Anda di halaman 1dari 9

FISIOLOGI GINJAL SEBAGAI REABSORBSI

Sewaktu filtrat glomerulus memasuki tubulus ginjal, filtrat ini mengalir melalui bagian-

bagian tubulus secara berurutan, yaitu tubulus proksimal - ansa henle - tubulus distal – tubulus

koligents dan berakhir di duktus koligents. Sepanjang jalan yang dilaluinya beberapa zat

direabsorbsi secara selektif dari tubulus kembali ke darah, sedangkan yang lain akan

disekresikan dari darah ke dalam lumen tubulus. Reabsorbsi tidak seperti filtrasi glomerulus

yang secara relatif tidak selektif, reabsorbsi tubulus sangat selektif. Beberapa zat, seperti glukosa

dan asam amino direabsorbsi hampir sempurna dalam tubulus. Banyak ion dalam plasma seperti

natrium, klorida dan bikarbonat juga sangat direabsorbsi, tetapi kecepatan reabsorbsinya

bervariasi bergantung pada kebutuhan tubuh. Sebaliknya produk buangan tertentu seperti ureum,

dan kreatinin, sulit direabsorbsi dari tubulus dan diekskresi dalam jumlah yang relatif besar.

(Guyton,2008)

Mekanisme Transpor Aktif dan Pasif Reabsorbsi di Tubulus

Bila suatu zat akan direabsorbsi, pertama zat tersebut harus ditranspor (1) melintasi

membran epitel tubulus ke dalam cairan interstisiil ginjal dan kemudian (2) melalui membran

kapiler peritubulus kembali ke dalam darah. Reabsorbsi melalui epitel tubulus kedalam cairan

interstisiil meliputi transport aktif atau pasif dengan mekanisme dasar yang sama. Transpor aktif

dapat mendorong suatu zat terlarut melawan gradien elektrokimia dan membutuhkan energi

yang berasal dari metabolisme. Transpor yang berhubungan langsung dengan suatu sumber

energi, seperti hidrolisis ATP, disebut sebagai transport aktif primer. Suatu contoh adalah pompa

natrium kalium ATPase yang berfungsi pada hampir semua bagian tubulus ginjal. Pada
sisi basolateral sel-sel epitel tubulus di membran selnya mempunyai sistem Na+-K+- ATPase

yang menghidrolisis ATP dan menggunakan energi yang dilepaskan untuk mentranspor ion Na+

keluar dari sel masuk ke dalam interstisium. Pada waktu yang bersamaan, K+ ditranspor dari

interstisium ke dalam sel. Cara kerja pompa ion ini mempertahankan konsentrasi Na+ intrasel

tetap rendah dan kalium intrasel tetap tinggi serta menciptakan suatu muatan negatif akhir kira-

kira 70 mv didalam sel. Reabsorbsi akhir ion Na+ dari lumen tubulus kembali ke dalam darah

melibatkan tiga tahap:

1. Na+ berdifusi melalui membran luminal ke dalam sel mengikuti suatu gradien

elektrokimia yang terbentuk oleh pompa natrium - kalium ATPase pada sisi membrane

basolateral

2. Na+ di transport melalui membran basolateral melawan suatu gradien elektrokimia

yang ditimbulkan oleh pompa Na+-K+-ATPase

3. Na+, air, dan zat - zat lain direabsorbsi dari cairan interstisiil kedalam

kapiler peritubulus dengan cara ultrafiltrasi, yaitu suatu proses pasif yang digerakkan oleh

gradien tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. (Guyton,2008)

Akibat yang ditimbulkan dari reabsorbsi Na+, ada proses solvent drag yaitu proses

reabsorbsi Na+ yang diikuti oleh reabsorbsi air. Selain air, sewaktu Na+ direabsorbsi melalui

selepitel tubulus, ion negatif seperti Cl- ditranspor bersama dengan Na+ karena adanya potensial

listrik. Dengan demikian, transport ion Na+ bermuatan positif keluar dari lumen menjadi

bermuatan negatif, dibandingkan dengan cairan interstisiil. Hal ini menyebabkan ion Cl- berdifusi

secara pasif melalui jalur paraselular.

Reabsorbsi tambahan ion Cl- timbul karena terjadinya gradien konsentrasi Cl- ketika air

direabsorbsi dari tubulus dengan cara osmosis, sehingga mengkonsentrasikan ion Cl- dalam
lumen tubulus. Jadi reabsorbsi aktif Na+berpasangan erat dengan reabsorbsi pasif Cl- melalui

potensial listrik dan gradien konsentrasi Cl-. Ureum juga direabsorbsi secara pasif dari tubulus

tetapi jauh lebih sedikit daripada ion Cl-. Ketika air direabsorbsi dari tubulus, konsentrasi ureum

dalam lumen tubulus meningkat. Hal ini menimbulkan gradien konsentrasi yang menyebabkan

reabsorbsi ureum. Akan tetapi ureum tidak bisa memasuki tubulus semudah air, kira-kira hanya

satu setengah ureum yang difiltrasi melalui glomerulus, akan direabsorbsi dari tubulus. Ureum

yang masih tersisa akan masuk ke dalam urin. (Guyton, 2008)

Reabsorpsi Natrium

Reabsorsi Na+ direabsorpsi sepanjang tubulus. Berperan penting dalam segmen-segmen

yang berbeda. Reabsorpsi Na+ pada segmen tubulus proksimal berperan dalam mereabsoprsi

glukosa, asam amino, H2O, Cl-, dan urea. Reabsorpsi Na+ dari pars asendens dari lengkung

Henle, bersamaan dengan reabsorpsi Cl-, berperan dalam kemampuan ginjal dalam memproduksi

urin yang bervariasi konsentrasi dan volumenya. Reabsorpsi natrium dalam tubulus kontortus

distal dan duktus koligens berperan dalam mengontrol volume CES.

Na+ direabsorpsi sepanjang tubulus dengan pengecualian pars desendens dari lengkung

Henle. Sepanjang segmen yang mereabospsi Na+, terjadi reabsorpsi Na+ aktif yang melibatkan

pembawa Na+-K+-ATPase dependen energi yang terletak dalam membran basolateral sel tubular.

Reabsorpsi Na+ menyediakan energi untuk melakukan reabsorpsi substansi lain. Kanal Na+ pada

lumen dan atau pembawa transport yang membiarkan pergerakan dari Na+ dari lumen menuju ke

dalam sel bervariasi tiap tubulus, tapi pergerakan Na+ menyebarangi membran lumen selalu

secara pasif. Misalnya pada tubulus kontortus proksimal (TKP), Na+ menyebrangi dinding

lumen lewat pembawa kotranspor yang secara bersamaan membawa Na+ dan nutrisi organik

seperti glukosa ke dalam sel.


Pada duktus koligens, Na+ menyebrangi dinding lumen lewat kanal Na+. Ketika Na+

masuk ke dalam sel melewati dinding lumen, ia direabsorpsi ke ruang interstisial oleh pompa

natrium-kalium. Kemudian berdifusi searah dengan gradien konsentrasi dari konsentrasi tinggi

ke cairan interstisial hingga akhirnya menuju ke kapiler darah.

Regulasi Reabsorpsi Natrium

Pada tubulus proksimal dan lengkung Henle, sejumlah Na+ direabsorpsi tanpa

memandang muatan natrium atau dikenal sebagai Natrium Load (jumlah total Na+ di dalam

cairan tubuh, bukan kosentrasinya). Pada bagian distal, reabsorpsinya dibawah kendali hormonal,

sehingga tidak terlalu banyak Na+ tereabsorpsi maupun hilang di urin.

Natrium Load pada tubuh berdasarkan dari volume CES. Jika Natrium Load di atas

normal dan osmotik dari CES meningkat, maka kelebihan Na+ akan menahan kelebihan H2O

sehingga volume CES bertambah. Sebaliknya ketika Natrium load di bawah normal, sehingga

mengurangi aktivitas osmotik CES, H2O lebih sedikit yang berada pada CES sehingga volume

CES berkurang. Hal ini berkaitan dengan tekanan darah. Oleh karena itu, perlu adanya

mekanisme yang mengaturnya.

PENGAKTIFAN SISTEM RENIN-ANGIOTENSIS-ALDOSTERON

Aktivasi Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (Renin-Angiotensin-Aldosterone

System). Sel granular pada apparatus jukstaglomerular mensekresikan renin. Renin

menyebabkan reabsorpsi Na+, mengapa? Karena ketika disekresikan ke darah, renin bekerja

sebagai enzim yang mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I. Kemudian oleh


Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II sebagai

rangsangan penting untuk sekresi aldosteron dari korteks adrenal.

RAAS berperan penting dalam peningkatan reabsorpsi Na+. Aldosteron meningkatkan

reabsorpsi Na+ pada tubulus distal dan duktus koligents. Dengan menambahkan kanal Na+ pada

membran lumen dan membawa Na+-K+-ATPase ke membran basolateral dari sel distal dan

tubular. Sementara, angiotensin II merupakan konstriktor (penyempit) yang meningkatkan

resistensi total. Ia juga menyebakan haus dan merangsang vasopressin (meningkatkan retensi

H2O dari ginjal). Sebaliknya jika Natrium Load tinggi, volume CES dan plasma serta tekanan

darah arterial di atas normal, sekresi renin dihambat.

Peptida natriuretik atrium menghambat reabsorpsi Na+

Atrial Natriuretic Peptide (ANP), menghambat reabsorpsi Na+. ANP meningkatkan

natriresis dan juga dieresis, mengurangi volume plasma, dan mempengaruhi sistem

kardiovaskular dalam mengurangi tekanan darah. Kerja ANP adalah menghambat reabsorpsi

Na+ pada bagian distal dari nefron, sehingga meningkatkan eksresi urin. ANP juga

meningkatkan GFR dengan meningkatkan tekanan darah kapiler, dan merelaksasi sel mesangial

glomerular akan meningkatkan Kf (koefisien filtrasi).

Reabsorpsi Glukosa

Sejumlah besar molekul organik seperti glukosa dan asam amino difiltrasi setiap hari.

Karena normalnya subtansi ini direabsorpsi ke dalam darah dengan energi dan Na+ dependent

secondary transport mekanisme yang terletak pada tubulus proksimal. Tidak ada dari bahan-

bahan ini yang disekresikan dalam urin. Glukosa dan asam amino ditransfer lewat transport aktif
sekunder. Dengan proses ini, karier khusus pada tubulus proksimal mentransfer baik Na+ dan

molekul organik tersebut ke dalam sel. Semua substansi yang tereabsorpsi secara aktif berikatan

denagan karier membran plasma melewati membran dengan melawan gradien konsentrasi.

Setiap kotranspor dan molekulnya bersifat spesifik, namun jumlahnya terbatas. Tingkatan

maksimum reabsorpsi tercapai ketika semua karier telah digunakan (jenuh). Transpor maksimum

ini dikenal sebagai tubular maximum (Tm). Setiap jumlah substansi yang melebihi Tmnya tidak

akan tereabsorpsi.

Glukosa merupakan contoh substansi yang tereabsorpsi secara aktif tapi tidak diregulasi

ginjal. Glukosa merupakan substansi yang secara bebas dapat difiltrasi pada glomerulus,

melewati kapsula Bowman dengan konsentrasi sama pada plasma (karena 100 mg glukosa/100

ml plasma) yang artinya jika 125 ml cairan difiltrasi per menit (GFR = 125 ml/min), 125mg

glukosa melewati kapsula Bowman dan terfiltrasi. Jumlah substansi yang terfiltrasi per menit

dikenal sebagai muatan terfiltras( filtered load).

Filtered load = Konsentrasi substansi tertentu dalam plasma x GFR. Pada GFR konstan, filtered

load dari glukosa sama dengan konsentrasi glukosa plasma.

Ginjal memiliki Tm pada glukosa (375mg/menit). Konsentrasi plasma dimana Tm suatu

substansi dicapai dan substansi muncul pada urin disebut ambang ginjal (renal threshold). Pada

glukosa idealnya sekitar 300 mg/100 ml. Namun, karena Tm Glukosa lebih dari normal (375

mg/menit), maka reabsorpsi tidak terjadi. Selain itu, karena konsentrasi glukosa plasma sebesar

300 mg/100 ml telah mencapai renal threshold, maka glukosa akan berada di urin.
Reabsorsi Fosfat

Karier transport dari elektrolit init erletak pada tubulus proksimal. Renal threshold dari

ion ino rganik ini sama dengan kosentrasi plasma mereka secara normal. Kelebihan fosfat dalam

makanan akan terbuang di urin. Dikendalikan oleh hormon parathyroid yang mengubah renal

threshold dari fosfat (dan Ca2+).

Reabsorpsi Klorida (Cl-)

Ion klorida yang bermuatan negative direabsorpsi secara pasif searah dengan gradien

elektrik yang disebabkan oleh reabsorpsi aktif dari ion natrium. Kebanyakan, ion klorida

direabsorpsi melalui sel tubular.

Reabsorpsi Air

Air direabsorpsi secara pasif di sepanjang tubulus selama mengikuti secara osmotik dari

Na+ yang tereabsorpsi. Delapan puluh persen dari air yang terfiltrasi di reabsorpsi pada tubulus

proksimal dan lengkung henle. Air juga direabsorpsi pada bagian distal tubulus dan di bawah

kendali hormon. Selama direabsorpsi, H2O melewati aquaporin atau kanal air, dibentuk dari

membrane protein spesifik dari sel tubular. Kanal pada bagian akhir tubulus diregulasi oleh

hormon vasopressin. Penyebab utama air tereabsorpsi pada tubulus proksimal adalah karena

adanya hipertonisdi ruang lateral antara sel tubular dan pompa basolateral dari Na+ yang

menyebabkan perubahan gradien osmotik.


Sekresi Ion Hidrogen dan Reabsorbsi Ion Bikarbonat Oleh Tubulus

Ion hidrogen dan reabsorbsi bikarbonat terjadi hampir di seluruh bagian tubulus kecuali segmen tipis

desenden dan asenden ansa henle. setiap bikarbonat yang direabsorbsi, satu H+ harus disekresikan. Sekitar 80 sampai

90 persen reabsorbsi bikarbonat (dan sekresi H+) terjadi di tubulus proksimal, sehingga hanya sejumlah kecil

bikarbonat yang mengalir ke dalam tubulus distal dan duktus koligents. Di segmen tebal asenden ansa henle, terjadi

reabsorbsi terhadap 10 persen bikarbonat yang difiltrasi dan reabsorbsi sisanya terjadi di tubulus distal dan duktus

koligenta. Mekanisme reabsorbsi bikarbonat juga melibatkan sekresi H+oleh tubulus, tetapi juga dilakukan secara

terpisah oleh segmen tubulus yang berbeda. Ion hidrogen disekresikan oleh transpor aktif sekunder di segmen

tubulus awal.

Proses sekresi dimulai ketika CO2 berdifusi ke dalam sel tubulus atau dibentuk melalui metabolisme di

dalam sel epitel tubulus. CO2 dibawah pengaruh enzim karbonik anhidrase, bergabung dengan H2O untuk

membentuk H2CO3, yang berdisosiasi menjadi HCO3- dan CO. H+ disekresikan dari sel masuk ke dalam lumen

tubulus melalui transpor Natrium- hidrogen. Ketika Na+ bergerak dari lumen tubulus ke bagian dalam sel, Na+ mula-

mula bergabung dengan protein pembawa di batas luminal membran sel, pada waktu bersamaan, H+ di dalam

sel bergabung dengan protein pembawa Na+ bergerak ke dalam sel mengikuti gradien konsentrasi yang telah

dihasilkan oleh pompa Na+-K+ ATPase di membran basolateral. Gradien untuk pergerakan Na+ ke dalam sel

kemudian menyediakan energi untuk menggerakkan H+ ke arah yang berlawanan dari dalam sel ke lumen tubulus.

Ion Bikarbonat Difiltrasi, Direabsorbsi Melalui Interaksi Dengan Ion Hidrogen Dalam Tubulus

Reabsorbsi HCO3- diawali oleh reaksi di dalam tubulus antara HCO3- yang difiltrasi pada glomerulus dan

H+ yang disekresikan oleh sel tubulus. H2C03-yang terbentuk kemudian berdisosiasi menjadi CO2 dan H2O. CO2

dapat bergerak dengan mudah melewati membran tubulus. Oleh karena itu, CO2 berdifusi masuk ke dalam sel

tubulus, tempat CO2 bergabung kembali dengan H2O di bawah pengaruh karbonik anhidrase, untuk menghasilkan
molekul H2CO3- yang baru. H2C03- berdisosiasi membentuk HCO3- dan H+. HCO3- berdifusi melalui membran

basolateral masuk ke dalam cairan intertisial dan dibawa ke darah kapiler peritubulus.

Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran 11th ed. Jakarta: EGC

Sherwood, Lauralee. 2011. Buku ajar Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC