Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau yang lebih dikenal dengan “LGBT”
akhir-akhir ini memang sedang ramai diperbicangkan. Perilaku dan fenomena LGBT sudah
lama terjadi di Indonesia maupun di belahan bumi lain. Namun, LGBT menjadi isu dan topik
diskusi yang melibatkan negara dan institusi internasional baru belakangan ini saja terjadi.

Bagi masyarakat Indonesia yang masih setia pada norma dan tradisi agama, sangat
wajar kalau mereka menentang. Lebih dari itu, alasan mereka tidak saja norma agama,
melainkan juga dikhawatirkan dan mempengaruhi pertumbuhan remaja yang masih dalam
proses pencarian identitas diri, sehingga akan membawa mereka ke gaya hidup yang
dianggap menyalahi adat dan kepantasan sosial.

Bagi pejuang pembela hak asasi manusia, LGBT itu hak seseorang yang mesti
dihargai. Maka tak bisa dihindari pro-kontra baik mereka yang membahas dari sisi psikologis,
ilmiah, analisis teologi, maupun kebijakan publik yang mesti diambil pemerintah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu penyimpangan seksual LGBT?

2. Faktor penyebab dari penyimpangan sosial LGBT?

3. Pandangan secara HAM terhadap penyimpangan seksual LGBT

4. Pandangan Islam terhadap penyimpangan seksual LGBT

5. Bagaimana usaha-usaha pencegahan penyimpangan seksual

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan karya tulis ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi
tentang masalah sosial yang ada di masyarakat tentang penyimpangan seksual khususnya
LGBT.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian LGBT

LGBT merupakan sebuah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender.
Pengertian LGBT tersebut secara global akan kita bahas mengenal lebih jauh tentang duna
LGBT:

a. Lesbian

adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama
perempuan. Istilah ini juga merujuk kepada perempuan yang mencintai perempuan baik
secara fisik, seksual, emosional, atau secara spiritual.

b. Gay

adalah istilah bagi laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki.
Istilah ini juga merujuk kepada laki-laki yang mencintai laki-laki baik secara fisik, seksual,
emosional, atau secara spiritual.

c. Biseksual

adalah istilah untuk seseorang yang mempunyai ketertarikan romantis, seksual, atau
kebiasaan seksual kepada pria maupun wanita. Istilah ini umumnya digunakan dalam konteks
ketertarikan manusia untuk menunjukkan perasaan romantis atau seksual kepada pria maupun
wanita sekaligus. Istilah ini juga didefinisikan sebagai meliputi ketertarikan romantis atau
seksual pada semua jenis identitas gender atau pada seseorang tanpa memperdulikan jenis
kelamin atau gender biologis orang tersebut, yang terkadang disebut panseksualitas.

d. Transgender

adalah seseorang yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan
seksnya yang ditunjuk saat lahir. Orang transgender juga terkadang disebut transseksual jika
ia menghendaki bantuan medis untuk transisi dari satu seks ke seks lainnya. Selain mencakup
orang yang identitas gendernya berlawanan dengan seksnya yang ditunjuk, istilah transgender
juga dapat mencakup orang-orang yang tidak spesifik maskulin atau feminin. Seseorang
transgeder dapat mengidentifikasi dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual
biseksual maupun aseksual.

LGBT bukanlah penyakit kejiwaan dan bukan penyebab efek psikologis negatif,
prasangka terhadap kaum LGBT Dari semua definisi diatas walaupun berbeda dari sisi
pemenuhan seksualnya, akan tetapi kesamaannya adalah mereka memiliki kesenangan baik
secara psikis ataupun biologis dan orientasi seksualnya bukan saja dengan lawan jenis akan
tetapi bisa juga dengan sesama jenis.

2
2.2 Sejarah LGBT

Sebelum revolusi seksual pada tahun 1960-an, tidak ada kosakata non-peyoratif untuk
menyebut kaum yang bukan heteroseksual. Istilah terdekat “gender ketiga”, telah ada sejak
tahun 1860-an, tetapi tidak banyak disetujui.
Istilah pertama yang banyak digunakan “homoseksual”, dikatakan mengandung
konotasi negatif dan cenderung digantikan oleh “homofil” pada era 1950-an dan 1960-an dan
lalu gay pada tahun 1970-an. Frasa “gay dan lesbian” menjadi lebih umum setelah identitas
kaum lesbian semakin terbentuk. Pada tahun 1970, Daughters of Bilitis menjadikan isu
feminisme atau hak kaum gay sebagai prioritas. Maka, karena kesetaraan didahulukan,
perbedaan peran antar laki-laki dan perempuan dipandang bersifat patriarkal oleh feminis
lesbian. Banyak feminis lesbian yang menolak bekerja sama dengan kaum gay. Lesbian yang
lebih berpandangan esensialis merasa bahwa pendapat feminis yang separatis dan beramarah
itu merugikan hak-hak kaum gay. Selanjutnya, kamu biseksual dan transgender juga meminta
pengakuan dalam komunitas yang lebih besar.
Setelah euforia kerusuhan Stonewall yang terjadi Stonewall Inn, kawasan Greenwich
Village, New York City mereda, yang dimulai dari akhir 1970-an dan awal 1980-an, terjadi
perubahan pandangan; beberapa gay dan lesbian menjadi kurang menerima kaum biseksual
dan transgender. Kaum transgender dituduh terlalu banyak membuat stereotip dan biseksual
hanyalah gay atau lesbian yang takut untuk mengakui identitas seksual mereka. Setiap
komuntas yang disebut dalam LGBT telah berjuang untuk mengembangkan identitasnya
masing-masing, seperti apakah, dan bagaimana bersekutu dengan komunitas lain; konflik
tersebut masih terus berlanjut hingga kini.

2.3 Sejarah LGBT di Indonesia


Budaya rasa malu yang melekat pada homoseksualitas, aktivitas homoseksual jarang
tercatat dalam sejarah Indonesia. Tidak seperti di budaya Asia lainnya seperti India, Cina atau
Jepang, erotika homoseksual dalam lukisan atau patung hampir tidak ada dalam seni rupa
Indonesia.
Homoseksualitas hampir tidak pernah direkam atau digambarkan dalam sejarah
Indonesia. Sebuah pengecualian langka adalah catatan abad ke-18 mengenai dugaan
homoseksualitas Arya Purbaya, seorang pejabat di istana Mataram, meskipun tidak jelas
apakah itu benar-benar didasarkan pada kebenaran atau sebuah rumor kejam untuk
mempemalukan dirinya.
Meskipun waria, laki-laki yang berpenampilan seperti wanita, dan pelacur, telah lama
memainkan peran mereka dalam budaya Indonesia, identitas homoseksualitas laki-laki (gay)
dan perempuan (lesbian) di Indonesia hanya diidentifikasi baru-baru ini, terutama melalui
identifikasi dengan rekan-rekan gay dan lesbian barat mereka, melalui film, acara televisi,
dan media. Sebelum rezim Orde Baru Soeharto budaya lokal Indonesia mengenai gay dan
lesbian belum ada.
Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan tertua di
Asia Tenggara. Aktivisme hak-hak gay di Indonesia dimulai sejak 1982 ketika kelompok
kepentingan hak-hak gay didirikan di Indonesia. “Lambda Indonesia” dan organisasi serupa
lainnya muncul di akhir 1980-an dan 1990-an. Saat ini, ada beberapa kelompok utama LGBT
di negara ini termasuk “Gaya Nusantara” dan “Arus Pelangi”. Sekarang ada lebih dari tiga
puluh kelompok LGBT di Indonesia.

3
2.4 Persentase Pengidap LGBT
Dalam modernitas Barat, menurut berbagai penelitian, 2% sampai 13% dari populasi
manusia adalah pengidap LGBT atau pernah melakukan hubungan sesama jenis dalam
hidupnya. Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim
melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun relatif sedikit peserta dalam
penelitian ini menyatakan diri mereka sebagai kaum LGBT atau bisa dikatakan homoseksual.

2.5 Faktor-Faktor Penyebab LGBT

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab LGBT tersebut, di antaranya :

1. Faktor keluarga

Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya memiliki peranan yang
penting bagi para anak untuk lebih cenderung menjadi seorang anggota LGBT daripada hidup
normal layaknya orang yang lainnya.

a). Ketika seorang anak mendapatkan perlakuan yang kasar atau perlakuan yang tidak baik
lainnya, maka pada akhirnya kondisi itu bisa menimbulkan kerenggangan hubungan keluarga
serta timbulnya rasa benci si anak pada orang tuanya. Sebagai contoh adalah ketika seorang
anak perempuan mendapatkan perlakuan yang kasar atau tindak kekerasan lainnya dari ayah
atau saudara laki-lakinya yang lain, maka akibat dari trauma tersebut nantinya anak
perempuan tersebut bisa saja memiliki sifat atau sikap benci terhadap semua laki-laki.

b). Akibat sikap orang tua yang terlalu mengidam-idamkan untuk memiliki anak laki-laki
atau perempuan, namun kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya. Kondisi seperti ini
bisa membuat anak akan cenderung bersikap seperti apa yang diidamkan oleh orang tuanya.

c). Orang tua yang terlalu mengekang anak juga bisa malah menjerumuskan anak pada
pilihan hidup yang salah.

d). Kurangnya didikan perihal agama dan masalah seksual dari orang tua tua kepada anak-
anaknya. Orang tua sering beranggapan bahwa membicarakan masalah yang menyangkut
seksual dengan anak-anak mereka adalah suatu hal yang tabu, padahal hal itu justru bisa
mendidik anak agar bisa mengetahui perihal seks yang benar.

2. Faktor Lingkungan dan Pergaulan

Lingkungan serta kebiasaan seseorang dalam bergaul disinyalir telah menjadi faktor
penyebab yang paling dominan terhadap keputusan seseorang untuk menjadi bagian dari
komunitas LGBT. beberapa point terkait dengan faktor ini adalah :

a). Seorang anak yang dalam lingkungan keluarganya kurang mendapatkan kasih sayang,
perhatian, serta pendidikan baik masalah agama, seksual, maupun pendidikan lainnya sejak
dini bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak semestinya. Di saat anak tersebut mulai asik
dalam pergaulannya, maka ia akan beranggapan bahwa teman yang berada di dekatnya bisa
lebih mengerti, menyayangi, serta memberikan perhatian yang lebih padanya. Dan tanpa ia

4
sadari, teman tersebut justru membawanya ke dalam kehidupan yang tidak benar, seperti
narkoba, miras, perilaku seks bebas, serta perilaku seks yang menyimpang (LGBT).

b). Masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar negeri mau tidak mau telah dapat
mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat kita dan pada akhirnya terjadilah pergeseran
norma-norma susila yang dianut oleh sebagian masyarakat. sebagai contohadalah perilaku
seks yang menyimpang seperti seks bebas maupun seks dengan sesama jenis atau yang lebih
dikenal datau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT.

3. Faktor Genetik

Dari beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor pendorong
terjadinya homoseksual, lesbian,atau perilaku seks yang menyimpang lainnya bisa berasal
dari dalam tubuh si pelaku yang sifatnya bisa menurun dari anggota keluarga terdahulu. ada
beberapa hal yang perlu Anda ketahui terkait masalah ini, seperti :

a). Dalam dunia kesehatan, pada umumnya seorang laki-laki normal memiliki kromosom XY
dalam tubuhnya, sedangkan wanita yang normal kromosomnya adalah XX. Akan tetapi
dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang pria bisa saja memiliki jenis kromosom
XXY, iniartinya bahwa laki-laki tersebut memiliki kelebihan satu kromosom. Akibatnya,
lelaki tersebut bisa memiliki berperilaku yang agak mirip dengan perilaku perempuan.

b). Keberadaan hormon testosteron dalam tubuh manusia memiliki andil yang besar terhadap
perilaku LGBT. Seseorang yang memiliki kadar hormon testosteron yang rendah dalam
tubuhnya, maka bisa mengakibatkan antara lain berpengaruh terhadap perubahan
perilakunya, seperti perilaku laki-laki menjadi mirip dengan perilaku perempuan.

4. Faktor akhlak dan Moral

Faktor moral dan akhlak yang dimiliki seseorang juga memiliki pengaruh yang besar
terhadap perilaku LGBT yang dianggap menyimpang. Ada beberapa hal yang dapat
berpengaruh pada perubahan akhlak dan moral yang dimiliki manusia yang pada akhgirnya
akan menjerumuskan manusia tersebut kepada perilaku yang menyimpang seperti LGBT,
yaitu :

a). Iman yang lemah dan rapuh. Ketika seseorang memiliki tingkat keimanan yang lemah dan
rapuh, besar kemungkinan kondisi tersebut akan membuatnya lemah dalam hal
mengendalikan hawa nafsu. Kita tahu bahwa iman adalah benteng yang paling efektif dalam
diri seseorang untuk menghindari terjadinya perilaku seksual yang menyimpang. Jadi dengan
lemahnya iman, maka kekuatan seseorang untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya akan
semakin kecil, dan itu nantinya bisa menjerumuskan orang itu pada perilaku yang
menyimpang, salah satunya dalam hal seks.

b). Semakin banyaknya rangsangan seksual. Banyak contoh yang bisa kitaambil sebagai
pemicu rangsangan seksual seseorang. Misalnya semakin maraknya CD porno, majalah
porno, atau video-video lain yang bisa kita akses melalui internet.

5
5. Faktor Pendidikan dan Pengetahuan Tentang Agama

Faktor internal lainnya yang menjadi penyebab kemunculan perilaku seks


menyimpang seperti kemunculan LGBT adalah pengetahuan serta pemahaman seseorang
tentang agama yang masih sangat minim. Di atas dikatakan bahwa agama atau keimanan
merupakan benteng yang paling efektif dalam mengendalikan hawa nafsu serta dapat
mendidik kita untukbisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Untuk
itulah, sangat perlu ditanamkan pengetahuan serta pemahaman agama terhadap anak-anak
sejak usia dini untuk membentuk akal, akhlak, serta kepribadian mereka.

2.6 LGBT Menurut Pandangan Islam

Dalam hal ini, Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Quran secara jelas akan ancaman
yang keras bagi pelaku-pelakunya. Penjelasan tersebut terkandung dalam Al-Quran dan
Hadist sebagai berikut:

a. Surah Dalam Al-Quran

Q.S. Al-Ankabut ayat 31-32

Q.S. Hud ayat 82-83

Q.S. Asy-Syura ayat 165-166

6
b. Hadist Nabi Muhammad SAW

Dari penjelasan diatas, sudah sangat jelas bahwa islam sangat keras dalam menyikapi
masalah LGBT. Dalam Al-Quran kita telah diberi rambu-rambu atau telah diberi tahu akan
bahaya LGBT.

Sebelum LGBT ada di zaman sekarang dahulu di masa Nabi Luth juga telah terjadi
seperti ini. Dan hukuman Allah SWT sangatlah pedih dan menakutkan (Allah SWT melaknat
bagi orang-orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Nabi Luth).

Bahkan dijelaskan juga bahwa saat itu, Allah SWT menghukum kaum Nabi Luth
yang melakukan perbuatan semacam LGBT dengan hujan batu yang bertubi-tubi, dan batu
tersebut terbuat dari tanah yang terbakar.

Sesungguhnya, LGBT merupakan suatu perbuatan yang menyimpang dari fitrah


manusia yang sesungguhnya. Dengan kata lain, hukum LGBT dalam islam adalah haram.

2.7 Hak Hukum LGBT

Hukum pidana nasional tidak melarang hubungan homoseksual pribadi dan yang tidak
bersifat komersial antara orang dewasa. Sebuah RUU nasional untuk mengkriminalisasi
homoseksualitas, bersama dengan hidup bersama, perzinahan dan praktek sihir, gagal
diberlakukan pada tahun 2003 dan tidak ada rencana berikutnya untuk memperkenalkan
kembali undang-undang tersebut. Pada tahun 2002, Pemerintah Indonesia memberi provinsi
Aceh hak untuk memperkenalkan hukum syariah Islam yang dapat mengkriminalisasi
homoseksualitas, meskipun hanya untuk warga Muslim.

Pasangan sesama jenis Indonesia dan rumah tangga yang dikepalai oleh pasangan
sesama jenis tidak memenuhi syarat untuk salah satu perlindungan hukum yang tersedia
untuk pasangan lawan jenis menikah. Pentingnya di Indonesia untuk harmoni sosial
mengarah ke tugas daripada hak untuk ditekankan,yang berarti bahwa hak asasi manusia

7
bersama dengan hak-hak homoseksual sangat rapuh. Namun, komunitas LGBT di Indonesia
telah terus menjadi lebih terlihat dan aktif secara politik.

Hukum Indonesia tidak mengkriminalisasi homoseksualitas, jika dilakukan secara


pribadi,dan di antara orang dewasa. Namun, hukum Indonesia tidak mengakui pernikahan
gay, serikat sipil atau manfaat kemitraan domestik. Pasangan sesama jenis tidak memenuhi
syarat untuk mengadopsi anak di Indonesia. Hanya pasangan menikah yang terdiri dari suami
dan istri yang bisa melakukan mengadopsi. Tidak ada hukum untuk melindungi warga negara
Indonesia dari diskriminasi atau pelecehan atas dasar orientasi seksual atau identitas gender
mereka.

Jadi,intinya di Indonesia sendiri penagnan kasus homo seksual masihlah lembek


karena pemerintah tidak secara tegas melarangnya.hanya untuk kasus kasus komersial sajalah
yang dipidanakan sedangkan untuk kasus-kasus sosialnya masih belum dipidanakan,padahal
jelas-jelas dalam UU Perkawinan no.1 tahun 1974 melarang akan adanya pernikahan sejenis.

Karena tanpa dipungkiri hubungan sesama jenis dapat menimbulkan keinginan untuk
pernikahan sesama jenis pula ujungnya dan hal tersebut pastilah juga telah melanggar norma-
norma yang terpatri dalam masyarakat termasuk norma agama khususnya norma agama islam
yang jelas jelas melarang akan hal tersebut,terlebih lagi mayoritas penduduk Indonesia yang
beragam muslim hal tersebut pastilah mempengaruhi pandangan bangsa terhadap suatu hal
karena factor dari agama mayoritas masyarakat yang bersangkutan.

2.8 Kondisi Kehidupan Kaum LGBT

Indonesia memiliki penganut agama Islam paling banyak di dunia dengan 87% dari
warganya menyebut diri sebagai Muslim. Kebijakan keluarga dari pihak berwenang
Indonesia, tekanan sosial untuk menikah dan agama berarti bahwa homoseksualitas pada
umumnya tidak didukung. Baik Muslim tradisionalis dan modernis, dan juga kelompok
agama lainnya seperti Kristen, terutama Katolik Roma umumnya menentang
homoseksualitas. Banyak kelompok fundamentalis Islam seperti FPI (Front Pembela Islam)
dan FBR (Forum Betawi Rempuk) secara terbuka memusuhi orang-orang LGBT dengan
menyerang rumah atau tempat mereka bekerja dari orang-orang yang mereka yakini ancaman
bagi nilai-nilai Islam.

Diskriminasi eksplisit dan homofobia kekerasan dilakukan terutama oleh para


ekstremis religius, sementara diskriminasi halus dan marjinalisasi terjadi dalam kehidupan
sehari-hari antara teman-teman, keluarga, di tempat kerja atausekolah.Orang-orang LGBT
sering mengalami pelecehan yang dilakukan oleh para polisi tapi sulit untuk
mendokumentasikannya karena korban menolak untuk memberikan pernyataan karena
seksualitas mereka.Orang-orang LGBT sering ditangkap atau dituduh karena orientasi
seksual mereka. Juga gay di penjara mengalami pelecehan seksual karena orientasi seksual
mereka, dan sering tidak melaporkannya karena menjadi trauma dan takut dikirim kembali ke
penjara dengan mengalami kekerasan lebih lanjut

8
Indonesia memang memiliki reputasi sebagai sebuah negara Muslim yang relatif
moderat dan toleran, yang memang memiliki beberapa aplikasi untuk orang-orang LGBT.
Ada beberapa orang LGBT di media dan pemerintah nasional telah memungkinkan
komunitas LGBT terpisah ada, bahkan mengatur acara-acara publik. Namun, adat istiadat
sosial Islam konservatif cenderung mendominasi dalam masyarakat yang lebih luas.
Homoseksualitas dancross-dressing tetap tabu dan orang-orang LGBT secara berkala menjadi
sasaran hukum agama setempat atau kelompok main hakim sendiri oleh para fanatik.

2.9 Pendapat Pro Penyetujuan HAM LGBT

Banyak masyarakat Indonesiayang menyetujui jika perilaku LGBT dimasukan ke


dalam hak asasi manusia. Sejumlah pejuang hak asasi manusia menginginkan keadilan bagi
pengidap LGBT. Hal itu, didasarkan bahwa LGBT hal yang tidak dapat dipilih ataupun
dihindari. Sebaiknya tidak ada lagi diskriminasi terhadap kaum LGBT dan memberikan
kesempatan mereka untuk hidup nyaman dalam masyarakat. Kelompok LGBT dianggap
berbeda karena orientasi seksual yang tidak wajar. Mereka juga manusia yang ingin diterima
di tengah masyarakat, hidup nyaman dan diinginkan. Peningkatan kualitas hidup di sini,
termasuk mengembalikan hak mereka untuk saling memiliki di masyarakat.

2.10 Pendapat Kontra terhadap Adanya HAM LGBT

Hampir mayoritas rakyat negeri ini tak sependapat dengan legalilitas pernikahan
sejenis. Pernikahan sejenis dianggap sebagai bentuk penyimpangan terhadap norma susila
dan agama.

Pendapat beberapa agama yang ada di Indonesia atas pernikahan sejenis itu. Dalam
pandangan Buddha, pernikahan sejenis merupakan halangan untuk mencapai kesucian.
Bahkan homoseksual dianggap sebagai salah satu faktor penyebab penurunan moral di
masyarakat. Padahal, untuk mencapai kesucian itu diperlukan landasan moral yang baik.

Menurut ideologi Kristen (Protestan), tujuan utama pernikahan adalah untuk


melestarikan kehidupan atau keturunan. Ini hanya bisa dicapai bila mereka yang menikah
berlainan jenis kelamin.

Agama Katholik pun memiliki paham yang sama. Dalam suatu ikatan pernikahan
hanya bisa dilakukan oleh pria dan wanita atau laki-laki dan perempuan. Para pemeluk agama
ini juga menganggap perilaku homoseksual itu sebagai bentuk penyimpangan.

Penolakan atas pernikahan sejenis juga dianut oleh agama Hindu. Agama ini jelas-
jelas melarang pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berjenis kelaminsama. Tak
beda dengan empat agama itu, Konghucu pun memililki pemahaman yang sama. Pemeluk
Konghucu memilliki prinsip, bahwa pernikahan itu terjadi antara laki-laki dan wanita.Hampir
semua masyarakat mengetahui, bahwa Islam juga menolak dengan keras pernikahan sejenis.

9
2.11 LGBT Bukan HAM

LGBT bukanlah bagian dari hak asasi manusia karena hak asasi manusia merupkan
hak yang diberikan oleh tuhan yang menciptakan kita sebagai anugrah yang maha kuasadan
tuhan menciptakan kita berpasang pasangan dengan lawan jenis kita.

Kita tidak dapat mengatakan sesuatu hal sebagai hak terlebih lagi hak asasi manusia
bila kita juga telahmelanggar hak orang lainkarena suatu hak orang yang satu tidak mungkin
bersingguangan dengan hak manusia yang lainnya.

Karena bila kita berbicara homoseksual itu artinya kita membicarakan pihak yang
dirugikan pula yaitu:

a. Orang tua yang dirampas haknya oleh kita karena keinginan setiap orang tua untuk
menimang cucu dari darah dagingnya sendiri sirna karena secara biologis sesama jenis
tidaklah mungkin dapat menghasilkan keturunan karena tidakbertemunya antara sel telur dan
sel sperma.

b. Terampasnya hak pasangan yang sebenarnya/yang sejati karena manusia itu telah
diciptakan berpasang pasangan seperti magnet kutub positif dengan magnet kutub
negative,maka bila magnet yang positif itu bertemu dengan magnet yang positif juga maka si
magnet pasangannya yaitu yang berkutub negative akan kehilangan pasangannya,dan hal
tersebut bisa saja malah memunculkan masalah baru yaitu si pasangan yang lain
akanmencoba menemukan pasangan yang sejenis juga padahal sebenarnya mereka tidak akan
dapat menyatu satu sama lainnya.

c. Terampasnya hak manusia yang lainnya karena perbandingan antara laki-laki dan
perempuan adalah 1:4 bila kaum laki laki sebagiannya adalah gay misalnya maka
perbandingannya akan menjadi 1:8 itu artinya hal tersebut tidaklah baik bagi ekosistem
karena pasti akan banyak hal hal yang tidak diinginkan terjadi.

d. Sebenarnya tujuan pernikahan adalah menciptakan keluarga yang harmonis dan


melanjutkan generasi,maka bila hal tersebut dilakkukan sesama jenis tidaklah mungkin dapat
menghasilkan keturunan dan apabila itu terjadi maka regenerasii akan terhenti yang itu sama
artinya dengan pemberhentian kehidupan dunia.

Oleh karena itu, menjadi homoseksual bukanlah merupakan suatu pilihan apalagi
suatu hak asasi manusia karena hal tersebut,kita telah merampas hak-hak manusia yang
lainnya.

Dan menurut pandangan kami sebenarnya homoseksual merupkan penyakit kejiwaan yang
dapat disembuhkan karena hal tersebut bukanlah gejala alamiah karena yang alamiah adalah
ketertarikan dengan lawan jenis bukan dengan sesama jenis jadi, jelaslah hal tersebut
bukanlah bagian dari HAM.

10
2.12 Bahaya LGBT

Keberadaan komunitas LGBT mau tidak mau menimbulkan dampak yang tidak
sedikit, tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan saja, akan tetapi hal itu juga
berpengaruh terhadap kehidupan sosial si pelaku. Berikut beberapa dampak negative dari
LGBT, di antaranya :

A). Dari Segi Kesehatan

Timbulnya fenomena LGBT mau tidak mau telah berdampak pada kesehatan diri si pelaku, di
mana perilaku tersebut bisa menyebabkan berbagai jenis infeksi penyakit yang berbahaya,
seperti :

1. HIV / AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau yang juga dikenal dengan AIDS
merupakan salah satu infeksi penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia, di mana akibat
infeksi ini bisa menghantarkan manusia tersebut pada kematian. Virus HIV bekerja dengan
cara menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh tidak lagi bisa melakukan
perlawanan terhadap terjadinya infeksi maupun serangan penyakit lainnya.Di Indonesia,
kasus penyebaran virus HIV mulai dari sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di Bali
hingga bulan Desember 2013 telah tercatat sekitar 368 daerah telah menjadi tempat
penyebaran virus tersebut. Dan salah satu media penyebaran virus berbahaya ini adalah
melalui hubungan seks. Jadi ketika seseorang yang belum terjangkit virus HIV lalu ia
melakukan hubungan seks dengan orang yang telah mengidap virus HIV tanpa menggunakan
alat pelindung seperti kondom, maka penularan virus HIV tersebutbesar kemungkinan akan
terjadi.

2. Penyakit kelamin berbahaya

Kemunculan berbagai jenis penyakit kelamin menular yang disebabkan baik itu oleh
bakteri maupun virus merupakan salahsatu dampak buruk dari kebiasaan LGBT. berikut ini
beberapa jenis penyakit tersebut :

a. Sifilis (Raja Singa), yaitu penyakit seksual yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri
treponema pallidum. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan,
demensia,kebutaan, masalah pendengaran, impotensi, hingga kematian.

b. Gonore (Kencing Nanah), yaitu penyakit seksual menular yang disebabkan oleh infeksi
bakteri Neisseria gonorrhoeae. Dampak dari penyakit ini bisa dirasakan oleh beberapa daerah
dalam tubuh kita seperti rektum, mata, atau tenggorokan.

c. Chlamydia, yaitu penyakit seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Klamidia
Trachomatis. Meskipun dalam beberapa kasus pasien tidak mengalami gejala apapun, akan
tetapi penyakit ini juga bisa berpengaruh pada organ tubuh seperti mata, rektum, serta
tenggorokan.

11
d. Kutil kelamin, yaitu penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi virus HPV (human
Papilloma Virus) yang menyebabkan kemunculan kutil di sekitar alat kelamin atau area
dubur. Mereka yang terinfeksi virus HPV bisaberpotensi terkena penyakit berbahaya seperti
kanker serviks, kanker penis, serta kanker rektum.

e. Herpes Genital, yaitu sejenis penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi virus herpes
simpleks (HSV) yang menyebabkan timbulnya luka melepuhberwarna kemerahan yang
disertai dengan timbulnya rasa sakit di area genital.

3. Mengganggu Reproduksi

Perilaku LGBT juga bisa berakibat pada reproduksi si pelaku. Mereka yang gemar
melakukan kegiatan seks yang menyimpang bisa mengalami gangguan peranakan
(reproduksi). Bagi pelaku homoseksual, kondisi ini bisa menyebabkan berbagai sumber
utama pengeluaran mani menjadi semakin melemah. Selain itu, kondisi ini akan dapat
menimbulkan gangguan pada produksi sperma yang dihasilkan pada testis, di mana sperma
bisa terbunuh dan pada akhirnya akan menyebabkan kemandulan.

4. Dari Segi Sosiologi

Kebiasaan perilaku LGBT selain dapat menyebabkan masalah pada kesehatan juga dapat
berakibat pada kehidupan sosial,yaitu dapat mengikis keharmonisan hidup yang tumbuh di
masyarakat serta semakin meningkatkan angka tindak kemaksiatan yang pada akhirnya sulit
untuk dikendalikan.

5. Dari segi psikologis

Kebiasaan LGBT juga berdampak buruk bagi kondisi psikologis atau kejiwaan
seseorang serta dapat memberikan efek yang begitu kuat pada syaraf si pelaku. Seorang yang
dikategorikan LGBT bisa memiliki kepercayaan bahwa dirinya bukanlah seorang lelaki atau
pun perempuan yang sejati. Kondisi tersebut tentu akan berdampak pada timbulnya rasa
khawatir terhadap identitas diri serta seksualitasnya. Mereka itu akan lebih cenderung
memilih bersama dengan orang yang berkepribadian sejenis dengannya. Kebiasaan tersebut
akan mempengaruhi akal pelaku, dan akhirnya ia akan menjadi seorang yang pemurung.
Mereka yang memiliki kebiasaan seks menyimpang seperti homoseksual akan selalu merasa
tidak puas dengan pelampiasan hawa nafsunya.

6. Dari Segi Hubungan Kekeluargaan

Kebiasaan LGBT juga bisa mengganggu bahkan merusak hubungan keluarga. Ketika salah
satu dari anggota keluarga memiliki kebiasaan seks yang menyimpang, maka kondisi tersebut
tentu akan dapat menyebabkan berbagai hal, seperti :

a. Timbulnya kekecewaan dan rasa malu dari anggota keluarga yang lainnya yang pada
akhirnya timbullah pertikaian di antara sesama anggota keluarga.

12
b. Menimbulnya tekanan mental pada anggota keluarga lainnya. Ketika seorang anak tinggal
di antara keluarga yang di dalamnya terdapat pertikaian, maka hal itu akan dapat memberikan
tekanan mental padanya,sehingga kondisi kejiwaan anak tersebut akan ikut terpengaruh.

c. Dapat meningkatkan angka perceraian.

7. Dari Segi Keamanan

Kebiasaan LGBT juga berdampak buruk bagi sistem keamanan di suatu wilayah,
seperti semakin meningkatnya angka pelecehan seksual yang terjadi pada anak-anak.

2.13 Kemungkinan Legalnya LGBT

Legalnya LGBT di Indonesia sangat kecil kemungkinannya dan hampir dipastikan


tidak mungkin karena UUD dan Uu Perkawinan telah melarangnya.Terlebih lagi mayoritas
penduduk kita yang muslim pastilah bila ada wacana hal tersebut akan di legalkan pasti akan
bertindak karena bagi ajaran umat muslim hal tersebut adalah salah dan tidak dibenarkan
apapun keadaanya.

2.14 Pencegahan LGBT

Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah LGBT, yaitu :

1.Selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan

2.Menanamkan dalam diri, keluarga, teman, dan warga masyarakat tentang bahayanya
perilaku LGBT, baik bagi kesehatan, psikologis, kehidupan sosial, dan lain sebagainya.

3.Berpartisipasi dalam upaya penolakan legalisasi yang mendukungperilaku seksual yang


menyimpang yang akan dapat merusak moral generasi penerus bangsa

4.Bersama-sama dengan pemerintah setempat untuk melakukan tidakan antisipasi terhadap


penyebaran LGBT

5.Berpartisipasi untuk ikut membantu dalam program penyuluhan serta pengobatan bagi
mereka yang sudah terlanjur memiliki kebiasaan seks menyimpang agar mereka bisa kembali
normal

2.15 Hasil Wawancara

Kami telah melakukan wawancara kepada salah satu narasumber yang merupakan
seseorang yang mengaku LGBT. Dia adalah seseorang perempuan berinisial “AF” yang
merupakan mahasiswa hukum di sebuah Perguruan Tinggi di Semarang.

Berikut merupakan hasil wawancara singkat kami :

Pewawancara : “Apa yang mendasari kamu menjadi LGBT?

AF : “Awalnya itu ketika aku SMP aku ikut pertandingan olahraga dan
mempertemukan banyak sekolah gitu, terus aku gak sengaja ketemu temen lama aku, dia

13
cewek. Dia sekolah di tempat yang beda dengan aku, terus aku jadi sering contact-an sama
dia. Pernah suatu waktu aku diajakin sama dia main ke tempat main dia gitu, dan ternyata aku
baru tau kalo itu adalah tongkrongan orang-orang yang bisa dibilang LGBT. Dan aku baru
tahu juga bahwa teman lama aku adalah seorang biseksual yaitu suka cowok tapi suka cewek
juga. Awalnya aku rada ngeri juga sih, rada takut. tapi sebenernya mereka adalah orang-orang
yang baik. Makanya lama-lama aku jadi temenan sama mereka. Dan jadi nyaman temenan
sama mereka. Mereka juga ada beberapa berasal dari sekolah teman lama aku itu. Sejak saat
itu aku jadi keikutan mereka, keikutan suka sama cewek sampe sekarang. Sampe sekarang
aku juga masih sering main dengan mereka”.

Pewawancara : “Jadi kamu sama cewek, berarti kamu lesbian? Gak pernah terfikir untuk
suka sama cowok?”

AF : “Sebenernya aku masih suka sama cowok ya. Ya bisa dibilang aku biseks.
Aku juga masih liat cowok itu ya ganteng. Aku juga masih seneng ketika diperhatiin sama
cowok. Aku bukan yang bener-bener ilfeel sama cowok. Aku juga masih suka jalan sama
cowok kok. Tetapi diantara cewek atau cowok ya aku lebih pilih cewek sih nggak tau kenapa
mungkin karena apa ya cewek itu lebih peka kalau cowok kan nggak. Walaupun aku dekat
sama cewek dan deket cowok, pasti aku lebih feel ke cewek gitu lho, kalo ke cowok itu aku
bodo amat, mau dia ngapain juga aku bodo amat. Kalau ke cewek tuh ya aku ya lebih
perhatian dan kayak ada timbal baliknya gitu loh dia juga perhatian ke aku gitu.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

LGBT bukanlah suatu pilihan yang di benarkan apalagi merupakan suatu hak asasi
manusia karena homo seksual bisa menimbulkan keburukan-keburukan pada masyarakat dan
akan merampas hakorang lain juga.

Karena bila itu adalah suatu hak terlebih lagi merupakan hak asasi manusia hal
tersebut tidaklah mungkin menimbulkan kerugian-kerugian pada orang lain juga.dan dengan
dilakukannya homo seksual maka akan lebih terbuka kemungkinan akan penyakit kelamin
berbahaya.

Jadi pada intinya hal tersebut tidaklah dapat dikatagorika sebagai hak asasi manusia
karena lebih banyak keburukannya di bandingkan kebaikannya.dan HAM yang benar adalah
HAM yang tidak menimbulkan keburukan namunmenimbulkan banyak kebaikan-kebaikan.B

3.2 Saran
Sebaiknya pemerintah lebih bertindak tegas dan berani mengatakkan bahwa hal
tersebut salah dan dilarang di Indonesia karena hal tersebut lebih banyak mengandung
keburukan bila di bandingkan dengan kebaikannya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Azza Blog. 24 Maret 2016. Makalah LGBT Dalam Pandangan Hukum


Indonesia. http://aziraazza.blogspot.in
Wikipedia. LGBT-Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas.
https://id.m.wikipedia.org
Warohmah. 29 Februari 2016. Memahami Hukum LGBT Dalam
Perspektif Hukum Islam. http://warohmah.com
Cintalia. 31 Maret 2016. 5 Penyebab LGBT dan Solusinya.
http://cintalia.com

16