel (31%), perubahan tekanan darah (84%), termasuk
hipotensi (34%), hipertensi (28%), dan ketidakstabilan umum (22%),
perubahan stretch reflex (86%), termasuk peningkatan (80%) dan menurun
(6%), mual (44%); tremor (25%), dan dysmetria (16%) (ketidakmampuan
untuk mengarahkan dengan benar atau gerakan batas) peningkatan sementara
tekanan darah yang disebabkan oleh obat dapat menjadi faktor risiko bagi
pengguna yang memiliki pra-hipertensi. Ini adalah efek somatik secara
kualitatif yang disebabkan oleh psilosibin telah dikuatkan oleh beberapa studi
klinis awal.
Mekanisme :

Gejala keracunan akan berkembang dalam kurun waktu 10 menit sampai


2 jam setelah tertelan:

1. 10-30 menit pertama akan timbul rasa gelisah, lemah, nyeri otot, dan rasa
tidak nyaman pada perut.
2. 30-60 menit timbul visual efek/halusinasi dan distorsi persepsi,berkeringat,
kemerahan pada wajah, dan ketiadaan koordinasi.
3. 60-120 menit semua gejala diatas menjadi sering muncul.
Umumnya, onset atau reaksi dari Magic mushroom di dalam tubuh
berkisar antara 10-40 menit ketika dikunyah dan dibiarkan di mulut hingga
larut, dan berkisar antara 20-60 menit ketika ditelan dalam keadaan lambung
kosong. Sedangkan tubuh akan kembali normal setelah 6-8 jam.
2.5 Dampak Penyalahgunaan Psikotropika Golongan I
- Ekstasi

Efek yang ditimbulkan secara langsung diantaranya adalah perasaan senang


berlebihan, perasaan nyaman, mual-mual, berkeringat dan dehidrasi, meningkatkan
kedekatan dengan orang lain, percaya diri dan kurang mampu mengendalikan diri,
suka menggertakkan dan menggesek gigi, Paranoia, kebingungan, meningkatnya
denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah, pusing, pingsan atau suka bercanda
yang tidak lucu. Sedangkan efek yang ditimbulkan dalam jangka panjang diantaranya
adalah merusak otak dan mengganggu daya ingat, membahayakan otak yang
berfungsi untuk berpikir cepat dan pembelajaran, menyebabkan kerusakan jantung
dan hati, mengalami depresi ekstrim dan ganngguan mental. Bahaya dan pengaruh
lainnya adalah menyebabkan ketergantungan, Hubungan Kelamin dan Penyakit
Kelamin Menular (PKM) / Sexually Transmitted Diseases (STS). Ekstasi melepaskan
bahan-bahan kimia yang dapat membuat seseorang merasa Euphoria, zat tersebut bisa
menyebabkan depresi, kepanikan kecemasan dan mungkin juga kerusakan otak.
Disebutkan pula zat ini memiliki reaksi yang relatif cepat. Pada akhirnya efek ekstasi
pada organ tubuh manusia akan terjadi pada :
1. Otak
Pada otak zat ini akan memacu kerja dengan keras sehingga orang akan sulit
untuk dikendalikan karena sudah tidak mempunyai rasa malu.
2. Jantung
Pada jantung zat ini akan meningkatkan Denyut jantung dan merintangi
sinyal-sinyal ke otak yang pada kondisi normal dapat memerintahkan
perlambatan detak organ tersebut. Pemakaian ekstasi yang berlebih akan
mengakibatkan dehidrasi dan dapat menimbulkan kematian.
3. Ginjal
Pemakaian ekstasi yang cukup sering bisa membahayakan ginjal, dalam hal
ini zat tersebut secara mendadak akan mengakibatkan gagal ginjal.
4. Hati
Pemakaian ekstasi yang cukup sering akan membahayakan hati, dalam hal ini
bahan-bahan kimia yang terkandung dalam ekstasi bisa melemahkan aktifitas
sel-sel yang membentuknya, akibatnya tubuh menjadi rentan terhadap
penyakit seperti hepatitis.
5. Kulit
Pemakaian ekstasi yang cukup sering berpengaruh pada pembuluh darah,
dalam hal pembuluh darah akan mengalami pemanasan berlebihan dan pecah.
Perdarahan yang terjadi di dalam tubuh akan mengakibatkan permukaan kulit
khususnya wajah akan mengalami bercak-bercak merah. Pencegahan
penggunaan ekstasi dapat dilakukan dengan cara pendidikan tentang
pengetahuan zat adiktif dan psikotropika serta bahayanya, penerangan melalui
berbagai media tentang bahaya ekstasi serta perhatian dari keluarga tentang
bahaya ekstasi bagi seseorang.
Bagaimana ekstasi merusak otak dan mempengaruhi Otak ?
MDMA diberikannya efek utama di otak pada neuron yang menggunakan bahan
kimia (atau neurotransmitter) serotonin untuk berkomunikasi dengan neuron
lainnya. Sistem serotonin berperan penting dalam mengatur suasana hati, agresi,
aktivitas seksual, tidur, dan kepekaan terhadap rasa sakit. MDMA mengikat
transporter serotonin, yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan serotonin dari
sinaps (atau ruang antara neuron yang berdekatan) untuk menghentikan sinyal antara
neuron, sehingga MDMA meningkatkan dan memperpanjang sinyal
serotonin. MDMA juga memasuki neuron serotonergik melalui transporter (karena
MDMA menyerupai serotonin dalam struktur kimia) dimana hal itu menyebabkan
pelepasan serotonin yang berlebihan dari neuron.MDMA memiliki efek yang serupa
pada neurotransmitter lain, epinephrine, yang dapat menyebabkan peningkatan
denyut jantung dan tekanan darah. MDMA juga melepaskan dopamin, tetapi dalam
tingkat yang jauh lebih rendah. MDMA dapat menghasilkan kebingungan, depresi,
masalah tidur, keinginan obat, dan kecemasan yang parah. Masalah ini dapat terjadi
segera setelah mengonsumsi obat atau, kadang-kadang, bahkan berhari-hari atau
minggu setelah minum MDMA. Selain itu, pengguna kronis MDMA melakukan lebih
buruk daripada yang bukan pengguna pada beberapa jenis tugas kognitif atau
memori, meskipun beberapa efek mungkin karena penggunaan obat lain dalam
kombinasi dengan MDMA. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa MDMA bisa
berbahaya bagi otak, studi pada primata (bukan manusia,mungkin yang dimaksud
kera) menunjukkan bahwa paparan MDMA hanya 4 hari menyebabkan kerusakan
terminal saraf serotonin yang masih jelas 6 sampai 7 tahun kemudian. Meskipun
neurotoksisitas serupa belum menunjukkan secara definitif pada manusia, penelitian
pada hewan menunjukkan MDMA bersifat merusak dan menunjukkan bahwa
MDMA bukan obat yang aman untuk dikonsumsi manusia.

 Ekstasi menyebabkan ketergantungan

Apakah Ekstasi adiktif? Banyak yang berpikir begitu. Tetapi meskipun


seorang pengguna tidak kecanduan, ada empat bahaya yang nyata:

1. Mulai 1995, kurang dari 10% pil ekstasi yang beredar adalah murni MDMA.
Pengguna ekstasi dewasa ini memakai campuran berbagai macam narkoba, sering
juga menggunakan racun.
2. Seseorang harus terus menerus meningkatkan penggunaan jumlah narkoba agar
memperoleh efek yang sama. Para pemakai mengatakan bahwa efek ekstasi
sangat berkurang setelah dosis pertama. Dan dengan meningkatnya penggunaan,
efek-efek negatifnya juga semakin meningkat. Karena efek penggunaan yang
diinginkan semakin menghilang, seseorang kerap kali mencoba narkoba lain yang
lebih berbahaya.
3. Pengguna merasa kadang-kadang ada kebutuhan untuk menggunakan narkoba
lain seperti heroin atau kokain untuk membantu mengatasi penderitaan mental
dan fisik yang diakibatkan setelah seseorang “turun” dari Ekstasi; 92% dari
mereka yang memakai Ekstasi juga menyalahgunakan narkoba lain yang lebih
keras.
4. Pendapat yang salah bahwa seseorang hanya merasa enak dengan Ekstasi telah
menyebabkan dia untuk menggunakan ekstasi lebih sering daripada hanya di
pesta semalam suntuk; seperti stimulan lain, orang melanjutkan pemakaian ekstasi
walaupun mengalami efek-efek yang tidak menyenangkan.
 Dampak sosial (lingkungan)
Dampak sosial (lingkungan) yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan zat
adiktif dan psikotropika,sebagai berikut :

 Susah dalam bersosialisasi.


 Tidak percaya diri.
 Sulit pengendalian diri.
 Berpikiran negatif pada diri sendiri.
 Bergembira secara berlebihan.
 Lebih banyak berdiam diri.
 Dikucilkan dalam masyarakat dan pergaulan orang baik-baik. Selain itu
biasanya pecandu akan bersikap anti sosial.
 Kesempatan belajar hilang dan mungkin dapat dikeluarkan dari sekolah atau
perguruan tinggi alias DO / drop out.
 Tidak dipercaya lagi oleh orang lain karena umumnya pecandu akan gemar
berbohong dan melakukan tindak kriminal.
 Mendorong pemakainya untuk melakukan tindak kriminal karena harganya
mahal dan sudah ketergantungan terhadap obat itu,sehingga pemakai akan
memaksakan diri untuk mengkonsumsi obat itu.

 Dampak Ekonomi
Dampak dalam bidang ekonomi akibat dari penggunaan zat adiktif dan zat
psikotropika sebagai berikut :

 Akan banyak uang yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan perawatan


kesehatan pecandu jika tubuhnya rusak digerogoti zat beracun.
 Masalah keuangan. Obat-obatan yang dikonsumsi biasanya mahal. Namun,
bila sudah kecanduan maka pengguna akan melakukan apa saja untuk
mendapatkannya. Mereka bisa menjual barang pribadi atau mengambil milik
orang lain dan keluarga.

Pemakai tidak akan dapat menabung dan memenuhi kebutuhan pokoknya sebagai
manusia biasa, karena pemakai akan lebih mementingkan obat itu daripada kebutuhan
pokoknya.

- LSD

Dampak penyalah gunaan LSD yaitu pemakai bisa kehilangan akal, terjadi
disorientasi antara ruang dan waktu. Misalnya, si pengemudi mengira kalau itu jalan
tol dan ternyata itu jalan Alteri Pondok Indah. Lalu dia mengira sedang balapan di
Sentul padahal banyak orang ramai, itu disebut disorientasi antara ruang dan waktu.

Berikut pengaruh jika seseorang menggunakan LSD (Lycergic Syntetic


Diethylamide) atau halusinogen (menyebabkan halusinasi):
1. Pengaruh LSD tidak dapat diduga dan tergantung pada jumlah yang
digunakan, suasana hati, dan kepribadian pemakainya serta lingkungan.
2. Sensasi dan perasaan berubah-ubah secara dramatis.
3. Berubahnya perasaan akan waktu dan persepsi tentang diri sendiri.
4. Bad trips’termasuk delusi (penilaian yang salah tentang diri sendiri atau
lingkungan) dan halusinasi (penglihatan khayal), panik, kebingungan, cemas,
merasa tak berdaya, putus asa, skizofrenia (gangguan jiwa), hilangnya kendali
diri, melakukan kekerasanpada diri sendiri dan orang lain.
5. Dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan daya ingat dan pemusatan
perhatian, kesulitan cara berpikir abstrak.
6. Meningkatnya risiko kejang-kejang.
7. Dapat menyebabkan delusi(penilaian yang salah tentang diri sendiri atau
lingkungan), halusinasi, persepsi akan waktu dan ruang menjadi buruk.
8. Meningkatnya risiko kegagalan pernapasan.

- Psilosibin (Magic Mushroom)

Magic mushroom bisa membuat seseorang menjadi lebih kebal terhadap


psilosibin dan harus menambah porsinya lagi untuk mendapatkan sensasi yang sama.

Berikut adalah hal-hal yang mungkin terjadi jika sering mengkonsumsi magic
mushroom dalam jangka panjang:

 Perubahan pola pikir (jadi lebih kacau dan tidak teratur)


 Fungsi kognitif otak menurun
 Delusi dan halusinasi
 Perilaku yang impulsif (berisiko dan tidak pikir panjang)
 Perubahan suasana hati yang drastis dan tidak terduga
 Kematian karena tindakan sembrono dan berbahaya, misalnya bunuh diri

2.6 Contoh Kasus Penyalahgunaan Psikotropika Golongan I


Senin, 22 Januari 2018 14:08

Digerebek di Rumah, Pasutri Oknum Polisi di Pekanbaru Terciduk Miliki Sabu


dan Ekstasi

Seorang lagi oknum polisi mencoreng nama baik institusinya. Ia digerebek di


rumahnya dan polisi menemukan bukti narkoba di sana.

Riauterkini-PEKANBARU-Institusi Polri di Pekanbaru lagi-lagi harus tercoreng


akibat ulah salah satu oknum polisi berinisial DA yang terjerat tindak pidana
penyalahgunaan narkoba.

Ironisnya, oknum polisi tersebut digerebek langsung oleh tim Opsnal Sat Res
Narkoba Polresta Pekanbaru saat sedang bersama sang istri di kediamannya di Perum
Yopupa, Jalan Lingkar Danau Buatan, Kecamatan Rumbai Pesisir, Ahad (21/01/18)
sore kemarin.

Berdasarkan informasi dari kepolisian, penggerebekan itu sendiri dilakukan


petugas setelah mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di kediaman tersangka
sering dijadikan lokasi penjualan narkoba. Dari info itulah, aparat pun bergerak
melakukan penyelidikan.

Rumah tersangka selanjutnya digerebek dan digeledah. Hasilnya, selain


mengamankan tersangka beserta istrinya, polisi juga menemukan 1 paket sedang
sabu-sabu di dalam lemari pakaian tersangka. Kemudian ada pula sebuah dompet
warna merah yang terletak di lantai dekat speaker kamar belakang rumah tersangka.
Dompet tersebut berisi 24 butir pil ekstasi berbentuk cumi-cumi berwarna merah
muda serta 1 paket kecil sabu-sabu.

Usai digerebek, tersangka dan istrinya pun lalu dibawa ke Mapolresta


Pekanbaru untuk diproses lebih lanjut. Sementara dari hasil penggerebekan tersebut,
polisi mengamankan total barang bukti 2 paket sabu-sabu seberat 51 gram, 24 butir
ekstasi berbentuk cumi-cumi berwarna merah muda, sebuah dompet warna merah,
dua unit handphone Samsung, sehelai baju PDU Polri milik tersangka, 7 buku
tabungan, 2 buku nikah, 1 BPKB motor Jupiter Z, satu STNK motor serta satu unit
mobil Brio yang diduga milik tersangka.

Terpisah, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto membenarkan perihal


penangkapan tersebut. Namun Santo belum mau memberikan penjelasan lebih lanjut
dan menuturkan jika pihaknya masih melakukan pengembangan.

BAB III

PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan
1. Jenis-jenis Psikotropika Golongan I
a. Broloamfetamine
b. Cathinone
c. DET
d. DMA
e. DMHP
f. DMT
g. DOET
h. Eticyclidine - PCE
i. Etrytamine
j. Lysergide - LSD
k. MDMA
l. Mescaline
m. Methcathinone
n. Methylaminore
o. MMDA
p. N-ethyl MDA
q. N-hydroxy)
r. Parahexyl
s. PMA
t. Psilocine, psilotsin
u. Psilocybine
v. Rolicyclidine
w. STP, DOM
x. Tenamfetamine

2. Jenis Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat


 Ekstasi
3. Pemanfaatan Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

Ilmuwan berhasli mengungkap manfaat lainnya, yaitu sarana terapi bagi


penderita gangguan kesehatan mental khususnya penderita post-traumatic stress
disorder (PTSD).
4. Efek Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

Efek-efek jangka pendek dari ekstasi :

 Daya pertimbangan yang terganggu


 Perasaan kasih sayang yang semu
 Kekacauan
 Depresi
 Masalah-masalah tidur
 Kecemasan yang parah
 Kecurigaan
 Ketagihan Narkoba
 Ketegangan otot
 Rasa pusing dan kedinginan atau membengkak
 Pengepalan gigi yang di luar kontrol
 Penglihatan kabur
 Rasa mual

Efek-efek jangka panjang dari ekstasi :

 Kerusakan jangka panjang pada otak yang mempengaruhi pikiran dan


memori
 Kerusakan di bagian otak yang mengatur fungsi-fungsi yang sangat
penting seperti belajar, tidur dan emosi
 Seolah-olah alat penghubung otak dibongkar dan dipasang terbalik.
 Terhentinya proses regenerasi cabang-cabang saraf dan ujung-ujung sel
saraf
 Depresi, kecemasan, kehilangan memori
 Gagal Ginjal
 Pendarahan
 Psikosis (Gangguan Jiwa)
 Kardiovaskular pingsan
 Kejang-kejang
 Kematian

Mekanisme Kerja Psikotropika Golongan I yang Umum di Masyarakat

 Zat ini merangsang pengeluaran adrenalin dan nor adrenalin yang


mengakibatkan kerja jantung semakin keras, yang ditandai dengan rasa
berdebar-debar, pembuluh darah menciut dan tekanan darah naik.
 Sedangkan di otak zat tersebut menyebabkan rasa "alert" (waspada, curiga
dan berjaga-jaga), sehingga orang yang meminumnya tidak terserang rasa
mengantuk.
 Beberapa Saat Setelah Diminum
Ekstasi mengandung stimulan yang dengan cepat diserap dalam aliran
darah manusia, tapi begitu ia sudah masuk maka ekstasi akan mengganggu
kemampuan tubuh untuk metabolisme atau merusak.
 Beberapa Jam Setelah Pemakaian
Beberapa jam setelah orang mengonsumsi ekstasi akan dihasilkan
penurunan kemampuan mental yang signifikan.
 Seminggu Setelah Konsumsi
Selama seminggu setelah konsumsi, banyak pengguna yang melaporkan
berbagai emosi termasuk kecemasan, kegelisahan, mudah marah,
kesedihan, depresi, gangguan tidur, kurang nafu makan dan tidak bisa
menikmati seks.

5. Dampak Penyalahgunaan Psikotropika Golongan I


Efek yang ditimbulkan secara langsung diantaranya adalah perasaan
senang berlebihan, perasaan nyaman, mual-mual, berkeringat dan dehidrasi,
meningkatkan kedekatan dengan orang lain, percaya diri dan kurang mampu
mengendalikan diri, suka menggertakkan dan menggesek gigi, Paranoia,
kebingungan, meningkatnya denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah,
pusing, pingsan atau suka bercanda yang tidak lucu. Sedangkan efek yang
ditimbulkan dalam jangka panjang diantaranya adalah merusak otak dan
mengganggu daya ingat, membahayakan otak yang berfungsi untuk berpikir
cepat dan pembelajaran, menyebabkan kerusakan jantung dan hati, mengalami
depresi ekstrim dan ganngguan mental.
 Dampak sosial (lingkungan)
Dampak sosial (lingkungan) yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan zat
adiktif dan psikotropika,sebagai berikut :

 Susah dalam bersosialisasi.


 Tidak percaya diri.
 Sulit pengendalian diri.
 Berpikiran negatif pada diri sendiri.
 Bergembira secara berlebihan.
 Lebih banyak berdiam diri.
 Dikucilkan dalam masyarakat dan pergaulan orang baik-baik.
 Kesempatan belajar hilang
 Tidak dipercaya lagi oleh orang lain
 Mendorong pemakainya untuk melakukan tindak kriminal

 Dampak Ekonomi
Dampak dalam bidang ekonomi akibat dari penggunaan zat adiktif dan zat
psikotropika sebagai berikut :

 Akan banyak uang yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan perawatan


kesehatan.
 Masalah keuangan.
 Obat-obatan yang dikonsumsi biasanya mahal.

6. Contoh Kasus Penyalahgunaan Psikotropika Golongan


Digerebek di Rumah, Pasutri Oknum Polisi di Pekanbaru Terciduk Miliki Sabu
dan Ekstasi

DAFTAR PUSTAKA
Lisa Julianan FR, Sutrisna Nengah W. 2013. Narkoba, Psikotropika dan Gangguan

Jiwa (Tinjauan kesehatan dan hukum).Yogyakarta;Nuha Medika

R. De La Torre, M. Farré, J. Ortuño, M. Mas, R. Brenneisen, P. N. Roset,; et al.

(February 2000). "Non-linear pharmacokinetics of MDMA ('ecstasy') in

humans". Annals of the New York Academy of Sciences 49 (2): 104

109. doi:10.1046/j.1365-2125.2000.00121.x

Ricaurte GA and McCann UD. Experimental studies on 3,4

methylenedioxymethamphetamine (MDMA, “ecstasy”) and its potential to

damage brain serotonin neurons. Neurotox Res 3(1):85–99, 2001.