Anda di halaman 1dari 30

GARDEN CITY : Ebenezer Howard

Taman Welwyn

Selalu terjadi kehebohan saat penggusuran tempat usaha atau pembongkaran hunian,
kediaman manusia. Mengusik rasa kemanusiaan kita. Para penghuni yang tak kuat secara
ekonomi dan sosial dipaksa pindah ke luar kawasan, jauh dari lokasi semula, bahkan sampai
luar kota dengan seluruh adegan dramanya. Mereka makin tersisih dari hirup pikuk kota
dan kemilau peradabannya. Seperti sering kita temukan kasusnya pada rumah tak ber-IMB,
kios di lahan tak terurus, bedeng liar di tepi jalan, gubuk di bantaran sungai atau rel kereta
api juga bangunan kuno.

Rupanya kejadian yang masih sering kita baca dan lihat di media di era milenium sekarang
sudah terjadi sejak masanya Ebenezer Howard, sang pencetus konsep Garden City. Kita juga
sering diminta untuk ikut melestarikan bangunan dan kawasan kota kita yang menarik dan
bersejarah.

Sedihnya, umumnya kita dan para stakeholder kota kurang apresiasi dan peduli dengan
penurunan kualitas lingkungan binaan di sekitar kita. Seringnya karena kurang ilmu dan
informasi ; mana saja yang dianggap pantas dilestarikan, bagaimana cara melakukannya,
sejauh mana kita boleh memanfaatkannya sesuai keperluan kita ?

Tulisan ini mencoba mengupas bagian kecil dari pengetahuan luas yang diperlukan untuk
itu. Mengajak pembaca melihat Garden City di tempat asalnya, yang langsung dilibati
pencetusnya sendiri. Bagaimana kota itu bisa bertahan sampai sekarang, sehingga bisa
menjadi cermin dan inspirasi bagi Garden City di negeri kita.

Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya adalah kota-kota yang pernah menerapkan Garden
City di wilayahnya, dan termasuk kawasan apik pada masanya. Berputar di kepala kita ;
mengapa Garden City dipilih sebagai gaya penataan kota pada masa itu ? Mengapa kita
perlu melestarikannya ? Bagaimana E.Howard dulu membuatnya ? Apa saja prinsip Garden
City-nya Howard. ? Apa kelebihan dan kekurangannya ? Mari kita simak sedikit
mengenainya.

E. HOWARD DAN KELAHIRAN GARDEN CITY

Mulanya sebuah novel utopis tahun 1888 karya pengarang Amerika, Edward Bellamy,
“Looking Backward” ( kisah futuristik tentang Boston tahun 2000 ), Ebenezer Howard
mengawali mimpinya memperbaiki kondisi hidup masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Terinspirasi visi kota dan masyarakat masa depan yang dilibatkan untuk membawa
peradaban baru yang lebih baik dalam buku itu, Howard bertekad melahirkan garden city.

Howard, putra seorang pramuniaga, lahir di Fore Street, London tahun 1850. Waktu sekolah
ia banyak diajari soal lingkungan pedesaan. Menyadari tak berbakat menjadi petani, Howard
pindah ke Chicago, menjadi reporter koran dan pengadilan. Ia tiba saat kota sedang
memulihkan diri dari kebakaran besar tahun 1871, yang menghancurkan sebagian besar
kawasan bisnis/ CBD. Howard melihat regenerasi kawasan tersebut, juga daerah pinggiran
yang sedang tumbuh pesat. Sejak itu Howard mulai memikirkan cara-cara meningkatkan
kualitas hidup penduduk.

Tahun 1876 Howard kembali ke Inggris, bekerja memproduksi rekaman resmi parlemen.
Melalui rekaman debat komite dan komisi itu, Howard tersadar sekaligus frustasi, betapa
sulitnya parlemen mencari solusi masalah buruh dan perumahan. Howard mengamati
semua partai, tak peduli berseberangan secara politis, sosial atau keyakinan, sebenarnya
bersatu dalam satu isu, yaitu arus migrasi yang terus berlanjut dari kawasan pedesaan ke
kota-kota yang sudah penuh sesak.

Industrialisasi telah menarik banyak penduduk masuk ke dalam kota, dengan daya tarik
upah lebih baik, kesempatan kerja dan aktivitas sosial. Akibatnya kota penuh sesak,
perumahan, persediaan air dan drainase tidak memadai lagi, sewa dan harga-harga barang
melambung tinggi. Wah, seperti kota kita saat ini, ya.

Di sisi lain, desa menjadi gundul, tak sanggup menopang populasi. Karena tekanan ekonomi,
kampung menjadi sepi ditinggalkan penduduknya yang berbondong-bondong masuk ke
dalam pemukiman berkualitas rendah di kota. Tekanan ini diperhebat dengan berkurangnya
akomodasi hidup para petani. Bekerja dengan upah rendah dan waktu panjang membuat
warga hanya mampu menyewa kamar murah, sehingga tak cukup dana untuk membangun
rumah baru.

Urbanisasi menimbulkan petaka bagi kota maupun desa. Kesengsaraan bagi mereka yang
tak punya cukup uang. Kemiskinan, kepadatan permukiman, polusi industri, minimnya
drainase dan air bersih, kekumuhan, praktek penguburan yang buruk, menjadi penyebab
timbulnya penyakit. Wabah kolera membunuh ratusan ribu jiwa antara tahun 1831-1854.
Tragedi ini menjadi perhatian nasional.

Sejak itu, secara bertahap diperkenalkan peraturan kesehatan publik dan pengawasan
perencanaan bangunan. Namun disadari Howard, semua pedoman ini hanya mengatur
pembangunan yang sudah ada di sekitar kota, bukan mengatasi masalah migrasi yang
menjadi asal muasal kekumuhan kota.
Ayah empat anak ini melihat bermacam upaya yang dibuat para industrialis untuk
mengupayakan kesehatan, model komunitas yang terencana baik bagi para pekerja mereka.

Tahun 1884-5, komisi kerajaan melaporkan kondisi terburuk di permukiman kumuh. Tahun
1888 sebuah studi mengungkapkan bahwa lebih 300.000 dari 900.000 jiwa warga London
Timur hidup dalam kemiskinan ekstrim. Catatan Howard waktu itu mencakup banyak ragam
pekerjaan pada bermacam politik dan teori ekonomi.

Howard tinggal di Letchworth Garden City tahun 1905. Ia dipilih sebagai ketua Garden Cities
and Town Planning Federation yang baru terbentuk tahun 1913. Howard menjadi sosok
internasional yang berpengaruh, menjadi anggota kehormatan Town Planning Institute
tahun 1914.

Ia pindah ke Welwyn Garden City pada tahun 1921, dimana ia memulai Garden City
keduanya. Ia menghabiskan sisa hidupnya di sini hingga wafat 1 Mei 1928, setelah
didiagnosa menderita infeksi dada dan kanker perut. Howard dianugerahi gelar bangsawan
Inggris tahun 1927.

PRINSIP GARDEN CITY

Terminologi Garden City adalah dasar-dasar estetik Howard dalam melakukan reformasi
sosial. Howard mendalami isu sosial, menerapkan pemikiran praktisnya dengan memadukan
bermacam elemen konsep dan proyek, menyaring teori dan filosofi sampai menjadi
masterplan. Perpaduan antara reformasi sosial kota kumuh dan integrasi alami.

Ia menjelaskan konsepnya dengan detail, dengan diagram serta argumen ekonomi agar
cocok dengan situs kota. Karya tersebut bertajuk Tomorrow: A Peaceful Path to Real
Reform, dirilis tahun 1898 dan dicetak ulang tahun 1902 sebagai Garden Cities of Tomorrow.
Buku ini menawarkan visi kota yang bebas dari area kumuh dengan memadukan kelebihan
kota dan desa. Kota menawarkan bermacam kesempatan, hiburan dan upah tinggi
sedangkan desa memiliki pesona keindahan, udara segar dan sewa hunian yang rendah.

Garden City sendiri merupakan bagian dari pembangunan yang lebih besar, yang
mengusulkan kota-kota taman sekitar pusat kota. Semua terhubung dan berbagi pelayanan/
fasilitas hiburan. Gagasan ini menuntut pembentukan kota-kota suburban baru, yang
direncanakan dalam ukuran terbatas, dikelilingi sabuk hijau berupa tanah pertanian. Kota-
kota ini akan tumbuh secara mandiri, dikelola dan dibiayai warga kota yang punya
kepentingan ekonomi di sana.

Draft Howard memerlukan tanah seluas 6.000 acre ( 1 acre = 4540 m2 ) dengan 1.000 acre
dibangun untuk 30.000 penduduk ( kepadatan 30 orang/ acre ) dan tambahan 2.000 orang
di sekitar 5.000 acre tanah pertanian. Kota ini juga memiliki boulevard melingkar selebar l20
feet ( 36,6 meter ), ditanami pepohonan, yang membagi kota dalam enam sektor.

GARDEN CITY PERTAMA, LETCHWORTH


Howard mulai berceramah ke penjuru negeri. Bukunya mendapat reaksi beragam. Buku
Howard ini sempat gagal meraih perhatian ahli politik dan sosial waktu itu karena
keterbatasan pengetahuannya akan bidang dimana ia memberi kontribusi istimewa. Tahun
1899, sang pembicara antusias ini mendirikan Garden Cities Association ( sekarang Town
and Country Planning Association ) dan sebuah badan amal lingkungan tertua di Inggris.

Asosiasi ini bertemu dan mendiskusikan cara praktis untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Keanggotaannya melalui seleksi luas para politisi, industrialis dan para profesional yang
mempertimbangkan banyak topik terkait. Gagasan Howard menarik cukup banyak perhatian
dan sokongan dana untuk memulai Letchworth, daerah suburban bagian utara London.

Pada 16 Juli 1902, Garden City Pioneer Company Limited didaftarkan dengan modal £20.000
dengan gagasan membangun Garden City sekitar London. Beberapa desainer didekati dan
kompetisi terbatas diadakan untuk memilih yang terbaik.

Gagasan Garden City aslinya bukan untuk membangun kota artistik, namun untuk
menyediakan rumah layak dan terjangkau oleh masyarakat, menurut Raymond Unwin, sang
arsitek di Letchworth. Garden City dan daerah pinggiran mempunyai banyak kemiripan
estetika. Gaya tersebut adalah abad pertengahan, dalam bentuk kumpulan pondok indah
yang mengitari kehijauan alami dalam sebuah grup yang tak terlalu besar sehingga tak
kehilangan karakter desanya dan tak terlalu kecil hingga tak mengurangi peluang interaksi
sosial antar warganya.

Setiap rumah memiliki kebun sendiri, diletakkan agar seluruh ruangan dilimpahi cahaya
alami, tak terhalang rumah tetangga atau bangunan tambahan. Pandangan lebih ke arah
dalam dengan sistim kuldesak. Jalan setapak berkerikil menyempit di antara jalur berpohon
adalah estetika terbaik di Garden City.

Letchworth tahun 1903, diwujudkan di atas area seluas 1.250 acre untuk 30.000 penduduk
(24 jiwa/acre) dengan 2.500 acre disediakan untuk sabuk pertanian. Sumbu kota Letchworth
sengaja dibuat untuk mempertahankan tiga pohon oak tua yang sudah ada di tapak. Sebuah
langkah penting bagi perencanaan masa depan, dimana potensi alam bisa menginspirasi
penataan kota yang elegan. Ada pelajaran yang bisa dipetik pada aspek penataan di
Letchworth.

Keseragaman yang dipaksakan adalah sebuah ketidakmungkinan. Misalnya, warna atap,


bangunan yang mirip satu sama lain, aturan memagari industri di tempatnya, dimana badan
pengelola terlalu membatasi dan akhirnya malah menghasilkan kegagalan. Di Letchworth
terjadi ketepatan yang mengerikan, kerapian yang menyakitkan dan kesadaran estetis yang
keterlaluan. Sebuah kota tak dibangun oleh satu orang atau gagasan seseorang saja.
Akibatnya, banyak rumah jelek bertebaran di sini.

Belajar dari kekurangan Letchworth, di Hampstead, keseragaman elemen hanya diterapkan


di unit yang lebih kecil. Karena lebih banyak aspek alami di sini maka terasa lebih
menyenangkan dan lebih menyatu secara keseluruhan. Ada keluwesan dan
ketidakberaturan dalam mendesain, misalnya jalan yang semula lurus kemudian dibuat
berliku. Tidak membosankan.
Pada masa sekarang, Letchworth berusaha bertahan melewati tahun demi tahun untuk
menyisakan kebenaran konsep dan prinsip Ebenezer Howard dengan tingkat keberhasilan
yang bervariasi. Banyak industri yang datang ke Letchworth kini telah pergi, gagal atau
berubah bentuk hingga hampir tak dikenali. Kota-kota masih berjuang agar pusat kotanya
tetap bertahan menghadapi persaingan ketat. Industri baru datang dan memulai usahanya
di kawasan industri, sementara yang lainnya tutup atau pindah. Kawasan bisnis terus
berkembang menyesuaikan diri dengan kebutuhan jaman yang terus berubah.

Toko swalayan menggantikan kompleks universitas yang sudah tak sesuai dengan keadaan
sekelilingnya. Arkade diperbaharui, rumah-rumah mulai bermunculan sementara kamera
video tampak mengintip di sudut jalan. Gedung-gedung diperbaharui agar memenuhi
kebutuhan industri hi-tech masa kini. Sekelompok warga senang melihat perubahan, sedang
yang lain ingin Letchworth tetap dilestarikan. Ada beberapa museum sejarah Garden City di
sini, yang konsep aslinya adalah membuat kota bekerja yang menyenangkan.

GARDEN CITY KEDUA, WELWYN

Denah Welwyn
Welwyn dari atas

Rumah di Welwyn

Jembatan di Welwyn
Garden city kedua, Welwyn, dimulai setelah Perang Dunia I. Dalam rencana, di lahan seluas
1.375 acre maksimal akan dihuni 40.000 orang ditambah 3.500 orang yang tersebar di
sekitar tanah pertanian. Hanya 1/6 lahan yang akan tertutup bangunan. Welwyn
mempunyai karakter khas pedesaan, rerumputan melay-out jalan, tanpa aspal maupun
trotoar. Kontur tanah benar-benar dimanfaatkan untuk mencapai efek arsitektural tertentu.

Kuldesak dipakai untuk memaksimalkan penggunaan tanah dengan biaya perawatan


seminimal mungkin. Luas kapling beragam antara 1/5 – 1/8 acre yang dibangun masyarakat
dibawah peraturan Addison Housing Act tahun 1919. Tahun 1921, rumah dengan 3 atau 4
kamar tidur itu dibangun dengan eksterior lebih baik, dengan gaya utama bata merah
arsitektur Georgian, sopi-sopi beratap mansard dan jendela di atap.

Kesederhanaan desain awal di Welwyn, meski masih lebih baik dari yang terbagus di
Letchworth menyebabkan prasarana dan fasilitas umum berubah, 20 tahun kemudian.
Apalagi sejak mobil secara konsisten digunakan tahun 1927, jalan-jalan utama selebar 18
kaki, lapangan dan kuldesak menjadi tak efektif. Kenyamanan hidup berkurang. Ini terjadi
pada fase pertama kota-kota baru.

Model Garden City ternyata tak menyediakan ruang cukup bagi kehadiran teknologi
modern. Elemen visual menarik dan detail perencanaan perlahan lenyap oleh pelebaran
jalan dan pembabatan ruang-ruang terbuka hijau. Welwyn menghindari jalan raya formal,
kecuali di pusat kota karena posisinya secara visual paling menarik. Bentuk formal dan
informal dipadukan untuk mencapai klimaks. Dengan membandingkan Letchworth,
Hampstead kemudian Welwyn, terlihat kemajuan berarti dari gagasan asli Howard.

GARDEN CITY GO INTERNATIONAL

Gagasan Howard tentang reformasi sosial dengan konsep Garden City-nya mempengaruhi
perencanaan kota Inggris pada awal abad 20, di saat pemerintah sedang getol-getolnya
membangun kota-kota satelit untuk membantu desentralisasi London. Kreasi Letchworth
dan Welwyn Garden City ini menginspirasi “Kota-kota Baru” berikutnya usai PD II, misalnya
dalam meletakkan pusat lingkungan di kota satelit dan prinsip desain humanis yang banyak
diterapkan di kawasan perumahan. Perbedaannya, tingkat kepadatan maksimum menjadi
18 rumah/ 4540 m2. Gerakan ini menghasilkan lebih dari 30 komunitas, diawali Stevenage,
Hertfordshire dan diakhiri ( yang terbesar ) Milton Keynes, Buckinghamshire.

Elemen dalam konsep Garden City dapat dilihat dalam banyak pembangunan di seluruh
Inggris juga kota-kota di dunia. Gagasan Howard mengilhami para perencana lain seperti
Frederick Law Olmsted II dan Clarence Perry. Walt Disney menggunakan elemen dari konsep
Howard dalam desain original untuk EPCOT ( Experimental Prototype Community of
Tomorrow ).

Konsep Garden City atau Kota Taman memang tak lepas dari kekurangan. Terlepas dari
kewajaran itu, melihat upaya gigih Sir Ebenezer Howard memperbaiki kondisi hidup
masyarakatnya sepatutnya kita acungi jempol. Setidaknya, tampilan estetik dan perbaikan
standar hidup yang terwujud mendekati cita-cita Howard semula. Lingkungan tempat
tinggal mejadi lebih manusiawi dari keadaan sebelumnya dan arus migrasi agak tertahan di
kota-kota taman yang baru dibangun.

Kota-kota yang direncanakan dengan baik, biasanya langsung dikenali orang. Aspek penting
Garden City adalah denah yang fleksibel dan kepercayaan yang tinggi pada potensi tapak.
Untuk mewujudkannya, memang bukan pekerjaan mudah. Demikian pula saat
melestarikannya, yang bisa mengakomodir kebutuhan jaman. Meningkatnya jumlah
bangunan akibat pertambahan penduduk serta hadirnya kendaraan bermotor terbukti
menyebabkan penyimpangan desain di Letchwoth dan Welwyn, juga kota-kota yang
menerapkan Garden City.

Pelebaran jalan telah memangkas jarak yang diperlukan untuk mengagumi keindahan
deretan bangunan yang ada untuk dirajut dalam memori kita. Apalagi merobohkannya sama
sekali. Desain kota memang sangat rentan pada pengaruh luar dan respon itu tak perlu
mirip pada kondisi sama. Kita harus tetap melirik aspek lokal sehingga kota kita mempunyai
ciri khas yang membuat kita selalu rindu untuk pulang ke ‘kampung halaman’.

Dari paparan di atas, secara estetika Garden City telah terbukti mampu menembus abad ke-
21 dengan kemapanan tersendiri. Akankah drama penggusuran tempat kumuh dan kawasan
bersejarah akan terus berlangsung di depan hidung kita ? Itu tergantung nurani dan
pemahaman kita saat bertindak. Menghadapi dilema pelestarian bangunan bersejarah/
kawasan cagar budaya atau penggusuran demi keuntungan ekonomi/ parsial kelompok, di
manakah posisi kita ?

Apakah kita termasuk yang suka bedah plastik, tempel sana tambal sini, bahkan menyulap
kawasan kota anda sama sekali baru seperti terlahir kemarin sore, yang lupa akar sejarah ?
Atau kita lebih terkesan kota yang anggun berwibawa, yang telaten merawat gurat-gurat
ketuaan di wajahnya, yang menjadi jangkar memori pada perjuangan masa lalu bangsa kita
? Berpulang pada kita semua. ( A.Savitri/ pelbagai sumber )
BURGESS, MODEL OF LAND USE

Pada semua negara baik yang sudah maju maupun sedang berkembang, pertumbuhan kota-
kotanya menjadi kompleks sekali karena pengaruh pertumbuhan penduduk, proses
urbanisasi dan peningkatan teknologi dan layanan transportasi di dalamnya. Karena itu
dalam geografi adalah satu disiplin yang khusus mengkaji tentang ciri-ciri intern sebuah
kota. Dengan begitu muncullah berbagai teori ruang kota seperti Teori Konsentrik Burgess,
Teori Sektoral dan Teori Inti Ganda. Kali ini saya akan bahas dulu tentang Teori Konsentrik
milik Burgess.

Kawasan perkotaan nampak heterogen baik secara struktural maupun demografis. Gedung
di dalam kota berbeda dalam hal susunan, besar dan tinggi juga usia dan fungsinya.
Penduduknya berbeda dalam hal kepadatan, mata pencaharian dan status sosialnya.
Meski sekilas kota secara kasat mtra nampak kacau dalam susunan keruangannya, namun
jika diamati seksama akan ada bentuk khas dan mirip dengan kota-kota lainnya. Misalnya
ada kota dengan struktur persegi, bulat, kotak atau seperti bintang.

Teori Ruang Burgess


Teori Konsentrik merupakan hasil pemikiran Burgess terhadap struktur ruang kota Chicago
pada tahun 1920an. Sosiolog beraliran human ecology ini mengemukakan gagasan bahwa
kota-kota itu memekarkan diri dari pusat kegiatan sehingga nantinya akan meluas seiring
bertambahnya penduduk. Batas zona-zona kota terlihat melingkar mengikuti jalan atau
aliran air.
Di titik tengah ditemukan central bussines district (CBD) yang isinya merupakan pusat
kehidupan komersial, sosial dan politik. Di luarnya ada transition zone yang merupakan
kawasan peralihan berisi industri dengan perumahan warisan pribadi penduduk masa lalu.
Kebanyakan pemukiman masa lalu berubah menjadi perkantoran atau pertokoan. Dalam
blok tersebut ada juga zona slum atau daerah kumuh dan penampungan pendatang baru
dari desa.

Hierarki Kota

Zona ketiga adalah zona kaum buruh kecil, mereka hidup menetap di sana. Sarana
transportasi dan komunikasi relatif kurang disini. Zona keempat merupakan lokasi kaum
kelas menengah. Di daerah luar ditemukan commuter zone yang merupakan pekerja
penglaju di kota. Baca juga: Perkembangan Jakarta masa ke masa

Teori Burgess ini dapat dibuktikan kebenarannya di negara barat yang sudah maju
masyarakatnya ditambah lagi dengan syarat kondisi topografi lokal yang menguntungkan
bagi rute komunikasi.

INDUSTRIAL CITY : TONI GARNIER

Revolusi industri memiliki efek membawa lebih banyak orang dari pedesaan ke jantung kota
mencari pekerjaan. Pemotongan penduduk yang dramatis dan pertumbuhan kota yang tak
terbatas menyebabkan perumahan kumuh, kotor, penyakit dan kurangnya ruang hijau
komunal di dalam lanskap kota. Setelah istilah itu, perencanaan kota modern muncul
sebagai respons terhadap gangguan ini. Reformasi daerah-daerah ini adalah tujuan para
perencana kota awal, yang mulai memberlakukan undang-undang yang mengatur standar
perumahan untuk perumahan, sanitasi dll. Perencana kota juga memperkenalkan taman,
taman bermain di lingkungan kota, untuk rekreasi serta bantuan visual. Gagasan zonasi
adalah konsep utama perencanaan kota saat ini. Beberapa perencana kota bekerja pada
perencanaan kota dan salah satunya adalah Tony Garnier.
Siapakah Tony Garnier? Dia adalah seorang arsitek Perancis dan perencana kota. Dia paling
aktif di kampung halamannya di Lyon. Di sisi lain, ia belajar tentang masalah sosiologis dan
arsitektur. Ide dasarnya termasuk pemisahan ruang oleh fungsi melalui zonasi menjadi
beberapa kategori. Tony Garnier pertama kali menghasilkan rencana untuk kota industri
yang ideal pada tahun 1904. Di kota industri Tony Garnier, ia menentukan standar umum
kota dan dengan standar-standar ini. Dia mengembangkan beberapa desain yang memasok
kebutuhan material dan moral masyarakat.

Usulan Garnier adalah kota industri bagi sekitar 35.000 penduduk yang terletak di daerah di
Prancis tenggara di dataran tinggi dengan dataran tinggi dan danau di utara, lembah dan
sungai di selatan. Dia membayangkan sebuah kota penggunaan terpisah dengan area
perumahan, seperempat stasiun kereta api dan zona industri.Konsep zonasi sangat mirip
dengan Ebenezer Howard, Garden Cities of To-morrow karena ia membagi kota menjadi tiga
bagian juga seperti Garnier. Garnier mencoba mempertimbangkan semua aspek kota
termasuk praktik pemerintah, perumahan, manufaktur, dan pertanian. Berbagai fungsi kota
jelas terkait, tetapi terpisah dari masing-masing dari lokasi dan pola. Kota tenaga kerja
dibagi menjadi Empat Fungsi utama: Pekerjaan, perumahan, kesehatan dan rekreasi. Area
publik di jantung kota dikelompokkan menjadi tiga bagian: Layanan administrasi dan ruang
pertemuan, koleksi museum dan fasilitas olahraga.
Wilayah stasiun adalah pusat kota dan itu mencakup semua fasilitas perdagangan publik
bersama. Kereta api lewat di antara pabrik dan kota, yang berada di dataran tinggi, dan
lebih jauh lagi adalah fasilitas medis.
Area pemukiman terdiri dari blok-blok persegi panjang yang mengalir ke timur-barat yang
memberi kota ini bentuk memanjang yang khas. Ini adalah lokasi rumah-rumah (dalam
gambar) dan rumah-rumah itu terletak di area hijau besar untuk mendapatkan manfaat dari
matahari dan udara segar. Distrik pemukiman adalah upaya pertama menuju arsitektur
surya pasif. Garnier memiliki energi secara efisien dalam pikiran karena kota itu akan
didukung oleh stasiun hidroelektrik dengan bendungan yang terletak di pegunungan
bersama dengan rumah sakit.
Itu adalah ilustrasi gedung perakitan. Kota industri menyerupai kota yang ideal di Travail
Emile Zola. Aula pertemuan memiliki inspirasi darinya. Juga Tony Garnier mendukung
berbagai seni, begitu banyak fasilitas seni dan sosial yang dipikirkan.
Wilayah penting lainnya adalah area rumah sakit. Praktek medis pada saat itu hampir sama
sekali tanpa alat dan perawatan yang tidak umum digunakan, tetapi telah menjadi jelas
bahwa sinar matahari dan udara murni sangat membantu dalam mengatasi banyak
penyakit. Ada gerakan ke arah menghancurkan rumah sakit besar menjadi unit yang disebut
paviliun, sehingga memberikan pasien hubungan dekat dengan fasilitas ini dan membuat
mereka merasa lebih santai daripada jika mereka berada di lingkungan yang sangat ramai.
Tony Garnier adalah salah satu pelopor arsitektur modern dalam hal materi. Bahan yang
digunakan adalah beton untuk fondasi dan dinding, dan beton bertulang untuk lantai dan
langit-langit. Semua bangunan penting dibangun dari beton bertulang.
Inovasi lain yang merefleksikan rencana kota adalah persamaan di antara orang-
orang. Ketika ditanya mengapa kotanya tidak memiliki pengadilan, kantor polisi, penjara
atau gereja, dia dikatakan telah menjawab bahwa masyarakat baru diatur oleh hukum
sosialis. Semuanya membawa tentang teori sosialisme. Tony Garnier adalah orang
sosialis. Charles Fourier, filsuf Perancis dan seorang pemikir sosialis awal yang berpengaruh
yang kemudian dikaitkan dengan "sosialisme utopis" dan Henri de Saint-Simon yang ahli
teori dan ekonomi politik dan ekonomi Prancis.Mereka adalah pendukung teori sosialisme
dalam istilah itu.
Kota industri Tony adalah salah satu rencana ide paling komprehensif sepanjang masa. Kota
industri Garnier tidak pernah dibangun, tetapi ia berkontribusi pada perencana lebih lanjut
seperti Le Corbusier. Corbusier adalah arsitek terkenal pertama yang membahas karya
Garnier. Setelah proyek kota industri, Garnier merancang banyak proyek yang dibangun di
Lyon.
Referensi
 Dora Wiebenson, "Aspek Utopis dari Kota Industrielle Tony Garnier," Jurnal
masyarakat Sejarawan Arsitektur , Vol.19, No.1 (Mar., 1960), hlm.16-24.
 Rudlin, David & Falk, Nicholas (1999). Lingkungan Perkotaan Berkelanjutan .Amerika
Serikat
 Anderson, Lawrence B. (1987). Tony Garnier. Tempat , 3 (4), 3-13.
 KAHYA, GY, 2007. Kentsel Gelişme Olgusu Bağlamında Gelecek Öngörüleri:
Siberşehirler, Yüksek Lisans Tezi , İTU, Fen Bilimleri Enstitüsü, İstanbul.
 http://www.filozof.net / edebi-sahsiyetler-kisilikler-biyografileri
 http://architectureandurbanism.blogspot.com.tr/2010/11/tony-garnier-une-cite-
industrielle-1917.html
 http://www.halle-tony-garnier.com/en/lieu
 https://prezi.com/rd_nfmlikx3p/copy-of-copy-of-tony-garnier-une-cite-industrielle/
TONI GARNIER : Une Cite Industrielle (1917)

Une Cite Industrialle dari Tony Garnier adalah salah satu rencana ideal yang paling
komprehensif sepanjang masa. Diterbitkan pada tahun 1917, ini bukan hanya kontribusi
yang luar biasa untuk teori arsitektur dan perencanaan tetapi juga ekspresi pemikiran dan
kondisi budaya yang sensitif pada zamannya. Pembingkai Dora Wiebenson dari buku ini
berfokus pada peran yang kurang dikenal Cite sebagai produk dari konteks budayanya, dan
sebagai jembatan antara perencanaan abad kesembilan belas dan abad kedua puluh dan
antara teori dan teknik akademis dan non-akademik.

REVOLUSI INDUSTRI DI EROPA


Akhir abad kesembilan belas adalah masa perubahan besar di seluruh Eropa. Munculnya
industrialisasi mengubah lanskap kota selamanya.Banyak perubahan tidak untuk kondisi
yang lebih baik dan hidup di kota-kota industri terus memburuk. Revolusi Industri memiliki
efek membawa lebih banyak orang dari pedesaan ke jantung kota mencari
pekerjaan. Populasi berlebihan yang berlebihan dan pertumbuhan perkotaan tak terbatas
menyebabkan permukiman kumuh, kotoran, penyakit dan kurangnya ruang hijau komunal
di dalam lanskap kota.Perencanaan kota modern muncul sebagai tanggapan terhadap
kekacauan ini. Reformasi daerah-daerah ini adalah tujuan para perencana kota awal, yang
mulai memberlakukan undang-undang yang mengatur standar perumahan untuk
perumahan, sanitasi dll. Perencana kota juga memperkenalkan taman, taman bermain di
lingkungan kota, untuk rekreasi serta bantuan visual. Gagasan zonasi adalah konsep utama
perencanaan kota saat ini.

SIAPA TONY GARNIER?


Tony Garnier adalah arsitek Prancis yang lahir di Lyons pada tahun 1869 dan jelas bahwa
kota dan lingkungannya memiliki pengaruh besar padanya. Sementara tumbuh Lyons adalah
pusat industri untuk tekstil dan metalurgi, dua industri dipenuhi oleh proposal Garnier untuk
kota industrinya. Garnier belajar di École des Beaux-Arts di Paris dan pada tahun 1901
memenangkan kompetisi prix de Rome dan dikirim ke Akademi Prancis di Villa Medici. Di
sinilah Garnier mulai merumuskan proposal untuk Cité dan pada tahun 1901 Garnier
mengirim kembali proposal ke École. Namun, École menolak untuk memamerkan karya
tersebut dan sebaliknya bersikeras bahwa Garnier menghasilkan karya pada arsitektur klasik
dan renaisans. Garnier terus mengerjakan proposalnya bersama dengan pekerjaan yang
lebih tradisional dan akhirnya mampu memamerkan karyanya pada tahun 1904. Setelah itu,
Garnier terus mengembangkan rencananya yang memuncak pada pekerjaan dua volume
yang diterbitkan pada tahun 1917.

REGIONALISME
Pada akhir abad ke-19, teori urbanisme telah berkembang jauh di luar keprihatinan
unitarian dan geografis untuk memasukkan konteks regional total di mana kota itu
berada. Laporan-laporan utama tentang reformasi kota di bagian akhir abad ke-19 dibuat
oleh individu-individu seperti Albert Shaw, yang pada dasarnya menekankan hubungan
organik kota ke negara tersebut dan meramalkan integrasi akhirnya mereka. Teori-teori
regionalisme ini mencapai popularitas terbesar mereka di Inggris. Kepala di antara mereka
adalah Pattrick Geddes (1854-1932). Filosofi Garnier dalam Cite Indutrielle mirip dengan
Geddes dalam penekanan pada desentralisasi kota, yang dikembangkan dalam kaitannya
dengan industri, penghuni dan adat istiadat daerah sekitarnya.
Teori-teori Geddes dianggap mirip dengan yang diungkapkan oleh Ebenezer Howard
sehubungan dengan Garden City-nya. Dua asumsi dasar Howard juga ditekankan oleh
Garnier: emansipasi manusia dari monoton tenaga kerjanya untuk mengambil pekerjaan
yang lebih berbuah dan pandangan bahwa semua manusia pada dasarnya kooperatif dan
setara. Skema ini juga terkait dalam perincian seperti pemasukan energi listrik, penekanan
pada penanaman di dalam kota dan idealisme rumah dan taman yang diterima pada abad
ke-19 untuk setiap keluarga.

Dalam kata pengantar untuk Une Cite Industrialle, Garnier secara khusus memasukkan
sebagian besar elemen utama teori regionalis kontemporer; Kutipan adalah untuk mewakili
salah satu federasi kota, di antaranya ikatan akan dibuat melalui penekanan pada
komunikasi dan pertukaran barang. Museum sejarah dan botani lokal untuk eksposisi
regional dan sekolah seni dan industri harus dimasukkan dalam proyek ini. Kerajinan lokal
harus diajarkan. Kekuatan air di dekatnya akan digunakan.
Dekat stasiun kereta api ke kota tua untuk memudahkan pengunjung, harus dipahami
sebagai interpretasi dari teori regionalis melestarikan dan mempromosikan minat dalam
monumen lokal. Namun regionalisme tidak pernah dikaitkan dengan sosialisme, dan dengan
demikian dalam prinsip filosofis utama industri Cite tidak sesuai dengan pemikiran
regionalis. Individu meniru tidak ditekankan di Kota, properti dimiliki dalam kenyamanan
umum dan umum dipertahankan untuk kepentingan semua. Garnier pernah bekerja di
quarte pekerja di kota, sebagian dari perencanaannya di kemudian hari mungkin
mencerminkan doktrin sosial yang ia tunjukkan ketika berada di sana. Dalam pelayanan
pekerjaan kotanya dan hostel gratis serta ruang pertemuan diciptakan untuk sindikat
pekerja yang diharapkan oleh pemerintah sosialis. Banyak fasilitas umum disediakan seperti
rumah jagal, pabrik tepung dll, dan kesetaraan untuk kedua jenis kelamin dalam pendidikan
dll.

KONSEP SOSIAL SOSIAL


Pada akhir abad ke-19 diyakini bahwa banyak reformasi sosial dapat dicapai secara bertahap
melalui pendidikan moral dan intelektual yang mengarah ke keadaan ideal masa
depan. Garnier percaya pada kebaikan dasar manusia: ketika ditanya mengapa kotanya
tidak memiliki pengadilan, stasiun polisi, penjara atau gereja dia dikatakan telah menjawab
bahwa masyarakat baru yang diatur oleh hukum sosialis tidak akan membutuhkan gereja
karena kapitalisme akan menjadi tertindas.
Dalam Utopia periode ini, kondisi fundamental, alami dan primitif ditekankan; penekanan
pada latihan, kesehatan, dan kesejahteraan fisik adalah akibat wajar dari minat yang
membangkitkan dalam kehidupan alami. Garnier memasukkan area publik yang luas untuk
olahraga dan tontonan di kotanya terkait dengan filosofi awal utopia, pagan kuno dan cinta
untuk permainan.

LATAR BELAKANG LYONS


Lyons telah mengalami renovasi perkotaan yang luas dari pertengahan 19 abad. Di sini
sekolah umum dimulai, sindikat dibentuk, seperempat industri baru direncanakan. Beton
bertulang digunakan untuk industri dan perumahan. Pada tahun 1894, kongres ke-15 dari
Geografi Societe Francaise bertemu di Lyons dan mendirikan sebuah program untuk
kawasan itu, termasuk pembangunan fasilitas umum dan bendungan.Dia tegas tentang
memisahkan fungsi kota dari satu sama lain untuk memungkinkan ekspansi independen,
kenyamanan fungsional dan kemudahan transportasi. Garnier menyatakan dalam
pengantarnya bahwa penentuan tapak kota ditentukan oleh lokasi air, sumber kekuatan.

KONSEP
Usulan Garnier adalah kota industri bagi sekitar 35.000 penduduk yang terletak di daerah di
Prancis tenggara di dataran tinggi dengan dataran tinggi dan danau di utara, lembah dan
sungai di selatan. Une Cite industrialle adalah rencana yang dikoordinasikan dengan baik
dan dirancang secara monumental yang ditempatkan di sebuah taman seperti pengaturan di
mana baik semangat klasik dari tradisi akademis dan kesederhanaan ide-ide utopis yang
sederhana ditunjukkan. Dalam proposalnya, Garnier mencoba mempertimbangkan semua
aspek kota termasuk praktik pemerintah, perumahan, manufaktur dan pertanian.Berbagai
fungsi kota jelas terkait, tetapi terpisah satu sama lain berdasarkan lokasi dan pola.

Area publik di jantung kota dikelompokkan menjadi 3 bagian: layanan administrasi dan
ruang pertemuan, koleksi muesum dan fasilitas olahraga.

Area pemukiman terdiri dari blok-blok persegi panjang yang mengalir ke timur-barat yang
memberi kota ini bentuk memanjang yang khas.Distrik pemukiman adalah upaya pertama
menuju arsitektur surya pasif. Garnier memiliki efisiensi energi dalam pikiran karena kota itu
akan didukung oleh stasiun hidroelektrik dengan bendungan yang terletak di pegunungan
bersama dengan rumah sakit.
Kota ini diselesaikan oleh stasiun kereta api ke timur.
PENGARUH GAUDET JULIEN

Garnier menemukan sudut pandang simpatik dalam pengajaran Julien Gaudet, seorang
profesor teori arsitektur di Ecole. Kepedulian Guadet dengan perencanaan rasional,
berdasarkan aksialitas dan artikulasi yang jelas dari bagian-bagian terpisah dari bangunan
dan minatnya dalam hubungan arsitektur dengan fungsi-fungsi kontemporer.Program untuk
rumah sakit Cite dekat dengan analisis Gaudet tentang perencanaan rumah sakit. Gaudet
menyukai pengaturan paviliun terpisah termasuk blok bangunan terpisah untuk fungsi yang
berbeda.

ZONING

Pabrik utama terletak di lembah pada pertemuan sungai dan sungai.Kereta api lewat di
antara pabrik dan kota, yang berada di dataran tinggi, dan lebih jauh lagi adalah fasilitas
medis.

Di rumah-rumah, kamar harus memiliki setidaknya satu jendela besar berorientasi selatan
untuk masuknya sinar matahari. Tanah untuk pembangunan rumah hunian, pada awalnya
dibagi menjadi 150 meter dari timur ke barat dan 30 meter dari utara ke selatan, membelah
menjadi banyak 15 hingga 15 meter, dengan satu sisi menghadap ke jalan.
Sekolah dasar tersebar di seluruh lingkungan dan di sudut timur laut adalah sekolah
menengah.

INI TAMBAHANNYA KEBAWAH


POST INDUSTRIAL CITY

Post industrial City atau kota pasca industri adalah sebuah kota yang berkembang
setelah adanya gerakan reformasi akibat revolusi industri dan muncul sekitar awal abad ke-
20. Berikut ini adalah beberapa pengertian Post industrial City menurut beberapa ahli :
a. A Post Industrial City can be define as a city with an employment profile focused on
advanced sevices-that is, jobs in the professions, management, administration, and skilled
technical sectors (Johnson et al, 2000:616)
Sebuah kota pasca industri dapat didefinisikan sebagai kota dengan profil tenaga kerja yang
difokuskan pada kemajuan layanan-yaitu profesional kerja, amanjemen, administrasi, dan
teknik ketrampilan di berbagai sektor (Johnson et al, 2000:616).
b. The post industrial landscape reflects this shift from the secondary to a service based
economy, whereby cities “deconcentrate” and spread to become complex systems of
cities linked together by flows of people and information (Hall, 1997:316)
Lansekap pasca industri mencerminkan pergeseran dari sekunder ke pelayanan bebasis
ekonomi, dimana kota-kota tidak memusat dan dan menyebar untuk menjadi kota-kota
dengan sistem-sistem yang kompleks dihubungkan bersama dengan arus orang dan
informasi (Hall, 1997:316).
Terdapat beberapa ciri khas dari kota pasca industri ini, yaitu :
1. Kegiatan ekonomi mengalami perubahan atau transisi dari produksi kegiatan penyediaan
barang dan berubah menjadi kegiatan penyedia layanan atau jasa.
2. Pengetahuan menjadi kunci atau modal utama.
3. Menciptakan ide-ide baru menjadi jalan untuk dapat mengembangkan ekonomi.
4. Melalui proses globalisasi dan otomatisasi, penggunaan tenaga kerja manual dapat
diminimalisasi sedangkan penggunaan tenaga kerja profesional (misal: ilmuwan, kreatif-
industri profesional, dan IT profesional) dapat dioptimalkan.
5. Informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang dikembangkan dan diimplementasikan.
Jadi, terdapat beberapa karakter dari masyarakat Post Industrial City, yaitu kegiatan
penyediaan layanan lebih mendominasi dibandingkan kegiatan peneyediaan barang seperti
industri dan manufaktur. Penurunan sektor manufaktur ini dapat menyebabkan de-
industrialisasi. Perkembangan IPTEK menjadi point penting bagi sebuah inovasi baru untuk
dapat mengembangkan kegiatan perekonomian, serta tingkat urbanisasi yang terjadi di
daerah Post Industrial City cukup tinggi. Hal ini dikarenakan banyak penduduk yang ingin
bekerja di pusat kota Post Industrial City, lalu mendirikan permukiman-permukiman baru di
sekitar kota tersebut sebagai tempat tinggal guna mempermudah mobilitas. Sistem sosial
yang ada bersifat sosialis, dimana semua aset dimiliki negara karena tujuan dari Post
Industrial City ini adalah menciptakan kesan satu rasa sama rata.

Kota pra-industri

Asal-usul dari onset kota dan peradaban kota dapat ditempatkan ke dalam periode antara
3500 SM sampai 1000 AD, ketika kota-kota di bawah Mesopotamia (seperti Ur dan Babel)
dan kota-kota yang didirikan di Delta Nil termasuk di antara kota-kota awal ( Mulíček 2008).
Pertumbuhan dan penciptaan kota-kota telah dikaitkan dengan pengembangan pertanian,
yang mampu menghasilkan surplus.
Hohenberg (2004 dalam Mulíček 2008, hlm. 119) menggambarkan kelahiran khas kota Eropa
abad pertengahan sebagai konsentrasi penduduk secara bertahap di sekitar coretown yang
dibentengi yang dapat menjadi contoh kursi bangsawan dan biara, masing-masing tetap dari
kota-kota Romawi.

Kota-kota di wilayah Ceko terutama bermula pada abad 12-15, ketika ada jaringan padat
perdagangan bebas atau kota pertambangan dengan hak-hak yang berbeda dan sejumlah kota
(kota-kota) dengan hak-hak terbatas yang diperoleh oleh masing-masing feodal.

Kota-kota industri

Revolusi Industri pada abad ke-18 ke-19 masing-masing industrialisasi memberikan


dorongan baru bagi pengembangan kota-kota yang terkonsentrasi di sekitar produksi industri
(fungsi utama pembentukan kota di masa ini). Perusahaan-perusahaan industri besar (tekstil,
metalurgi ...) yang terletak di kota-kota bersejarah atau kota-kota baru menarik sejumlah
besar orang yang mencari pekerjaan di pabrik-pabrik ini - gerakan penduduk yang signifikan
dari pedesaan ke daerah perkotaan dilaporkan.

Faktor yang sangat penting menjadi transportasi - posisi kota-kota di perkeretaapian


menimbulkan diferensiasi yang signifikan dalam jaringan kota dan kota baru (misalnya
penurunan pentingnya Chrudim dan pertumbuhan signifikansi industri dan secara substansial
lebih awal pada rel kereta api yang berbohong Pardubice) (Maryáš dan Vystoupil 2004).
Intensitas industrialisasi kemudian secara signifikan mengubah "peta" kota-kota terbesar
dunia.

Tabel 2 Kota-kota terbesar di dunia pada 1000, 1900 dan 2010

1000 (dalam ribuan) 1900 (dalam jutaan) 2010 (dalam jutaan)


Córdoba, Spanyol London, Inggris Tokyo-Yokoha.,
1 450 6,480 32,450
Jap.
Kaifeng, Cina New York, AS Seoul, Korea
2 400 4,242 20,550
Selatan
Konstantinopel, Tur. Paris, Prancis Mexico City,
3 300 3,330 20.000
Meksiko
4 Angkor. Kamboja 200 Berlin, Jerman 2,707 New York, AS 19,750
5 Kyoto, Jepang 175 Chicago, AS 1.717 Mumbai, India 19.200
6 Kairo. Mesir 135 Wina, Austria 1,696 Jakarta, Indonesia 18.900
7 Baghdad, Irak 125 Tokyo, Jepang 1,497 Sao Paulo, Brasil 18.850
Nišapur, Iran St. Petersburg, Delhi, India
8 125 1,439 18.680
Rus.
Al-Hasa, S. Arabia Manchester, UK Osaka-Kobe-Kio.,
9 110 1,435 17.350
Jap.
Patan, India Philadelphia, Shanghai, Cina
10 100 1,418 16.650
Amerika Serikat
Sumber: Hanus dan Šídlo dkk. 2011; diedit

Pemisahan tempat kerja dari tempat tinggal terjadi pada saat dimulainya produksi pabrik,
namun, pengembangan transportasi umum yang murah memungkinkan pemisahan yang lebih
besar dari tempat tinggal pekerja dari lokasi industri - sebelumnya, koloni yang bekerja
terbentuk pada jarak berjalan kaki yang tersedia dari pekerjaan (Goodman dan Chant 1999
dalam Mulíček 2008, hlm. 121). Perkembangan bertahap dari kota industri yang berkembang
di paruh pertama abad ke-20 berarti, tergantung pada pengembangan peluang transportasi,
pengembangan daerah pinggiran kota dengan kepadatan yang lebih rendah karena migrasi
kelompok pendapatan yang lebih tinggi dari populasi keluar dari daerah pusat kota. ini adalah
awal proses suburbanisasi , yang secara signifikan meningkatkan wilayah asli kota, yang
manifestasinya awal dikaitkan dengan pengembangan kereta api pinggiran kota, tetapi
modernisasi pinggiran kota didasarkan pada penggunaan mobil.

Kota-kota pasca-industri

Perubahan ekonomi menekankan peran layanan (tingkat pertumbuhan lapangan kerja di


sektor tersier dan kuaterner), perubahan dalam struktur sosial memperkuat peran kelas
profesional dan teknologi dan peningkatan penekanan pada teknologi dan pentingnya
informasi dalam kehidupan sosial tercermin dalam paruh kedua abad ke-20 dan dalam
struktur tata ruang kota.

Sebagai proses parsial saat ini menyebabkan perubahan dalam struktur spasial kota-kota
kontemporer dapat disebutkan:

 De-industrialisasi: hilangnya penggunaan industri asli ruang perkotaan, pembusukan dan


tidak menggunakan bangunan industri sebelumnya dan asal-usul brownfields.
 Komersialisasi: penggunaan baru dari area kota untuk fungsi komersial (administrasi,
perdagangan, pariwisata).
 Ghettoisasi: meningkatkan konsentrasi spasial orang miskin di daerah tertentu yang
mengarah pada penciptaan lingkungan sosial tertentu yang tidak memiliki lembaga, peran
sosial, pola dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berhasil dalam masyarakat.
 Gentrifikasi: rehabilitasi bangunan yang terkait dengan kedatangan kelompok populasi
tertentu - profesional muda, terdidik, berpenghasilan tinggi, sering tinggal secara individual
atau di rumah tangga kecil. Proses gentrifikasi sering disertai dengan embossing ekonomi
penduduk yang secara sosial lebih lemah dari lokasi tradisional inti kota.
 Depopulasi pusat kota: konsentrasi fungsi tersier di pusat kota menyebabkan perbedaan
yang signifikan antara penduduk siang dan malam di pusat kota (Maryáš dan Vystoupil
2004).

Sebagai manifestasi spasial baru di atas di kota pasca-industri dapat disebutkan penciptaan:
pusat komersial dan administrasi baru di sepanjang jalan yang mudah diakses di pedalaman
kurangnya kontinuitas sejarah (pinggiran kota), zona pemukiman luas yang dibuat oleh satu
pengembang biasanya mengandung elemen dasar fasilitas sipil (komunitas yang
direncanakan utama), daerah pemukiman dengan akses terbatas (komunitas yang terjaga
keamanannya) dan tempat tinggal bisnis yang lebih besar biasanya di "greenfield" (kampus
korporat) (Knox dan Pinch 2010). Daerah-daerah yang baru muncul ini terkadang
bersimbiosis, kadang-kadang dalam konflik langsung dengan gerakan lingkungan yang lebih
kuat, kesadaran lingkungan dan meningkatnya tuntutan pada kualitas hidup penduduk di kota.
Di kota-kota yang terpengaruh oleh globalisasi, produksi industri ditinggalkan dan saat ini zona yang
tidak digunakan dari properti yang tercemar dan terkontaminasi dengan sisa-sisa bangunan pabrik
dan gudang meningkat (brownfields ).

TIPE-TIPE KOTA

Kota dapat terbentuk sejak terbentuknya kerumunan tempat tinggal manusia yang relatif
padat pada suatu kawasan tertentu dibanding kawasan di sekitarnya. Idealnya, kawasan yang
disebut kota, penduduknya bukan bermata pencaharian yang berkaitan langsung dengan alam,
seperti petani atau peternak, melainkan di bidang pemerintahan, perdagangan, kerajinan,
pengolahan bahan mentah, industri dan jasa. Dari sifat awal yang sederhana hingga
kompleks, menunjukkan bahwa kota terbentuk melalui suatu proses.

Apabila kota diberi pengertian dengan sifatnya yang masih sederhana, maka dapat dikatakan
kota terbentuk jauh 3000 tahun sebelum abad Masehi. Sedangkan kota dengan sifat yang
kompleks, baru ada beberapa abad terakhir ini. Untuk mengetahui lebih jauh kota yang
sederhana hingga kompleks seperti sekarang dan yang akan datang akan diuraikan tipe kota
yang tampak, seperti kota kuno, kota pra-industri, kota industri, kota modern, kota post-
modern, kota global, dan kosmopolitan.

1. Kota Kuno.

a. Terbentuknya Kota

Beberapa literatur menyebutkan mula-mula sekali kota didapati pada gua-gua, di lembah-
lembah atau tempat-tempat terlindung. Disebutkan pula, beberapa jalur tepi sungai atau di
kawasan tertentu yang letaknya strategis menjadi cikal bakal terbentuknya kota. Ciri utama
kota adalah mata pencaharian penduduknya nonagraris dan penduduknya mempunyai
pekerjaan dan kebutuhan yang relatif heterogen. Dari beberapa unsur, seperti jumlah
penduduk, ragam pekerjaan, ragam kebutuhan, fasilitas umumnya dan biasanya terdapat
pimpinan yang kuat yang biasa bermain politik (untuk membentuk sistem pemerintahan),
akan mempengaruhi suatu kawasan itu disebut kota atau tidak.

Jaman dahulu masyarakat Jawa, khususnya masyarakat desa, menyebut kota dengan istilah
nagari (bahasa Jawa) yang artinya kota atau keraton. Pada awalnya, kota dapat diidentikkan
dengan keraton. Tampaknya istilah ini memiliki keterkaitan asal usul kata sehingga akan
semakin jelas bahwa kota terbentuk karena menonjol sistem pemerintahannya. Menurut J.
Gonta dalam bahasa Sansekerta, kota dapat diartikan sebagai benteng atau pertanahan. Dalam
bahasa Melayu, kota diartikan sebagai desa yang dipertahankan, atau desa sebagai kesatuan
politik. Dengan demikian, ciri khas kota yang menonjol sebenarnya adalah peran politiknya.
Ciri ini khususnya terdapat pada kota kuno yang penduduknya masih sedikit dan rentan akan
serangan dari luar.

b. Kota Kuno dan Falsafahnya

Kota sebagai hasil karya manusia seringkali mengekspresikan falsafah hidup orang atau
masyarakatnya. Fungsi patron-client menjadi tolak ukur ketahanan dan kehancuran suatu
kota bahkan negara. Di Asia, raja sering dianggap sebagai representasi dewa sekaligus
penguasa kota. Kepercayaan ini membawa pengaruh konsep kosmogoni untuk merancang
kotanya. Konsep kosmogoni adalah suatu pemahaman tentang kesejajaran antara alam
makrokosmos dan mikrokosmos dalam suatu pertautan di muka bumi. Dalam konsep
kosmogoni disebutkan bahwa kemakmuran dan ketentraman dunia dapat dicapai dengan
menyusun dunia manusia sebagai replika alam semesta.

Sebagai konsekuensinya kota kerajaan harus dirancang sesuai dengan gambaran bagian-
bagian alam semesta yang dihayati. Ibukota atau istana raja tidak hanya sebagai pusat
pemerintahan dan kebudayaan, melainkan juga sebagai pusat kekuatan magis dari seluruh
wilayah kerajaan. Petilasan kota kuno di Indonesia banyak yang hilang. Hal ini disebabkan
karena unsur politis, bahwa setiap pemerintahan yang baru berusaha melenyapkan jejak
pemerintahan yang lama. Akibatnya, sulit dianalisis konsep replika alam jagat raya pada kota
dan bangunan kuno kerajaan-kerajaan di Indonesia.

c. Gaya Arsitektur

Masyarakat lapisan bawah pada zaman kuno, karena keterbatasan kemampuan finansial dan
lebih sederhana pemikirannya selain dari setia kepada raja dan menyembah dewa, tidak
memberikan dekorasi rumahnya secara khusus. Bahkan tempat tinggalnmya sangat
sederhana. Tetapi pada masyarakat golongan menengah, bagian-bagian tertentu dari
rumahnya diberikan dekorasi tertentu yang bercorak alam di sekitarnya, seperti binatang,
tumbuh-tumbuhan, aktivitas manusia, patung dan dewa. Pada bangunan masyarakat golongan
lebih atas lagi ilustrasi yang bersifat dekoratif tersebut lebih memiliki nilai seni yang lebih
tinggi dan tidak sevulgar dekorasi pada bangunan masyarakat kelas menengah.

2. Kota Praindustri

Kota praindustri telah memiliki ciri setiap tahap agricultural yang menonjol, saat orang
mengenal teknik menanam tanaman dan berternak binatang pada sebidang tanah yang luas.
Pada kota praindustri heterogenitas masyarakat dan profesi mulai tampak menonjol
dibandingkan dengan masyarakat kuno.

a. Pola Perkotaan

Gejala yang terjadi pada kota-kota praindustri biasa ditemui empat pusat kegiatan, yaitu: 1)
pusat pemerintahan, 2) ruang publik, tempat masyarakat berinteraksi sosial, 3) tempat
beribadat, 4) pasara tardisional. Di Jawa, ciri kota praindustri itu meliputi: 1) keraton (pusat
pemerintahan), 2) alun-alun yang terletak di depan keraton, 3) masjid di sebelah kiri alun-
alun, 4) pasar tradisional di depan alun-alun keraton. Secara sosial, di Jawa, ciri-ciri lokasi
pusat-pusat kegiatan cenderung memiliki lokasi yang berdekatan, karena kebiasaan
masyarakat Jawa hidup secara komunal.

b. Gaya Arsitektur

Masyarakat praindustri telah mengalami perkembangann filosofi dari politheisme ke


monotheisme. Jika masyarakat kuno melakukan penyembahan dewa tertentu pada satu
tempat tertentu secara monoton dan cenderung bersifat publik atau komunal, maka
masyarakat praindustri memiliki konsep kepercayaan yang bersifat privat. Penerapan konsep
kosmologi dan kosmogoni pada bangunan lebih jelas. Bangunan-bangunan masih diberi
snetuhan gambar tentang binatang, tumbuh-tumbuhan, dan dewa atau mitis tertentu, namun
penggambarannya lebih abstrak dan dikerjakan dengan lebih halus, tidak lagi garang seperti
pada arsitektur kuno. Penggambaran yang halus, rapi, dan lembut dikenal sebagai bersifat
klasik.

3. Kota Industri

Kelahiran dunia industri membutuhkan banyak tenaga kerja, baik tenaga terampil tingkat
atas, menengah, maupun tenaga kasar. Sementara teknologi medis juga berkembang yang
berakibat pertambahan penduduk alami menonjol. Lembaga-lembaga perekonomian,
perbankan, koperasi, pusat-pusat perbelanjaan mulai hadir. Kebutuhan akan tenaga kerja di
dunia industri diikuti dengan proses urbanisasi yang tinggi. Penduduk kota semakin padat
dengan segala problematikanya. Pusat-pusat industri yang bertebaran di kota menunjukkan
adanya surplus kapital pada masyarakat kota industri, sehingga mereka memiliki kemampuan
dalam pengumpulan modal untuk mendirikan suatu industri.

Sementara disisi lain terdapat potensi masyarakat sebagai pasar. Dengan demikian, kota
industri lahir karena masyarakat kuno memiliki surplus tertentu. Surplus di sini tidak sekadar
surplus kapital, tetapi juga teknologi, sumber daya manusia, dan pemasaran. Gaya arsitektur
masa industri bersifat simpel, efisien, dan fungsional yang merupakan embrio gaya arsitektur
modern.

4. Kota Modern

Masa industrialisasi berlangsung mulai abad ke-17 setelah mulai banyak ditemukan berbagai
macam temuan teknologi. Namun pada abad ke-17 dan ke-18 industrialisasi diabdikan
kepada segelintir kelompok penguasa yang absolut dan kaum borjuis. Teknologi tidak
digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Akibatnya banyak ditemui rakyat-
rakyat yang hidup menderita. Sistem pemerintahan berubah dari sistem kekuasaan mutlak
absolut ke bentuk baru yang berpihak pada rakyat, seperti sistem demokrasi sistem
pemerintahan republik, federal, dan lain-lain. tidak seperti zaman raja-raja, kepala negara
memisahkan antara aktivitas politik dan agama.

a. Persoalan Kota Modern

Ciri-ciri kota modern adalah pertama, penggunaan teknologi sebagai sarana untuk
mempermudah mewujudkan kebutuhan manusia. Kedua, masyarakatnya memberikan
perhatian pada persoalan lingkungan, dengan mengenal sistem daur ulang dan sumber energi
nonreguler sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ketiga, pemanfaatan
tenaga listrik dan komputerisasi sebagai sumber vital untuk menggerakkan roda legiatan
manusia.

b. Gaya Arsitektur

Arsitektur modern dirancang secara efisien, berusaha menggugah rasa kekaguman atas
kemajuan teknologi dan penyelesaian yang telah dicapainya. Seni arsitektur modern mencoba
untuk memasuki penemuan-penemuan di bidang sains. Hal ini didorong oleh perkembangan
seni murni yang mulai mempertimbangkan faktor-faktor ekonomis-industrial sehingga
arsitektur modern gandrung dengan bentuk-bentuk dan hiasan geometris, teknologis, dan
sains.

5. Kota Post-Modern
Pada kota psot modern ciri-ciri modernisasinya berkembang lebih lanjut. Teknologi dan ilmu
pengetahuan seperti komputerisasi dan elektronisasi berkembang lebih canggih, beragam, dan
digunakan untuk kegiatan seolah di luar akal pikir masyarakat awam sebelumnya, seperti
teknologi daur ulang air seni sebagai kebutuhan air minum, penyediaan bahan makanan
dalam kapsul dan aktivitas manusia di luar angkasa.

Arsitektur Post Modern

Evaluasi atas modernisasi melahirkan dua aliran. Aliran Pertama adalah post modernisme
yang berorientasi pada kritik arsitektur yang memiliki konteks kebudayaan, sejarah, dan
komunikasi. Aliran Kedua, yang disebut dengan neo modernisasi dan dekonstruksi. Aliran ini
justru mengkritik aliran yang pertama (post-modern). Aliran pertama dianggap melakukan
kemunduran dengan menengok masa lalu melalui sejarah. Sebaliknya, aliran neo modernisasi
ingin mengatakan bahwa modernisasi belumlah selesai. Perlu didekonstruksi dan diperbarui
menjadi sesuatu yang lebih baru lagi. Neo modernisasi ingin bergerak secara linier.

6. Kota Global

Istilah global semula dapat dijumpai di bidang ekonomi. Apabila tingkat aktivitas ekonomi
meningkat, berarti telah terjadi surplus yang mendorong penduduk kota melakukan aktivitas
ekonominya ke luar negeri. Ekonomi dunia dikuasai oleh sejumlah kecil kekuatan yang
bersifat transnasional dan mendominasi jaringan dunia di bidang produksi dan konsumsi.
Kota global memiliki sejumlah perusahaan yang bersifat transnasional dan pusat pelayanan
jasa yang berkelas. Kondisi ini berpengaruh pada tingkat kesempatan kerja, tingkat
penghasilan penduduk, dan pandangan hidup penduduk.

Pola berpikir global akan berpengaruh pada desain arsitektur kota, baik itu bangunan-
bangunan komersial maupun tempat tinggal, sebagai misal beberapa kota besar di Indonesia
telah mengenal gaya bangunan minimalis dan pewarnaan kasual pada bangunan. Arsitektur
lokal ada kecenderungan mulai ditinggalkan, kecuali dengan melakukan perpaduan antara
arsitektur lokal dan arsitektur modern. Arsitektur lokal yang memiliki local genius saja yang
akan bertahan.

7. Kota Kosmopolitan

Coamopolitan dalam bahasa Inggris, merupakan kata sifat dari internasional. Kata bendanya
adalah cosmopolite, orang yang berpandangan internasional, warga dunia. Cosmos dalam
bahasa Yunani berarti, dunia, alam, dan polis berarti kota atau warga. Kota kosmopolitan
berarti kota yang masyarakatnya memiliki pandangan alam secara utuh menyeluruh. Gejala
kosmopolitan tampak pada dominasi individu-individu penduduk kota yang memiliki tingkat
kesejahteraan yang tinggi dan pemilikan industri berskala besar, minimal industri di tingkat
provinsi. Dengan kondisi sosial ekonomis eperti ini, masyarakat kosmopolitan memiliki
status sosial ekonomi tinggi yang memungkinkan mereka establish dalam finansial.

Pada akhirnya mereka akan memiliki gaya hidup perfectionist yang dicurahkan dalam bentuk
aktualisasi diri, sepeti membangun citra diri sebagai figur masyarakat yang banyak
memberikan perhatian pada lingkungan. Penampilan, perilaku, dan aktualita akan dijaga.
Masyarakat ini mngkritisi kembali ear post-modern yang dianggap norak untuk mencari
perhatian untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, masyarakat kosmopolitan akan menjaga secara
seimbang antara kepentingan dirinya dengan kepentingan masyarakat. Ada kecenderungan
masyarakat kosmopolitan merupakan kelompok bangsawan baru, dalam pengertian memiliki
tujuan hidup yang mapan serta menjaga citra.

Arsitektur kosmopolitan pun dirancang secara megah dan kembali ke era modern dengan
penambahan unsur-unsur yang lebih kreatif. Kosmopolitan merupakan kelanjutan dari post-
modern yang ingin memperbaiki apa yang kurang memuaskan bagi masyarakat
kosmopolitan. Hal yang masih dihargai dalam post-modern adalah kreativitasnya. Kota
kosmopolitan sebagai megacity menyadari pentingnya sustainability untuk masa depan
generasi yang akan datang. Kesadaran ini melahirkan “lomba” pesta penghijauan di banyak
negara berkembang dan menuntut banyak komitmen dalam perdebatan politik. Fakta bahwa
lapisan ozon menipis menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mencegah degradasi
lingkungan berikutnya.

Struktur kota

Pada siang hari kota betul-betul merupakan roda penghidupan penduduk kota dan sekitarnya,
sedang pada malam hari kota menjadi sunyi dan tenang. Jenis kelamin atau seks mempunyai
arti yang penting, karena semua kehidupan sosial dipengaruhi oleh propinsi atau
perbandingan jenis kelamin. Suatu kenyataan ialah bahwa pada umumnya kota-kota sedang
dan kota-kota besar lebih banyak dihuni oleh wanita daripada oleh pria, tetapi tidak demikian
halnya untuk kota-kota kecil.

Elektrifikasi belum banyak didapat di daerah pedesaan, terutama di daerah pedesaan di


negara-negara belum maju yang bersifat agraris. Di daerah seperti ini yang memiliki sifat
agraris lebih banyak menggambarkan pekerjaan keras daripada pekerjaan-pekerjaan yang
diperlukan dan dijalankan oleh penduduk kota. Membajak, mencangkul dan pekerjaan yang
sejenis itu pada umumnya dikerjakan oleh kaum pria. Di kota, wanita dapat bekerja dibidang
jasa yang tidak banyak memeras tenaganya.

Struktur penduduk kota dari segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tergolong
dalam umur produktif. Kemungkinan besar adalah bahwa mereka yang berumur lebih dari 65
abad atau mereka yang sudah pensiun lebih menyukai kehidupan dan suasana yang lebih
tenang. Suasana ini terdapat di daerah lokalisasi.

Struktur kota dapat dilihat dari jenis-jenis mata pecaharian penduduk. Sudah jelas bahwa
jenis mata pencaharian penduduk kota di bidang non agraris seperti pekerjaan-pekerjaan di
bidang kepegawaian, pengangkutan dan di bidang jasa serta lain-lainnya. Dengan demikian
struktur dari segi jenis-jenis mata pencaharian akan mengikuti fungsi dari suatu kota,
misalnya saja: kota tang dibangun adalah kota industri, maka dapat dikatakan bahwa struktur
penduduk kota tersebut dari segi ini akan mengarah atau cenderung ke jenis-jenis kegiatan
industri, tetapi meskipun demikian jarang sekali suatu kota mempunyai fungsi tunggal.
Biasanya ada fungsi-fungsi lainnya juga seperti kota dagang wanita, kota pemerintahan, kota
kebudayaan, dan sebagainya. Dalam keadaan tersebut struktur penduduk kota dari segi mata
pencaharian akan mengalami pelbagai variasi.

Segregasi dapat dianalogkan dengan pemisahan yang dapat menimbulkan pelbagai kompleks
atau kelompok (clusters), sehingga kita sering mendengar adanya: kompleks perumahan
pegawai bank, kompleks perumahan tentara, kompleks pertokoan, kompleks pecinaan, dan
seterusnya.
http://wijayanto.blog.uns.ac.id/2012/04/21/konsep-kota/
https://is.mendelu.cz/eknihovna/opory/zobraz_cast.pl?cast=58357