Anda di halaman 1dari 9

BIODATA

Penulis 1

Nama : Catherine Ienawi


NIM : 04011281419139
E-mail : catherine.ienawi@aol.com

Penulis 2

Nama : dr. Phey Liana, Sp.PK


NIP : 198108032006042001
Instansi : Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RSMH Palembang

Penulis 3

Nama : Dra. Lusia Hayati, MSc.


NIP : 195706301985032001
Instansi : Bagian Biologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RSMH Palembang
HUBUNGAN KASUS INFEKSI HIV DENGAN TRIKOMONIASIS PADA
WANITA PENJAJA SEKS DI PALEMBANG
Catherine Ienawi1, Phey Liana2, Lusia Hayati3

1
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
2
Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang
3
Bagian Biologi Medik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang
Jl. Dr. Mohd. Ali, Kompleks RSMH, KM. 3,5, Palembang, 30126, Indonesia
Telp/Fax: +62711316671/+62711373438

Email: catherine.ienawi@aol.com

Abstrak
Peningkatan prevalensi infeksi HIV disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya infeksi penyakit
menular seksual lain. Ada peningkatan risiko terinfeksi HIV pada orang-orang yang mengalami trikomoniasis, suatu
penyakit infeksi menular seksual yang mudah untuk dikendalikan. Kelompok berisiko tinggi untuk terinfeksi adalah
Wanita Penjaja Seks (WPS). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara infeksi HIV dan trikomoniasis
pada WPS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Sampel serum diperoleh dari 61
orang WPS dan pemeriksaan dilakukan di Instalasi Patologi Klinik dan Mikrobiologi RSUP dr. Mohammad Hoesin
Palembang. Tes Fisher dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Perhitungan prevalence ratio
dilakukan untuk mengetahui besarnya risiko infeksi HIV pada subjek dengan trikomoniasis. Wanita penjaja seks yang
menjadi subjek penelitian berusia 29-32 tahun dan memiliki pendidikan hingga SMP. Dari seluruh subjek penelitian,
ada 13.11% yang terdiagnosis dengan trikomoniasis dan 4.92% memperoleh hasil positif pada pemeriksaan HIV. Hasil
analisis bivariat pada penelitian ini menyatakan bahwa hubungan trikomoniasis dengan infeksi HIV bermakna dengan -
p-value=0.043 dan PR (Prevalence Rate)=13.25 (confidence interval=90%). Wanita penjaja seks yang mengalami
trikomoniasis memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV dibandingkan dengan yang tidak mengalami
trikomoniasis.

Kata Kunci: Infeksi HIV, trikomoniasis, wanita penjaja seks, penyakit infeksi menular seksual

Abstract
One of the reasons for the increasing prevalence of HIV infection is the existence of other Sexually Transmitted
Diseases (STDs). One of the STDs is trichomoniasis, a wide-spread and easily cured STD. Among populations, Female
Sex Workers (FSWs) are a high-risk group. The purpose of this research is to study the association between HIV
infection and trichomoniasis in FSWs. This is an analytical research with cross-sectional design. The samples (serums)
were taken from 61 FSWs and the examination was done in the Instalation of Clinical Pathology and Microbiology dr.
Mohammad Hoesin Central General Hospital in Palembang. Data were compiled and shown in form of tables. Then, the
association was tested using chi square Fisher’s method. This research also calculated prevalence ratio to assess the risk
of HIV infection caused by trichomoniasis. Most FSWs in this research are 29-32 years of age and have junior high
school as their last education. Of all the subjects, 13.11% are diagnosed with trichomoniasis and 4.92% have reactive
result of HIV examination. The association of HIV infection and trichomoniasis were found significant with p
value=0,043 and prevalence ratio=13,25 (confidence interval=90%). There is a higher risk of HIV infection in female
sex wokers who have trichomoniasis compared to those who do not.

Keywords: HIV infection, trichomoniasis, female sex workers, sexually transmitted disease
1. Pendahuluan yang lebih terpusat pada kelompok-kelompok
dengan risiko tinggi infeksi HIV juga tidak
HIV (Human Immunodeficiency Virus) kalah pentingnya. Salah satu data infeksi HIV
sebenarnya bukan merupakan nama penyakit, yang penting untuk diketahui adalah data
melainkan merupakan mikroorganisme (virus) infeksi HIV pada kelompok WPS (Wanita
penyebab AIDS (Acquired Immune Penjaja Seks).
Deficiency Syndrome) yang merupakan Menurut Centers for Disease Control
stadium terakhir dari infeksi HIV. Orang- and Prevention,7 WPS adalah wanita-wanita
orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak yang menukarkan seks dengan uang ataupun
merasakan adanya perbedaan (tidak ada gejala) benda bukan uang (mis. tempat tinggal,
selama bertahun-tahun, sehingga seringkali makanan, narkoba, dll). Selain karena
orang-orang tidak mengetahui mereka telah memang WPS sering bergonta-ganti pasangan,
terinfeksi virus ini. Oleh karena itu, cara kelompok ini menjadi berisiko tinggi tertular
penularan HIV sangat penting untuk diketahui HIV karena lebih cenderung untuk tidak
dan dihindari. Memang, penularan utama HIV menggunakan alat pengaman (seperti kondom)
adalah dari kontak seksual, tetapi sebenarnya dengan tujuan untuk mendapatkan uang lebih
HIV ditularkan melalui kontak lansung baik atau untuk memenuhi permintaan pelanggan.
secara sengaja maupun tidak sengaja dengan Ditambah lagi WPS biasanya tidak mau
cairan tubuh penderita HIV seperti darah, memeriksakan kesehatannya (terutama
sperma, sekresi genital (misalnya cairan kesehatan reproduksinya) karena faktor
vagina), dan ASI (Air Susu Ibu). Kontak ekonomi, pengetahuan yang rendah, serta
langsung dengan cairan tubuh yang karena malu untuk menceritakan perilaku
dimaksudkan adalah kontak cairan tubuh seksualnya kepada petugas kesehatan.2,7
penderita HIV dengan membran mukosa atau Tingginya risiko infeksi HIV pada WPS juga
luka terbuka di tubuh bukan penderita HIV.22 dikarenakan adanya WPS yang sekaligus
Kasus HIV pertama di Indonesia merupakan pengguna obat-obat terlarang
dilaporkan pada tahun 1987 di Bali, Sekarang, bahkan beberapa WPS menjadikan penjajaan
infeksi HIV telah meluas hingga mencapai seks sebagai cara untuk mendapatkan obat-
80% daerah di Indonesia. Menurut pelaporan obat tersebut.6,12 Adanya tumpang tindih dua
oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan perilaku risiko tinggi pada kelompok ini
Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P),11 pada menjadikan WPS kelompok yang patut diberi
tahun 2016 ada sebanyak 41.250 kasus HIV perhatian.
di Indonesia dan akumulasi kasus HIV dari Selain faktor risiko perilaku, WPS
tahun 1987 hingga Desember 2016 adalah rentan terinfeksi HIV karena tingginya angka
232.323 kasus. Kasus HIV di Kota kejadian Penyakit Infeksi Menular Seksual
Palembang dilaporkan dalam Profil (PIMS) lain pada kelompok ini. Orang yang
Kesehatan oleh Dinas Kesehatan Kota memiliki PIMS, menurut WHO,23 berisiko
Palembang.9 Menurut laporan tersebut, lebih tinggi hingga 10 kali lipat untuk
prevalensi kasus infeksi HIV di Kota terinfeksi HIV dan juga berisiko lebih tinggi
Palembang adalah 57.14%. Jumlah kasus HIV untuk menularkannya. Salah satu jenis PIMS
yang terdiagnosis di Palembang pada tahun adalah trikomoniasis, penyakit infeksi ini
2014, menurut Dinas Kesehatan Provinsi disebabkan oleh parasit Trichomonas
Sumatera Selatan,8 adalah 779 kasus. Data vaginalis dan merupakan PIMS non-viral
mengenai HIV di Indonesia dan Kota yang paling sering terjadi di seluruh
Palembang ini merupakan data kasus HIV dunia.14,15,16,19,20 Menurut Medical Care
secara umum, tanpa pengkategorian yang Criteria Committee,18 trikomoniasis
khusus. Meskipun data infeksi HIV secara ditularkan terutama melalui hubungan seksual
umum memang sangat penting, namun data dan kelompok yang paling banyak terinfeksi
adalah wanita, hal ini berarti WPS merupakan infeksi HIV dan trikomoniasis. Masing-
kelompok yang berisiko tinggi untuk masing variabel akan dikategorikan menjadi
mengalami infeksi ini. positif atau negatif. Selain variabel-variabel
Banyak penelitian menyimpulkan diatas, variabel lain yaitu usia dan pendidikan
bahwa ada hubungan yang kuat antara HIV juga akan dianalisis distribusi frekuensi serta
dengan trikomoniasis,17 dibuktikan dengan normalitasnya. Ringkasan dalam penelitian ini
ditemukannya kasus trikomoniasis tiga kali akan disajikan dalam bentuk tekstual, tabel,
lebih banyak pada wanita yang terinfeksi HIV dan grafik.
dibanding dengan yang tidak terinfeksi.19 Data yang telah tersusun dalam tabel
Namun, penelitian-penelitian ini tidak univariat kemudian akan dibuat menjadi tabel
dilakukan pada WPS secara khusus. analisis bivariat berupa tabel kontingensi atau
Dibutuhkannya penelitian lebih terpusat tabel 2 x 2. Data bersifat nominal sehingga
mengenai penyakit infeksi menular seksual dilakukan analisis komparatif metode chi-
pada kelompok risiko tinggi, yaitu WPS, dan square atau jika tidak memenuhi syarat maka
adanya ketersediaan bahan, alat, serta tenaga akan dilakukan dengan metode Fisher (jika
ahli menjadi alasan dilakukannya penelitian ada sel yang memiliki sel yang memiliki
ini. expected count kurang dari 5). Analisis
biavariat bertujuan untuk melihat ada
2. Metode Penelitian tidaknya hubungan antara kedua variabel.
Kemudian dicari Prevalence Ratio (PR) untuk
Penelitian ini merupakan penelitian mengetahui besarnya risiko pasien
analitik dengan desain penelitian potong trikomoniasis untuk mengalami infeksi HIV.
lintang (cross-sectional) yang dilakukan di
Instalasi Patologi Klinik dan Mikrobiologi 3. Hasil
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
pada bulan September hingga Oktober 2017. Analisis Univariat
Populasi penelitian ini adalah seluruh Usia subjek termuda adalah 18 tahun
sisa sampel serum dari penelitian tesis Rosi dan yang tertua adalah 49 tahun. Melalui
Andarina pada tahun 2016 dengan judul program SPSS, diperoleh rata-rata usia subjek
“Nilai Diagnostik Pulasan Acridine Orange adalah 31.4, median data adalah 32, serta
untuk Diagnosis Trikomoniasis pada Wanita range data adalah 31. Setelah itu dilakukan
Pekerja Seks Komersial” yang disimpan di pengelompokkan usia berdasarkan rumus
Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Sturges sehingga diperoleh data usia seperti
Moehammad Hoesin Palembang.1 Sampel yang terangkum dalam Tabel 1.
yang diambil pada penelitian ini adalah Hasil penelitian menunjukkan jumlah
keseluruhan populasi yang berjumlah 61 buah. subjek penelitian tertinggi ada pada rentang
Cara pengumpulan data pada penelitian usia 29-32 tahun, yaitu 14 orang atau 22.95%,
ini menggunakan data sekunder. Data diikuti rentang usia 33-36 tahun dengan
mengenai infeksi HIV pada sampel jumlah subjek 11 orang atau 18.03% dan
didapatkan dengan melakukan pemeriksaan rentang usia 25-28 tahun dengan jumlah
antibodi HIV pada serum. Data diagnosis subjek 10 orang atau 16.39%. Dalam
trikomoniasis diperoleh dari data hasil penelitian ini juga dilakukan observasi
penelitian tesis Rosi Andarina yang terhadap karakteristik sosiodemografi yang
mendiagnosis trikomoniasis dengan metode lain, yaitu pendidikan. Hasil observasi tentang
biakan. distribusi subjek berdasarkan tingkat
Setelah selesai melakukan pengumpulan pendidikan ditampilkan pada Tabel 2.
data, maka akan dilakukan analisis univariat
untuk menampilkan distribusi frekuensi dari
Tabel 1. Distribusi Subjek berdasarkan Usia Tabel 3. Prevalensi Trikomoniasis pada Subjek

Usia n % Trikomoniasis n %
17-20 Tahun 8 13.11% Positif 6 13.11%
21-24 Tahun 4 6.56% Negatif 55 86.89%
25-28 Tahun 10 16.39% Total 61 100%
29-32 Tahun 14 22.95%
33-36 Tahun 11 18.03%
37-40 Tahun 4 6.56% Data kejadian infeksi HIV diperoleh
41-44 Tahun 7 11.48%
dari pemeriksaan HIV dengan metode
45-49 Tahun 3 4.92%
Total 61 100% immunochromatographic assay (ICT). Jika
pada pemeriksaan yang pertama sampel
memberikan hasil yang reaktif, maka
Pada Tabel 2 ditampilkan distribusi dilakukan pemeriksaan kedua. Jika hasil
subjek berdasarkan tingkat pendidikan. pemeriksaan kedua juga reaktif maka
Tingkat pendidikan dibagi menurut dilakukan pemeriksaan ketiga. Karena
pembagian Sistem Pendidikan Nasional Indonesia adalah negara dengan prevalensi
Republik Indonesia. Dari hasil penelitian infeksi HIV rendah, sampel dinyatakan reaktif
diketahui tidak ada subjek penelitian yang apabila pada tiga kali pemeriksaan hasilnya
tidak sekolah dan tidak ada subjek yang selalu reaktif. Pada penelitian ini, sampel
memiliki pendidikan perguruan tinggi dinyatakan non-reaktif bila pemeriksaan
(diploma-doktor). Setiap subjek penelitian pertama memberikan hasil tidak reaktif.
pernah mengenyam pendidikan namun Prevalensi infeksi HIV pada subjek penelitian
pendidikan terakhir subjek bervariasi dari pada tahun 2016 adalah 4.92%. Analisis lebih
tingkat SD hingga SMA, dengan pendidikan lengkap mengenai hubungan kedua penyakit
terakhir SMP sebagai jenjang pendidikan infeksi menular seksual ini akan dibahas lebih
terbanyak yaitu 32 orang atau 52.46%. lengkap pada subjudul Analisis Bivariat.
Hasil pemeriksaan ini dapat dilihat pada
Tabel 2.Distribusi Subjek berdasarkan Tingkat Tabel 4.
Pendidikan
Tabel 4. Prevalensi Infeksi HIV pada Subjek
Jenjang Pendidikan N %
TS (Tidak Sekolah) 0 0% Infeksi HIV n (Orang) %
SD 19 31.15% Reaktif 3 4.92%
SMP/Sederajat 32 52.46% Non-reaktif 58 95.08%
SMA/Sederajat 10 16.39% Total 61 100%
Diploma-Doktor 0 0%
Total 61 100%
Analisis Bivariat
Hubungan antara infeksi HIV dan
Diagnosis trikomoniasis diperoleh trikomoniasis pada subjek disusun dalam
dengan melakukan pemeriksaan biakan, yang tabel 2x2, dengan trikomoniasis sebagai
merupakan gold standard pemeriksaan variabel dependen dan infeksi HIV sebagai
trikomoniasis. Pada hasil penelitian ini, variabel independen.
persentase kejadian trikomoniasis pada subjek Tabel 6 menunjukkan subjek dengan
adalah 13.11%. Data hasil penelitian ini ada sampel reaktif pada pemeriksaan HIV
pada Tabel 3. berjumlah tiga orang dan dua diantaranya
terdiagnosis positif trikomoniasis. Subjek
dengan sampel non-reaktif pada pemeriksaan
HIV berjumlah 58 orang, enam diantaranya
terdiagnosis positif trikomoniasis. Sisanya
memiliki sampel yang non-reaktif pada besar daripada pada WPS yang tidak
pemeriksaan HIV dan tidak terdiagnosis mengalami trikomoniasis.
dengan trikomoniasis. Adanya sel yang
memiliki data kurang dari lima membuat tes 4. Pembahasan
chi-square tidak dapat digunakan, maka tes
yang digunakan adalah tes Fisher. Penentuan Hasil distribusi subjek menurut usia
p-value dengan menggunakan tes Fisher dapat pada Tabel 10 menunjukkan usia 29-32 tahun
dilihat pada Tabel 7. sebagai rentang usia dengan subjek terbanyak
(14 orang atau 22.95%). Rentang usia kedua
Tabel 6. Hubungan antara Infeksi HIV dan terbanyak adalah 33-36 tahun dengan jumlah
Trikomoniasis pada Subjek subjek 11 orang atau 18.03%, dan kemudian
HIV Total
rentang usia 25-28 tahun dengan jumlah
Reaktif Non-reaktif subjek 10 orang atau 16.39%. Hasil penelitian
Triko- Positif 2 6 8 ini sejalan dengan data dari Integrated
moniasis Negatif 1 52 53 Biological and Behavioral Survey (IBBS)
Total 3 58 61 pada tahun 2011. Data IBBS menyatakan
bahwa WPS di Indonesia paling banyak
Tabel 7. Tes Fisher berusia lebih dari 30 tahun dan kedua
terbanyak adalah usia 25-29 tahun.10
Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Distribusi subjek menurut tingkat
sided) sided) pendidikan menunjukkan tidak ada subjek
Fisher's Exact yang tidak sekolah dan tidak ada yang
,043 ,043
Test
memiliki pendidikan hingga perguruan tinggi
(diploma-doktor). Setiap WPS pernah
Perhitungan p-value dengan metode mengenyam pendidikan, namun pendidikan
Fisher ini dilakukan dengan menggunakan terakhir mereka bervariasi dari tingkat SD
program SPSS. Hasil yang diperoleh adalah p hingga SMA, dengan SMP sebagai jenjang
= 0.043 sehingga p < 0.1 (confidence interval pendidikan terbanyak yaitu 32 orang atau
yang digunakan adalah 90% atau α = 10%), 52.46%. Data IBBS juga memberikan hasil
hal ini berarti trikomoniasis memiliki yang sama, pendidikan terakhir tertinggi dari
hubungan yang signifikan dengan infeksi HIV. WPS adalah SMP yaitu sebanyak 37%, yang
Hubungan ini dapat diperjelas dengan tidak bersekolah hanya sebesar 2.5%, dan
perhitungan PR (Prevalence Ratio). yang mengenyam perguruan tinggi hanya
𝑨 1.5%.10 Menurut UNICEF,21 pendidikan tidak
𝑨+𝑩
PR = 𝑪 hanya memberikan pengetahuan tetapi juga
𝑪+𝑫
melatih kemampuan untuk berpikir kritis,
𝟐
mengambil keputusan, dan komunikasi serta
= 𝟐+𝟔
𝟏
melatih kemampuan interpersonal. Seluruh
𝟏+𝟓𝟐 pelatihan tersebut membuat individu dapat
mengambil keputusan yang baik, salah
𝟎.𝟐𝟓 satunya menghindari tindakan-tindakan yang
= 𝟎.𝟎𝟏𝟖𝟖𝟕
dapat membahayakan dirinya. Oleh karena itu,
peningkatan tingkat pendidikan dan
= 13.25
kualitasnya akan membantu dalam
meningkatkan keberhasilan usaha pencegahan
Hasil dari perhitungan PR adalah 13.25, penularan infeksi HIV dan PIMS lain.
artinya risiko terinfeksi HIV pada WPS yang Prevalensi kasus trikomoniasis pada
mengalami trikomoniasis 13.25 kali lebih populasi penelitian adalah 13.11%. Prevalensi
ini lebih rendah jika bandingkan dengan data PIMS lain, dan adanya faktor lingkungan (mis.
prevalensi trikomoniasis pada WPS di lebih sering bertemu dengan orang-orang
Palembang tahun 2005 oleh program Gerakan yang juga melakukan tindakan berisiko
Nasional Penanggulangan HIV/AIDS,13 yang tinggi).4,5,6,7 Oleh karena itu, WPS merupakan
mendapatkan prevalensi sebesar 16%. Lebih kelompok yang patut diberikan perhatian
rendahnya prevalensi yang diperoleh dari lebih pada perencanaan program-program
hasil penelitian ini dapat menunjukkan adanya pengendalian PIMS khususnya HIV dan
peningkatan kesadaran dan tatalaksana trikomoniasis.
terhadap trikomoniasis. Namun, perbedaan Trikomoniasis memang bukanlah satu-
angka prevalensi dapat pula terjadi karena satunya faktor yang memudahkan penularan
lebih sedikitnya sampel yang digunakan pada HIV, tetapi trikomoniasis merupakan PIMS
penelitian ini, yaitu hanya 61 sampel non-viral yang paling sering terjadi dan
dibandingkan 250 sampel pada penelitian mudah untuk diobati. Oleh karena itu
tahun 2005. pengendalian terhadap trikomoniasis
Hasil penelitian ini menunjukkan diharapkan dapat membantu menurunkan laju
prevalensi infeksi HIV pada populasi penularan HIV.
penelitian sebesar 4.92%. Prevalensi HIV
pada WPS di Palembang oleh Dinas Limitasi Penelitian
Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan pada Penelitian ini hanya dapat
tahun 2014 memperoleh hasil prevalensi menggunakan confidence interval sebesar
infeksi HIV hanya 2%.8 Lebih tingginya 90% (atau α = 10%) karena terbatasnya
prevalensi yang diperoleh pada penelitian jumlah sampel tersimpan.
membuktikan bahwa memang selalu terjadi
peningkatan prevalensi setiap tahun.3 Jika 6. Kesimpulan
dibandingkan dengan prevalensi infeksi HIV
pada populasi umum di Provinsi Sumatera Adapun kesimpulan dalam penelitian ini
Selatan, yaitu 0.09%,9 prevalensi infeksi HIV adalah sebagai berikut :
pada WPS jauh lebih tinggi. Prevalensi 1) Trikomoniasis memiliki hubungan
infeksi HIV pada WPS yang jauh lebih tinggi bermakna dengan infeksi HIV pada
dibandingkan prevalensi pada populasi umum. populasi penelitian dengan PR
Hubungan ini dapat dilihat lebih jelas (Prevalence Ratio) sebesar 13.25
dari hasil perhitungan PR, yaitu 13.25. Hal ini (confidence interval=90%).
berarti risiko terinfeksi HIV pada WPS yang 2) Pada tahun 2016, subjek paling
mengalami trikomoniasis 13.25 kali lebih banyak berusia 29-32 tahun dan hanya
besar daripada pada WPS yang tidak menyelesaikan pendidikan SMP.
mengalami trikomoniasis. Nilai risiko ini 3) Teridentifikasi 8 orang subjek yang
lebih besar jika dibandingkan dengan risiko terdiagnosis dengan trikomoniasis
terinfeksi HIV pada populasi umum yang (13.11%).
mengalami PIMS (Penyakit Infeksi Menular 4) Teridentifikasi 3 orang subjek dengan
Seksual), yaitu 10 kali lipat.23 Salah satu sampel serum yang hasilnya
penyebab lebih besarnya risiko terinfeksi HIV dinyatakan reaktif pada pemeriksaan
pada WPS adalah karena kelompok ini HIV (4.92%).
merupakan kelompok risiko tinggi. WPS
memiliki faktor risiko yang tumpang tindih Daftar Acuan
antara lain: memiliki lebih dari satu pasangan,
melakukan tindakan berisiko (seperti anal sex, 1. Andarina, R. 2016. Nilai Diagnostik
atau seks tanpa menggunakan kondom), Pulasan Acridine Orange untuk
menggunakan obat terlarang, adanya infeksi Diagnosis Trikomoniasis pada Wanita
Pekerja Seks Komersial. Tesis Program 10. Directorate General of Disease Control
Pendidikan Spesialis I. Bagian and Environment Health. Integrated
Dermatologi dan Venereologi. Fakultas Biological and Behavioural Survey
Kedokteran, Universitas Sriwijaya, (IBBS) (online). http://www.aidsdatahub.
Indonesia, 2016. org/sites/default/files/documents/IBBS_
2. American Psychological Association. 2011_Report_Indonesia.pdf. 2011.
HIV AIDS and Socioeconomic Status 11. Direktorat Jenderal Pencegahan dan
(online). Pengendalian Penyakit. Laporan
www.apa.org/pi/ses/resources/publicatio Perkembangan HIV-AIDS & Penyakit
ns/hiv-aids.aspx. 2017. Infeksi Menular Seksual (PIMS)
3. Avert.org. Global HIV and AIDS Triwulan IV Tahun 2016 (online).
Statistics (online). http://www.aidsindonesia.or.id/ck_uploa
https://www.avert.org/global-hiv-and- ds/files/Final%20Laporan%20HIV%20
aids-statistics. 2017. AIDS%20TW%204%202016.pdf. 2017.
4. Centers for Disease Control and 12. Ditmore, M. H. When Sex Work and
Prevention (CDC). STDs and HIV Drug Use Overlap (online).
(online). https://www.hri.global/files/2014/08/06.
https://www.cdc.gov/std/hiv/stdfact-std- 2013.
hiv-detailed.htm. 2015. 13. Gerakan Nasional Penanggulangan
5. Centers for Disease Control and HIV/AIDS. Laporan Hasil Penelitian
Prevention (CDC). Anal Sex and HIV Prevalensi Infeksi Saluran Reproduksi
Risk (online). https://www.cdc.gov/hiv/ pada Wanita Penjaja Seks di Palembang,
risk/analsex.html. 2016. Sumatera Selatan Indonesia (online).
6. Centers for Disease Control and http://www.aidsindonesia.or.id/repo/perp
Prevention (CDC). HIV and Substance ustakaan/palembangrti2005.pdf. 2005.
Use in the United States (online). 14. Kissinger, P., Secor, W. E., Leichliter, J.
https://www.cdc.gov/hiv/risk/substanceu S., Clark, R. A. et al. Early Repeated
se.html. 2016. Infections with Trichomonas vaginalis
7. Centers for Disease Control and among HIV-Positive and HIV-Negative
Prevention (CDC). HIV Risk Among Women. Clinical Infectious Diseases
Persons Who Exchange Sex For Money (online). 46 (7): 994-999,
or Nonmonetary Items (online). https://academic.oup.com/cid/article/46/
https://www.cdc.gov/hiv/group/sexwork 7/994/292938/Early-Repeated-
ers.html. 2016. Infections-with-Trichomonas. 2008.
8. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera 15. Kissinger, P. Epidemiology and
Selatan. Profil Kesehatan Provinsi Treatment of Trichomoniasis. Current
Sumatera Selatan Tahun 2014 (online). Infectious Disease Reports (online). 17
(http://www.depkes.go.id/resources/dow (6): 484,
nload/profil/PROFIL_KAB_KOTA_201 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl
4/1671_Sumsel_Kota_Palembang_2014. es/PMC5030197/. 2015.
pdf. 2015. 16. Kissinger, P. Trichomonas vaginalis: A
9. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Review of Epidemiologic, Clinical, and
Selatan. Profil Kesehatan Provinsi Treatment Issues. BioMed Central
Sumatera Selatan Tahun 2015 (online). Infectious Diseases (online). 15: 307,
(http://www.depkes.go.id/resources/dow https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl
nload/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_ es/PMC4525749/. 2015.
2015/06_Sumsel_2015.pdf. 2016. 17. Kissinger, P. dan Adamski, A.
Trichomoniasis and HIV Interaction : A
Review. Sexually Transmitted Infections
(online). 89 (6): 426 – 433,
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl
es/PMC3748151/. 2013.
18. Medical Care Criteria Committee.
Trichomoniasis Guideline (online).
http://www.hivguidelines.org/sti-care/
trichomoniasis/. 2012.
19. Muzny, C. A. dan Kissinger, P. 2017.
Trichomonas vaginalis Infections.
Dalam: Bachmann LH, editor. Sexually
Transmitted Infections in HIV-infected
Adults and Special Populations.
Switzerland: Springer, 2017; 125-135.
20. Smith, D. S. Trichomoniasis (online).
http://emedicine.medscape.com/article/2
30617-overview. 2016.
21. UNICEF. Girls, HIV/AIDS, and
Education (online).
http://www.unicef.org/lifeskills/index_8
657.html. 2003.
22. U.S. Department of Health & Human
Services. Human Immunodeficiency
Virus (HIV) (online).
https://aidsinfo.nih.gov/understanding-
hiv-aids/glossary/325/human-
immunodeficiency-virus. 2017.
23. World Health Organization. HIV/AIDS
and Other Sexually Transmitted
Infections (online).
http://www.who.int/ith/diseases/hivaids/
en/. 2017.