Anda di halaman 1dari 15

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH UTARA

PUSKESMAS SEUNUDDON
Jln. Pante Breuh – Ulee Rubek, Gampong Tanjong Pineung
Kecamatan Seunuddon – Kode Pos 24343
Email: puskesmasseunuddon@gmail.com

KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS SEUNUDDON
Nomor : /SK/UKP/SND/2018

TENTANG

PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN DI PUSKESMAS


SEUNUDDON

KEPALA PUSKESMAS SEUNUDDON

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka peningkatan mutu layanan klinis dan keselamatan pasien,
maka tenaga klinis wajib berperan aktif dalam pelaksanaan Puskesmas Seunuddon;
b. Bahwa untuk melakasanakan tanggung jawab tersebut, perlu kewajiban tenaga
klinis dalam peningkatan mutu klinis;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf
b, perlu menetapkan Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon tentang kewajiban
tenaga klinis dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien Puskesmas
Seunuddon.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Kesehatan;


2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;
3. Peraturaan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 296 tahun 2008 tentang
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015 tentang
Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien.
MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG


PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN
PASIEN DI PUSKESMAS SEUNUDDON.

Kesatu : Peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien di


Puskesmas Seunuddon, sebagaimana tercantum dalam
Lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
surat keputusan ini.

Kedua : PEMBENTUKAN TIM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN


KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN dan PENYUSUNAN
INDIKATOR KLINIS, sebagaimana dicantumkan dalam
lampiran 1

Ketiga : IDENTIFIKASI DOKUMENTASI dan PELAPORAN KASUS


KTD, KPC, KNC, sebagaimana dicantumkan dalam
lampiran 2

Keempat : PENANGANAN KTD, KPC, KNC, sebagaimana dicantumkan


dalam lampiran 3

Kelima : PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS, sebagaimana


dicantumkan dalam lampiran 4

Keenam : BUDAYA MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN,


sebagaimana dicantumkan dalam lampiran 5

Ketujuh : STANDAR LAYANAN KLINIS, sebagaimana dicantumkan


dalam lampiran 6

Kedelapan : PENETAPAN DOKUMEN EKSTERNAL SEBAGAI ACUAN


DALAM PENYUSUNAN STANDAR PELAYANAN KLINIS,
sebagaimana dicantumkan dalam lampiran 7

Kesembilan : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan


dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaiman mestinya.

Ditetapkan di : Seunuddon,
Pada tanggal :
KEPALA PUSKESMAS SEUNUDDON

Z A I T U N I, SKM
Lampiran :1
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

PEMBENTUKAN TIM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KLINIS DAN


KESELAMATAN PASIEN DAN PENYUSUNAN INDIKATOR KLINIS

1. Penyusunan indikator klinis dan indikator prilaku pemberi layanan klinis


di Puskesmas Seunuddon dilaksanakan dengan melibatkan tenaga klinis.
2. Untuk itu, perlu dibentuk Tim Manajemen Mutu yang didalamnya
terdapat Tim Peningkatan Mutu Pelayanan Klinis dan Keselamatan Pasien
serta Tim Penyusun Indikator Klinis, hal ini dibuat sedemikian
dikarenakan keterbatasan sember daya manusia.
Tim Manajemen Mutu adalah sebagai berikut:
Ketua :
Sekretaris :
Ketua PMKP :
Anggota :
3. Tim Manajemen Mutu didalamnya terdapat Tim Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien yang bertugas untuk:
a. Melaksanakan evaluasi prilaku pelayanan klinis
b. Mendokumentasikan hasil evaluasi prilaku pe;yanan klinis
c. Melaporkan hasil evaluasi pelayanan klinis kepada Kepala
Puskesmas setiap tiga bulan sekali guna perbaikan prilaku
pelayanan klinis.
4. Tim Manajemen Mutu berkewajiban untuk melibatkan tenaga klinis
dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien yang memiliki
kewajiban sebagai berikut:
a. Meningkatkan mutu pelayanan dengan menerapkan sistem
manajemen mutu di semua tingkatan penyelenggaraan kegiatan
puskesmas
b. Memberi pelayanan terbaik untuk mencapai kepuasan dan
keselamatan untuk pasien
c. Melakukan upaya perbaikan secara berkala untik mencapai
kepuasan dan keselamatan untuk pasien
d. Pengingkatan kinerja pegawai puskesmas yang dilakukan secara
periodik
5. Pihak dan petugas yang terlibat dalam upaya melakukan pemantauan
pelaksanaan dan peningkatan mutu pelayanan klinis dan keselamatan
pasien adalah sebagai berikut:
a. Medis : Dokter dan Dokter Gigi
b. Paramedis : Perawat dan Bidan
c. Farmasi : Asisten Apoteker
d. Laboratorium : Dokter
e. Gizi : Nutrisionis
f. Kesehatan Masyarakat : Sanitarian
6. Tim Manajemen Mutu membuat indikator mutu klinis sebagai berikut:
STANDAR
JENIS
NO INDIKATOR PENCA
PELAYANAN
PAIAN
1. Waktu tunggu pendaftaran kurang lebih 10 menit 100 %
terlayani dari saat dipanggil sampai Rekam Medik
siap diambil petugas pelayanan
2. Kelengkapan pengisian rekam medik 100 %
Pendaftaran
1 24 jam setelah selesai pelayanan

3. Tidak ada kesalahan dalam pemilihan pasien 100 %


(BPJS/Umum)
4. Kepuasan pasien 90 %
1. Jam pelayanan 24 jam 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
3. Pelaksanaan triase di UGD 100 %
2 UGD
4. Bekerja sesuai SOP 100 %
5. Tidak ada infeksi paska penjahitan luka 100 %
6. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
3 Poli Umum 3. Pasien diperiksa oleh dokter 100 %
4. Kesesuaian diagnosa dan therapy 100 %
5. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100%
4 Poli Keswa
3. Pemberian obat / konseling rutin 100 %
4. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100%
Poli PTM
5 3. Kesesuaian diagnosa dan therapy 100 %
4. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik dan Odontogram 100%
Poli Gigi 3. Tidak terjadi dry-socket paska pencabutan gigi 100 %
6
4. Bekerja sesuai SOP 100 %
5. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Pemeriksaan ANC Lengkap dengan standart 10 T ≤ 100 %
7 45 menit
Poli Anak / KIA 3. Bekerja sesuai SOP 100 %
4. Memberikan pelayanan MTBS 100 %
5. Kepuasan pasien 90%
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
3. Pelayanan tindakan IVA ≤ 30 menit 100%
4. Tidak terjadi infeksi paska pemasangan KB implan 100%
8 Poli IVA / KB
5. Bekerja sesuai SOP 100 %
6. Kepuasan pasien 90%

1. Waktu tunggu hasil laboratorium ≤ 15 menit 100 %


2. Bekerja sesuai SOP 100 %
Laboratorium
9 3. Tidak adanya kesalahan pemberian hasil 100 %
pemeriksaan laboratorium
4. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu tunggu pelayanan obat jadi 15 menit 100 %
2. Waktu tunggu pelayanan obat pulvis 30 menit 100 %
10 Farmasi 3. Pelayanan informasi obat pada pasien 100 %
4. Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100 %
5. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
11 Imunisasi / Gizi 2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
3. Pemberian imunisasi 100 %
4. Konseling gizi buruk dan gizi kurang 100 %
5. Bekerja sesuai SOP 100 %
6. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
13 PONED 3. Pelayanan tindakan medis menit 100 %
4. Kesesuain diagnosa dan therapy 100 %
5. Bekerja sesuai SOP 100 %
6. Kepuasan pasien 90 %
1. Waktu pelayanan pemeriksaan 10 menit 100 %
2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
14 Fisioterapi 3. Melakukan tindakan fisiotherapi sesuai indikasi 100 %
4. Kesesuain diagnosa dan therapy 100 %
6. Kepuasan pasien 90 %
15 PPI 1. Ada anggota tim yang terlatih 100 %
2. Tersedia APD disetiap poli/unit layanan 100 %
1. Jam pelayanan 24 jam 100 %
16 Rawat Inap 2. Kelengkapan Rekam Medik 100 %
3. BOR / Jumlah penggunaan BED di rawat inap 100 %
1. Jam pelayanan 24 jam 100 %
17 Ambulance 2. Kecepatan memberikan pelayanan ambulance 100 %
3. Monitoring pasien selama dalam ambulance 100 %

7. Bila terdapat hasil evaluasi peningkatan mutu klinis dan keselamatan


pasien, maka dilakukan pelaksanaan penyampaian hasil oleh Tim
Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien kepada semua petugas
klinis di Puskesmas melalui sebuah rapat.

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran :2
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

IDENTIFIKASI DOKUMENTASI DAN PELAPORAN KASUS KTD, KPC, KNC

1. Identifikasi dan pelaporan kasus KTD, KPC, dan KNC dilakukan oleh
semua tenaga klinis serta wajib melaksanakan identifikasi, dokumentasi,
dan melaporkan apabila menemukan kejadia tidak diharapkan, kejadian
potensial cedera, dan kejadian nyaris cedera.
2. Laporan yang dimaksud dalam bentuk diktum pertama adalah dilaporkan
lisan kepada Dokter penanggungjawab pelayanan pada saat kejadian agar
dilakukan pencegahan dan pertolongan sesegera mungkin, dan laporan
harus dibuat 2x24 jam.

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran :3
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

PENANGANAN KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN, KEJADIAN POTENSIAL


CEDERA, DAN KEJADIAN NYARIS CEDERA

A. PENDAHULUAN
Keselmatan pasien adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi assesmen resiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan resiko pasien, pelaporan dan analisis
pasien, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalisasikan timbulnya resiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan untuk tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah
setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri dari
Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian Nyaris
Cedera

B. TEMA
Penggunaan Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan
Kejadian Nyaris Cedera akan meningkatkan mutu pelayanan klinis.

C. TUJUAN
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di puskesmas
b. Meningkatnya akuntabilitas puskesmas terhadap pasien dan
masyarakat
c. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial
Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera di puskesmas
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial
Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera

D. SASARAN
a. Puskesmas
b. Puskesmas Pembantu
c. Poskesdes

E. BENTUK KEGIATAN
Penanggulangan terhadap terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan,
Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi kasus
b. Pelaporan kepada Tim Manajemen Mutu Puskesmas
c. Analisis kasus oleh Tim Manajemen Mutu Puskesmas
d. Implementasi/pelaksanaan perbaikan pada mutu layanan klinis
oleh semua tenaga klinis di puskesmas
e. Pencegahan terulangnya kembali kasus yang sama oleh semua
tenaga klinis di puskesmas

F. PENUTUP
Demikian program ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai
penanganan Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan
Kejadian Nyaris Cedera di Puskesmas Seunuddon.

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran :4
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO

A. PENDAHULUAN
Manajemen resiko klinis merupakan suatu upaya sistematis yang
dilakukan di puskesmas dalam rangka mengurangi resiko akibat pelaksanaan
pelayanan medis. Resiko klinis dapat berupa bahaya, kesalahan, musibah, atau
potensi terjadinya hal-hal yang merugikan pasien terkait dengan atau sebagai
dampak asuhan klinis yang diberikan kepadanya.

B. TUJUAN
Meminimalisasikan terjadinya kesalahan medis, kejadian yang tidak
diharapkan, dan kerugian pada pasien sehingga membuat asuhan pasien
menjadi lebih lama.
Meminimalisasikan kemungkinan terjadinya klaim dan mengendalikan
biaya klaim yang harus menjadi tanggungan institusi.

C. SASARAN
a. Puskesmas
b. Puskesmas Pembantu
c. Poskesdes

D. TAHAPAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS


a. Identifikasi resiko: keluhan pasien, klaim, pelaporan insiden, audit
medis
b. Pembahasan: Tim PMKP, Koordinator pemegang program
c. Kesimpulan: RCA: tipe medical error, sumber medical error; FMEA:
kebijakan, perbaikan prosedur, peraturan, dll.
d. Tindak lanjut

E. LAPORAN KEJADIAN
Pelaporan setiap masalah atau kejadian yang menyimpang dari yang
direncanakan atau secara normal seharusnya tidak terjadi dan berdampak pada
keselamatan pasien, bepotensi menghadapkan puskesmas pada tuntutan
hukum, berpotensi menghadapkan pasien pada keadaan yang beresiko.
Masalah/kejadian tidak harus selalu menyebabkan cedera, tetapi
termasuk juga kejadian yang potensial menyebabkan cedera.
Pelaporan atas masalah/kejadian yang dapat dijadikan pelajaran untuk
mengeliminasi dan meminimalisasikan resiko terutama yang mempunyai
dampak terhadap anggaran dan resiko ketersediaan keuangan dan peralatan.

F. SUMBER KESALAHAN MEDIS

Manusia Kelelahan
Kurang terlatih
Komunikasi yang buruk
Kekuasaan monopoli
Keterbatasan waktu
Sanksi yang lemah
Keraguan
Tidak percaya diri
Tidak mau belajar

Organisasi Perencanaan kebijaksanaan yang tidak jelas


Administrasi dan pembiayaan yang minimal
Umpan balik yang tidak jelas
Ketidakjelasan peraturan
Ketidakjelasan pembagian tugas

Rancang bangun gedung/ Peralatan yang buruk


Tehnikal Peralatan yang minimal
Tidak banyak informasi penggunaan alat
Tidak menggunakan SOP
Kurang integrasi
Tipe kesalahan medis Kekeliruan konsep
Kekeliruan konsep penyakit
Kekeliruan konsep pengobatan
Kekeliruan diagnosa
Missdiagnosed
Late-diagnosed
Gagal melakukan prosedur diagnosa
Gagal melakukan pemantauan dan follow-up
Hasil pemeriksaan penunjang yang tidak valid

Kekeliruan terapi Salah melakukan tindakan medis


Salah memberikan terapi
Salah menetapkan diagnosa
Salah menetapkan jenis obat
Salah memberikan terapi media meskipun indikasi
medis jelas
Melakukan tindakan medis yang tidak ada indikasinya

Kekeliruan pencegahan Gagal melakukan terapi pencegahan sesuai yang


diperlukan
Tidak adekuat melakukan pemantauan terapi

Lainnya Gagal dalam berkomunikasi baik dengan pasien


Maupun tenaga kesehatan lainnya
Kesalahan/kegagalan sistem lainnya
G. PENUTUP
Demikian hal ini dibuat untuk gambaran mengenai penerapan
manajemen resiko klinis di Puskesmas Seunuddon.

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran : 5
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

BUDAYA MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN DALAM PELAYANAN KLINIS

1. Kesadaran (Awareness)
Seluruh staff harus sadar untuk bekerja dengan berhati-hati. Seluruh
staff puskesmas mampu mengenali kesalahan dan belajar dari kesalahan
tersebut, serta mengambil tindakan untuk memperbaikunya.

2. Terbuka dan Adil


Bagian yang fundamental dari organisasi dengan budaya keselamatan
adalah menjamin adanya keterbukaan yang adil, berbagi informasi secara
“terbuka dan bebas”, perlakuan yang adil terhadap stah saat terjadi insiden.
Adapun konsekuensi terbuka dan adil adalah:
a. Staf harus terbuka terhadap insiden yang melibatkan mereka
b. Staff harus akuntabel terhadap tindakan mereka
c. Staff merasa mampu berbicara kepada pasien dan atasannya
tentang insiden yang terjadi
d. Puskesmas terbuka dengan staff, pasien, dan masyarakat
e. Staff diperlakukan adil dan didukung jika terjadi insiden

3. Pendekatan Sistem
Memiliki budaya keselamatan akan mendorog terciptanya lingkungan
yang mempertimbangkan semua komponen sebagai faktor yang ikut
berkontribusi terhadap insiden yang terjadi.

Hal ini menghindari kecenderungan untuk menyalahkan individu dan lebih


melihat kepada sistem dimana individu tersebut bekerja. Inilah yang disebut
pendekatan sistem (System Approach).

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran : 6
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

STANDAR LAYANAN KLINIS

Penetapan standar layanan klinis di Puskesmas Seunuddon adalah


sebagai berikut:
1. Pelayanan klinis berorientasi pada SPM (Standar Pelayanan Minimal)
Kabupaten, apabila tidak terdapat pada SPM Kabupaten maka mengacu
pada SPM Propinsi dan atau Nasional.
2. Pelayanan klinis dilakukan sesuai dengan SOP Puskesmas Senuddon.

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM
Lampiran : 7
Keputusan Kepala Puskesmas Seunuddon
Nomor :
Tanggal :
Tentang : Peningkatan Mutu Klinis
dan Keselamatan Pasien
di Puskesmas Seunuddon

PENETAPAN DOKUMEN EKSTERNAL YANG MENJADI ACUAN DALAM


MENYUSUN STANDAR PELAYANAN KLINIS

Dalam penyususnan standar pelayanan klinis dipandang perlu untuk


mengacu terhadap dokumen-dokumen tertentu sebagai referensi, berikut ini
dokumen eksternal yang ditetapkan sebagai acuan penyusunan standar
pelayanan klinis:

NO JUDUL DOKUMEN
1. Undang undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
2. Undang Undang no 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi Publik
3. Undang Undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan
4. Peraturan presiden no 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
5. Permenpan 13 tahun 2009 tentang Pedoman peningkatan Kualitas pelayanan
6. Permenkominfo no 10 tahun 2010 tentang pengelolaan Informasi dan Dokumentasi
7. Permenkes 35 tahun 2012 tentang standart penyususnan SOP Admin pemerintah
8. Kepmenkes 81 tahun 2004 tentang pedoman penyusunan perencanaan SDM Kesehatan
9. Pedoman minilokakarya Puskesmas 2006
10. Undang-undang no 74 tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya
11. Sistem manajemen Mutu ISO 9001 – 2008
12. Permenkes No 75 tahun 2014 tentang Puskesmas
13. UU no 36/2009 ttg kesehatan
14. UU 44/2009 tentang Rumah sakit
15. Standar Profesi pelayanan medis
16. Standar asuhan Keperawatan
17. Pedoman triase
18. Standar pelayanan Klinis Puskesmas
19. PMK 128/2008 ttg Kebijakan Dasar puskesmas
20. Pedoman Pelananan klinis dari organisasi
21. Panduan kewaspadaan universal
22. Pedoman Anastesi dan sedasi
23. PMK 37/2012 ttg penyelenggaraan laboratorium Pusat kesehatan masyarakat
24. Peraturan Pemerintah ttg pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun
25. SK Menkes 382 tahun 2007
26. SK Menkes No 270 tahun 2007
27. Permenkes 30/2014 ttg standart pelayanan kefarmasian di puskesmas
28. Pedoman Interpretasi data klinik
29. Panduan tertulis untuk evaluasi reagensia
30. Formulariu obat
31. Buku pedoman pengelolaan Obat di Puskesmas oleh Direktorat jendral pembinaan kesehatan
masyarakat Depkes RI 1994
32. Klasifikasi diagnosis
33. PMK 269/2008 ttg Rekam Medis
34. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi no PER 04/MEN/1980 ttg syarat-syarat
pemasangan dan pemeliharaan Alat pemadam api ringan
35. PMK 13/2015 ttg penyelenggaraan pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas
36. PMK 755/2011 ttg penyelenggaraan komite medic Rumah sakit
37. Standar pelayanan rekam Medis
38. Modul pelatihan pengelolaan Peralatan puskesmas
39. PMK 5/2014 Panduan praktek klinis
40. Pedoman Keselamatan Pasien
41. Panduan manajemen resiko Klinis
42. KEP.MENKES RI. NO 284/MENKES/SK/IV/2006, tentang Standar Pelayanan Asuhan
Kesgilut
43. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor: HK.02.04/II/964/2012 tentang
Pedoman Paket Dasar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas
44. Per Men Kes No. 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
45. Pedoman pelaksanaan mutu klinis
46. Panduan pelayanan medik
47. Pedoman pemeriksaan Fisik
48. Pedoman pengobatan dasar
49. Pedoman pemeriksaan Diagnosa
50. Pedoman pelaksanaan laboratorium

Kepala Puskesmas Seunuddon

Z A I T U N I, SKM