Anda di halaman 1dari 18

Tugas : Keperawatan Maternitas I

Nama Dosen : Ireni Siampa, S. Kep. Ns., M. Kep

POSTPARTUM

Oleh Kelompok 1:

Anna Islamiah Anggraini (NH0116017) Agnes Derek (NH0116006)


Aisyah Abdul Rahman (NH0116010) Agnes Yunita (NH0116007)
Alfikri Fara (NH0116013) Ardul Rumuar (NH0116004)
Abdul Razak (NH0116002) Agustina Mangande (NH0116008)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
POSTPARTUM
A. Definisi

Postpartum atau masa nifas adalah masa sesudah persalinan


terhitung dari saat selesai persalinan sampai pulihnya kembali alat
kandungan ke keadaan sebelum hamil dan lamanya masa nifas ± 6
minggu. (Rahayu A.P, 2016)

B. Fisiologi Postpartum
1. Perubahan Sistem Reproduksi
a. Involusi Uteri

Involusi uteri adalah perubahan yang terjadi pada genitalia


interna menuju kondisi normal (Manuaba Ida Bagus, 1993).

Involusi uterus adalah kembalinya uterus dalam keadaan


sebelum hamil.Selain uterus, vagina, ligamen uterus dan otot dasar
panggul juga kembali dalam keadaan sebelum hamil. Selama
proses involusi, uterus menipis dan mengeluarkan lokia yang
diganti dengan endometrium baru. Endometrium baru tumbuh dan
terbentuk selama 10 hari postpartum dan menjadi sempurna sekitar
6 minggu. (Bahiyatun, 2009)

Selama proses involusi uterus berlangsung, berat uterus


mengalami penurunan dari 1000 gram menjadi 60 gram dan ukuran
uterus berubah dari 15x 11 x 7,5 cm menjadi 7,5 x 5 x 2,5 cm.
setiap minggu berat uterus turun sekitar 500 gram dan serviks
menutup hingga selebar 1 jari.Proses involusi uterus disertai
dengan penurunan tinggi fundus uteri (TFU). Pada hari pertama,
TFU diatas simfisis pubis atau sekitar 12 cm. Proses ini terus
berlangsung dengan penurunan TFU 1 cm setiap harinya, sehingga
pada hari ke-7 TFU berkisar 5 cm dan pada hari ke-10 TFU tidak
teraba di simfisis pubis. (Bahiyatun, 2009)
b. Lokia

Lokia merupakan keluaran dari uterus selama 3 minggu pertama


setelah kelahiran terjadi 3 tipe (Stright Barbara R, 2004):

1) Lokia Rubra adalah keluaran berwarna merah gelap terjadi


pada 2 – 3 hari pertama. Lokia ini mengandung sel-sel epitel,
eritrosit, leukosit, dan desidua serta memiliki bau karakteristik
manusia.
2) Lokia Serosa adalah keluaran merah sampai kecoklatan, terjadi
dari 3 – 10 hari setelah kelahiran. Ini adalah keluaran
serosanguineus yang mengandung desidua, eritrosit, leukosit,
lendir serviks dan mikroorganisme. Lokia serosa memiliki bau
yang keras.
3) Lokia Alba adalah keluaran yang hamper tidak berwarna
sampai krem kekuningan, terjadi dari 10 hari – 3 minggu
setelah kelahiran. Keluaran ini mengandung leukosit, desidua,
sel-sel epitel, lemak, lendir serviks, Kristal kolesterol, dan
bakteri. Lokia alba seharusnya tidak berbau.

c. Ovarium dan Tuba Fallopi

Setelah kelahiran plasenta, produksi estrogen dan


progesterone menurun, sehingga menimbulkan mekanisme timbal
– balik dari sirkulasi menstruasi. Pada saat inilah dimulai kembali
proses ovulasi, sehingga wanita dapat hamil kembali. (Bahiyatun,
2009)

2. Perubahan Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang


berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak
akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa
sakit untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi
pada ibu nifas dalam minggu pertama.Suppositoria dibutuhkan untuk
membantu eliminasi pada ibu nifas. Akan tetapi proses konstipasi
dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran
lukanya akan terbuka bila ibu buang air besar (Rini Susilo, 2016)

3. Perubahan Sistem Perkemihan

Diuresis dapat terjadi setelah 2 – 3 hari postpartum.Diuresis


terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan
kembali normal setelah 4 minggu postpartum. Pada awal postpartum,
kandung kemih mengalami edema, kongesti, dan hipotonik. Hal ini
disebabkan oleh adanya over distensi pada saat kala dua persalinan dan
pengeluaran urine yang tertahan selama proses persalinan. Sumbatan
pada urethra disebabkan oleh adanya trauma saat persalinan
berlangsung dan trauma ini dapat berkurang setelah 24 jam postpartum
(Bahiyatun, 2009).

4. Perubahan Sistem Endokrin

Saat plasenta terlepas dari dinding uterus, kadar HCG dan HPL
secara berangsur turun dan normal kembali setelah 7 hari postpartum.
HCG tidak terdapat dalam urine ibu setelah 2 hari postpartum.HPL
tidak lagi terdapat dalam plasma (Bahiyatun, 2009).

5. Perubahan Sistem Kardiovaskular

Setelah terjadi dieresis yang mencolok akibat penurunan kadar


estrogen, volume darah kembali pada keadaan tidak – hamil. Jumlah
sel darah merah dan kadar Hb kembali normal pada hari ke – 5.
Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar
selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada
normal. Plasma darah tidak begitu mengandung caira dan dengan
demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah
dengan penanganan pada ambulasi dini (Farrer Helen, 1999)
6. Perubahan Sistem Hematologi

Leukositosis mungkin terjadi selama persalinan, sel darah


merah berkisar 15.000 selama persalinan.Peningkatan sel darah putih
berkisar antara 25.000 – 30.000 yang merupakan manifestasi adanya
infeksi pada persalinan lama.Hal ini dapat meningkat pada awal nifas
yang terjadi bersamaan dengan peningkatan tekanan darah serta
volume plasma dan volume sel darah merah.Pada 2 – 3 hari
postpartum, konsentrasi hematokrit menurun sekitar 2% atau lebih.
Total kehilangan darah pada saat persalinan dan nifas kira-kira 700 –
1500 ml (200 – 200 ml hilang pada saat persalinan, 500 – 800 ml
hilang pada minggu pertama postpartum dan 500 ml hilang pada saat
masa nifas). (Bahiyatun, 2009)

7. Perubahan TTV
a. Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat celcius.
Sesudah partus, suhu tubuh dapat naik ± 0,5 derajat celcius dari
keadaan normal. Namun tidak akan melebihi 8 derajat celcius.
Sesudah 2 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan akan
kembali normal. Apabila suhu lebih dari 38 derajat celcius,
menandakan mungkin telah terjadi infeksi.
b. Denyut nadi berkisar antara 60 – 80 per menit setelah partus dan
dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardia dan suhu tubuh
tidak panas, mungkin ada pendarahan berlebihan atau ada vitium
kordis. Pada masa nifas, umumnya denyut nadi labil dibandingkan
dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat
setelah partus kemudian akan kembali seperti keadaan semula.
c. Tekanan darah pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi
postpartum akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak
terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam setengah
bulan tanpa pengobatan.
(Nani Desiyani, 2016)

C. Asuhan pada Masa Nifas Normal


1. Pengkajian Data Fisik
Data yang dikaji meliputi data subjektif dan objektif (Rini Susilo,
2016):
a. Riwayat Kesehatan

Hal yang perlu dikaji dalam riwayat kesehatan adalah:

1) Keluhan yang dirasakan ibu saat ini


2) Adakah kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari
misalnya pola makan, BAK atau BAB, kebutuhan istirahat,
mobilisasi.
3) Riwayat tentang persalinan ini meliputi adakah komplikasi,
laserasi, atau episiotomy.
4) Obat / suplemen yang dikonsumsi saat ini, misalnya tablet besi
5) Perasaan ibu saat ini yang berkaitan dengan kelahiran bayi dan
penerimaan terhadap peran baru sebagai orangtua
6) Adakah kesulitan dalam pemberian ASI dan perawatan bayi
sehari-hari
7) Bagaimana perencanaan menyusui nanti (ASI ekslusif atau
tidak), perawatan bayi dilakukan sendiri atau dibantu orang lain
8) Bagaimana dukungan dari suami dan keluarga terhadap ibu
9) Pengetahuan ibu tentang nifas
b. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh dan terutama


berfokus pada masa nifas, yaitu (Rini Susilo, 2016):

1) Keadaan umum, kesadaran


2) TTV
3) Payudara: pembesaran, putting susu (menonjol / mendatar,
adakah nyeri dan lecet pada putting susu), ASI sudah keluar,
adakah pembengkakan, radang atau benjolan abnormal.
4) Abdomen: TFU, kontraksi uteri
5) Kandung kemih kosong / penuh
6) Genitalia dan perineum: pengeluaran lochea (jenis, warna,
jumlah, bau), edema, peradanagn, keadaan jahitan, nanah,
tanda-tanda infeksi pada luka jahitan, kebersihan perineum,
hemorrhoid pada anus
7) Ekstremitas bawah: pergerakan, gumpalan darah pada otot kaki
yang menyebabkan nyeri, edema, human”s sign, varises.
8) Pengkajian psikologis dan pengetahuan ibu.

2. Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual

Langkah selanjutnya setelah memperoleh dataadalah


melakukan analisa data dan interpretasi sehingga didapatkan rumusan
masalah diagnose. Berdasarkan data yang diperoleh bidan akan
memperoleh kesimpulan apakah masa nifas ibu normal atau tidak (Rini
Susilo, 2016).

Beberapa diagnose yang dapat muncul pada Ibu postpartum (Herdman


T.H & Kamitsuru Shigemi, 2015):

a. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang


pengetahuan orangtua tentang pentingnya pemberian ASI.
b. Ketidakmampuan menjadi orangtua berhubungan dengan
kecenderungan terhadap hukuman fisik.
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik: prosedur bedah.

3. Intervensi Keperawatan

DIAGNOSA NOC (Moorhead Sue, NIC (Bulechek M.G, dkk, RASIONAL


dkk, 2013) 2013)
Ketidakefektifan 1. Ibu dapat
pemberian ASI 1. Keberhasilan Konseling Laktasi: mengetahui manfaat
berhubungan dengan menyusui: bayi menyusui
kurang pengetahuan 2. Keberhasikan 1. Berikan informasi 2. Dapat
orangtua tentang menyusui: mengenai manfaat mempermudah ibu
pentingnya pemberian maternal (kegiatan) menyusui untuk ingin
ASI. baik fisiologis maupun menyusui
Outcome tambahan psikologis 3. Dapat menambah
Definisi: Kesulitan untuk mengukur 2. Tentukan keinginan dan pengetahuan ibu
memberikan susu pada batasan karakteristik: motivasi ibu untuk 4. Dapat memberikan
bayi / anak secara menyusui dan juga rasa nyaman pada
langsung dari 1. Mempertahankan persepsi mengenai ibu ketika menyusui
payudara, yang dapat pemberian ASI menyusui dan begitupun pada
memengaruhi status 2. Keseimbangan 3. Berikan materi bayinya
nutrisi bayi/anak. cairan pendidikan sesuai 5. Agar bayi dapat
3. Status nutrisi: kebutuhan beradaptasi atau
bayi 4. Bantu menjamin adanya mulai belajar
4. Status nutrisi: kelekatan bayi ke dada menghisap
asupan makanan dengan cara yang tepat 6. Agar pengeluaran
& cairan (misalnya monitor posisi ASI berjlan baik dan
bayi dengan cara yang bayi bisa mulai
Outcome yang tepat, memegang dada mengetahui cara
berkaitan dengan ibu serta kompesi dan menghisap
factor yang terdenhar suara
berhubungan dengan: menelan)
1. Tingkat 5. Instruksikan kepada ibu
kecemasan untuk membiarkan bayi
2. Control menyelesaikan (proses)
kecemasan diri menyusui yang pertama
3. Hidrasi sebelum (proses)
4. Pengetahuan: menyusui yang kedua
menyusui 6. Beri kesempatan pada
5. Dukungan social ibu untuk menyusui
6. Perilaku setelah melahirkan, jika
kesehatan ibu memungkinkan
postpartum
DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL

Ketidakmampuan 1. Kinerja Dukungan perlindungan 1. Untuk mengetahui


menjadi orangtua pengasuhan terhadap kekerasan: anak penyebab orangtua
berhubungan dengan 2. Kinerja cenderung ingin
kecenderungan pengasuhan: bayi 1. Identifikasi orangtua menghukum secara
terhadap hukuman yang memiliki riwayat fisik.
fisik. Outcome tambahan kekerasan rumah tangga 2. Untuk mengetahui
untuk mengukur 2. Identifikasi orangtua factor pencetus
Definisi: batasan karakteristik: yang memiliki riwayat sehingga orangtua
Ketidakmampuan masa kanak-kanak yang melakukan hal itu.
pengasuh primer untuk 1. Penghentian tidak bahagia terkait 3. Agar dapat
menciptakan,mepertah terhadap dengan penganiayaan memperjalas dan
ankan atau kekerasan atau merasa tidak membantu
memperbaiki 2. Pemulihan berharga dan tidak menyelesaikan
lingkungan yang terhadap dicintai masalahnya.
meningkatkan kekerasan 3. Identifikasi situasi krisis 4. Agar orangtua
pertumbuhan dan 3. Pengekangan diri yang mungkin memicu dapat mengetahui
perkembangan terhadap perilaku terjadinya penganiayaan cara menjaga anak
optimum anak. kekerasan (misalnya; kemiskinan, 5. Agar ibu dapat
4. Iklim social pengangguran, menghindari
keluarga perceraian, kekerasan fisik
5. Penghentian gelandangan, dll). pada anak.
terhadap 4. Berikan orangtua
pengabaian / informasi mengenai
penelantaran bagaimana mengatasi
6. Pemulihan tangisan anak,
terhadap menekankan bahwa
pengebaian mereka tidak seharusnya
7. Keterlibatan mengguncang bayi.
social 5. Berikan orangtua
metode menghukum
Outcome yang tanpa kekerasan fisik
berkaitan dengan untuk mendisiplinkan
factor yang anak.
berhubungan dengan:

1. Perlindungan
terhadap
kekerasan
2. Adaptasi terhadap
disabilitas fisik
3. Tingkat depresi
4. Control diri
terhadap depresi
5. Pengetahuan:
keamanan fisik
anak
6. Tingkat stress
DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL

Nyeri akut 1. Kontrol nyeri Manajemen Nyeri: 1. Untuk mengetahui


berhubungan dengan 2. Tingkat nyeri 1. Lakukan pengkajian tingkat nyeri
agen cedera fisik: nyeri komprehensif 2. Untuk
prosedur bedah. Outcome tambahan yang meliputi lokasi, mengalihkan rasa
untuk mengukur karakteristik, durasi, nyeri yang dialami
Definisi: pengalaman batasan karakteristik: frekuensi, kualitas, ibu.
sensori dan emosional intensitas atau beratnya 3. Memberikan
tidak menyenangkan 1. Status nyeri dan factor pengetahuan
yang muncul akibat kenyamanan pencetus. kepada ibu untuk
kerusakan jaringan 2. Status 2. Gunakan strategi mengetahui nyeri
actual atau potensial kenyamanan: fisik komunikasi terapeutik yang sedang ibu
atau yang digambarkan 3. Tingkat untuk mengetahui rasakan.
sebagai kerusakan ketidaknyamanan pengalaman nyeri dan 4. Untuk menurunkan
(Internstional 4. Pergerakan sampaikan penerimaan nyeri.
Association fot the 5. Tidur pasien terhadap nyeri.
study of Pain); awitan 6. Keparahan gejala 3. Berikan informasi
yang tiba-tiba atau 7. TTV mengenai nyeri, seperti
lambat dari intensitas penyebab nyeri, berapa
ringan hingga berat Outcome yang lama nyeri akan
dengan akhir yang berkaitan dengan dirasakan.
dapat di antisipasi atau factor yang 4. Ajarkan metode
diprediksi. berhubungan farmakologi untuk
dengan: menurunkan nyeri.

1. Keparahan cedera
fisik
2. Tingkat stress
3. Pemulihan
pembedahan:
penyembuhan
4. Penyembuhan
luka

Pada langkah ini dilakukan perencanaan asuhan menyeluruh dan


rasional pada nifas normal meliputi:

1) Terapi dan asuhan


2) Pendidikan kesehatan
3) Konseling
4) Kolaborasi (bila diperlukan)
5) Rujukan
6) Tindak lanjut

a. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan


yang tepat, meliputi pengetahuan, teori, serta divalidasi dengan
asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh
pasien
b. Dalam menyusun rencana sebaiknya pasien dilibatkan karena pada
akhirnya pengambilan keputusan dilaksanakannya pada suatu
rencana asuhan ditentukan oleh pasien sendiri.
(Pitriani Risa, 2014)

4 Pelaksanaan atau Implementasi

Pelaksanaan dapat dilakukan dengan tindakan mandiri atau


kolaborasi. Perlu juga pengawasan pada masa nifas untuk memastikan
ibu dan bayi dalam kondisi sehat. Berikan pendidikan / penyuluhan
sesuai dengan perencanaan. Pastikan bahwa ibu telah mengikuti
rencana yang telah disusun.Untuk itu dalam memberikan pelayanan
bidan harus mendiskusikan dengan ibu dan keluarga sehingga
pelayanan asuhan menjadi tanggung jawab bersama (Rini Susilo,
2016).

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi diperlukan untuk mengetahui keberhasilan yang


diberikan.Evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan apakah tindakan
yang diberikan sudah sesuai dengan perencanaan.Rencana tersebut
dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam
pelaksanaannya. Evaluasi dapat dilakukan saat ibu melakukan
kunjungan ulang. Saat itu dapat dilakukan penilaian keberhasilan
asuhan (Rini Susilo, 2016).

D. Home Visite Postpartum

Sejak masa nifas, kunjungan rumah (Home Visite) dapat dilakukan


sejak 24 jam setelah pulang. Jarang sekali suatu kunjungan rumah ditunda
sampai hari ketiga setelah pulang ke rumah. Keputusan untuk
memperpanjang kontrak kunjungan rumah setelah 1 minggu akan dibuat
sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Selama kunjungan
rumah, bidan melakukan pengkajian yang sistematis terhadap ibu dan bayi
yang baru lahir untuk menentukan penyesuaian fisiologis dan untuk
mengidentifikasi setiap komplikasi yang potensial.

Kunjungan rumah memiliki keuntungan yang sangat jelas karena


membuat perawat dapat melihat dan berinteraksi dengan anggota keluarga
didalam lingkungan yang aman. Ada beberapa keterbatasan kunjungan
rumah sebagai suatu strategi tindak lanjut pascapartum (Syarifuddin &
Hamidah, 2009):
1. Biaya untuk mengunjungi keluarga yang jaraknya jauh
2. Terbatasnya jumlah perawat yang berpengalaman dalam memberi
pelayanan maternitas dan perawatan bayi baru lahir
3. Kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi keluarga di daerah
tertentu.

E. Edukasi Postpartum

Pada masa nifas, yang terpenting adalah kebutuhan pasca


persalinan, cadangan tenaga, kesehatan yang optimum. (Syafrudin dkk,
2011)

1. Ambulasi

Ambulasi dini ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan


membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan
membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.

2. Eliminasi

Ibu postpartum secara garis besar tidak mengalami kesulitan BAK dan
BAB.

a. Buang Air Kecil

Ibu diminta untuk buang air kecil 6 jam postpartum. Jika dalam 8
jam postpartum belum dapat berkemih belum melebihi 100 CC,
maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi, kalau ternyata kandung
kemih penuh, tidak perlu menunggu 8 jam untuk kateterisasi.

b. Buang Air Besar

Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar setelah hari kedua
postpartum. Jika hari ketiga belum juga BAB maka perlu diberi
obat pencahar peroral atau per rektal. Jika setelah pemberian obat
pencahar masih belum BAB, maka dilakukan klisma (huknah).
3. Personal Hygiene

Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi.


Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah
infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur dan lingkungan sangat
penting untuk tetap terjaga. Langkah-langkah yang dapat dilakukan
untuk menjaga kebersihan diri ibu postpartum adalah:

a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh terutama perenium


b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin
dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk
membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke
belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus.
c. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya 2x sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci
dengan baik dan keringkan dibawah matahari dan disetrika.
d. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan untuk
menghindari menyentuh daerah tersebut.

4. Istirahat dan Tidur

Hal-hal yang bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan


istirahat dan tidur adalah sebagai berikut:

a. Anjurkan ibu istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang


berlebihan
b. Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga
secara perlahan serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi
tidur.
c. Kurang istirahat dapat mempengaruhi beberapa hal:
1) Mengurangi jumlah ASI
2) Memperlambat jumlah involusi terus dan memperbanyak
pendarahan
3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri.

5. Latihan dan Senam Nifas

Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ


tubuh wanita. Involusi ini sangat jelas terlihat pada alat-alat
kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi lembek
dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindanhan
tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena itu, mereka akan selalu
berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan bentuk tubuh
menjadi indah dan langsing seperti semula. Cara mengembalikan tubuh
semula dengan latihan dan senam nifas. Untuk itu beri penjelasan pada
ibu tentang beberapa hal berikut:

a. Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul agar kembali


normal, karena hal ini akan membuat ibu merasa lebih kuat dan ini
juga menjadikan otot perutnya menjadi kuat, sehingga mengurangi
rasa sakit pada punggung
b. Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat
membentu.
1) Dengan tidur terlentang dan tangan disamping, tarik otot perut
selagi bernafas, tahan nafas dalam, angkat dagu ke dada, tahan
mulai hitung 1 – 5. Rileks dan ulangi sampai 10x.
2) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul
lakukan latihan keagel.
c. Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot bokong dan
pinggul, tahan sampai 5 hitungan. Relaksasi otot dan ulangi latihan
sebanyak 5x.
d. Mulai mengerjakan 5x latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu
naikkan jumlah latihan 5x lebih banyak. Pada minggu ke 6 setelah
persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30x.

6. Aktivitas Seksual (Koitus)

Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan


suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6
minggu setelah persalinan. (Syafrudin dkk, 2011)

Hadapi masa nifas dengan tenang dan nyaman. Masa nifas


adalah masa setelah melahirkan hingga 6 minggu. Tetapi ibu baru akan
pulih sempurna seperti sebelum hamil setelah 3 bulan. Untuk
memulihkan keadaan fisik dan psikis hingga keadaan normal, harus
diimbangi dengan makan bergizi, olahraga dan istirahat yang cukup.
Jangan berhubungan seksual terlebih dahulu. Tubuh kita butuh waktu
untuk pulih , begitu pula organ seksual. Tunggulah dulu 4-6 minggu
pasca melahirkan. (Indivara Nadia, 2009)
DAFTAR PUSTAKA

Bahiyatun, 2009.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal.Jakarta; EGC.

Bulechek M.G, dkk. Nursing Intervention Clasification.Elsevier; Singapore, 2013.

Farrer Helen, 1999. Perawatan Maternitas. Jakarta; EGC.

Herdman T.H & Kamitsuru Shigemi, 2015. Nanda International Inc, Diagnosis
Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Jakarta; EGC.

Indivara Nadia, 2009. 200 Tips Ibu Smart Anak Sehat. Pustaka Anggrek;
Yogyakarta.

Manuaba Ida Bagus, 1993. Penuntun Diskusi Obstetri dan Ginekologi.Jakarta;


EGC.

Moorhead Sue, dkk. Nursing Outcome Clasification. Elsevier; Singapore, 2013.

Nani Desiyani, 2016. Fisiologi Manusia: Siklus Reproduksi Wanita. PenebarPlus;


Jakarta.

Pitriani Risa, 2014. Panduan Lengkap Asuhan Kebidanan Ibu Nifas


Normal.Yogyakarta; Deepublish.

Rahayu A.P, 2016. Panduan Praktikum Keperawatan Maternitas. Deepublish;


Yogyakarta.

Rini Susilo, 2016. Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Based


Practice.Yogyakarta; Deepublish.

Syafrudin dkk, 2011. Untaian Materi Penyuluhan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).
TIM; Jakarta.

Syarifuddin & Hamidah, 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta; EGC.

Stright Barbara R, 2004. Panduan Belajar: Keperawatan Ibu - Bayi Baru Lahir.
Jakarta; EGC