Anda di halaman 1dari 17

Dosen Mata Kuliah : Junaeddin, S.Kep.Ns.,M.

Kes
Mata Kuliah : Kewirausahaan

“TRANSPLANTASI ORGAN”

OLEH :
KELOMPOK III
KELAS A1/2016

1. ELZA PRATIWI (NH0116044)


2.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan
rahmat dan hidayah serta karuniaNya, sehingga kami masih diberi kesempatan
untuk bekerja menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Transplantasi
Organ”, makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Kewirausahaan

Tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pengajar kami
bapak “Junaeddin, S.Kep.Ns.,M.Kes” dan teman-teman yang telah memberikan
dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak kami harapkan.

Makassar, 25 Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .........................................................................


B. Tujuan ......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Transplantasi Organ ...................................................


B. Klasifikasi Transplantasi Organ ...............................................
C. Penyebab Transplantasi Organ .................................................
D. Tipe Transplantasi Organ .........................................................
E. Pandangan Agama Tentang Transplantasi Organ ....................
F. Aspek Hukum Transplantasi ...................................................
G.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..............................................................................
B. Saran .........................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kedokteran


telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satu bukti nyata dari
kemajuan tersebut adalah perkembangan teknik transplantasi organ manusia.
Transplantasi organ tubuh manusia ini adalah terapi pengganti (alternatif)
yang merupakan upaya terbaik untuk menolong pasien dengan kegagalan
organ apabila terapi konservatif sudah tidak mampu lagi menolong keadaan
pasien. Pada kasus-kasus tertentu, transplantasi organ merupakan jalan yang
dapat ditempuh untuk memperoleh kesembuhan. Saat ini, kemajuan ilmu dan
teknologi telah meningkatkan pelaksanaan transplantasi. Di Cina, pada tahun
1999 tercatat hanya 24 transplantasi hati, tahun 2000 jumlahnya mencapai 78,
tahun 2003 tercatat dilakukan 356 transplantasi, dan pada tahun 2004
jumlahnya telah mencapai 507. Tidak hanya hati, jumlah transplantasi
keseluruhan organ di Cina memang meningkat sangat drastis. Setidaknya
telah terjadi tiga kali lipat melebihi Amerika Serikat.
Di Indonesia sendiri, salah satu transplantasi yang paling banyak
dilakukan adalah transplantasi ginjal. Total jumlah transplantasi ginjal yang
pernah dilakukan di Indonesia dalam periode tahun 1977- 2006 adalah
sebanyak 479 dimana pelaksanaan tertinggi di RS PGI Cikini Jakarta (277
kali) transplantasi ginjal sejak tahun 1977. Di Semarang, transplantasi ginjal
telah dikerjakan sejak tahun 1985 di 2 Rumah Sakit yaitu sebanyak 58 kali di
RS Telogorejo dan sebanyak 2 kali di RSUP dr.Kariadi. (Zulkarnaen
M.F.2012)
Peningkatan jumlah pelaksanaan transplantasi ini mengakibatkan
peningkatan jumlah permintaan organ. Sayangnya, organ yang tersedia tidak
mampu mengimbangi jumlah permintaan. Pada akhirnya, ketidakseimbangan
ini menjadi salah satu penghalang kemajuan per kembangan transplantasi. Di
Indonesia sendiri, dikarenakan sulitnya mendapatkan donor organ, banyak
pasien berobat ke luar negeri seperti Cina dan India. Diperkirakan lebih dari
1.000 warga Indonesia yang menjalani pencangkokan ginjal di luar negeri
Hingga saat ini di Indonesia, organ donor merupakan donor hidup
(living donor) yang dapat berupa “living related donor” (berasal dari ibu /
ayah / saudara kandung) atau “living unrelated donor” yang berasal dari
pasangan suami / istri, teman dekat atau orang lain yang dengan sukarela
mendonorkan ginjalnya tanpa mengetahui kepada siapa ginjalnya diberikan.
(Zulkarnaen M.F.2012)

B. TUJUAN
1. Mengetahui Definisi Transplantasi Organ
2. Mengetahui Klasifikasi Transplantasi Organ
3. Mengetahui Penyebab Transplantasi Organ
4. Mengetahui Tipe Transplantasi Organ
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI TRANSPLANTASI
Transplantasi organ atau jaringan tubuh manusia merupakan tindakan
medic yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan fungsi organ
tubuh yang berat. (Hanifah M.J & Amir.A. 1999)
Transplantasi adalah pengangkatan suatu organ atau jaringan dari suatu
organisme, kemudian di implementasikan melalui pembedahan ke organisme
lain untuk memberikan struktur atau fungsi. (Grace P.A & Borley N.R. 2006)
Transplantasi organ adalah pemindahan organ dari satu tubuh yang lainnya
atau pemindahan organ dari donor ke resipien yang organnya mengalami
kerusakan. (Fitria C.N. 2012)
Berdasarkan UU Kesehatan Tahun 2009, Transplantasi adalah tindakan
medis untuk memindahkan organ atau jaringan tubuh manusia yang berasal
dari tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk mengganti jaringan
dan organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
Menurut pasal 1 ayat 5 Undang-undang kesehatan, transplantasi organ
adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringa
tubuh manusia yangberasal dari tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang
lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ
atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya
kepada orang lain untuk tujuan kesehatan. Sedangkan resipien adalah orang
yang akan menerima jaringan atau organ dari orang lain. (Zulkarnaen
M.F.2012)
Organ tubuh yang ditransplantasikan biasa adalah organ vital seperti
ginjal, jantung, dan mata. Namun dalam perkembangannya organ-organ tubuh
lainnya pun dapat ditransplantasikan untuk membantu orang yang sangat
memerlukannya.
B. KLASIFIKASI TRANSPLANTASI ORGAN
1. Autotransplantasi
Pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh
orang itu sendiri.
2. Homotransplantasi
Pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke
tubuh orang lain.
3. Heterotransplantasi
Pemindahan organ atau jaringan dari satu spesies ke spesies lain.
4. Autograft

Transplantasi jaringan untuk orang yang sama. Kadang-kadang


hal ini dilakukan dengan jaringan surplus, atau jaringan yang dapat
memperbarui, atau jaringan lebih sangat dibutuhkan di tempat lain.
5. Allograft
Allograft adalah suatu transplantasi organ atau jaringan antara
dua non-identik anggota genetis yang sama spesies. Sebagian besar
jaringan manusia dan organ transplantasi yang allograft. Karena
perbedaan ganetik antara organ dan penerima, penerima system
kekebalan tubuh akan mengidentifikasi organ sebagai benda asing dan
berusaha untuk menghancurkannya, menyebabkan penolakan
transplantasi.
6. Isograft
Sebuah subset dari allografts di mana organ atau jaringan yang
ditransplantasikan dari donor ke penerima yang identik secara genetis.

7. Xenograft dan xenotransplantation


Transplantasi organ atau jaringan dari satu spesies yang lain.
Sebuah contoh adalah transplantasi katup jantung babi, yang cukup
umum dan sukses.
8. Transplantasi Split
Kadang-kadang organ almarhum-donor, biasanya hati, dapat
dibagi antara dua penerima, terutama orang dewasa dan seorang anak. Ini
bukan biasanya sebuah pilihan yang diinginkan karena transplantasi
organ secara keseluruhan lebih berhasil.
9. Transplantasi Domino
Operasi ini biasanya dilakukan pada pasien dengan fibrosis kristik
karena kedua paru-paru perlu diganti dan itu adalah operasi lebih mudah
secara teknis untuk menggantikan jantung dan paru-paru pada waktu
yang sama. Sebagai jantung asli penerima biasanya sehat, dapat
dipindahkan ke orang lain yang membutuhkan transplantasi jantung.

Jika ditinjau dari sudut penyumbang atau donor alat dan atau jaringan
tubuh, maka transplantasi dapat dibedakan menjadi :
1. Transplantasi dengan donor hidup
Transplantasi dengan donor hidup adalah pemindahan jaringan atau
organ tubuh seseorang ke orang lain atau ke bagian lain dari tubuhnya
sendiri tanpa mengancam kesehatan. Donor hidup ini dilakukan pada
jaringan atau organ yang bersifat regeneratif, misalnya kulit, darah dan
sumsum tulang, serta organ-organ yang berpasangan misalnya ginjal.
2. Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasi dengan donor mati atau jenazah adalah pemindahan
organ atau jaringan dari tubuh jenazah ke tubuh orang lain yang masih
hidup. Jenis organ yang biasanya didonorkan adalah organ yang tidak
memiliki kemampuan untuk regenerasi misalnya jantung, kornea, ginjal
dan pankreas.
C. PENYEBAB TRANSPLANTASI ORGAN
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu:
1. Eksplantasi : Usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup
atau yang sudah meninggal
2. Implantasi : Usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut
kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang
keberhasilan tindakan transplantasi, yaitu :
1. Adaptasi Donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang
hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan
psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan atau organ.
2. Adaptasi Resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima
jaringan atau organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau
menolak jaringan atau organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti
yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari
donor yang hidup atau dari jenazah orang baru meninggal dimana meninggal
sendiri didefinisikan kematian batang otak. Organ-organ yang diambil dari
donor hidup seperti : kulit, ginjal, sumsum tulang dan darah (tranfusi darah).
Organ-organ yang diambil dari jenazah adalah : jantung, hati, ginjal, kornea,
pancreas, paru-paru dan sel otak.

D. TIPE TRANSPLANTASI ORGAN


Berkenan dengan donor, transplantasi dapat dikategorikan ke dalam tipe-
tipe yaitu:
1. Donor Dalam Keadaan Hidup Sehat.
Dalam tipe ini perlu adanya seleksi yang cermat dan harus
dilakukan general check up (pemeriksaan kesehatan yang lengkap
menyeluruh), baik tehadap donor manapun terhadap resipien (penerima),
demi minghindari kegagalan transplantasi yang disebakan penolakan
tubuh resipien dan sekaligus menghindari dan mencegah risiko bagi
donor.
2. Donor Dalam Keadaan Koma
Apabila donor dalam keadaan koma atau diduga kuat akan
meninggal segera, maka dalam pengambilan organ tubuh donor
memerlukan alat control dan penunjang kehidupan.
3. Donor Dalam Keadaan Meninggal
Tipe ini merupakan tipe yang ideal, sebab secara medis tinggal
menunggu penentuan kapan donor dianggap meninggal secara medis dan
yuridis dan harus diperhatikan pula daya tahan tubuh yang mau di ambil
untuk di transplantasikan (Sudarto M. 2018)

E. PANDANGAN AGAMA TENTANG TRANSPLANTASI ORGAN


1. Transplantasi Organ dari Segi Agama Islam
Didalam syariat Islam terdapat 3 macam hukum mengenai
transplantasi organ dan donor organ ditinjau dari keadaan si pendonor.
Adapun ketiga hukum tersebut, yaitu :
a. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup
Dalam syara seseorang diperbolehkan pada saat hidupnya
mendonorkan sebuah organ tubuhnya atau lebih kepada orang lain
yang membutuhkan organ yang disumbangkan itu, seperti ginjal.
Akan tetapi mendonorkan organ tunggal yang dapat mengakibatkan
kematian si pendonor, seperti mendonorkan jantung, hati dan
otaknya. Maka hukumnya tidak diperbolehkan, berdasarkan firman
Allah SWT dalam Al – Qur’an :
1) surat Al – Baqorah ayat 195
” dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan ”
2) An – Nisa ayat 29
” dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri ”
3) Al – Maidah ayat 2
” dan jangan tolong – menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. “
b. Transplantasi Organ dari Donor yang Sudah meninggal
Sebelum kita mempergunakan organ tubuh orang yang telah
meninggal, kita harus mendapatkan kejelasan hukum transplantasi
organ dari donor tersebut. Adapun beberapa hukum yang harus kita
tahu, yaitu :
1) Dilakukan setelah memastikan bahwa si penyumbang ingin
menyumbangkan organnya setelah dia meninggal. Bisa dilakukan
melalui surat wasiat atau menandatangani kartu donor atau yang
lainnya.
2) Jika terdapat kasus si penyumbang organ belum memberikan
persetujuan terlebih dahulu tentang menyumbangkan organnya
ketika dia meninggal maka persetujuan bisa dilimpahkan kepada
pihak keluarga penyumbang terdekat yang dalam posisi dapat
membuat keputusan atas penyumbang.
3) Organ atau jaringan yang akan disumbangkan haruslah organ atau
jaringan yang ditentukan dapat menyelamatkan atau
mempertahankan kualitas hidup manusia lainnya.
4) Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan setelah
dipastikan secara prosedur medis bahwa si penyumbang organ
telah meninggal dunia.
5) Organ tubuh yang akan disumbangkan bisa juga dari korban
kecelakaan lalu lintas yang identitasnya tidak diketahui tapi hal
itu harus dilakukan dengan seizin hakim.

Seorang dokter atau seorang penguasa tidak berhak


memanfaatkan salah satu organ tubuh seseorang yang sudah
meninggal untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang
membutuhkannya.Adapun hukum kehormatan mayat dan
penganiayaan terhadapnya, maka Allah SWT telah menetapkan
bahwa mayat mempunyai kehormatan yang wajib dipelihara
sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah
mengharamkan pelanggaran terhadap kehormatan mayat
sebagaimana pelanggaran terhadap kehormatan orang hidup. Allah
menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya
dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari A’isyah Ummul
Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Memecahkan
tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari
RA, dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada
sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda : “Janganlah kamu
menyakiti penghuni kubur itu !” Hadits-hadits di atas secara jelas
menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana
orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan menganiaya
mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya
orang hidup.
2. Transplantasi Organ dari Segi Agama Kristen
Di alkitab tidak dituliskan mengenai mendonorkan organ tubuh,
selama niatnya tulus dan tujuannya kebaikan itu boleh-boleh saja
terutama untuk membantu kelangsungan hidup suatu nyawa (nyawa
orang yang membutuhkan donor organ) bukan karena mendonorkan
untuk mendapatkan imbalan berupa materi, uang untuk si pendonor
organ. Akan lebih baik lagi bila si pendonor sudah mati dari pada saat si
pendonor belum mati karena saat kita masih hidup organ tubuh itu
bagaimanapun penting, sedangkan saat kita sudah mati kita tidak
membutuhkan organ tubuh jasmani kita.
3. Transplantasi Organ dari Segi Agama Katolik
Gereja menganjurkan kita untuk mendonorkan organ tubuh
sekalipun jantung kita, asal saja sewaktu menjadi donor kita sudah benar-
benar mati artinya bukan mati secara medis yaitu otak kita yang mati,
seperti koma, vegetative state atau kematian medis lainnya. Tentu kalau
kita dalam keadaan hidup dan sehat kita dianjurkan untuk menolong
hidup orang lain dengan menjadi donor.
Kesimpulannya bila donor tidak menuntut kita harus mati, seperti
donor darah, sum-sum, ginjal, kulit, mata, rambut, lengan, jari, kaki atau
urat nadi, tulang maka kita dianjurkan untuk melakukannya. Sedangkan
menjadi donor mati seperti jantung atau bagian tubuh lainnya dimana
donor tidak bisa hidup tanpa adanya organ tersebut, maka kita sebagai
umat Katolik wajib untuk dinyatakan mati oleh ajaran GK. Ingat, kematian
klinis atau medis bukan mati sepenuhnya, jadi kita harus menunggu
sampai si donor benar-benar mati untuk dipanen organ, dan ini terbukti
tidak ada halangan bagi kebutuhan medis dalam pengambilan organ.
4. Transplantasi Organ dari Segi Agama Budha
Dalam pengertian Budhis, seorang terlahir kembali dengan badan
yang baru. Oleh karena itu, pastilah organ tubuh yang telah didonorkan
pada kehidupan yang lampau tidak lagi berhubungan dengan tubuh dalam
kehidupan yang sekarang. Artinya, orang yang telah mendanakan anggota
tubuh tertentu tetap akan terlahir kembali dengan organ tubuh yang
lengkap dan normal. Ia yang telah berdonor kornea mata misalnya, tetap
akan terlahir dengan mata normal, tidak buta. Malahan, karena donor
adalah salah satu bentuk kamma baik, ketika seseorang berdana kornea
mata, dipercaya dalam kelahiran yang berikutnya, ia akan mempunyai
mata lebih indah dan sehat dari pada mata yang ia miliki dalam kehidupan
saat ini.
5. Transplantasi Organ dari Segi Agama Hindu
Menurut ajaran Hindu transplantasi organ tubuh dapat dibenarkan
dengan alasan, bahwa pengorbanan (yajna) kepada orang yang menderita,
agar dia bebas dari penderitaan dan dapat menikmati kesehatan dan
kebahagiaan, jauh lebih penting, utama, mulia dan luhur, dari keutuhan
organ tubuh manusia yang telah meninggal. Perbuatan ini harus dilakukan
diatas prinsip yajna yaitu pengorbanan tulus iklas tanpa pamrih dan bukan
dilakukan untuk maksud mendapatkan keuntungan material. Alasan yang
lebih bersifat logis dijumpai dalam kitab Bhagawadgita II.22 sebagai
berikut: “Wasamsi jirnani yatha wihaya nawani grihnati naro’parani,
tatha sarirani wihaya jirnany anyani samyati nawani dehi” Artinya:
seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru dan membuka pakaian
lama, begitu pula Sang Roh menerima badan-badan jasmani yang baru,
dengan meninggalkan badan-badan lama yang tiada berguna.
Ajaran Hindu tidak melarang bahkan menganjurkan umatnya unutk
melaksanakan transplantasi organ tubuh dengan dasar yajna (pengirbanan
tulus ikhlas dan tanpa pamrih) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan
sesama umat manusia. Demikian pandangan agama hindu terhadap
transplantasi organ tubuh sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ajaran
Panca Yajna terutama Manusa Yajna.

F. ASPEK HUKUM TRANSPLANTASI


Dari segi hukum, transplantasi organ, jaringan dan sel di dalam tubuh
dipandang sebagai suatu usaha untuk menyehatkan dan mensejahtrakan
manusia, walaupun ini adalah suatu perbuatan yang melawan hukum pidana
yaitu tindak pidana penganiayaan. Tetapi karena adanya alas an pengecualian
hukuman, atau paham melawan hukum secara material, maka perbuatan
tersebut tidak lagi diancam pidana dan dapat dibenarkan.
Dalam PP No.18 tahun 1981 tentang bedah mayat klinis, bedah mayat
otonomis, dan transplantasi alat serta jaringan tubuh manusi, tercantum pasal-
pasal tentang transplantasi sebagai berikut.
Pasal 1
1. Tarnsplantasi adalah rangkaian tindakan kedokteran untuk pemindahan
dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain
dalam rangka pengobatan untuk menggantikan alat dan atau jaringan
tubuh yang tidak berfungsi dengan bak.
2. Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya
kepada orang lain untuk keperluan kesehatan.
3. Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli
kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan dan denyut
jantung seseorang telah berhenti.
Selanjutnya dalam PP tersebut terdapat pasal-pasal berikut:
Pasal 11
1. Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia hanya boleh
dilakukakan oleh dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
2. Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan
oleh dokter yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan.
Pasal 15
1. Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat atau jaringan tubuh
manusia diberikan oleh donor hidup, calon donor yang bersangkutan
terlebih dahulu diberi tahu oleh dokter yang merawat , termasuk dokter
konsultn mengenai operasi, akibat-akibatnya, dan kemungkinan-
kemungkinan yang akan terjadi.
2. Dokter sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 1 harus yakin benar bahwa
calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnyaarti dari
pemberitahuan tersebut.

Selanjutnya dalam UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, dicantumkan


beberapa pasal tentang transplantasi organ sebagai berikut:
Pasal 33
1. Dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat
dilakukakan transplantasi organ atau jaringan tubuh, transusi darah,
implant obat dan atau alat kesehatan.
2. Transplantasi organ atau jaringan tubuh, transusi darah sebahai mana di
maksud dalam ayat 1 dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan
dilarang untuk tujuan komersial.(Hanifah M.J & Amir.A. 1999)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Transplantasi organ adalah pemindahan organ dari satu tubuh yang
lainnya atau pemindahan organ dari donor ke resipien yang organnya
mengalami kerusakan. (Fitria C.N. 2012)
Berdasarkan UU Kesehatan Tahun 2009, Transplantasi adalah
tindakan medis untuk memindahkan organ atau jaringan tubuh manusia yang
berasal dari tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk mengganti
jaringan dan organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
Menurut pasal 1 ayat 5 Undang-undang kesehatan, transplantasi organ
adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringa
tubuh manusia yangberasal dari tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang
lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ
atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
Organ tubuh yang ditransplantasikan biasa adalah organ vital seperti
ginjal, jantung, dan mata. Namun dalam perkembangannya organ-organ tubuh
lainnya pun dapat ditransplantasikan untuk membantu orang yang sangat
memerlukannya.

B. SARAN
Dengan adanya pembuatan makalah ini ini, kelompok mengharapkan
dapat menambah wawasan pembaca khususnya bagi para perawat pemula
yang sedang kiat-kiatnya dalam menambah wawasan untuk menuju perawat
yang ahli, professional dan berwawasan luas dalan menangani kesehatan yang
ada di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Fitria C.N. 2012. Etika Biomedis. Volume 8. Surakarta

Grace P.A & Borley N.R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta. Penerbit
Erlangga

Hanifah M.J & Amir.A. 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan Edisi 3.
Jakarta. EGC

Sudarto M. 2018. Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah.Yogyakarta. CV.Budi Utama

Zulkarnaen M.F.2012. Implementasi Medikolegal Transplantasi Organ Dari


Donor Jenazah Untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat. Vol.9 No.2.
Semarang