Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menua merupakan proses alamiah yang tidak dapat dihindari, yang ditandai

dengan hilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan organ tubuh

memperbaiki diri dan bersifat irreversibel. Ketika memasuki masa tua tersebut,

sebagian para lanjut usia (lansia) dapat menjalaninya dengan bahagia, namun

tidak sedikit dari mereka yang mengalami hal sebaliknya, masa tua dijalani

dengan rasa ketidak bahagiaan, sehingga menyebabkan rasa ketidak nyamanan.

Sementara menurut World Health Organization (WHO) ada 3 kriteria dari lansia

ini, yaitu: elderly dengan usia 64-74 tahun, older dengan usia 75-90 tahun, dan

very old yaitu lansia yang berusia lebih dari 90 tahun (Depertemen Kesehatan

Republik Indonesia, 2013).


Jumlah populasi lanjut usia di dunia pada tahun 2013-2020 adanya

peningkatan persentase, tahun 2013 dan tahun 2020. Jumlah lansia di Indonesia

tahun 2013 sebanyak 8,9% dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 21,4%

(Kemenkes, 2014). Jumlah penduduk lanjut usia di Provinsi Bali tahun 2015

sebanyak 565,276 jiwa. Jumlah penduduk lanjut usia tertinggi pertama berada di

Kabupaten Buleleng dengan 72.600 jiwa, ke dua berada di Kabupaten Tabanan

dengan jumlah lansia 64.900 jiwa dan ke tiga berada di Kabupaten Gianyar

62,112 jiwa, Kabupaten Gianyar mengalami peningkatan jumlah penduduk

terbanyak dibandingkan Kabupaten lainnya di Provinsi Bali dari 53.225 jiwa pada

tahun 2014 menjadi 62.112 jiwa pada tahun 2015 (Dinas Kesehatan Provinsi Bali,

2015).

1
2

Meningkatnya populasi penduduk lanjut usia ini membutuhkan perhatian

dan tindak lanjut, karena seiring dengan bertambahnya usia, pada lansia lanjut

usia akan timbul perubahan-perubahan sebagai akibat proses menua (aging

process) mencakup perubahan fisik, perubahan psikososial dan perubahan sosial.

Perubahan fisik antara lain cepat lelah, gangguan nafas, sulit tidur, rambut

beruban, penglihatan berkurang, dan pelupa. Perubahan pada aspek psikologis

yang mencakup mudah marah, cepat tersinggung, gampang merasa dilecehkan,

kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan perasaan tidak berguna.

Perubahan sosial yang di alami lansi antara lain: kehilangan teman dekat,

kehilangan pasangan dan kehilangan pekerjaan dan menurunnya kemampuan

untuk terlibat dalam aktivitas sosial. Perubahan-perubahan tersebut dapat

menimbulkan perasaan tidak berguna dan tidak berharga. Perasaan tidak berguna

dan tidak berharga tersebut disebut dengan harga diri rendah (Syam’ani, 2014).
Harga diri rendah merupakan suatu evaluasi diri yang negatif dan

berhubungan dengan perasaan yang lemah, tak berdaya, ketakutan, tidak berharga,

dan tidak memadai (Keliat, 2015). Lansia yang mengalami harga diri rendah

memiliki perasaan malu, kurang percaya diri, minder, tidak berguna, rendah diri,

tidak mampu, tidak sempurna, menyalahkan diri, menarik diri dan keinginan

yang tidak tercapai, seperti keinginan untuk kembali berkumpul dengan teman-

teman dan keinginan untuk dapat melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat

dilakukan (Syam’ani, 2014)..

Berdasarkan hasil penelitian Potter, 2014 dalam Naruliita, (2017) di

Amerika Serikat, ditemukan bahwa sebanyak 26 % orang yang berusia 60-80

tahun keatas mengalami harga diri rendah. Hasil penelitian lain menurut
3

Nanthamongkolchai (2014) di Propinsi Nakhon Sawan menunjukkan bahwa

19,3% lansia mengalami harga diri rendah. Penelitian Naruliita, (2017)

menunjukkan sebagian besar lansia mengalami harga diri rendah yaitu sebanyak

111 (68,1%) orang. Hasil penelitian Setiawan (2016), didapatkan sebagian besar

responden lansia diketahui memiliki harga diri yang sedang (94,1%) dan sisanya

memiliki harga diri yang rendah (5,9%).


Dampak harga diri rendah pada lansia dapat beresiko terjadinya isolasi

sosial yaitu menarik diri sehingga menghindari interaksi dengan orang lain,

menghindari hubungan dengan orang lain, keadaan ini cenderung berpotensi

menimbulkan masalah kesehatan secara umum (fisik) maupun kesehatan jiwa

secara khusus (Ekasari, 2014). Gangguan harga diri rendah pada lansia jika harga

diri rendah tidak ditangani, maka akan mengakibatkan lansia beresiko mengalami

depresi sehingga akan menarik diri dan kemudian akan berlanjut ke perilaku

kekerasan dan resiko bunuh diri (Yosep, 2010).


Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia tahun 2015, diketahui bahwa

prevalensi gangguan harga diri rendah tahun 2014 pada kelompok usia 55-64

tahun adalah 15,9%. Angka ini meningkat pada kelompok usia 65-74 tahun yaitu

sebesar 23,2% (Depertemen Kesehatan Republik Indonesia, 2013). Berdasarkan

data profil kesehatan Provinsi Bali tahun 2015 diketahui bahwa prevalensi

gangguan harga diri rendah pada kelompok usia 55-64 tahun adalah 12,3%. Angka

ini meningkat pada kelompok usia 65-74 tahun yaitu sebesar 18,7%, sedangkan di

Kabupaten Gianyar prevalensi gangguan harga diri rendah pada kelompok usia

55-64 tahun adalah 11,1%. Angka ini meningkat pada kelompok usia 65-74 tahun

yaitu sebesar 14,6%.


4

Prevalensi harga diri rendah sangatlah tinggi pada lansia, hal ini sangat

memerlukan perhatian bagi bidang keperawatan jiwa agar lansia tetap sehat baik

secara fisik, mental, spiritual maupun sosial sampai akhir hayatnya dan juga bisa

membantu lansia dalam menyelesaikan tugas perkembangan dalam kehidupannya.

(Ramadlani, 2013). Peningkatan harga diri merupakan komponen penting dari

asuhan keperawatan untuk orang dewasa yang lebih tua karena harga diri adalah

sumber daya yang penting dan merupakan faktor yang mempengaruhi

kesejahteraan pada lansia. Salah satu upaya untuk mempertahankan harga diri dan

meningkatkan harga diri pada lansia yaitu life review therapy (Stuart & Laraia,

2016).
Life review therapy merupakan teknik dari mengingat atau meninjau

kejadian kehidupan seseorang yang melibatkan refleksi kembali pengalaman,

melakukan evaluasi, menafsirkan sebagai perbaikan untuk akhir kehidupan

seseorang. Lansia yang menghabiskan waktu untuk berpikir tentang pengalaman

masa lalu bisa meningkatkan harga diri dan kecil kemungkinannya untuk

menderita depresi. Beberapa psikolog percaya bahwa life review dapat membantu

beberapa orang menyesuaikan diri dengan kenangan masa lalu yang tidak bahagia.

Kenang-kenangan lain melihat dan meninjau kehidupan sebagai cara untuk

meningkatkan perasaan kesejahteraan, terutama pada lansia yang tidak dapat lagi

tetap aktif (Townsend, 2013).


Penelitian yang dilakukan oleh Nur Aini (2015) didapatkan hasil bahwa life

review therapy berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Life review therapy

sebagai salah satu bentuk komunikasi pada lansia untuk mengurangi rasa putus

asa dalam menghadapi hari tua sehingga dapat meningkatkan status kualitas hidup
5

lansia. Penelitian Aswanira (2015) menunjukkan ada perbedaan skor depresi

sebelum dan sesudah dilakukan life review therapy.

Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada bulan Pebruari

2018 berdasarkan data dari Profil Kesehatan Provinsi Bali tahun 2016, Kabupaten

Gianyar memiliki jumlah lansia terbanyak ketiga di Provinsi Bali dengan jumlah

lansia sebanyak 50,381 jiwa. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar tahun

2016, jumlah lansia di Kabupaten Gianyar terbanyak ada di Kecamatan Gianyar

yaitu sebanyak 14885 orang dan paling banyak terdapat di wilayah kerja

Puskesmas Gianyar I yaitu sebanyak 8872 orang, terbanyak berada di Desa

Sading yaitu sebanyak 966 orang. Jumlah lansia di Desa Sidan paling banyak ada

di Banjar Sidan yaitu sebanyak 74 orang terdiri dari 24 orang berumur 60 -75

tahun dan 50 orang berumur ≥ 75 tahun.

Berdasarkan dari fenomena yang terjadi di masyarakat dan didukung oleh

teori-teori yang ada, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “

pengaruh life review therapy terhadap tingkat harga diri pada lansia di Banjar

Sidan wilayah kerja Puskesmas Gianyar I.”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini

adalah“Adakah ada pengaruh life review therapy terhadap tingkat harga diri pada

lansia di Banjar Sidan wilayah kerja Puskesmas Gianyar I?”.

1.3 Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh life review therapy terhadap tingkat harga diri pada

lansia di Banjar Sidan wilayah kerja Puskesmas Gianyar I.


2. Tujuan Khusus
6

1) Mengidentifikasi life review therapy terhadap tingkat harga sebelum diberikan

terapi.
2) Mengidentifikasi life review therapy terhadap tingkat harga sesudah diberikan

terapi.
3) Menganalisa pengaruh life review therapy terhadap tingkat harga diri di di

Banjar Sidan wilayah kerja Puskesmas Gianyar I.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Secara Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai kajian keilmuan dalam analisis

pengaruh life review therapy terhadap tingkat harga pada lanjut usia. Selain itu,

penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian

lebih lanjut yang berkaitan dengan life review therapy terhadap pen tingkat harga

pada lanjut usia.


1.4.2 Manfaat Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau masukan

bagi Puskesmas dalam menangani lansia dalam pedoman pemberian penyuluhan

kesehatan dalam upaya meningkatkan pengetahuan secara praktis kepada

masyarakat dan petugas kesehatan serta dapat dijadikan pedoman tambahan

kepada perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat kepada lansia.

5.1 Keaslian Penelitian

Penelitian yang sudah pernah dilakukan dan sejenis dengan penelitian ini

adalah :

1. Aswanira (2015) tentang pengaruh life review therapy terhadap skor depresi

lansia di Panti Tresna Wreda Teratai Palembang. Penelitian ini adalah jenis

penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimen dengan

pendekatan one group pre-post test design. Pengambilan sampel dilakukan


7

secara metode total sampling, sebanyak 28 orang dengan kriteria inklusi

lansia yang mengalami depresi tingkat ringan dan sedang. Analisis yang

akan dilakukan dengan uji statistik Paired Sample T-Test. Hasil penelitian

diperoleh rerata skor depresi lansia sebelum life review therapy adalah 11,61

(SD= 2,061), rerata skor depresi sesudah life review therapy 10,07 (SD=

2,035). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan skor depresi sebelum

dan sesudah dilakukan life review therapy (p= 0,02). Persamaan penelitian

ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak pada variable

bebas yaitu sama-sama tentang pemberian life review therapy. Jenis

penelitian sama-sama menggunakan penelitian pre-eksperimen dengan

pendekatan one group pre-post test design dan subyek penelitian sama-sama

lansia. Perbedaan terletak pada variabel terikat dimana penelitian

sebelumnya tingkat depresi sedangkan penelitian ini tingkat harga diri

2. Nur Aini (2015) tentang pengaruh life review therapy terhadap kualitas

hidup lansia di dinas unit pelaksana teknis pelayanan sosial lanjut usia

Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif

dengan desain penelitian pre-eksperimen dengan pendekatan one group pre-

post test design. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive

sampling, sebanyak 30 orang dengan kriteria inklusi lansia yang mengalami

depresi tingkat ringan dan sedang. Analisis yang akan dilakukan dengan uji

statistik Paired Sample T-Test. Hasil analisa uji statistik Mann-Whitney

diperoleh P value Pre-test (1,000) dan Post-test (0,028), maka dapat

disimpulkan bahwa ada pengaruh life review therapy terhadap kualitas hidup
8

lansia. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti

lakukan terletak pada variable bebas yaitu sama-sama tentang pemberian

life review therapy. Jenis penelitian sama-sama menggunakan penelitian

pre-eksperimen dengan pendekatan one group pre-post test design dan

subyek penelitian sama-sama lansia. Perbedaan terletak pada variabel terikat

dimana penelitian sebelumnya kualitas hidup sedangkan penelitian ini

tingkat harga diri.